← Daftar isi Hayat yang Diperlihatkan dalam Kejadian Pasal Satu · bab 9/16

NAFAS HAYAT

Pembacaan Alkitab :

Kej. 2:7; Yeh. 37:1-14, 26-28; Yoh. 20:22; 3:8; Kis. 2:2, 4;

2 Tim. 3:16; Why. 11:11; 2 Tes. 2:8

MAKANAN DALAM AIR DAN AIR DALAM UDARA

Dalam pasal-pasal sebelumnya, kita telah melihat bahwa Tuhan adalah suplai hayat kita, sebagai air untuk kita minum dan sebagai makanan untuk kita makan. Kita juga telah melihat bahwa makanan berada di dalam air. Yesaya 55 memberi tahu kita, ketika kita datang kepada air, kita makan. Pohon kehidupan sebagai makanan tumbuh di dalam sungai air kehidupan. Karena itu, jika kita mau makan pohon kehidupan, kita harus datang kepada air kehidupan. Kita harus datang kepada air untuk mendapatkan makanan kita. Yesaya 55:1 memberi tahu kita, ketika kita datang kepada air, kita makan, dan kita "membeli anggur dan susu tanpa uang dan tanpa bayaran." Sulit untuk mengatakan apakah susu itu merupakan air atau makanan, karena susu adalah makanan di dalam air. Anggur, prinsipnya sama seperti susu; anggur adalah makanan di dalam air. Anggur dibuat dari buah anggur, yang merupakan makanan. Pada saat buah anggur itu menjadi anggur, ia adalah makanan di dalam air.

Makanan itu berada dalam air, dan air itu berada dalam udara. Ketika air menjadi uap, ia masuk ke dalam udara. Udara mengirim air ke bumi dalam bentuk hujan, air di bumi menguap dan kembali ke udara. Ada alat yang disebut penguap yang mengubah air menjadi uap untuk pernafasan. Setelah beberapa waktu, air di dalam alat penguap tersebut menjadi udara. Jika kita tinggal di dalam sebuah ruangan yang menggunakan alat penguap, kita akan menghirup udara dan mendapatkan air, karena air berada di dalam udara.

Kejadian 2:5-6 mengatakan, "Belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang; sebab Tuhan Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu; tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu." Kabut yang naik ke atas dari bumi adalah uap. Tanaman bertumbuh untuk menghasilkan makanan karena diairi, dan air berasal dari udara. Udara mengirim air, dan air menghasilkan makanan. Dalam Yehezkie147 kita melihat bahwa pada kedua sisi sungai tumbuh pepohonan untuk makanan. Air sungai itu menawarkan laut Asin dan menghasilkan banyak ikan. Air itu juga mengairi padang gurun, mengubahnya menjadi mata air anak-anak kambing dan anak-anak sapi. Pepohonan, ikan, dan ternak adalah untuk makanan. Makanan ini berasal dari air, dan air berasal dari udara.

Jika kita ingin mendapatkan makanan, kita harus pergi kepada air. Jika kita mau mendapatkan air, kita memerlukan udara. Jika kita mau makan, kita harus minum. Jika kita mau minum, kita harus bernafas. Ketika kita menghirup udara, kita mendapatkan air. Selanjutnya, di dalam air kita mendapatkan makanan.

Pada akhirnya, udara adalah nafas, dan dalam Alkitab, nafas adalah Roh itu. Baik dalam bahasa Ibrani maupun dalam bahasa Yunani, istilah untuk "Roh" sama dengan istilah untuk "nafas". Istilah Yunani untuk Roh adalah pneuma, dan istilah Ibrani untuk Roh adalah ruach. Dalam Yehezkiel 37 istilah Ibrani ini diterjemahkan menjadi tiga kata: Roh, nafas, dan angin. Pada catatan pinggir versi American Standard untuk teks tersebut diberi suatu keterangan bahwa nafas dapat diterjemahkan menjadi Roh (ay. 5), angin dapat diterjemahkan menjadi nafas (ay. 9), dan nafas dapat diterjemahkan menjadi angin atau Roh (ay. 9).

Makanan berada di dalam air, air berada di dalam udara, udara adalah nafas, nafas adalah Roh, dan Roh itu adalah Allah. Yohanes 4:24 memberi tahu kita bahwa Allah adalah Roh. Esens Allah adalah Roh. Sama seperti kayu yang merupakan esens sebuah meja, Roh adalah esens ilahi. Allah itu Roh; Dia adalah ruach atau pneuma. Esens Allah adalah nafas ilahi. Allah adalah nafas bagi kita. Manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang ke dala*nnya Allah mengembuskan nafas hidup (Kej. 2:7). Nafas hidup ini menjadi roh manusia. Allah menjadikan manusia dengan membentuknya dari debu tanah dan mengembuskan nafas hidup ke dalamnya. Wahyu 11:11 juga mencatat perihal nafas hidup yang keluar dari Allah dan masuk ke dalam manusia. Di antara ciptaan-ciptaan Allah, hanya manusia yang memiliki keistimewaan ini.

API, NAFAS, DAN AIR

Tiga pasal utama dalam kitab Yehezkiel adalah pasal satu, pasal tiga puluh tujuh dan pasal empat puluh tujuh. Pada pasal satu terdapat api, pada pasal tiga puluh tujuh terdapat nafas dan pada pasal empat puluh tujuh terdapat air. Semua hal yang bersifat duniawi dan yang berdosa termasuk Satan dan pasukannya berada di bawah api yang membakar. Pada akhirnya, semua perkara negatif ini akan dilemparkan ke dalam lautan api (Why. 20:10), tetapi kita, kaum beriman akan menjadi unsur pokok dari kota air, Yerusalem Baru (Why. 22:1). Di antara api dan air terdapat nafas.

TULANG-TULANG YANG KERING

MEMERLUKAN NAFAS DAN UDARA

Dalam Yehezkie147, ada rumah Allah, bangunan Allah, tetapi dalam pasal tiga puluh tujuh, anak-anak Tuhan digambarkan sebagai tulang-tulang yang berserakan dan kering. Tidak ada satu tulang pun yang melekat dengan tulang yang lain. Tulang-tulang itu tercerai-berai dan terpisah-pisah. Tulang-tulang kering ini berada di tengah-tengah lembah. Gambaran ini sama dengan keadaan bangsa Israel sebelum mereka keluar dari Mesir. Ayat terakhir dalam kitab Kejadian menunjukkan bahwa orang-orang Israel berada di dalam "peti mati di Mesir" (50:26). Dalam Yehezkiel 37, bangsa Israel digambarkan seperti berada di dalam kuburan (ay. 12-13). Tulang-tulang kering yang berserakan di tengah-tengah lembah itu adalah tulang-tulang orang yang terbunuh (ay. 9b). Satanlah yang membunuh dan menguburkan mereka. Tulang-tulang kering itu memerlukan udara, nafas, supaya mereka dapat hidup.

Di sekeliling bumi ada permukaan yang luas yang berisikan udara sehingga kehidupan dapat tams berlangsung di bumi demi tujuan Allah. Sebagai Roh itu, Allah adalah udara yang sejati, nafas. Di dalam udara terdapat air dan di dalam air terdapat makanan. Allah sebagai hayat bagi kita merupakan udara kita, air kita, dan makanan kita. Ketika bernafas, kita minum dan ketika minum, kita makan. Makan berada dalam minum, dan minum berada dalam bernafas. Selanjutnya, bernafas berada dalam memuji. Ketika kita mengatakan, "0 Tuhan! Amin! Haleluya!", kita bernafas. Cara menghirup Tuhan kita yang ajaib adalah yang mengucapkan, "0 Tuhan! Amin! Haleluya!" Begitu kita menghirup Tuhan dengan cara ini, kita didiris dan dahaga kita dileraikan. Kita akan merasakan bahwa kita dipenuhi dan dipuaskan. Kita dapat bernafas, minum, dan makan Tuhan melalui berseru, "0 Tuhan! Amin! Haleluya!" Dengan mengatakan, "0 Tuhan! Amin! Haleluya!", kita mendapatkan udara, air, dan makanan.

Kidung nomor 116 karangan A.B Simpson adalah suatu kidung yang indah mengenai bernafas. Syair dari kidung ini mengatakan :

Kuhembuskan dukacita,

dosa, nistaku;

Kuhirup dan hirup saja,

genap limpah-Mu.

Kita perlu menghirup Kristus sebagai nafas kita. Kita dapat menerima Kristus ke dalam bagian batin kita melalui menghirup Dia.

ANGIN, NAFAS, DAN ROH ITU

Kita perlu mengingat bahwa dalam Yehezkiel 37, angin adalah nafas, dan nafas adalah Roh. Ayat 9 mengatakan, "Maka firman-Nya kepadaku: Bernubuatlah kepada nafas hidup itu (angin—Tl.), bernubuatlah, hai anak manusia, dan katakanlah kepada nafas hidup itu (angin) : beginilah firman Tuhan Allah : Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orangorang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali." Tuhan menyuruh Yehezkiel berkata kepada angin, "Hai nafas hidup." Ini berarti angin adalah nafas. Angin dan nafas dalam ayat ini berasal dari istilah Ibrani ruach. Kemudian ayat 14 mengatakan, "Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu." Roh dalam ayat ini juga adalah ruach. Jadi, angin adalah nafas, dan nafas adalah Roh itu. Ketika Tuhan mengembus, Dia adalah angin. Ketika kita menghirup Dia, Dia adalah nafas. Ketika Dia masuk ke dalam kita, Dia adalah Roh itu. Tuhan datang sebagai angin, kita menerima Dia sebagai nafas, Dia masuk ke dalam kita sebagai Roh itu, dan Roh itu adalah hayat.

TULANG-TULANG ITU BERTEMU SATU SAMA LAIN

DENGAN SUARA RIUH DAN BERDERAK-DERAK

Sebelum Roh itu datang, kita adalah tulang-tulang yang kering. Kita tidak hanya dibunuh dan menjadi keying, tetapi kita juga dikubur di dalam kuburan dan di dalam lembah. Setelah nubuat Yehezkiel, "Kedengaranlah suara, sungguh, suatu suara berderak-derak, dan tulang-tulang itu bertemu satu sama lain" (ay. 7). Sebelum nubuat Yehezkiel, tulang-tulang kering itu tenang dan terpisah-pisah. Suatu kuburan yang penuh dengan tulang-tulang kering dan terkubur adalah suatu tempat yang tenang. Karena itu, sidang-sidang kita tidak seharusnya seperti sebuah kuburan. Pada waktu kita berkumpul, di sana seharusnya, "riuh dan berderak-derak". Ketika Roh itu bertiup ke arah kita sebagai angin, bagaimana mungkin kita bisa tenang? Sidang kita seharusnya penuh dengan bunyi riuh rendah. Di sana seharusnya menjadi riuh rendah ketika setiap orang berbicara, setiap orang berdoa, setiap orang memuji, dan setiap orang mengucap syukur. Mazmur memberi tahu kita untuk bersorak-sorai bagi Tuhan (66:1; 81:2; 95:1-2; 98:4, 6; 100:1).

Setelah tulang-tulang itu bertemu satu sama lain, "urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya, tetapi mereka belum bernafas" (ay. 8). Sesudah tulang-tulang itu bertemu satu sama lain, urat-urat, daging, dan kulit menutupi mereka. Penutupan ini menyebabkan penampilan mereka menjadi jauh lebih baik. Pada mulanya, mereka hanyalah tulang-tulang kering, tetapi sekarang mereka adalah sebuah tubuh tanpa nafas. Ini adalah pekerjaan Tuhan yang luar biasa sehingga tulangtulang itu dapat bertemu satu sama lain walaupun tanpa hayat di dalamnya.

Kita harus menafsirkan Yehezkiel 37 dengan cara yang rohani. Sebelum Allah datang untuk memperbarui kita dan melahirkan kita kembali, kita seperti tulang-tulang yang mati dan kering ini. Keselamatan Allah tidak hanya untuk orang-orang berdosa tetapi juga untuk orang-orang mati. Karena kita mati dan kering, kita juga berserakan. Entah kita adalah orang-orang berdosa yang belum diselamatkan atau kaum beriman yang telah meninggalkan Tuhan, keadaan kita adalah mati dan terkubur di dalam kuburan. Banyak orang Kristen yang mati dan kering, berserakan dan tercerai-berai. Mereka tidak bersambung dengan siapa pun. Tuhan datang untuk menyelamatkan kita melalui nubuat firman-Nya. Seperti yang dinubuatkan Yehezkiel, tulang-tulang itu bertemu satu sama lain. Kemudian uraturat, daging dan kulit menutupi mereka.

NAFAS HIDUP MASUK

KE DALAM TULANG-TULANG KERING

UNTUK MENGGENAPKAN TUJUAN ALLAH

Tulang-tulang ini perlu nubuat yang lebih jauh sehingga nafas hidup dapat masuk ke dalam mereka. Yehezkiel bernubuat lagi, "Dan nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat besar" (37:10). Pertama-tama, tulang-tulang itu menjadi sebuah tubuh. Kemudian nafas masuk ke dalam tulang-tulang itu dan mereka hidup. Ketika berdiri, mereka menjadi seorang prajurit yang sangat hebat untuk berperang bagi Allah. Tulang-tulang itu menjadi prajurit yang berperang, dan pada akhirnya mereka menjadi tempat tinggal bagi Allah untuk mengekspresikan Allah. Prajurit adalah bagi daerah kekuasaan, untuk membereskan musuh Allah, dan tempat kediaman adalah bagi ekspresi, gambar Allah. Melalui menghirup Roh itu, Allah diekspresikan dan musuh-Nya ditanggulangi.

Yehezkiel bernubuat dua kali dalam pasal tiga puluh tujuh. Pertama, dia bernubuat kepada tulang-tulang itu dan yang kedua kepada angin. Pertama-tama, dia bernubuat kepada yang mati dan kemudian dia bernubuat kepada Roh itu. Tuhan menyuruh Yehezkiel bernubuat untuk kali kedua dan berkata, "Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kern-ball" (ay. 9). Kemudian tulang-tulang yang telah terbentuk menjadi satu tubuh itu menerima nafas hidup. Mereka menjejakkan kakinya dan terbentuk menjadi prajurit yang berperang bagi Allah. Hal ini juga memberikan dasar kepada Allah untuk membangun mereka bersama menjadi tempat kediaman-Nya. Prajurit dan rumah memenuhi tujuan ganda Allah yaitu untuk menanggulangi musuh-Nya dan untuk mengekspresikan Dia dalam gambar-Nya. Gambar dan wilayah kekuasaan dihasilkan melalui menghirup Roh itu.

NAFAS HIDUP DALAM PERJANJIAN BARU

Dalam Perjanjian Baru, Injil Yohanes memberi tahu kita bahwa Tuhan Yesus datang kembali kepada muridmurid pada malam hari kebangkitan-Nya (20:19). Dia mengembusi mereka dan menyuruh mereka untuk menerima pneuma kudus (ay. 22). Sekali lagi, istilah pneuma bisa diterjemahkan menjadi Roh itu atau nafas. Tuhan mengembusi murid-murid itu dan memberi tahu mereka untuk menerima Nafas Kudus. Hari ini, di dalam kebangkitan-Nya Tuhan adalah nafas hidup, Roh hayat. Dalam Yohanes 3 Tuhan Yesus memberi tahu Nikodemus bahwa Roh itu seperti angin, yang bertiup ke mana ia mau dan tidak dapat dilihat tetapi dapat diketahui dari suaranya (Yoh. 3:8). Pada hari Pentakosta, "Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk" (Kis. 2:2). Tiupan angin yang keras ini adalah hembusan Roh itu, hembusan ruach atau pneuma surgawi.

Wahyu 11:11 memberi tahu kita bahwa kedua saksi Allah setelah mati selama tiga setengah hari, dibangkitkan oleh roh kehidupan yang keluar dari Allah dan masuk ke dalam mereka. Nafas hidup masuk ke dalam kedua saksi itu dan membangkitkan mereka selama masa kesusahan besar. Dua Tesalonika 2:8 memberi tahu kita bahwa ketika Tuhan Yesus datang kembali, Dia akan membunuh Antikristus dengan nafas mulut-Nya, Ruh itu. Nafas hidup memberi hayat kepada kita, tetapi membunuh mereka yang tidak taat.

Dua Timotius 3:16 memberi tahu kita bahwa semua ayat dalam Alkitab adalah hembusan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa ayat-ayat Alkitab, Firman Allah, adalah nafas Allah. Perkataan Allah adalah embusan (nafas) Allah. Allah adalah nafas bagi kita. Di dalam nafas terdapat air, dan di dalam air terdapat makanan. Jika kita mau menikmati Allah sebagai makanan, kita harus minum Dia sebagai air. Untuk minum Dia sebagai air, kita harus menghirup Dia sebagai nafas kita. Melalui menghirup Tuhan, kite minum Dia dan makan Dia. Kita dapat minum Dia di mana saja dan makan Dia di mana saja karena kita dapat menghirup Dia di mana saja. Makanan dan minuman rohani tersedia bagi kita setiap waktu dan di setiap tempat. Secara fisik, kita bisa bernafas di mana saja, tetapi kita tidak bisa minum dan makan di mana saja. Tetapi secara rohani, kits bisa makan dan minum di mana saja karena makan rohani kita berada di dalam minum kita, dan minum berada di dalam bernafas. Ketika kita menerima Tuhan sebagai udara ilahi, kita menikmati Dia sebagai air kehidupan dan makanan surgawi.