← Daftar isi Pelatihan DI Pemulihan Tuhan · bab 4/24

KARAKTER

Ayat Bacaan: Kidung: No. 304

2 Timotius 2 : 21 Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.

Galatia 2 : 20 Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Roma 8 : 13 Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.

I. Pentingnya karakter–2 Tim. 2:20~21:

A. Karakter kita adalah musuh dan masalah terbesar dalam perlengkapan kebenaran dan pertumbuhan hayat kita.

B. Karakter adalah dasar utama dan urat nadi pelayanan dan koordinasi kita.

C. Karakter kita berkaitan dengan pembangunan gereja dan kelanjutan firman dalam pemulihan Tuhan.

II. Makna karakter–2 Kor. 3:5~6; 4:2~3:

A. Watak: membenahi bagian dalam manusia, membenahi alamiah/sifat bawaan, susunan alamiah, termasuk: manusia lama "aku", ego, hayat jiwa, manusia alamiah yang terekspresi dalam opini, ambisi, dan sifat yang aneh–Rm. 6:6; Gal. 2:2; Mat. 16:24; Luk. 9:25; Mat. 16:25-26; Luk. 9:24.

B. Karakter: ekspresi manusia yang di luar, watak bagian dalam terekspresi dalam karakter yang di luar, tiga puluh persen watak (hayat manusia atau melalui sifat bawaan), tujuh puluh persen adalah kebiasaan, dan terlihat dalam kehidupan, pekerjaan, dan apa adanya manusia.

III. Penanggulangan karakter:

A. Menanggulangi watak:

1. Melalui remuknya manusia lahiriah–2 Kor. 4:16.

2. Melalui hidup di bawah salib–Gal. 2:20; Rm. 6:6.

3. Melalui menolak diri sendiri, menyangkal ego, dan kehilangan hayat jiwa–Mat. 16:24-26.

4. Melalui proses diayak–2 Kor. 11:23-33; Kis. 27---28.

5. Melalui pengubahan–Rm. 12:2.

B. Menanggulangi karakter:

1. Melalui Roh yang berhuni meletakkan kebiasaan kita pada kematian–Rm. 8:13.

2. Melatih tekad kita untuk bekerja sama dengan Tuhan.

3. Melalui pembaruan–Ef. 4:22-24; Tit. 3:5.

IV. Belajar, berlatih, membangun, dan membina karakter:

A. Belajar karakter–belajar menjadi seorang yang tepat, berjerih lelah, dan bekerja–1 Tim. 4:12.

B. Berlatih karakter (satu kelompok terdiri dari tiga):

1. Benar, tepat, ketat,

2. Rajin, lapang, cermat,

3. Stabil, sabar, dalam,

4. Murni, seimbang, tenang,

5. Tulus, umum, terbuka,

6. Akrab, gairah, luwes,

7. Teguh, lembut, taat,

8. Derita, rendah, miskin,

9. Tekun, sulit, tekan,

10. Jernih, murah hati, bobot.

C. Membangun karakter–Flp. 4:8; 1 Tim. 4:12.

V. Keinsanian seorang yang melayani Tuhan–Kej. 1:26; Gal. 2:20; Mat. 5:44; Luk. 23:24:

A. Menjadi serupa manusia–dalam keinsanian.

B. Memiliki kebajikan-kebajikan terunggul.

Buku-buku Referensi: The Character of the Lord’s Worker, Bab 1; Character, Bab 1-5; Perfecting Training (1), Bab 8-11; Vessels Useful to the Lord (dalam bahasa China), Bab 5, 6, 9, 12; The Experience and Growth in Life, Bab 21-24, 28; Messages to the Trainees in Fall 1990, Bab 1-2; The Glorious Vision and the Way of the Cross, Bab 3-4.

Cuplikan berita ministri :

PENTINGNYA WATAK DAN KARAKTER

Kehidupan pribadi seorang pekerja Tuhan sangat erat hubungannya dengan pekerjaannya. Karena itu, kita harus mempertimbangkan perkara-perkara karakter, kebiasaan, dan tingkah-laku ketika membahas syarat-syarat yang diperlukan untuk berada dalam pekerjaan Allah. Ini berhubungan dengan susunan karakter dan pembentukan kebiasaan. Seseorang bukan hanya harus memiliki sejumlah pengalaman rohani tertentu, tetapi juga susunan tertentu dalam wataknya; Tuhan harus menyusun watak tertentu di dalamnya. Banyak hal yang perlu dibangun, digarap, dan dikembangkan ke dalam kebiasaan dalam diri seorang pekerja. Hal-hal ini lebih banyak berkaitan dengan manusia luaran kita daripada manusia batiniah kita. Pada saat hal-hal ini mencetak manusia luaran kita ke dalam bentuk yang tepat, kita akan menjadi sesuai untuk digunakan Tuhan. Untuk ini dibutuhkan anugerah dan belas kasihan Allah. Karakter tidak dibangun dalam sehari. Tetapi bila Tuhan memberi seseorang terang yang cukup dan Dia cukup sering berbicara kepadanya, unsur-unsur alamiah dan yang tak diinginkan dari dirinya akan dibakar habis; hal-hal ini tidak akan diizinkan untuk tetap tinggal atau bertumbuh. Dengan belas kasihan-Nya, Allah akan menyusun kembali karakter baru di dalamnya melalui kebangkitan. (Karakter Pekerja Tuhan, hal. 1)

Karakter dapat mengganggu pekerja Tuhan. ...Kesuksesan pelayanan gereja, tergantung pada pembangunan karakter yang baik. ...hanya karakter yang baik, barulah dapat memenuhi keperluan Tuhan zaman ini. ...Apakah karakter kita rajin atau tidak mempengaruhi pekerjaan Tuhan. ...Hanya dengan karakter yang ketat kita dapat maju dalam pekerjaan Tuhan. ...Tingkatan penuntutan kebenaran dan pelajaran hayat tergantung pada latihan karakter. ...Karakter adalah urat nadi pelayanan. (Vessels Useful to the Lord, Bab 5 dalam bahasa China)

Hanya ketika karakter kita diremukkan, kita dapat berbagian dalam pembangunan. ...Musuh terbesar kita adalah karakter kita. Alkitab berkata bahwa kematian adalah musuh terakhir Allah (1 Kor. 15:26). Namun demikian menurut pengamatan saya, musuh terakhir kita yang mengasihi dan menuntut Tuhan adalah karakter kita. ...Gangguan terbesar bagi pekerjaan pemulihan Tuhan adalah karakter kita. (bab 6)

Selama bertahun-tahun saya mengamati dua faktor penghalang terbesar dalam pekerjaan Tuhan, yaitu ambisi dan opini. …Dalam pekerjaan Tuhan, dalam hidup gereja, dan dalam hidup rohani, faktor perusak terbesar adalah opini kita. …Dunia dan dosa belum tentu menghalangi pertumbuhan dalam hidup rohani kita; tetapi yang terus ada dan menghalangi pertumbuhan hidup rohani kita adalah opini kita.…Opini adalah ekspresi watak kita, dan watak kita adalah masalah terbesar untuk kita bertumbuh dalam hayat ilahi.…Menurut pengamatan saya bertahun-tahun, musuh sebenarnya atas pertumbuhan kita dalam hayat ilahi adalah watak kita. Watak kita juga adalah faktor yang merusak kegunaan kita di tangan Tuhan. (The Experience and Growth in Life, hal. 147, 148, 150, 166.)

Jika seluruh kaum saleh, khususnya orang-orang yang dilatih untuk melayani Tuhan sepenuh waktu, mematikan wataknya, segala sesuatu akan menjadi sangat baik. Kalau tidak, setiap orang yang sudah dilatih akan menjadi masalah yang potensial bagi gereja, kesulitan akan dihasilkan. Jika setiap peserta pelatihan tidak mematikan wataknya, setiap orang bermasalah dan akan menjadi masalah. Berapa banyak kegunaan kalian bagi Tuhan atau berapa banyak kesulitan kalian bagi gereja tergantung pada berapa banyak watak kalian dimatikan. Karena itu, penanggulangan watak adalah perkara penting. (hal. 163)

MAKNA KARAKTER

Dalam ministri saya, saya memakai istilah watak dan karakter untuk membicarakan hidup rohani, karena saya harus mendapatkan istilah yang dapat membantu kaum saleh memahami hayat jiwa, ego, “aku”, dan manusia lama. Istilah-istilah “hayat alamiah” dan “alamiah” juga dipakai untuk mengacu kepada pengalaman rohani atas menanggulangi ego kita. Ego adalah hayat jiwani kita, dan hayat jiwani ini adalah sesuatu yang alamiah. Selain istilah-istilah ini, Paulus menyebutkan manusia lama dalam Roma 6:6. Setiap istilah ini menjelaskan realitas rohani tertentu. Pada manusia ada sesuatu yang disebut ego, hayat jiwa. Hayat jiwa juga disebut manusia lama. Ego, hayat jiwa, dan manusia lama semuanya adalah sesuatu yang alamiah, sesuatu dari hayat alamiah.

Saat kita bersekutu tentang watak dan karakter, kita tidak memakai banyak definisi dan penjelasan yang secara umum dipakai dalam banyak kamus. Melainkan kita mendefinisikan istilah-istilah ini menurut makna rohani. Watak mengacu kepada sesuatu yang ada di dalam diri kita, dan karakter mengacu kepada sesuatu di luar diri kita. Di dalam, kita memiliki watak, dan di luar, kita memiliki karakter. Watak adalah apa adanya kita yang di dalam, dan karakter adalah apa yang kita ekspresikan di luar. Watak yang di dalam dan karakter yang di luar adalah sari, esens dari diri kita.

Istilah “karakter” dan “watak” tidak dapat ditemukan dalam Perjanjian Baru, tetapi fakta-fakta yang dinyatakan dalam ayat-ayat seperti Matius 16:26 dan Lukas 9:25 adalah bagian-bagian yang sejajar yang menggunakan ego dan hayat jiwa secara bersamaan. Hayat jiwa dalam Matius 16:26 adalah ego dalam Lukas 9:25. Jiwa adalah hayat ego; dan perkara watak dan karakter sangat berkaitan dengan ego dan jiwa. (hal. 139-140).

Karakter kita tersusun dari pembawaan sejak lahir ditambah kebiasaan kita. Mengingat watak adalah pembawaan sejak lahir, karakter adalah pengembangannya. Karakter seseorang, adalah tiga puluh persen alamiah dan tujuh puluh persen kebiasaan. Karena alasan ini, seorang muda harus penuh perhatian kepada pembangunan karakter. Orang yang berusia di atas lima puluh tahun sudah terbentuk dalam pola yang pasti yang telah berkembang seumur hidupnya. Pada orang muda, sifat bawaan lebih tertampilkan dibandingkan kebiasaan. Karena dia makin tua, dia menampilkan sedikit alamiahnya dan lebih banyak kebiasaannya. Maka, kebiasaan kita lebih penting daripada sifat bawaan. Secara umum, karakter seorang yang berusia di atas dua puluh tahun sudah diisi lebih banyak kebiasaan dibandingkan alamiahnya. Menyinggung perkara karakter, kita harus memperhatikan hidup sehari-hari, yang dapat membentuk karakter kita. Cocoknya karakter kita bagi Allah menentukan kegunaan kita bagi Allah. (Character, hal. 17-18).

PENANGGULANGAN KARAKTER KITA

Kita akan bersekutu tentang menanggulangi watak dan karakter kita. Kata “watak” dan “karakter” keduanya memiliki banyak perbedaan arti dalam kamus. Kita sangat sering memakai kata-kata ini dalam mengartikan rohaninya selama empat puluh sampai lima puluh tahun. Dalam pelatihan permulaan di Taiwan, kita menyajikan tiga puluh butir karakter yang kemudian dicetak dalam buku "karakter." Kemudian kita mulai menekankan banyak perkara watak kita. Saya menemukan bahwa karakter adalah ekspresi dari sesuatu yang di batin, yaitu perkara watak. Secara luaran ini adalah karakter, tetapi secara batini adalah watak. Mau menanggulangi karakter tetapi mengabaikan watak adalah sia-sia. (The Experience and Growth in Life, hal. 139.)

Kita menanggulangi perbuatan dosa, sifat dosa, dunia, dan hati nurani adalah penanggulangan yang dangkal, tetapi menanggulangi watak kita adalah penanggulangan yang dalam. Menanggulangi perbuatan dosa dan sifat dosa agak mudah, tetapi menanggulangi watak dan karakter kita sangatlah sulit. Seturut pengkajianku terhadap Perjanjian Baru, kita diperintahkan untuk mengaku dosa dan kesalahan kita (1 Yoh. 1:8-9), tetapi tidak ada perintah untuk mengaku watak atau karakter kita (hal. 142)

Karena watak dan karakter kita menyebabkan masalah dalam kehidupan kristiani kita, kita harus menanggulangi, memperhatikan, atau mengoreksinya, dan bahkan meletakkannya pada kematian. Istilah “menanggulangi” di sini ada sisi positif dan negatifnya. …Dalam Perjanjian Baru, watak dan karakter dinyatakan dalam istilah-istilah seperti jiwa, hayat jiwa, manusia lama, dan “aku” dalam Galatia 2:20. Hal-hal ini berkaitan dengan hayat alamiah. …Sebenarnya, menanggulangi watak dan karakter kita berarti menanggulangi ego kita, manusia lama kita, hayat jiwa kita, dan “aku”. (hal. 143)

Menanggulangi Watak Kita

Sementara tidak ada ayat dalam Perjanjian Baru yang secara langsung memberi tahu bagaimana menanggulangi watak, tetapi ada sejumlah ayat yang dapat dipakai. Karena watak di artikan dalam “aku”, manusia lama, jiwa, dan ego, kita menanggulangi hal-hal ini termasuk kita menanggulangi watak. Dalam cara yang sama, ketika kita menyangkal diri (Mat. 16:24) dan kehilangan hayat jiwa (Mat 16:25-26), watak ditanggulangi, karena watak dinyatakan dalam hal-hal ini. (hal. 157)

Melalui Remuknnya Manusia Lahiriah

[Saudara Nee, melalui] kekacauan yang panjang yang di dalamnya menghalangi berministri… Setelah kekacauan berlalu, salah satu berita yang lebih dulu adalah remuknya manusia lahiriah dan keluarnya roh. Mulai saat itu, inti pembicaraan Saudara Nee selalu pada remuknya manusia lahiriah. Remuknya manusia lahiriah adalah remuknya watak kita. Saya masih belajar pelajaran bagaimana menanggulangi watak saya. Saudara Nee memperingatkan kita, bahwa jika kita tidak belajar pelajaran remuknya manusia lahiriah sebelum kita berumur lima puluh tahun, kita akan memiliki masa yang sulit dalam kehidupan gereja (hal. 149)

Melalui Hidup Di bawah Salib

Mau menanggulangi watak, kita harus menyadari bahwa kita sudah tersalib (Gal. 2:20; Rm. 6:6). Dari pagi sampai malam, sepanjang hari, kita harus ingat bahwa kita adalah orang yang sudah disalibkan. Karena kita sudah tersalib, kita seharusnya tidak hidup menurut watak kita. Kita seharusnya tidak hidup, bertindak, dan bertingkah laku menurut apa adanya alamiah kita. Jalan menanggulangi watak kita adalah menyadari dan mengingat bahwa kita adalah orang yang tersalib dan tinggal di bawah kesadaran ini sepanjang hari.

Melalui Menolak Diri Sendiri, Menyangkal Ego, dan Kehilangan Hayat Jiwa

Selama kita menyadari bahwa kita tersalib, kita harus menolak diri kita sendiri. Menolak diri kita sendiri adalah menolak watak kita. Jika kalian menyadari watakmu adalah pendiam, selamanya kalian tetap pendiam, kalian dengan sederhana hidup menurut watakmu. Tetapi jika kalian mau menolak watak pendiammu, kalian harus pertama-tama menyadari bahwa orang alamiahmu harus disalibkan dan kemudian tetap tinggal di bawah pembunuhan salib. Kemudian dalam sidang-sidang kalian, menolak diri sendiri, dapat melatih untuk berbicara sesuatu dari Tuhan kepada kaum saleh. (hal. 158)

Menanggulangi Karakter Kita

Menanggulangi karakter kita dapat dilihat dalam Roma 8:13, yang mengatakan, "Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup." Perbuatan-perbuatan tubuh sebenarnya adalah karakter kita. Menanggulangi perbuatan-perbuatan tubuh adalah menanggulangi karakter kita. (hal. 157)

Melalui Roh yang Berhuni Meletakkan Kebiasaan Kita pada Kematian

Karakter kita disusun dari tiga puluh persen watak kita dan tujuh puluh persen kebiasaan kita. Karakter kita lebih bermasalah dibandingkan watak kita karena karakter kita disusun dari watak kita ditambah kebiasaan kita. Hanya menanggulangi kebiasaan kita tidak cukup karena kebiasaan kita hanya ekspresi luaran karakter kita. Dalam Injil, sejak Tuhan kali pertama memanggil Petrus, Tuhan mengambil setiap kesempatan untuk menanggulangi karakter dan watak Petrus.

Perbuatan-perbuatan tubuh adalah bagian dari karakter kita. Secara kebiasaan, kita selalu melakukan hal-hal dengan cara tertentu. Kita harus meletakkan kebiasaan-kebiasaan kita pada kematian melalui Roh yang berhuni. Satu hal yang dapat membereskan masalah watak dan karakter kita adalah salib. (hal 142, 149)

Melatih Tekad Kita untuk Bekerja Sama dengan Tuhan

Setelah lebih dari enam puluh tahun mengamati, saya hampir tidak pernah melihat seorang yang bertekad menerima peremukan karakter dan diubah dalam karakternya sebelum berusia lima puluh tahun. Saya mengaku bahwa perkara ini tidak mudah. Namun demikian, saya juga dapat bersaksi bahwa hal ini tergantung pada berapa banyak kalian bertekad menerima kasih karunia Tuhan dan bekerja sama dengan Tuhan. Ini selalu tergantung pada ketekadan kalian.

Kalau kita bekerja sama dengan Tuhan, ini berhubungan dengan prinsip dasar dalam Alkitab. Ketika Allah menciptakan manusia, Dia menciptakan manusia dengan tekad yang bebas dan merdeka untuk memilih. Ini adalah keputusan tekad kita…. Hari ini Allah juga meletakkan kita manusia yang jatuh di antara karakter kita dan keselamatan Kristus untuk kita pilih. Pada pengertian tertentu, pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat adalah karakter kita, dan pohon hayat adalah Kristus. Ini tergantung apakah kita menginginkan Kristus atau karakter kita. (Vessels Useful to the Lord, hal. 108-109 dalam bahasa China)

Kalian harus memutuskan untuk mempersembahkan diri sendiri kepada Tuhan untuk menjadi bejana yang berguna di tangan-Nya. Karena kalian telah memutuskan, kalian perlu berlatih. Rahasia latihanmu yaitu sejak sekarang, kalian jangan kendor tetapi melatih menjadi tepat dalam hal besar maupun kecil. Semua dasar tergantung pada melatih kehidupan kalian setiap hari. Sebagai contoh, kalian seharusnya mengembalikan sesuatu ke tempat asalnya, memperhatikan rapih dan bersih, dan melakukan sesuatu menurut jadual. Karena kalian mulai melatih dalam cara ini, kalian akan menyadari betapa kendornya kalian di masa lalu. Jika kalian hanya mengapresiasi dan terjamah oleh persekutuan ini tetapi tidak melatih dan melaksanakan dalam kehidupan kita sehari-hari, persekutuan ini seluruhnya tidak menguntungkan bagi kalian. (hal. 148)

Melalui Pembaruan

Pengubahan terutama menanggulangi watak kita, pembaruan terutama adalah menanggulangi karakter kita. Pengubahan dan pembaruan secara sederhana berarti penanggulangan atas watak dan karakter kita. Orang yang sudah diubah tidak dapat tinggal di dalam watak usangnya, orang yang sudah diperbarui juga tidak dapat tinggal di dalam karakter atau ekspresi usangnya. (The Experience and Growth in Life. Hal. 144)

BELAJAR, BERLATIH, MEMBANGUN DAN MEMBINA KARAKTER

Kalian harus belajar bagaimana menjadi manusia, bagaimana mengerjakan urusan, dan bagaimana bekerja. Hal ini dapat dikatakan sebagai almuhit. Lebih dari tiga puluh tahun yang lalu ketika saya mengadakan pelatihan di sini, saya berkata, ”Jika kalian tidak tahu bagaimana menjadi manusia, kalian tidak tahu mengerjakan urusan; jika kalian tidak tahu mengerjakan urusan, kalian sebenarnya tidak dapat tahu bagaimana bekerja.” Saya menyebutnya “tiga bagaimana”. Pada saat itulah, saya membicarakan latihan tiga puluh butir karakter. … Rahasia untuk membangun karaktermu. Dalam perkara melakukan sesuatu dan bekerja, kalian tidak perlu mencurahkan banyak perhatian terhadapnya, kalian dengan sederhana memegang "rahasia" dan memperhatikan efisiensi. Jika kalian terlalu mengkhususkan terhadap perkara, kalian akan kehilangan efisiensi kalian. Tetapi kalian harus memegang "rahasia." Agar melakukan perkara dan bekerja dengan efisiensi, kalian harus pertama-tama membangun diri sendiri dalam perkara bagaimana menjadi manusia. (Vessels Useful to the Lord, hal. 62, 68 dalam bahasa China)

Filipi 4:8 mengatakan, “…Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Lihatlah pakaian dan dandanan kalian. Dapatkah kalian memberi orang perasaan hormat dan kalian mendapat pujian mereka? Bukannya mengatakan bahwa kalian hanya memperhatikan aspek ini saja, tetapi kalian harus memperhatikan setiap aspek. Jika kalian tidak mencatat atau memperhatikan hal-hal ini, kalian tidak dapat membangun dirimu sendiri.

Di samping membangun karaktermu bagaimana menjadi manusia, dan bagaimana mengerjakan sesuatu, kita juga harus belajar bagaimana bekerja. Dalam perkara pekerjaan Tuhan, ada beberapa aspek khusus yang perlu kalian pelajari. Pertama, belajar mengontaki orang; kedua, belajar menjadi seorang penyalur firman; ketiga, belajar bagaimana mengunjungi orang di rumah atau di kampus. Karena kalian telah belajar semua aspek ini, kalian akan sangat berguna dalam pemulihan Tuhan. (hal. 65-66)

Dalam 1 Tim. 4:12, Paulus berkata kepada Timotius, ”Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu.” Perkataan ini maknanya sangat dalam. Di sini dikatakan jangan seorang pun menganggap engkau rendah, tetapi bila pakaian kalian tidak pantas, percakapan kalian tidak senonoh, bagaimana orang tidak akan menganggap kalian masih muda? Jika tingkah laku kalian sembrono dan kendor, orang akan dengan spontan menganggap kalian muda. Maka, Paulus bermaksud bahwa Timotius seharusnya terhormat dalam tingkah laku dan tepat dalam pembicaraan. Berapa banyak seharusnya dia berbicara, ketika dia harus berbicara, apa yang harus dia bicarakan, dan bagaimana seharusnya dia berbicara untuk mendapat perhatian orang lain sehingga orang tidak akan menganggap dia muda.

Paulus pertama-tama menyebutkan perkataan, sikap, tingkah laku, dan tindakan, dan pada akhirnya memerlukan kasih, iman, dan ketulusan. Kasih dan iman adalah perkara hayat, perkataan dan sikap adalah perkara karakter. Hari ini kita pertama membicarakan iman dan kasih, kemudian memerlukan sikap dan perkataan. Ini adalah menempatkan kereta di depan kuda dan bertentangan dengan apa yang Paulus katakan (hal. 94)

TAMBAHAN 30 BUTIR KARAKTER:

A. Kelompok pertama ¾ Asli, Tepat, Ketat:

1. Asli¾Keaslian membentuk pondasi dan dasar seseorang. Keaslian dalam karakter mampu berkorban untuk orang lain. Makin lama, keaslian ini dapat merebut hati orang lain.

2. Tepat¾Orang yang tepat waktu tidak akan menunda-nunda. Orang yang akurat dalam perkataannya dapat diandalkan, dan orang yang saksama dalam pekerjaannya dapat dipercaya.

3. Ketat¾Keaslian dan keketatan menghasilkan ketepatan, akan dinyatakan dengan keketatan. Dia yang tepat selalu ketat. Rahasia orang yang tepat waktu adalah keketatannya. Hanya melalui ketat, orang dapat menjadi asli dan tepat.

B. Kelompok kedua ¾ Rajin, Lapang, Cermat:

1.

Rajin¾tidak malas. Semua orang yang malas sayang dan mengasihi diri sendiri, dan dengan sendirinya senang makan dan tidur (Rm. 12:11; Ams. 6:6; Tit. 1:12; 2 Tes. 3:10). Keempat poin yang disinggung di atas berhubungan dengan pemberesan seseorang dengan hebatnya.

2.

Lapang¾mudah bagi seseorang yang memiliki karakter di atas itu menjadi sempit. “Allah memberikan raja Salomo…hati yang lapang dan luas, selapang pasir di tepi laut” (1 Raj. 4:29).

3.

Halus¾seorang dengan kapasitas lapang sering kali gagal menjadi halus, mengarah kepada kecerobohan dan kerugian yang tak terelakkan. Seseorang itu haruslah lapang tetapi tidak kasar, harus halus tetapi tidak kecil (sempit).

C. Kelompok ketiga ¾ Stabil, Sabar, Dalam:

1.

Stabil¾Menjadi stabil adalah menjadi mantap dan tidak mudah digoyahkan, panik, terburu-buru, atau gelisah. Namun, stabil itu berbeda dengan lamban. Lamban berarti tidak bertindak ketika ada waktu untuk bertindak, sementara stabil berarti memberikan waktu untuk mengerjakan pekerjaannya. Orang stabil tidak memutuskan dengan enteng atau ceroboh, diapun tidak dengan sembarangan memuji atau mengutuk orang lain. Ketika situasi tidak seluruhnya jelas bagi dia, dia berhenti dan tidak berbicara atau menyatakan opini-opininya dengan sembrono.

2.

Sabar¾Sabar di sini bukan mengacu kepada ketabahan tetapi kepada kemampuan untuk menunggu, seperti yang disebutkan dalam Yakobus 5:7, “Petani yang bersabar menunggu buah dari bumi.” Sabar berbeda dengan lambat. Lambat adalah menghilangkan kesempatan yang ada, sedangkan rajin adalah mengharapkan kesempatan yang akan datang. Rajin tidak pasif; rajin adalah agresif tanpa kegelisahan.

3.

Dalam¾dalam adalah tidak dangkal atau hanya di permukaan. Orang yang dalam menghakimi berdasarkan bukti bukan sekadar penampilan luar. Orang dalam tidak mengomel atau menyusahkan, tetapi hanya serius.

D. Kelompok keempat¾ Murni, Seimbang, Tenang:

1.

Murni¾Untuk menjadi murni dan tidak palsu adalah perkara motivasi, yaitu bebas dari maksud-maksud yang tersembunyi (Ul. 22:9).

2.

Seimbang¾Untuk menjadi seimbang berarti tidak berprasangka, menangani segala perkara dengan jujur. Untuk menjadi seimbang, orang harus tidak memihak, mencurahkan perhatian pada setiap aspek orang atau perkara, menilainya dari sudut yang perbeda-beda dan menempatkannya di tempat yang tepat

3.

Tenang¾Tenang dalam pikiran, emosi, dan tekadnya. Cara praktis untuk menjadi tenang adalah melalui: (1) tidak cepat-cepat bertindak dan (2) tidak mempercayai desas-desus, yang tak dapat dielakkan yang disebabkan hasutan.

E. Kelompok kelima¾Tulus, Umum, Terbuka:

1.

Tulus¾Untuk menjadi tulus dan tidak berserakan berkaitan dengan murni, seimbang, dan tenang. Orang seharusnya tidak mengerjakan tugas seluruhnya atau mengerjakan dengan konsentrasi. Apakah yang dia pelajari, mengatur rumah, atau mengerjakan bisnis, haruslah dikerjakan dengan tulus (tunggal).

2.

Umum¾Untuk menjadi umum adalah tidak individual, tidak egois atau tidak mengasingkan diri. Orang yang tunggal dalam karakter harus diseimbangkan melalui kualitas umum.

3.

Terbuka¾Seorang kaum beriman yang terbuka dapat menerima bantuan rohani. Dia yang paling banyak menerima paling banyak bantuan dan dapat banyak membantu. Namun, seharusnya bukan keterbukaan yang alamiah dan keterbukaan yang tidak ada batas tetapi seseorang yang seperti pintu dan jendela, dapat segera dibuka dan ditutup. Perkara-perkara yang sangat pribadi, privat, dan tidak ada hubungannya dengan orang lain tidak perlu disingkapkan. Tidak perlu diutarakan mengenai perkara-perkara yang di dalamnya orang tidak perlu bantuan atau tidak dapat memberikan bantuan, karena keterbukaan semacam ini adalah sia-sia.

F. Kelompok keenam ¾ Akrab, Gairah, Luwes:

1.

Akrab¾Akrab menyatakan dekat dan kasih. Secara khusus, menekankan perhatian, simpati dan intim.

2.

Gairah¾Sebagaimana akrab ada dalam hati, gairah menyatakan tindakan luaran. Gairah adalah sungguh-sungguh dan penuh dengan kekuatan.

3.

Luwes¾yang terlampir di dalam ini adalah prinsip “inkarnasi”. Orang harus menjangkau orang lain supaya memimpin mereka kepada keselamatan.

G. Kelompok ketujuh¾Teguh, Lembut, Taat:

1.

Teguh ¾Keteguhan mengacu pada kokoh, bukan kekerasan. Orang seharusnya teguh tetapi tidak keras, yaitu teguh dalam tekad tetapi bukan keras dalam hati.

2.

Lembut¾Kekuatan harus disesuaikan dengan lembut. Kekuatan tanpa kelembutan adalah keras, yang pasti menjadi hal-hal yang merusak, sedangkan kelembutan tanpa kekuatan mengakibatkan lemah, yang juga tidak berguna.

3.

Taat¾Untuk menjadi taat adalah tunduk dan patuh. Orang yang dapat memberi perintah yang terbaik adalah orang yang dapat menerimanya dengan baik. Taat adalah satu elemen hayat ilahi. Mereka yang memiliki hayat ini tidak menganggapnya memalukan tetapi dengan tepat taat dan menerima perintah. Orang yang memberi perintah memikul tanggung jawab yang berat; mereka yang menerima perintah tidak memikul apa-apa. Betapa diberkatinya orang yang mendengarkan orang lain dan yang terlindung dalam segala sesuatu.

H. Kelompok kedelapan ¾ Derita, Rendah, Miskin:

1.

Derita¾Derita mendatangkan banyak pekerjaan ajaib. Ada beberapa hal yang orang tidak dapat lewati tanpa menderita. Semakin seseorang dapat menderita, semakin bergunalah dia. Orang yang tidak siap untuk menderita tidak dapat merampungkan hal-hal yang besar. Sesuai dengan pepatah kuno “Orang yang menanggung penderitaan yang terburuk adalah orang yang terbaik di antara semua manusia.”

2.

Rendah¾Orang seharusnya bertujuan tinggi namun bertingkah laku dengan merendah. Roma 12:16 mengatakan bahwa kita harus “arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana.” Hanya dengan mengambil posisi yang rendah dapat menolong orang. Bukan berpura-pura merendah tetapi dengan asli mengaku dari dalam hatinya bahwa dia tidak memiliki apa-apa yang dapat dibanggakan. Satu Petrus 5:5 mengatakan, ”Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

3.

Miskin¾orang dunia menginginkan kedudukan dan kekayaan, tetapi seorang Kristen harus senang dan bahkan memilih kemiskinan. Kemiskinan lebih memiliki manfaat bahkan juga berkenan. Namun, orang seharusnya tidak membuat dirinya sendiri miskin dikarenakan malas. Kemiskinan sedemikian tak bernilai dan sia-sia. Kemauan untuk menjadi miskin bagi kepentingan Tuhan ketika orang memiliki kemampuan dan bahkan kesempatan untuk menjadi kaya, atau satu mengeluarkan seluruh uangnya untuk Tuhan, adalah jarang dan mustika. Hayat Kristus adalah hayat yang memilih untuk menjadi miskin.

I. Kelompok kesembilan¾Tekun, Tabah, Tekan

1.

Tekun¾Tekun berarti gigih. Yang terbaik biasanya bertahan sampai akhir. Segala sesuatu yang cepat bertumbuh juga cepat layunya. Tidak ada satu yang dalam, berbobot, unggul dapat dicapai dalam waktu yang singkat atau kebetulan. Khususnya, tidak ada jalan pintas dalam perkara-perkara rohani. Ketekunan kegigihan adalah syarat untuk mencapai yang hal yang unggul. Untuk menjadi tekun jangan mendambakan hasil yang besar dan cepat. Ada orang tua yang mengatakan bahwa “tetesan air akhirnya dapat menembus batu.”

2.

Tabah¾orang yang tabah dapat menahan penganiayaan. Jangan menganiaya orang lain, tetapi tahan terhadap penganiayaan mereka. Seorang muda seharusnya tidak menghindari perlakuan yang buruk dan mengambil jalan keluar yang mudah; melainkan, dia harus sukarela menerima perlakuan buruk. Semakin sulit pelajaran, semakin dalam dan semakin berguna bagi kita.

3.

Tekan¾orang yang memiliki karakter tekan harus dapat menahan tekanan. Segala sesuatu yang solid dan kuat harus terlebih dulu ditekan. Sebuah berlian dibentuk melalui tekanan yang tinggi. Sesuatu yang bertumbuh tanpa pembatasan biasanya tidak indah. Namun jangan mengundang orang untuk menekan kalian; sebaliknya kalian harus meletakkan diri sendiri di bawah tekanan. Perpaduan ke lima karakter, derita, rendah, miskin, tekun, dan tabah, memberi kita kemampuan untuk menerima tekanan.

J. Kelompok kesepuluh¾Jernih, Murah Hati, Bobot:

1.

Jernih¾Kejernihan di sini bukan berarti cemerlang; jernih di sini menunjukkan pemahaman. Orang sering tidak mengetahui ketumpulan dan kebodohannya sendiri. Seseorang harus mengenal dirinya demikian juga orang lain.

2.

Murah hati¾Murah hati itu mirip dengan lapang. Lapang adalah bersikap toleran pada orang lain, dan murah hati adalah tidak kejam pada orang lain. Dalam menghadapi orang lain, seseorang harus ditambahkan karakter mesra, gairah, dan akrab dengan murah hati. Sulit bagi kita untuk memiliki kehidupan yang mengasihi musuh tanpa karakter murah hati. Orang yang kejam selalu cemburu, sedangkan orang yang murah hati dapat memaafkan. Diperbolehkan berbicara tegas kepada orang lain, tetapi jangan kejam. Juga jangan menjadi orang yang baik secara bodoh.

3.

Bobot¾Orang yang berbobot itu tidak sembrono. Apapun yang orang berbobot kerjakan ada bobotnya. Baik perkara besar atau kecil, kegunaannya dan bobotnya tergantung siapa yang menanganinya. Di tangan orang yang berbobot, perkara kecil akan ditanganinya dengan serius. Sebaliknya. Di tangan seorang yang ringan, perkara yang penting akan dianggap sebagai yang tak bermakna. Dalam belajar untuk menjadi orang yang berbobot, pertama, seseorang harus tidak mengekspresikan opini-opininya dengan ringan; kedua, seseorang tidak menghakimi atau mengkritik dengan sembrono; dan ketiga, seseorang harus berbicara dengan perlahan dan akurat. Ini bukan berarti bahwa seseorang itu harus diam tetapi haruslah berbicara dengan bijaksana. Dia yang berbobot itu terlindung, sebab segala cobaan yang jahat tidak dapat datang padanya dengan mudah. Khususnya dalam kasus seorang saudari muda, berbobot membawa perlindungan, sedangkan keringanan mengundang celaka. Jadilah orang yang akrab, bergairah, dan luwes terhadap orang lain, dan bertingkah laku yang berbobot. (cf. Character, pp. 1-15)

KEINSANIAN ORANG YANG MELAYANI TUHAN

Keinsanian mengacu kepada apa adanya persona. Persona intrinsik seseorang ini akhirnya menjadi bentuk yang mengekspresikan dirinya sendiri di hadapan manusia. Dalam Inggris, …kata yang mendekati mungkin personaliti. Tetapi kata ini hanya mengacu kepada karakter seseorang. Ini masih agak berbeda dari apa adanya orang itu. Keinsanianmenekankan ekspresi luaran; “personaliti” menekankan sifat di dalam. Biasanya, apa saja yang ada di dalam manusia diekspresikan di luaran dalam cara atau bentuk tertentu. Karena itu dua aspek ini sangat dekat. Satu di dalam dan yang lainnya di luar. Aspek di dalam adalah personaliti dan aspek di luar adalah karakter. (The Glorious Vision and the Way of the Cross, hal. 40)

Keinsanian orang Kristen yang sejati bukan saja terdiri dari atribut-atribut ilahi yang memenuhi kita di dalam; juga terdiri dari atribut-atribut yang kita terima pada saat penciptaan. Pada saat manusia diciptakan, dia hanya memiliki gambar atribut-atribut Allah; dia belum memiliki isi dan realitas dari atribut-atribut ini. Inilah kenapa kita semua harus menerima Allah Sang pencipta ini ke dalam kita untuk menjadi isi kita. Kemudian Dia memenuhi kita, kita dapat sungguh-sungguh mengasihi Dia. Ini adalah bukan memperhidupkan diri sendiri tetapi memperhidupkan Dia. Ini berasal dari keilahian dan diekspresikan melalui keinsanian, Inilah keinsanian seorang Kristen yang harus dimiliki.

Dalam Perjanjian Baru, Paulus berkata, “Bukan aku lagi yang hidup, melainkan Kristus hidup di dalamku." (Gal. 2:20). Perkataan ini benar bahwa Kristus hari ini hidup; tetapi kita harus tahu bahwa Dia hidup di dalam kita. Dia memperhidupkan diri-Nya sendiri keluar dari dalam kita. Ini adalah apa yang Injil Lukas wahyukan kepada kita. Atribut-atribut ilahi dari Allah ini diekspresikan melalui kebajikan-kebajikan insani manusia. Sifat ilahi ini berbaur dengan sifat insani. Sifat ilahi ini adalah sumber dan isi, dan sifat insani adalah ekspresi dan bentuk. Inilah yang kita maksudkan dengan keinsanian. Kita juga dapat menyebutnya moralitas atau kebajikan. Keinsanian ini adalah sejenis karakter seorang Kristen dan yang harus dimiliki oleh setiap pelayan Tuhan. (hal. 34)

Menjadi Serupa Manusia–Melalui Keinsanian

Menjadi Insani adalah mengambil cara yang tepat seorang manusia. Insani ini memiliki etika moral yang tepat. Keinsanian seorang yang melayani Tuhan harus: 1) Berasal dari Allah dan 2) penuh insani, yaitu harus memiliki cita rasa insani yang tepat. Jika tidak ada cita rasa insani, lebih baik menjadi serupa malaikat, dan lebih jelek akan serupa setan. Bagi kita yang melayani Tuhan, kita seharusnya tidak serupa malaikat atau setan. Kita harus menjadi insani, harus serupa manusia. Jika kita pergi …untuk menyebarkan injil, dan kita memberi kesan kepada orang lain bahwa kita serupa malaikat, saya takut tidak akan ada orang yang berani mendekat pada kita. Maka itu, kita perlu menjadi insani. Ini juga bagian dari keinsanian kita.

Memiliki Kebajikan-kebajikan Terunggul

Moralitas tertinggi adalah orang yang di dalamnya keilahian ditambahkan ke dalam keinsanian kita. Ini adalah atribut-atribut ilahi Allah yang diekspresikan dalam kebajikan-kebajikan manusia yang diciptakan. Juga kebajikan terunggul. Menurut pemahaman Alkitab kita dan pengalaman pribadi, ada tujuh butir kebajikan unggul ini.

Kasih yang Luar Biasa

Kasih adalah butir pertama kebajikan terunggul. Kasih ini luar biasa. Kita dapat mengasihi sampai mencapai tahap bahwa kita mengasihi musuh kita (Mat. 5:44).

Kesabaran yang Tak Terbatas

Kesabaran adalah mengampuni. Ketika kita mengampuni, hati kita haruslah lapang. Orang yang sempit tidak dapat mengampuni. Karena itu, kita perlu memiliki kesabaran yang tak terbatas. Kita harus mengampuni sampai mencapai suatu tahap bahwa kita dapat mengampuni musuh kita dan mereka yang membenci kita.

Menurut pengalaman kita, mengasihi musuh lebih mudah dari mengampuni musuh kita. Kadang-kadang kita dapat mengasihi orang lain tetapi tidak dapat mengampuni mereka. Sebagai contoh, saya mengasihi kalian, tetapi saya tidak dapat mengampuni jika kalian menyakiti hatiku. Karena saya mengasihimu, bahkan sekalipun kalian musuhku, aku dapat memberi kalian satu Alkitab. Tetapi sangat sulit bagi saya mengampuni kalian yang telah menyakiti hatiku. Maka itu, tidak mudah untuk mengampuni. Untuk alasan ini, Tuhan menempatkan contoh yang baik bagi kita di dalam Injil. Sekalipun orang-orang tidak henti-henti mencaci maki Dia ketika Dia ada di bumi, tindakan terakhir-Nya sebelum Dia mati adalah berdoa bagi manusia, "Bapa, ampunilah mereka, karena apa yang mereka perbuat, mereka tidak tahu" (Luk. 23:34a). Ini adalah kesabaran yang tak terbatas.

Kesetiaan yang Tiada Tandingannya

Kita harus memperlakukan orang lain dengan konsisten dan dalam kesetiaan. Kita seharusnya tidak mengkhianati orang lain atau Tuhan. Harus ada kesetiaan yang tiada tandingannya.

Kerendahan Hati yang Mutlak

Kerendahan hati kita harus mutlak. Tidak hanya kita merendah. Kita harus rendah hati. Rendah hati adalah merendah, tetapi kerendahan hati adalah menjadi kecil. Untuk melayani Tuhan kita perlu kerendahan hati yang mutlak.

Kemurnian yang Tertinggi

Bukan hanya kita harus bersih. Kita harus murni. Dan kemurnian ini haruslah tertinggi.

Kekudusan dan Kebenaran yang Terunggul

Terhadap Allah kita harus kudus dengan unggul, dan terhadap manusia kita harus benar dengan unggul. Terhadap Allah kita harus sepenuhnya disisihkan, dan terhadap manusia, kita harus sepenuhnya tepat, dengan tidak ada sedikit pun kesalahan. Inilah kekudusan dan kebenaran yang terunggul.

Kecemerlangan dan Kejujuran

Butir pertama adalah kasih, dan butir terakhir adalah terang. Kecemerlangan yang kita tunjukkan di sini berbeda dari kecemerlangan yang dunia bicarakan. Yang kita maksudkan di sini adalah terang. Kita harus berjalan dalam terang. Segala sesuatu yang kita lakukan harus berada dalam terang dan seharusnya tidak berada dalam kegelapan. Kita harus sepenuhnya jujur dan terus terang, dan seharusnya tidak berpikiran sempit atau curiga dalam apapun.

Tujuh butir ini dikombinasikan memberi keinsanian yang tepat bagi orang yang melayani Tuhan.

Kesimpulannya, keinsanian orang Kristen adalah kehidupan yang ditempuh melalui perbauran atribut-atribut ilahi dan moralitas manusia yang diciptakan. Semoga Tuhan mempersiapkan kita untuk melayani Dia seumur hidup kita, tanpa berbalik atau menyimpang. Semoga kita semua memperhidupkan keinsanian yang tepat dari seorang yang melayani Tuhan. Semoga Tuhan membelaskasihani kita semua. (hal. 35-37)

Pertanyaan-pertanyaan:

1. Jelaskanlah pentingnya karakter?

2. Apakah perbedaan antara watak dan karakter?

3. Bagaimana seharusnya kita menanggulangi watak dan karakter kita?

4. Ceritakan tiga puluh butir latihan karakter.