← Daftar isi Keluaran (8) · bab 6/19

PAKAIAN IMAM (4)

Pembacaan Alkitab: Kel. 28:4-14; 39:1-7

Pakaian imam yang dilukiskan dalam Keluaran 28:4-14, pertama-tama untuk imam besar, kemudian untuk para imam. Pada masa Keluaran 28, imam besar adalah Harun, sedang para imam adalah anak-anak Harun. Dalam pelambangan, Harun menjadi imam besar melambangkan Kristus sebagai Imam Besar sejati kita di hadapan Allah, dan anak-anak Harun, para imam, adalah lambang kaum beriman. Karena itu, pakaian itu dipakai untuk imam-imam dalam dua kelas. Pakaian tertentu hanya untuk imam besar, imam-imam lainnya tidak diperbolehkan memakainya. Namun, kebanyakan pakaian imam adalah untuk para imam, anak-anak Harun, dan untuk imam besar, Harun sendiri.

TUTUP DADA DAN EFOD

Keluaran 28:4 mencatat, “Inilah pakaian yang harus dibuat mereka: tutup dada, baju efod, gamis, kemeja yang ada raginya, serban dan ikat pinggang. Demikianlah mereka harus membuat pakaian kudus bagi Harun, abangmu, dan bagi anak-anaknya, supaya ia memegang jabatan imam bagi-Ku.” Kedua benda pertama: tutup dada dan efod, hanya dipakai oleh imam besar. Sebenarnya tutup dada dapat dianggap bagian dari efod. Tiga buah benda terpasang pada efod: tutup dada dan kedua tutup bahu; tutup-tutup ini dirangkai, dikait, dan diikat pada efod.

Kebanyakan versi Alkitab tidak menerjemahkan istilah Ibrani “efod”, melainkan hanya menyerapnya atau menyesuaikannya. Ini berarti efod adalah sebuah istilah Ibrani, bukan terjemahan ke bahasa Inggris. Dimasukkannya istilah Ibrani ini ke dalam terjemahan Alkitab bahasa Inggris dikarenakan tiadanya istilah dalam perbendaharaan kata kita untuk melukiskan benda yang terdapat pada pakaian imam tersebut. Dalam kebudayaan kita tidak ada benda yang sepadan dengan benda tersebut. Kalau dalam kebudayaan kita tidak ada benda seperti itu, tentu tidak ada istilah untuk melukiskannya. Misalkan jika tidak ada mobil, dalam perbendaharaan kata kita, tentu tidak ada istilah mobil. Istilah mobil kita kenal karena dipakai untuk melukiskan kendaraan bermotor itu. Namun, dalam kebudayaan kita tidak ada sesuatu yang persis seperti pakaian yang ditunjukkan dengan istilah Ibrani “efod”. Itulah sebabnya kita tak dapat menerjemahkan istilah ini ke dalam bahasa Inggris.

Jika Anda meminta saya untuk menerangkan apa itu efod, saya akan berkata bahwa saya tak dapat menggambarkan dengan perkataan singkat, bahkan dengan kalimat-kalimat sederhana pun tidak. Namun demikian, dalam berita ini saya ingin mencoba memberi kalian kesan mengenai efod, yakni satu benda yang tidak diketahui oleh kebudayaan manusia sebelum Allah mengadakan imamat. Tatkala Allah mewahyukan pakaian imam kepada Musa, efod merupakan sesuatu yang sama sekali baru. Benda ini sama sekali tidak dikenal orang sebelum Musa menerima wahyu dari Allah. Allah berkata kepada Musa tentang efod ini, dan itulah kali pertama Musa mengetahuinya.

Berdasarkan kamus-kamus yang ada, istilah efod berarti mengikat, mengebat, mengait, atau merangkai. Jadi efod adalah sebagian dari pakaian imam yang dipakai untuk mengikat, mengebat, mengait, atau merangkai. Efod bukan jaket dan bukan pula rompi semata. Sebaliknya, efod adalah bagian pakaian imam yang dipergunakan untuk mengikat atau mengait. Karena itu, efod dipakai untuk mengikat, mengebat, mengait, atau merangkai.

SEBAGAI KEMULIAAN DAN SEBAGAI KEELOKAN

Ada tiga alasan utama orang mengenakan pakaian. Dengan perkataan lain, pakaian yang kita kenakan mengandung tiga tujuan. Manusia tidak mengenakan pakaian sebelum kejatuhan, tetapi setelah manusia jatuh, Adam dan Hawa menyadari bahwa mereka telanjang dan karenanya mereka membuat sesuatu untuk menutupi ketelanjangan mereka. Kemudian, Allah memberikan pakaian dari kulit untuk mereka pakai. Jadi, alasan pertama kita mengenakan pakaian ialah menutupi ketelanjangan kita. Orang-orang yang bermoral niscaya akan menutupi diri mereka dengan wajar, tidak mungkin menyingkap ketelanjangan mereka. Sebaliknya, orang-orang yang amoral menganjuri orang bertelanjang diri. Bertelanjang adalah suatu dosa dan aib. Para imam Perjanjian Lama dari kepala sampai kaki tertutup seluruhnya. Jadi, tujuan pertama mengenakan pakaian ialah menutupi ketelanjangan kita.

Alasan kedua ialah menyangkut kesehatan kita. Dengan mengenakan pakaian, kita terlindung dari udara dingin, angin, dan hujan, juga terlindung dari cuaca yang terlampau panas. Ada orang di antara kita yang sangat peka terhadap temperatur dan mereka perlu mengenakan pakaian yang sesuai demi menjaga diri dari cuaca yang terlampau panas atau terlalu dingin. Jika kita tidak mengenakan pakaian yang cocok dalam berbagai situasi, kesehatan kita akan terpengaruh. Karena itu, pakaian juga mengandung tujuan untuk menjaga kesehatan kita.

Ketiga, orang mengenakan pakaian untuk memperindah diri. Berdasarkan Keluaran 28, pakaian imamat itu sebagai kemuliaan dan sebagai keelokan. Tujuan utama pakaian-pakaian ini bukan untuk menutupi ketelanjangan atau melindungi tubuh dari kedinginan, tetapi sebagai kemuliaan dan sebagai keelokan. Teristimewa efod, ia bukan dipakai untuk menutupi ketelanjangan para imam atau melindungi mereka dari kedinginan, melainkan sebagai kemuliaan dan keelokan semata-mata.

Sangatlah berarti bahwa Keluaran 28 menyebut kemuliaan dahulu dan kemudian baru keelokan. Ini menunjukkan, kita harus memperhatikan kemuliaan terlebih dahulu, kemudian baru keelokan. Ketika kita memilih busana, janganlah memperhatikan keelokannya terlebih dahulu. Pertimbangan utama kita seharusnya adalah kemuliaan.

Kita telah menunjukkan bahwa kemuliaan di sini ditujukan kepada ekspresi ilahi, sifat-sifat khas ilahi, dan keelokan ditujukan kepada kebajikan-kebajikan insani. Dalam pakaian wajiblah kita terlebih dahulu memperhatikan kemuliaan Allah. Sebagai contoh, seorang saudari harus bertanya, apakah pakaian tertentu itu dapat dikenakan bagi kemuliaan Allah. Bila para saudari mempertimbangkan busana mereka dari sudut ini, mungkin model busana yang mereka kenakan akan berbeda. Namun, hari ini kebanyakan orang hanya memperhatikan keelokan dan sama sekali tidak memperhatikan kemuliaan Allah. Akan tetapi, efod terutama untuk kemuliaan ilahi dan kemudian baru untuk keelokan insani. Pakaian yang dipakai untuk pengikat ini terdiri atas kemuliaan ilahi dan keelokan insani.

TERIKAT PADA KRISTUS

Hanya imam besarlah yang berhak mengenakan efod. Ini melambangkan bahwa kita, kaum beriman, tidak berhak mengenakan apa yang dilambangkan oleh efod itu. Hanya Kristuslah yang mengenakan efod. Ini berarti hanya Dialah yang mempunyai wewenang untuk mengikat dan kekuatan untuk mengait. Kristus memegang, mengikat, dan mengait kita pada diri-Nya sendiri. Kita boleh mengatakan bahwa Kristus mengait kita pada diri-Nya sendiri. Wewenang yang menggenggam itu ialah kemuliaan ilahi dan keelokan insani-Nya.

Kita harus ingat bahwa efod adalah sepotong pakaian pengikat. Tiga tutup dua buah tutup bahu dan sebuah tutup dada terikat pada efod. Berhubung ketiga tutup tersebut terikat pada efod, mereka pun terikat, tertaut, terkait pada tubuh imam besar. Setelah terikat pada tubuh imam besar, maka benda-benda itu tidak mungkin jatuh dan terlepas dari imam besar. Itulah makna efod.

Sebagai Imam Besar, Kristus memiliki wewenang mengikat, kekuatan merangkai, dan kemampuan mengait. Kita sama sekali tidak mempunyai wewenang, kekuatan, dan kemampuan itu.

Adakalanya orang-orang Kristen membicarakan cara Tuhan menggenggam, merangkul, dan menjaga kita. Ketika saya masih muda, saya kira Tuhan menggenggam saya seperti seorang gembala memegang dombanya dalam ribaan. Saya membayangkan Tuhan laksana Persona yang merangkul dan memanggul kita dengan cara demikian. Namun, jika kita merenungkan lukisan efod, kita akan melihat bahwa Tuhan tidak hanya menggenggam kita, bahkan Ia mengait dan mengikat kita pada diri-Nya sendiri, sebagaimana tutup-tutup itu terkait pada efod. Menggenggam tidak sama dengan mengikat, dan merangkul tidak sama dengan membebat atau mengait. Kita diikat pada diri Kristus, kita pun dibebat pada diri Kristus. Memang, Kristus memanggul dan membawa kita, tetapi Ia tidak membawa kita seperti seorang gembala membawa domba-Nya dalam pelukan kedua lengan-Nya, melainkan seperti imam besar mengenakan efod, di mana kedua tutup bahu dan tutup dada terikat dengan erat.

Kristus telah mengikat seluruh umat Allah pada diri-Nya sendiri. Pengikatan ini adalah melalui kemuliaan ilahi dan keelokan insani-Nya. Ini berarti kemuliaan ilahi dan keelokan insani-Nya adalah kekuatan yang mengikat kita kepada diri-Nya sendiri.

Keluaran 28:9 dan 10 mengatakan, “Haruslah kau ambil dua permata krisopras dan mengukirkan nama para anak Israel pada permata itu, enam dari nama mereka itu pada permata yang pertama dan keenam nama lagi pada permata yang kedua, menurut urutan kelahirannya.” Batu-batu permata krisopras yang berukirkan nama-nama dari anak-anak Israel melambangkan kita, kaum beriman. Jadi, itu melambangkan semua orang tebusan Allah. Ayat 12 mengatakan, “Kemudian haruslah kautaruh kedua permata itu pada kedua tutup bahu baju efod sebagai permata peringatan untuk mengingat orang Israel; maka ke hadapan TUHAN haruslah Harun membawa nama mereka di atas kedua tutup bahunya menjadi tanda peringatan.” Ini melambangkan umat tebusan Allah berada di atas kedua bahu Kristus. Kita bukan dibawa ke dalam pelukan kedua lengan-Nya seperti menggendong kambing, melainkan di atas kedua bahu-Nya, laksana kedua permata krisopras itu. Kita adalah permata-permata di atas efod, benda pengikat, yang terbentuk dari kemuliaan ilahi dan keelokan insani.

Sejak hari Anda beroleh selamat, Anda telah dipegang oleh Kristus. Namun, tahukah Anda, apakah yang selalu memegang Anda selama ini? Ada orang berkata bahwa Kristus itu penuh kuasa dan kita dipegang oleh kuasa-Nya. Benar, Yohanes 10:28 membuktikan hal ini: “Dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” Ayat ini benar-benar menunjukkan kuasa Kristus memelihara kita. Dalam Yohanes 10:29, selanjutnya Tuhan mengatakan, “Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari siapa pun, dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan Bapa.” Jadi ada dua tangan yang memegang kaum beriman: tangan Kristus, Sang Anak, dan tangan Bapa. Tangan-tangan ini melambangkan wewenang dan kasih, tetapi itu bukan berarti kemuliaan ilahi dan keelokan insani. Menurut lukisan tutup-tutup yang terikat pada efod, terikatnya kita pada Kristus adalah oleh kemuliaan ilahi-Nya dan keelokan insani-Nya. Karena itu, kemuliaan ilahi dan keelokan insani Kristus merupakan kekuatan pengikat yang mengikat kita kepada diri-Nya sendiri. Kita senantiasa terikat pada-Nya melalui kemuliaan ilahi dan keelokan insani-Nya.

PENGALAMAN TERJAGA OLEH TUHAN

Kita harus bertanya kepada diri sendiri, dalam pengalaman kita, bagaimanakah kita terjaga oleh Tuhan. Ada beberapa orang mungkin berkata bahwa mereka terjaga oleh iman. Mereka mungkin berdoa, “Tuhan Yesus, aku tidak ada iman. Karuniakanlah iman itu kepadaku agar aku dapat percaya bahwa aku berada di dalam tangan-Mu dan Engkau selalu menjaga aku.” Saya sering berdoa demikian. Saya sudah memiliki banyak pengalaman berdoa dan percaya yang demikian. Namun, semakin saya berdoa demikian, seolah-olah saya semakin kurang beriman atau bersandar kepada Tuhan. Semakin saya minta iman, iman saya seolah-olah semakin berkurang. Banyak orang Kristen yang pernah memiliki pengalaman serupa. Mungkin Anda pernah berdoa, “Tuhan, Engkau menjagaku. Engkau mempunyai anugerah untuk menjaga, Engkau berkuasa menjaga aku, dan Engkau mengasihi aku. Tuhan, rangkullah aku dan jagalah aku. Tetapi Engkau tahu, ya Tuhan, bila kesulitan tiba, aku seolah-olah melupakan segala-galanya. Karena itu, Tuhan, aku mohon Engkau menginfus aku dengan iman-Mu. Oh, Tuhan, infuskanlah kiranya diri-Mu sendiri ke dalamku sebagai iman yang hidup itu.” Namun, semakin Anda berdoa demikian, seolah-olah berkuranglah iman yang terinfus ke dalam Anda.

Empat puluh tahun yang lampau saya pernah terserang penyakit TBC yang sangat parah. Selama masa itu, saya tidak beriman terhadap kemungkinan Tuhan menyembuhkan saya. Memang iman yang mendasar, iman keselamatan saya di dalam Tuhan, tidak hilang, tetapi saya benar-benar telah kehilangan iman terhadap penyembuhan Tuhan atas penyakit paru-paru saya. Para penatua, para sekerja, dan gereja serta semua orang beriman mendoakan saya. Saya sebelumnya pernah memberikan banyak berita kepada kaum beriman tentang kesetiaan Tuhan, dan menyuruh mereka percaya kepada-Nya. Saya menganjuri mereka bersandar kepada-Nya, sebab Ia tidak mungkin menolak kita. Ada seorang saudari yang mengantar makanan untuk saya tiga kali sehari berbicara kepada saya tentang iman. Ia bertanya mengapa saya tidak beriman bahwa Tuhan dapat menyembuhkan saya. Saya berkata kepadanya, “Saudari, Anda benar, aku tidak beriman sedikit pun. Dapatkah Anda membantuku dan memberi tahu aku apakah iman itu?” Memang agaknya ganjil juga kalau saya bertanya kepadanya demikian. Saudari tersebut beroleh selamat melalui penginjilan saya, tetapi sekarang saya bertanya kepadanya, apakah iman itu. Ia sangat heran dan terkejut sehingga tidak dapat menjawab saya. Sebenarnya keadaan setiap pengkhotbah seperti itu.

Maksud saya di sini ialah: bila kita memahami kemuliaan ilahi dan keelokan insani Kristus, kita akan spontan terikat pada-Nya; tak perlu kita berusaha percaya kepada-Nya. Kuasa pengikat itu tidak datang dari iman kita, melainkan dari apa adanya keelokan milik-Nya. Tuhan Yesus memiliki kemuliaan ilahi dan keelokan insani. Ia sangat mulia, dan sangat elok. Bila kita merenungkan Dia dan menatap kepada-Nya, niscaya kita akan terikat oleh-Nya dalam pengalaman kita secara riil. Tidak perlu kita mencoba-coba untuk percaya kepada-Nya atau bersandar kepada-Nya, sebab kita sudah diikat kepada-Nya.

Saya sangat suka membaca dan mempelajari keempat kitab Injil. Ketika kita membaca kitab-kitab Injil, adakalanya kita dapat melihat kemuliaan Tuhan, dan adakalanya kita dapat melihat keelokan-Nya. Ketika Tuhan masih berada di bumi sebagai manusia dalam daging, kemuliaan-Nya dapat tertampak. Dalam inkarnasi-Nya pun Ia begitu mulia. Ketika kita membaca keempat kitab Injil, kita dapat melihat kemuliaan ilahi ada pada-Nya. Kita pun dapat melihat keelokan Tuhan, keelokan yang sangat halus dan mustika. Kita tak mempunyai perkataan yang memadai untuk melukiskan keelokan insani Tuhan Yesus yang diwahyukan dalam keempat kitab Injil. Namun, tatkala kita membaca kitab-kitab Injil itu, adakalanya dalam batin kita, kita memahami betapa eloknya Tuhan. Sebagai contoh, alangkah eloknya cara Dia memperlakukan murid-murid dan berbicara dengan Maria dan Marta dalam Yohanes 11. Pada saat kita merenungkan kemuliaan ilahi dan keelokan insani Tuhan dalam keempat kitab Injil, dengan spontan kita terikat pada-Nya. Lalu kita akan terpegang oleh-Nya bahkan terjunjung di atas bahu-Nya. Kemuliaan ilahi-Nya dan keelokan insani-Nya mengait kita pada diri-Nya sendiri.

Saya yakin banyak di antara kita yang pernah memiliki pengalaman serupa dalam membaca kitab-kitab Injil. Melalui membaca kisah kehidupan Tuhan di bumi, kita melihat kemuliaan ilahi-Nya dan keelokan insani-Nya, kita lalu terikat pada-Nya. Kemudian kita merasa bahwa kita sangat mantap dan aman. Kita menyadari bahwa kita tidak bakal terjatuh keluar dari Dia. Itulah pengalaman efod.

Apakah Anda memiliki efod yang demikian? Saya yakin bahwa saya sendiri tidak memilikinya. Kalau Anda mempelajari saya, Anda tidak akan terikat pada saya. Saya kekurangan kemuliaan ilahi maupun keelokan insani. Lain halnya dengan Kristus; Ia memiliki efod, dan pada-Nya ada kemuliaan ilahi dan keelokan insani.

BAHAN EFOD

Keluaran 28:5-6 mengatakan, “Untuk itu haruslah mereka mengambil emas, kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan lenan halus. Baju efod itu harus dibuat mereka dari emas, kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya: buatan orang ahli” (Tl.). Kristus memiliki sebuah efod yang terbuat dari emas, kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan lenan halus. Emas di sini ditujukan kepada benang emas. Emas pertama-tama ditempa menjadi lempengan yang tipis dan kemudian diiris-iris menjadi benang, lalu dipintal menjadi tenunan. Emas melambangkan keilahian Kristus. Biru melambangkan kesurgawian, dan ungu melambangkan jabatan raja. Kirmizi melambangkan penebusan Kristus yang dirampungkan oleh pengorbanan diri-Nya lewat penumpahan darah-Nya. Lenan halus melambangkan kehidupan insani Tuhan. Pemintalan menunjukkan penderitaan.

Emas, kain biru, kain ungu, kain kirmizi, semuanya terpintal dalam lenan halus untuk membuat efod, sepotong pakaian untuk pengikat. Tali bahu itu mengikat, mengait, dan mengebat kita pada Kristus. Kita telah dibebat pada-Nya dengan cara yang begitu indah dan mulia. Baik keilahian maupun keinsanian telah terpintal ke dalam efod. Dalam efod kita melihat kesurgawian dan jabatan raja Kristus, kita pun melihat penebusan-Nya. Karena efod mencakup unsur-unsur itu, maka Kristus memiliki kekuatan menjaga kita. Ia memiliki tenaga untuk mengikat kita pada diri-Nya sendiri.

Berita ini kelihatannya hanya memuat sekelumit perkataan yang obyektif tentang Kristus. Padahal masalah efod ini sangatlah subyektif dan cocok dengan pengalaman. Ia menunjukkan kepada kita bagaimana kita menikmati Kristus dan mengalami Dia. Kristus adalah Imam Besar, dan Ia memiliki pakaian yang disebut efod, tali pengikat yang dipakai untuk memegang dan membawa kita melalui kemuliaan ilahi dan keelokan insani-Nya.

Dalam menyinggung efod, Keluaran 28:8 mengatakan, “Sabuk pengikat yang ada pada baju efod . . .” Istilah Ibrani yang diterjemahkan “sabuk pengikat” dapat juga diterjemahkan “efod”. Istilah Ibrani pengikat di sini sebenarnya merupakan bentuk verbal (kata kerja) efod. Jika kita menerjemahkannya secara harfiah, kita dapat menciptakan satu istilah baru “mengefodkan”. Namun, kita di sini menggunakan istilah mengikat, terjemahan lainnya menggunakan membebat. Ini adalah petunjuk lebih maju selangkah bahwa efod dipakai untuk mengikat, mengebat, merangkai. Sebagaimana telah kita ketahui, efod terdiri atas keilahian, jabatan raja, dan kesurgawian Kristus, penebusan, dan keinsanian-Nya yang halus. Karena itu, dalam efod ini kita melihat kemuliaan ilahi dan keelokan insani Kristus.

Ketika imam besar bersama para imam lainnya, ia memiliki kemuliaan ilahi dan keelokan insani, sehingga ia menjadi yang paling menonjol. Sebab hanya dialah yang memiliki efod dengan kedua tutup bahu dan tutup dada. Tak seorang pun dari para imam yang mengenakan efod. Efod adalah baju yang luar biasa mulia dan elok. Kalau hari ini ada seseorang mengenakan efod dengan tutup dada yang berisikan dua belas macam batu permata yang diikat dengan emas, pasti kita akan merasa ia sangat mencolok, menarik, dan elok. Baju yang demikian pasti jauh lebih mengesankan daripada seragam yang dikenakan seorang jendral berbintang lima dengan strip-strip dan dekorasi.

Adakalanya kita berdoa, “Tuhan, aku lemah, aku tak berdaya memegang-Mu. Tetapi Tuhan, aku tahu bahwa Engkau yang menggenggam aku.” Memang, Tuhan menggenggam Anda, tetapi mungkin Anda tidak memiliki pengalaman atas penjagaan-Nya, sebab di dalam Anda tidak ada pengenalan atas kemuliaan ilahi dan keelokan insani-Nya. Namun, semakin Anda merenungkan kemuliaan dan keelokan-Nya, Anda akan semakin terikat pada-Nya, dan Anda akan mempunyai perasaan dalam batin bahwa Anda aman.

IKATAN EMAS

Efod terbuat dari dua utas tali yang diikat bersama pada bahu. Ayat 7 menerangkan, “Haruslah ada pada baju efod itu dua tutup bahu yang disambung kepadanya, pada kedua ujungnyalah harus baju efod itu disambung.” Tali-tali bahu itu yang di bagian depan disambung dengan yang di belakang, maka tali-tali bahu memiliki kekuatan menyambung, kekuatan mengikat. Ikatan-ikatan emas yang memegang batu-batu krisopras terikat erat pada tali-tali bahu. Jadi, seluruh baju efod merupakan seperangkat pengikat. Pada atasnya terdapat dua tali bahu, tali-tali ini untuk menyambung kedua ujung baju efod dan juga untuk memegang ikatan emas untuk batu krisopras. Ini melukiskan bahwa Kristus hari ini penuh dengan kekuatan memegang dan kuasa mengikat, sebab Ia tersusun dari keilahian, kesurgawian, jabatan raja, penebusan, dan keinsanian.

Ayat 11 menyinggung ikatan emas: “Seperti buatan seorang pengasah permata, diukirkan seperti meterai, demikianlah harus kau ukirkan pada kedua permata itu nama para anak Israel; dililit dengan ikat emas harus kaubuat permata itu.” Istilah Ibrani yang diterjemahkan “ikatan” juga berarti usaha menjalin, ikatan-ikatan yang dijalin, atau ikatan dari benang emas yang halus (lihat ayat 13, 14, 25). Ikatan emas ini dapat diibaratkan bantalan yang dipakai tukang-tukang permata. Sebutir batu permata, misalnya berlian, memerlukan suatu ikatan supaya dapat dipasang baik-baik pada sebuah cincin emas. Ikatan emas untuk batu krisopras adalah ikatan jalinan atau lilitan benang emas yang halus; pekerjaan halus ini dibuat dari benang emas yang dijalin bersama menjadi suatu disain yang indah. Itulah ikatan yang memegang batu-batu permata tersebut.

Fakta bahwa ikatan-ikatan lilitan itu dari emas melambangkan bahwa hanya keilahian Kristuslah yang dapat memegang kita. Pada hakekatnya, kita dipegang (ditopang) oleh keilahian Kristus, oleh sifat ilahi-Nya. Karena kita telah dilahirkan kembali, maka kita mempunyai sifat ilahi ini (2Ptr. 1:4). Sekarang sifat ilahi ini menjadi kuasa yang memegang kita secara elok dan mulia.

Saya ingin mengatakan lagi bahwa cara Kristus menjaga kita bukanlah dengan cara seperti seorang gembala menggendong domba dalam kedua lengannya. Sebaliknya, kita ditopang oleh Kristus seperti batu-batu permata diikat di dalam bantalan lilitan benang emas. Meskipun kita tidak memiliki bahasa yang memadai untuk menguraikan perkara yang demikian, tetapi melalui pengalaman kita tahu bahwa kita ditopang (dipegang) oleh sifat ilahi Kristus dengan elok dan mulianya. Kita tidak hanya ditopang oleh kuasa Kristus, melainkan juga ditopang oleh sifat ilahi-Nya secara mulia dan elok.