← Daftar isi Kata Pengantar Kitab Efesus · bab 10/25

MEMPERSATUKAN SEGALA SESUATU DI BAWAH SATU KEPALA DI DALAM KRISTUS (3)

Berita ini merupakan lanjutan dari perkara mempersatukan segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus (Ef. 1:10). Pertama kita harus melihat apa itu kegenapan waktu. Efesus 1:10 mengatakan, “Sebagai ekonomi kegenapan waktu untuk mempersatukan segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus, baik yang di surga maupun yang di bumi” (Tl.). Kata “sebagai” di sini berarti “berakhir pada” atau “untuk memperoleh”. Kata “ekonomi” dalam ayat ini ialah ekonomi dari kegenapan waktu. Waktu di sini tidak dapat disangsikan mengacu kepada zaman. Jadi, kegenapan waktu berarti kegenapan zaman.

EMPAT ZAMAN

Dalam Alkitab terdapat empat zaman (masa) yang berbeda. Yohanes 1:17 mengatakan, “Sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus.” Di sini kita nampak bahwa hukum Taurat berkaitan dengan Musa, anugerah berkaitan dengan Yesus Kristus. Jadi di sini tersirat dua zaman: zaman hukum Taurat dan zaman anugerah. Tatkala Musa dibangkitkan, itulah permulaan zaman hukum Taurat, dan tatkala Kristus datang, itulah permulaan zaman anugerah. Roma 5 menyebut Adam dan Musa (ayat 14). Dosa berkaitan dengan Adam, dan seperti telah kita ketahui, hukum Taurat berkaitan dengan Musa. Maka, kita memiliki tiga orang — Adam, Musa, dan Kristus; dan tiga perkara — dosa, hukum Taurat, dan anugerah. Adam berkaitan dengan dosa, Musa berkaitan dengan hukum Taurat, dan Kristus berkaitan de-ngan anugerah. Hal ini menunjukkan bahwa dari Adam sampai kedatangan Kristus kali kedua mencakup tiga zaman: zaman dosa, zaman hukum Taurat, dan zaman anugerah.

Banyak di antara orang Kristen mengenal ajaran teologia tentang tujuh zaman, yakni zaman tanpa dosa, zaman hati nurani, zaman pemerintahan manusia, zaman perjanjian, zaman hukum Taurat, zaman anugerah, dan zaman kerajaan. Ajaran tersebut bukan tidak benar. Tetapi berdasarkan catatan Alkitab, kita dapat mengatakan bahwa sebelum masa seribu tahun hanya terdapat tiga zaman : zaman Adam, zaman Musa, dan zaman Kristus. Setelah zaman anugerah, akan tiba zaman kerajaan. Zaman kerajaan ini adalah penguasaan surgawi atas bumi selama seribu tahun. Karena itu, seluruhnya ada empat zaman : zaman dosa, zaman hukum Taurat, zaman anugerah, dan zaman kerajaan.

Keempat zaman inilah yang disebut “waktu”. Sebelum dimulainya zaman pertama, belum ada waktu, itulah kekekalan yang lampau. Setelah keempat zaman pun tidak ada waktu lagi, karena yang ada ialah kekekalan yang akan datang. Di antara kedua ujung kekekalan — kekekalan yang lampau dan kekekalan yang akan datang, terdapat empat zaman, empat masa. Zaman Adam ialah zaman dosa, zaman Musa ialah zaman hukum Taurat, zaman Kristus ialah zaman anugerah, dan zaman seribu tahun adalah zaman kerajaan. Ketika keempat masa atau zaman ini genap, itulah yang dimaksud dengan kegenapan waktu, kegenapan zaman. Zaman Adam dan zaman Musa telah genap, zaman anugerah sedang digenapkan, dan zaman seribu tahun belum dimulai. Setelah keempat zaman ini genap, akan ada satu ekonomi yang oleh Paulus disebut ekonomi kegenapan waktu.

Ketika Paulus masih berada di dunia, ada satu ekonomi yang disebutnya penyelenggara anugerah (Ef. 3:2). Bukan pada waktu Paulus saja ada satu ekonomi, tetapi pada setiap zaman pun demikian; pada zaman Adam, pada zaman hukum Taurat, pada zaman anugerah, dan pada zaman kerajaan pun pasti ada satu ekonomi. Pada saat kegenapan setiap zaman itu, akan ada ekonomi yang sempurna dan yang terakhir.

MAKNA EKONOMI

Kini kita perlu memahami makna ekonomi. Menurut suatu ajaran, ekonomi mengacu kepada zaman. Tetapi pengertian ini tidak tepat. Ajaran lainnya mengatakan, ekonomi mengacu kepada cara Allah untuk memperlakukan umat-Nya dalam suatu periode khusus. Sebagai contoh: pada zaman tanpa dosa Allah memperlakukan manusia dengan satu cara, dan pada zaman hati nurani, Allah memperlakukan orang dengan cara lain. Demikian pula, Allah memperlakukan orang dengan cara yang berbeda dalam zaman pemerintahan manusia, zaman janji, zaman hukum Taurat, zaman anugerah, dan zaman kerajaan. Pengertian tentang ekonomi yang demikian bukan tidak benar, melainkan masih kurang memadai. Ekonomi ada-lah tindakan atau langkah dari suatu penyaluran, dan mengacu kepada Allah menyalurkan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya. Walaupun saya telah mempelajari masalah ekonomi ini bertahun-tahun lamanya, dan pernah mempelajari banyak diagram, tetapi saya tidak pernah mendengar bahwa ekonomi Allah itu adalah penyaluran diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya. Kita harus melupakan semua diagram itu dan mengingat satu butir yang mendasar ini: kini Allah sedang menyalurkan diri-Nya ke dalam kita.

PENYALURAN HAYAT

Seperti pernah kita tunjukkan, ketika Iblis (Satan), kuasa maut itu, menginjeksikan diri-Nya ke dalam manusia, ia menjadi maut dan kegelapan bagi manusia. Maut mendatangkan kerusakan, dan kegelapan mendatangkan kekacauan. Sasaran Iblis ialah merusak ciptaan Allah dan menimbulkan kekacauan. Tetapi, puji Tuhan, di mana penuh maut, di situ hayat akan semakin melimpah! Setelah Iblis datang untuk mematikan, Allah datang untuk menghidupkan, yaitu menyalurkan hayat. Di mana ada hayat, di situ juga ada terang. Maut meruntuhkan, teta-pi hayat menyembuhkan; kegelapan mendatangkan kekacauan, tetapi terang mendatangkan ketertiban yang wajar. Kita perlu ingat baik-baik: Iblis datang untuk mematikan ciptaan Allah, maut merusak, dan kegelapan mengacau; tetapi Allah datang untuk menghidupkan ciptaan yang telah mati, dan mendatangkan ketertiban. Dalam ketertiban ini, segala sesuatu disatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus.

Ekonomi Allah adalah penyaluran hayat ke dalam orang-orang yang telah mati. Walaupun Adam telah mati, Allah datang untuk menyalurkan sesuatu dari diri-Nya sendiri ke dalam Habel. Allah juga melakukan hal yang sama kepada Enos dan Henokh. Jangan mengira, dalam dirinya sendiri yang mati, Henokh dapat hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun (Kej. 5:22). Hal itu hanya mungkin terjadi melalui Allah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalamnya. Demikian pula halnya dengan Nuh. Nuh hidup bergaul dengan Allah, dan memiliki iman yang kuat, karena Allah telah menyalurkan diri-Nya ke dalamnya. Allah menyalurkan diri-Nya, mula-mula kepada Habel dan bertambah terus dalam setiap generasi. Karena itu, ekonomi pada Henokh lebih besar daripada penyaluran pada Enos; dan penyaluran pada Nuh lebih besar daripada penyaluran pada Henokh. Pada Abraham lebih besar lagi. Kisah Para Rasul 7:2 mengatakan bahwa Allah yang mulia menampakkan diri kepada Abraham. Penampakan itu sesungguhnya merupakan suatu penyaluran. Abraham dapat beriman di dalam Allah, karena Allah telah menyalurkan diri-Nya ke dalam diri Abraham.

Hal yang sama terjadi pada diri kita ketika kita mendengar Injil dan bertobat. Ketika kita bertobat dan mengaku dosa kepada Allah, Allah segera menyalurkan diri-Nya ke dalam kita, walaupun pada saat itu kita mungkin tidak menyadari penyaluran Allah. Tetapi bila kita mengenang pengalaman kita, kita tahu bahwa memang itulah yang terjadi. Pada saat saya bertobat dan mengaku dosa kepada Allah, ada sesuatu tersalur ke dalam diri saya. Saya menangis, tetapi batin saya membara. Itu adalah gerakan dari Allah, juga penyaluran-Nya. Ketika Allah datang untuk menggerakkan kita, Dia juga menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Tidak ada yang dapat mengubah kita seperti ekonomi Allah. Dia dapat mengubah seorang penyamun menjadi seorang saleh, karena ekonomi-Nya menyalurkan sifat kudus Allah ke dalam orang itu. Saya menganjuri kalian pergi menghadap Tuhan selama 30 menit untuk menerima penyaluran-Nya. Selama waktu itu, lupakanlah kesulitan dan keadaan sekitar Anda, bukalah diri Anda bagi-Nya, dan akuilah kekurangan dan ketidakbenaran Anda. Semakin Anda mengaku kepada-Nya, Anda akan semakin membuka jalan bagi-Nya untuk menyalurkan diri-Nya ke dalam Anda.

Tidak peduli istilah apa yang kita pakai, baik penyaluran, penggerakan, transfusi, atau infusi, dalam pengalaman sama saja. Saya tidak memperhatikan soal istilah, saya memperhatikan penyaluran unsur ilahi ke dalam Anda. Kita perlu Allah masuk ke dalam kita. Kita perlu unsur Allah tergarap ke dalam diri kita. Itulah artinya ekonomi.

Perkara ekonomi penyaluran diri Allah ke dalam manusia ini sangat kurang di antara kebanyakan orang Kristen dewasa ini. Banyak yang mengajar tentang ketujuh zaman, namun mereka tidak pernah mengatakan suatu ekonomi yang ditujukan kepada penyaluran hayat dan sifat Allah ke dalam umat pilihan-Nya. Beban kita hari ini bukan mengajarkan doktrin; melainkan menyalurkan hayat dan sifat Allah ke dalam umat pilihan-Nya. Kiranya Anda tidak membawa opini atau konsepsi Anda ke dalam ministri ini. Kalau tidak, Anda akan menyia-nyiakan waktu Anda. Kita tidak berminat memperdebatkan butir-butir atau konsepsi yang doktrinal. Beban kita hanyalah mentransfusikan Allah ke dalam Anda. Anda mungkin mengetahui banyak doktrin, tetapi sangat kekurangan unsur ilahi. Apa yang Anda perlukan adalah tersalurnya unsur Allah ke dalam diri Anda. Saya telah bertahun-tahun berada di antara Kaum Saudara, dan akhirnya saya merasa jemu dengan perdebatan dan perselisihan mereka atas doktrin-doktrin. Kita mungkin tidak kekurangan doktrin, tetapi kita kekurangan unsur ilahi. Ekonomi Allah ialah menyalurkan unsur-Nya sendiri ke dalam kita.

EKONOMI YANG TERAKHIR (ULTIMA)

Kita telah melihat bahwa Allah telah membagikan diri-Nya ke dalam Habel, Enos, Henokh, Nuh, dan Abraham. Dia bahkan telah membagikan diri-Nya kepada Musa lebih banyak lagi, apalagi pada diri Tuhan Yesus. Pembagian ini terus berlangsung dalam surat-surat kiriman dalam Perjanjian Baru. Pembagian Allah pada masa kini bahkan lebih besar dibanding pada masa Rasul Paulus; mungkin setelah Anda mendengar hal ini Anda merasa benar. Saya ragu, pada masa Paulus masih berada di bumi, adakah satu perhimpunan yang beruntung sehingga dapat mendengar perkataan yang kalian dengar hari ini. Hari ini ada penyaluran anugerah Allah yang lebih dalam, lebih tinggi dan lebih luas. Penyaluran ini akan berlangsung terus melalui masa seribu tahun dan mencapai kegenapan waktu. Ekonomi kegenapan waktu akan merupakan penyaluran yang paling tinggi dan luas. Ekonomi ini akan berlangsung dalam alam kekal, seperti yang diwahyukan dalam Wahyu 21-22.

Dalam pasal-pasal ini kita memiliki suatu lingkungan yang baru, langit baru, bumi baru, dan Yerusalem Baru. Wahyu 21:1 mengatakan, “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.” Laut dalam Alkitab mengiaskan maut. Jadi, tidak ada lagi laut berarti tidak ada lagi bekas maut. Pada waktu itu maut akan tertelan habis. Pada akhir masa seribu tahun, maut, musuh terakhir, akan dihapus dan dicampakkan ke dalam tasik api. Sebagai pengganti maut, akan ada satu lingkungan, kawasan, dan wilayah baru; dan di tengah-tengahnya ada Yerusalem Baru.

Jika Anda membaca Kitab Wahyu dengan saksama, akan Anda nampak bahwa Yerusalem Baru sesungguhnya merupakan satu gunung besar yang berukuran 12.000 stadia, atau lebih dari 1.300 mil. Di puncak gunung itu terdapat takhta Allah dan Anak Domba (Why. 22:1). Dari takhta itu mengalir keluar sebatang sungai air hayat, mengalir ke bawah dan mencapai kedua belas pintu kota itu. Air hayat itu adalah minuman, suplai hayat, bukan untuk mandi atau baptisan. Dalam air hayat bertumbuh pohon hayat (Why. 22:2). Ini menunjukkan bahwa ketika Anda minum air hayat, Anda pun makan pohon hayat. Karena itu, ketika Anda minum air hayat, Anda pun menerima suplai hayat. Di sini kita nampak ekonomi yang terakhir dan sempurna; yaitu penyaluran Allah Tritunggal ke dalam seluruh Kota Yerusalem Baru. Hal ini akan membuat kota ini dipenuhi, diresapi, dijenuhi, dan dibasahi oleh air hayat. Inilah ekonomi tertinggi yang dari semula telah ditetapkan Allah bagi kegenapan waktu.

MINIATUR DALAM HIDUP GEREJA

Kita menikmati suatu miniatur ekonomi yang rampung sempurna dalam hidup gereja hari ini. Dalam gereja ada aliran hayat, kita minum air hayat, dan makan pohon hayat. Inilah ekonomi Allah dalam hidup gereja. Akan tetapi, ini bukan ekonomi yang tertinggi, bukan ekonomi kegenapan waktu. Ketika saya menikmati air hayat dalam gereja, saya menunggu ekonomi yang terakhir. Kita semua akan berada dalam ekonomi yang terakhir itu; dan kita akan sepenuhnya dijenuhi oleh Allah Tritunggal.

Allah di atas takhta mengacu kepada Bapa, Anak Domba mengacu kepada Anak, dan sungai air hayat mengacu kepada Roh. Yohanes 7 mewahyukan dengan jelas bahwa sungai hayat menunjukkan Roh itu. Jadi dalam Wahyu 22 kita nampak Allah Bapa, Allah Anak sebagai Sang Penebus, dan Allah Roh mengalir bersama Allah Anak sebagai pohon hayat yang menjadi suplai hayat kita. Inilah ekonomi Allah Tritunggal, ekonomi yang paling tinggi, ekonomi kegenapan waktu.

Ekonomi ini bermula dari Habel, berkembang dari zaman ke zaman dan pada akhirnya mencapai ekonomi kegenapan waktu. Jika kita nampak hal ini, kita akan kegirangan hingga lupa diri. Rasul Paulus pun tidak sedekat kita terhadap ekonomi yang terakhir ini. Haleluya! Kita semua akan mengambil bagian dalam ekonomi yang sempurna ini! Dalam pemulihan Tuhan, dalam hidup gereja, kita memiliki suatu miniatur dari ekonomi yang akan datang itu. Alangkah ajaib! Itulah sebabnya kita suka sekali menyanyikan syair sebuah kidung suplemen sebagai berikut:

Minum! Air sungai murni bersih dari Takhta

Makan! Pohon hayat yang subur berbuah lebat

Tengok! Di sini tak perlu lampu, surya, dan bulan,

kar’na tidak ada malam!

Oh, dalam hidup gereja kita minum air hayat dan makan pohon hayat! Melalui makan dan minum kita dijenuhi hayat Allah itu sendiri demi ekonomi-Nya. Semakin banyak hayat yang disalurkan ke dalam kita, kita akan semakin bangkit. Inilah artinya disatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus.

TERANG HAYAT MEMELIHARA SEGALA

SESUATU DALAM KEADAAN TERATUR

Di mana ada hayat, di situ juga ada terang. Yohanes 1:4 mengatakan, “Dalam Dia ada hidup (hayat) dan hidup itu adalah terang manusia.” Terang ini adalah terang hayat (Yoh. 8:12). Dalam Wahyu 21 kita memiliki hayat dan terang. Karena Yerusalem Baru dijenuhi oleh terang, kota itu tidak memerlukan terang matahari. Wahyu 21:23 mengatakan, “Kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya.” Dalam Yerusalem Baru kita akan memiliki kemuliaan Allah Tritunggal sebagai penerangan kita. Dalam langit baru, bumi baru, dan Yerusalem Baru tidak akan ada lagi malam, maut, kegelapan, sebaliknya ada hayat dan terang. Hal ini akan mengakibatkan segala sesuatu bangkit dan berada dalam keadaan yang teratur.

Di mana ada terang, segala perkara akan terpelihara dalam keadaan yang teratur. Seandainya di Kota Los Angeles tidak ada terang, betapa gelap dan kacau jadinya. Hayat mengatur dan terang mengendalikan. Dalam hidup gereja kita tidak memiliki peraturan, tetapi kita memiliki hayat yang mengatur dan terang yang mengendalikan. Bila hidup gereja penuh dengan hayat, ia pun penuh dengan terang. Kemudian setiap orang dalam gereja diatur oleh hayat batiniah, bukan oleh peraturan lahiriah; dan setiap orang dikendali dan ditertibkan dalam terang hayat itu. Di sini, dalam hayat dan dalam terang, kita di-satukan di bawah satu kepala. Dalam Wahyu 21 kita nampak Kepala, Tubuh mengelilingi Kepala, dan semua bangsa berjalan dalam terang kota itu (Why. 21:24). Ini akan membuat langit baru dan bumi baru menjadi satu lingkungan yang terang. Sebab itu, dalam langit baru, bumi baru, dan Yerusalem Baru sebagai pusat, segala sesuatu akan disatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus. Ini akan menjadi kegenapan dari disatukannya segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus, yang dikatakan dalam Efesus 1:10.

Kita memerlukan penyaluran hayat agar hal ini dapat terwujud. Hayat yang disalurkan ke dalam kita akhirnya menjadi terang manusia. Dalam ekonomi kegenapan waktu, semua bangsa akan berjalan dalam terang kota itu. Ini berarti di situ tidak ada maut, tidak ada kegelapan, tidak ada kebobrokan, dan tidak ada kekacauan. Sebaliknya, segala sesuatu akan berada dalam keadaan teratur, disatukan di bawah satu kepala, yakni Kristus, Kepala yang unik, untuk mengekspresikan Allah Tritunggal dalam kekekalan. Penyatuan segala sesuatu di bawah satu kepala ini akan menjadi ekspresi Allah Tritunggal yang abadi. Hari ini, hidup gereja merupakan pencicipan akan hal ini, satu miniatur dari langit baru, bumi baru, dan Yerusalem Baru. Dalam miniatur ini, kita menikmati penyaluran hayat dengan terang, dan disatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus.