← Daftar isi Pelajaran Dasar tentang Hayat · bab 20/20

MEMBEDAKAN ROH DARI JIWA

Pembacaan Alkitab :

Ibr. 4:12; Mat. 16:24, 26; Luk. 9:25; Rm. 8:6b, 4; 1 Kor. 6:17

GARIS BESAR

1. Roh tersembunyi di dalam jiwa seperti sumsum tersembunyi di dalam sendi-sendi - Ibr. 4:12

2. Jiwa perlu diremukkan agar roh dapat dipisahkan darinya seperti sendi-sendi perlu diremukkan agar sumsum dapat dipisahkan darinya

3. Susunan jiwa - pikiran, emosi, dan tekad - perlu disangkal

4. Menyangkal pikiran, emosi, dan tekad berarti menyangkal ego - Mat. 16:24; Luk. 9:25

5. Firman Allah yang hidup dan berkhasiat akan menyingkapkan dan membedakan pertimbangan pikiran, maksud tekad, dan kedambaan emosi - Ibr. 4:12

6. Setelah peremukan jiwa - penyangkalan pikiran, emosi, dan tekad - yang tersisa adalah roh

7. Meletakkan pikiran di atas roh - Rm. 8:6b (Tl.)

8. Hidup menurut roh - Rm. 8:4

9. Menjadi satu dengan Tuhan di dalam roh - 1 Kor. 6:17

Dalam pelajaran ini kita perlu menunjukkan kepada kaum saleh bagaimana membedakan roh dari jiwa.

1. ROH TERSEMBUNYI DI DALAM JIWA

SEPERTI SUMSUM TERSEMBUNYI DI DALAM SENDI-SENDI

Ibrani 4:12 menunjukkan bahwa roh tersembunyi di dalam jiwa seperti sumsum tersembunyi di dalam sendi-sendi. Roh kita adalah seperti sumsum, dan jiwa kita seperti sendi-sendi. Dengan kata lain, roh kita dibungkus di dalam jiwa. Jiwa adalah amplop yang menyembunyikan roh kita. Maka untuk membedakan roh dari jiwa, kita harus tahu di mana roh kita berada. Roh kita berada di dalam jiwa. Di sini kita juga dapat melihat situasi roh kita. Roh kita dikelilingi, ditutupi oleh jiwa. Untuk membedakan roh dari jiwa. kita perlu melihat posisi dan situasi roh kita.

2. JIWA PERLU DIREMUKKAN

AGAR ROH DAPAT DIPISAHKAN DARINYA

SEPERTI SENDI-SENDI PERLU DIREMUKKAN

AGAR SUMSUM DAPAT DIPISAHKAN DARINYA

Bila sendi-sendi tidak diremukkan tetapi tetap utuh, maka sumsum tidak mungkin dapat dipisahkan dari sendi-sendi. Untuk memisahkan sumsum dari sendi-sendi, kita harus meremukkan sendi-sendi. Ini memperlihatkan bahwa tanpa meremukkan jiwa kita, roh kita tidak mungkin dapat dipisahkan dari jiwa. Agar suatu isi yang di dalam dapat dipisahkan dari bungkusnya, maka bungkusnya perlu diremukkan. Ini adalah suatu dasar. Jiwa kita harus diremukkan. Bila kita membiarkan jiwa tetap utuh, maka roh kita tidak mungkin dapat dipisahkan darinya. Membedakan roh bukan hanya menyadari perbedaan antara roh dengan jiwa, tetapi juga memisahkan roh dari jiwa. Maka kita perlu peremukan jiwa.

3. SUSUNAN JIWA - PIKIRAN, EMOSI, DAN TEKAD –

PERLU DISANGKAL

Jiwa tersusun dari pikiran, emosi, dan tekad. Semua unsur jiwa ini harus disangkal. Kita tidak boleh memberi tempat kepada pikiran kita, emosi kita, dan tekad kita. Semuanya itu harus disangkal dalam kehidupan rohani kita.

4. MENYANGKAL PIKIRAN, EMOSI, DAN TEKAD

BERARTI MENYANGKAL EGO

Menyangkal pikiran, emosi, dan tekad kita adalah menyangkal diri kita sendiri. Dalam Matius 16:24 Tuhan Yesus memberi tahu kita, bahwa jika kita mau mengikuti Dia, kita harus menyangkal diri kita sendiri. Bila kita membandingkan Matius 16:26 dengan Lukas 9:25, kita akan nampak bahwa jiwa kita, hayat jiwa kita, adalah ego kita. Jiwa adalah ego. Maka menyangkal isi jiwa - pikiran, emosi, dan tekad - adalah menyangkal ego. Di sini kita perlu melihat bahwa menyangkal adalah meremukkan. Menyangkal pikiran, emosi, dan tekad jiwa kita adalah membiarkan jiwa diremukkan. Peremukan jiwa yang sesungguhnya adalah penyangkalan ego.

5. FIRMAN ALLAH YANG HIDUP

DAN BERKHASIAT AKAN MENYINGKAPKAN

DAN MEMBEDAKAN PERTIMBANGAN PIKIRAN,

MAKSUD TEKAD, DAN KEDAMMAN EMOSI

Dari Ibrani 4:12 kita dapat melihat bahwa firman Allah yang hidup dan berkhasiat (Tl.) akan menyingkapkan dan membedakan pertimbangan pikiran, maksud tekad, dan kedambaan emosi. Karena firman Allah menyingkapkan situasi batin kita, maka ia dapat menyatakan segala macam situasi batin kita. Ini dikarenakan firman Allah hidup dan berkhasiat. Hidup mengacu kepada sifat firman, dan berkhasiat mengacu kepada fungsi firman. Firman itu sendiri adalah hidup, dan ia berkhasiat, berdaya guna.

Semua orang saleh, termasuk yang senior, perlu mengerti mengapa Paulus menyinggung firman Allah untuk memisahkan roh kita dari jiwa. Ini dikarenakan setiap kali Allah berbicara kepada kita, firman-Nya selalu menyingkapkan dan membedakan situasi batin kita. Ibrani 4:12 disinggung berdasarkan kenyataan bahwa Allah berbicara kepada bangsa Israel, memerintahkan mereka untuk langsung pergi ke tanah permai. Apa yang Allah bicarakan kepada mereka menyingkapkan situasi batin mereka dan membuat situasi batin mereka menjadi jelas.

Bangsa Israel sepenuhnya berada di dalam jiwa mereka. Mereka mempertimbangkan bagaimana tinggi dan kuatnya orang-orang Kanaan dan bagaimana lemahnya mereka. Orang-orang Kanaan itu raksasa dan jumlahnya banyak, tetapi bangsa Israel jumiahnya sedikit. Mereka mempertimbangkan semua hal itu dan takut kepada orang-orang Kanaan. Pertimbangan itu, pemikiran itu, berada di dalam jiwa mereka. Lalu firman Allah menyingkapkan dan menyatakannya untuk memperlihatkan bahwa mereka berada di dalam jiwa. Mereka tidak menggunakan roh seperti Yosua dan Kaleb. Yosua dan Kaleb tidak tinggal dalam jiwa mereka. Alkitab mengatakan, bahwa mereka memiliki roh yang lain (Bil. 14:24, 30, Tl.). Mereka menggunakan roh sehingga mereka memiliki iman.

Paulus membandingkan kaum beriman Ibrani yang bimbang dengan bangsa Israel di masa lampau. Menurut Paulus, kaum beriman Ibrani itu berada dalam keadaan bimbang. Mereka tidak tahu harus berbuat apa, apakah tetap dalam ajaran Yudaisme atau harus terus melangkah ke depan. Mereka berada dalam jiwa mereka, bukan dalam roh. Karena itu Paulus membicarakan firman Allah kepada mereka untuk menyingkapkan situasi batiniah mereka dan untuk membantu mereka membedakan bahwa mereka berada di dalam jiwa, bukan di dalam roh.

Di sini kita dapat melihat bahwa setiap kali kita membaca firman dalam Alkitab dengan cara yang hidup, firman itu selalu menuntut sesuatu dari kita. Firman yang menuntut ini selalu menyingkapkan dan membedakan situasi batiniah kita, sehingga kita dapat mengetahui apakah kita berada di dalam jiwa atau di dalam roh. Untuk membedakan roh kita, kita perlu menerima firman yang hidup. Semakin banyak kita mendoa-bacakan firman, semakin firman itu hidup bagi kita. Firman yang hidup ini memperlihatkan kepada kita apakah kita berada di dalam jiwa atau di dalam roh. Dengan inilah jiwa kita disingkapkan dan roh kita dibedakan dari jiwa. Firman Allah selalu memperlihatkan posisi dan situasi di dalam kita. Bila kita ingin membedakan roh dari jiwa, kita tidak dapat lepas dari firman Allah yang hidup dan berkhasiat.

6. SETELAH PEREMUKAN JIWA –

PENYANGKALAN PIKIRAN, EMOSI, DAN TEKAD

YANG TERSISA ADALAH ROH

Setelah peremukan jiwa - penyangkalan pikiran, emosi, dan tekad - yang tersisa adalah roh. Mula-mula kita harus melihat bahwa peremukan jiwa sama dengan penyangkalan pikiran, emosi, dan tekad. Setelah peremukan atau penyangkalan ini, tentu saja masih ada yang tersisa dalam kita. Bila orang yang tidak percaya menyangkal pikiran, emosi, dan tekadnya, maka tidak ada yang tersisa. Tetapi semakin kita menyangkal pikiran, emosi, dan tekad, roh kita akan semakin dibangkitkan dan ditegakkan. Beberapa orang saleh bertanya bagaimana bisa mengenal roh. Kita perlu memberi tahu mereka agar mereka meremukkan jiwa mereka melalui menyangkal pikiran, emosi, dan tekad mereka. Maka yang tersisa adalah roh. Ini adalah cara untuk membedakan roh. Roh adalah yang tersisa setelah peremukan dan penyangkalan jiwa.

7. MELETAKKAN PIKIRAN DI ATAS ROH

Dalam Roma 8:6b Paulus menyuruh kita meletakkan pikiran di atas roh (Tl.). Mula-mula kita harus memiliki peremukan jiwa. Kita harus menyangkal pikiran, emosi, dan tekad kita. Kemudian kita dapat meletakkan pikiran di atas roh. Bila tidak, mustahil kita dapat meletakkan pikiran di atas roh. Jiwa harus diremukkan, ego harus disangkal, termasuk pikiran, emosi, dan tekad. Lalu akan tersisa sesuatu. Demikian kita memiliki suatu tumpuan yang jelas untuk meletakkan pikiran kita pada apa yang tersisa, yaitu roh.

8. HIDUP MENURUT ROH

Dalam Roma 8:4 Paulus menyuruh kita hidup menurut roh. Bila kita tidak meremukkan jiwa kita, menyangkal pikiran, emosi, dan tekad kita, dan bila kita tidak meletakkan pikiran kita di atas roh, kita tidak dapat hidup menurut roh. Bila kita hidup menurut pikiran, emosi, dan tekad kita, itu berarti kita hidup menurut jiwa kita, menurut ego kita, bukan menurut roh. Hanya setelah jiwa diremukkan, pikiran, emosi, dan tekad disangkal, dan pikiran diletakkan di atas roh, barulah kita dapat hidup menurut roh.

9. MENJADI SATU DENGAN TUHAN DI DALAM ROH

Pada butir ini, akan sangat mudah bagi kita untuk terus maju bersama dengan Tuhan di dalam roh. Di sini kita perlu menggunakan 1 Korintus 6:17, "Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia."

Bila kita tidak tahu bagaimana membedakan roh dari jiwa, ini berarti kita tidak membiarkan jiwa kita diremukkan dan ego kita disangkal. Kita harus meremukkan jiwa, menyangkal ego, sehingga kita memiliki suatu tempat untuk meletakkan pikiran, yaitu di atas roh. Lalu kita dapat hidup menurut roh dan kita dapat menjadi satu dengan Tuhan di dalam roh, roh yang sepenuhnya dibedakan dari pwa. Kemudian roh ini tidak lagi tersembunyi di dalam jiwa, tetapi dipisahkan dari jiwa (jiwa yang remuk).

ROH MANUSIA

BAB

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

PENDAHULUAN

Buku ini berisi berita-berita yang disampaikan pada musim panas tahun 1963, 1965, dan 1969 di Los Angeles, California. Buku ini menyajikan suatu keterangan yang jelas mengenai kebenaran dasar dalam hal roh manusia. Kebenaran ini tidak lagi ada pada sebagian besar orang Kristen dan hampir semua orang Kristen yang pemah mengetahuinya telah mengabaikannya. Hanya sedikit yang menyadari pentingnya roh manusia ini.

Alkitab mengungkapkan bahwa manusia adalah makhluk triparte yang memiliki roh, jiwa dan tubuh ( Tesalonika 5:23). Alkitab membedakan ketiga bagian ini dengan jelas (Lukas 1:447 Ibrani 4:12 Filipi 1:27). Sebagai makhluk yang mempunyai tubuh manusia memiliki kesadaran akan duma ini dan dapat berhubungan dengan dunia materi. Sebagai makhluk yang memiliki jiwa manusia memiliki kesadaran akan diri, yang membenkan kepadanya kepribadlan dirmya sendin (Matius 16:26 bandingkan dengan Lukas 9:25), dan ia bisa mengemukakan pendapat memilih dan memberikan reaksi secara emosional. Sebagai makhluk yang mempunyai roh manusia memiliki kesadaran akan Allah dan dapat menghubungi, menerima dan menyembah Allah Trinitas (Yohanes 4:24 Roma 8:16; I Timotius 4:22). Allah adalah Roh (Yohanes 4:24), dan pads saat membentuk manusia (Kejadian 2:7), Ia memberinya satu roh (Zakharia 12:1). Jika manusia tidak memiliki roh ia tidak akan dapat berhubungan dengan Allah.

Dalam roh, kita dilahirkan kembali (Yohanes 3:6); dalam roh, kita dihidupkan (Efesus 2:5; Roma 8:10); dalam roh kita Allah tinggal (Efesus. 2:22; I Timotius 4:22; Roma 8:16); dalam roh kita mengikatkan diri dengan Tuhan (Korintus 6:17); dan dalam roh, kita berhubungan dengan Allah dan menyembahNya (Yohanes 4:24). Sekarang kita hams hidup dan berperilaku berdasarkan roh kita -- melayani dalam roh kita (Roma 1:9), berdoa dalam roh (Efesus 6:18), dipenuhi oleh roh (Efesus 5:18), melihat wahyu Allah dalam roh (Efesus 1:17; 3:5; Wahyu 1:10; 4:2; 17:3; 21:10), bersekutu dengan saudara saudari dalam roh (Filipi 2:1); dan bersama-sama dibangun dengan orang lain menjadi tempat kediaman Allah di dalam roh (Efesus 2:22).

Perjanjian Baru juga mengungkapkan tiga kehidupan (hayat) yang berbeda bios, psuche, dan zoe. Bios kehidupan (hayat) jasmani, ada di dalam tubuh; psuche, kehidupan (hayat) manusia, ada di dalam jiwa; dan zoe, kehidupan (hayat) ilahi, ada di dalam roh. Sebelum kita dilahirkan kembali, kita hanya memiliki kehidupan jasmani dan kehidupan manusia (kehidupan jiwa). Pada saat kita dilahirkan kembali,kita menerima kehidupan yang ketiga, kehidupan ilahi, yaitu Allah sebagai kehidupan kita. Namun sebagian besar orang Kristen, walaupun telah dilahirkan kembali, masih terus hidup dan bersikap menurut pertimbangan dan akal budi, kesukaan dan ketidaksukaan mereka sendiri, atau berdasarkan benar atau salah, baik atau jahat. Sikap semacam ini adalah sikap yang jiwani (I Korintus 2:14); manusia-manusia jiwani yang menganggap hayat manusia mereka sebagai sumber kehidupan mereka. Yang lainnya hidup menurut roh; orang-orang ini adalah manusia rohani (I Korintus 2:15), orang-orang yang menganggap Allah sebagai sumber kehidupan mereka. Kita semua hares belajar hidup bukan menurut kehidupan (hayat) yang ada di dalam jiwa kita, melainkan berdasarkan kehidupan (hayat) yang ada di dalam roh kita (Markus 8:3-36; Yohanes 12:25; Roma 8:-6).

Maleakhi 2:1-1 memberitahu kita, bahwa kita perlu memperhatikan roh kita. Dalam kehidupan Kristiani kita sehari-hari kita harus selalu melatih roh kita. Dalam roh inilah kita menyembah Allah, bersekutu dengan orang lain dan dipenuhi oleh Roh. Dalam roh juga kita menikmati kesegaran, kemanisan, keceriaan dan suplai Kristus. Juga, di gereja kita harus terus-menerus melatih roh kita. Hidup gereja yang benar mutlak merupakan perkara dalam roh. Jika kita berpaling kepada roh, kita menjadi satu. Kami berdoa agar pokok-pokok yang disajikan dalam buku ini bisa menjadi suatu visi bagi semua orang yang membacanya, agar banyak orang mau memulai hidup berdasarkan visi ini. Saat ini anak-anak Tuhan benar-benar perlu berjalan dan hidup berdasarkan roh mereka. Kami juga mendoakan kiranya Tuhan mengaruniakan realitas ini di semua gereja lokal.

April 1984,

Benson Phillips Irving, Texas