Daftar isi Yakobus · Berita Keempat · bab 4/14

Berita Keempat

KEBAJIKAN PRAKTIK KRISTIANI YANG SEMPURNA (4)

Pembacaan Alkitab: Yak. 1:19-27

CEPAT UNTUK MENDENGAR,

LAMBAT UNTUK BERKATA-KATA,

LAMBAT UNTUK MARAH

Dalam berita ini kita akan membahas 1:19-27. Dalam ayat 19 Yakobus berkata, “Saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.” Kata “ingatlah” di sini juga dapat diterjemahkan sebagai “ketahuilah”. Mendengar, menggoda kita untuk berbicara; dan berbicara, merupakan api yang menyulut amarah (lihat 3:6). Jika kita mengekang pembicaraan kita (lihat 1:26), kita akan memadamkan amarah kita. Perkataan Yakobus di sini, diberikan untuk memperkuat pandangannya tentang praktik kristiani yang sempurna, nadanya mirip dengan amsal-amsal Perjanjian Lama (Ams. 10:19; 14:17).

Dalam ayat 20 Yakobus melanjutkan, “Sebab kemarahan manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” Kebenaran Allah tidak memerlukan bantuan amarah manusia yang tidak berguna dalam menggenapkan kebenaran Allah.

DENGAN LEMAH LEMBUT

MENERIMA FIRMAN YANG TERTANAM

Dalam ayat 21 Yakobus meneruskan perkataannya, “Sebab itu, buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.” Di sini firman Allah disamakan dengan suatu tanaman hidup yang ditanamkan ke dalam diri kita dan bertumbuh di dalam kita untuk menghasilkan buah bagi keselamatan jiwa kita. Kita perlu menerima firman ini dengan lemah lembut, dalam segala kepatuhan, tanpa menentang.

Menurut konteks pasal ini, keselamatan jiwa kita menyiratkan menahan pencobaan yang timbul dari lingkungan (ayat 2-12) dan menolak godaan nafsu (ayat 13-21). Pandangan Yakobus terhadap keselamatan jiwa kita agak negatif, tidak sepositif pandangan Paulus. Paulus berkata bahwa jiwa kita dapat diubah oleh Roh pembaruan, bahkan sampai serupa dengan gambar Tuhan, dari kemuliaan ke kemuliaan (Rm. 12:2; Ef. 4:23; 2 Kor. 3:18).

Kita perlu menghargai Yakobus karena perkataannya, yaitu kita perlu menerima dengan lemah lembut firman yang tertanam, yang sanggup menyelamatkan jiwa kita. Dalam tulisannya Paulus tidak menggunakan ungkapan “firman yang tertanam”. Ungkapan ini menyatakan bahwa firman ini mengandung hayat. Di sini Yakobus menyamakan firman Allah dengan suatu tanaman hidup yang ditanamkan ke dalam diri kita. Dengan demikian, firman menjadi firman yang tertanam. Setelah firman Allah tertanam ke dalam tanah hati kita, firman ini akan bertumbuh dan mempunyai kekuatan untuk menyelamatkan jiwa kita.

Dalam ayat 21 kita disarankan untuk menerima firman yang tertanam itu dengan lemah lembut. Dalam ayat ini lemah lembut tidak berarti bersikap halus; lemah lembut di sini berarti bersikap tunduk, tanpa menentang. Menerima firman dengan lemah lembut berarti tidak menolaknya, bahkan tunduk kepada firman itu. Kita harus menerima firman Allah yang tertanam di dalam kita dengan penuh ketaatan. Apa pun yang Allah katakan, haruslah kita terima dengan mengatakan, “Amin.” Seperti yang tertulis dalam kidung “Amin Firman Allah” (Kidung No. 414, Suplemen).

Jika kita menerima firman yang tertanam itu dengan lemah lembut, dengan patuh, berarti dengan mutlak kita terbuka terhadap firman Allah. Kita laksana tanah yang bersedia menerima benih dari petani dan hujan dari langit. Allah menanam, atau menabur firman-Nya ke dalam hati kita, dan seharusnya kita menerima firman-Nya dengan lemah lembut. Inilah menerima dengan lemah lembut firman yang tertanam. Karena firman ini hidup, maka setelah tertanam ke dalam hati kita, ia akan tumbuh. Kemudian, begitu firman itu bertumbuh, ia akan menyelamatkan jiwa kita.

FIRMAN YANG TERTANAM SANGGUP

MENYELAMATKAN JIWA KITA

Dalam 1:14-15 Yakobus berkata, “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya (nafsunya) sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Apabila keinginan itu telah di-buah, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Di sini kita tampak bahwa godaan itu berkaitan dengan nafsu, dan nafsu berhubungan erat dengan jiwa. Penyelamatan jiwa meliputi perihal menanggung pencobaan dan menolak godaan-godaan.

Aniaya, pencobaan, dan godaan kebanyakan mempengaruhi jiwa kita. Sebagai contoh, seorang saudara kecurian mobil barunya, ia akan sedih karena hal itu; jiwanya menderita. Demikian pula, jika seorang saudara kehilangan pekerjaan, jiwanya juga akan menderita. Kebanyakan penderitaan mempengaruhi jiwa. Bagaimana kita dapat menanggung penderitaan? Seperti yang telah kita tunjukkan, kekuatan untuk menanggung penderitaan adalah melalui hayat ilahi yang ada di dalam kita. Sebagai orang yang dilahirkan Allah, kita menolak godaan juga oleh hayat ilahi.

MENDAPATKAN PERAWATAN

MELALUI FIRMAN

Jika kita ingin menolak godaan, kita perlu mendapatkan perawatan melalui menerima firman yang tertanam. Kita boleh menggunakan perihal makan sebagai gambaran. Walaupun fisik kita sehat, kita masih perlu makan makanan yang bergizi setiap hari. Walaupun kita mempunyai hayat jasmani, setiap hari kita masih perlu makan. Jika saya di pagi hari tidak makan pagi, saya tidak mempunyai kekuatan untuk bekerja. Demikian pula prinsip hayat ilahi. Melalui kelahiran kembali Allah menyalurkan hayat-Nya ke dalam kita. Tetapi hayat ini masih memerlukan makanan, dan makanan yang kita perlukan adalah firman yang tertanam. Setiap hari kita perlu membaca Alkitab untuk menerima firman Allah. Dalam hayat rohani kita memerlukan “makan pagi” yang baik setiap hari. Sewaktu kita makan makanan pagi rohani kita, kita menerima firman yang tertanam. Ketika Allah menanamkan firman-Nya ke dalam kita setiap pagi, firman ini menjadi makanan bagi manusia batiniah kita, dan menguatkan roh kita. Begitu roh kita dikuatkan, ia juga akan menopang jiwa kita. Hasilnya, jiwa kita akan mempunyai kekuatan untuk menanggung penderitaan dan menolak godaan. Ini berarti melalui perawatan oleh firman yang tertanam kita mengalami keselamatan jiwa.

Jika jiwa kita tidak diperkuat demikian, jiwa kita tidak akan sanggup menanggung pencobaan dan godaan. Misalnya, jika seorang saudara tidak dirawat melalui firman yang tertanam, jiwanya tidak akan sanggup menanggung penderitaan karena kehilangan pekerjaan atau kehilangan sejumlah uang. Kehilangan semacam itu selalu mempengaruhi jiwanya. Iblis memakai penderitaan-penderitaan itu untuk menjatuhkan kita. Lantas, bagaimana agar kita dapat bertahan di tengah penderitaan semacam itu? Jiwa kita dapat menahannya hanya oleh roh yang telah dirawat melalui firman yang tertanam. Memahami hal itu, Paulus berdoa agar kaum saleh dikuatkan dan diteguhkan ke dalam manusia batiniahnya (Ef. 3:16). Jiwa kita perlu dikuatkan dalam manusia batiniah, dan manusia batiniah ini adalah roh itu. Bagaimana roh itu bisa dikuatkan dan diteguhkan? Roh itu dikuatkan dan diteguhkan melalui dirawat dengan firman Allah yang tertanam.

Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa roh kita dikuatkan oleh firman Allah yang tertanam. Jika pada pagi hari kita memakai sedikit waktu untuk memakan firman Allah, roh kita akan dikuatkan dan diteguhkan. Karena roh kita dikuatkan, maka roh kita akan menopang jiwa kita. Kemudian melalui ditopang secara demikian, jiwa kita akan sanggup menanggung pencobaan-pencobaan dan menolak godaan-godaan.

Dari pengalaman kita tahu bahwa jika roh kita tidak dikuatkan, dan jiwa kita tidak ditopang oleh roh yang kuat, kita akan mudah dikalahkan oleh berbagai pencobaan dan godaan. Akibatnya adalah kegagalan. Ini berarti walaupun kita telah diselamatkan dalam roh kita, keselamatan setiap hari bagi jiwa kita belum ada. Jadi, setiap hari terjadi kerugian terhadap jiwa kita; bahkan kehilangan jiwa kita. Tahukah Anda mengapa kita kehilangan jiwa kita? Kita kehilangan jiwa karena jiwa kita tidak menerima makanan dari roh kita. Jika roh kita “kempes”, kekurangan udara surgawi, maka roh kita tidak sanggup menopang jiwa kita. Karena itu, kita perlu firman yang tertanam untuk “me-mompa” roh kita. Jika roh kita dipenuhi dengan udara ilahi, roh kita akan kuat dan sanggup menopang jiwa kita. Hasilnya, jiwa kita akan diselamatkan.

Hari demi hari kita perlu dengan lemah lembut menerima firman yang tertanam, yang sanggup menyelamatkan jiwa kita. Firman yang tertanam penuh kekuatan untuk menyelamatkan jiwa kita. Firman dalam 1:21 ini sudah tentu merupakan suatu butir yang baik sekali dalam tulisan Yakobus.

Setiap hari jiwa kita diuji oleh penderitaan di lingkungan luar kita dan oleh hawa nafsu yang memikat di dalam kita. Karena itu, jiwa kita perlu diselamatkan. Seperti yang telah kita tunjukkan, supaya jiwa kita diselamatkan, ia perlu ditopang melalui setiap hari mendapatkan perawatan dari firman yang tertanam. Untuk ini kita perlu setiap hari menerima firman Allah sama seperti kita menerima makan-an kita setiap hari. Jika seorang anak tidak mau makan, ia akan menjadi lemah dan tidak sehat. Jika seorang anak menolak makanan yang bergizi, berarti dalam hal makan ia tidak patuh dan tidak lembut. Setiap anak perlu dengan lemah lembut menerima makanan yang disajikan oleh ibunya. Jika ia makan makanan yang sehat sedemikian, ia akan menjadi kuat dan sehat. Demikian pula, kita perlu menerima dengan lemah lembut firman yang tertanam.

HUKUM YANG SEMPURNA

Dalam 1:25 Yakobus membicarakan hukum yang sempurna, hukum yang memerdekakan: “Tetapi siapa yang meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar lalu melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” Hukum kemerdekaan (kebebasan) yang sempurna, bukanlah hukum harfiah yang ditulis pada loh batu yang di luar kita, melainkan hukum hayat yang ditulis dalam hati kita (Ibr. 8:10), standar moralnya sesuai dengan konstitusi kerajaan yang diumumkan oleh Tuhan di atas bukit (Mat. 5 — 7). Hukum harfiah tidak dapat memberi hayat kepada manusia (Gal. 3:21), hanya dapat menyingkapkan kelemahan dan kegagalan manusia dan menahan manusia di dalam perbudakan (Gal. 5:1), karena itu merupakan hukum perhambaan. Hukum hayat yang sempurna adalah fungsi dari hayat ilahi yang disalurkan ke dalam kita pada saat kita dilahirkan kembali, ia akan menyuplai kita sepanjang hidup kristiani kita dengan kekayaan yang tidak terduga dari hayat ilahi untuk membebaskan kita dari hukum dosa dan maut, dan menggenapkan semua tuntutan kebenaran hukum harfiah (Rm. 8:2, 4), karena itu hukum hayat ini adalah hukum yang memerdekakan. Hukum ini adalah hukum Kristus (1 Kor. 9:21), bahkan adalah Kristus sendiri, yang hidup di dalam kita untuk mengatur kita melalui menyalurkan sifat ilahi ke dalam diri kita, sehingga kita bisa menempuh hidup yang mengekspresikan gambar Allah. Yakobus mungkin menganggap hukum ini sebagai peraturan dasar hidup kristiani untuk praktik kristiani yang sempurna.

Perjanjian Baru dan Hukum Hayat

Mengenai hukum yang sempurna, hukum yang me-merdekakan, ada satu tafsiran yang menyatakan bahwa hukum yang sempurna mengacu kepada seluruh Perjanjian Baru. Catatan kita mengatakan bahwa hukum yang sempurna, hukum yang memerdekakan, adalah hukum hayat yang di dalam kita. Sebenarnya, kedua tafsiran ini sama. Dengan menggunakan hukum Taurat dalam Perjanjian Lama sebagai gambaran, kita bisa menunjukkan bahwa memang demikianlah sebenarnya. Ketika kita membicarakan hukum Musa, pikiran kita selalu tertuju kepada Sepuluh Perintah Allah. Akan tetapi, sering kali seluruh Perjanjian Lama disebut hukum Taurat dan kitab para nabi (Mat. 7:12; 22:40). Pada zaman dulu, orang-orang Yahudi menganggap Perjanjian Lama terbagi menjadi dua bagian — hukum Taurat dan kitab para nabi. Sudah tentu, “kitab para nabi” terdiri dari semua kitab para nabi. Kemudian kitab-kitab lain dari Perjanjian Lama termasuk Kitab Mazmur, dipandang sebagai “hukum Taurat”. Demikian pula, kita boleh mengatakan bahwa seluruh Perjanjian Baru adalah hukum yang baru bagi kita. Hukum Perjanjian Lama ditulis di atas loh-loh batu, tidak ditulis di dalam hati manusia. Tetapi hukum Perjanjian Baru ditulis dalam hati kita (Ibr. 8:10). Pertama, Allah menulis hukum yang sempurna, hukum yang memerdekakan, dalam kedua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru. Kedua, ketika Ia melahirkan kita melalui kelahiran kembali, Ia menuliskan hukum ini ke dalam kita. Sekarang di dalam kita, kita memiliki hukum hayat yang berkaitan dengan seluruh Perjanjian Baru. Karena itu, kedua tafsiran dari hukum yang sempurna — yaitu mengacu kepada Perjanjian Baru dan mengacu kepada hukum hayat — adalah sama. Di satu pihak, hukum yang sempurna adalah seluruh Perjanjian Baru; sedang di pihak lain, ini adalah hukum hayat yang terukir di batin kita.

Perkataan “meneliti” menunjukkan bahwa hukum yang sempurna adalah sesuatu yang dapat dibaca. Ini menunjukkan, hukum yang sempurna mengacu kepada Perjanjian Baru dan bukan hanya hukum hayat yang ada di batin kita. Hukum hayat dapat dirasakan, tetapi tidak dapat dibaca. Fakta bahwa hukum yang sempurna ini dapat dibaca menyatakan bahwa hukum ini bukan hanya hukum hayat, tetapi juga seluruh Perjanjian Baru.

Prinsip hukum Perjanjian Baru telah ditulis di dalam manusia batiniah kita dan menjadi hukum hayat di dalam kita. Perbedaan antara hukum yang lama dan hukum yang baru yaitu: hukum yang lama dituliskan di atas loh batu, sedangkan hukum yang baru tidak hanya ditulis dengan tinta, juga ditulis di batin kita. Seperti yang telah kita tunjukkan bahwa hukum yang baru ini telah menjadi hukum hayat di batin kita, dan hukum ini berhubungan dengan seluruh Perjanjian Baru. Inilah hukum yang sempurna, hukum yang memerdekakan.

Hukum yang Memerdekakan

Walaupun hukum Perjanjian Baru lebih singkat daripada hukum Perjanjian Lama, namun hukum yang baru lebih sempurna, sedangkan hukum yang lama tidaklah sempurna. Tidak hanya demikian, hukum yang baru adalah hukum yang memerdekakan, sedangkan hukum yang lama adalah hukum perhambaan. Hukum Perjanjian Lama adalah hukum perhambaan karena hukum itu tidak sanggup menyalurkan hayat. Hukum itu hanya dapat menuntut dan menyalahkan. Karena hukum itu membawa orang banyak ke dalam perhambaan, perbudakan, berarti hukum itu hukum perhambaan. Tetapi, hukum Perjanjian Baru memberikan hayat, menyalurkan hayat ke dalam diri kita. Hayat yang disalurkan ke dalam kita melalui hukum Perjanjian Baru memerdekakan kita dari hukum dosa dan hukum maut. Karena itu, hukum ini, hukum yang sempurna, adalah hukum yang memerdekakan.

IBADAH YANG MURNI

Dalam ayat 26 Yakobus meneruskan perkataannya, “Jikalau seseorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” Kata Yunani untuk “ibadah” adalah threskos, sebuah kata sifat; threskeia, kata benda untuk ibadah, berarti pelayanan dan penyembahan kepada Allah, menyiratkan rasa takut akan Allah. Bentuk kata sifatnya dalam Perjanjian Baru hanya dipakai di sini. Kata bendanya (ibadah) digunakan dalam pengertian yang positif di sini dan dalam ayat 27; digunakan dalam pengertian yang negatif dalam Kolose 2:18, dan dalam pengertian umum dalam Kisah Para Rasul 26:5.

Tulisan Yakobus mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah tidak sejelas tulisan Paulus, Petrus, dan Yohanes. Paulus memfokuskan tulisannya pada Kristus hidup dan terbentuk di dalam kita (Gal. 2:20; 4:19), Kristus diperbesar di dalam kita dan diperhidupkan oleh kita (Flp. 1:20-21), sehingga kita sebagai gereja, Tubuh-Nya, bisa menjadi kepenuhan-Nya, ekspresi-Nya (Ef. 1:22-23). Petrus menitikberatkan fakta bahwa Allah melahirkan kita kembali melalui kebangkitan Kristus (1 Ptr. 1:3), membuat kita berbagian dalam kodrat ilahi-Nya, sehingga kita dapat menempuh hidup yang ibadah (2 Ptr. 1:3-7), dan dibangunkan sebagai rumah rohani untuk mengekspresikan kebajikan-kebajikan-Nya (1 Ptr. 2:5, 9). Yohanes menekankan hayat kekal yang kita peroleh membuat kita memiliki persekutuan dengan Allah Tritunggal (1 Yoh. 1:2-3), dan kelahiran ilahi, yang membawa masuk hayat ilahi ke dalam kita sebagai benih ilahi, sehingga kita bisa menempuh suatu hidup yang sama seperti Allah (1 Yoh. 2:29; 3:9; 4:17) dan menjadi gereja, kaki pelita, yang mengemban kesaksian Yesus (Why. 1:9, 11-12), yang akan rampung pada Yerusalem Baru bagi ekspresi Allah sampai kekal (Why. 21:2-3, 10-11). Mengenai perkara yang merupakan ciri Perjanjian Baru, Yakobus hanya menekankan Allah melahirkan kita (Yak. 1:18), hukum kemerdekaan yang sempurna (1:25), Roh yang berhuni (4:5), dan sedikit menyinggung tentang gereja (5:14). Ia tidak berbicara tentang Kristus sebagai hayat kita, dan gereja adalah ekspresi Kristus, dua ciri yang paling luar biasa dan mutakhir dari Perjanjian Baru. Surat Kiriman ini memperlihatkan bahwa Yakobus pasti sangat beribadah. Mungkin karena hal ini dan praktik kristiani yang sempurna, maka ia bersama Petrus dan Yohanes, dianggap sebagai sokoguru, bahkan yang pertama di gereja di Yerusalem (Gal. 2:9). Akan tetapi, ditinjau dari wahyu ekonomi Perjanjian Baru Allah dalam Kristus, ia tidak kuat malah masih berada di bawah pengaruh latar belakang agama Yahudi kuno, yang unsur utamanya adalah menyembah Allah melalui upacara-upacara dan menempuh suatu hidup di dalam takut akan Allah. Hal ini dibuktikan melalui perkataan-perkataannya dalam Kisah Para Rasul 21:20-24 dan 2:2-11 dari Surat Kiriman ini. Karena penglihatan rohaninya ditudungi oleh Yudaisme, maka ia tidak dapat sepenuhnya masuk ke dalam wahyu ekonomi Perjanjian Baru Allah seperti Paulus, Petrus, dan Yohanes.

Dalam 1:26 Yakobus mengatakan tentang orang yang tidak mengekang lidahnya, orang demikian menipu hatinya sendiri dan sia-sialah ibadahnya. Tidak mengekang lidah adalah cepat berkata-kata (ayat 19), sembarangan, tanpa kendali. Hal ini sering menipu hati orang yang berkata-kata itu sendiri, menipu hati nuraninya, kesadaran hatinya.

Dalam ayat 27 Yakobus berkata, “Ibadah yang murni dan tidak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya diri sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” Perkataan Yakobus ini, memperkuat pandangannya mengenai praktik kristiani yang sempurna, di dalamnya terkandung unsur perintah-perintah Perjanjian Lama (Ul. 14:29; 24:19-21, 12-13).

Menjaga diri sendiri tidak dicemarkan oleh dunia berarti tidak menjadi duniawi, tidak dicemari oleh perkara-perkara duniawi. Ini juga merupakan bagian dari pandangan Yakobus yang takut akan Allah mengenai praktik kristiani yang sempurna. Mengunjungi yatim piatu dan janda-janda adalah bertindak berdasarkan hati pengasih Allah, suatu ciri kesempurnaan kristiani pada sisi positif; menjaga diri sendiri tidak dicemari dunia berarti terpisah dari dunia berdasarkan sifat kudus Allah, suatu ciri kesempurnaan kristiani pada sisi negatif.

TIGA BUTIR UTAMA

Dalam pasal 1 Surat Kiriman Yakobus, diungkapkan tiga butir utama: kelahiran ilahi (ayat 18), menerima firman yang tertanam (ayat 21), dan hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan (ayat 25). Mula-mula Allah melahirkan kita, melahirkan kita kembali, oleh firman kebenaran. Karena itu, firman kebenaran merupakan benih hayat untuk kelahirkan ilahi kita. Setelah dilahirkan kembali melalui menerima benih ini, kita perlu terus-menerus menerima firman yang tertanam, yang sanggup menyelamatkan jiwa kita setiap hari. Menurut ayat 18, firman kebenaran adalah untuk kelahiran kembali roh kita. Menurut ayat 21, kita memerlukan firman yang tertanam untuk keselamatan jiwa kita setiap hari. Selain itu, menurut ayat 25-27, kita memerlukan hukum yang sempurna, yang me-merdekakan, sehingga kita bisa menempuh kehidupan yang takut akan Allah, suatu kehidupan yang menurut makna yang tepat berarti beribadah. Kehidupan semacam ini sesuai dengan hati Allah, yakni kasih; juga sesuai dengan sifat Allah, yakni kudus.

Dari segi negatif, pasal 1 Surat Yakobus membahas perihal menanggung berbagai pencobaan dan menolak godaan. Pada hakikatnya, isi pasal ini terdiri dari tiga aspek firman ilahi, yaitu: firman kebenaran untuk kelahiran kembali, firman yang tertanam untuk keselamatan jiwa, dan seluruh Perjanjian Baru sebagai firman Allah yang menjadi hukum yang memerdekakan. Kita telah tampak bahwa hukum yang memerdekakan mengacu kepada hukum hayat, yang ditanam ke dalam batin kita sebagai suatu prinsip. Hukum batiniah ini membantu kita untuk menempuh suatu kehidupan kasih dan kudus, suatu kehidupan yang sesuai dengan hati dan sifat Allah.

Saya ingin menekankan fakta bahwa setiap butir dari ketiga butir utama yang diungkapkan dalam Yakobus 1 berkaitan dengan firman ilahi: pertama, firman dalam aspek kebenaran untuk kelahiran kembali; kedua, firman dalam aspek penanaman untuk keselamatan jiwa setiap hari; dan ketiga, firman yang ditujukan kepada seluruh Perjanjian Baru sebagai hukum yang baru, hukum yang digarapkan ke dalam batin kita menjadi suatu prinsip batiniah yang olehnya kita menempuh suatu kehidupan yang ibadah sesuai dengan hati kasih dan sifat kudus Allah.