ROH HAYAT (2)
Pembacaan Alkitab:
Yoh. 3:5-6; Rm. 8:2, 9, 15, 23; 1 Kor. 12:13;
2 Kor. 3:17-18; 13:14; Gal. 5:22, 25; Ef. 3:16; 4:23;
Tit. 3:5-6; Flp. 1:19; 2 Tes. 2:13; 1 Yoh. 2:27
Dalam bab yang lalu, kita telah melihat keempat aspek dari Roh ilahi, Roh hayat yang almuhit, untuk membagikan diri Allah sendiri sebagai hayat ke dalam diri kita. Dalam bab ini, kita akan melihat lebih banyak aspek mengenai Roh hayat.
ROH YANG MEMPERANAKKAN
Yohanes 3:5-6 memberi tahu kita bahwa Roh hayat adalah Roh yang memperanakkan. Dilahirkan sekali lagi adalah dilahirkan dari Roh hayat. "Apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh" (3:6). Roh hayat membawa Kristus beserta hayat ilahi ke dalam kita sehingga kita dilahirkan kembali. Kemudian Roh yang memperanakkan ini mulai berhuni di dalam kita sebagai Roh hayat.
HUKUM ROH HAYAT
Dengan tegas dapat dikatakan bahwa istilah "Roh hayat" hanya disebutkan dalam Roma 8:2 (Why. 11:11 lebih tepat jika diterjemahkan menjadi "nafas hidup"). Roh hayat mempunyai hukum. Hukum tersebut mengatur. Hukum bukan hanya sesuatu yang mengatur, tetapi juga kekuasaan, energi, dan kekuatan yang spontan. Sebutir biji gandum menghasilkan gandum, dan pohon buah persik menghasilkan buah persik karena ada hukum alam. Hukum alam ini mengatur. Seseorang tidak perlu mengatur pohon persik dengan memberitahunya, "Pohon persik, kamu tidak seharusnya menghasilkan apel. Jika kamu menghasilkan apel, kamu akan dihukum." Tidak perlu mengajar pohon apel dengan cara demikian, karena dalam hayat apel terdapat hukum apel. Hukum alam mengatur pohon apel sehingga ia hanya menghasilkan apel. Dalam pohon apel ada kekuasaan spontan, kekuatan, dan energi untuk menghasilkan sesuatu sesuai dengan hukum yang mengatur.
Para ilmuwan menyelidiki hukum-hukum yang beroperasi dalam alam, seperti hukum gaya tarik bumi dan hukum dinamika. Saya berpendapat bahwa rasul Paulus adalah "ilmuwan" yang terbesar, karena ia menemukan hukum Roh hayat. Dalam hayat Roh itu ada suatu hukum. Dalam setiap hayat terdapat suatu hukum. Anjing-anjing menyalak sesuai dengan hukum hayat anjing, dan ayam bertelur sesuai dengan hukum hayat ayam. Kita mempunyai hayat ilahi, hayat Roh, dan di dalam hayat ini terdapat suatu hukum. Hukum tersebut akan mengatur kita dari dalam dan ia penuh dengan kekuatan serta bersifat spontan. Hukum ini membebaskan kita dari hukum yang lain, hukum yang negatif, yaitu hukum dosa dan maut.
Hukum gaya tarik bumi bekerja dengan menarik bendabenda turun ke bumi. Dengan usaha saya, saya dapat memegang sebuah buku dengan lengan yang terjulur ke udara, tetapi pada akhirnya saya akan kehabisan tenaga. Karena gaya tarik bumi, saya terpaksa harus meletakkan buku tersebut di bawah. Suatu hukum yang lebih tinggi diperlukan untuk mengatasi hukum gaya tarik bumi. Demikian juga, kita perlu hukum yang lebih tinggi untuk mengatasi hukum dosa dan maut. Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita mempunyai hukum yang lebih tinggi dan positif, yaitu hukum hayat, hukum yang berlawanan dengan hukum negatif, yaitu hukum dosa dan maut. Orang-orang yang tidak percaya tidak mempunyai hukum positif ini di dalam mereka, mereka hanya mempunyai yang negatif. Kita mempunyai hukum lain di dalam kita karena kita mempunyai hayat yang lain, hayat ilahi. Pada hayat ini terdapat hukum ilahi yang membebaskan kita dari hukum dosa dan maut.
ROH ALLAH DAN ROH KRISTUS
Roma 8:9 memberi tahu kita bahwa Roh itu adalah Roh Allah juga Roh Kristus. Kita boleh mengatakan bahwa Roh Allah dan Roh Kristus adalah sama, tetapi masih ada perbedaan di antara istilah-istilah ini. Roh Allah membawa esens dari semua adanya Allah beserta semua atribut Allah kepada kita. Sedangkan Roh Kristus membawa semua adanya Kristus kepada kita. Allah adalah Kristus, dan Kristus adalah Allah. Tetapi Kristus adalah Allah sekaligus manusia. Kita tidak dapat mengatakan bahwa Allah adalah Allah pun manusia, tetapi kita dapat mengatakan bahwa Kristus adalah Allah pun manusia. Roh Kristus adalah Roh, bukan hanya Roh Allah tetapi juga roh manusia. Allah adalah Pencipta, tetapi Kristus, sebagai Allah pun manusia, adalah sang Penebus.
Kita boleh mengatakan bahwa Roh Allah adalah Roh Kristus dan Roh Kristus adalah Roh Allah. Tetapi Roh Allah tidak meliputi hal-hal sebanyak Roh Kristus. Roh Allah dan Roh Kristus merupakan satu Roh tetapi berbeda dalam tahapan. Roh Allah berada dalam tahap pertama sedangkan Roh Kristus berada dalam tahap kedua. Roh Allah mempunyai elemen keilahian dan berperan di dalam penciptaan (Kej. 1:2b). Dalam Roh Kristus, kita mempunyai inkarnasi Kristus, keinsanian Kristus, kehidupan insani, kematian, dan kebangkitan Kristus. Dalam Roh Allah terdapat hayat, tetapi dalam Roh Kristus terdapat hayat sekaligus kebangkitan. Roh Kristus berhuni di dalam kita bukan hanya sebagai Allah, tetapi juga sebagai Kristus yang terdiri dari sifat ilahi Allah dan sifat insani, inkarnasi, kehidupan insani, ketersaliban, dan kebangkitan Kristus.
ROH KEPUTRAAN
Roma 8:15 memberi tahu kita bahwa kita "menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah (Roh keputraan—Tl.). Oleh Roh itu kita berseru : Ya Abba, ya Bapa!" Keputraan meliputi hayat Putra, sifat Putra, hak Putra, kedudukan Putra, realitas Putra, potensi Putra, gambar Putra, dan warisan Putra. Hari ini, kita adalah putra-putra Allah, tetapi belum menjadi putra-putra sepenuhnya. Roh keputraan akan menjadikan kita putra-putra sesungguhnya dengan sepenuhnya. Anda mungkin mengatakan bahwa Anda memiliki hayat putra Allah, tetapi hayat ini belum berkembang di dalam Anda hingga mencapai kepenuhan-Nya. Anda mungkin memiliki sifat putra Allah, tetapi masih begitu tersembunyi. Anda mungkin memiliki potensi untuk menjadi kaya dalam Kristus, tetapi Anda mungkin masih tetap miskin dalam pengalaman dan kekayaankekayaan Kristus. Tetapi, Roh keputraan di dalam kita akan menghasilkan segala sesuatu yang berkenaan dengan keputraan.
BUAH SULUNG ROH
Roma 8:23 mengatakan bahwa kita telah menerima karunia sulung Roh (buah sulung Roh). Setiap buah berasal dari benih hayat. Buah merupakan hasil dari hayat yang terkandung di dalam benih. Jadi, Roh bukan hanya hayat, tetapi juga buah hayat. Buah sulung merupakan pencicipan pendahuluan. Kita mempunyai pencicipan pendahuluan, buah sulung Roh, dan kita sedang menunggu tuaian. Menurut Roma 8:23 tuaian merupakan penebusan tubuh kita. Di dalam roh, kita telah ditebus; tetapi di dalam tubuh, kita belum ditebus. Tidak peduli seberapa banyak kita tinggal di dalam roh, kadang-kadang tubuh kita benar-benar mengganggu kita. Roh kita mungkin kuat, tetapi tubuh kita mungkin lemah. Karena tubuh kita belum ditebus, maka ia merupakan pembatasan dan kekurangan bagi kita. Jika tubuh kita lemah atau sakit, kita harus menaruh perhatian terhadap kebutuhan-kebutuhannya. Paulus mengatakan bahwa kita yang telah menerima karunia sulung Roh (buah sulung Roh) "menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita (sangat mengharapkan keputraan, penebusan tubuh kita—Tl.)" (ay. 23). Melalui kelahiran kembali roh kita, kita mempunyai Roh sebagai pencicipan pendahuluan. Roh itu merupakan buah sulung di dalam roh kita. Kemudian, kita perlu tuaian Roh, yaitu keputraan penuh, penebusan tubuh kita.
MINUM DARI ROH ITU
Satu Korintus 12:13 mengatakan, "Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh." Dalam ayat ini, Roh itu bukan hanya merupakan air pembaptisan tetapi juga air minum. Kita semua telah dijadikan untuk minum Roh itu, dan minum Roh itu merupakan perkara hayat. Dibaptis adalah diletakkan ke dalam air, tetapi minum adalah menerima air masuk ke dalam diri kita. Setelah dibaptis di dalam Roh, sekarang kita sedang minum Roh. Dibaptis di dalam Roh berarti masuk ke dalam Roh dan tenggelam di dalam-Nya; minum Roh berarti menerima Roh itu masuk dan membiarkan diri kita dijenuhi dengan-Nya.
SUPLAI SERBA LIMPAH DARI ROH ITU
Filipi 1:19 menyebutkan, "...pertolongan Roh Yesus Kristus (suplai serba limpah dari Roh Yesus Kristus—Tl.)." Roh itu menyuplai kita dengan segala sesuatu yang kita perlukan. Jika kita memerlukan hayat, Ia menyuplaikan hayat. Jika kita memerlukan kekuatan, Ia menyuplaikan kekuatan. Jika kita memerlukan kesabaran, Ia menyuplaikan kesabaran. Jika kita memerlukan kekuatan untuk menahan penderitaan, kekuatan menderita, Ia menyuplaikannya. Apa saja yang kita perlukan berada di dalam suplai serba limpah dari Roh itu. W.J. Conybeare memberi tahu kita bahwa istilah untuk "suplai serba limpah" di dalam bahasa Yunani secara harfiah berarti pemenuhan semua kebutuhan anggota paduan suara oleh pemimpin paduan suara (choragus). Choragus adalah pemimpin paduan suara dan ia memenuhi kebutuhan-kebutuhan setiap anggota paduan suara, seperti kebutuhan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan peralatan musik. Apa saja yang diperlukan oleh anggota paduan suara, pemimpin paduan suara akan menyuplainya. Suplaian pemimpin paduan suara benar-benar limpah, bahkan almuhit. Syukur kepada Tuhan, karena apa saja yang kita perlukan akan disuplai oleh Roh yang almuhit dan limpah ini.
ROH YANG MEMERDEKAKAN
Dua Korintus 3:17 memberi tahu kits bahwa Tuhan adalah Roh dan "di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan." Hal ini berarti bahwa Roh itu adalah Roh yang memerdekakan. Di mana ada hayat, di sana selalu ada kemerdekaan. Semakin kita bertumbuh dalam hayat, kita semakin merdeka. Semakin kita matang dalam hayat, kita semakin bebas dari segala macam belenggu. Banyak orang kudus muda yang masih berada di bawah belenggu. Kelihatannya mereka lebih bebas daripada orang-orang kudus yang lebih matang dalam hayat ilahi, tetapi sesungguhnya mereka lebih terikat. Banyak di antara kita yang terikat oleh agama dan praktek-praktek keagamaan, maka kita perlu mengalami Roh yang memerdekakan lebih banyak. Begitu kita bertumbuh dalam hayat, kita dibebaskan dari belenggu kita.
Banyak kebiasaan-kebiasaan yang kita miliki karena daging kits dan susunan alamiah kita merupakan belenggu-belenggu. Roh yang memerdekakan dapat membebaskan kita dari belenggu kebiasaan-kebiasaan kita. Beberapa saudara mempunyai kebiasaan diam, sedangkan saudarasaudara yang lain mempunyai kebiasaan berbicara sepanjang waktu. Anda mungkin ingin mengatakan sesuatu kepada saudara yang mempunyai kebiasaan berbicara, tetapi Anda mungkin tidak mendapatkan kesempatan karena kebiasaannya. Kita semua perlu dimerdekakan dari kebiasaan-kebiasaan kita. Seorang saudara lain mungkin mempunyai kebiasaan berbicara lembut dalam sidang yang dihadiri banyak orang kudus. Ia mungkin terikat oleh kebiasaan alamiahnya dan tidak mengalami keberanian di dalam Milan dan pembebasan roh. Ia perlu dimerdekakan dari kebiasaan ini; kalau tidak, ia tidak akan dapat melayani dengan layak. Ia memerlukan Roh yang memerdekakan untuk memberikan keberanian dan pembebasan roh kepadanya.
Ketika mendoabacakan Firman, kita harus dimerdekakan dari kebiasaan kita. Kita perlu doa baca sesuai dengan kebutuhan dan suasana. Jika empat atau lima orang saudara berkumpul bersama untuk doa baca Firman di dalamapartemen seseorang, maka mereka tidak perlu berteriak. Jika salah satu dari saudara-saudara tersebut berteriak, hal ini adalah karena kebiasaannya. Kita seharusnya berteriak, bukan karena kebiasaan kita tetapi menurut situasi, kondisi, lingkungan, dan suasana. Kita perlu membebaskan roh kita, bukan membebaskan kebiasaan kita. Seorang saudara mempunyai kebiasaan untuk tenang sepanjang waktu. "Latihan roh" nya cocok jika berada di dalam rumah-rumah orang kudus. Tetapi begitu ia datang ke dalam sidang yang terdiri dari tiga sampai empat ratus orang, ia memerlukan keberanian untuk membebaskan rohnya dengan cara yang hidup. Dalam sidang yang lebih besar, akan lebih mudah bagi saudara ini untuk tinggal di dalam kebiasaannya dan doa baca dengan membebaskan kebiasaannya yang tenang.
Kita perlu kemerdekaan Roh sehingga kita dapat cocok dengan segala macam lingkungan atau situasi. Bersama sedikit orang, kita perlu mengalami Roh itu melalui doa baca dengan suara pelan. Bersama orang-orang kudus dalam jumlah banyak, kita perlu doa baca dengan suara keras di dalam Rob. Jika kita menikmati Roh yang memerdekakan, kita akan berbicara jika memang perlu berbicara dan diam jika perlu diam. Apa yang kita lakukan tidak seharusnya menurut kebiasaan kita, tetapi menurut kemerdekaan Roh. Untuk menikmati kemerdekaan Roh itu sampai pada puncaknya, kita perlu pertumbuhan di dalam hayat. Peraturan-peraturan di luar tidak akan bisa membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan kita. Semakin kita bertumbuh di dalam hayat, kits akan semakin dimerdekakan.
ROH YANG MENTRANSFORMASI
Dua Korintus 3:18 mengatakan, "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita ditransformasi menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar." Dalam ayat ini, Roh itu adalah Roh yang mentransformasi. Transformasi merupakan suatu pengubahan dalam hayat, suatu pengubahan metabolis. Semakin banyak suplai hayat yang kita nikmati, kita akan semakin diubah, atau ditransformasi. Transformasi bukanlah suatu pengubahan di luar melalui beberapa metode tetapi suatu pengubahan di dalam melalui suplai hayat. Transformasi yang disebutkan dalam 2 Korintus 3:18 bukanlah sesuatu yang berasal dari ajaran tetapi sesuatu yang berasal dari pengubahan hayat.
Kita semua perlu diubah, bukan melalui ajaran-ajaran dan peraturan-peraturan yang di luar tetapi melalui pertumbuhan hayat di dalam. Ketika anak-anak kecil bertumbuh dalam hayat insani mereka, penampilan mereka berubah dari tahun ke tahun. Bersamaan dengan pertumbuhan hayat, terjadi suatu pengubahan. Kita semua perlu menuntut pertumbuhan yang sebenarnya di dalam hayat, dan kita semua perlu mengalami pengubahan yang sebenarnya di dalam hayat. Kita bukan sedang melakukan praktek-praktek yang bersifat keagamaan, tetapi sebagai gereja, kita adalah ladang Allah. Kita harus memperhatikan pertumbuhan dalam hayat sehingga kita dapat mengalami transformasi dalam hayat oleh Tuhan Roh.
TUHAN ROH
Dua Korintus 3:17 memberi tahu kita bahwa Tuhan adalah Roh, kemudian ia menyebutkan Roh Tuhan. Mengatakan "Roh Tuhan" sama dengan mengatakan "arus listrik". Arus dan listrik bukanlah dua hal yang terpisah. Demikian juga, Roh dan Tuhan bukanlah dua hal yang berbeda. Arils listrik adalah listrik itu sendiri, dan Roh Tuhan adalah Tuhan itu sendiri. Arus listrik adalah listrik yang sedang bergerak. Roh itu adalah Allah Tritunggal yang sedang bergerak, jangkauan Allah Tritunggal. Allah Tritunggal mencapai manusia tripartit sebagai Roh itu. Dalam ayat 18 terdapat istilah "Tuhan Roh". Ini merupakan sebutan gabungan seperti Bapa Allah dan Tuhan Kristus. Sebutan gabungan "Bapa Allah" mengacu kepada Bapa yang adalah Allah atau kepada Allah yang adalah Bapa kita. Tuhan Roh mengacu kepada Tuhan yang adalah Roh itu dan kepada Roh itu yang adalah Tuhan kita. Tuhan dan Roh bukan dua, tetapi satu.
Dalam 2 Korintus 3:17-18 Roh itu disebutkan dalam tiga aspek : 1) Tuhan adalah Roh; 2) Roh Tuhan; 3) Tuhan Roh. Kita harus menyadari bahwa Tuhan adalah Roh bagi kita, dan kita seharusnya memanggil Dia Tuhan Roh. Memanggil Dia Tuhan Roh adalah berdasarkan pengalaman subyektif terhadap hayat. Jika kita tidak mengenal hayat ilahi, akan sulit bagi kita untuk memanggil Tuhan Yesus kita sebagai Tuhan Roh. Begitu kita mengalami hayat ilahi dalam kehidupan sehari-hari, kita secara spontan akan mempunyai perasaan bahwa Tuhan adalah Roh. Semakin mengalami Tuhan dalam hayat, kita akan semakin mengenal bahwa Tuhan adalah Roh bagi kita.
Ketika kita mengalami hayat ilahi di dalam Roh dan datang kepada Alkitab dengan pengalaman ini, kita akan dapat menerima pengertian yang tepat, jelas dari Firman. Jika kita tidak mempunyai pengetahuan atau pengalaman terhadap bagian-bagian tertentu dari mesin, kita tidak akan dapat memahaminya. Jika Anda memberi saya suatu bagian dari mobil, saya tidak akan tahu bagian apakah ini dan di mana harus meletakkannya. Tetapi jika Anda memberikan bagian yang sama kepada seorang ahli mesin, ia akan tahu bagian apakah itu dan tahu di mana seharusnya diletakkan. Karena mempunyai pengetahuan dan pengalaman mengenai mobil, maka mudah bagi dia untuk mengerti bagian-bagian tersebut. Demikian pula untuk mengerti Alkitab, khususnya mengenai hayat dan Roh, kita perlu pengalaman sesungguhnya terhadap hayat dan Roh. Kita mungkin mempelajari doktrin-doktrin, ajaran-ajaran, dan teologi, tetapi untuk mengerti perkara-perkara hayat dan Roh, kita perlu menikmati dan mengalami Kristus sebagai Tuhan Roh. Kita perlu menikmati Roh yang memerdekakan dan Roh yang mentransformasi, yang mentransformasi kita dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat yang lain.