← Daftar isi 1 Petrus (1) · bab 18/23

PERTUMBUHAN DALAM HAYAT DAN HASILNYA (4)

Pembacaan Alkitab: 1Ptr. 2:5, 9-10

BERTUMBUH DAN BEROLEH KESELAMATAN

BAGI PEMBANGUNAN

Dalam berita ini kita akan membahas 2:5, 9-10. Ayat 5 mengatakan, “Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.” Dalam membaca ayat ini kita perlu memperhatikan tata bahasa. Ayat 4 adalah keterangan dari subyek kalimat dalam ayat 5. Bagian utama dari kalimat dalam ayat 5 adalah: “Kamu . . . untuk pembangunan suatu rumah rohani.” Karena itu, pemikiran utama di sini ialah pembangunan. Pemikiran ini melanjutkan pemikiran dalam ayat 2 tentang bertumbuh dan beroleh keselamatan. Ini berarti setelah keselamatan ada pembangunan. Bertumbuh dan beroleh keselamatan adalah bagi pembangunan. Ini menunjukkan bahwa di sini keselamatan mencakup tidak hanya transformasi (pengubahan), tetapi juga mencakup pembangunan. Sebagai suatu keseluruhan, keselamatan dalam 1Petrus 2 menunjukkan transformasi bagi pembangunan.

Keselamatan pada akhir ayat 2 berkaitan dengan transformasi bagi pembangunan. Perhatikanlah bahwa akhir ayat 2 adalah koma, bukan titik. Dalam ayat 3 kita memiliki syarat yang berkaitan dengan minum susu firman: “Jika kamu benar-benar telah mengalami bahwa Tuhan itu baik.” Ayat 3 ditutup dengan titik koma, dan ayat 4 berakhir dengan koma (Tl.). Karena itu, tanda baca menunjukkan bahwa klausa utama dalam bagian yang kedua dari kalimat itu ada dalam ayat 5. Sesungguhnya, ayat 5 adalah lanjutan langsung dari ayat 2. Ayat 2 berakhir dengan pemikiran bertumbuh dan beroleh keselamatan, yang menyiratkan bahwa keselamatan mencakup transformasi. Kemudian ayat 5 berlanjut dengan menunjukkan bahwa transformasi ini adalah bagi pembangunan. Karena alasan ini kita dapat mengatakan bahwa keselamatan dalam ayat 2 adalah masalah transformasi bagi pembangunan.

Saya percaya bahwa kita telah menjamah pemikiran dalam pikiran dan hati Petrus ketika dia menulis. Dalam ayat-ayat ini Petrus seolah-olah berkata, “Kalian kaum beriman telah dilahirkan kembali, sekarang kalian adalah bayi-bayi yang baru lahir. Sebagai bayi-bayi yang baru lahir, kalian seharusnya lapar dan haus akan susu dalam firman sehingga dapat bertumbuh dan beroleh keselamatan. Keselamatan ini adalah transformasi bagi pembangunan.” Ini pastilah pemikiran Petrus ketika dia sedang menulis Surat Kiriman ini.

Ketika kita menulis sebuah surat atau artikel, pertama-tama kita memiliki pemikiran tertentu dalam benak kita. Kemudian secara berangsur kita menulis menurut pemikiran tersebut. Inilah keadaan Petrus ketika dia menulis Surat Kiriman ini. Dia memiliki pemikiran bahwa kaum beriman telah dilahirkan kembali menjadi bayi-bayi yang baru lahir. Sekarang mereka seharusnya mendambakan susu dalam firman. Melalui susu yang murni dalam firman, mereka dapat bertumbuh dan beroleh keselamatan, yaitu ditransformasi bagi pembangunan. Dengan pemikiran ini di dalam dirinya, Petrus menulis Surat Kiriman ini.

Di satu pihak, tulisan Petrus mungkin tidak terlalu baik. Tetapi, di pihak lain, secara rohani, tulisan Petrus luar biasa. Jika Petrus tidak menulis seperti ini, maka tidak semua butir yang dibahas dapat tercakup. Bagaimanapun, karena adakalanya sulit untuk memahami Petrus, maka kita perlu bantuan untuk memahami berbagai butir yang dia bahas dalam penulisannya. Ini adalah alasan kita memiliki Pelajaran-Hayat.

Saya dapat bersaksi bahwa lebih dari lima puluh tahun saya terus menggali kedalaman firman Allah. Pada tahun 1956 Tuhan mulai menunjukkan pembangunan-Nya kepada saya. Satu Petrus 2 adalah bagian yang sangat penting dalam Perjanjian Baru yang berkaitan dengan pembangunan Allah. Ketika saya berada di Manila pada tahun 1956, saya mulai nampak dari 1Petrus 2 bahwa keselamatan mencakup transformasi dan bahwa transformasi ini adalah bagi pembangunan.

Sedikit sekali orang Kristen yang memiliki pemahaman yang tepat akan pembangunan. Tidak hanya demikian, banyak yang belum melihat masalah transformasi. Sebelum Anda datang ke dalam pemulihan Tuhan, pernahkah Anda mendengar sebuah berita tentang transformasi? Tetapi dalam pemulihan banyak berita yang menyinggung transformasi telah disampaikan. Pada bulan Desember 1962, saya mengadakan suatu konferensi mengenai Kristus yang almuhit. Kemudian pada tahun 1963 saya mulai berbicara di negeri ini tentang transformasi. Pada tahun itu saya memberikan sedikitnya dua puluh berita mengenai transformasi. Walaupun terang tentang transformasi dan pembangunan telah diberikan kepada saya bertahun-tahun yang lalu, terang ini tidak pernah meninggalkan saya. Sebaliknya, hal ini selalu menyertai saya. Saya memerlukan waktu bertahun-tahun untuk melihat hal ini. Karena itu, saya dapat berkata bahwa tanpa pertolongan yang digambarkan melalui berita-berita ini, Anda akan sulit memahami apa yang Petrus katakan tentang keselamatan, transformasi, dan pembangunan.

Puji Tuhan bahwa kelahiran kembali telah membuat kita menjadi bayi-bayi yang baru lahir! Sebagai bayi-bayi yang dilahirkan kembali, kita semua seharusnya damba akan air susu yang murni dari firman. Kemudian dengan susu ini kita seharusnya bertumbuh dan beroleh keselamatan. Keselamatan ini adalah transformasi, dan transformasi adalah pembangunan. Mendapatkan rawatan dari Kristus bersandarkan minum susu yang penuh gizi dalam firman Allah bukan hanya untuk bertumbuh dalam hayat, tetapi juga un-tuk pembangunan. Bertumbuh adalah untuk pembangunan.

DITRANSFORMASI MENJADI BATU-BATU HIDUP

Dalam ayat 5 Petrus menunjukkan bahwa kaum beriman adalah batu-batu hidup. Melalui kelahiran kembali dan transformasi, kita, kaum beriman dalam Kristus menjadilah batu-batu hidup, sama seperti Kristus. Kita diciptakan dari tanah liat (Rm. 9:21). Tetapi pada saat dilahirkan kembali, kita menerima benih hayat ilahi, yang mentransformasi kita menjadi batu hidup melalui pertumbuhan hayat ini di dalam kita. Pada saat Petrus bertobat, Tuhan memberinya nama baru, Petrus — batu (Yoh. 1:42); dan ketika Petrus menerima wahyu tentang Kristus, Tuhan mewahyukan lebih lanjut bahwa Tuhan adalah batu karang (Mat. 16:16-18). Melalui dua peristiwa tersebut, Petrus menerima kesan yang dalam bahwa Kristus dan kaum beriman-Nya adalah batu-batu untuk pembangunan Allah.

Melalui kelahiran alamiah kita, kita adalah tanah, bukan batu-batu. Sadarkah Anda bahwa Anda terbuat dari tanah? Kejadian 2:7 mengatakan bahwa manusia dibuat dari debu tanah. Roma 9 mewahyukan bahwa kita adalah bejana tanah liat. Lalu, bagaimana kita bisa menjadi batu-batu? Kita menjadi batu-batu melalui proses transformasi.

Kali pertama Petrus bertemu dengan Tuhan Yesus, Tuhan mengubah namanya dari Simon menjadi Petrus. Ketika menyinggung Tuhan Yesus dan Petrus, Yohanes 1:42 mengatakan, “Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata, ‘Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).’” Menurut prinsip Alkitab, apa yang Tuhan katakan akan terjadi. Karena itu, ketika Tuhan memanggil Petrus, batu, itu berarti Petrus pasti akan menjadi batu. Apa pun yang Tuhan katakan kepada kita akan tergenap. Jika Dia mengatakan, “Anda emas,” Anda akan menjadi emas. Tuhan tahu bahwa ketika Dia mengubah nama Simon menjadi Petrus, sebuah batu, dia akan menjadi sebuah batu.

Dalam Yohanes 1:42 Petrus diberi tahu bahwa ia adalah batu. Sejangka waktu kemudian, di Kaisarea Filipi, ketika menjawab pertanyaan Tuhan, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Petrus yang menerima wahyu dari Bapa berkata, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Yesus menanggapi perkataan Petrus, “Dan Aku pun berkata kepadamu. Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku . . .” (Mat. 16:18). Di sini Tuhan menunjukkan bahwa diri-Nya adalah batu yang di atasnya gereja didirikan dan bahwa Petrus adalah batu.”

Tidak diragukan, kedua peristiwa itu, yang tercatat dalam Yohanes 1 dan yang lainnya tercatat dalam Matius 16, memberi kesan yang dalam pada diri Petrus. Dia tidak akan pernah lupa akan peristiwa-peristiwa itu. Tentu dari pengalaman-pengalaman inilah Petrus memiliki konsepsi batu-batu hidup bagi pembangunan rumah rohani, yang adalah gereja. Ketika Petrus menulis bagian dari Kitab 1Petrus ini, dia menulisnya menurut kesan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada dirinya.

Satu Petrus 2:5 mengatakan bahwa kita, sebagai batu-batu hidup, sedang dibangun menjadi suatu rumah rohani. Bagaimanapun, kita semua adalah tanah liat. Bagaimana kita dapat dibangunkan? Untuk dibangun menjadi sebuah rumah rohani, kita perlu menjadi batu-batu. Tetapi bagaimana kita dapat menjadi batu-batu yang hidup yang sesungguhnya? Kita menjadi batu-batu hidup melalui datang kepada Kristus sebagai batu yang hidup (ayat 4).

Kita bisa menggunakan ilustrasi kayu yang membatu sebagai ilustrasi tentang transformasi. Di Arizona ada suatu tempat yang dikenal dengan hutan yang membatu, suatu daerah yang berisi banyak kayu yang membatu.

Kayu yang membatu adalah kayu yang telah ditransformasi menjadi batu. Selama sejangka waktu, air telah mengaliri kayu dan meresapi kayu. Melalui aliran air ini, substansi kayu ini telah ditransformasi menjadi batu. Di satu pihak, unsur kayu disingkirkan; di pihak lain, unsur batu dimasukkan untuk menggantikan unsur kayu. Dengan jalan ini kayu menjadi batu.

Prinsip ini sama dengan pengalaman kita akan transformasi. Jika kita mendambakan susu firman, susu ini akan menjadi seperti arus air hidup yang mengalir di dalam kita. Ketika kita tinggal di dalam aliran ini, aliran ini akan menyingkirkan semua substansi alamiah kita dan menggantikannya dengan mineral-mineral yang surgawi dan ilahi. Mineral-mineral ini sesungguhnya adalah Kristus. Berangsur-angsur, setelah sejangka waktu, kita akan ditransformasi atau “dibatukan”; maksudnya, kita akan menjadi batu yang berharga.

Jika kita ingin ditransformasi, setiap hari kita perlu datang kepada Tuhan sebagai susu. Kita telah menunjukkan bahwa jalan untuk datang kepada Kristus sebagai batu yang hidup adalah minum susu yang murni dari firman. Ini berarti kita datang kepada Kristus melalui meminum Dia. Jika kita setiap hari minum susu firman, kita akan ditransformasi.

Transformasi tidak dapat terjadi dalam semalaman. Kayu di Arizona memerlukan waktu yang sangat panjang untuk diubah menjadi kayu yang membatu. Jika kayu yang membatu dapat berbicara, kayu itu akan berkata, “Perlu waktu yang panjang berada di dalam arus air untuk ditransformasi dari kayu menjadi kayu yang membatu.” Sebagai orang yang berada di dalam Tuhan selama lebih dari lima puluh tahun, saya dapat bersaksi bahwa transformasi memerlukan waktu. Saya jamin bahwa Anda tidak dapat ditransformasi hanya dalam beberapa bulan atau dalam beberapa tahun.

Ketika beberapa orang mendengar perkataan mengenai betapa panjangnya waktu yang diperlukan untuk transformasi, mereka mungkin berkata, “Aku tidak dapat menunggu terlalu lama. Aku menyerah.” Sesungguhnya, ini bukan tergantung pada Anda, karena nasib Anda adalah ditransformasi. Kayu yang berada dalam proses pembatuan tidak dapat menghentikan proses itu. Nasib kayu itu adalah ditransformasi menjadi kayu yang membatu. Kita perlu ingat bahwa menurut 1Petrus 1, kita dipilih menurut pengenalan dini Allah sebelum dunia dijadikan. Allah telah memilih kita. Juga, dalam pengalaman kita, kita telah “ditangkap” oleh Dia, dan kita tidak dapat melarikan diri, tidak peduli bagaimana kerasnya kita berusaha. Karena itu, daripada mencoba melarikan diri, kita seharusnya dengan sederhana beristirahat di dalam aliran air hidup dan membiarkan air ini melewati kita sehingga kita dapat ditransformasi.

Jika orang lain bertanya kepada kita apa yang terjadi dalam pemulihan Tuhan, kita seharusnya mengatakan, “Kami hanya membiarkan air hayat mengalir melalui kami. Sehari-hari kami minum susu firman sehingga kami dapat ditransformasi.” Mari kita biarkan proses pembatuan, transformasi, terjadi selama empat puluh atau lima puluh tahun dan kemudian melihat apa hasilnya. Hanya melalui proses transformasi inilah tanah liat bisa menjadi batu-batu hidup.

Menurut 2:5, sebagai batu-batu hidup kita dibangun bersama menjadi rumah rohani. Meskipun susu firman yang penuh gizi adalah untuk merawat jiwa melalui pikiran, namun akhirnya merawat roh kita, agar kita tidak bersifat jiwani, melainkan rohani, cocok untuk dibangun sebagai rumah rohani Allah.

Sasaran Allah atas kaum beriman adalah memiliki rumah yang terbangun dengan batu hidup. Batu-batu itu bukannya tersebar dan terserak, juga bukan batu-batu yang hanya dikumpulkan dan ditumpuk, melainkan batu-batu yang dibangun satu dengan yang lainnya.

Rumah rohani yang ke dalamnya kita terbangun adalah bangunan Allah. Akhirnya, bangunan ini akan rampung di dalam Yerusalem Baru. Di Yerusalem Baru tidak akan ada lagi tanah liat, karena semua tanah liat telah ditransformasi menjadi batu permata. Ini berarti Yerusalem Baru dibangun dengan batu-batu permata. Kita sedang menjadi batu-batu permata yang terbangun menjadi Yerusalem Baru. Haleluya, pekerjaan pembangunan sekarang sedang berlangsung! Bagai-mana pekerjaan ini berlangsung? Hal ini dilaksanakan melalui proses pembatuan, transformasi. Hal ini terjadi ketika kita setiap hari, setiap jam, datang kepada Kristus sebagai susu dan meminum Dia. Kemudian kita akan memiliki aliran, arus, yang mentransformasi kita dari tanah liat menjadi batu bagi pembangunan Allah.

IMAMAT YANG KUDUS

Dalam ayat 5 Petrus berbicara mengenai rumah rohani dan imamat yang kudus. “Rohani” menyatakan kemampuan hayat ilahi untuk hidup dan bertumbuh; “kudus,” menyatakan kemampuan sifat ilahi untuk memisahkan diri dan menguduskan. Kelangsungan rumah Allah terutama karena hayat ilahi, sebab itu sifatnya rohani. Kelangsungan imamat terutama karena sifat ilahi, sebab itu, sifatnya kudus.

Imamat kudus adalah rumah rohani. Dalam Perjanjian Baru, ada tiga kata Yunani yang dipakai dalam kaitannya dengan imam: hierosune, mengacu kepada jabatan imamat, seperti dalam Ibr. 7:12; hierateia, mengacu kepada pelayanan imamat, seperti dalam Ibr. 7:5; dan hierateuma, mengacu kepada jemaat imam, kumpulan imam, imamat, seperti dalam ayat ini dan ayat 9. Kumpulan imam yang berkoordinasi adalah rumah rohani yang terbangun. Meskipun Petrus tidak menujukan kedua suratnya kepada gereja, atau memakai istilah gereja sewaktu menekankan kehidupan korporat dari kaum beriman dalam ayat ini, tetapi dia memakai istilah rumah rohani dan imamat kudus untuk menunjukkan kehidupan gereja. Bukan kehidupan rohani individual, melainkan kehidupan rohani korporat yang dapat merampungkan kehendak Allah dan memuaskan hasrat-Nya. Allah mendambakan suatu rumah rohani sebagai tempat kediaman-Nya, suatu kumpulan imam, suatu imamat untuk melayani-Nya. Pandangan Petrus mengenai pelayanan korporat kaum beriman dalam koordinasi, sama dengan pandangan Paulus dalam Roma 12. Pelayanan ini berasal dari tiga langkah vital dalam kehidupan rohani; dilahirkan kembali (1Ptr. 1:2), bertumbuh dalam bersandarkan rawatan Kristus, dan terbangun bersama kaum beriman.

KURBAN PERSEMBAHAN ROHANI

Rumah rohani dan imamat yang kudus adalah sinonim. Rumah rohani adalah bagi tempat kediaman Allah, dan imamat yang kudus adalah bagi pelayanan Allah. Menurut 2:5, pembangunan rumah rohani menjadi imamat yang kudus adalah bagi suatu fungsi yang khusus. Fungsi ini adalah “untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.” Di sini kita nampak bahwa Yesus Kristus adalah saluran yang melaluinya kurban rohani dipersembahkan kepada Allah. Kristus menyalurkan persembahan-persembahan kita kepada Allah, dan persembahan-persembahan ini adalah kurban-kurban yang dipersembahkan kepada Dia. Selain itu, apa yang dipersembahkan kepada Allah haruslah sesuatu yang berasal dari Kristus.

Persembahan rohani yang dipersembahkan oleh kaum beriman dalam zaman Perjanjian Baru menurut ekonomi Allah adalah: (1) Kristus sebagai realitas segala kurban persembahan dalam Perjanjian Lama, seperti kurban bakaran, kurban sajian, kurban pendamaian (keselamatan), kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah (Im. 1-5); (2) Orang dosa yang beroleh selamat karena pemberitaan Injil kita, dipersembahkan sebagai anggota-anggota Kristus (Rm. 15:16); dan (3) tubuh kita, pujian kita, dan hal-hal yang kita lakukan bagi Allah (Rm. 12:1; Ibr. 13:15-16; Flp. 4:18).

RAS TERPILIH, IMAMAT YANG RAJANI,

BANGSA YANG KUDUS, UMAT KEPUNYAAN

ALLAH SENDIRI

Dalam 2:9 Petrus melanjutkan, “Tetapi kamulah bangsa (ras) yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat (kepunyaan) Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” Ras, imamat, bangsa, dan umat adalah kata benda kolektif, mengacu kepada kaum beriman secara korporat. Sebagai ras, kita, kaum beriman adalah yang terpilih; sebagai imamat, kumpulan imam, kita bersifat rajani, ningrat; sebagai bangsa, kita bersifat kudus; sebagai umat, kita adalah kepunyaan Allah, kepunyaan yang didapatkan secara istimewa dan dimiliki oleh Allah sebagai harta-Nya (Tit. 2:14). Ras pilihan menyatakan bahwa kita berasal dari Allah; imamat yang rajani menyatakan bahwa kita melayani Allah; bangsa yang kudus menyatakan kita menjadi satu masyarakat bagi Allah; dan umat Allah menyatakan kemustikaan kita bagi Allah. Semuanya dalam arti korporat. Karena itu, kita perlu dibangun bersama.

Kata “ras yang terpilih” menunjukkan sumber kita. Sebagai ras yang terpilih, sumber kita adalah Allah. Kita juga adalah imamat yang rajani. “Rajani” menyatakan status imamat kita bersifat rajani, sama seperti status Kristus Raja, Imam Besar kita, yang dilambangkan oleh Melkisedek (Ibr. 7:1-2, 26; Kej. 14:18). Kita juga adalah bangsa yang kudus dan umat kepunyaan Allah. “Kudus” mengacu kepada sifat suatu bangsa. Kata Yunani yang diterjemahkan “umat kepunyaan” (Tl.) sama dengan ungkapan Ibrani. Ini adalah referensi kepada Perjanjian Lama dan ungkapan Ibrani yang menyiratkan harta mustika yang khusus. Kita adalah harta mustika khusus Allah, kepunyaan-Nya yang istimewa dan berharga. Dalam Titus 2:14 Paulus berbicara mengenai “umat milik-Nya sendiri”. Hal ini juga dapat diartikan “umat yang khusus”. Ini adalah ungkapan yang diambil dari Perjanjian Lama (Ul. 7:6; 14:2; 26:18), dan hal ini menunjukkan sekelompok orang yang secara pribadi dimiliki oleh Allah sebagai harta mustika-Nya yang khusus (Kel. 19:5), milik kepunyaan-Nya. Mula-mula kita adalah ras yang terpilih, kemudian imamat yang rajani, bangsa yang kudus, dan umat kepunyaan-Nya. Sebagai harta mustika khusus-Nya, kita adalah umat-Nya yang berharga bagi Dia.

MEMBERITAKAN KEBAJIKAN ALLAH

Kita adalah ras, imamat, bangsa, dan umat yang sedemikian sehingga kita dapat memberitakan kebajikan-kebajikan Dia yang telah memanggil kita keluar dari kegelapan masuk ke dalam terang-Nya yang ajaib. Kata “memberitakan” dalam bahasa aslinya juga berarti “memberitakan ke luar”. Terlebih dulu kita harus dilahirkan kembali dan bertumbuh dalam hayat (ayat 2), kemudian kita harus dibangun dan melayani secara korporat (ayat 5). Kini kita perlu memberitakan ke luar. Melayani secara korporat adalah mempersembahkan Kristus sebagai kurban persembahan rohani bagi kepuasan Allah; memberitakan adalah mengumumkan, memberitakan kebajikan Dia yang memanggil kita keluar dari kegelapan ke dalam terang-Nya yang ajaib sebagai Injil agar orang lain mendapatkan faedah.

Kebajikan-kebajikan dalam ayat 9 adalah keunggulan, kebajikan-kebajikan yang unggul dan mulia (2Ptr. 1:3). Hal ini mengacu kepada apa adanya Allah dan milik Allah, serta terang ajaib Allah yang mencapai puncaknya dalam kemuliaan-Nya. Allah telah memanggil kita dengan dan kepada kebajikan dan kemuliaan-Nya.

Kebajikan-kebajikan di sini adalah atribut-atribut, tindakan-tindakan, dan perilaku yang unggul. Allah memiliki banyak kebajikan. Sebagai contoh, Dia penuh dengan belas kasihan. Berbelaskasihan adalah suatu kebajikan. Allah juga Allah yang mengasihi. Dia bahkan mengasihi orang dosa. Kasih ini adalah kebajikan lain dari Allah. Semua atribut ilahi yang unggul adalah kebajikan Allah. Kita perlu memberitahukan, mengumumkan ke luar kebajikan-kebajikan yang unggul ini.

Dalam tulisan-tulisannya, Petrus menekankan perkara kebajikan lebih daripada Paulus. Dalam 2Petrus 1:3 Petrus berkata bahwa kita telah dipanggil oleh kemuliaan dan kebajikan Allah. Dia tidak hanya berkata bahwa kita telah dipanggil kepada kemuliaan dan kebajikan Allah; ia berkata bahwa kita telah dipanggil oleh kemuliaan dan kebajikan-Nya.

Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Petrus dan murid-murid yang lain melihat kebajikan-kebajikan-Nya. Sedikitnya satu kali, di gunung pengubahan, mereka melihat kemuliaan Allah. Melihat kebajikan-kebajikan Kristus adalah peristiwa sehari-hari. Apa pun yang Tuhan kerjakan adalah tindakan yang unggul, penuh dengan kebajikan. Keunggulan Kristus besar dalam jumlahnya. Setiap hari Tuhan Yesus menampakkan kebajikan-Nya, dan Petrus melihat semua itu. Kemudian, Petrus menulis bahwa kita telah dipanggil oleh kebajikan dan kemuliaan Tuhan. Ini menunjukkan bahwa Petrus sendiri telah tertarik oleh kebajikan dan kemuliaan Tuhan. Selain itu, dia telah dipanggil kepada kebajikan dan kemuliaan ini. Karena itu, dia menjadi satu dengan Tuhan dalam kebajikan dan dalam kemuliaan.

Rasul-rasul memberitakan kebajikan-kebajikan Tuhan. Mereka memberitakannya, mengajarkannya, dan mengumumkannya. Apa pun yang diberitakan dan diajarkan para rasul adalah penyampaian kebajikan-kebajikan yang telah mereka lihat dan nikmati. Itu adalah pemberitaan kebajikan-kebajikan yang dengannya mereka berbagian. Inilah yang dimaksudkan dengan memberitakan keunggulan Allah. Hari ini kita perlu mengikuti rasul-rasul untuk memberitahukan kebajikan-kebajikan unggul Tuhan.

DIPANGGIL KELUAR DARI KEGELAPAN

Menurut ayat 9, kita seharusnya memberitakan kebajikan-kebajikan Dia yang telah memanggil kita keluar dari kegelapan, dan masuk ke dalam terang-Nya yang ajaib. Kegelapan adalah ekspresi dan lingkungan Iblis dalam kematian. Terang adalah ekspresi dan lingkungan Allah dalam hayat. Allah telah memanggil kita, menyelamatkan kita keluar dari wilayah maut Iblis yang gelap, masuk ke dalam wilayah hayat-Nya yang terang (Kis. 26:18; Kol. 1:13).

UMAT ALLAH YANG BEROLEH BELAS KASIHAN

Dalam ayat 10 Petrus menyimpulkan bagian ini: “Kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi sekarang telah beroleh belas kasihan.” Perkataan ini dikutip dari Hosea 2:22; dikutip juga dalam Roma 9:24-27 oleh Paulus dengan mengacu, pertama kepada orang bukan Yahudi dan kemudian kepada sisa Israel, “Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel” (Rm. 9:6). Di sini, Petrus mengutip perkataan ini dengan mengacu kepada penerima suratnya, yakni kaum beriman Yahudi yang tersebar. Memang mereka berasal dari Israel, tetapi bukan orang Israel. Karena itu, berdasarkan makna dalam Perjanjian Baru, mereka bukan umat Allah. Kini, setelah dipanggil oleh Allah, mereka menjadi umat Allah, milik khusus Allah, sebagai harta Allah. Dulu mereka tidak dibelaskasihani, kini telah beroleh belas kasihan.

Selagi muda, saya terganggu oleh ayat-ayat yang menunjukkan bahwa orang Yahudi bukan umat Allah. Saya heran, bagaimana mungkin menjadi Yahudi tetapi bukan umat Allah. Jika kita membaca Hosea 2, Roma 9, dan 1Petrus 2:10, kita mungkin bingung, karena kutipan yang sama dari Kitab Hosea digunakan untuk menunjukkan orang Kafir dan orang Yahudi dalam daging. Orang kafir bukanlah umat Allah dan mereka tidak mendapatkan belas kasihan-Nya. Tetapi kata yang sama mengacu kepada orang Yahudi dalam daging. Dalam Roma 9 Paulus mengatakan bahwa tidak semua yang berasal dari Israel adalah orang Israel. Ini mengacu kepada orang Yahudi yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus, kepada orang Yahudi dalam daging. Tetapi dalam pandangan Allah, Israel dalam daging bukanlah Israel yang sejati. Hanya ketika orang Yahudi percaya kepada Tuhan Yesus, barulah mereka sungguh-sungguh menjadi umat Allah yang sejati. Sebelum percaya kepada Dia, mereka tidak mendapatkan belas kasihan Allah. Tetapi setelah percaya, mereka mendapatkan belas kasihan Tuhan. Sekarang, setelah melalui banyak belajar dan menggali firman, saya nampak bahwa perkataan yang ada dalam Kitab Hosea digunakan dalam Perjanjian Baru untuk menunjukkan baik orang kafir maupun orang Israel dalam daging. Israel dalam daging sesungguhnya bukan umat Allah yang sejati, umat yang mendapatkan belas kasihan Allah. Tetapi melalui percaya kepada Tuhan Yesus, mereka telah menjadi umat Allah, dan mereka mendapatkan belas kasihan Allah.