← Daftar isi 1 Petrus (1) · bab 10/23

PUJIAN PETRUS TERHADAP ALLAH TRITUNGGAL

Pembacaan Alkitab: 1Ptr. 1:3-12

Satu Petrus 1:3-12 adalah kalimat panjang tentang pujian (kata-kata indah) terhadap trinitas ke-Allahan. Ayat 3 mengatakan, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus.” Di sini Petrus berbicara mengenai Allah Bapa. Mulai ayat 3, Petrus menyebutkan Tuhan Yesus Kristus, atau Yesus Kristus, berkali-kali. Pada akhir bagian ini, dalam ayat 12, Petrus membicarakan Roh Kudus. Karena itu, berkat ini sesungguhnya tersusun dari trinitas ke-Allahan — Bapa, Putra, dan Roh.

Bapa, Putra, dan Roh bukan tiga Allah. Kita memiliki satu Allah, Allah yang unik, yang kekal. Allah yang unik ini lengkap dan sempurna. Tetapi meskipun Allah secara unik satu, Dia bersifat tritunggal. Dia adalah Bapa, Putra, dan Roh.

Mereka yang mengerti bahasa Yunani mungkin akan menganggap tulisan Petrus tidak baik. Namun, Alkitab adalah soal wahyu, bukan soal tulisan atau karangan. Kesepuluh ayat dalam 1Petrus 1 ini (ayat 3-12) bukanlah karangan yang baik di pandangan manusia, tetapi ayat-ayat itu memberi kita wahyu ilahi yang sangat baik, luar biasa, dan ajaib.

YANG DIMAKSUD DENGAN MEMUJI ALLAH

Dalam 1:3 Petrus menggunakan kata “terpujilah”. Paulus juga menggunakan kata ini dalam Efesus 1:3, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga.” Dalam bahasa Yunaninya kata “terpujilah” berarti memuji dengan penyembahan. Karena itu, memuji Allah adalah mengucapkan kata-kata pujian mengenai Dia dan apa adanya Dia bagi kita, apa yang telah dikerjakan-Nya bagi kita, dan yang akan dikerjakan-Nya bagi kita. Memuji Allah adalah berbicara dengan manis tentang apa adanya Allah, apa yang telah Dia kerjakan, dan apa yang akan Dia kerjakan. Pembicaraan macam ini adalah pujian.

Banyak orang Kristen mengira memuji Allah adalah mengucapkan perkataan berkat mengenai Dia. Pengertian yang demikian tentunya tidak salah. Kapan saja Anda ingin memuji Allah, Anda perlu mengatakan sesuatu mengenai Dia. Namun, dengan cara apa kita seharusnya memuji Allah? Seorang anak mungkin berkata, “Ya Allah, aku memuji-Mu karena memberiku ayah yang baik, seorang yang mengasihi aku dan yang memiliki banyak uang. Ya Allah, aku juga memuji-Mu karena ibuku membelikan barang-barang yang menarik untukku.” Banyak orang Kristen memuji Allah terutama untuk benda-benda materi. Mereka mungkin berkata, “O, terpujilah Allah Bapa! Puji Dia karena telah memberiku bisnis yang baik, rumah yang besar, dan keluarga yang menyenangkan.” Hal ini jauh dari yang diwahyukan dalam 1Petrus 1:3-12.

Secara bertahap Tuhan telah membawa saya ke dalam pemikiran tentang wahyu ilahi dalam Alkitab. Saya dapat bersaksi bahwa ketika saya membaca ayat seperti 1:3, saya menyadari bahwa memuji Allah Bapa adalah mengucapkan kata-kata pujian tentang apa adanya Allah bagi kita secara subyektif, bukan hanya memuji Dia atas apa yang telah Dia kerjakan bagi kita atau yang telah Dia berikan kepada kita secara obyektif. Memuji Allah Bapa adalah berbicara secara subyektif tentang apa adanya Dia bagi kita, tentang apa yang telah Dia kerjakan bagi kita, dan apa yang akan Dia lakukan bagi kita. Inilah makna memuji Allah menurut apa yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru.

Kesepuluh ayat dalam 1Petrus 1 memberi tahu kita tentang apa yang telah dikerjakan Bapa bagi kita melalui Putra dan oleh Roh itu. Bapa telah melakukan banyak hal bagi kita melalui Putra-Nya. Semua yang telah Bapa kerjakan bagi kita melalui Putra diterapkan kepada kita oleh Roh Kudus. Kita perlu mengucapkan kata-kata pujian mengenai hal-hal ini.

LATAR BELAKANG DARI PUJIAN PETRUS

Kita perlu memahami mengapa Petrus mengucapkan pujian terhadap Allah Tritunggal dalam sebuah surat yang ditulis bagi kaum beriman yang tersebar. Menurut 1:1, Surat Kiriman ini ditulis kepada “Kepada orang-orang pendatang yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia.” Kelima propinsi yang disebutkan di sini berada di Asia Kecil, di antara Laut Hitam dan Laut Tengah. Kaum beriman penerima Surat Kiriman ini tersebar di kelima propinsi di Asia Kecil, fakta ini adalah bagian yang penting dari latar belakang pujian Petrus terhadap Allah.

Pada saat Surat Kiriman ini ditulis, baik Petrus mau-pun penerima surat ini, kaum beriman terpilih yang tersebar di Asia Kecil, berada di bawah pemerintahan Romawi. Tahun 64, yang diperkirakan adalah waktu penulisan Surat 1Petrus, Kekaisaran Romawi sangat kuat. Kira-kira 30 tahun sebelum kelahiran Kristus, Kaisar Yulius mengalahkan Mesir dan membangun Kekaisaran Romawi sepenuhnya. Dalam sejarah, mungkin tidak pernah ada pemerintah yang lebih kuat daripada pemerintah Kekaisaran Romawi pada abad pertama Masehi. Kekaisaran Romawi mengendalikan seluruh daerah di sekitar Laut Tengah, termasuk daerah di Asia, Eropa, dan Afrika Utara. Sebagai pemerintah yang kuat, Kekaisaran Romawi juga memiliki hukum yang sangat kuat. Pada umumnya orang-orang mengetahui bahwa kebudayaan barat dibangun di atas tiga pilar: hukum Romawi, agama Yahudi, dan kebudayaan Yunani.

Penerima surat 1Petrus tidak hanya berada di bawah pemerintah Romawi, tetapi juga berada di bawah pengaruh agama Yahudi dan kebudayaan Yunani, khususnya, filsafat Yunani. Pujian terhadap Allah Tritunggal dalam 1:3-12 sama sekali berbeda dari agama Yahudi dan filsafat Yunani. Dalam kesepuluh ayat ini tidak ada agama atau filsafat. Dengan kata lain, tulisan Petrus di sini tidaklah agamawi atau duniawi. Di sini kita tidak dapat menemukan pemikiran apa pun yang agamawi atau filsafat atau konsepsi duniawi. Lalu, berdasarkan apakah ayat-ayat ini ditulis? Ayat-ayat ini ditulis menurut wahyu Allah. Namun, wahyu ini tidak hanya obyektif. Sebaliknya, ini adalah wahyu yang subyektif. Ini berarti Petrus menyusun ayat-ayat ini menurut pengalaman-pengalaman rohaninya.

ALLAH DAN BAPA TUHAN KITA YESUS KRISTUS

Karena Petrus menulis menurut pengalaman rohaninya, dia membahas banyak butir besar dalam kesepuluh ayat ini. Mari kita bahas berapa banyak butir yang ada dalam ayat 3, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kembali kita melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada pengharapan yang hidup.” (Tl.). Satu butir besar adalah judul “Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus”. Judul ini tidak ada kaitannya dengan agama atau filsafat. “Terpujilah” adalah butir penting lainnya. Hal lainnya adalah “rahmat-Nya yang besar”, “lahir kembali”, “pengharapan yang hidup”, dan “kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati”. Tidak ada satu pun dari butir-butir ini yang agamawi atau filosofis. Malahan, semua ini adalah aspek dari wahyu ilahi.

Dalam membaca Alkitab kita tidak seharusnya menganggap sesuatu memang seharusnya demikian. Kita tidak seharusnya menganggap bahwa kita mengerti apa yang kita baca. Kita perlu membuang cara tradisional dalam membaca firman Tuhan, cara yang menyebabkan kita menganggap apa saja memang sudah seharusnya demikian. Ketika kita sampai pada kata seperti “terpujilah” dalam 1:3, kita perlu berkata, “Apakah arti dari perkataan ini? Aku tahu perkataan ini dari bahasa negaraku, tetapi apakah artinya dalam ayat ini? Ini mengacu kepada apa?” Jika kita membaca Alkitab secara demikian dan berdoa mengenai apa yang kita baca, kita mungkin menemukan bahwa pasal seperti 1Petrus 1 ini meminta kita mengeluarkan waktu sepanjang tahun. Saya mendorong Anda tidak menganggap perkataan Petrus memang seharusnya demikian, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus.” Kita perlu menemukan apakah yang dimaksud Petrus dengan “terpujilah”.

Melalui menulis Surat Kiriman ini menurut pengalaman rohaninya, Petrus bermaksud menghapus agama Yahudi dan filsafat Yunani. Saya percaya bahwa jika Petrus bersama-sama dengan kita hari ini, dia akan mengatakan dengan tegas bahwa inilah maksudnya. Dia boleh jadi mengatakan, “Ketika aku menulis surat yang pertama, aku bermaksud merubuhkan agama Yahudi dan meruntuhkan filsafat Yunani.” Banyak frase dalam pasal ini menunjukkan bahwa maksud Petrus adalah demikian.

Perkataan Petrus “Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” adalah pukulan yang sangat hebat bagi agama Yahudi. Orang Yahudi akan mengatakan bahwa perkataan semacam ini adalah penghujatan. Selain itu, perkataan ini sama sekali berlawanan dengan filsafat, mitos, legenda, dan takhayul Yunani. Dengan agama Yahudi dan filsafat Yunani sebagai latar belakang, Petrus menyatakan, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus.” Jika para rabi dan para filsuf membaca kata-kata ini, para rabi itu akan berkata, “Ini adalah hujat!” dan para filsuf akan berkata, “Apa ini?”

ASPEK-ASPEK DARI PUJIAN INI

Dalam ayat 4 Petrus melanjutkan, “Untuk menerima warisan yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kamu.” Butir besar dalam ayat ini berkaitan dengan warisan. Tiga butir kecil yang berkaitan dengan warisan juga tercakup di sini. Esens warisan ini tidak dapat binasa, keadaannya tidak dapat cemar, ekspresinya tidak dapat layu. Saya percaya bahwa gambaran dari warisan kita ini menyiratkan trinitas. “Tidak dapat binasa” mengacu kepada sifat Bapa; “tidak dapat cemar” mengacu kepada pekerjaan pengudusan Roh itu yang menjaga keadaan bersih dan murni; dan “tidak dapat layu” mengacu kepada Kristus sebagai ekspresi kemuliaan Allah yang tidak pernah layu. Dua butir lain yang berkaitan dengan warisan ini adalah “tersimpan di surga” dan “bagi kita”. Karena itu, dalam ayat ini kita memiliki satu butir besar dengan lima butir kecil. Tidak ada satu pun dari butir-butir ini yang berbau Yahudi atau Yunani. Dengan kata lain, tidak ada satu pun dari ayat-ayat ini yang bersifat agamawi maupun filosofis. Segala sesuatu yang ada di sini berdasar pada wahyu ilahi.

Ayat 5 mengatakan, “Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah melalui imanmu kepada keselamatan yang telah siap untuk dinyatakan pada zaman akhir” (Tl.). Di sini Petrus memberi tahu kaum beriman bahwa mereka dipelihara, dijaga oleh kekuatan Allah. Mereka tidak dijaga oleh ritual agama atau alasan-alasan filosofis, melainkan dijaga oleh kekuatan Allah melalui iman. Sekali lagi, ini bukan bahasa yang umum; bukan suatu pembicaraan yang biasa. Sebaliknya, ini adalah sesuatu yang luar biasa. Butir yang pertama dalam ayat ini berkaitan dengan “dijaga”; yang kedua adalah “kekuatan Allah”; yang ketiga adalah “melalui iman”; yang keempat adalah “kepada keselamatan”; dan yang kelima adalah “siap untuk dinyatakan pada zaman akhir”. Sekali lagi kita nampak bahwa dalam satu ayat ini saja Petrus membahas banyak butir.

Dalam ayat 6 Petrus melanjutkan, “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” Kata “bergembiralah” di sini dalam bahasa aslinya memiliki arti yang lebih kuat daripada “bersukacita”. Bersukacita adalah rasa senang dengan suara yang dapat didengar; sedang bergembira di sini adalah rasa senang dengan kelepasan yang penuh dan lengkap. Ketika kita bergembira, kita lupa diri karena penuh dengan sukacita. Di samping bergembira, di sini Petrus berbicara tentang “kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan”.

Dalam ayat 7 Petrus melanjutkan perkataannya, “Mak-sud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya kelak.” Ayat ini tidak membicarakan kemustikaan iman kita, melainkan membicarakan kemustikaan pembuktian (pengujian) iman kita. Dalam 2Petrus 1 disebutkan iman yang mustika atau berharga. Tetapi dalam ayat ini, yang berharga bukan iman itu sendiri, melainkan pengujian iman kita yang lebih berharga daripada pengujian emas. Petrus ingin pengujian ini menghasilkan pujian, kemuliaan, dan kehormatan pada waktu Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Pengujian ini menguji iman kita. Pada takhta penghakiman Tuhan, pengujian ini mungkin menghasilkan puji-pujian, kemuliaan, dan kehormatan. Petrus mengakhiri ayat ini dengan menyebutkan penyataan Yesus Kristus. Di sini dia tidak menggunakan kata “manifestasi” atau “pewahyuan”. Dia sengaja memilih kata “penyataan”.

Ayat 8 mengatakan, “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira dengan rasa sukacita yang (penuh) mulia dan tidak terkatakan.” Kata ganti “Dia” mengacu kepada Yesus Kristus. Meskipun kita belum pernah melihat Tuhan Yesus, kita mengasihi Dia. Pada saat ini kita tidak melihat Dia, tetapi kita percaya kepada-Nya. Selain itu, menurut ayat ini, kita bergembira dengan rasa sukacita yang penuh mulia dan tidak terkatakan. Ini adalah sukacita yang tidak mampu kita utarakan. Hal-hal yang ajaib juga tidak terkatakan. Dalam ayat ini Petrus menggunakan ungkapan yang khusus — “sukacita yang penuh mulia”. Sukacita yang penuh mulia adalah sukacita yang tercelup ke dalam ekspresi Allah.

Dalam ayat 9 Petrus mengatakan, “Karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” Di sini Petrus menunjukkan bahwa tujuan iman kita, perampungan proses iman kita, adalah keselamatan jiwa kita.

Ayat 10-11 mengatakan, “Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang anugerah yang diuntukkan bagimu. Mereka pun meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya bersaksi tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu.” Di sini Petrus mengatakan bahwa para nabi bernubuat tentang anugerah yang diuntukkan bagi kita, bahwa mereka menyelidiki dan meneliti, dan bahwa mereka sebelumnya bersaksi tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. Petrus kelihatannya melompat dari satu butir ke butir yang lain. Dalam ayat 12 dia menyimpulkan bagian ini dengan mengatakan, “Kepada mereka telah dinyatakan bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu dengan perantaraan orang-orang, yang oleh Roh Kudus yang diutus dari surga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat.”

WAHYU ILAHI YANG DIEKSPRESIKAN

MELALUI KEINSANIAN

Ayat-ayat ini ditulis bukan menurut pengetahuan aga-mawi atau pengetahuan filosofis. Ayat-ayat ini ditulis menurut pengalaman rohani Petrus. Karena alasan ini, tulisan Petrus tidak biasa, tidak umum. Hal ini seharusnya memperkuat kepercayaan kita kepada Allah. Jika tidak ada Allah, bagaimana perkataan semacam ini dapat ditulis? Perkataan ini tidak hanya mempersaksikan ada Allah, tetapi juga ada Anak Allah, bernama Yesus Kristus. Selain itu, ada yang disebut Roh Kudus. Allah Tritunggal ini tentunya telah bekerja di dalam Petrus, penulis ayat-ayat ini. Karena itu, Petrus memiliki pengalaman atas Allah Tritunggal.

Sumber dan tumpuan tulisan Petrus bukanlah agama atau filsafat. Sumber dan tumpuan tulisan Petrus adalah pengalaman atas Allah Tritunggal yang beroperasi di dalamnya. Petrus mengumpulkan pengalamannya yang banyak dan menuangkannya dalam tulisan. Petrus tidak memperhatikan gaya kesusasteraan; dia hanya memperhatikan butir-butir yang sejati dari pengalamannya atas Allah Tritunggal.

Meskipun saya kurang fasih dalam membicarakan hal ini, saya harap perkataan yang singkat ini akan membantu Anda memahami bahwa 1:3-12 adalah wahyu ilahi. Wahyu ini berbeda dari segala hal yang agamawi atau filosofis. Wahyu ini sepenuhnya ilahi. Tetapi meskipun ilahi, hal ini adalah sesuatu yang dialami oleh manusia melalui trinitas ke-Allahan. Karena itu, pujian Petrus atas Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh — berasal dari pengalamannya sendiri.

Ketika Petrus menulis Surat Kirimannya yang pertama, dia tentu diilhami oleh Allah. Tidak ada pikiran manusia yang mampu menghasilkan karya sedemikian. Tidak ada filsuf atau guru etika yang bisa menulis seperti ini. Dalam sejarah, tidak ada seorang pun yang telah menulis hal-hal semacam ini, dan hari ini, tidak ada seorang pun dapat menulis hal-hal semacam ini. Siapa yang dapat menemukan semua istilah yang digunakan oleh Petrus? Siapa yang dapat memikirkan berbagai butir ini? Jawabannya adalah tidak ada seorang pun yang dapat menemukan istilah-istilah ini atau memikirkan butir-butir ini. Bahkan filsuf-filsuf Yunani pun tidak ada yang pernah membayangkannya. Semua butir ini bersumber pada Allah sendiri.

Allah tidak hanya menciptakan istilah-istilah ini, tetapi Dia juga menggarapkan diri-Nya ke dalam seorang nelayan seperti Petrus, sehingga meskipun dia bukan orang yang terpelajar, dia bisa menulis komposisi ini dengan butir-butir yang menakjubkan. Ketika kita membaca 1Petrus 1, kita perlu menjamah roh Petrus seperti yang terekspresi dalam tulisannya. Jika kita melakukan hal ini, kita akan nampak bahwa tulisannya bukan tulisan insani. Tulisan Petrus itu rohani dan ilahi. Di sini kita nampak wahyu ilahi yang terekspresi melalui keinsanian.