← Daftar isi 1 Petrus (1) · bab 19/23

KEHIDUPAN KRISTIANI DAN PENDERITAANNYA (1)

Pembacaan Alkitab: 1Ptr. 2:11-20

KEINGINAN ALLAH

Satu Petrus 2:1-10 mewahyukan sasaran Allah; menunjukkan kepada kita apa yang Allah inginkan. Allah ingin suatu rumah yang terbangun dan suatu imamat bagi ekspresi-Nya. Baik rumah dan imamat harus korporat. Ini ditunjukkan oleh empat kata benda kolektif yang digunakan dalam ayat 9 : ras, imamat, bangsa, dan umat. Pertama, Allah menginginkan sebuah rumah untuk dihuni. Seperti kita semua tahu, sebuah rumah tidak dapat dibangun dari satu potong bahan bangunan. Sebaliknya, sebuah rumah hanya dapat dibangun dari berbagai bahan bangunan yang berbeda yang dipasang bersama. Selain rumah yang menjadi tempat tinggal-Nya, Allah juga menginginkan suatu imamat yang melayani-Nya. Allah tidak menginginkan imam-imam individual; Dia menginginkan imamat, badan korporat imam, untuk melayani-Nya.

Rumah dan imamat, keduanya adalah kesatuan yang korporat, adalah untuk ekspresi Allah. Hal ini ditunjukkan dengan jelas dalam 2:9 : “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” Memberitakan kebajikan-kebajikan-Nya (perbuatan-perbuatan-Nya yang besar) berarti mengekspresikan Dia menurut apa adanya Dia. Allah kaya dalam kebajikan. Sebagai contoh, Dia pengasih dan baik. Kasih-Nya dan kebaikan-Nya adalah kebajikan. Sesungguhnya, semua atribut Allah adalah kebajikan-Nya, dan kita seharusnya memberitakan kebajikan-kebajikan ini. Ketika kita memberitakan Injil dan mengajarkan kebenaran mengenai Tuhan, kita seharusnya memberitakan kebajikan-kebajikan-Nya. Tetapi ini berbeda dengan praktek keba-nyakan orang Kristen hari ini; pemberitaan ini seharusnya adalah masalah korporat, bukan masalah individual.

Kita perlu berpaling dari pengajaran yang agamawi dan tradisional dan kembali kepada firman murni Alkitab. Kita bertumbuh melalui berbagian dalam susu firman yang murni sehingga kita dapat diubah. Kemudian kita akan dibangun menjadi rumah Allah bagi tempat tinggal Allah dan imamat bagi pelayanan-Nya. Selain itu, kita seharusnya menjadi ekspresi Allah dalam kebajikan-kebajikan-Nya. Ini adalah butir penting dalam bagian kedua dari Surat Kiriman ini (2:1-10).

Dalam 1Petrus 1 kita memiliki ekonomi Allah yang menghasilkan keselamatan sempurna-Nya, agar kita dapat memiliki hayat-Nya untuk memiliki kehidupan yang kudus dan memiliki kasih yang sejati terhadap saudara-saudara. Dalam 1:1-2 kita nampak bahwa kaum pengembara (pendatang) yang tercerai-berai berada di bawah pekerjaan Allah Tritunggal. Kemudian dalam 1:3-25 kita memiliki keselamatan sempurna Allah Tritunggal dan hasilnya. Dalam pasal 2 kita nampak perkara pertumbuhan dalam hayat dan hasilnya (2:1-10). Pertama kita bertumbuh melalui minum susu firman dan beroleh keselamatan sempurna (2:1-3). Kemudian kita ditransformasi kepada pembangunan suatu rumah rohani bagi tempat kediaman Allah, menjadi imamat yang kudus yang melayani Allah (2:4-8). Berikutnya dalam ayat 9-10, kita memiliki pemberitaan kebajikan dari Dia yang telah memanggil kita keluar dari kegelapan dan masuk ke dalam terang-Nya yang ajaib.

Petrus asalnya adalah seorang nelayan, tetapi dia cukup berhikmat. Setelah mempelajari kedua Surat Kiriman Petrus, saya sangat yakin bahwa nelayan ini memiliki pikiran orang terpelajar. Bagaimanapun, untuk mengapre-siasi keindahan pemikiran Petrus, kita perlu menggali dalam-dalam ke lubuk tulisan-tulisannya.

GARIS BESAR SURAT 1 PETRUS

Keindahan pemikiran Petrus terlihat dalam garis besar Surat Kiriman ini. Saya dapat bersaksi bahwa saya meluangkan banyak waktu untuk membuat garis besar Surat 1Petrus. Ini adalah suatu tekanan besar bagi saya, karena sangat sulit untuk menentukan di mana harus menarik garis di antara berbagai bagian dari kitab ini. Saya percaya akan sangat membantu bila kita memperhatikan garis besar Surat 1Petrus:

I. Pendahuluan — kepada kaum beriman pendatang di bawah pekerjaan Allah Tritunggal (1:1-2)

II. Keselamatan sempurna Allah Tritunggal dan hasilnya (1:3-25)

A. Kelahiran kembali oleh Bapa — supaya kita memiliki pengharapan yang hidup, yaitu warisan yang tersimpan di surga dan yang siap dinyatakan zaman akhir (1:3-9)

B. Penerapan Roh itu — melalui nubuat nabi-nabi dan pemberitaan rasul-rasul (1:10-12)

C. Penebusan Kristus—berdasarkan kelahiran kembali oleh benih yang tidak fana melalui firman Allah yang hidup, agar kita menempuh hidup kudus berdasarkan sifat kudus, dan memiliki kasih persaudaraan melalui penyucian kebenaran yang menguduskan (1:13-25)

III. Pertumbuhan hayat dan hasilnya (2:1-10)

A. Bertumbuh melalui minum susu firman dan beroleh keselamatan sempurna (2:1-3)

B. Ditransformasi dan dibangun menjadi rumah rohani bagi tempat kediaman Allah, menjadi imamat kudus yang melayani Allah (2:4-8)

C. Untuk memberitakan kebajikan yang memanggil (2:9-10)

IV. Kehidupan kristiani dan penderitaannya (2:11-4:19)

A. Kehidupan dalam cara yang unggul terhadap semua orang dalam segala aspek (2:11—3:13)

1. Sebagai pendatang di antara orang bukan Yahudi (2:11-12)

1 Terhadap lembaga manusia (2:13-17)

2 Hamba-hamba terhadap tuan-tuan (2:18-20)

3 Teladan Kristus (2:21-25)

4 Dalam kehidupan pernikahan (3:1-7)

5 Dalam kehidupan yang biasa (3:8-13)

B. Menderita untuk kebenaran oleh kehendak Allah seperti yang dilakukan Kristus (3:14-22)

C. Mempersenjatai diri dengan pikiran Kristus untuk menderita (4:1-6)

D. Sebagai pengurus rumah yang baik dari berbagai anugerah Allah (4:7-11)

E. Bersukacita karena berbagian dalam penderitaan Kristus (4:12-19)

V. Pengembalaan penatua dan upahnya (5:1-4)

A. Teladan penggembala (5:1-3)

B. Upah Gembala Agung (5:4)

VI. Tangan Allah yang kuat dan sasarannya (5:5-11)

A. Dengan merendah tunduk di bawah tangan Allah yang kuat (5:5-9)

B. Disempurnakan dan dikuatkan oleh Allah sumber segala anugerah (5:10-11)

VII. Penutup (5:12-14)

A. Kesaksian anugerah sejati Allah (5:12)

B. Salam (5:13-14)

Dalam pendahuluan dari Surat Kiriman ini (1:1-2), kita nampak bahwa pekerjaan ekonomi Allah adalah membawa kita masuk ke dalam kenikmatan yang penuh akan Allah Tritunggal. Betapa besarnya hal ini! Kemudian dalam bagian yang pertama (1:3-25) kita memiliki keselamatan sempurna Allah Tritunggal dan hasilnya. Keselamatan sempurna Allah termasuk kelahiran kembali Bapa, penebusan Putra, dan pengudusan Roh itu. Hasil dari keselamatan sempurna ini adalah kehidupan yang kudus dan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas.

Bagian kedua dari Surat Kiriman ini membahas pertumbuhan dalam hayat dan hasilnya (2:1-10). Untuk bertumbuh dalam hayat, kita perlu mendambakan susu firman yang murni. Bersandarkan susu ini kita bertumbuh. Hasil pertumbuhan dalam hayat adalah transformasi, pembangunan, dan ekspresi Allah. Melalui pertumbuhan dalam hayat kita ditransformasi dan dibangun, dan kemudian kita menjadi ekspresi Allah.

Bagian ketiga dari Surat Kiriman ini, yang berkenaan dengan kehidupan kristiani dan penderitaannya, adalah yang paling panjang (2:11-4:19). Petrus memerlukan lebih dari dua pasal untuk membahas masalah ini. Dalam bagian ini dia tidak berbicara mengenai kehidupan kristiani dan kenikmatannya; dia berbicara mengenai kehidupan kristiani dan penderitaannya. Dalam berita-berita yang akan datang kita akan melihat penderitaan yang dimaksud.

Setelah bagian yang panjang dari kehidupan kristiani dan penderitaannya, Petrus memiliki dua bagian yang pendek yang membahas penggembalaan penatua dan upahnya (5:1-4) dan tangan Allah yang kuat dan sasarannya (5:5-11). Terakhir, dalam 5:12-14, kita memiliki penutup.

LIMA BUTIR UTAMA

Jika kita melihat pemikiran Petrus menurut garis besar di atas, kita akan nampak bahwa dalam Surat Kiriman ini Petrus membahas lima butir utama: keselamatan sempurna, pertumbuhan dalam hayat, kehidupan kristiani, penggembalaan para penatua, dan tangan Allah yang kuat. Jika kita memasuki kedalaman dari kitab ini, kita akan nampak bahwa ini adalah hal-hal mendasar yang ingin Petrus sampaikan ketika dia menulis. Tidak hanya demikian, pada setiap hal itu ada suatu hasil, atau suatu penderitaan, pahala, atau suatu sasaran. Pada keselamatan sempurna Allah ada hasil rangkap dua, kehidupan yang kudus dan kasih persaudaraan. Pada pertumbuhan hayat ada transformasi, pembangunan, dan ekspresi Allah. Pada kehidupan kristiani ada penderitaan-penderitaan. Pada penggembalaan penatua ada pahala. Pada tangan Allah yang kuat ada sasaran. Pengertian sedemikian terhadap susunan Kitab 1Petrus ini begitu jelas dan logis.

Jika Anda memperhatikan sketsa pendek dari kitab ini yang disajikan dalam garis besar, Anda akan nampak bahwa Surat Kiriman ini membahas keselamatan sempurna Allah Tritunggal dan hasilnya, kehidupan kristiani dan penderitaan-penderitaannya, penggembalaan penatua dan pahalanya, tangan Allah yang kuat dan sasarannya. Allah akan memberikan pahala kepada semua penatua bagi penggembalaan mereka. Dalam kitab ini tangan Allah yang kuat ditekankan karena judul dari Surat Kiriman ini adalah kehidupan kristiani di bawah pemerintahan Allah. Tangan Allah yang kuat adalah untuk melaksanakan administrasi pemerintahan-Nya, dan administrasi ini memiliki satu sasaran.

Setelah bagian tangan Allah yang kuat dan sasarannya, kita memiliki penutup dalam 5:12-14. Kita melihat bahwa pendahuluan (1:1-2) membahas pekerjaan Allah Tritunggal dalam ekonomi-Nya untuk membawa umat pilihan-Nya berbagian dalam kekayaan-Nya. Kemudian dalam penutupnya kita memiliki kesaksian dari anugerah Allah yang benar (5:12). Apakah anugerah Allah? Anugerah Allah yang benar adalah keselamatan sempurna-Nya. Anugerah ini dialami oleh Petrus dan disaksikan oleh dia. Karena itu, baik melalui pengalamannya dan melalui tulisannya Petrus dapat mendeklarasikan apakah anugerah Allah yang benar ini dan bersaksi mengenai anugerah ini.

Garis besar Kitab 1Petrus akan membantu menjelaskan teksnya bagi kita. Jika kita membaca teksnya di luar butir-butir utama yang disajikan dalam garis besar ini, kita mungkin akan bingung. Perasaan kita mungkin bisa diumpamakan seperti seseorang yang mengemudi melalui jalan-jalan kecil dari suatu kota tanpa memiliki pengenalan yang menyeluruh tentang tata letak kota itu. Akan menolong sekali memiliki suatu pandangan menyeluruh mengenai kota itu dan jalan-jalan utamanya. Kita dapat mengatakan bahwa garis besar dari Kitab 1Petrus adalah pandangan menyeluruh dari kitab ini yang menolong kita untuk melihat butir utamanya. Karena itu, saya mendorong Anda untuk menggunakan garis besar ketika Anda membaca dan mempelajari teks Kitab 1Petrus. Anda akan menemukan hal ini adalah suatu bantuan besar.

PENDATANG DAN PERANTAU MENJAUHKAN DIRI

DARI HAWA NAFSU DAGING

Baiklah kita sekarang datang pada bagian ketiga dari Kitab 1Petrus dan mulai memperhatikan kehidupan kristiani dan penderitaannya. Dalam 2:11 Petrus berkata, “Saudara-saudaraku yang terkasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.” Hawa nafsu daging ada di dalam tubuh manusia yang telah jatuh (Rm. 7:18, 23-24), berperang melawan jiwa manusia. Jiwa manusia adalah bagian batin manusia, yang terdiri atas pikiran, tekad, dan emosi (Rm. 7:19-23).

Nasihat Petrus dalam 2:11 berdasar pada apa yang dia katakan dalam dua bagian sebelumnya. Secara khusus, nasihat ini adalah berdasar pada kelahiran kembali dan pada pertumbuhan hayat. Ketika Petrus berkata, “Aku menasihati kamu,” sesungguhnya dia berkata, “Aku minta kepadamu.”

Dalam ayat 11 Petrus menyebut kaum beriman sebagai pendatang dan perantau. Dia menasihati pendatang dan perantau itu agar menjauhkan diri dari hawa nafsu daging. Nasihat ini merupakan suatu hal yang sangat riil dan bukan hanya suatu doktrin. Di sini Petrus seolah-olah berkata, “Aku menasihati Anda semua agar menjauhkan diri dari hawa nafsu daging. Tahukah Anda siapa Anda sebenarnya? Anda bukan orang dunia. Anda adalah perantau dan pendatang, orang milik negara lain dan yang melancong melalui negara asing. Sesungguhnya, Anda di bumi ini adalah orang asing, karena Anda bukan warga negara di bumi. Anda adalah pendatang surgawi dan perantau rohani. Sebagai orang yang sedemikian ini, Anda seharusnya menempuh kehidupan yang berbeda dari orang dunia. Anda perlu menjauhkan diri dari cara hidup yang sia-sia. Cara hidup yang sia-sia adalah kehidupan yang berasal dari hawa nafsu daging. Karena itu, untuk menunjukkan kepada yang lain bahwa Anda adalah orang asing surgawi, Anda harus menjauhkan diri dari hawa nafsu daging.”

Dalam ayat 11 Petrus mengatakan bahwa hawa nafsu daging berjuang melawan jiwa. Tubuh yang jatuh itu karnal (milik daging) dan penuh dengan nafsu. Hawa nafsu daging ada di dalam tubuh manusia yang telah jatuh yang berperang melawan jiwa; jiwa manusia adalah bagian batin manusia, yang terdiri atas pikiran, tekad, dan emosi. Sering kita memikirkan hal-hal yang baik, mengasihi hal-hal yang baik, dan memutuskan untuk melakukan hal-hal yang baik. Pemikiran berada di dalam pikiran, mengasihi berada di dalam emosi, dan memutuskan berada di dalam tekad. Walaupun demikian, hawa nafsu daging sering berperang melawan apa yang kita pikirkan dalam pikiran kita, apa yang kita kasihi dalam emosi kita, dan apa yang kita putuskan dengan tekad kita. Hawa nafsu daging bertentangan dengan pikiran-pikiran, tujuan, dan keputusan kita yang baik. Karena itu, kita seharusnya menjauhkan diri dari hawa nafsu daging yang berjuang melawan jiwa.

CARA HIDUP YANG BAIK

DI ANTARA BANGSA-BANGSA

Dalam 2:12 Petrus melanjutkan perkataannya, “Miliki-lah cara hidup yang baik di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai pelaku kejahatan, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.” Cara hidup yang baik di sini tentulah cara hidup yang kudus (1:15), dan cara hidup yang baik dalam Kristus (3:16), hidup yang tidak hanya untuk Allah, bahkan dipenuhi dan dijenuhi dengan Allah. Cara hidup ini berlawanan dengan cara hidup sia-sia dari orang tidak beriman (1:18). Cara hidup kaum beriman seharusnya sangat baik, yaitu seharusnya indah dalam pekertinya. Kita perlu memiliki kehidupan yang sedemikian ini di antara bangsa-bangsa, di antara orang kafir.

HARI PELAWATAN

Menurut ayat 12, jika kita memiliki cara hidup yang baik di antara bangsa-bangsa, melalui meneliti pekerjaan kita yang baik, mereka akan memuliakan Allah pada hari pelawatan. Kata Yunani yang diterjemahkan “pelawatan” adalah episkopes. Makna dasar dari perkataan ini mengandung arti mengamati, memeriksa, menilik, meneliti. Hari pelawatan adalah hari Allah memeriksa umat-Nya yang mengembara, seperti gembala mengawasi dombanya yang mengembara, dan akan menjadi Gembala dan Penilik (LAI: pemelihara) jiwa mereka (2:25). Karena itu, hari pelawatan Allah adalah hari Allah memeriksa, memelihara.

Mengenai pengertian hari pelawatan yang disebutkan dalam ayat 12, ada bermacam-macam penafsiran. Satu penafsiran mengatakan bahwa hari pelawatan adalah hari penghakiman. Bagaimanapun, jika kita melihat ke dalam arti bahasa Yunaninya, kita akan menemukan bahwa kata itu tidak mengandung pemikiran mengenai penghakiman. Sebagaimana telah kita tunjukkan, arti yang mendasar ialah mengamati, memeriksa, menilik, meneliti. (Dalam Perjanjian Baru para penatua disebut penilik, yaitu orang yang menilik, mengawasi). Dalam bahasa aslinya, akar kata “pelawatan” sama dengan kata “penilik”. Pemikiran Petrus di sini adalah hari pelawatan adalah waktu Allah meneliti umat perantau seperti seorang gembala meneliti domba-dombanya. Kemudian Allah akan menjadi Gembala dan Penilik jiwa mereka. Berdasarkan pengertian dari kata pelawatan ini sebagai dasar kita, kita dapat melanjutkan berkata bahwa hari pelawatan adalah waktu Allah memeriksa, merawat. Secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa hari pelawatan Allah adalah hari Allah datang mengunjungi kita. Ketika Allah mengunjungi kita, itulah hari pelawatan.

MENGALAMI PELAWATAN ALLAH

Apakah Anda belum mengalami pelawatan Allah dalam sidang-sidang gereja atau dalam sidang ministri? Saya dapat bersaksi bahwa ketika saya meministrikan firman kepada kaum saleh, jauh di lubuk batin saya sering mempunyai perasaan bahwa Allah sedang melawat kita dalam perawatan penilikan-Nya. Dalam sidang demi sidang, Allah datang untuk mengunjungi kita. Banyak di antara kita bisa bersaksi bahwa kita telah mengalami Dia sebagai Pelawat ilahi pada akhir-akhir ini.

Apa yang Allah akan lakukan ketika Dia datang melawat kita? Apakah Dia datang untuk menghakimi kita? Tidak, Dia datang bukan untuk menghakimi kita, melainkan melawat kita dengan tujuan mengawasi kita dan meneliti bagaimana kita bertingkah laku dan apa yang kita lakukan. Seolah-olah Dia berkata kepada kita, “Apa yang terjadi pada kalian? Apa yang kalian lakukan? Apakah segala sesuatunya berjalan dengan baik?” Pelawatan Allah sama seperti yang dilakukan seorang gembala. Itu juga merupakan kunjungan seorang penilik. Inilah alasan Petrus membicarakan Tuhan sebagai Gembala dan Penilik jiwa kita (2:25). Juruselamat kita adalah Gembala dan Penilik. Dia menggembalakan kita dan menilik kita untuk mengadakan pemeliharaan yang baik terhadap kita. Ini adalah pengertian yang tepat atas kata “pelawatan” dalam ayat 12.

PARA PENENTANG MEMULIAKAN ALLAH PADA HARI PELAWATAN

Dalam ayat 12 Petrus berkata bahwa jika kita memiliki cara hidup yang baik di antara bangsa-bangsa, mereka akhirnya akan memuliakan Allah mengenai kita pada hari pelawatan. Dalam ayat ini Petrus seolah-olah berkata kepada kaum beriman, “Para penentang sekarang memfitnah kalian. Tetapi jika kalian menempuh suatu cara hidup yang baik di antara mereka, suatu kehidupan yang indah dalam kualitas dan baik dalam cara, mereka akan melihat perbuatan baik kalian dan memuliakan Allah pada hari pelawatan. Ketika mereka melihat kalian, mereka akan sadar bahwa kalian berada di bawah pelawatan Allah. Akhirnya, hasilnya akan merupakan kemuliaan bagi Allah, karena para penentang akan memuliakan Allah pada hari pelawatan.”

Saya dapat bersaksi bahwa dari tahun ke tahun saya telah berkali-kali melihat perkataan Petrus tergenapi. Karena mereka melihat pelawatan Allah atas kaum beriman, sejumlah penentang menyesali apa yang telah mereka kerjakan, lalu bertobat. Kaum beriman berada di bawah perawatan kasih Allah pada hari pelawatan-Nya. Meskipun kaum beriman ini telah difitnah, mereka tetap menempuh suatu kehidupan yang ajaib, unggul di bawah perawatan Allah yang penuh anugerah. Karena itu, Allah senantiasa melawat mereka. Cara hidup mereka yang unggul dan pelawatan Allah akhirnya menyebabkan para penentang bertobat dan memuliakan Allah.

Beberapa dari kaum muda dalam pemulihan Tuhan telah ditentang oleh orang tua mereka. Beberapa tahun yang lalu, ada seorang pemuda yang orang tuanya sangat menentang dia. Orang tuanya heran mengapa dia meluangkan waktu begitu banyak menghadiri sidang-sidang gereja dan ministri. Namun, secara bertahap mereka mulai melihat suatu perubahan, suatu transformasi, dalam cara hidup anaknya. Meskipun mereka tidak memiliki perkataan untuk melukiskannya, mereka bersaksi atas pekerjaan transformasi Tuhan atas diri anak mereka. Akhirnya, mereka menyadari bahwa dia adalah orang yang di bawah pemeliharaan Allah, seorang yang berada di bawah pelawatan Allah.

Beberapa saat yang lalu, sejumlah orang beriman bersaksi tentang pengaruh ini dalam sebuah sidang. Mereka mengatakan bahwa di waktu lampau mereka telah ditentang oleh orang tua mereka dan dalam beberapa kasus, bahkan dianiaya oleh mereka. Tetapi lambat laun, setelah sejangka waktu, sikap orang tua mereka mulai berubah. Ketika orang muda itu pulang ke rumah untuk mengunjungi keluarga mereka, orang tua mereka melanjutkan penentangan mereka, tetapi mereka juga dengan cermat mengamati anak-anak mereka. Sedikit demi sedikit, penentangan berkurang dan lebih banyak pengamatan. Akhirnya, sikap orang tua mereka berubah sama sekali dan beberapa di antaranya juga datang ke dalam hidup gereja. Mereka mengamati cara hidup yang baik atas diri anak-anak mereka, dan mereka memuliakan Allah pada hari pelawatan.

TUNDUK KEPADA SETIAP LEMBAGA MANUSIA

Dalam ayat 13-14 Petrus berkata, “Tunduklah, karena Tuhan, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada para penguasa yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik.” Apakah arti dari kata “lembaga”? Secara harfiah, dalam bahasa aslinya berarti benda ciptaan, seperti dalam Kolose 1:15; mengacu kepada segala sesuatu yang dibuat, seperti benda ciptaan, bangunan, peraturan, atau ketetapan. Versi King James dan versi American Standard menerjemahkan kata ini sebagai “peraturan”. Versi Darby dan versi New American Standard menerjemahkannya sebagai “lembaga”. Dalam ayat ini kata lembaga berarti peraturan, suatu ketetapan, suatu prinsip yang mapan.

Dalam ayat 13 “lembaga” berarti membuat peraturan atau undang-undang sama seperti penetapan hukum oleh parlemen. Menurut konteksnya, semua lembaga manusia mencakup raja sebagai penguasa tertinggi, juga mencakup para penguasa yang diutusnya. Di sini Petrus memberi tahu kaum beriman bahwa demi Tuhan, yaitu bagi ekspresi dan kemuliaan Tuhan (ayat 12), kita harus tunduk kepada semua lembaga manusia.

Dalam ayat 15 Petrus meneruskan perkataannya, “Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.” Orang yang bodoh dalam ayat 15 mengacu kepada orang-orang pemfitnah (ayat 12).

MENGGUNAKAN KEBEBASAN KITA

SEBAGAI BUDAK ALLAH

Dalam ayat 16 Petrus berkata, “Hiduplah sebagai orang merdeka (bebas) dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan (kebebasan) itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” Kita tidak seharusnya menggunakan kebebasan sebagai alasan untuk melakukan kejahatan. Kita tidak seharusnya berkata, “Bukankah kita bebas? Kita tidak berada di bawah ikatan hukum Taurat; kita berada di bawah anugerah. Ini berarti kita bebas.” Ya, kita bebas, tetapi kita seharusnya tidak menggunakan kebebasan kita sebagai suatu alasan untuk berlaku dengan cara yang ceroboh. Sebaliknya, kita harus menggunakan kebebasan sebagai budak Allah. Perkataan Petrus di sini sama dengan perkataan Paulus dalam Surat-surat Kirimannya. Meskipun kita bebas dari hukum Musa, kita masih berada di bawah hukum Kristus. Sebagai orang-orang yang berada di bawah hukum Kristus, kita seharusnya menjadi budak Allah. Di satu pihak, kita bebas; di pihak lain, kita adalah budak Allah di bawah pengendalian-Nya.

MENGASIHI DENGAN KASIH PERSAUDARAAN

Ayat 17 mengatakan, “Hormatilah semua orang. Kasihilah saudara-saudara (Tl.). Takutlah kepada Allah, hormatilah raja!” Mengapa Petrus mengatakan “kasihilah saudara-saudara”? Apakah arti “saudara-saudara” di sini? Saudara-saudara berarti kelompok atau kumpulan saudara, keluarga saudara-saudara, saudara-saudara dalam perasaan kasih persaudaraan. Suatu kumpulan adalah suatu totalitas. Dengan menggunakan kata “saudara-saudara” ini Petrus menunjukkan bahwa kita tidak seharusnya hanya mengasihi saudara secara terpisah, satu demi satu, atau secara perorangan. Sebaliknya, kita harus mengasihi seluruh saudara. Ini berarti kita harus mengasihi keluarga universal yang tersusun dari saudara-saudara.

Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita tidak hanya merupakan suatu masyarakat, tetapi juga sebuah keluarga. Sebuah keluarga jauh lebih akrab daripada sebuah masyarakat. Karena kita berada dalam sebuah keluarga, kita menyebut yang lain sebagai saudara. Jika kita bukan dari keluarga yang sama, bagaimana kita dapat menjadi saudara satu sama lain? Apa pun warna kulit kita — hitam, putih, kuning, coklat, atau merah — kita semua adalah saudara-saudara dalam keluarga Allah. Haleluya bagi keluarga yang tersebar di seluruh dunia, keluarga yang universal ini! Keluarga ini sudah ada selama hampir dua ribu tahun. Kata saudara-saudara dalam ayat 17 mengacu kepada keluarga ini.

Kita seharusnya mengasihi para saudara dalam keluarga Allah dengan perasaan saudara-saudara. Inilah mengasihi saudara-saudara. Namun, sangat sedikit orang Kristen yang memiliki perasaan bahwa mengasihi saudara adalah mengasihi saudara-saudara. Ini menunjukkan bahwa orang Kristen hari ini tidak memiliki perasaan korporat. Namun, gereja secara keseluruhan adalah perkara korporat. Dalam ayat 9 kita nampak gereja adalah suatu ras, suatu imamat, suatu bangsa, dan umat kepunyaan Allah. Sekarang dalam ayat 17 kita nampak gereja adalah saudara-saudara. Imamat adalah untuk pelayanan terhadap Allah, dan saudara-saudara adalah untuk kasih terhadap saudara. Kita perlu mengasihi saudara secara keseluruhan; ini berarti kita perlu mengasihi saudara dalam perasaan korporat.

Misalkan ada dua belas orang datang dari dua belas keluarga yang berbeda. Meskipun mereka bisa mengasihi satu sama lain, itu bukanlah kasih dalam kategori “saudara-saudara”. Tetapi jika dua belas orang berada dalam keluarga yang sama, dilahirkan oleh orang tua yang sama, kasih mereka satu sama lain akan merupakan kasih saudara-saudara. Mereka akan mengasihi satu sama lain, dan kasih terhadap masing-masing anggota keluarga adalah kasih saudara-saudara. Kasih mereka tidak sama dengan kasih yang berasal dari keluarga yang berbeda, yang mengasihi orang lain tetapi tidak dengan kasih saudara-saudara. Dalam kasus semacam itu, mereka mungkin mengasihi orang tertentu melebihi yang lain. Tetapi mereka yang dilahirkan dari orang tua yang sama mengasihi setiap orang dalam keluarga itu dan memperhatikan setiap orang. Inilah suatu ilustrasi dari mengasihi saudara-saudara, mengasihi seluruh saudara. Dalam gereja kita tidak hanya mengasihi saudara secara perorangan; kita mengasihi seluruh saudara, mengasihi saudara-saudara.

PERKATAAN UNTUK PELAYAN RUMAH TANGGA

Dalam ayat 18 Petrus meneruskan perkataannya, “Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.” Meskipun tuan-tuan tertentu bengis, kaum beriman yang adalah pelayan-pelayan rumah tangga seharusnya tunduk kepada mereka. Ini juga adalah aspek dari kehidupan kristiani.

Dalam ayat 18 Petrus mendorong pelayan rumah tangga untuk tunduk kepada tuan mereka dengan penuh ketakutan. Ini adalah rasa takut yang kudus, sebagaimana disebutkan dalam Filipi 2:12. Ini adalah peringatan yang sehat dan serius bagi kita untuk berperilaku dengan kudus. Rasa takut yang sedemikian ini disebutkan beberapa kali dalam kitab ini karena pengajarannya menyinggung pemerintahan Allah.

ANUGERAH SEBAGAI DORONGAN

DAN EKSPRESI HAYAT ILAHI

Dalam ayat 19-20 Petrus mengatakan, “Sebab adalah anugerah jika seseorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah anugerah di hadapan Allah.” Di sini Petrus mengatakan bahwa jika karena sadar akan kehendak Allah, kita bersedia menanggung kesengsaraan dan menderita dengan tidak adil, yaitu menderita perlakuan yang tidak adil, ini adalah anugerah. Kata Yunani yang diterjemahkan “anugerah” dalam ayat 19 adalah charis, di sini mengacu kepada dorongan hayat ilahi dalam kita dan ekspresi dalam hidup kita, agar semua perilaku kita indah dan berkenan di pandangan manusia dan Allah (ayat 20). Kata Yunani yang sama dipakai dalam Lukas 6:33-34 dan Roma 7:25 untuk syukur.

Sebagaimana telah kita tunjukkan beberapa kali, anugerah sesungguhnya adalah Allah Tritunggal menjadi hayat kita bagi pengalaman dan kenikmatan kita. Berdasarkan pemahaman ini akan anugerah sebagai dasar kita, kita dapat mengatakan bahwa anugerah adalah dorongan hayat ilahi dalam kita dan ekspresinya dalam kehidupan kita. Karena itu, semua perilaku kita menjadi indah dan berkenan di pandangan manusia dan Allah.

Perkataan “karena sadar akan kehendak Allah” juga berarti kesadaran akan Allah. Ini adalah kesadaran akan hubungan seseorang dengan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang hidup dalam persekutuan yang akrab dengan Allah, memiliki dan memelihara hati nurani yang bersih dan baik terhadap Allah (3:16; 1Tim. 1:5, 19; 3:9; 2Tim. 1:3).

Menurut konteksnya, penderitaan yang tidak adil yang dibicarakan dalam ayat 19 seharusnya berupa perlakuan tidak wajar yang dilakukan oleh tuan yang tidak beriman. Tuan-tuan ini menentang dan menganiaya hamba-hamba mereka yang beriman karena kesaksian kristiani mereka (1Ptr. 3:14-18; 4:12-16).

Ayat-ayat ini berbicara tentang perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai orang Kristen. Kehidupan kristiani adalah perkara perilaku. Andaikata kita tidak memiliki hayat ilahi di dalam kita, ini tentunya akan membuat kehidupan keluarga sangat sulit, terutama dalam hubungan dengan ipar kita, dan lebih-lebih terhadap ibu mertua kita. Jarang ada orang yang menginginkan ibu mertuanya hidup bersamanya dan keluarganya. Sama halnya, wanita yang sudah menikah tidak suka hidup dengan ibu mertuanya. Bagi suami dan istri, ibu mertua dapat menciptakan situasi yang sulit. Karena alasan ini, secara insani, lebih baik pasangan yang telah menikah tidak hidup bersama ibu mertua mereka.

Yang penting di sini adalah jika kita tidak memiliki hayat ilahi, kita akan menghadapi masalah dalam kehidupan pernikahan kita, tidak peduli betapa kita saling mengasihi satu sama lain. Kita sedikitnya memiliki lima masalah utama: temperamen, watak, kebiasaan, latar belakang, dan cara kita untuk memahami sesuatu. Tidak peduli betapa banyaknya kesamaan suami dengan istri, tetap akan ada perbedaan di antara mereka mengenai temperamen, watak, kebiasaan, latar belakang, dan pemahaman. Suami akan memiliki caranya sendiri dalam memandang sesuatu, dan istri juga memiliki caranya sendiri. Sama halnya, istri akan memiliki kebiasaan dan wataknya, dan suami akan memiliki caranya. Karena itu, mereka akan memiliki kesulitan dengan lima faktor yang menyulitkan, yaitu temperamen, watak, kebiasaan, latar belakang, dan cara memahami. Ini akan menjadi situasi kita, walaupun suami dan istri sangat mengasihi satu sama lain dan merupakan orang-orang yang baik dan terpelajar. Sedikitnya adakalanya mereka akan menemukan situasi yang tidak dapat ditoleransi dan akan bertengkar satu sama lain. Jika mertuanya mengunjungi mereka pada waktu yang sedemikian, dia akan menemukan situasinya sama sekali tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima. Dia bahkan tidak ingin melihat situasi yang tidak indah itu.

Tetapi andaikata suami dan istri sama-sama memiliki hayat ilahi dan hidup menurut hayat ini; meskipun berbeda dalam temperamen, watak, kebiasaan, latar belakang, dan pemahaman, tetapi ada anugerah secara batini mendorong si suami dan si istri. Selain itu, anugerah ini diekspresikan dalam kehidupan mereka. Jika mertua dari si suami mau-pun si istri mengamati cara hidup mereka, mereka akan menemukannya beranugerah, menyenangkan, dan dapat diperkenan. Inilah anugerah.

Di sini Petrus seolah-olah berkata, “Kalian saudara-saudara Yahudi menderita penganiayaan. Beberapa di antara kalian memiliki tuan yang kejam yang memperlakukan kalian dengan tidak adil. Walaupun demikian, kalian bersedia menderita perlakuan yang tidak adil itu. Dalam pandangan Allah maupun manusia, hal itu adalah penuh anugerah, menyenangkan, dan dapat diperkenan.” Inilah yang Petrus maksudkan ketika dia berkata, “Itu adalah anugerah.” Siapa pun yang mengamati kaum beriman yang hidup dalam situasi penderitaan dan penganiayaan akan mengakui bahwa itu adalah anugerah. Hal itu juga adalah sesuatu yang patut kita syukuri dari Allah. Jika seorang ibu mertua melihat anak perempuannya dan menantu laki-lakinya menempuh hidup yang sedemikian, dia mungkin berkata, “Terima kasih, Tuhan Yesus, atas anugerah-Mu.”

Sebagaimana telah kita lihat, dalam ayat 20 Petrus berkata, “Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah anugerah di hadapan Allah.” Bukanlah suatu pujian bagi kita jika kita menderita pukulan karena kita berbuat dosa. Tetapi jika kita melakukan yang baik dan karena itu harus menderita dan bersabar, ini adalah anugerah di hadapan Allah. Situasi yang sedemikian ini menun-jukkan bahwa kehidupan kita mengekspresikan pekerjaan anugerah Allah di dalam kita dan melalui kita. Karena itu, mengenai perilaku ini, Petrus mengatakan, “Ini adalah anugerah di hadapan Allah.”

KENIKMATAN DAN PERAWATAN

Jika kita tidak mengenal bahwa hayat ilahi di dalam kita menjadi anugerah, menggarapkan apa adanya Allah, dan jika kita tidak memiliki pengalaman atas anugerah ini, kita tidak akan mampu mengerti apa yang Petrus maksudkan dalam ayat-ayat ini, sekalipun kita membacanya berkali-kali. Untuk mengerti tulisan Petrus di sini, kita perlu memiliki pengenalan yang cukup dan pemahaman yang tepat terhadap fakta-fakta ilahi. Selain itu, kita perlu memiliki pengalaman yang memadai terhadap fakta-fakta ini. Hanya dengan demikian kita akan mampu mengerti apa yang Petrus katakan, dan memperoleh rawatan dari-nya.