← Daftar isi 1 dan 2 Tawarikh · bab 11/13

MEMPERHIDUPKAN KRISTUS BAGI EKSPRESI ALLAH

Pembacaan Alkitab: Kel. 20:1-17; 25:16; Kol. 1:15; Rm. 8:4

Dalam berita ini saya ingin memberikan stu perkataan atas hukum Taurat sebagai kesaksian Allah dan sebagai lambang Kristus dan atasnya bagaimana hukum Taurat berkaitan dengan ekonomi Perjanjian baru Allah.

HUKUM ALLAH

Contoh raja-raja Yehuda memperlihatkan bahwa Allah perlu orang di bumi supaya Dia dapat berinkarnasi dalam keinsanian. Allah juga perlu tanah untuk umat-Nya supaya Dia dapat membenetuk satu bangsa untuk mendirikan kesaksian-Nya. Kesaksian ini didirikan menurut hukum Allah.

Kita perlu mengenal apakah hukum Allah. Beberapa orang Kristen fundamental mengatakan bahwa hukum Allah terutama terdiri dari Sepuluh Perintah (Kel. 20:1-17), yaitu, hukum moral. Namun, Sepuluh Perintah dengan peraturan dan ketetapannya mengisi hanya beberapa pasal, Keluaran 20–24. Namun, hukum Allah bukan saja mengisi pasal-pasal ini tetapi semua pasal dari Keluaran 20 sampaia akhir Imamat. Kemudian sisa hukum Allah? Sisa hukum Allah adalah hukum upacara. Dari sini kita nampak bahwa hukum Allah terdiri dari hukum moral (Kel. 20–24) dan hukum upacara (Kel. 25–Im. 27).

HUKUM MORAL

Hukum moral termasuk Sepuluh Perintah dengan peraturan dan ketetepannya. Lima perintah pertama berhubungan dengan Allah dan orang tua kita. Tiga perintah pertama secara langsung memperhatikan Allah; keempat memperhatikan hari Sabat Allah; dan kelima memperhatikan orang tua kita. Kemudian lima terakhir dari Sepuluh Perintah berhubungan dengan hubungan kita dengan satu dengan yang lain. Inilah perintah untuk jangan membunuh, jangan berzina, jangan, mencuri, jangan mengemban kesaksian palsu terhadap orang lain, jangan mengingini. Perintah-perintah, atau hukum-hukum ini, adalah singkat, tetapi mereka mencakup segala sesuatu mengenai hubungan kita dengan satu dengan yang lain. Akhirnya, hukum moral, Sepuluh Perintah, menjadi dasar hukum sipil dari banyak bangsa. Sebagai contoh, hukum Roma, yang telah tercopy di seluruh dunia, berdasarkan lima terakhir dari Sepuluh Perintah.

PERINTAH YANG BEHUBUNGAN DENGAN MENGINGINI BERHUBUNGAN DENGAN PERKARA BATINI

Mari kita memperhatikan perintah yang berhubungan dengan mengingini. Dalam Filipi 3:6 Paulus berkata bahwa tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat, dia tidak bercacat. Tetapi dalam Roma 7 dia mengakui tidak mampu melakukan hukum Taurat sehubungan dengan iri hati. ‘‘Aku aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: Janganlah mengingini! Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan’’ (ay. 7b-8a). Paulus dapat melaksanakan perintah tentang jangan membunuh, berzina, mencuri, dan mengemban saksi palsu, sebab empat hal ini adalah perkara perilaku luaran. Namun, perintah jangan mengingini berhubungan dengan perkara batini, dan Paulus tidak dapat melakukannya dari jangan mengingini.

Dapatkah Anda berkata bahwa Anda tidak pernah mengingi segala sesuatu? Ketika Anda seorang pelajar, Anda mungkin melihat seseorang pen yang bagus, adan segera Anda menginginkanya, damba memilikinya. Bahkan dalam hidup keluarga kita kita mungkin mengingini hal tertentu. Andakata anggota keluarga besar memiliki hidangan cuci mulut selehan makan sore. Setiap anak diberi sepotong kue keju. Seorang anak mungkin melihat kue keju diberikan kepada anak yang lain dan kemudian mengeluh bahwa bagiannya terlalu kecil dan dia bertanya kenapa tidak dikasih bagian yang paling besar. Ini adalah mengingini. Tidak seorang pun dari kita dapat berkata bahwa kita tidak pernah mengingini segala sesuatu.

HUKUM TAURAT ADALAH FOTO ALLAH

Sepuluh Perintah disebut kesaksian Allah (Kel. 25:16). Sebagai kesaksian Allah, Sepuluh Perintah adalah gambar, foto Allah. Kita dapat berkata bahwa fhukum Taurat adalah foto Allah.

Satu fakta hukum selalu adalah gambaran dari orang yang membuatnya. Sebagai contoh, jika perampok-perampok bank membuat hukum, mereka sesungguhnya mau mendirikan hukum untuk membuatnya sah merampok bank. Demikian juga, jika orang jahat memiliki untuk Senat Amerika Serikat, mereka akan membuat hukum kejahatan, kedosaan. Hukum kejahatan menjadi foto apa adanya orang jahat itu. Sebaliknya, orang yang baik mendirikan hukum kebaikan.

Hukum Allah adalah foto Allah. Setelah teliti mempelajari lima terakhir dari Sepuluh Perintah, kita harus melihat bahwa lima perintah ini berdasarkan empat atribut Allah: kasih, terang, kekudusan, dan kebenaran. Atribut-atribut ini berdasarkan pada hukum Allah yang ditetapkan. Semakin kita memperhatikan hukum Allah, semakin kita menyadari bahwa pembuat hukum ini, pembuat undang-undang ini, harus menjadi Orang yang penuh kasih dan terang, Orang yang kudus dan benar.

Karena hukum adalah foto Allah, gambar Allah, hukum ini disebut kesaksian Allah. Tabut yang di dalamnya hukum Taurat ditempatkan disebut tabut kesaksian (Kel. 25:22).

HUKUM TAURAT ADALAH LAMBANG KRISTUS

Berdasarkan fakta bahwa hukum Taurat adalah kesaksian Allah, gambar Allah, kita dapat mengatakan bahwa hukum Tauarat juga lambang Kristus. Bagaimana dapat hukum Taurat menjadi lambang Kristus? Hukum Taurat adalah lambang Kristus karena Kristus adalah foto Allah, gambar Allah (Kol. 1:15).

HUKUM TAURAT BERKAITAN DENGAN EKONOMI ALLAH

Sekarang kita perlu melihat bagaimana hukum Taurat dikaitkan dengan ekonomi Allah. Dalam mempelajari kitab-kitab sejarah dalam Perjanjian Lama, kita perlu belajar bagaimana kaitan kitab-kitab ini dengan ekonomi Allah. Dalam ekonomi-Nya, Allah memilih Israel, menetapkan mereka sebagai satu umat, membentuk mereka sebagai satu bangsa, dan memberi mereka hukum Taurat. Bagaimana kita dapat mengkaitkan hukum ini dengan ekonomi Allah? Ekonomi Allah adalah Allah menjadi manusia supaya manusia menjadi Allah dalam hayat dan sifat (tetapi bukan dalam ke-Allahan) untuk menghasilkan Tubuh Kristus yang organik, yang akan rampung dalam Yerusalem Baru. Kristus adalah inti, realitas, dan sasaran ekonomi Allah. Hukum Taurat kelihatannya tidak memiliki sesuatu yang dikerjakan dengan ekonomi ini. Kemudian bagaimana dapat hukum Taurat dikaitkan dengan ekonomi Allah? Hukum Taurat dikaitkan dengan ekonomi Allah karena hukum Taurat diberikan sebagai foto Allah, gambar Allah, dan kesaksian Allah. Sebagai kesaksian Allah, hukum Taurat adalah lambang Kristus, yang adalah gambar Allah, foto Allah, kesaksian Allah.

MEMELIHARA HUKUM TAURAT ADALAH UNTUK EKSPRESI ALLAH

Allah memerintahkan Israel untuk memelihara hukum Taurat. Dalam perlambangan, memelihara hukum Taurat berarti untuk mengekspresikan Allah. Memelihara hukum Taurat dengan tidak membunuh, tidak berzina, tidak mencuri, tidak berdusta, dan tidak mengingini adalah kehidupan manusia-Allah. Mereka yang memiliki kehidupan manusia-Allah mengemban gambar Allah. Mereka adalah foto Allah dan bahkan duklikat Allah.

Situasi dunia hari ini sema sekali berbeda dari ini. Dalam dunia kita nampak tidak memperhidupkan manusia-Allah tetapi membunuh, berzina, mencuri, berdusta, dan mengingini. Siapa yang beritahukan kebenaran hari ini? Adalah umum untuk seorang berdusta dalam persidangan supaya mendapatkan uang dan kemudian bangga untuk dustanya. Banyak orang berlomba dengan orang lain dalam usaha maupun sekolah karena mereka iri hati. Semua orang yang bersaing adalah iri hati. Beberapa orang bahkan membunuh untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Karena itu, daripada penuh dengan manusia-Allah, bumi penuh ‘‘kalajengking.’’

MENEMPUH KEHIDUPAN SEORANG MANUSIA-ALLAH DALAM HIDUP PERNIKAHAN KITA DAN HIDUP GEREJA

Mari kita sekarang memperhatikan situasi dalam pemulihan. Kita semua adalah kaum beriman. Kita percaya kepada Tuhan Yesus. Kita telah bertobat dan datang kembali kepada Tuhan, dan kita telah diselamatkan, bahkan diselamatkan secara dinamik. Namun dalam hidup kita setiap hari kita mungkin tidak memiliki kehidupan seorang manusia-Allah.

Kita telah menekankan bahwa agar bani Israel memelihara hukum Taurat adalah memperhidupkan Allah dan mengekspresikan Allah. Namun demikian, mereka tidak memelihara hukum Taurat, dan karena itu mereka tidak memperhidupkan Allah dan mengekspresikan Allah. Situasi yang sama dengan kita hari ini. Untuk banyak bagian, kita tidak mengekspresikan Allah dalam kehidupan kita setiap hari.

Kita perlu memiliki kehidupan manusia-Allah dalam hidup pernikahan kita. Jika saudara yang menikah mau menempuh kehidupan manusia-Allah dalam hidup pernikahannya, dia harus benar-benar menjadi suami yang baik, karena dia mau menjadi manusia-Allah yang sejati dalam mengasihi istrinya. Demikian juga, jika seorang saudarai yang menikah mau menempuh kehidupan manusia-Allah dalam hidup penikahannya, ia harus menjadi istri yang baik, tunduk kepada suaminya.

Kita juga perlu memiliki kehidupan manusia-Allah dalam hidup gereja, khususnya dalam hubungan dengan apa yang kita sebut kelompok vital. Dapatkan kita memiliki kelompok vital jika kita sendiri tidak vital? Ini tidak mungkin. Andaikata pada makan sore seorang saudara dan istrinya tidak bergembira satu sama lain. Mereka bahkan bersilat kata dan bertengkar untuk waktunya lama. Dengan segera mereka mengingat bahwa malam harus menghadiri sidang kelompok vital mereka. Tetapi dapatkah pasangan ini menjadi vital dalam sidang? Karena mereka tidak vital di rumah dalam hidup pernikahannya, mereka tidak memiliki jalan menjadi vital dalam sidang.

KITA PERLU BAGI KEBANGUNAN YANG SEJATI

Karena kita kurang memperhidupkan manusia-Allah, kita perlu kebangunan sejati. Bani Israel hanya memiliki hukum luaran, tetapi hari ini kita memiliki sesuatu yang sangat kuat dan lebih tinggi dibandingkan hukum Taurat. Kita memiliki Roh yang almuhit, pemberi hayat, majemuk, dan rampung di dalam kita, yang adalah suplai limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus (Flp. 1:19). Kita perlu memperhidupkan Kristus melalui suplai limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus (ay. 20-21a).

Kita memiliki Roh yang demikian di dalam kita, tetapi apakah kita menempuhnya dan bagimana kita menempuhnya? Apakah kita memperhidupkan Kristus? Dalam sidang-sidang gereja kita mungkin memperhidupkan Kristus, tetapi apakah kita memperhidupkan Kristus di rumah dengan suami atau istri kita dan dengan anak-anak kita? Kita perlu kebangunan sejati menjadi manusia-Allah yang menempuh kehidupan yang selalu menyangkal diri kita dan disalibkan untuk memperhidupkan Kristus untuk mengekspresikan Allah.