MAKAN DAN MINUM DALAM PERJANJIAN BARU
Pembacaan Alkitab :
Yoh. 4:14; 6:35, 57, 63; 7:37-39; 1 Kor. 3:2; 10:3-4;
Ibr. 5:12b-14a; 1 Ptr. 2:2-3; Why. 2:7b; 3:20; 7:16-17; 21:6b; 22:1-2, 17;
Mat. 22:2-3; Luk. 14:16-17; 15:22-23; 1 Kor. 10:21; Why. 19:9
MAKAN DAN MINUM - PEMIKIRAN UTAMA
DALAM EKONOMI ALLAH
Makan dan minum Kristus merupakan pemikiran utama dalam ekonomi Allah. Pemikiran utama mengenai makan dan minum tidak hanya terdapat dalam Perjanjian Lama tetapi juga dalam Perjanjian Baru. Konsep mengenai makan dan minum dimulai dari permulaan Alkitab yaitu kitab Kejadian dan berlangsung terus sampai akhir Alkitab yaitu kitab Wahyu. Dalam ekonomi Allah, Allah tidak memberikan diri-Nya sendiri kepada kita sebagai suatu agama, tetapi Dia memberikan diri-Nya sendiri kepada kita sebagai makanan dan minuman. Jika kita mengetahui makna sebenarnya dari ayat-ayat yang tercantum dalam pembacaan Alkitab, kita akan melihat bahwa makan dan minum merupakan pemikiran utama dalam Perjanjian Baru.
INJIL ADALAH SUATU PERJAMUAN
Dalam Matius 22 Tuhan Yesus mengumpamakan Injil Allah sebagai perjamuan kawin atau perjamuan nikah, perjamuan makan malam yang besar, yang disiapkan oleh raja bagi putranya (ay. 1-14). Jadi, Injil merupakan perihal kenikmatan melalui makan dan minum.
Dalam Lukas 14:16-17 Tuhan Yesus sekali lagi mengibaratkan Injil sebagai perjamuan makan malam yang besar. Allah sebagai seorang yang menyuruh hamba-Nya untuk mengatakan kepada para undangan, "Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap" (ay. 17). Allah telah menyiapkan keselamatan-Nya yang sempurna sebagai suatu perjamuan makan malam yang besar. Kita datang bukan untuk mempelajari ajaran-ajaran tetapi untuk menikmati melalui makan dan minum. Pada waktu diselamatkan, kita mulai mencicipi kenikmatan melalui makan. Setelah kita diselamatkan, Tuhan selalu menyiapkan perjamuan di hadapan kita.
Pada waktu saya diselamatkan, meskipun tidak ada seorang pun yang memberi tahu saya, saya mempunyai perasaan bahwa sesuatu yang berada di dalam saya hanya untuk kenikmatan saya. Ia begitu bergizi, begitu menyegarkan, begitu mendiris. Saya begitu senang berada dalam roh. Tetapi segera setelah pengalaman pertama, saya mengarahkan perhatian saya hanya kepada ajaran-ajaran, sehingga saya dipenuhi dengan ajaran-ajaran, tetapi dalam batin saya kosong. Kekristenan merupakan suatu agama yang penuh dengan ajaran, tetapi kedambaan Tuhan adalah memulihkan Injil-Nya sebagai suatu perjamuan yang sesungguhnya. Injil adalah sebuah perjamuan, di sana se-gala sesuatunya sudah siap, dan kita hanya datang untuk makan, minum, dan menikmati.
Konsep utama Peijanjian Baru adalah makan dan minum Kristus supaya kita dapat berpesta atas Kristus. Da-lam Lukas 15, ketika anak yang hilang tersebut kembali, ayahnya berkata kepada hamba-hambanya untuk memakaikan jubah yang terbaik kepadanya, mengenakan cincin pada jarinya, dan sepatu pada kakinya (ay. 22). Untuk tubuhnya telah tersedia jubah, untuk jarinya tersedia cincin, dan untuk kakinya tersedia sepatu. Butir-butir ini menandakan pembenaran Bapa melalui Kristus. Tetapi, jubah yang di luar tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan anak tersebut karena dia kelaparan. Dalam batin, dia memerlukan makanan. Pertama-tama bapa mendandaninya untuk membuatnya layak, sehingga dia bersyarat untuk masuk ke dalam rumah bapa dan berpesta bersama bapa. Setelah mendandaninya di luar, ayahnya berkata kepada hamba-hambanya, "Ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita" (Luk. 15:23).
Kita tidak hanya memerlukan perhiasan yang di luar tetapi juga perlu dipenuhi di dalam. Jubah, cincin, dan sepatu merupakan aspek yang di luar, yaitu pembenaran oleh darah Kristus. Saat perayaan Paskah, darah menudungi rumah (Kel. 12:7). Di bawah penudungan darah, orang-orang menikmati daging anak domba (ay. 8). Demikian juga, di bawah penudungan jubah, anak yang hilang tersebut bersama-sama dengan bapanya menikmati lembu tambun yang tersembelih. Ini merupakan aspek batin yang menandakan kenikmatan batin terhadap Kristus sebagai suplai hayat. Kristus adalah jubah, dan Kristus juga adalah lembu tambun. Kristus menudungi kita di luar, dan Kristus juga memenuhi kita di dalam. Kita seharusnya menikmati Dia sebagai lembu tambun dari hari ke hari. Dalam rumah Bapa, kita mempunyai perjamuan, makanan yang selalu tersedia.
Sebelum anak yang hilang kembali, dia telah mempersiapkan dirinya sendiri untuk diperlakukan sebagai hamba, bekerja setiap hari untuk bapanya (Luk. 15:19). Tetapi bapanya tidak menghendaki anak tersebut bekerja untuk dia melainkan berpesta bersama dia. Ketika kita datang ke gereja lokal, kita harus membuang pemikiran bahwa kita datang untuk bekerja. Kita datang ke rumah Bapa, gereja lokal, untuk berpesta. Di dalam rumah Bapa ada sebuah perjamuan, menanti kita untuk datang dan berpesta. Mari datang untuk makan dan bersukacita (Luk. 15:23). Tuhan Yesus akan dipuaskan, Bapa akan senang, dan kita akan dipenuhi. Kita semua memerlukan perjamuan sedemikian.
MEJA TUHAN
MENJADI PERJAMUAN SETIAP MINGGU
Meja Tuhan juga merupakan suatu perjamuan bagi kita. Minggu demi minggu ketika datang ke meja Tuhan, kita menikmati perjamuan. Di masa lalu, ketika saya menghadiri apa yang dinamakan pelayanan komuni, saya tidak pernah diberi tahu bahwa makan malam Tuhan adalah sebuah perjamuan, sebuah pesta. Saya diajar untuk menerima komuni kudus dengan terlebih dulu memeriksa diri sendiri untuk melihat apakah saya berdosa atau tidak.
Saya akan memeriksa hati, pikiran, dan pemikiran. Saya akan memeriksa hubungan saya dengan orang tua, guru-guru, teman-teman sekolah, tetangga, atau teman-teman saya. Kemudian saya diajar untuk mengenang Tuhan dengan cara membayangkan mengapa Dia yang adalah Allah menjadi manusia, mengapa Dia dilahirkan dalam palungan, dan sebagainya. Tetapi, saya tidak diberi tahu bahwa pada meja Tuhan saya harus menikmati Dia, yaitu saya harus makan Dia dan minum Dia. Memeriksa diri sendiri dan mengenang apa yang telah Tuhan lakukan bagi kita tentu saja tidak salah. Tetapi, konsep ilahi dalam mengenang Tuhan adalah makan dan minum Dia, menikmati Dia.
Satu Korintus 11:24-25 mengatakan, "Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!... Cawan ini...setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!" Memperingati Tuhan yang sebenarnya adalah makan roti dan minum cawan (ay. 26), yaitu mengambil bagian dalam Tuhan, menikmati Tuhan, yang telah memberikan diri-Nya sendiri kepada kita melalui kematian penebusan-Nya. Makan roti dan minum cawan adalah menerima Tuhan sang Penebus sebagai bagian kita, sebagai hayat dan berkat kita. Inilah cara mengenang Dia dengan sungguh-sungguh. Jadi, kita mengenang Tuhan bukan dengan memikirkan Dia, tetapi dengan makan, minum dan menikmati Dia. Meja Tuhan merupakan pernyataan mingguan, suatu pernyataan kepada alam semesta, bahwa kita setiap hari menikmati Kristus sebagai makanan dan minuman kita. Dia adalah perjamuan kita, kenikmatan kita.
Perjamuan Kawin Anak Domba
Akhirnya, ketika Dia datang lagi, orang-orang kudus pemenang akan bergabung dengan Dia untuk berpesta dalam perjamuan kawin Anak Domba (Why. 19:7, 9). Perjamuan kawin yang unik dan universal ini akan berlangsung selama seribu tahun. Perjamuan yang berlangsung selama seribu tahun ini akan menjadi hari nikah bagi Kristus, karena bagi Tuhan, seribu tahun sama seperti satu hari (2 Ptr. 3:8). Selama seribu tahun tersebut, gereja adalah mempelai perempuan, dan setelah masa seribu tahun, gereja adalah istri (Why. 21:9-10). Perbedaan antara mempelai perempuan dengan istri adalah mempelai perempuan hanya menjadi mempelai perempuan pada hari pernikahan. Setelah hari pernikahan, mempelai perempuan akan menjadi istri. Pada hari pernikahan, ada mempelai lakilaki dan mempelai perempuan; pada hari berikutnya ada suami dan istri. Kerajaan milenium yang berlangsung se-lama seribu tahun akan menjadi hari pernikahan bagi Kristus, di sana kaum beriman pemenang akan bersama Kristus menikmati hari pernikahan-Nya.
Sebuah Perjamuan Kekal
Injil adalah sebuah perjamuan yang akan berlangsung sampai kekal; karena itu, Meja Tuhan tidak akan pernah berakhir. Hari ini, Meja Tuhan adalah pencicipan dari pengecapan penuh yang akan datang dalam kekekalan. Pada akhirnya, pengecapan penuh tersebut akan menggantikan pencicipan kita saat Mi. Pada meja perjamuan ini, kita menikmati Kristus yang adalah makanan dan minuman kita. Kita makan Kristus (Yoh. 6:35, 57) dan minum Roh itu (Yoh. 7:37-39; 1 Kor. 12:13), yang juga adalah Kristus itu sendiri (1 Kor. 15:45; 2 Kor. 3:17).
MAKAN DAN MINUM
DALAM INJIL YOHANES
Makan dan minum Kristus juga dinyatakan dalam Injil Yohanes. Dalam seluruh Injil Yohanes, Tuhan Yesus membicarakan diri-Nya sendiri sebagai hayat kita (10:10; 4:14; 6:35; 7:38; 14:6). Kitab Yohanes pasal satu menunjukkan kepada kita bagaimana Tuhan Yesus sebagai hayat dapat memenuhi kebutuhan semua orang, di sana ada lima butir utama : Allah, Firman, daging, Anak Domba, dan hayat. Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu adalah Allah (Yoh. 1:1). Firman, yang adalah Allah sendiri menjadi daging (ay. 14), yang berarti bahwa Dia menjadi seorang manusia. Sebagai manusia, Dia adalah Anak Domba Allah (ay. 29), Penebus kita, dan Dia juga adalah hayat kita (1:4; 10:10). Injil Yohanes dimulai dengan Allah, Firman, daging, Anak Domba dan hayat.
Dalam Injil Yohanes pasal dua terdapat peristiwa yang indah—suatu pesta perkawinan (ay. 1-11). Ketika saya masih muda, saya mempelajari bagian firman ini. Saya mengerti pasal satu tetapi tidak mengerti pasal dua. Saya tidak mengerti makna perkawinan dan makna air yang diubah menjadi anggur. Sekarang saya jauh lebih mengerti. Pada pasta perkawinan tersebut anggurnya habis, lalu Tuhan Yesus menyuruh pelayan untuk mengisi keenam tempayan itu dengan air. Tempayan-tempayan itu digunakan untuk pembasuhan dengan air menurut adat orang Yahudi, yang menandakan usaha agama untuk membuat orang-orang bersih melalui praktek-praktek tertentu yang mati. Tetapi 1uhan mengubah air dalam tempayan yang digunakan untuk pembasuhan menjadi anggur. Anggur ini tidak bisa digunakan untuk pembasuhan secara lahiriah, tetapi untuk diminum! Kita harus melupakan betapa kotornya kita secara lahiriah, kita harus minum Tuhan sebagai anggur kita di batin! Tidak peduli seberapa banyak kita sudah dibersihkan dan disucikan secara lahiriah, kita masih bisa mati di batin. Tuhan Yesus datang bukan hanya untuk mencuci kita secara lahiriah, tetapi Dia datang supaya kita minum Dia. Dia mengubah air menjadi anggur, mengubah unsur pembersih menjadi unsur minuman.
Hayat Tuhan adalah suatu perjamuan, bukan untuk penyucian, atau untuk pembasuhan secara lahiriah, tetapi untuk minuman di batin. Minuman di batin akan mengerjakan pembasuhan. Apa pun yang kita minum akan membersihkan kita, bukan dari luar tetapi dari dalam. Ini adalah semacam pembasuhan metabolis—pembasuhan oleh hayat. Ini bukan pembasuhan secara lahiriah, tetapi pembasuhan metabolis dari dalam oleh hayat.
Hari ini saya paling memustikakan Yohanes 2. Di banyak tempat, ketika saya diminta memberitakan Injil, saya menggunakan Yohanes 2. Saya memberi tahu orang-orang, "Andalah keenam tempayan tersebut karena Anda adalah manusia yang dibuat pada hari keenam (Kej. 1:26, 31); oleh karena itu, angka enam mewakili manusia. Keperluan Anda adalah anggur. Keperluan Anda adalah hayat. Jangan coba-coba mengembangkan diri sendiri, mengoreksidiri sendiri, atau membuat diri sendiri lebih baik. Berbuat demikian hanyalah mencoba membersihkan atau memurnikan diri Anda sendiri. Keperluan Anda bukanlah air pembasuhan melainkan anggur untuk diminum." Yohanes 2 menunjukkan kepada kita bahwa keperluan kita bukanlah pembasuhan secara lahiriah tetapi minuman di batin. Konsep dalam Yohanes 2 adalah makan dan minum Tuhan.
Dalam pasal tiga, Nikodemus, seorang guru yang berpendidikan tinggi dan seorang tua yang berpengalaman, datang kepada Tuhan Yesus dan berkata kepada Dia, "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah" (3:2). Konsep manusia selalu mengatakan bahwa kita memerlukan seorang guru dan ajaran yang lebih banyak. Tuhan Yesus begitu bijaksana. Dia tidak membantah Nikodemus ataupun memarahi dia, bahkan Dia tidak berbicara terlalu banyak dengan dia. Setelah mendengarkan dia, Tuhan Yesus menjawab, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah" (3:3). Perkataan ini benar-benar membingungkan Nikodemus. Dia mungkin berpikir, "Aku datang untuk diajar oleh-Mu, untuk mencari ajaran. Aku mengenali-Mu sebagai seorang rabi, seorang guru, tetapi sebaliknya aku tidak mengerti apa yang Engkau maksudkan dengan dilahirkan kembali. Seorang tua seperti aku tidak dapat kembali ke dalam rahim ibuku dan dilahirkan lagi. Ajaran macam apakah ini?"
Tuhan Yesus menunjukkan kepada Nikodemus bahwa dilahirkan kembali bukanlah kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi. Dilahirkan kembali adalah dilahirkan dari air dan Roh (ay. 5). Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging (ay. 6). Bahkan seandainya Nikodemus dapat kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi, dia akan tetap Nikodemus yang sama, daging yang sama. Dia perlu menjadi sesuatu yang lain. Dia harus dilahirkan dari Roh. "Apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh" (ay. 6). Perkataan Tuhan benar-benar membingungkan Nikodemus. Seandainya saya atau Anda berada di sana, kita mungkin bersama-sama Nikodemus dibingungkan oleh bahasa Tuhan yang surgawi.
Selanjutnya Tuhan Yesus memberi tahu Nikodemus bahwa sama seperti Musa meninggikan ular tembaga di padang gurun, Dia sebagai Anak Manusia harus ditinggikan (3:14). Semua orang yang mati digigit oleh ular yang ganas itu harus memandang kepada ular tembaga yang ditinggikan Musa. Siapa saja yang melihat ular tembaga tersebut menjadi hidup (Bil. 21:7-9). Tuhan berada di sana supaya Nikodemus memandang Dia. Nikodemus harus percaya kepada-Nya, maka Nikodemus akan memiliki hidup yang kekal. Nikodemus tidak memerlukan ajaran. Keperluannya adalah hayat kekal, hayat yang dapat Kristus berikan kepadanya.
Sementara pasal tiga membahas seorang yang bermoral, takut akan Allah, mencari Allah, seorang agamawan, berkebudayaan tinggi, pasal empat membahas perempuan yang tidak bermoral. Meskipun dia sangat berdosa, mempunyai lima suami dan sedang tinggal bersama orang keenam yang bukan suaminya, dia masih mencoba berbicara tentang agama. Dia berpura-pura menjadi rohani karena Tuhan Yesus mengungkapkan sejarahnya yang jahat. Tuhan berkata kepadanya, "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini" (Yoh. 4:16). Dia mengatakan bahwa dia tidak memiliki seorang suami. Perkataan ini benar tetapi bohong. Dia berkata bohong kepada Tuhan Yesus dengan membicarakan kebenaran. Tuhan Yesus menanggapi dia dan berkata, "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar" (Yoh. 4:17-18). Segera ia mengubah topik pembicaraan dari suami-suaminya kepada penyembahan Allah (ay. 19-20). Membicarakan suami-suaminya tidaklah menyenangkan. Karena perkataan Tuhan mengenai suaminya menjamah hati nuraninya, dia mengalihkan pembicaraan kepada masalah penyembahan.
Tuhan Yesus dengan hikmat-Nya juga mulai berbicara tentang penyembahan Allah, Ia mengatakan, "Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran" (Yoh. 4:24). Pada akhirnya, Tuhan menyatakan kepadanya bahwa Roh ini, yang adalah diri Allah sendiri, dan yang adalah Dia yang harus kita sembah merupakan air hidup itu (Yoh. 4:24, 14). Allah yang adalah Roh itu merupakan air hidup. Kita mengambil air hidup itu dengan jalan melatih roh kita untuk berhubungan dengan Dia, yaitu untuk menyembah Dia.
Dalam Injil Yohanes pasal tiga, kita diberi tahu bahwa kita harus dilahirkan kembali, yaitu mengalami kelahiran yang kedua. Kemudian dalam pasal empat, Tuhan Yesus berbicara mengenai minum (ay. 14), dalam pasal enam mengenai makan (ay. 57), dan dalam pasal tujuh mengenai minum lagi (ay. 37-38). Makan dan minum kelihatannya seperti dua hal yang terpisah, tetapi sesungguhnya keduanya adalah satu. Yohanes 6:35 mengatakan, "Akulah Roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi." Kita makan roti itu dan kita tidak akan pernah haus lagi. Sebenarnya Dia adalah roti untuk dimakan atau untuk diminum? Kelihatannya Yohanes 4 hanya membicarakan mengenai minum dan Yohanes 6 hanya membicarakan mengenai makan. Tetapi sebenarnya, bahkan di dalam Yohanes 6, yang jelas-jelas merupakan sebuah pasal mengenai makan, di sana juga terdapat sebuah kata mengenai minum. Anda tidak dapat memisahkan makan dari minum ataupun minum dari makan. Yesaya 55:1 mengatakan, "Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air ... marilah...dan makanlah." Kita datang kepada air itu dan mendapatkan makanan. Hal ini membuktikan bahwa makan dan minum merupakan satu perkara. Dalam kehidupan kita sehari-hari, sulit bagi kita untuk makan tanpa minum. Pernahkah Anda makan tanpa minum? Makan dan minum selalu berlangsung beriringan. Kedua hal ini adalah satu.
Injil Yohanes mengungkapkan hayat kepada kita. Hayat ini hanya dapat diperoleh melalui suplai hayat, yaitu makanan dan minuman. Karena kita telah menerima Tuhan Yesus sebagai hayat kita, kita semua harus belajar cara makan dan minum. Hari ini, begitu banyak orang Kristen yang lemah, semua ini dikarenakan tidak banyak orang yang mengetahui cara makan dan minum. Sebagian besar orang Kristen tahu bahwa Kristus adalah roti hidup, tetapi sedikit yang mengetahui cara makan. Banyak yang tahu bahwa Kristus adalah air hidup, tetapi tidal( banyak yang tahu cara minum. Kita perlu menjadi orang-orang yang tidak hanya tahu cara makan dan minum, tetapi makan dan minum setiap hari bahkan setiap jam. Melalui makan roti dan minum air itu, kita tidak hanya menerima hayat, tetapi juga memperoleh suplai hayat.
Dalam Injil Yohanes, pasal demi pasal, Tuhan menyatakan diri-Nya sendiri sebagai hayat dan suplai hayat kita. Kita menerima Dia sebagai hayat kita dan mengambil bagian dalam-Nya sebagai suplai hayat kita melalui makan dan minum Dia. Dalam pasal satu, Tuhan yang sejak semula adalah Allah yang Mahakuasa, menjadi daging, menjadi seorang manusia, untuk menjadi Anak Domba Allah, merampungkan penebusan Allah bagi kita sehingga Dia dapat menjadi hayat kita. Dalam pasal dua, sebagai hayat kita, Dia juga adalah perjamuan bagi kita dengan anggur untuk kita minum dan nikmati. Menurut pasal tiga, cara kita untuk menerima anggur adalah dilahirkan kembali. Pada hari kita menerima Tuhan Yesus, kita dilahirkan kembali, dan kita mulai minum Kristus sebagai anggur dan menikmati hayat-Nya sebagai suatu perjamuan. Setelah menyadari bahwa makanan dan minuman berbaur bersama, maka sekarang kita harus minum dan makan Kristus. Dari hari ke hari, kita harus makan dan minum, serta minum dan makan, menikmati Tuhan setiap waktu.
MAKAN DAN MINUM
DALAM SURAT-SURAT KIRIMAN
DAN DALAM KITAB WAHYU
Pemikiran dan konsep mengenai makan dan minum tidak hanya terdapat dalam kitab Injil, tetapi juga dalam surat-surat kiriman rasul Paulus dan Petrus serta dalam kitab Wahyu. Dalam 1 Korintus 3:2 Paulus berkata, "Susulah yang kuberikan kepadamu." Di satu pihak, susu adalah minuman, dan di pihak lain, susu adalah makanan. Susu adalah makanan dan juga adalah minuman pada saat yang sama. Inilah minuman yang mengandung makanan. Dalam 1 Korintus 10, Paulus juga berbicara mengenai minum dan makan, memakai lambang bangsa Israel untuk diterapkan kepada kita (ay. 3-4, 6).
Dalam Ibrani 5, Paulus memberi tahu kaum beriman bahwa mereka memerlukan susu dan bukan makanan keras sebab susu adalah untuk bayi, sedangkan makanan keras adalah untuk orang dewasa (ay. 12-14). Minum adalah menerima makanan yang cair, dan makan adalah menerima makanan yang keras. Semakin Anda lemah, Anda semakin perlu minum, dan semakin Anda kuat, Anda semakin perlu makan. Lagi pula, ketika kita sakit, kita lebih banyak minum daripada makan. Ketika kita sehat, kita lebih banyak makan daripada minum. Dalam 1 Korintus 3, Paulus menunjukkan bahwa kaum beriman di Korintus masih sangat lemah. Karena itu, dia tidak dapat memberi mereka makan makanan keras. Dia hanya bisa memberi mereka makan susu, makanan cair. Satu Petrus 2:2-3 mengatakan, "Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan."
Akhirnya, dalam kitab Wahyu, janji kepada mereka yang menang adalah makan pohon kehidupan (2:7), menikmati manna yang tersembunyi (2:17), dan makan bersama Tuhan (3:20). Pohon kehidupan yang disebutkan di sini berkenaan dengan Kejadian 2, dan manna yang tersembunyi berkenaan dengan seluruh sejarah bangsa Israel di padang gurun. Selama empat puluh tahun mereka makan manna (Kel. 16:35); karena itu, manna merupakan pusat sejarah mereka. Dalam Wahyu 3:20, Tuhan Yesus berkata, "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan dia bersama-sama dengan Aku." Makan bersama bukan makan satu jenis makanan saja tetapi memakan makanan yang limpah. Hal ini mengacu kepada bangsa Israel yang makan hasil produksi tanah permai Kalman yang limpah (Yos. 5:10-12).
Dalam Wahyu 7, kaum beriman yang tertebus dan yang telah terangkat ke tingkat-tingkat langit, ke hadapan Allah, akan menikmati Tuhan Yesus sebagai Anak Domba dan Gembala, yang menuntun mereka ke mata air kehidupan (ay. 17). Penggembalaan meliputi pemberian makan; karena itu, kita akan makan dan juga minum. Saya tidak sepenuhnya tahu apa yang akan kita lakukan dalam kekekalan, tetapi saya tahu bahwa kita akan melakukan paling sedikit tiga hal — makan, minum, dan memuji. Da-lam kekekalan, makan, minum, dan memuji akan menjadi kehidupan kita dan hidup kita. Hidup kita dalam kekekalan akan menjadi hidup yang makan, minum, dan memuji. Hari ini, dalam gereja-gereja lokal, kita mengalami pencicipan pendahuluan. Kita harus makan, minum, dan memuji. Ketika kita mengatakan, "0 Tuhan, Amin", inilah makan. Mengatakan "Haleluya" merupakan minum dan memuji. Puji Tuhan! Kita adalah orang-orang yang makan, minum, dan memuji.
Akhirnya, dalam kitab Wahyu 22, kita diundang untuk minum air kehidupan dengan cuma-cuma (ay. 17). Roh dan pengantin perempuan itu bersama-sama mengundang kita untuk datang dan minum air kehidupan dengan cumacuma. Dalam seluruh Alkitab, Wahyu 22:17 merupakan panggilan terakhir yang diberikan Allah kepada umat manusia. Panggilan ilahi yang terakhir ini adalah untuk datang dan minum. Jika Anda datang untuk minum, Anda pasti akan makan. Di dalam air kehidupan tumbuh pohon kehidupan (22:2). Ketika kita datang kepada air, kita makan pohon kehidupan. Ketika kita minum air itu, kita makan pohon kehidupan. Makan dan minum merupakan pemikiran utama dalam ekonomi Allah. Kita semua harus belajar menikmati hayat ilahi melalui makan dan minum Kristus.