← Daftar isi Sikap Kita terhadap Alkitab Cara untuk Menikmati Alkitab – dengan Membiarkan Firman Kristus Diam DI dalam Kita dengan Segala Kekayaannya · bab 8/24

TOPIK-TOPIK KUNCI ALKITAB (2) MANUSIA, KESELAMATAN, HAYAT YANG KEKAL, DAN KAUM IMANI

Pembacaan Alkitab

Why. 13:8; Kej. 3:15; 1 Yoh. 3:8; Gal. 3:16; 1 Ptr. 1:2;

1 Kor. 3:6-7; Rm. 12:2; Why. 14:15; Flp. 3:21; 1 Yoh. 1:2;

Ibr. 7:16; 1 Tim. 6:12; Mat. 28:19; Yoh. 3:5-6

2 Kor. 3:18; Rm. 8:15-11; Rm. 15:16.

Garis Besar

I. Manusia

A. Penciptaan manusia

1. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah

a. Mendapatkan manusia untuk mengekspresikan Allah

b. Mendapatkan manusia untuk melaksanakan kekuasaan Allah

2. Allah menempatkan manusia di depan pohon hayat supaya manusia menerima Dia sebagai hayat

B. Kejatuhan manusia

1. Langkah pertama kejatuhan

a. Sebabnya

1) Godaan si ular

2) Perempuan mengambil kekepalaan

b. Proses

c. Akibat

2. Langkah kedua kejatuhan

3. Langkah ketiga kejatuhan

4. Langkah keempat kejatuhan

II. Keselamatan

A. Janji Allah

1. Benih perempuan

2. Benih Abraham

B. Keselamatan di dalam tiga tahap

1. Tahap permulaan

2. Tahap kemajuan

3. Tahap penyelesaian

III. Hayat kekal

A. Definisi hayat kekal

B. Merebut hayat kekal

IV. Kaum imani

A. Baptisan kaum imani

B. Kelahiran ulang kaum imani

C. Pertumbuhan kaum imani

D. Fungsi kaum imani

I. MANUSIA

Alkitab bukan hanya sebuah kitab tentang Allah; juga kitab tentang manusia. Jika Anda mengambil/mengeluarkan Allah, Kristus, Roh Kudus, dan salib Kristus dari Alkitab, maka Alkitab itu akan menjadi sebuah kitab yang kosong. Demikian pula, tanpa manusia, tidak ada seorang yang berbicara bagi Allah di dalam Alkitab. Oleh karena itu, sebagaimana Allah dan Tuhan Yesus mempunyai tempat yang khusus di dalam Alkitab, demikian juga dengan manusia.

Di dalam Alkitab, ada banyak tulisan tentang manusia daripada tentang Allah. Jika kita ingin mengenal Allah, kita harus mempelajari Alkitab. Tidak ada kitab lain yang menggambarkan manusia secara menyeluruh seperti Alkitab. Oleh karena itu, supaya mengenal Alkitab, kita harus mengenal apa yang Alkitab katakan mengenai manusia.

A. Penciptaan Manusia

1. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah

Manusia bukan hanya mempunyai hayat ciptaan yang paling tinggi, melainkan juga ia dijadikan di dalam gambar Allah dan rupa Allah (Kej. 1:26-27). Di samping manusia, tidak ada ciptaan lain yang menyerupai Allah dalam gambar dan rupanya. Manusia adalah yang paling tinggi dari segala ciptaan Allah, dan ia diciptakan di dalam gambar dan rupa Allah. Di dalam penciptaan Allah, manusia adalah wadah yang terbaik yang dipersiapkan oleh Allah bagi rencanaNya. Di dalam rencanaNya, Allah menentukan bahwa manusia akan memiliki hayatNya supaya menjadi saudara-saudara dari PutraNya; oleh karena itu, di dalam penciptaanNya, Dia membuat manusia mempunyai gambar dan rupaNya.

Gambar mengacu kepada bagian-bagian yang di dalam, seperti, pikiran, emosi, dan tekad. Pikiran, emosi, dan tekad manusia, yang menyusun manusia yang tidak dapat diraba, diciptakan di dalam gambar Allah. Oleh karena itu, fungsi-fungsi dari pemikiran, opini, dan kasih manusia mirip dengan yang dari Allah.

Gambar Allah juga mengacu kepada karakteristik dari atribut-atributNya. Atribut-atribut Allah yang paling menyolok yang ternyata di dalam manusia adalah kasih, terang, kekudusan, dan kebenaran. Ketika Allah menciptakan manusia, Dia menciptakan manusia di dalam gambarNya, menurut atribut-atribut kebajikan-kebajikanNya, sehingga manusia dapat mengekspresikan Dia melalui kebajikan-kebajikan ini. Oleh karena itu, manusia memiliki kedambaan untuk mempunyai kasih, terang, kekudusan, dan kebenaran, dan kebajikan-kebajikan ini kadang-kadang terekspresi di dalam tingkah lakunya. Tetapi, apa yang manusia miliki, hanya gambar bukan realitasnya. Manusia harus menerima Allah sebagai hayat dan isinya dan kemudian kasih, terang, kekudusan dan kebenaran Allah akan mengisi dan memperkaya kebajikan-kebajikan kasih, terang, kekudusan, kebenaran manusia itu menjadi realitas.

Rupa mengacu kepada tubuh yang di luar yang menyusun manusia yang dapat diraba. Tubuh luar manusia diciptakan menurut rupa Allah. Allah memiliki rupaNya. Sebelum Allah berinkarnasi menjadi seorang manusia, Dia menampakkan Diri kepada orang-orang di dalam Perjanjian Lama dalam bentuk seorang manusia (Kej. 18:2, 16-17; Hak. 13:9-10, 17-19). Bentuk manusia adalah bentuk Allah, karena manusia diciptakan menurut rupaNya.

a. Mendapatkan Manusia untuk Mengekspresikan Allah

Tujuan utama penciptaan Allah terhadap manusia, satu manusia korporat, adalah untuk mengekspresikan Allah (Kej. 1:26-27). Allah tidak menciptakan banyak manusia-manusia. Allah menciptakan manusia itu secara kolektif di dalam satu orang, Adam. Oleh karena itu, di dalam Kejadian 1:26 Allah berfirman, "Supaya mereka"---satu manusia, tetapi kata gantinya adalah mereka. Ini membuktikan bahwa manusia ini adalah satu manusia korporat. Allah menciptakan satu manusia korporat di dalam gambar sendiri dan rupaNya sendiri supaya manusia dapat mengekspresikan Diri Allah.

b. Mendapatkan Manusia untuk Melaksanakan Kekuasaan Allah

Allah berfirman, "Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, supaya mereka berkuasa." Allah menciptakan satu manusia korporat untuk melaksanakan kekuasaanNya (Kej. 1:26-27). Kata kekuasaan mencakup lebih dari pada otoritas saja. Kekuasaan berarti mempunyai suatu kerajaan sebagai satu wilayah untuk melaksanakan otoritas. Manusia korporat ini memakai otoritas Allah untuk menanggulangi musuhNya, untuk memulihkan bumi dengan menaklukannya, dan untuk membawa masuk kerajaan Allah ke bumi (Kej. 1:26-28; 3:1; Why. 12:9).

2. Allah Menempatkan Manusia di Depan Pohon Hayat Supaya Manusia Menerima Dia sebagai Hayat

Setelah Allah menciptakan manusia, Dia tidak meletakkan hayat ilahi ke dalam manusia. Tetapi, Dia memberikan kepada manusia satu tekad yang bebas, Dia menghendaki manusia untuk melatih tekad yang bebas itu untuk memilih, mengambil hayatNya. Oleh karena itu, Dia menempatkan manusia di depan pohon hayat.

Supaya memberikan suatu kesempatan kepada manusia untuk memilih, Allah meletakkan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat di samping pohon hayat itu. Pohon hayat menunjukkan Allah sebagai sumber hayat; Pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat menandakan Setan sebagai sumber kematian. Dua pohon ini menandakan dua sumber di dalam alam semesta ini. Karena Allah itu besar, Dia mengijinkan manusia untuk memilih. Ini adalah menurut prinsip yang demikian bahwa, di taman Eden, Allah menempatkan Adam di depan dua pohon; Dia menghendaki manusia untuk memilih Dia, mengambil Dia sebagai hayat.

B. Kejatuhan Manusia

Setelah Allah menjadikan manusia, Dia menempatkan manusia di depan pohon hayat, supaya manusia dapat berkontak dengan pohon hayat dan menerima hayatNya yang adalah hayat yang tidak tercipta. Tetapi sebelum manusia dapat berkontak dengan pohon hayat itu dan bersatu dengan Allah di dalam hayat, Setan mengambil kesempatan untuk datang terlebih dulu.Ia menggoda manusia agar berkontak dengan pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, dan menyebabkan manusia memiliki persatuan yang tidak sah dengannya. Ini menjadi langkah pertama kejatuhan manusia.

Menurut catatan di dalam Kejadia 3 sampai 11, manusia mempunyai empat langkah kejatuhan. Langkah pertama kejatuhan Adam, tercatat di dalam pasal tiga; kedua adalah kejatuhan Kain, tercatat di dalam pasal empat; ketiga adalah kejatuhan angkatan yang bengkok dan tercela sebelum air bah, tercatat di dalam pasal enam; dan kejatuhan yang keempat adalah kejatuhan seluruh ras manusia yang bangkit secara serempak memberontak melawan Allah, tercatat di dalam pasal sebelas. Keempat langkah kejatuhan ini berkesinambungan satu dengan yang lainnya. Di dalam keempat langkah ini, kelicikan Setan ditelanjangi sampai pada puncaknya.

1. Langkah Pertama Kejatuhan

a. Sebabnya

1) Godaan Si ular

Setan datang menggoda manusia dalam bentuk seekor ular. Ia itu cerdik; ia datang secara diam-diam. Allah dengan jelas memerintahkan manusia, berkata," Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari memakannya pastilah engkau mati" (Kej. 2:17). Tetapi Setan berkata kepada perempuan itu, "Apakah Allah berfirman demikian?" Lagi, ia berkata," kamu tidak akan mati tentunya." Setan menyebabkan manusia meragukan perkataan Allah dan hatiNya. Tetapi, Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa langit dan bumi akan berlalu, tetapi firman Tuhan tidak akan berlalu (Luk. 21:33). Alkitab juga memberitahukan kepada kita bahwa Allah mengasihi manusia sampai pada kesudahannya (Yoh 13;1). Kita tidak boleh meragukan firman Allah dan hatiNya terhadap kita.

2) Perempuan Mengambil Kekepalaan

Penyebab lain dari kejatuhan manusia adalah perempuan itu mengambil kedudukan sebagai kepala (Kej. 3:2-3, 6). Asalnya, Allah hanya menciptakan satu manusia saja. Hanya ada satu kepala, bukan dua. Adam adalah kepala; sedangkan Hawa bukan. Hawa dibangun dari tulang rusuk Adam (Kej, 2:22). Kepala Hawa adalah Adam. Alasan mengapa Hawa digoda oleh lar itu adalah karena ia mengambil kedudukan sebagai kepala, membuat keputusannya sendiri, dan jatuh ke dalam jerat Setan. Bahkan sebelum ia makan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, ia sudah terjerat oleh si jahat. Ia melampaui laki-laki dan mengambil kekepalaan untuk menghadapi keadaan itu. Ini mengakibatkan dirinya tertipu. Oleh karena itu, Alkitab mengatakan bahwa Adam tidak tertipu, tetapi perempuan itu yang tertipu di dalam pelanggaran itu (1 Tim. 2:14).

Di sini kita melihat suatu prinsip yang besar. Di dalam alam semesta ini satu-satunya Kepala adalah Allah itu sendiri. Kapan saja kta mengambil kedudukan kepala dalam menghadapi segala keadaan, menolak kekepalaan Allah dan Kristus, kita akan tertipu.

Jalan yang paling baik untuk melawan godaan adalah menyeru Tuhan Yesus, yang adalah Kepala kita, dan mendoa-bacakan firmanNya kapan saja godaan itu datang. Tuhan akan mengalahkan Setan dan menjauhkannya dari kita. Kita perlu berpaling kepadaNya setiap saat.

b. Proses

Langkah pertama di dalam proses kejatuhan itu adalah kegagalan manusia untuk memakai rohnya. Setelah manusia diciptakan, ia seharusnya selalu memakai rohnya untuk berkontak dengan Allah dan hidup dihadapanNya. Ketika manusia hidup menurut roh, ia dijaga oleh Allah. Tetapi kapan saja manusia tidak memakai rohnya untuk berkontak dengan Allah, ia mengabaikan Allah dan mengesampingkan Allah; secara konsekwen, ia jatuh ke dalam tangan si jahat.

Langkah kedua adalah menggunakan sukmanya (Kej. 3:2, 3, 6). Ketika Hawa berbicara dengan ular itu, ia pertama-tama beralasan dalam pikirannya. Kemudian ia digoda dalam emosinya dan mendambakan buah pohon pengetahuan itu. Akhirnya, ia memutuskan dalam tekadnya untuk mengambil bukan itu dan memakannya.

Langkah ketiga adalah tindakan tubuh. Ketika sukma itu dipakai, tubuh akan secara alami mengikutinya. Sukma memerintah tubuh. Bila ia digoda dengan cara demikian, tentunya ia akan mengambil dan makan. Ia mengambil buah itu memakannya itu adalah tindakan dari tubuhnya. Pertama, mata melihat. Kedua, tangan mengambil. Ketiga, mulut memakan.

Di dalam penghidupan kita sehari-hari, pertama-tama kita harus menggunakan roh kita, dan membiarkan roh kita memerintah sukma kita, selanjutnya, memerintah tubuh kita. Jika kita tidak memakai roh kita tetapi memakai sukma kita sebagai penggantinya, kita mengambil kekepalaan dan sukma kita mengambil kedudukan sebagai kepala. Satu kali sukma mengambil kedudukan sebagai kepala, sukma itu akan memerintah tubuh untuk melakukan hal-hal yang melukai hati Allah.

c. Akibatnya

Akibat yang pertama dari kejatuhan itu adalah sukmanya dicemari, rusak, dan diduduki. Bahkan sebelum mengambil pohon pengetahuan itu, pikirannya telah dicemari. Sewaktu ia berbicara dengan si ular, konsep si ular itu merasuk pikirannya dan mengotorinya. Maka, pikirannya rusak. Akhirnya, pikirannya diduduki oleh si jahat sepenuhnya setelah ia memakan pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat itu.

Akibat yang kedua adalah bahwa tubuh berubah sifat, mempunyai elemen dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, elemen Setan, ditambahkan ke dalamnya, membuat tubuh itu menjadi daging (Kej. 3:7). Asalnya tubuh manusia yang diciptakan oleh Allah itu adalah murni. Tetapi sekarang tubuh itu mengandung elemen Setan yang jahat. Elemen yang jahat ini adalah dosa yang menghuninya yang membuat rumah di dalam daging manusia. Di dalam Roma 7:17 Paulus berkata, "Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku." Subsansi yang jahat ini, sifat dosa, telah mencemari tubuh kita, membuatnya menjadi daging, penuh akan kejahatan dan hawa nafsu.

Akibat yang ketiga adalah roh manusia mati, terisolasi dari Allah dan kehilangan fungsinya terhadap Allah. Efesus 2:5 memberitahu kita bahwa sebelum kita diselamatkan kita sudah mati. Kita bukan mati di dalam tubuh kita atau di dalam sukma kita, melainkan di dalam roh kita. Mati adalah tidak berfungsi atau berperasaan. Ketika roh manusia mati, manusia tidak mempunyai kemampuan lagi untuk mengontaki Allah dan bersekutu denganNya.

Akibat yang keempat adalah bahwa manusia yang jatuh itu tersusun menjadi seorang berdosa (Rm. 5:19). Karena kejatuhan manusia, sebuah elemen tertentu telah diinjeksikan ke dalam manusia, sebuah elemen yang Alkitab sebut dosa. Roma 5:12 berkata, "Sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang." Maka, kita semua telah tersusun menjadi orang-orang berdosa. Dosa telah masuk ke dalam kita dan menjadi elemen subyektif di dalam kita. Maka, kita bukan orang-orang berdosa karena kita berdosa; kita berdosa karena kita telah tersusun menjadi orang-orang berdosa.

Akibat yang kelima adalah bahwa manusia yang telah jatuh itu dihukum (Rm. 5:18). Kita semua ada di dalam Adam. Penghukuman itu buhan hanya Adam melainkan juga termasuk seluruh ras manusia. Seluruh ras manusia telah dihukum di dalam Adam.

Akibat yang keenam adalah bahwa kutukan masuk ke dalamnya (Kej. 3:17-19). Karena kejatuha seorang manusia, semua ciptaan ditaklukan kepada kesiasiaan, rintihan dan keluh kesah di bawah perbudakan kebinasaan (Rm. 8:20). Bumi ini terkutuk dan mengeluarkan onak dan duri. Lebih jauh lagi, dengan berkeringat pada wajahnya manusia akan mencari makanan sepanjang hidupnya. Inilah butir-butir kutukan yang masuk melalui kejatuhan manusia.

Akibat yang ketujuh adalah bahwa manusia itu diusir dari firdaus (Kej. 3:23-24). Firdaus adalah dunia hayat termasuk pohon hayat dan lingkungan di mana manusia dapat menerima hayat. Maka. diusir dari firdaus berarti dikeluarkan dari lingkungan hayat.

Akibat yang kedelapan adalah kematian (Kej. 3:19; Rm. 5:12). Pertama roh manusia mati, dan akhirnya tubuhnya akan mati. Karena pelanggaran Adam, dosa masuk ke dalam dunia demikian pula dengan kematian. Kematian memerintah semua manusia (Rm. 5:14). Oleh karena itu, di dalam Adam semua mati (I Kor. 15:22).

2. Langkah Kedua Kejatuhan

Iblis menyebabkan manusia jatuh lebih jauh. Habel mempersembahkan menurut jalan Allah, tetapi Kain menyajikan suatu persembahan kepada Allah menurut konsepnya sendiri, karena itu meninggalkan jalan Allah dan menciptakan agamanya sendiri. Kain menjadi marah di hadapan Allah tidak mendapatkan kehormatan karena persembahannya dan, di dalam kemarahannya, ia membunuh Habel. Setelah, itu ia berdusta kepada Allah dan sombong terhadap Allah. Kelihatannya Kain yang menolak kabar sukacita Allah; sebenarnya adalah Setan yang menjaganya dari jalan penyelamatan Allah dan menyebabkan ia jatuh lebih jauh (Kej. 4:3-9).

Sebagai akibat dari langkah kedua kejatuhan itu, Allah mengumumkan sebuah kutukan yang lebih besar: manusia akan mengerjakan tanah itu, tetapi tanah itu tidak akan menghasilkan panenan baginya untuk kekuatannya. Lebih jauh lagi, ia akan menjadi seorang pengembara di atas bumi ini, dan ia akan diusir dari hadirat Allah, tidak dapat melihat wajah Allah (Kej. 4:11b-12, 14).

Akhirnya, Kain dan keturunannya menciptakan sebuah kebudayaan yang tanpa Allah. Kebudayaan ini termasuk membangun sebuah kota bagi keberadaannya sendiri, menciptakan peternakan untuk kehidupannya, menciptakan musik untuk hiburan, dan menciptakan senjata untuk pertahanan (Kej. 4:17, 20-22). Manusia menyimpang lebih jauh lagi dari Allah, ia tidak memiliki kehadiranNya. Ini adalah akibat kejatuhan manusia.

3. Langkah Ketiga Kejatuhan

Di dalam langkah pertama kejatuhan, musuh Allah ada di luar manusia. Di dalam langkah kedua kejatuhan, musuh ini ada di dalam manusia. Sekarang, musuh itu mengambil langkah lain, yang menyebabkan manusia jatuh lebih jauh lagi.

Kejadian 6 memberitahu kita bahwa anak-anak Allah, malaikat-malaikat yang jatuh, kawin dengan anak-anak perempuan manusia. Perkawinan yang tidak sah ini menghasilkan daging. ( Di dalam Ayub 1:6 dan 2:1 kita diberitahu bahwa malaikat-malaikat itu disebut anak-anak Allah. Juga, Versi Syriac Perjanjian Lama menyebutkan "anak-anak Allah" sebagai "malaikat-malaikat" di dalam Kejadian 6. Malaikat-malaikat yang kawin dengan anak-anak perempuan manusia itu adalah mereka yang tidak menjaga kerajaan mereka, seperti yang tercatat di dalam Yudas 6 dan 7. Beberapa malaikat yang jatuh itu di bawah kekuasaan Setan turun ke bumi dan mengambil tubuh manusia. Mereka membentuk perkawinan yang tidak sah dengan anak-anak perempuan manusia. Mereka melakukan perzinahan melalui tubuh-tubuh manusia, sehingga ras manusia itu tidak lagi murni tetapi menjadi suatu percampuran sifat manusia dengan roh-roh jahat. Oleh karena itu, Allah memutuskan untuk menurunkan air bah untuk mengakhiri ras manusia itu.

Kejatuhan ini mengakibatkan penarikan Roh Kudus dari manusia (Kej. 6:3) dan penghancuran total semua daging kecuali Nuh dan keluarganya (Kej. 7:21).

4. Langkah Keempat Kejatuhan

Langkah keempat kejatuhan manusia yang dihasut oleh Setan adalah pemberontakan terbuka melawan Allah dan otoritasNya secara kolektif. Pertama, manusia bersekongkol untuk memberontak terhadap Allah (Kej. 11:3-4). Kedua, manusia membuat batu bata dengan tanah oleh tenaga kerja manusia. Menurut seluruh wahyu Alkitab, bangunan Allah tidak pernah dibangun dengan batu bata. Bangunan Allah adalah dengan batu-batu. Manusia membangun menara Babel dengan batu bata menggantikan batu-batu. Ini berarti bahwa manusia memakai tanh yang disalah gunakan ditambah dengan tenaga kerja manusia untuk menggantikan pekerjaan Allah. Ketiga, manusia membuat sebuah kota untuk mendapatkan kehidupan yang baik. Keempat, manusia membangun sebuah menara untuk menyatakan meninggalkan Allah, menolak Allah dan otoritasNya. Akhirnya, manusia membuat sebuah nama untuk menolak nama Allah, sekaligus menolak Allah sendiri. Pemberontakan ini meakibatkan Allah menceraiberaikan manusia dan mengacaukan bahasanya; maka, kekacauan masuk kedalamnya untuk menjauhkan manusia yang satu dengan yang lainnya.

Ketika manusia mencapai langkah keempat kejatuhan, ia telah jatuh sampai puncaknya, sehingga Allah tidak dapat melakukan sesuatu untuk memulihkan ras yang telah jatuh ini. Meskipun empat langkah kejatuhan ini terjadi di dalam kitab Kejadian, pengaruhnya mencapai seluruh Alkitab dan manusia hari ini. Sebagai alhasil, manusia sepenuhnya tidak berguna bagi Allah, tidak dapat menggenapkan tujuan bagi manusia yang diciptakan itu. Manusia tidak mempunyai hayat Allah untuk mengekspresikan Dia; maka, manusia tidak mempunyai otoritas Allah untuk mewakili Dia. Sebaliknya, manusia ada di bawah penguasaan Setan. Inilah keadaan manusia. Tetapi Allah masih mengasihi manusia dan ingin menyelamatkan manusia keluar dari keadaan yang kasihan ini.

II. KESELAMATAN

Di dalam rencana kekalNya, Allah berencana untuk menciptakan segala sesuatu dan mendapatkan manusia untuk menggenapkan tujuan kekalNya. Lebih jauh lagi, menurut pengetahuan dan tinjauan sebelumNya, yaitu menurut pengetahuan tentang kejatuhan manusia, Dia telah merencanakan untuk menebus manusia setelah kejatuhan itu. Penebusan Allah bukan merupakan suatu tambahan terhadap rencanaNya yang semula, atau suatu pemikiran untuk mengobati masalah, melainkan telah direncanakan dan dipersiapkan dari semula. Di dalam rencana kekal Allah, Dia telah menentukan sebelumnya bahwa setelah kejatuhan manusia, Kristus akan menggenapkan penebusan. Oleh karena itu, di dalam pandangan Allah, Kristus telah tersembelih sejak dunia dijadikan (Why. 13:8).

A. Janji Allah

Penebusan itu telah direncakan sebelumnya dan ditentukan sebelumnya oleh Allah. Oleh karena itu, sebelum penebusan itu datang, di dalam Perjanjian Lama Allah menjanjikan penebusan itu beberapa kali, dengan jelas diberitahukan sebelumnya aspek-aspek yang berbeda-beda dari penebusanNya.

1. Benih Perempuan

Setelah manusia berdosa dan jatuh, Allah segera datang berjanji kepada manusia bahwa benih perempuan itu akan datang. Ketika Dia datang, Dia akan meremukkan kepala Setan (Kej. 3:15). Meremukkan kepalanya adalah mematikannya.

Benih perempuan itu adalah Tuhan Yesus. Di antara seluruh ras manusia, hanya Dia yang lahir dari seorang perempuan (Gal. 4:4). Dia datang ke bumi untuk mematikan pekerjaan-pekerjaan Iblis (1 Yoh. 3:8), maka melalui kematian, Dia menghancurkan si Iblis (Ibr. 2:14).

Oleh karena itu, pada waktu kejatuhan manusia, Allah berjanji bahwa Kristus akan lahir dari seorang perempuan untuk menghancurkan Setan, yang menipu dan merusak manusia.

2. Benih Abraham

Kristus bukan hanya benih perempuan, melainkan juga benih Abraham (Kej. 13:15; 17:8; Gal. 3:16), seperti yang dilambangkan oleh Ishak. Pertama, Dia membawa berkat bagi bangsa-bangsa. Baik orang-orang Yahudi atau bangsa-bangsa kafir, semuanya akan diberkati di dalam Dia (Kej. 22:18a). Berkat itu adalah Roh itu. Melalui iman di dalam Kristus, kita telah menerima Roh itu (Gal. 3:14). Kedua, Dia dipersembahkan bagi Allah, diletakkan kepada kematian, dan bangkit (Kej. 22:1-2; Ibr. 11:17, 19). Ketiga, Dia akan mendapatkan mempelai perempuan (Kej. 24:67). Ini menggambarkan Kristus, sebagai yang dijanjikan oleh Allah, yang membawa berkat kepada bangsa-bangsa, bahkan dipersembahkan sampai mati, dan dibangkitkan. Setelah kebangkitan, Dia mendapatkan mereka yang telah Dia tebus untuk menjadi mempelaiNya (Yoh. 3:29; Why. 19:7).

B. Keselamatan di dalam Tiga Tahap

1. Tahap Permulaan

Keselamatan Allah Tritunggal yang penuh meliputi banyak butir di dalam tiga tahap. Tahap pertama, tahap permulaan, adalah tahap kelahiran ulang. Tahap ini terdiri dari penebusan, pengudusan (1 Ptr. 1:2; I Kor. 6:11), pembenaran, pendamaian, dan kelahiran ulang. Di dalam tahap ini, Allah telah membenarkan kita melalui penebusan Kristus (Rm. 3:24-26) dan melahirulangkan kita di dalam roh kita dengan hayatNya oleh RohNya (Yoh. 3:3-6). Oleh karena itu, kita telah menerima penyelamatan kekal Allah (Ibr. 5:9) dan hayat kekalNya (Yoh. 3:15), dan menjadi anak-anakNya (Yoh. 1: 12-13), yang tidak akan dihukum selama-lamanya (Yoh. 10:28-29). Keselamatan permulaan ini telah menyelamatkan kita dari penghukuman Allah dan dari hukuman kekal (Yoh. 3:18, 16).

2. Tahap Kemajuan

Tahap kedua keselamatan, tahap kemajuan, adalah tahap transformasi. Tahap ini terdiri dari kebebasan dari dosa, pengudusan (terutama penyisihan---Rm. 6:19, 22), bertumbuh dalam hayat, transformasi, pembangunan, dan kematangan. Di dalam tahap ini, Allah sedang membebaskan kita dari dosa yang menghuni kita---hukum dosa dan maut---oleh hukum Roh hayat, melalui khasiat kematian Kristus yang bekerja secara subyektif di dalam kita (Rm. 6:6-7; 7:16-20; 8:2). Dia sedang menguduskan kita dengan Roh KudusNya (Rm. 15:16), dengan sifat kudusNya, melalui pendisiplinanNya (Ibr. 12:10) dan penghakimanNya di dalam rumahNya sendiri (1 Ptr. 4:17). Dia sedang membuat kita bertumbuh dalam hayatNya (1 Kor. 3:6-7) dan mentransformasi kita dengan memperbaharui bagian-bagian dalam sukma kita olah Roh pemberi hayat (2 Kor. 3:6, 17-18; Rm. 12:2; Ef. 4:23) melalui pekerjaan segala sesuatu ( Rm. 8:28). Dia sedang membangun kita semua ke dalam suatu rumah yang menjadi tempat tinggalNya (1 Pet. 2:5; Ef. 2:22) dan mematangkan kita dalam hayatNya (Why. 14:15) bagi kelengkapan keselamatanNya yang penuh. Oleh karena itu, kita sedang dibebaskan dari kuasa dosa, dunia, daging, sgo, sukma (hayat alamiah), dan individualisme ke dalam kematangan dalam hayat ilahi bagi penggenapan tujuan kekal Allah.

3. Tahap Penyelesaian

Tahap ketiga, tahap penyelesaian, adalah tahap perampungan. Tahap ini terdiri dari penebusan (transfigrasi) dari tubuh kita, diserupakan dengan Tuhan, pemuliaan, mewarisi kerajaan Allah, berbagian di dalam kekerajaan Kristus, dan kenikmatan akan Tuhan yang paling top. Di dalam tahap ini, Allah akan menebus tubuh kita yang telah jatuh dan rusak (Rm. 8:23) dengan mentrasfigurasikannya ke dalam tubuh Kristus mulia (Flp. 3:21). Dia akan menyerupakan kita kepada kemulian gambar Putra sulungNya (Rm. 8:29), membuat kita kudus dan benar-benar serupa denganNya di dalam roh kita yang telah dilahirulangkan, sukma yang telah ditransformasi, dan tubuh yang telah diransfigurasi. Dia akan memuliakan kita (Rm. 8:30), menyelamkan kita ke dalam kemuliaanNya (Ibr. 2:10) sehingga kita dapat masuk ke dalam kerajaan SorgawiNya (2 Tim. 4:18; 2 Ptr. 1:11), ke dalam tempat di mana Dia telah memanggil kita ( 1 Tes. 2:12). Dia akan membuat kita mewarisi kerajaanNya sebagai porsi berkatNya yang paling top (Yak. 2:5; Gal. 5:21), bahkan memerintah dengan Kristus, menjadi raja-rajaNya, berbagian di dalam kekerajaanNya memerintah bangsa-bangsa (2 Tim. 2:12; Why. 20:4, 6; 2:26-27; 12:5), dan berbagian dengan sukacita kerajaanNya yang berlimpah di dalam pemerintahan ilahiNya (Mat. 25:21, 23). Oleh karena itu tubuh kita akan dibebaskan dari perbudakan kebinasaan ciptaan lama ke dalam kemerdekaan kemuliaan ciptaan baru (Rm. 8:21), dan sukma kita akan dibebaskan dari dunia kesulitan dan penderitaan (1 Ptr. 1:6; 4:12; 3:14; 5:9) ke dalam suatu dunia yang baru, yang penuh akan kemuliaan ( 1 Ptr. 4:13; 5:10), berbagian dan menikmati semua yang sedang, telah dan akan dirampungkan, dicapai dan didapat oleh Allah Tritunggal. Inilah keselamatan, keselamatan sukma kita, yang telah siap untuk diwahyukan kepada kita pada waktu terakhir ini, kasih karunia yang dibawa kepada kita pada waktu Kristus dinyatakan di dalam kemuliaan (1 Ptr. 1:13; Mat. 16:27; 25:31). Ini adalah akhir dari iman kita. Kuasa Allah dapat membawa kita kepada hal itu sehingga kita dapat mendapatkannya (I Pet. 1:9). Kita harus benar-benar mengharapkan keselamatan yang ajaib ini (Rm. 8:23) dan mempersiapkan diri kita bagi keselamatan yang baik sekali ini (Rm. 8:19).

III. HAYAT KEKAL

A. Definisi Hayat Kekal

Banyak orang Kristen memegang konsep bahwa hayat kekal adalah suatu berkat yang diberikan kepada kaum imani, di mana mereka dapat pergi ke suatu rumah sorgawi untuk menikmati suatu kehidupan yang lebih baik. Ketika saya berada di dalam Kekristenan, tidak ada seorangpun yang memberitahu kepada saya bahwa hayat kekal itu bukanlah suatu berkat, tetapi itu adalah hayat yang sederhana. Di dalam tubuh fisik kita kita mempunyai suatu hayat biologis (bios), dan di dalam sukma kita kita mempunyai suatu hayat psikologis (psuche). Kita memiliki kedua jenis hayat ini sebelum kita diselamatkan. Tetapi ketika kita diselamatkan, kita menerima hayat yang lain, yaitu hayat yang kekal (zoe).

Hayat yang kekal ini adalah hayat yang bukan hanya abadi melainkan juga kekal baik di dalam waktu maupun sifatnya (Yoh. 3:16, 36; I Yoh. 1:2). Hayat ini tidak terbatas di dalam waktu dan sifatya; oleh karena itu hayat ini adalah kekal.

Hayat yang kekal ini adalah hayat Allah yang tidak tercipta (Ef. 4:18), hayat yang tidak dapat binasa (Ibr. 7:16), dan hayat yang tidak dapat dirusak (2 Tim. 1:10). Mengenai definisi dari hayat kekal ini, saya menerima banyak bantuan melalui tulisan-tulisan dari Watchman Nee, Mary McDonough, Ruth Paxson, dan T. Austin-Sparks. Melalui tulisan-tulisan mereka, saya dapat mengenal bahwa dilahirulangkan adalah dengan sederhana menerima Allah ke dalam kita sebagai hayat kita, menerima suatu hayat yang ilahi, suatu hayat yang berbeda dengan hayat insani kita.

Hayat yang kekal ini adalah hayat yang ada di dalam Putra Allah dan hayat itu adalah Putra Allah (1 Yoh. 5:11-12; 1:2; Yoh. 14:6). Hayat ini bukan hanya di dalam Putra Allah, melainkan hayat ini adalah Putra Allah itu sendiri.

Hayat yang kekal ini adalah hayat yang ada bersama-sama dengan kaum imani yang telah dilahirulangkan dan yang menjadi hayat kaum imani (Kol. 3:4a), yang menjadikan kaum imani itu anak-anak Allah (Yoh. 1:12-13) dan anggota-anggota Kristus (Ef. 5:30).

B. Merebut Hayat Kekal

Di dalam 1 Timotius 6:12 rasul Paulus menasihatkan kepada kita untuk merebut hayat yang kekal ini.

Perjanjian Baru mengajar kita bahwa hayat yang kekal mempunyai tiga tahap, dan ketiga tahap ini ada di dalam tiga jaman---jaman sekarang, jaman gereja; jaman yang akan datang, jaman kerajaan; dan jaman kekekalan, di dalam langit baru dan bumi baru dengan Yerusalem Baru sebagai sentral. Di dalam jaman yang pertama, jaman gereja, kita menerima hayat yang kekal. Maka, hayat yang kekal itu menjadi hayat kita, dan kita menikmati hayt ini dan hidup olehnya. Di dalam jaman gereja, jaman itu adalah suatu perkara menerima hayat yang kekal, tetapi di dalam jaman berikutnya, jaman kerajaan, hayat yang kekal itu bukanlah bagi orang-orang untuk menerimanya, melainkan untuk masuk ke dalamnya. Di dalam Matius 25:46, mereka yang ada di antara bangsa-bangsa yang dihakimi oleh Tuhan Yesus menjadi "domba" akan masuk ke dalam hayat yang kekal di dalam jaman kerajaan. Maka, di jaman yang akan datang hayat yang kekal itu akan menjadi suatu alam bagi orang-orang yang masuk ke dalamnya. Di jaman itu hayat yang kekal itu akan diberikan sebagai suatu pahala. Di jaman ini hayat kekal ini diterima sebagai suatu karunia yang cuma-cuma bagi kita (Rm. 6:23b), tetapi di jaman yang akan datang hayat kekal itu akan menjadi milik kita agar kita masuk ke dalamnya, bukan sebagai suatu karunia yang cuma-cuma melainkan sebagai suatu pahala. Pahala ini akan dikaruniakan kepada kaum imani yang menang dan kepada "domba" di dalam Matius 25 yang membayar harga untuk memelihara saudara-saudara Kristus selama masa kesukaran besar. Kemudian, di dalam jaman kekekalan, yaitu di dalam langit baru dan bumi baru dengan Yerusalem Baru sebagai sentral, hayat kekal itu akhirnya akan menjadi karunia yang telah rampung bagi semua umat tebusan Allah untuk memanifestasikan Allah Tritunggal sampai selama-lamanya.

Perkara kaum imani telah dihasilkan itu adalah oleh hayat kekal ini dan di dalam hayat kekal ini. Hayat kekal ini penting untuk memproduksi kaum imani dan membangun Tubuh Kristus yang organik.

IV. KAUM IMANI

A. Baptisan Kaum imani

Kaum imani itu tripartit terdiri dari roh, sukma, dan tubuh (1 Tes. 5:23). Kaum imani ditebus, dibenarkan, dan diperdamaikan dengan Allah di dalam Kristus (Rm. 3:24; 5:10a). Kita bukan hanya telah diselamatkan; kita telah ditebus, dibenarkan, dan diperdamaikan dengan Allah di dalam Kristus. Kaum imani telah dibaptiskan masuk ke dalam Allah Tritunggal untuk mendapatkan suatu perpaduan organik dengan Allah Tritunggal yang telah terproses (Mat. 28:19). Di dalam Pelajaran-pelajaran Firman dalam Perjanjian Barunya, M. R. Vincent, menulis pada Matius 28:19, berkaya, "Baptislah masuk ke dalam nama Trinitas Kudus menunjukkan suatu perpaduan yang rohani dan misteri dengan Dia." Pemikiran yang demikian, wahyu yang demikian, telah hilang di dalam keKristenan. Baptisan adalah membaptis kita ke dalam Allah Tritunggal agar kita mendapatkan suatu perpaduan yang organik dengan Allah Tritunggal yang telah terproses.

B. Kelahiran Ulang Kaum Imani

Kaum imani dilahirulangkan di dalam roh mereka oleh Roh itu (Yoh. 3:5-6) dengan hayat ilahi, yaitu Kristus (Kol. 3:4a), menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12-13), mempunyai sifat ilahi (2 Ptr. 1:4b), dan menjadi anggota-anggota Kristus (Rm. 12:5) di dalam perpaduan hayat ilahi. Kelahiran ulang terjadi di dalam roh kita. Kelahiran ulang itu dilaksanakan oleh Roh itu dengan hayat ilahi, dan kelahiran ulang itu membuat kita, pertama, anak-anak Allah, dan kemudian, anggota-anggota Kristus. Kaum imani telah disalibkan dengan Kristus, manusia lamanya telah diakhiri (Gal. 2:20; Rm. 6:6). Kaum imani memiliki penghidupan Kristus di dalamnya sebagai Kristus yang pneuma, Roh it, yang menghuni mereka (Rm. 8:11).

C. Pertumbuhan Kaum Imani

Kaum imani telah dikuduskan secara posisi oleh darah Kristus (Ibr. 13:12) dan telah dikuduskan di dalam karakter oleh Roh itu (Rm. 15:16; 6:19, 22), sehingga mereka dapat diperbaharui, ditrasformasi di dalam sukma mereka (Rm. 12:2a; 2 Kor. 3:18), diserupakan kepada gambar Putra sulung Allah (Rm. 8:29), dan dimuliakan (ditebus) tubuhnya (Rm. 8:23) di dalam kemuliaan Allah Tritunggal yang telah terproses (Rm. 8:30, 17-18). Meskipun kaum imani telah dilahirulangkan di dalam roh mereka, sukma dan tubuh mereka tetap usang. Maka, kaum imani perlu diperbaharui, ditransformasi di dalam sukma mereka, diserupakan kepada gambar Putra sulung Allah, dan dimuliakan tubuhnya di dalam kemuliaan Allah Tritunggal yang telah terproses. Kaum imani itu tripartit terdiri dari roh, sukma, dan tubuh. Pertama, roh mereka dilahirulangkan, kemudian, sukma mereka ditransformasi, dan akhirnya, tubuh mereka akan dimuliakan. Sehingga, seluruh diri kaum imani itu akan dijenuhi dengan hayat Allah yang sempurna. Hayat Allah adalah suatu hayat yang agung dan keagungan itu adalah kemuliaan hayat ilahi. Ketika kita diserap, dijenuhi, dan dibasahi dengan hayat ilahi yang agung itu, kita akan berada di dalam kemuliaan. Kaum imani dijenuhi dengan dispensasi Trinitas ilahi di dalam tripartitnya (Rm. 8:5-11). sehingga mereka dibaurkan dengan Allah Tritunggal yang telah terproses. Kaum imani disatukan dengan Tuhan sebagai satu roh (I Kor. 6:17).

D. Fungsi Kaum Imani

Kaum imani adalah ranting-ranting dari Kristus sebagai pohon anggur, organisme Allah Tritunggal, untuk mengekspresikan Allah Tritunggal yang telah terproses di dalam menghasilkan buah bagi pertambahan Kristus (Yoh. 15:1-5, 8, 16). Sebagai ranting-ranting Kristus, kaum imani harus memperhidupkan suatu kehidupan yang menghasilkan buah bagi pertambahan Kristus. Kaum imani itu adalah imam-imam Injil Perjanjian BaruNya untuk mempersembahkan orang-orang berdosa yang diselamatkan sebagai persembahan-persembahan bagi Allah (Rm. 15:16; 1 Pet. 2:5, 9). Sebagai imam-imam Allah, kaum imani harus mempunyai suatu pelayanan menyelamatkan orang-orang berdosa untuk mempersembahkan korban-korban bagi Allah.

Pertanyaan dan Latihan

1. Apakah yang membuat manusia menjadi begitu istimewa diantara ciptaan Allah?

2. Apakah empat tahap kejatuhan dan apakah yang menyebabkan masing-masing tahap itu? Bagaimanakah keadaan manusia setelah kejatuhan itu?

3. Apakah yang dijanjikan oleh Allah kepada manusia yang jatuh?

4. Apakah tiga tahap keselamatan itu? Berikan contohnya masing-masing.

5. Apakah tiga tahap hayat yang kekal?

6. Diskusikan dengan teman-teman Anda mengenai perbedaan antara kaum imani dengan manusia yang jatuh pada umumnya. Apakah perbedaan kedua garis ini dalam Alkitab?