PENDAHULUAN
Pembacaan Alkitab: 1Ptr. 1:1-2
Dengan berita ini, kita akan memulai pelajaran-hayat tentang Surat 1 dan 2Petrus dan Surat Yudas. Di waktu lampau kita agak mengabaikan tulisan-tulisan Petrus. Kita telah menghabiskan cukup banyak waktu dan tenaga pada kitab-kitab lain dalam Alkitab, terutama tulisan-tulisan Paulus. Mungkin salah satu alasan diabaikannya pembahasan Surat 1 dan 2 Petrus ialah pemujaan aliran kekristenan tertentu yang berlebihan terhadap Petrus. Aliran ini menganggap Petrus sebagai Paus mereka yang pertama. Kami tidak setuju dengan pernyataan mereka mengenai hal ini. Karena itu, Petrus kita, Petrus yang diwahyukan dalam Alkitab, dalam aspek tertentu berbeda dengan konsepsi mengenai Petrus yang dimiliki oleh mereka. Karena mereka menyanjung Petrus dengan cara yang tidak tepat, maka saya hanya menaruh sedikit perhatian kepada tulisan-tulisan Petrus.
Meskipun demikian, saya telah menyampaikan sejumlah berita mengenai Surat 1 dan 2Petrus. Tahun 1973 saya mengadakan konferensi mengenai Surat 1 dan 2Petrus di Vancouver, British Columbia. Pada tahun itu pula saya me-nyampaikan berita-berita mengenai anugerah dalam tulisan-tulisan Petrus dalam sebuah konferensi yang diadakan di San Fransisco. Berita-berita itu diterbitkan dalam buletin The Stream (Volume 12, No. 1, Februari 1974, dan No. 2, Mei 1974). Dalam berita-berita itu saya dengan kuat menekankan bahwa Petrus memang memiliki sesuatu yang kaya, tinggi, dan khusus untuk diministrikan kepada kita.
CIRI-CIRI TULISAN-TULISAN PETRUS
Paulus menulis empat belas Surat Kiriman, tetapi Petrus hanya menulis dua surat, yang keseluruhannya berisi delapan pasal. Meskipun tulisan Petrus singkat, dia menggunakan istilah-istilah khusus yang tidak terdapat dalam tulis-an-tulisan Paulus. Sebagai contoh, Petrus berbicara tentang darah Kristus yang mahal (1Ptr. 1:19). Meskipun Paulus berbicara mengenai darah Kristus, dia tidak menggunakan ungkapan yang khusus ini, darah yang mahal.
Pada bagian ini kita perlu melihat bahwa ciri-ciri khusus tulisan Petrus adalah penggunaannya dalam hal kata sifat, terutama kata sifat yang tinggi. Bersama darah yang mahal, Petrus menyebutkan benih yang tidak fana, kemuliaan yang tidak dapat layu, dan kuasa ilahi. Paulus tidak menggunakan ungkapan-ungkapan ini. Namun, Petrus biasa menggunakan kata sifat yang demikian. Tetapi ini merupakan suatu hal yang lebih daripada sekadar kebiasaan, melainkan merupakan suatu petunjuk bahwa ada sesuatu yang benar-benar telah terbangun ke dalam karakter Petrus.
Selama tahun-tahun dia mengikuti Tuhan Yesus, Petrus telah melihat banyak hal. Tetapi selama tahun-tahun itu dia tidak mengetahui makna dari apa yang dia lihat. Faktanya, ketika kita membaca keempat kitab Injil, kita mungkin berpikir bahwa Petrus itu bodoh. Meskipun Petrus tidak bertindak dengan cerdik, Tuhan Yesus memilih dia dan menempat-kannya di jajaran terdepan dari murid-murid yang lain. Karena alasan inilah, dalam kitab-kitab Injil, nama Petrus biasanya tercantum sebagai yang pertama dari antara murid-murid.
Petrus tidak memiliki pengertian rohani terhadap hal-hal yang telah dia lihat. Dia kekurangan pemahaman yang tepat akan hal-hal itu dalam hayat. Itulah sebabnya dalam berita-berita yang disampaikan dalam Yohanes 14, 15, dan 16, Tuhan Yesus berbicara mengenai Roh realitas: “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran (realitas), Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yoh. 16:12-13).
Roh realitas memang datang pada hari kebangkitan Kristus, dan Petrus mungkin orang pertama yang diinfus dengan Roh ini. Hal ini menerangkan mengapa Petrus dalam Kisah Para Rasul 1 begitu berbeda dari Petrus yang ada dalam kitab Injil. Dalam kitab Injil, Petrus sering berbicara dengan cara yang tidak masuk akal. Namun dalam Kisah Para Rasul 1, Petrus tidak berbicara seperti itu. Malahan, ketika dia berdiri berbicara, dia bening, seperti kristal. Petrus menjadi bening karena Roh realitas telah masuk ke dalamnya. Roh yang ajaib ini, yang telah diinfuskan ke dalam Petrus, mengingatkan dia akan semua hal yang telah dia lihat dan dengar. Hal ini dapat dibuktikan oleh tulisan-tulisan Petrus sendiri. Sebagai contoh, dalam 2Petrus 1:16-18 dia menyebutkan waktu dia, Yakobus, dan Yohanes bersama-sama dengan Tuhan Yesus di Gunung Pengubahan. Hal ini menunjukkan bahwa Roh realitas telah mengingatkan dia akan peristiwa itu dan telah menunjukkan kepadanya makna peristiwa itu.
Roh itu mengingatkan Petrus akan hal-hal yang telah dia lihat ketika dia bersama dengan Tuhan Yesus selama tiga setengah tahun. Petrus telah melihat banyak hal, tetapi dia tidak memiliki pemahaman atau pengertian akan hal-hal itu pada waktu itu. Namun setelah datangnya Roh realitas dan melalui Roh itu mengingatkan dia akan hal-hal itu, Petrus mulai mengerti arti dari hal-hal itu. Petrus mungkin berkata kepada dirinya sendiri, “Oh, sekarang aku tahu mengapa Tuhan merepotkan aku sedemikian rupa dan mengapa Ia sering menyingkapkan aku. Aku mengingat caraku berbicara kepada pemungut cukai. Ia bertanya kepadaku apakah Tuhan harus membayar pajak, dan dengan segera aku menjawab, ‘Ya.’ Ternyata Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia tidak perlu membayar setengah syikal. Hal itu membuatku malu. Kemudian Ia menyuruhku memancing dan mengatakan bahwa aku akan menangkap seekor ikan dengan sekeping uang syikal di dalam mulutnya. Sekarang aku tahu bahwa bila aku menjawab ya, Tuhan akan mengatakan tidak, dan bila aku berkata tidak, dia akan berkata ya.” Setelah kebangkitan Tuhan dan setelah Roh realitas masuk ke dalam Petrus, dia mengalami perubahan yang sedemikian.
Melalui Roh realitas, sesuatu yang solid, unggul, kaya, dan kuat telah dibangun ke dalam setiap sel dari apa adanya Petrus. Karena itu, ketika dia berbicara mengenai darah Tuhan, dia menambahkan kata “mahal”. Kata sifat ini menjamah perasaan kita. Ketika dia mengutarakan perkataan ini, Petrus pasti telah memiliki perasaan yang khusus mengenai kemustikaan darah Kristus. Dalam 1:18 dan 19 dia berkata, “Sebab kamu tahu bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” Tidak percayakah kalian bahwa Petrus mengungkapkan perasaan yang khusus ketika dia mengutarakan perkataan-perkataan ini? Dalam 1Petrus 1:23 Petrus meneruskan perkataannya, “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, melalui firman Allah, yang hidup dan yang tinggal (berhuni)” (Tl.). Dalam ayat ini Petrus berbicara tentang benih yang tidak fana dan firman yang hidup dan yang tinggal (berhuni). Dalam 1:4 dia menguraikan warisan kita yang “tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan tidak dapat layu.” Maka, dalam ayat-ayat ini, sebagai ilustrasi kebiasaan Petrus dalam menggunakan kata sifat, kita memiliki kata mahal, tidak fana, hidup, berhuni, tidak dapat cemar, dan tidak dapat layu. Hal ini menunjukkan bahwa dalam ciri-ciri khusus ini Petrus lebih kuat, lebih tinggi, dan lebih kaya daripada Paulus.
Satu Petrus 2:21 mengatakan bahwa Kristus menderita untuk kita, meninggalkan teladan bagi kita, supaya kita mengikuti jejak-Nya. Kata Yunani yang diterjemahkan “teladan” sulit untuk diterjemahkan. Beberapa versi menggunakan kata “teladan”. Sesungguhnya, kata Yunaninya berarti salinan tulisan, tindasan. Karena itu, Tuhan Yesus adalah salinan tulisan kita, tindasan yang dipakai oleh pelajar untuk menelusuri surat atau huruf dan belajar menuliskannya. Istilah modern untuk menggambarkan proses penyalinan adalah pengopian (xeroxing). Pengopian tidak ada hubungannya dengan mengikuti atau meniru. Sebaliknya pengopian adalah masalah mereproduksi yang asli. (Lihat berita berju-dul “Pengopian Rohani” (Spiritual Xeroxing), yang diterbitkan dalam buletin The Stream, vol. 12, No. 1, Februari 1974). Kristus adalah salinan tulisan bukan untuk ditiru atau sekadar untuk diikuti. Sebaliknya, Dia adalah salinan tulisan untuk dikopi ke dalam kita. Ini berarti kita semua seharusnya menjadi reproduksi, kopi dari Kristus. Inilah arti dari kata Yunani yang diterjemahkan “teladan” dalam 2:21, sebuah istilah yang tidak digunakan oleh Paulus dalam tulisan-tulisannya.
Dalam 3:7 Petrus menggunakan ungkapan unik yang lain — “anugerah kehidupan (hayat)”. Kita semua tidak asing dengan kata-kata anugerah dan hayat, tetapi tidak biasa dengan ungkapan “anugerah hayat”. Sebagai bejana yang lebih lemah, istri-istri adalah teman pewaris dari anugerah hayat bersama suami mereka. Suatu ungkapan yang manis! Meskipun demikian, kita mungkin terbiasa dengan anugerah keselamatan atau anugerah pengampunan tanpa pernah terkesan dengan anugerah hayat. Dalam tulisan-tulisannya, Paulus tidak menggunakan ungkapan yang khusus dan manis ini.
Dalam 4:17 Petrus mengatakan, “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai dari rumah Allah sendiri.” Di sini kita mempunyai ungkapan yang khusus pada sisi negatifnya: Penghakiman Allah dimulai dari rumah-Nya sendiri. Paulus tidak memberi tahu kita tentang hal ini. Tetapi Petrus sangat jelas dalam hal penghakiman Allah yang dimulai dari rumah-Nya sendiri.
Paulus sering menggunakan ungkapan “anugerah dan damai sejahtera menyertai kamu”. Namun, Petrus dua kali berbicara mengenai anugerah dan damai makin melimpah. Dalam 1:2 dia berkata, “Anugerah dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu,” dan dalam 2Petrus 1:2, “Anugerah dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita.” Petrus tidak hanya mendambakan anugerah beserta dengan kaum saleh, juga mendambakan anugerah itu makin melimpah atas mereka. Pernahkah kalian memikirkan arti anugerah makin melimpah? Pernahkah kalian mendengar khotbah atau berita yang memberi tahu kalian bahwa anugerah dan damai dapat melimpah? Sebagian besar dari kita akan menemukan bahwa ungkapan ini membingungkan. Penggunaan kata “berlimpah” oleh Petrus sekali lagi menunjukkan kekhususannya. Dalam hal ini, Paulus bahkan tidak sekhusus Petrus, karena dalam Surat-surat Kirimannya, dia tidak pernah berbicara tentang anugerah dan damai semakin melimpah.
Ungkapan “makin melimpah” di sini menunjukkan bah-wa telah ada sesuatu, dan kita tidak perlu menambahkan hal yang sama, kita hanya perlu melipatgandakan apa yang telah kita miliki. Ini berarti kita memerlukan pelipatgandaan anugerah yang telah kita miliki. Kita tidak memerlukan anugerah yang lain. Apa yang kita perlukan adalah melipatgandakan anugerah yang telah kita miliki.
Berdasarkan pemikiran anugerah yang dilipatgandakan, Petrus melanjutkan pembicaraannya dalam 4:10 tentang berbagai anugerah, “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengelola yang baik dari (berbagai) anugerah Allah.” Kita semua seharusnya menjadi pelayan yang baik dari apa yang Petrus sebut berbagai anugerah, anugerah dalam berbagai aspek dan berbagai kategori. Petrus menyebutkan anugerah lagi dalam 1Petrus 5:10, di mana ia berbicara tentang Allah, sumber segala anugerah. Karena itu, dalam Surat 1Petrus kita memiliki empat ungkapan yang unik mengenai anugerah: anugerah hayat, anugerah yang makin melimpah, berbagai anugerah, dan segala anugerah. Anugerah hayat sedang dilipatgandakan di dalam kita, kemudian menjadi berbagai anugerah, akhirnya menjadi segala anugerah. Hasilnya, kita tidak hanya mempunyai anugerah dari satu arah, tetapi dari banyak arah. Sebagai contoh, dari langit dan dari bumi, dari suami atau istri, dan dari anak-anak kita. Lebih ba-nyak anak yang kita miliki, lebih banyak aspek anugerah yang akan kita alami. Jika Anda memiliki empat orang anak, Anda akan menikmati anugerah dalam empat aspek. Tetapi jika Anda memiliki lebih banyak anak, Anda akan menikmati lebih banyak aspek anugerah. Dalam cara yang sama, jika seorang saudara tidak menikah, dia akan kekurangan aspek yang khusus dari anugerah. Seorang saudara yang sudah menikah akan mengalami anugerah dalam aspek yang khusus. Selain itu, jika istri seorang saudara secara alamiah sangat baik, dia mungkin akan kekurangan aspek yang kaya dari anugerah. Tetapi jika istrinya menyulitkan dan bahkan agak keras kepala, dia akan memiliki kesempatan untuk menikmati aspek yang sangat khusus dan kaya dari anugerah. Anugerah itu berbeda-beda menurut situasi dan lingkungan kita. Sebagai contoh, anugerah akan berbeda menurut macam istri yang Anda miliki, apakah dia secara alamiah taat atau menyulitkan. Jika istri Anda baik, Anda tidak akan memiliki anugerah sebanyak jika istri Anda menyulitkan Anda. Sama halnya, jika Anda tidak mempunyai anak, Anda tidak akan menikmati aspek anugerah yang berkaitan dengan anak-anak. Oh, kita semua perlu mengenal berbagai anugerah!
Dalam 2Petrus 1:3 Petrus berkata, “Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh.” Sepertinya Petrus suka memakai kata “segala”. Dalam 1Petrus 5:10 dia berbicara tentang segala anugerah; dalam 2Petrus 1:3 dia berbicara tentang segala sesuatu. Kata “segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh” adalah suatu ungkapan yang sangat penting. Kita tidak dapat menemukan ungkapan yang demikian dalam tulisan-tulisan Paulus. Petrus adalah orang yang mengatakan bahwa kuasa ilahi telah menganugerahkan kepada kita semua hal yang berkaitan dengan hayat dan kesalehan, yaitu segala hal yang berkenaan dengan hayat yang di dalam dan yang berkaitan dengan kesalehan (ekspresi Allah) secara luaran.
Dalam 2Petrus 1:4 Petrus melanjutkan berkata bahwa Allah “Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi (sifat Allah), dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.” Istilah Yunani yang diterjemahkan “sangat besar” sulit untuk diterjemahkan. Secara harfiah, seharusnya diterjemahkan sebagai “yang paling besar”. Allah memberi kita bukan hanya janji-janji yang berharga, tetapi janji-janji yang sangat besar.
Menurut 2Petrus 1:4, Allah telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan sangat besar, sehingga melaluinya kita boleh mengambil bagian dalam sifat (kodrat) Allah. Kita adalah orang-orang yang mengambil bagian dalam sifat Allah. Sering kali ketika saya mengingat hal ini, saya lupa diri karena sukacita. Betapa ajaibnya, kita dapat berbagian dalam sifat Allah! Sadarkah Anda bahwa Anda adalah orang yang mengambil bagian dalam sifat Allah? Kita, manusia, sungguh-sungguh dapat mengambil bagian dalam sifat Allah. Ini berarti, sebagai orang beriman dalam Kristus, kita tidak hanya memiliki sifat Allah, tetapi kita sekarang berbagian dalam, menikmati, berpartisipasi dalam sifat ilahi. Jika Paulus membaca ungkapan-ungkapan yang demikian, dia akan mengatakan, “Saudara Petrus, dalam hal ini, tulisanmu melampaui tulisanku.”
Dalam tulisannya, Paulus tidak memberi tahu kita segala sesuatu tentang langit baru dan bumi baru. Hal ini disebutkan dalam tulisan-tulisan Petrus dan Yohanes; Yohanes akrab dengan Petrus. (Sering dalam Kitab Kisah Para Rasul nama Petrus dan Yohanes disebut bersama-sama). Dalam Kitab Wahyu, Yohanes memberikan catatan yang panjang mengenai langit dan bumi yang baru. Namun, Petrus hanya mengutarakan sepatah kata yang pendek dalam 2Petrus 3:13, “Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.” Kata-kata Petrus mengenai langit dan bumi yang baru adalah ilustrasi lain mengenai bagaimana tulisan-tulisannya berisi hal-hal khusus yang tidak ditemukan di dalam tulisan-tulisan Paulus.
JANGKA WAKTU DAN RUANG LINGKUP
TULISAN PETRUS
Tulisan Petrus singkat, berisi hanya delapan pasal. Walaupun demikian, jangka waktu tulisan-tulisan Petrus sangat panjang. Sebagai contoh, dalam 1Petrus 1:2 dia berbicara tentang pengenalan dini Allah Bapa. Kemudian dalam 1:20 dia mengatakan bahwa Kristus sudah diketahui Allah sebelum dunia dijadikan. Berdasarkan pengenalan dini-Nya, Allah memilih kita. Dalam berita selanjutnya akan kita lihat bahwa kita dipilih sebelum dunia dijadikan. Perihal Petrus menyebutkan pengenalan dini Allah dan Kristus yang sudah diketahui sebelum dunia dijadikan menunjukkan bahwa jangka waktu penulisannya dimulai dari kekekalan yang lampau, dari sebelum dunia dijadikan. Kemudian, sebagaimana telah kita tunjukkan, Petrus juga membicarakan langit baru dan bumi baru. Ini mengacu kepada kekekalan yang akan datang, karena pada kekekalan yang akan datang akan ada langit dan bumi yang baru. Melalui ini kita dapat melihat bahwa jangka waktu tulisan Petrus mencakup dua kekekalan; berawal dari kekekalan yang lampau sampai kekekalan yang akan datang.
Bagaimana dengan ruang lingkup Surat-surat Kiriman Petrus? Ruang lingkup Surat-surat Kiriman Petrus juga sangat luas. Ruang lingkup ministri Petrus juga luas. Ini ditunjukkan oleh dua ayat pertama dari 1Petrus 1: “Dari Petrus, rasul Yesus Kristus. Kepada orang-orang pendatang yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya.” Betapa luas ruang lingkup ayat-ayat ini dan betapa kaya isinya! Di sini ada pemilihan Bapa, pengudusan Roh itu, dan penebusan Putra. Tentu saja, dalam ayat 2 Petrus tidak menggunakan kata penebusan. Dia sengaja menggunakan ungkapan yang lain — “percikan darah Yesus Kristus”. Menggunakan kata penebusan saja sangatlah sederhana. Tetapi membicarakan percikan darah Yesus Kristus adalah menerangkan perkara penebusan, mendefinisikannya, dan menerapkannya. Percikan darah Yesus Kristus adalah penerapan penebusan; ini adalah penebusan yang dijelaskan, didefinisikan, dan diterapkan.
Kita dapat menggunakan definisi yang khusus untuk menjabarkan isi dari 1:1 dan 2. Apa yang terdapat dalam ayat-ayat ini adalah wahyu ekonomi trinitas ke-Allahan yang beroperasi pada diri orang-orang pilihan bagi partisipasi mereka dalam Allah Tritunggal. Di sini kita nampak operasi Allah Tritunggal pada diri orang-orang pilihan-Nya bagi partisipasi mereka dalam keselamatan-Nya yang sem-purna. Nanti akan kita bahas definisi ini lebih rinci. Pada bagian ini, kita menyebutkan contoh ini untuk menunjukkan betapa luas ruang lingkup tulisan-tulisan Petrus.
Surat 1Petrus adalah kitab yang sulit diterjemahkan. Dalam Surat Kiriman ini, Petrus membahas banyak hal, dan komposisinya tidak lancar. Sebagai contoh, beberapa kalimatnya amat panjang. Meskipun Petrus adalah seorang nelayan, orang desa dari Galilea, dia menggunakan beberapa kata Yunani yang luar biasa. Tulisan Petrus benar-benar kaya dan tinggi dalam butir-butir yang dibahasnya. Karena itu, kita perlu mengasihi Petrus, mengapresiasi dia dan ministrinya.
PEMERINTAHAN UNIVERSAL ALLAH
Tidaklah mudah mengatakan apa yang menjadi pokok bahasan Surat 1Petrus. Bahkan setelah membaca Surat 1 dan 2Petrus berkali-kali, kalian akan tetap sulit mengungkapkan pokok bahasan Surat Kiriman ini. Dalam hal ini, Petrus sekali lagi sangat khusus. Dia berbicara tentang sesuatu, tetapi dia tidak memberikan istilah untuk menggambarkan hal itu.
Dalam kedua Surat Kirimannya Petrus membahas pemerintahan universal Allah. Kedua surat ini membicarakan pemerintahan universal Allah. Sebagaimana kita tahu, Injil Matius membahas kerajaan. Jangan mengira pemerin-tahan sama dengan kerajaan. Tidak, kerajaan adalah satu hal dan pemerintahan adalah hal lain. Suatu negara atau bangsa mempunyai suatu pemerintahan. Meskipun demikian, pemerintahan bukanlah negara; sebaliknya pemerintahan adalah pusat administrasi dari bangsa. Sebagai contoh, pemerintahan di Washington D.C., adalah pusat administrasi Amerika Serikat. Meskipun Injil Matius menyajikan kerajaan, pemerintahan tidak ditemukan dalam kitab itu. Pemerintahan Allah dibahas dalam tulisan-tulisan Petrus.
Injil Markus menyajikan pelayanan; Injil Lukas, keselamatan; dan Injil Yohanes menyajikan hayat. Karena itu, dalam keempat Injil ada kerajaan, pelayanan, keselamatan, dan hayat. Tetapi kita tidak memiliki pemerintahan ilahi. Dalam Surat Kirimannya, Petrus menutupi kekurangan ini dengan menunjukkan pemerintahan universal Allah kepada kita.
Pemerintahan Allah mencakup alam semesta. Kita mengetahui hal ini melalui fakta bahwa Petrus berbicara tentang langit dan bumi yang baru. Hal ini menunjukkan pemerintahan universal Allah. Akhirnya, dalam kekekalan yang akan datang, segala sesuatu akan benar dan teratur baik, karena kebenaran akan tinggal di langit dan bumi yang baru. Hari ini bumi dipenuhi dengan ketidakbenaran dan kekacauan. Walaupun demikian, Allah masih memerintah langit dan bumi.
Allah memerintah melalui menghakimi. Ini adalah jalan Allah melaksanakan pemerintahan-Nya. Sebagai seorang tua yang mengenal sedikit sejarah dunia, baik melalui belajar maupun pengamatan, saya dapat bersaksi bahwa saya sering bersujud di hadapan Allah. Dia adalah Yang memerintah, dan Dia memerintah melalui menghakimi. Allah telah menghakimi Hitler, Stalin, dan penjahat yang lain. Di satu pihak, sampai taraf tertentu, Allah mentoleransi mereka dalam melakukan hal-hal tertentu yang bekerja bagi tujuan-Nya, seperti halnya pembantaian orang-orang Yahudi oleh Hitler, yang mengakibatkan orang-orang Yahudi bersatu. Namun, Allah menghakimi mereka.
Dalam Surat 1 dan 2Petrus kita memiliki sebuah catatan tentang penghakiman Allah. Allah menghakimi bumi dengan menggunakan air bah. Kemudian Dia menghakimi Sodom dan Gomora. Sejarah penghakiman Allah juga termasuk penghakiman atas orang Israel di padang gurun. Selama tahun-tahun pengembaraan mereka, orang Israel berkali-kali mengalami penghakiman Allah. Selain Yosua dan Kaleb, semua yang keluar dari tanah Mesir, termasuk Musa, Harun, dan Miryam, mati di padang gurun di bawah penghakiman Allah. Selain itu, Alkitab mengatakan ribuan orang yang tidak taat diserakkan oleh Allah di padang gurun. Itu adalah penghakiman Allah.
Kita tidak seharusnya menganggap Allah hanya menghakimi orang-orang jahat seperti Hitler dan Stalin. Allah juga menghakimi orang-orang-Nya sendiri. Menurut 1Petrus 4:17, penghakiman pemerintahan Allah dimulai dari rumah-Nya sendiri: “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai dari rumah Allah sendiri. Jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimana pula kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?” Ini adalah pemerintahan Allah.
Apakah tujuan dari penghakiman pemerintahan Allah? Allah menghakimi dengan tujuan membersihkan alam semesta-Nya. Alam semesta diciptakan oleh Allah dengan tujuan positif, tetapi Iblis datang untuk mencemarkannya. Sekarang Allah sedang membersihkan alam semesta melalui penghakiman. Dia melakukannya melalui pekerjaan pembersihan alam semesta secara menyeluruh. Akhirnya, alam semesta akan menjadi baru. Tahukah Anda makna dari langit dan bumi yang baru yang disebutkan dalam 2Petrus 3? Maknanya adalah menunjukkan kebaruan alam semesta Allah.
Allah tidak akan hidup atau tinggal di tempat yang tidak bersih. Jadi, Allah sedang membersihkan, memurnikan alam semesta. Pertama Dia memurnikan kita, rumah-Nya. Kita sekarang adalah pusat pekerjaan pembersihan-Nya. Bukankah Anda kadang-kadang berbicara kepada diri sendiri, “Mengapa semakin aku mengasihi Tuhan Yesus, semakin banyak kesulitan yang aku hadapi? Kerabatku berhasil; mereka sukses. Tetapi keadaanku kelihatannya makin lama makin buruk.” Beberapa orang saleh mengalami masalah kesehatan, yang lain kecewa dengan anak-anak mereka. Alasan kita mengalami kesulitan adalah karena penghakiman Allah dimulai dari rumah-Nya sendiri. Anda dan saya berada di bawah penghakiman Allah.
Alasan kedua surat Petrus ditulis, terutama surat yang pertama, adalah karena kaum beriman Yahudi yang tersebar yang menderita penganiayaan. Mereka telah mengalami pengujian yang berat. Petrus membandingkan penganiayaan ini dengan pembakaran dapur api. Karena kaum beriman susah dan mungkin menjadi bimbang, Petrus menulis untuk mengajar mereka juga menghibur mereka. Dalam 1Petrus 5:10 dia mengatakan, “Dan Allah, sumber segala anugerah, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.” Di sini Petrus sepertinya memberi tahu kaum beriman bahwa mereka tidak perlu bimbang, karena Allah sedang menyempurnakan mereka. Sama seperti batu-batu dipotong dengan tujuan agar dapat disusun bersama dalam sebuah bangunan, kita juga perlu “dipotong” dengan tujuan agar dapat disempurnakan, dibangun, dikuatkan, dan dikokohkan. Petrus menulis untuk menghibur kaum beriman yang menderita, yang teraniaya, menunjukkan bahwa mereka semua berada di bawah pemerintahan Allah. Penerapan pemerintahan Allah pertama-tama terlaksana pada diri anak-anak-Nya sendiri.
Karena itu, pokok bahasan Surat 1Petrus adalah kehidupan kristiani di bawah pemerintahan Allah. Pokok bahasan Surat 2Petrus sedikit berbeda: persediaan ilahi dan pemerintahan ilahi. Dalam Surat Kirimannya yang kedua, Petrus menunjukkan bahwa Allah tidak hanya memerintah kita, mengatur kita, tetapi juga menyuplai kita dengan apa saja yang kita perlukan. Allah menyuplaikan segala hal kepada kita agar kita menempuh suatu kehidupan yang kudus, kehidupan kristiani, di bawah pemerintahan-Nya.