PEKERJAAN ALLAH TRITUNGGAL ATAS KAUM PILIHAN AGAR MEREKA BERBAGIAN DALAM KESELAMATAN-NYA
YANG SEMPURNA
Pembacaan Alkitab: 1Ptr. 1:1-2
MANUSIA YANG TELAH DIUBAH
Satu Petrus 1:1 mengatakan, “Dari Petrus, rasul Yesus Kristus. Kepada orang-orang pendatang yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia.” Nama Petrus menyatakan manusia Petrus yang sudah dilahirkan kembali dan rohani; sedangkan nama Simon menyatakan manusia alamiahnya berdasarkan kelahiran (Yoh. 1:42; Mat. 16:17-18). Mula-mula, dia adalah Simon, bukan Petrus. Nama Simon menunjukkan manusia lama, manusia alamiah, penuh dengan diri. Tetapi ketika Petrus datang kepada Tuhan Yesus, Tuhan segera memberi dia nama baru. Tuhan memandang dia dan berkata, “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)” (Yoh. 1:42). Tuhan Yesus tidak pernah melakukan sesuatu tanpa tujuan. Di balik penggantian nama Simon ada suatu realitas. Melalui mengganti nama Simon Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Dia akan mengubah Simon menjadi Petrus, menjadi sebuah batu.
Jika kita membaca keempat kitab Injil dan Surat-surat Kiriman Petrus, kita akan menemukan, sulit dipercaya bahwa Simon, nelayan Galilea, dapat menjadi penulis yang demikian. Pada waktu dia menulis Surat-surat Kirimannya, Petrus telah diubah, ditransformasi. Salah satu kidung kita dimulai dengan perkataan: “Ku bejana ciptaan, Kristus mulia di dalam; wajib jadi wadah-Nya yang berisikan Tuhan” (Kidung no. 425). Bait terakhir dari kidung ini mengatakan, “Ubah aku butuhkan.” Simon adalah bejana ciptaan; namun, Petrus adalah manusia yang telah diubah. Dia telah dilahirkan kembali dan sama sekali menjadi baru. Karena itu, dalam kedua Surat Kirimannya kita tidak dapat melihat dagingnya, dirinya, atau hayat alamiahnya. Sebaliknya, apa yang kita lihat adalah manusia baru yang diekspresikan dalam tulisan-tulisannya. Kristus diekspresikan dalam tulisan-tulisan Petrus.
Dalam 1:1 Petrus menyebut dirinya seorang rasul Yesus Kristus. Dari Galatia 2:8 kita tahu bahwa Petrus adalah rasul untuk orang-orang Yahudi.
ORANG-ORANG PENDATANG PILIHAN
YANG BERADA DI PERANTAUAN
Surat Kiriman Petrus ditujukan kepada “orang-orang pendatang yang tersebar”. Orang-orang yang terpilih hanya mengembara di muka bumi, sama seperti orang Israel yang mengembara di padang gurun. Meskipun mereka adalah orang-orang yang terpilih, mereka telah tersebar dan mereka sedang mengembara.
Kata “dipilih” menyiratkan pemikiran akan pemerin-tahan Allah. Kedua surat Petrus (2Ptr. 3:1) menyinggung pemerintahan Allah. Pemerintahan Allah bersifat universal untuk menanggulangi semua makhluk ciptaan-Nya agar Dia bisa mendapatkan alam semesta yang bersih dan murni (2Ptr. 3:13) untuk mengekspresikan diri-Nya. Dalam zaman Perjanjian Baru, penanggulangan ini dimulai dari orang-orang pilihan-Nya, umat pilihan-Nya, keluarga-Nya sendiri (1Ptr. 4:17), khususnya dari kaum pelancong (pendatang) pilihan-Nya sebagai kesaksian-Nya yang tersebar dan merantau di antara bangsa-bangsa, orang-orang bukan Yahudi. Jadi, kedua kitab ini menekankan kaum beriman adalah kaum terpilih (2:9; 5:13; 2Ptr. 1:10). Sebagai bangsa pilihan Allah, kaum pilihan Allah, milik khusus Allah, kaum pendatang pilihan yang tersebar ini perlu tahu bahwa mereka berada di bawah penanggulangan pemerintahan Allah untuk tujuan positif-Nya, tidak peduli bagaimana keadaan dan lingkungan sekitar mereka. Apa saja dan apa pun yang terjadi pada diri mereka, entah penganiayaan, atau pencobaan, atau penderitaan jenis lainnya (1Ptr. 1:6; 5:9), hanyalah sebagian dari penanggulangan pemerintahan Allah yang berharga. Visi semacam ini akan memperlengkapi, mengokohkan, mengu-atkan, dan meneguhkan mereka (5:10) sehingga mereka bertumbuh dalam anugerah (2Ptr. 3:18).
Kata Yunani yang diterjemahkan “pendatang” dapat juga diterjemahkan “pelancong”. Tegasnya, istilah ini dalam kitab ini mengacu kepada kaum beriman Yahudi yang berstatus pelancong, orang asing, yang tersebar di dunia orang bukan Yahudi (2:11-12). Namun, prinsip menjadi pelancong dapat diterapkan kepada semua orang beriman, baik Yahudi maupun bukan Yahudi, karena keduanya adalah orang-orang pelancong surgawi, merantau sebagai orang asing di bumi ini. Para pelancong ini adalah orang-orang pilihan Allah, yang dipilih Allah dari umat manusia, dari segala bangsa (Why. 5:9-10), berdasarkan “pengenalan dini”-Nya (1 Ptr. 1:2).
Istilah “tersebar” umum bagi semua orang Yahudi yang tersebar di antara bangsa-bangsa, menunjukkan bahwa surat ini ditulis untuk orang beriman Yahudi. Dalam bahasa Yunani, kata ini berarti menyebarkan atau menyerakkan; akar katanya berarti menabur. Ini menyiratkan bahwa orang Yahudi yang tersebar itu bagaikan benih yang ditaburkan di antara orang bukan Yahudi.
Dalam ayat 1Petrus berbicara mengenai Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil, dan Bitinia. Semua ini ada-lah propinsi-propinsi di Asia Kecil, di antara Laut Hitam dan Laut Tengah.
DIPILIH, DIKUDUSKAN, DAN DITEBUS
Satu Petrus 1:2 mengatakan, “Yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya anugerah dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.” Frase “sesuai dengan rencana Allah” secara harfiah berarti “sesuai dengan pengenalan dini Allah Bapa”, menerangkan “pilihan” dalam ayat 1. Di sini disingkapkan, ekonomi ilahi melalui pekerjaan Trinitas ke-Allahan membuat kaum beriman dapat mengambil bagian dalam Allah Tritunggal. Pemilihan Allah Bapa adalah pemrakarsa; pengudusan Allah Roh menggenapkan pemilihan Allah Bapa; dan penebusan Allah Putra, yang dilambangkan dengan pemercikan darah-Nya, adalah perampungan. Melalui langkah-langkah ini, kaum beriman dipilih, dikuduskan, dan ditebus untuk menikmati Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh, yaitu Allah Tritunggal yang ke dalam-Nya mereka dibaptis (Mat. 28:19) dan yang sekarang sedang dinikmati kebajikan-Nya (2Kor. 13:13).
Dalam ayat 2 kita tidak dapat menemukan kata “Trinitas” atau “Allah Tritunggal”. Walaupun demikian, fakta Trinitas ke-Allahan terkandung di sini, karena ayat ini mem-bicarakan pemilihan Bapa, pengudusan Roh, dan penebusan Putra. Tidakkah ini mengacu kepada Allah Tritunggal? Bukankah Trinitas ke-Allahan beroperasi, bekerja, atas orang-orang pilihan-Nya? Ya, di sini kita nampak pekerjaan Allah Tritunggal atas kaum pilihan agar mereka berbagian dalam keselamatan-Nya yang sempurna.
Dalam ayat 2Petrus membicarakan pengenalan dini Allah Bapa. Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, di dalam kekekalan lampau (Ef. 1:4). Karena itu, Dia telah menggunakan pengenalan dini ilahi-Nya.
Di sini, pengudusan Roh itu bukanlah pengudusan Roh itu yang terjadi setelah pembenaran melalui penebusan Kristus, seperti yang diwahyukan dalam Roma 6:19, 22; 15:16. Di sini, pengudusan Roh itu (sebagai penekanan utama dalam pasal ini, suatu penekanan pada kekudusan — ayat 15-16), terjadi sebelum ketaatan kepada Kristus dan percaya kepada penebusan-Nya, yaitu sebelum pembenaran melalui penebusan Kristus (1Kor. 6:11). Ini menunjukkan bahwa ketaatan kaum beriman sehingga percaya kepada Kristus adalah hasil dari pekerjaan pengudusan Roh itu. Berbagai aspek pengudusan Roh itu diwahyukan secara me-nyeluruh dalam 2Tesalonika 2:13, dan sasarannya adalah agar umat pilihan Allah dapat memperoleh keselamatan sempurna Allah. Keselamatan sempurna Allah ini terlaksana dalam ruang lingkup pengudusan Roh itu.
Dalam 1Petrus 1:2 dipakai tiga kata depan yang berbeda dalam hubungannya dengan tiga langkah yang ditempuh Allah Tritunggal untuk membawa umat pilihan-Nya ke dalam partisipasi atas keselamatan sempurna-Nya: kata “sesuai dengan”, menyatakan kedudukan, dasar; oleh (dalam, Tl.), menyatakan ruang lingkup; dan supaya, menyatakan sasaran, hasil. Ketaatan kaum beriman (Rm. 1:5; 16:26) kepada kepercayaan dalam Kristus dan penerapan pemercikan darah atas mereka adalah hasil dari pengudusan Roh itu yang didasarkan pada pemilihan Allah Bapa.
PEMERCIKAN DARAH KRISTUS
Ayat ini juga membicarakan tentang pemercikan darah Yesus Kristus. Dalam perlambangan, pemercikan darah pendamaian mengantarkan orang yang dipercik ke dalam perjanjian yang lama (Kel. 24:6-8). Demikian pula, pemercikan darah penebusan Kristus mengantarkan kaum beriman yang dipercik ke dalam berkat perjanjian yang baru, yaitu ke dalam kenikmatan penuh atas Allah Tritunggal (Ibr. 9:13-14). Inilah tanda yang tegas yang memisahkan orang yang dipercik dengan orang awam yang tanpa Allah.
BERTUMBUH SAMPAI KEPADA KESELAMATAN
Dalam tulisan-tulisannya, Paulus tidak memberi kita sebuah pandangan yang jelas akan keselamatan Allah yang menyeluruh seperti yang dilakukan oleh Petrus. Sebagaimana digunakan dalam Surat-surat Kiriman Petrus, kata “keselamatan” menyiratkan keselamatan yang sempurna. Dalam 1Petrus 2:2 Petrus berkata, “Jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu menginginkan air susu yang murni dan rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.” Di satu pihak, kita telah diselamatkan; di pihak lain, kita masih perlu bertumbuh sampai kepada keselamatan. Ini berarti di sini masih ada keselamatan yang lebih lanjut yang belum kita raih. Dengan kata lain, kita kekurangan keselamatan tertentu. Kita belum memilikinya, dan kita perlu bertumbuh menuju hal itu. Kita perlu terus-menerus bertumbuh sampai kita mencapai, sampai kepada, keselamatan yang sempurna. Menurut 1:5, ini adalah “keselamatan yang telah siap untuk dinyatakan pada zaman akhir.” Ketika Tuhan Yesus datang kembali, keselamatan ini akan terlaksana.
Kita telah diselamatkan, namun kita masih menderita. Mengapa kita menderita jika kita telah diselamatkan? Orang lain mungkin menyebabkan kita menderita, dan kita mungkin bahkan mendatangkan penderitaan kepada diri kita sendiri. Sebagai contoh, tidakkah Anda menderita karena marah-marah? Gembirakah Anda bila Anda gagal mengendalikan amarah Anda? Ada orang mungkin berdoa supaya Tuhan menyelamatkan mereka dari temperamen mereka. Mereka mungkin berkata, “Tuhan, selamatkan aku dari temperamenku. Aku tidak ingin marah lagi. Tuhan, Engkaulah Imanuel, Allah beserta kita. Engkau juga Yesus, Yang melepaskan umat-Nya dari dosa-dosa mereka. Aku mengakui bahwa marah-marah itu dosa. Tuhan, Engkaulah Juruselamatku. Engkau dapat melepaskan aku dari dosa ini.” Meskipun demikian, bukannya menyelamatkan Anda dari amarah Anda, Dia mungkin malah mengizinkan Anda lebih sering marah-marah. Sebagai contoh, seorang saudara mungkin meluangkan waktu berdoa di pagi hari. Tetapi pada waktu makan pagi, istrinya mungkin mempersulit dan mengkritik dia. Mula-mula, dia mencoba menekan amarahnya. Dia mungkin berdoa agar Tuhan menyelamatkannya dan menjaganya agar tidak marah. Namun, istrinya terus mengganggu dia sampai dia marah. Sepanjang siang itu, saudara itu menderita karena dia gagal mengontrol amarahnya terhadap istrinya. Dalam perjalanan dari tempat kerja ke rumah, Tuhan Yesus mungkin menyuruhnya memaafkan istrinya, sesuatu yang mungkin sangat sulit untuk dilakukan. Seandainya dia menolak dan berkata kepada Tuhan, “Aku tidak akan memaafkannya,” Tuhan Yesus mungkin berkata, “Jika kamu tidak melakukannya, Aku akan membiarkanmu.” Ini adalah suatu ilustrasi dari fakta bahwa mereka yang telah diselamatkan saja masih menderita.
Di satu pihak, kehidupan orang Kristen adalah kehi-dupan yang penuh kenikmatan. Tetapi kita semua juga setuju bahwa di pihak lain, kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang penuh penderitaan. Tidakkah Anda mengalami penderitaan di dalam kehidupan Anda sebagai orang Kristen? Adakah orang Kristen yang dapat mengatakan bahwa dia tidak pernah mengalami penderitaan? Kadang-kadang kita bersaksi bahwa kita orang Kristen memiliki kehidupan pernikahan yang baik dan kehidupan keluarga yang bahagia. Ya, ini benar, dan ini adalah sebagian dari kesaksian kita. Ada saatnya suami, istri, dan anak-anak dengan gembira memuji Tuhan. Tetapi kita juga harus mengakui bahwa kadang-kadang kehidupan keluarga kita sama sekali tidak demikian, karena seorang saudara mungkin berbantah-bantah dengan istrinya, anak-anak mungkin sangat tidak gembira. Ini menunjukkan bahwa kita perlu Juruselamat dan bahwa kita perlu bertumbuh sampai kepada keselamatan. Tuhan tidak menyelamatkan kita dari amarah kita. Sebaliknya, pertumbuhan kita sampai kepada keselamatanlah yang akan menyelamatkan kita dari hal itu.
Kita telah menunjukkan bahwa dalam 1:1 dan 2 terdapat pekerjaan Allah Tritunggal atas kaum pilihan-Nya agar mereka berbagian dalam keselamatan-Nya yang sempurna. Dalam ayat-ayat ini diwahyukan ekonomi ilahi melalui operasi Trinitas dari ke-Allahan agar kaum beriman berbagian dalam Allah Tritunggal. Kita perlu terkesan dengan hal ini dan mencerna realitas istilah-istilah ini.
ANUGERAH DAN DAMAI SEJAHTERA
Ayat 2 berakhir dengan perkataan, “Kiranya anugerah dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.” Anugerah adalah Allah sebagai kenikmatan kita (Yoh. 1:17; 1Kor. 15:10). Damai sejahtera adalah keadaan yang dihasilkan dari anugerah. Anugerah yang makin melimpah berhubungan dengan berbagai anugerah (1Ptr. 4:10) dan segala anugerah (5:10). Kaum beriman telah menerima anugerah awal; namun anugerah ini perlu dilipatgandakan di dalam mereka, sehingga mereka dapat mengambil bagian dalam segala anugerah.
DUA ASPEK DARI PENGUDUSAN ROH
Pengudusan Roh itu memiliki dua aspek. Kita perlu tahu kedua aspek ini dan apa yang dirampungkan keduanya. Aspek pertama dari pengudusan mendahului pembenaran, menggenapkan pemilihan Allah, dan membawa orang-orang yang dipilih Allah kepada ketaatan dan pemercikan darah bagi pembenaran mereka. Jadi, aspek pengudusan Roh itu dalam aspek ini adalah sebelum pembenaran melalui penebusan Kristus. Setelah pembenaran, Roh itu terus bekerja untuk menguduskan watak kita. Urutannya adalah demikian: Pemilihan Allah, pengudusan Roh itu, pembenaran, dan kemudian pengudusan subyektif. Sedikit orang Kristen yang telah melihat hal ini. Banyak guru Kristen mengatakan bahwa pemilihan Allah terjadi lebih dulu, kemudian pembenaran, lalu pengudusan Roh itu. Namun, ini tidak memperhitungkan dua aspek pengudusan Roh itu, melainkan hanya menyebutkan aspek keduanya, pengudusan subyektif atau pengudusan watak. Kita telah menunjukkan bahwa pengudusan subyektif Roh itu diwahyukan dalam Roma 6 dan 15. Tetapi sebelum kita dapat mengalami pengudusan subyektif Roh itu, kita harus mengalami aspek pertama dari pengudusan Roh itu, pekerjaan pengudusan yang terjadi sebelum pembenaran Allah.
Dalam kekekalan yang lampau, Allah memilih kita menurut pengenalan dini-Nya. Dia memilih kita dan memutuskan untuk mendapatkan kita. Kemudian dalam waktu Roh itu datang kepada kita untuk menguduskan kita, menyisihkan kita dari dunia sehingga kita menaati penebusan Kristus. Dia datang untuk memisahkan kita agar kita taat dan mendapat bagian dalam pemercikan darah Kristus. Bila kita taat, darah itu dipercikkan ke atas diri kita. Roh yang menguduskan, memisahkan kita dari dunia agar taat kepada darah Kristus. Mula-mula kita bertobat dan percaya, kemudian kita menaati apa yang telah Kristus rampungkan di atas salib. Selanjutnya, kita menerima pemercikan darah Kristus. Inilah pekerjaan pengudusan Roh itu yang mengikuti pemilihan Allah untuk menggenapkan pemilihan Allah dan membawa kita kepada penebusan Kristus.
Saya dapat menggunakan pengalaman saya untuk mengilustrasikan aspek pengudusan Roh itu. Saya dilahirkan dalam agama Kristen, tetapi sesungguhnya, saya tidak dilahirkan ke dalam Kristus. Sebagai orang muda, setelah melihat beberapa hal dalam kekristenan yang tidak saya sukai, saya sangat tidak bisa menerima. Ketika saya membandingkan pengajaran Konghucu dengan apa yang saya lihat dalam kekristenan, saya berkata kepada diri sendiri bahwa kekristenan tidaklah sebaik ajaran Konghucu. Saya merasa murid-murid Konghucu jauh lebih baik dalam kelakuan dan sikap mereka daripada para misionaris, pastur, dan pengkhotbah. Tetapi suatu hari, pada umur sembilan belas, saya ditangkap oleh pengudusan Roh itu. Seorang penginjil wanita yang masih muda datang ke kota saya, dan didorong oleh rasa ingin tahu saya pergi mendengarkan dia. Ketika saya duduk di ruang pertemuan itu, Roh itu berkata kepada saya, “Apa yang kamu kerjakan di sini? Aku telah mengejarmu sekian lama, sekaranglah waktunya Aku menangkapmu.” Saya benar-benar ditangkap oleh Tuhan pada waktu itu. Saya bertobat dan saya mulai menaati Kristus dan menerima apa yang Dia kerjakan. Tidak diragukan, pada saat yang sama saya menerima pemercikan darah Kristus, dan saya mengalami aspek pertama dari pekerjaan pengudusan Roh itu. Mulai waktu itu dan seterusnya, Roh itu terusmenerus menguduskan saya. Bahkan sekarang pekerjaan pengudusan ini, aspek kedua dari pengudusan Roh itu, masih terus berlangung.
Pekerjaan pengudusan Roh itu berlangsung sebelum pembenaran Allah dan masih terus berlangsung. Sebelum pembenaran, kita dipisahkan kepada ketaatan dan pemercikan darah Kristus. Setelah pembenaran, kita dikuduskan secara subyektif dalam watak. Dalam 1:2 terdapat aspek pertama; dalam Roma 6:19 dan 22 terdapat aspek kedua; dan dalam 2Tesalonika 2:13 terdapat pengudusan yang al-muhit dari Roh itu. Tujuan pengudusan ini adalah menggenapkan keselamatan-Nya yang sempurna.
PEKERJAAN YANG KUAT
DARI ALLAH TRITUNGGAL
Menurut 1Petrus 1:1-2, kita dapat membicarakan operasi Allah Tritunggal, pekerjaan yang kuat dari Allah Tritunggal, karena di sini kita memiliki pemilihan Bapa, pengudusan Roh, dan penebusan Putra. Ketiga tindakan ini adalah pekerjaan Allah Tritunggal.
Pemilihan Bapa dikerjakan sebelum dunia dijadikan. Pemilihan ini dilakukan berdasarkan pengenalan dini Allah. Perkataan Petrus dalam 1:2 cocok dengan perkataan Paulus dalam Efesus 1 dan Roma 8, pasal-pasal di mana Paulus memberi tahu kita bahwa dalam kekekalan, sebelum dunia dijadikan, Allah memilih kita menurut pengenalan dini-Nya. Inilah pemilihan Allah.
Roh itu kemudian datang untuk melaksanakan pemilihan Allah. Pemilihan Allah dibuat dalam kekekalan, sebelum dunia dijadikan. Namun, pengudusan Roh itu terjadi dalam waktu. Kita mengembara, tanpa arah, tetapi Roh itu melaksanakan pemilihan Allah atas kita. Sebagai hasilnya, kita bertobat, percaya, dan menerima percikan darah yang dicurahkan oleh Kristus di atas salib. Karena itu, kita memiliki pergerakan Bapa, Roh, dan Putra. Ini adalah pekerjaan Trinitas ke-Allahan di atas umat pilihan-Nya, sehingga mereka dapat berbagian dalam keselamatan-Nya yang sempurna. Ini adalah satu cara membicarakan apa yang diwahyukan dalam 1:1-2.
MENIKMATI ALLAH TRITUNGGAL
Cara lain membicarakan hal yang sama adalah mengatakan bahwa pekerjaan yang kuat dari Allah Tritunggal adalah membawa kita masuk ke dalam kenikmatan atas Allah Tritunggal. Mengambil bagian dalam keselamatan sempurna Allah sebenarnya adalah menikmati Allah Tritunggal. Ketika kita menikmati Allah Tritunggal, kita berada dalam anugerah, karena anugerah adalah Allah untuk kita nikmati. Ini adalah kenikmatan kita atas Allah Tritunggal. Menurut ayat 2, anugerah ini seharusnya makin melimpah, dilipatgandakan, dan tidak hanya ditambahkan. Selain itu, kenikmatan atas anugerah menghasilkan damai. Ini berarti damai adalah hasil dari kenikmatan atas Allah Tritunggal sebagai anugerah. Ini adalah mengambil bagian dalam keselamatan sempurna Allah, dan ini adalah ekonomi ilahi dari Trinitas ke-Allahan untuk membawa kita ber-bagian dalam Allah Tritunggal.
Kita tidak seharusnya menganggap sederhana ayat 1 dan 2, pendahuluan Surat-surat Kiriman ini. Kita tidak seharusnya sambil lalu membaca ayat-ayat ini sebagai kata-kata yang ditulis oleh seorang nelayan. Petrus adalah seorang nelayan, tetapi dia adalah nelayan yang disusun oleh Allah Tritunggal dalam pekerjaan-Nya. Karena itu, Petrus tahu pemilihan Bapa, pengudusan Roh, dan penebusan Putra. Dia tahu bahwa pemercikan darah Yesus Kristus membawa orang-orang pilihan Allah masuk ke dalam kenikmatan penuh atas Allah Tritunggal sebagai keselamatan mereka. Tulisan ini adalah hembusan Roh yang almuhit. Setiap kata dalam ayat-ayat ini adalah bagian dari hembusan kudus Roh pemberi-hayat. Ruang lingkup, isi, dan jangka waktu dari ayat-ayat ini sungguh luar biasa, dan kita perlu mempelajarinya berkali-kali.