← Daftar isi Yakobus · bab 3/14

KEBAJIKAN PRAKTEK KRISTIANI YANG SEMPURNA (3)

Pembacaan Alkitab: Yak. 1:13-27

PANDANGAN SEIMBANG

TERHADAP SURAT YAKOBUS

Setelah mempelajari surat-surat Paulus dan semua berita pelajaran-hayat dari surat-surat itu, tidak ragu-ragu lagi kita akan dipengaruhi untuk menerima terang mengenai ekonomi Allah dan diteguhkan bagi ekonomi Allah. Akan tetapi, ada kemungkinan kelakuan kita sembrono atau kita mengabaikan hal-hal praktek kristiani yang sempurna. Karena itu, kita perlu keseimbangan yang dipaparkan dalam Kitab Yakobus.

Martin Luther mengatakan bahwa Surat Yakobus merupakan suatu surat jerami. Dengan berkata demikian, Luther jelas tidak adil dan tidak tepat. Kita perlu menyadari bahwa setelah wahyu dalam surat-surat Paulus mengenai ekonomi Allah, Allah menyisipkan Kitab Yakobus, satu di antara tujuh kitab Perjanjian Baru yang tidak sepenuhnya diakui hingga rapat di Carthage pada tahun 397 Masehi. Sebelum waktu itu, tidak ada kepastian apakah surat ini akan dimasukkan menjadi bagian dari firman kudus. Akhirnya, Kitab Yakobus diakui sebagai bagian dari Alkitab.

Firman Penyeimbang

Sifat khas yang menonjol dari Surat Yakobus adalah menunjukkan bahwa kita mungkin sangat kuat dalam eko-nomi Allah, namun belum lagi sempurna dan utuh dalam kelakuan kita sebagai orang Kristen dalam hidup kita se-hari-hari. Banyak di antara kita bisa bersaksi bahwa kita telah nampak visi mengenai ekonomi Allah dan kita juga mutlak bagi visi ini. Akan tetapi, kita masih perlu mena-ruh perhatian terhadap kelakuan kita dalam hidup kita se-hari-hari. Seorang saudara mungkin sangat mudah marah terhadap istrinya, atau seorang saudari mungkin bersikap tidak pantas terhadap suaminya. Dalam kasus semacam ini, saudara maupun saudari tersebut tidak sempurna atau utuh. Inilah suatu gambaran tentang fakta bahwa kita me-merlukan firman penyeimbang yang terdapat dalam Kitab Yakobus.

Suatu Peringatan yang Tegas

Di samping memberikan suatu keseimbangan, Surat Yakobus juga menyajikan suatu peringatan yang tegas bahwa seseorang mungkin sangat saleh, namun tidak jelas terhadap visi tentang ekonomi Perjanjian Baru Allah. Menurut sejarah gereja, Yakobus terkenal sebagai orang yang menempuh hidup yang saleh. Sebuah catatan mengatakan bahwa Yakobus menggunakan begitu banyak waktu berlu-tut berdoa sehingga lututnya kebal. Yakobus pastilah seorang yang saleh, seorang yang berdoa, dan hal doa ditekankan dalam suratnya. Namun, Yakobus mungkin tidak memiliki visi yang jelas mengenai perbedaan anugerah dengan hukum Taurat; yaitu, ia tidak mempunyai visi yang jelas mengenai ekonomi Allah. Dalam tulisan-tulisannya ada tanda-tanda yang menunjukkan keadaan tersebut. Akan tetapi, suratnya terkenal dan luar biasa dalam hal kelakuan orang Kristen dan menekankan praktek kristiani yang sempurna. Karena alasan itu, dalam 1:4 Yakobus menyatakan bahwa kaum beriman haruslah “sempurna dan utuh dan tidak kekurangan apa pun”.

Rasanya wajarlah bila dikatakan bahwa dalam Kitab Yakobus kita memiliki keseimbangan dan peringatan. Kita memerlukan kitab ini. Tanpa kitab ini akan ada kekosongan, kekurangan, di dalam firman kudus.

Kita benar-benar perlu mempunyai pandangan yang se-imbang terhadap Surat Yakobus. Di satu pihak, kita perlu nampak bahwa surat ini menunjukkan bahwa Yakobus mungkin kekurangan visi yang jelas tentang ekonomi Allah. Di pihak lain, kitab ini menunjukkan perlunya praktek kristiani yang sempurna. Dari kedua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru, empat belas kitab ditulis oleh Paulus. Surat-surat Paulus membahas ekonomi Allah, penyaluran Allah. Ekonomi ini vital dan penting. Namun untuk melaksanakan ekonomi Allah, kita memerlukan praktek kristiani yang sempurna. Ini berarti kita tidak boleh ceroboh dalam hidup sehari-hari. Sebagai gambaran, kita bisa menggunakan prajurit dalam suatu angkatan bersenjata. Tanggung jawab utama seorang prajurit adalah berperang bagi negaranya. Namun untuk menjadi seorang pejuang yang baik, seorang prajurit perlu menempuh hidup pribadi yang baik setiap hari. Demikian juga, walaupun kita mungkin menjadi prajurit-prajurit, pejuang-pejuang, bagi ekonomi Allah, kita masih perlu menempuh hidup kristiani yang sempurna dan utuh setiap hari.

Posisi Surat Yakobus

Tempat Kitab Yakobus ditunjukkan oleh posisinya dalam susunan kitab-kitab Perjanjian Baru: langsung menyusul keempat belas Surat-surat Kiriman Paulus. Surat-surat Kiriman Paulus dari Roma hingga Ibrani, semuanya mengungkapkan pokok utama ekonomi Allah. Kita boleh menyamakan surat-surat itu dengan pintu gerbang utama suatu bangunan. Kemudian kita bisa menyamakan Surat Yakobus dengan pintu kecil dekat gerbang tersebut. Walaupun “gerbang” Surat-surat Kiriman Paulus itu penting, kita masih memerlukan “pintu” Surat Yakobus.

Pentingnya Keseimbangan dalam Hidup Kristiani Kita

Kitab Yakobus adalah suatu penyeimbangan terhadap mereka yang memiliki hidup kristiani yang tidak seimbang. Boleh jadi Anda sepenuhnya untuk ekonomi Allah dalam hidup kristiani Anda. Akan tetapi, dalam hidup seharihari, Anda sangat kekurangan dalam cara Anda berbicara dan menangani urusan. Terhadap beberapa hal Anda mungkin kurang arif. Walaupun Anda adalah seorang pejuang yang baik bagi ekonomi Allah, namun dalam hidup sehari-hari Anda tidaklah sempurna dan utuh. Anda tidaklah terlalu beriman di dalam Allah, dan Anda tidak berdoa kepada-Nya bagi keperluan-keperluan Anda. Karena Anda baik dalam banyak hal besar tetapi kekurangan dalam beberapa hal riil, maka Anda memerlukan keseimbangan dalam hidup kristiani Anda. Hal pertama yang disajikan Surat Yakobus adalah penyeimbangan yang sangat diperlukan tadi.

Seperti telah kita tunjukkan, Kitab Yakobus juga disajikan sebagai suatu peringatan. Yakobus terkenal dalam hal praktek kristiani yang sempurna; ia adalah seorang saleh yang mengenal Allah, mengasihi Allah, dan berdoa kepada Allah. Namun, Yakobus terhalang oleh kesalehannya dan terselubung oleh keagamaannya sehingga tidak melihat visi yang jelas mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Dalam 1:27 Yakobus berkata tentang “ibadah yang murni dan tidak bercacat di hadapan Allah, Bapa”. Sejauh menyangkut tindak tanduk manusia yang tepat, kita perlu ibadah. Kita boleh jadi mutlak bagi ekonomi Allah, namun kita masih keliru dalam hal berbicara kepada orang lain atau menghadapi mereka. Andaikata seorang saudara berkata, “Tidak tahukah Anda bahwa aku mutlak bagi ekonomi Allah? Aku telah mengorbankan segala sesuatu bagi ini. Hari demi hari, aku mempersembahkan hari depanku kepada Allah bagi ekonomi-Nya. Tidakkah Anda menghargai-nya?” Ya, saudara semacam itu mungkin untuk ekonomi Allah, namun dia masih memerlukan praktek kristiani yang sempurna dalam hidupnya sehari-hari. Sekali lagi kita nampak bahwa kita perlu seimbang: kita perlu visi yang jelas mengenai ekonomi Allah, kita juga perlu praktek kristiani yang sempurna.

Melalui Surat Kiriman Yakobus seharusnya kita sadar, walaupun kita sangat saleh, namun tetap masih kekurang-an visi yang jelas mengenai ekonomi Allah. Seseorang mungkin saja saleh, rendah hati, dan lemah lembut dalam hidupnya sehari-hari, tetapi ia tidak sanggup berperang bagi ekonomi Allah. Untuk berperang bagi ekonomi Allah kita harus mempelajari strategi yang tepat. Paulus adalah seorang yang seimbang. Di satu pihak, ia adalah seorang pejuang yang ulung; di pihak lain, ia adalah seorang yang saleh. Paulus juga mendorong Timotius, sekerjanya yang lebih muda, untuk melatih dirinya beribadah (1 Tim. 4:7). Dalam memperhatikan hal-hal utama tentang ekonomi Allah, kita tidak boleh mengabaikan perincian riil dari hidup pribadi kita setiap hari.

Sebagian besar orang Kristen hari ini lebih memperhatikan hal-hal kecil dalam hidup mereka sehari-hari dari-pada hal-hal besar tentang ekonomi Perjanjian Baru Allah. Ternyata, banyak orang Kristen yang mencari Tuhan sedikit sekali memikirkan hal-hal yang benar-benar besar. Orang-orang Kristen itu boleh jadi memang ibadah dan saleh, sering berdoa, beriman dan sabar, juga mengasihi Allah. Dalam hidup mereka sebagai orang Kristen, mereka meniru Yakobus. Namun mereka tidak nampak ekonomi Allah.

Karena kita mungkin saja menjadi orang Kristen semacam itu, maka kita perlu diingatkan bahwa walaupun kita bisa menjadi saleh, namun masih belum nampak ekonomi Allah. Bisa saja kita sempurna dan utuh dalam hal perilaku sebagai orang Kristen, tetapi kita tidak tahu bagaimana berperang untuk melaksanakan ekonomi Allah. Karena itu, saya berbeban untuk menegaskan pentingnya kita memiliki hidup kristiani yang seimbang. Kita perlu nampak ekonomi Allah, dan kita perlu disempurnakan dalam hidup pribadi kita sehingga kita sempurna dan utuh. Kita memerlukan penyeimbangan dan peringatan yang terdapat dalam Kitab Yakobus. Mengenai kitab ini, kita perlu bersikap adil, mengakui bahwa “gerbang” ke Surat Kiriman Paulus masih memerlukan bantuan dari “pintu” Kitab Yakobus.

MENOLAK GODAAN DENGAN HAYAT ILAHI

Dalam 1:2-12 kita melihat hal pertama dari kebajikan praktek kristiani yang sempurna yang dibahas dalam kitab ini — menanggung pencobaan dengan iman. Dalam 1:13-18 sampailah kita ke hal yang kedua — menolak godaan sebagai orang yang dilahirkan Allah.

Dalam ayat 13-18 hal pertama adalah menolak godaan, dan kedua adalah melalui kelahiran kembali Allah membawa kita maju ke depan. Allahlah yang menyebabkan kita mengalami kelahiran kembali. Melalui kelahiran seperti ini, hayat diberikan ke dalam kita. Sewaktu Allah melahirkan kita kembali, membuat kita memiliki suatu kelahiran ilahi, hayat ilahi diberikan kepada kita. Dalam ayat-ayat ini terkandung pengertian bahwa kita menolak godaan oleh hayat ilahi yang kita terima dalam kelahiran ilahi kita. Karena itu, topik dari bagian ini adalah “Menolak Godaan sebagai Orang yang Dilahirkan Allah”.

Karena kita telah dilahirkan dari Allah, maka kita sekarang adalah anak-anak Allah yang memiliki hayat Allah. Hayat ilahi ini merupakan sarana, “modal” kita, untuk me-nolak godaan. Hayat ilahi telah didepositokan ke dalam kita, dengan demikian kita mempunyai kemampuan, kekuatan, tenaga, dan kuasa untuk menolak godaan.

DIGODA OLEH KEINGINAN

Yakobus 1:13 mengatakan, “Apabila seseorang dicobai, janganlah ia berkata, ‘Aku sedang dicobai oleh Allah!’ Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.” Kata “dicobai” dalam bahasa aslinya juga berarti “digoda”, “diuji”. Bahasa Yunani untuk pencobaan-pencobaan dan pencobaan di dalam ayat 2 dan 12 adalah peirasmos, sedang dicobai adalah peiraso. Kedua kata itu sangat mirip bentuknya; semuanya mengacu kepada keadaan dicobai, diuji, dibuktikan. Dicobai, diuji, dibuktikan, oleh penderitaan luaran dalam lingkungan adalah sua-tu pencobaan (ayat 2). Dicobai, diuji, dibuktikan oleh bujukan nafsu di dalam adalah suatu godaan (ayat 14). Pencobaan dibicarakan dalam ayat 2-12; godaan dibicarakan dalam ayat 13-21. Terhadap pencobaan, kita harus menahannya bersandarkan mengasihi Tuhan agar kita bisa memperoleh berkat — mahkota hayat. Terhadap godaan, kita harus menolaknya melalui menerima firman yang tertanam, agar kita bisa mendapatkan keselamatan — keselamatan jiwa (ayat 21).

Dalam ayat 13 Yakobus mengatakan bahwa Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Di sini, kata “dicobai” dalam bahasa Yunaninya adalah “apeirastos”, berarti tidak diuji, karenanya, tidak tergoda, tidak digoda, tidak dapat digoda. Iblis adalah penggoda, bukan Allah (Mat. 4:3; 1 Tes. 3:5).

Dalam ayat 14-15 Yakobus melanjutkan, “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya (nafsunya) sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Si penggoda, Iblis, adalah bapa dosa yang melahirkan (1 Yoh. 3:8, 10), memiliki kuasa atas maut (Ibr. 2:14) melalui dosa (1 Kor. 15:56). Dia menginjeksikan dosa ke dalam Adam, dan melalui dosa, maut telah menjalar kepada semua orang (Rm. 5:12).

PENCOBAAN DAN GODAAN

Dalam hidup kita sebagai orang Kristen kita dicobai oleh dua macam hal. Yang pertama adalah yang positif, sedang yang kedua adalah yang negatif. Yang pertama meliputi pencobaan-pencobaan dan penderitaan-penderitaan yang menguji dan membuktikan kita. Penganiayaan, penderitaan, dan lingkungan yang miskin mencobai, menguji, dan membuktikan di manakah kita berdiri di hadapan Allah. Yang kedua, yaitu yang negatif, meliputi godaan. Sebagai contoh, teman kerja Anda mungkin dipakai oleh Iblis untuk menggoda Anda dengan mengajak Anda mengikuti suatu kegiatan duniawi. Anda mungkin juga dicobai dalam hal-hal lainnya. Boleh jadi, seorang tetangga membeli sebuah mobil baru. Sewaktu Anda nampak mobil itu, Anda ingin memiliki yang seperti itu. Itulah godaan.

Seperti halnya pencobaan-pencobaan, godaan-godaan juga menguji dan membuktikan kita. Jadi, dicobai oleh penderitaan di luar kita merupakan suatu pencobaan, sedangkan dicobai oleh keinginan yang di dalam dan dipikat olehnya adalah suatu godaan. Suatu undangan yang mengajak kita untuk ikut dalam kegiatan duniawi atau karena melihat mobil baru seseorang mungkin bisa mengobarkan keinginan di dalam kita. Ini bukan pencobaan, melainkan suatu godaan. Kita perlu menanggung pencobaan, tetapi godaan harus ditolak. Untuk menanggung pencobaan, kita memerlukan hikmat. Akan tetapi, hanya hikmat semata tidaklah cukup untuk menolak godaan. Untuk menolak godaan, kita memerlukan hayat ilahi.

Dalam hidup kristiani kita, godaan lebih sering muncul daripada pencobaan. Boleh jadi kita mengalami pencobaan pada waktu-waktu tertentu, tetapi godaan itu muncul setiap hari, bahkan setiap jam. Kadang-kadang godaan datang silih berganti. Sebagai contoh, sewaktu di sekolah seorang anak muda tergoda ketika ia melihat pena yang indah milik kawannya. Segera ia tergoda dan ingin memiliki pena seperti itu.

Bahkan sebuah pena pun dapat menjadi suatu godaan bagi kita, karena di dalam kita ada “kuman” keinginan (nafsu). Jika kita tidak memiliki kuman-kuman itu di dalam kita, tidak akan ada sesuatu pun yang dapat menjadi godaan bagi kita. Keinginan (nafsu) di dalam kitalah menyebabkan begitu banyak hal yang menjadi godaan bagi kita. Yang perlu kita tolak sebenarnya bukanlah hal yang menggoda kita, melainkan nafsu yang ada di dalam kita. Seperti yang telah kita tunjukkan, hikmat tidaklah cukup untuk menolaknya. Mungkin kita memiliki hikmat, namun masih belum cukup kuat untuk menolak nafsu ini. Jika kita ingin menolak nafsu yang di dalam kita, kita perlu hayat lain, yaitu hayat Allah.

DILAHIRKAN KEMBALI

MELALUI FIRMAN KEBENARAN

Seperti yang akan kita lihat, ayat 18 mengatakan bahwa Bapa kita telah melahirkan kita, melahirkan kembali kita, oleh firman kebenaran, yang adalah firman realitas ilahi. Ketika kita mendengar Injil, kita mendengar firman realitas Allah. Begitu kita menerima firman ini, kita dilahirkan kembali. Melalui kelahiran ilahi, hayat ilahi ditanamkan ke dalam kita. Sekarang kita tidak hanya memiliki hayat ilahi, juga menikmati hayat ini beserta sifat ilahinya. Hayat adalah kekuatan, kuasa batini, yang memungkinkan kita menolak kuman-kuman nafsu yang ada di dalam kita.

BAPA SEGALA TERANG

Dalam ayat 16-17 Yakobus meneruskan perkataannya, “Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat! Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Dalam ayat ini, “pemberian” mengacu kepada tindakan memberi, dan “anugerah” mengacu kepada barang yang diberikan. Segala terang di sini mengacu kepada benda-benda penerang di langit. Bapa adalah Pencipta, sumber, dari benda-benda penerang ini. Pada-Nya tidak ada bayangan yang terjadi karena pertukaran (berlawanan dengan situasi orbit benda langit, bulan bertambah besar dan pudar karena peredarannya, dan matahari bisa mengalami gerhana karena tertutup bulan), karena Dia tidak berubah, tidak bisa berubah. Dengan demikian, Dia tidak bisa digoda oleh sifat jahat, juga tidak menggoda siapa pun.

Menurut ayat 17, tindakan memberi maupun barang yang diberikan berasal dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang. Bertahun-tahun yang lalu, saya mengira bah-wa segala terang dalam ayat 17 ini adalah segala terang rohani dan di sini Yakobus mengatakan bahwa Allah adalah Bapa dari segala terang rohani ini. Tetapi belakangan ini saya menemukan bahwa semuanya itu bukanlah terang rohani; melainkan benda-benda langit, seperti matahari, bulan, dan planet-planet, serta bintang-bintang.

Bagaimana mungkin Allah bisa disebut Bapa atas benda-benda langit ini? Ia disebut Bapa segala terang karena semua benda penerang itu diciptakan oleh-Nya. Menurut Kisah Para Rasul 17, segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah adalah dihasilkan oleh-Nya. Dalam hal ini, Ia adalah Bapa dari segala yang dihasilkan-Nya. Karena benda-benda langit diciptakan oleh Allah, maka Ia adalah Bapa dari segala terang, benda-benda penerang.

Yakobus mengatakan bahwa pada Bapa segala terang ini tidak ada perubahan-perubahan, pergantian, ataupun bayangan karena pertukaran. Bertahun-tahun yang lalu, saya beranggapan hal itu berarti, karena Allah tidak per-nah berubah, tidak pernah beralih, maka tidak ada bayangan kegelapan. Akan tetapi, ketika saya memegang pengertian ini timbul suatu keragu-raguan, apakah ini makna sebenarnya. Apakah Yakobus mengatakan bahwa karena Allah tidak per-nah berubah, maka pada-Nya tidak ada kegelapan? Akhirnya, melalui ayat ini saya mempelajari bahwa yang dimaksud oleh Yakobus adalah pergerakan benda-benda langit, sama se-perti planet-planet di dalam orbit atau rotasinya. Pergerak-an semacam ini bisa menyebabkan timbulnya kegelapan, sama halnya dengan gerhana matahari. Tetapi Allah tidak pernah berubah, pada-Nya tidak ada perubahan seperti or-bit di langit.

Sekarang kita mengerti bahwa yang dimaksud Yakobus adalah orbit-orbit di dalam tata surya yang menunjukkan kepada kita bahwa Bapa yang melahirkan kita, adalah tidak berubah. Pada-Nya tidak ada pertukaran. Karenanya, jangan-lah kita mengatakan bahwa kita dicobai oleh Allah. Karena Allah itu tidak berubah, maka Ia tidak mencobai siapa pun, dan Ia pun tidak dapat dicobai. Berdasarkan pemahaman tentang stabilitas Allah, Yakobus menekankan fakta bahwa Bapa yang melahirkan tidak pernah mencobai kita. Seba-liknya, bila kita dicobai, maka kita dicobai oleh keinginan kita sendiri. Kemudian apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa. Dosa, apabila sudah matang, akan me-lahirkan maut. Keinginan adalah faktor penggoda yang me-lahirkan dosa dan dosa melahirkan maut.

BUAH SULUNG

DI ANTARA SEMUA CIPTAAN-NYA

Dalam ayat 18 Yakobus mengatakan Allah Bapa, “Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan (melahirkan) kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak (buah) sulung di antara semua cipta-an-Nya.” Fakta bahwa Allah berkehendak berarti Ia melahir-kan kita atas kehendak-Nya sendiri, melalui maksud-Nya, untuk merampungkan ketetapan-Nya melalui melahirkan kita supaya kita bisa menjadi anak sulung dari semua ciptaan-Nya.

Dosa, sumber dari kegelapan, melahirkan maut (ayat 15). Tetapi Bapa segala terang melahirkan kita, supaya kita menjadi buah sulung dari antara semua ciptaan-Nya, pe-nuh dengan hayat yang kuat, yang matang lebih dulu. Ini mengacu kepada kelahiran ilahi, yaitu kelahiran kembali kita (Yoh. 3:5-6), yang dirampungkan sesuai dengan kehen-dak kekal Allah.

Menurut ayat 18, Allah melahirkan kita oleh firman kebenaran. Firman kebenaran adalah firman ilahi yang riil, yaitu firman apa adanya Allah Tritunggal (Yoh. 1:14, 17). Firman ini adalah benih hayat, yang olehnya kita telah dilahirkan kembali (1 Ptr. 1:23).

Yakobus mengatakan bahwa Allah telah melahirkan kita oleh firman kebenaran supaya kita pada tingkat ter-tentu dapat menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya. Allah akan memperbarui seluruh ciptaan-Nya untuk mendapatkan langit yang baru dan bumi yang baru dengan Yerusalem Baru sebagai intinya (Why. 21:1-2). Pertama-ta-ma Dia melahirkan kita kembali menjadi buah sulung dari ciptaan baru-Nya dengan menyalurkan hayat ilahi-Nya ke dalam diri kita melalui firman hayat yang tertanam, sehingga kita dapat menempuh hidup yang sempurna. Ini seharusnya merupakan benih praktek kristiani yang sempurna. Hidup yang demikian akan rampung dalam Yerusalem Baru seba-gai inti hidup alam semesta baru Allah yang kekal.