← Daftar isi Kata Pengantar Kitab Efesus · bab 11/25

KAUM BERIMAN PERJANJIAN BARU MENJADI PUJIAN BAGI KEMULIAAN ALLAH

Sekarang kita tiba pada masalah kaum beriman Perjanjian Baru menjadi pujian kemuliaan Allah (Ef. 1:11-12). Efesus 1:12 mengatakan, “Supaya kami, yang sebe-lumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.” Ayat ini tidak berarti kita yang akan memuji Allah, melainkan karena begitu banyak yang akan dikerjakan oleh anugerah Allah yang berlimpah bagi dan di dalam kaum beriman, anak-anak Allah (yang merupakan pusat pekerjaan Allah dalam alam semesta), sehingga semua malaikat dan hal positif dalam alam semesta akan memuji dan mengapresiasi ekspresi mulia Allah. Mereka akan memuji-muji Allah sebab kita, putra-putra Allah, akan menjadi pusat, titik fokus dari operasi Allah dalam alam semesta. Kita akan seperti poros sebuah roda. Bila poros ini diambil, roda akan roboh, sebab ruji-rujinya tidak ada penyangga-nya. Malaikat-malaikat dan perkara-perkara yang positif dalam alam semesta seperti ruji-rujinya; sedangkan kita, putra-putra Allah, seperti porosnya. Tanpa poros yang demikian, alam semesta tidak mungkin melekat bersama. Anugerah yang melimpah di atas diri kita, untuk kita, dan di dalam kita, telah menggenapkan banyak perkara, itulah yang menjadikan kita penyebab semua pujian yang diucapkan oleh perkara yang positif dalam alam semesta. Itulah makna sebenarnya dari ayat 12.

Kata “supaya” yang kecil, yang mengawali ayat ini sangatlah berarti. Ia menunjukkan bahwa banyak perkara telah terjadi pada ayat-ayat terdahulu yang menimbulkan akibat tertentu, yaitu kita akan menjadi puji-pujian bagi kemuliaan Allah. Pujian ini terutama terdapat dalam Kerajaan Seribu Tahun dan puncaknya dalam langit baru dan bumi baru. Kalau kita membaca Wahyu 21-22 di dalam terang beberapa ayat dalam Kitab Efesus, kita akan nampak bahwa Yerusalem Baru adalah satu susunan putra-putra Allah, pusat alam semesta yang baru. Para malaikat, segala bangsa, dan segala perkara yang positif di sekitar kita akan memandang kita dan akan mengucapkan puji-pujian kepada Allah dengan spontan. Karena itu, putra-putra Allah, unsur-unsur penyusun Yerusalem Baru ini akan menjadi penyebab puji-pujian yang universal. Alam semesta akan memuji-muji Allah karena kita, yang telah digarap oleh anugerah Allah yang melimpah.

Namun banyak orang, termasuk kita, mungkin telah berkali-kali membaca Kitab Efesus tanpa melihat hal ini, sebab kita tidak memiliki konsepsi yang wajar. Kita mengerti Alkitab sebagian besar menurut konsepsi kita. Seandainya murid kelas 3 SD membaca Kitab Efesus, ia mungkin dapat mengucapkan semua kata-katanya, tetapi ia tidak dapat memahami arti sebenarnya, karena ia tidak memiliki konsepsi yang tepat. Betapa seringnya kita memahami wahyu ilahi dengan mengandalkan konsepsi yang telah kita miliki. Kita tidak seharusnya mengandalkan konsepsi alamiah kita, sebaliknya kita harus membuangnya. Jika kita mau membuang konsepsi kita, maka roh hikmat akan menggantikan konsepsi alamiah kita dengan sesuatu yang rohani, surgawi, dan kekal. Pengetahuan kita tentang doktrin akan menyebabkan kita terselubung ketika kita membaca Kitab Efesus. Konsepsi kita menjadi tabir yang menutupi roh kita. Tetapi bila kita membuang konsepsi kita, roh kita akan terbuka, kita pun akan menjadi miskin di dalam roh. Dalam Matius 5:3, Tuhan Yesus mengatakan, “Berbahagialah orang yang miskin di dalam roh” (Tl.). Mereka yang miskin di dalam roh, kelihatannya seperti tidak mengetahui apa-apa, karena mereka telah mengosongkan diri dari segala konsepsi, doktrin, dan pengajaran. Jika kita datang kepada Firman murni dengan keadaan yang miskin di dalam roh, kita akan nampak sesuatu yang baru.

Dalam ayat 11-12 kita nampak bahwa kaum beriman Perjanjian Baru akan menjadi penyebab puji-pujian yang universal. Pujian adalah ucapan apresiasi. Kita tidak memuji tanah, sebab kita tidak mengapresiasi tanah. Di pihak lain, kita benar-benar memuji Tuhan Yesus yang tercinta, karena kita sangat mengapresiasi Dia. Apresiasi kita menjadi puji-pujian kita. Pada suatu hari, kita, putra-putra Allah, akan diapresiasi oleh semua malaikat. Semakin memandang kita, mereka akan semakin banyak meluapkan pengutaraan untuk memuji-muji Allah. Apresiasi mereka terhadap kita akan menjadi puji-pujian mereka terhadap Allah. Mereka akan nampak bahwa apa adanya kita merupakan pekerjaan anugerah Allah yang melimpah itu. Banyaknya pujian tergantung pada banyaknya pekerjaan yang dilakukan oleh anugerah. Bila anugerah yang melimpah itu merampungkan lebih banyak pekerjaannya di atas diri kita, para malaikat pun akan mengapresiasikan kita lebih banyak. Alkitab mengatakan bahwa pohon-pohon pun akan bersorak-sorai (Mzm. 96:12) dan memuji Tuhan (Mzm. 148:7-9). Jika pepohonan itu tidak melihat sesuatu yang ajaib dan indah dalam alam semesta, mereka tentu tidak akan bersukacita. Namun, melihat keadaan kita, putra-putra Allah, bagi pohon-pohon itu adalah kejutan yang teramat besar. Maka pohon-pohon akan bersorak-sorai memuji-muji karena kita. Fakta kita menjadi pujian kemuliaan Allah tidak berarti kita akan memuji Allah, melainkan kita menjadi penyebab pujian yang diucapkan oleh para malaikat dan segala perkara positif dalam alam semesta ini.

Pada akhirnya, kita akan menjadi kemuliaan Allah. Mungkin ada orang merasa heran, bagaimana kita dapat menjadi kemuliaan Allah. Dalam 1Tesalonika Paulus berkata, “Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan sukacita kami” (2:20). Di sini Paulus berbicara seperti wakil Allah. Maka, jika kaum beriman itu kemuliaan Paulus, mereka tentu juga menjadi kemuliaan Allah, sebab Paulus adalah utusan Allah. Bila kaum beriman itu kemuliaan sang utusan, mereka pasti pula menjadi kemuliaan Sang Peng-utus. Dalam masa seribu tahun dan khususnya dalam langit baru dan bumi baru, Allah dapat berkata, “Para malaikat, bangsa-bangsa, dan segenap makhluk ciptaan, tengoklah kemuliaan-Ku. Putra-putra-Ku adalah kemuliaan-Ku.” Dari sudut manusia, hal ini terbukti dalam sebuah keluarga besar. Misalkan seorang ayah mempunyai banyak anak yang baik, mereka semua sangat mengasihi Tuhan. Kalau pada suatu hari anak-anak ini duduk mengitari ayah mereka, sang ayah dapat berkata, “Inilah kemuliaanku. Anak-anakku adalah kemuliaanku.” Pada suatu hari, Bapa akan mengumpulkan kita semua. Saat itu, kita semua akan diresapi, diubah, dan ditransfigurasi oleh-Nya. Lalu, dengan sukacita Dia akan berkata kepada malaikat dan segenap perkara yang positif dalam alam semesta bahwa kita adalah kemuliaan-Nya.

Kemuliaan ialah ekspresi Allah. Pada kegenapan waktu, semua putra Allah akan dijenuhi Allah sepenuhnya dan akan mengekspresikan Allah. Allah akan diekspresikan melalui kita. Allah yang terekspresikan ini adalah kemuliaan. Semua malaikat dan perkara positif dalam alam semesta akan memuji Allah yang terekspresikan ini. Inilah arti perkataan bahwa kita akan menjadi pujian kemuliaan-Nya.

I. TELAH DITEMPATKAN DI DALAM

KRISTUS YANG MENJADI KEPALA

Di bagian depan ayat 11 dikatakan, “di dalam Dia juga kami telah dijadikan warisan” (Tl.). Kata “di dalam Dia” mengacu kepada Kristus sebagai Kepala. Ayat 10 yang membicarakan disatukannya segala sesuatu di bawah satu kepala, dalam Alkitab bahasa aslinya berakhir dengan kata “di dalam Kristus”, sedang ayat 11 dimulai dengan kata “di dalam Dia”. Cara Paulus menulis di sini agak kaku dan berulang-ulang. Namun Paulus sengaja menulis demikian untuk menekankan fakta bahwa semua perkara, baik yang di surga maupun yang di bumi, telah disatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus. Untuk menekankan fakta ini, ia tidak mempedulikan keindahan susunan kata. Kata “di dalam Dia” mewahyukan bahwa kita telah ditempatkan di dalam Kristus yang menjadi Kepala.

II. TELAH DIJADIKAN WARISAN

OLEH ALLAH

Dalam Kristus yang menjadi Kepala, kita pun telah dijadikan warisan. Kata “juga” dalam ayat 11 ini mengacu kepada perihal disatukannya segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus. Segala sesuatu disatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus, dan kita juga telah dijadikan warisan di dalam-Nya. Dalam Kristus kita telah menjadi warisan. Perhatikan baik-baik bentuk waktu (kala) yang dipakai di sini. Dalam masa yang akan datang, segala sesuatu akan disatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus, tetapi kita telah menjadi warisan di dalam-Nya. Kata-kata Yunani yang diterjemahkan “telah dijadikan warisan” boleh juga diterjemahkan “telah beroleh warisan”. Kata kerja Yunani ini berarti memilih atau menentukan dengan cara mengundi. Maka, klausa ini dalam arti harfiahnya ialah kita diberi tanda sebagai warisan. Kita dijadikan suatu warisan untuk mewarisi warisan Allah. Di satu pihak, kita telah dijadikan warisan Allah (ayat 18), untuk kenikmatan Allah; sedang di pihak lain, kita telah mewarisi Allah sebagai warisan kita (ayat 14) untuk kenikmatan kita.

Manakah yang Anda kira lebih besar: kita menjadi warisan Allah, atau Allah mempersatukan segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus? Menurut saya, menjadi warisan jauh lebih baik daripada disatukan di bawah satu kepala. Melalui menjadikan kita warisan Allah, jalan terbuka bagi-Nya untuk mempersatukan segala sesuatu dalam alam semesta di bawah satu kepala.

Meskipun kita telah menjadi suatu warisan, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita sudah hidup sebagai warisan Allah. Apakah Anda hidup seperti orang yang menjadi warisan Allah? Apakah Anda mirip dengan warisan Allah, atau mirip dengan segumpal tanah? Bagaimana tanah dapat menjadi warisan Allah? Dalam diri kita sendiri, kita benar-benar tidak layak menjadi warisan Allah, namun kita telah dijadikan warisan dalam Kristus sebagai kepala. Menurut alamiah kita, kita tidak layak sedikit pun, tetapi dalam Kristus yang menjadi kepala, kita telah dijadikan warisan Allah.

Melalui Allah menggarapkan diri-Nya ke dalam kita, kita tersusun menjadi suatu warisan. Hari ini Allah masih menggarapkan diri-Nya ke dalam kita. Kebanyakan kita adalah sebagian dari tanah sebagian dari emas. Ba-gian emas adalah yang menjadi warisan Allah. Saya bersyukur kepada Allah bahwa pada saat pemrosesan menjadi warisan Allah ini berlangsung, unsur emas di dalam kita terus bertambah, sedang unsur tanah terus berkurang.

Kita tidak seharusnya berhenti pada pengajaran yang obyektif tentang warisan Allah. Beberapa tahun yang lalu saya pernah diajarkan bahwa kita adalah warisan Allah, saya sangat girang mendengar hal ini. Namun kemudian saya menyadari bahwa diri saya tidak lain hanya tanah belaka. Tampaknya mustahil, tanah bisa menjadi warisan Allah. Setelah mengalami dan mempelajari Perjanjian Baru, saya mengerti bahwa kita kini masih dalam proses menjadi warisan Allah. Dalam proses ini hayat alamiah harus terkikis, dan emas — sifat ilahi harus bertambah melalui digarapkan lebih banyak ke dalam diri kita. Ketika proses ini genap, barulah kita akan sepenuhnya menjadi warisan Allah; bukan hanya secara obyektif, tetapi juga secara subyektif.

Proses untuk menjadi warisan Allah berjalan serentak dengan disatukannya segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus. Semakin kita mau disatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus, maka di dalam kita akan semakin bertambah unsur emas, yaitu unsur ilahi. Inilah transformasi, ini juga pengudusan yang subyektif. Dalam pengudusan subyektif ini, diri kita akan dijenuhi oleh substansi Allah, esens Allah. Ketika unsur Allah tergarap ke dalam diri kita, kita menjadi warisan Allah. Me-mang benar, kita telah ditempatkan di dalam Kristus yang menjadi kepala, namun kita masih tetap berada di dalam proses untuk dijadikan warisan-Nya secara sempurna.

A. Ditentukan

Untuk menjadikan kita warisan-Nya, Allah Bapa telah menentukan kita menjadi putra-putra-Nya. Proses untuk menjadikan kita warisan Allah itu berdasar pada dan menurut penentuan Allah yang bersifat kekal. Kini Allah sedang menggarap kita untuk mencapai sasaran penentuan-Nya.

B. Menurut Kehendak Allah

Ayat 11 mengatakan bahwa kita telah dijadikan warisan menurut rencana kehendak Dia yang bekerja dalam segala sesuatu. Allah mengerjakan segala sesuatu menurut rencana kehendak-Nya. Kehendak Allah berbeda dengan rencana-Nya. Kehendak ditujukan kepada keingin-anNya, sedang rencana ditujukan kepada pertimbangan-Nya. Allah mengerjakan segala sesuatu menurut pertimbangan keinginan-Nya. Pekerjaan-Nya terutama berkaitan dengan kita, keinginan-Nya terhadap kita ialah menjadikan kita warisan-Nya. Dalam rencana-Nya, Dia mempertimbangkan bagaimana caranya merampungkan hal ini; Dia tidak melakukannya tanpa pertimbangan yang teliti. Sebagai contoh: seorang saudari mungkin ingin memanggang kue yang istimewa. Sebelum memanggangnya, pasti ia mempertimbangkan dulu bagaimana melaksanakannya. Tanpa pertimbangan seperti itu, mung-kin kuenya akan gagal dalam proses pemanggangan. Demikian pula, Allah dengan sangat berhati-hati dan de-ngan pertimbangan yang teliti menjadikan kita warisan-Nya.

Allah mengerjakan segala perkara menurut rencana keinginan-Nya, agar kita menjadi puji-pujian kemuliaan-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah sedang melakukan pekerjaan yang paling bagus di atas diri kita. Tidak ada satu pekerjaan yang kasar yang dapat menghasilkan pujian atau apresiasi yang tinggi. Pekerjaan yang paling baiklah yang menghasilkan apresiasi tertinggi, dan dari apresiasi itu terbit puji-pujian yang tertinggi. Karena Allah bekerja di atas diri kita dengan cara yang paling bagus, maka kita akan menjadi penyebab apresiasi yang terbesar.

Dalam pemulihan Tuhan, kita tidak hanya memperhatikan tumpuan (pendirian) kesatuan, kita di sini juga untuk pekerjaan Allah yang lebih halus dan cermat. Di antara kelompok kekristenan hari ini, sulit sekali didapati satu kelompok yang di dalamnya Allah dapat melakukan pekerjaan yang lebih halus dan cermat. Boleh jadi kitalah satu-satunya kelompok kekristenan di bumi yang memberi Allah kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang lebih halus dan cermat. Sebab itu, dalam pemulihan Tuhan kita bertanggung jawab memberi kesempatan kepada Tuhan, agar Dia melakukan pekerjaan lebih halus dan cermat ini di atas diri kita. Kita tidak mau menjadi dangkal, atau memiliki suatu pergerakan yang bersifat sementara. Sebaliknya, kita mau bekerja sama dengan Allah, agar Dia dapat melakukan pekerjaan yang lebih halus dan cermat di antara kita demi mendatangkan apresiasi yang tertinggi dalam alam semesta. Lalu, bila para malaikat memandang kita, mereka akan mengapresiasi apa yang telah Allah kerjakan, dan akan mengucapkan puji-pujian kepada Allah yang kita ekspresikan. Pekerjaan Allah bukan hanya memperbaiki tingkah laku kita atau membuat kita lebih mengasihi dan rendah hati. Konsepsi yang demikian terlalu rendah. Kita wajib mengizinkan Allah menggarapkan diri-Nya ke dalam diri kita, untuk mengubah setiap bagian kita. Hal ini akan menjadi produk terbaik dalam alam semesta; yakni satu produk yang penuh dengan Allah dan yang penuh dengan esens ilahi. Dengan jalan inilah suatu pekerjaan yang halus dan cermat akan diapresiasi sangat tinggi oleh para malaikat dan oleh segenap perkara yang positif, dan karenanya mereka akan memuji-muji Allah atas kemuliaan anugerah-Nya.

Kata “supaya” dalam ayat 12 adalah sebuah kata yang kelihatannya tidak begitu bermakna, tetapi dalam bahasa Yunani ia merupakan kata yang berbobot. Kata ini juga dapat diterjemahkan “menghasilkan”. Ini menunjukkan adanya sejenis apresiasi dan puji-pujian yang kelak terjadi karena kita. Kita akan menyebabkan para malaikat memuji-muji. Tatkala para malaikat melihat kita, mereka akan mengapresiasi kita. Tetapi, kita masih belum sepenuhnya mencapai butir ini. Kita harus maju terus, sampai kita — kaum beriman Perjanjian Baru — menjadi penyebab memujinya para malaikat secara universal atas kemuliaan Allah itu.

III. YANG SEBELUMNYA TELAH MENARUH

HARAPAN DALAM KRISTUS PADA ZAMAN INI

Ayat 12 menerangkan bahwa kita “sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus”. Kata Yunani yang diterjemahkan “sebelumnya” dapat juga diterjemahkan “terlebih dulu”. Kata “pada” dalam bahasa aslinya adalah “dalam”. Kita, kaum beriman Perjanjian Baru, adalah orang-orang yang terlebih dulu menaruh harapan dalam Kristus, yaitu kita menaruh harapan dalam Dia pada zaman ini, sedang orang-orang Yahudi baru akan menaruh harapan mereka dalam Kristus pada zaman yang akan datang. Hari ini, kita sudah menaruh harapan dalam Kristus, tetapi orang-orang Yahudi, yang tidak menaruh harapan dalam Kristus berada dalam suatu keadaan yang sangat kasihan.

IV. MENARUH HARAPAN DALAM KRISTUS

SEBELUM IA KEMBALI UNTUK MENDIRIKAN

KERAJAAN-NYA DALAM ZAMAN

YANG AKAN DATANG

Kita telah menaruh harapan dalam Kristus sebelum kedatangan-Nya untuk mendirikan Kerajaan Mesias-Nya. Tetapi orang-orang Yahudi baru akan menaruh harapan dalam Kristus setelah kedatangan-Nya kelak. Karena kita penuh harapan dalam Kristus, maka kita dapat menjadi penyebab pujian universal dari para malaikat atas kemuliaan Allah.

V. SUPAYA KEMULIAAN

ALLAH TERPUJI

Akhirnya, kita akan menjadi pujian kemuliaan Allah. Seperti telah kita lihat, Allah telah dimuliakan, diekspresikan di atas diri kaum beriman Perjanjian Baru. Ekspresi ini tidak terlihat pada hari ini, namun pada suatu hari akan tertampak. Pada masa itu ekspresi Allah melalui kaum beriman Perjanjian Baru akan membangkitkan pujian yang universal. Allah kita akan sepenuhnya diekspresikan dan dimuliakan melalui kita dan di antara kita. Setelah itu alam semesta akan memuji kemuliaan-Nya.