← Daftar isi Filipi (2) · bab 1/20

KRISTUS, KESELAMATAN, ALLAH, DAN FIRMAN HAYAT

Pembacaan Alkitab: Flp. 2:5-16

Dalam 2:5-16 kita nampak Kristus, keselamatan, Allah, dan firman hayat. Inilah keempat unsur pokok dari struktur ayat-ayat ini. Dalam ayat 5 Paulus menampilkan Kristus sebagai teladan kita: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Lalu Paulus melukiskan Kristus ini, dikatakan bahwa Ia taat sampai mati. Dalam ayat 12 Paulus mengatakan tentang mengerjakan keselamatan kita sendiri, dan dalam ayat 13 ia mengatakan tentang Allah beroperasi di dalam kita. Karena itu, kita nampak Kristus sebagai teladan keselamatan kita dan kita harus mengerjakan keselamatan kita sendiri melalui operasi Allah di dalam kita. Hasil operasi Allah di dalam kita ialah kita dapat menyatakan firman hayat (ayat 16). Jadi, keempat unsur pokok dalam 2:5-16 ialah Kristus, keselamatan, Allah, dan firman hayat. Dalam berita ini kita akan membahas bagaimana keempat unsur ini saling berkaitan.

KRISTUS SEBAGAI TELADAN

Kitab Filipi adalah sejilid kitab mengenai pengalaman atas Kristus. Jika kita ingin mengalami dan memperhidupkan Kristus, haruslah kita mengenal Dia sebagai teladan kita. Dalam Filipi 2:5-11 Paulus menampilkan Kristus sebagai teladan kita. Kita harus mempunyai kesan yang dalam akan teladan ini, bahkan membiarkan teladan ini terinfus ke dalam kita.

Kristus itu ajaib sekali, Dia benar-benar almuhit. Dalam Kitab Kolose kita nampak bahwa Kristus itu almuhit juga alwasi. Kristus yang almuhit ini tidak lain ialah Allah sendiri. Tetapi, sekalipun Ia setara dengan Allah, Ia “mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:7). Ia tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan. Sebaliknya, Ia mengesampingkan kesetaraan ini dan mengosongkan diri-Nya sendiri. Namun, ini tidak berarti Kristus bukan Allah lagi, ini hanya berarti Ia meninggalkan ekspresi lahiriah Allah. Walau Ia hidup dalam bentuk Allah, tetapi ia mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia, memiliki corak manusia. Akibatnya, Ia memiliki penampilan manusia yang menggantikan ekspresi Allah. Di satu pihak, Kristus asalnya memiliki rupa Allah, namun Ia mengosongkan diri-Nya sendiri. Di pihak lain, Ia didapati dalam corak manusia, lalu merendahkan diri-Nya sendiri dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Selaku Juruselamat, Kristus memiliki sifat ilahi dan insani; Ia mengosongkan diri dan merendahkan diri. Jadi, berdasarkan ayat 6 hingga 8, kita boleh menyebut Dia sebagai Kristus yang mengosongkan diri dan merendahkan diri.

Filipi 2:9 mengatakan, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.” Ayat ini menunjukkan bahwa Allah datang meninggikan Kristus. Peninggian Kristus tidak hanya berarti Dia diangkat dari bagian bumi yang terendah ke langit tingkat ketiga, juga berarti Ia dengan cara yang mulia dibawa kembali bersama sifat insani-Nya ke rupa Allah. Sebelum inkarnasi-Nya, Kristus tidak mempunyai sifat insani. Tetapi melalui inkarnasi, Ia mengenakan sifat insani. Kemudian, Ia membawa sifat insani ini ke atas salib, dan menumpahkan darah-Nya bagi penebusan kita. Setelah kebangkitan-Nya, Ia diangkat ke surga, dan dengan sifat insani-Nya Ia dibawa kembali ke rupa Allah dalam kemuliaan. Sekarang Ia adalah teladan kita. Teladan kehidupan orang Kristen ialah Juruselamat, manusia-Allah yang mengosongkan dan merendahkan diri-Nya sendiri, dan yang telah ditinggikan serta dimuliakan oleh Allah.

PENCETAKAN ULANG TELADAN

Sekarang teladan yang diwahyukan dalam Filipi 2:5-11 harus menjadi keselamatan kita. Ini ditunjukkan oleh perkataan “dengan demikian” pada awal ayat 12 (Tl.). Setelah memberi kita satu penglihatan yang jelas dari Kristus sebagai teladan kita yang ajaib, Paulus berkata, “Dengan demikian, Saudara-saudaraku yang terkasih . . . tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.”

Sebagai teladan kita, Kristus itu inklusif juga eksklusif. Teladan ini eksklusif karena ia terpisah dari setiap hal yang duniawi, daging, atau dosa. Hal-hal negatif tidak ada bagian di dalam-Nya juga tidak ada hubungan dengan-Nya. Tetapi di pihak positif, Ia itu almuhit, karena Dialah Juruselamat, manusia-Allah yang mengosongkan dan merendahkan diri-Nya sendiri, dan yang telah ditinggikan serta dimuliakan oleh Allah. Teladan ini tersedia bagi kita, maka sekarang kita wajib mengerjakan keselamatan kita sendiri.

Mengerjakan keselamatan kita berarti mengerjakan teladan ini dan menjadi satu cetakan ulang dari teladan ini dalam pengalaman kita. Sebagai teladan, Kristus dapat diibaratkan selembar huruf contoh yang dipakai untuk mencetak buku, sedang pengalaman subyektif kita atas teladan yang menjadi keselamatan kita dapat diibaratkan cetakan halaman-halaman buku itu. Dalam membuat sejilid buku, setiap halaman huruf contoh harus dicetak berulang-ulang hingga menjadi banyak buku. Dalam pengalaman kita, Juruselamat, manusia-Allah ini harus dicetak ulang dan men-jadi keselamatan subyektif kita. Keselamatan yang kita kerjakan tidak lain adalah Kristus sebagai teladan kita.

KESELAMATAN DARI SUNGUT-SUNGUT

DAN PERBANTAHAN

Keselamatan dalam Filipi 2:12 bukan keselamatan dari hukuman Allah atau neraka, melainkan keselamatan yang kita alami dari hari ke hari, terutama dari sungut-sungut dan perbantahan. Dalam ayat 14 Paulus berkata, “Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.” Kita perlu keselamatan yang seketika untuk melepaskan kita dari sungut-sungut dan perbantahan.

Kita telah menunjukkan bahwa para saudari terutama mempunyai masalah bersungut-sungut, dan para saudara mudah berbantah-bantahan. Para istri sering bersungut-sungut, dan para suami sering berbantah-bantahan. Karena kita semua dirusuhi oleh sungut-sungut dan perbantahan, maka kita perlu keselamatan semacam ini, yakni keselamatan yang dapat menolong kita tidak saja dari penghukuman Allah dan lautan api, tetapi juga dari sungut-sungut dan perbantahan. Ini berarti kita perlu keselamatan yang subyektif, dari saat ke saat.

Kita telah nampak, sebagai teladan kita, Kristus mengosongkan dan merendahkan diri-Nya sendiri, dan ditinggikan serta dimuliakan oleh Allah. Saudari-saudari, menurut Anda ketika Anda bersungut-sungut apakah Allah akan datang meninggikan Anda? Saudara-saudara, apakah Anda percaya ketika Anda berbantah-bantahan Allah akan datang memuliakan Anda? Allah pasti tidak akan meninggikan atau memuliakan kita ketika kita bersungut-sungut atau berbantah-bantahan. Oh, kita perlu diselamatkan dari sungutsungut dan perbantahan!

Baik sungut-sungut atau perbantahan semua adalah tanda pemberontakan dan pembangkangan. Dalam ayat 12 Paulus berkata bahwa orang-orang Filipi “senantiasa taat”. Kita juga harus taat — taat kepada Kristus sebagai teladan kita. Sebagai teladan kita, Tuhan Yesus tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Sebaliknya, Ia mengosongkan dan merendahkan diri-Nya sendiri. Sekarang kita harus menaati teladan ini. Kita sudah mengetahui bahwa Kristus tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, melainkan mengosongkan dan merendahkan diri-Nya sendiri. Ketika saudara-saudara tergoda untuk berbantah-bantahan, mereka harus ingat akan teladan Kristus yang mengosongkan dan merendahkan diri ini. Para saudara harus menaati teladan ini, tanpa berbantah-bantahan. Ketaatan ini adalah mengerjakan keselamatan kita. Bila kita menaati Kristus sebagai teladan kita, dengan otomatis kita akan mengerjakan keselamatan kita dari sungut-sungut dan perbantahan.

Orang Kristen sering bertanya kepada orang lain apakah mereka telah diselamatkan. Ketika saya masih muda, pertanyaan ini akan saya jawab dengan tegas bahwa saya sudah diselamatkan. Tetapi, jika hari ini orang bertanya tentang keselamatan ini, saya akan menjawab, “Keselamatan yang mana yang Anda maksud? Jika yang Anda maksud adalah keselamatan dari penghukuman Allah dan lautan api, saya berani menjamin sepenuhnya bahwa saya sudah diselamatkan. Tetapi, jika yang Anda maksud adalah keselamatan dari perbantahan, saya akui bahwa saya telah diselamatkan sebagian, belum sepenuhnya.”

Bertahun-tahun yang lampau saya selalu tidak mengerti mengapa Paulus mencantumkan ayat 14 dalam pasal ini. Menurut hemat saya, kalau tulisan Paulus sudah begitu tinggi, maka tidak perlu disisipkan ayat semacam ini. Setelah mengatakan Kristus telah ditinggikan dan dikarunia-kan nama di atas segala nama, dan semua mulut mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan, dan kita wajib mengerjakan keselamatan kita sendiri menurut operasi Allah di dalam kita, Paulus lalu mendadak menyuruh kita melakukan segala hal dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Menurut hemat saya, sungut-sungut dan perbantahan terlalu sepele dan tidak berarti disebut di sini. Namun, setelah pengalaman saya bertambah banyak, saya baru mengerti memang kita perlu diselamatkan dari sungutsungut dan perbantahan.

Dalam hidup gereja atau hidup pernikahan kita sering terjadi kasus bersungut-sungut dan perbantahan. Para saudari boleh jadi secara lahiriah berperilaku cukup serasi, tetapi dalam batin mereka mungkin sering bersungut-sungut kepada suaminya. Saudari yang mana yang berani mengaku tidak pernah bersungut-sungut atau menggerutu terhadap suatu hal dalam hidup gereja? Kalau saudari-saudari tidak bersungut-sungut secara lahiriah, tentu mereka menggerutu dalam batin. Ketika para saudara mendengar saudari-saudari bersungut-sungut, mereka mungkin bereaksi dengan perbantahan. Karena kita bersungut-sungut dan berbantah-bantah, maka kita perlu keselamatan yang riil yang diwahyukan dalam Filipi 2. Ini bukan keselamatan yang kita terima sekali untuk selamanya, melainkan yang harus kita kerjakan, agar kita setiap hari tertolong dari kelemahan-kelemahan kita. Kita telah menunjukkan bahwa keselamatan ini adalah Kristus sebagai teladan kita. Jadi, teladan dan keselamatan adalah satu. Teladan adalah keselamatan, dan keselamatan adalah teladan yang dikerjakan di dalam kita.

ALLAH BEROPERASI DI DALAM KITA

Filipi 2:13 mengatakan, “Karena Allahlah yang mengerjakan (beroperasi) di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Kata “karena” pada permulaan ayat 13 menghubungkan ayat ini dengan ayat 12. Ini menunjukkan bahwa kita dapat mengerjakan keselamatan kita sendiri sebab Allah beroperasi di dalam kita. Keselamatan adalah teladan, dan Allah adalah Sang Operator yang mengerjakan teladan ini ke dalam kita. Karena itu, kita boleh mengatakan bahwa keselamatan adalah Allah sendiri yang beroperasi di dalam kita. Keselamatan, teladan, dan Allah bukanlah tiga hal yang terpisah, melainkan satu hal. Teladan adalah keselamatan, dan keselamatan adalah Allah. Di sini kita melihat satu hal dalam tiga aspek. Teladan adalah Kristus, manusia-Allah yang mengosongkan dan merendahkan diri-Nya, dan yang telah ditinggikan serta dimuliakan oleh Allah. Tetapi, Kristus ini adalah Allah sendiri yang menjadi keselamatan yang kita kerjakan setiap hari. Lagi pula, keselamatan ini sebenarnya adalah Allah yang beroperasi di dalam kita.

Perihal beroperasinya Allah di dalam kita menjadi keselamatan kita tidak boleh menjadi doktrin belaka, melainkan harus kita alami secara riil setiap hari. Sering kali, ketika seorang saudari sedang menggerutu atau bersungut-sungut, ia akan merasa ada sesuatu dalam batinnya yang mendesaknya untuk berhenti. Perasaan batin ini berasal dari Allah yang beroperasi di dalamnya. Karena rahmat Allah, jika ia menaati perasaan batin tersebut, ia akan mengalami keselamatan dan akan dipenuhi dengan sukacita.

Kita boleh mengatakan secara lahiriah dan obyektif bahwa Kristus adalah teladan, tetapi ketika teladan ini bekerja di dalam kita, ia adalah Allah yang beroperasi. Kristus tidak saja mati di atas salib sebagai Juruselamat kita, sekarang Ia pun hidup di dalam kita sebagai Allah yang beroperasi. Sebagai seorang manusia, Kristus tidak dapat hidup di dalam kita, tetapi sebagai Allah, Ia dapat tinggal di dalam kita. Jadi, Kristus adalah teladan yang obyektif, juga Allah yang beroperasi dengan subyektif. Sekali lagi kita nampak bahwa teladan, Kristus, dan Allah adalah satu.

Dalam 2:13 Paulus berkata dengan jelas bahwa Allah beroperasi di dalam kita. Tetapi di tempat lain ia biasanya mengatakan Kristus atau Roh tinggal di dalam kita. Beberapa tahun yang lampau saya tidak mengerti mengapa dalam 2:13 Paulus membicarakan Allah bukan Roh. Sekarang saya mengerti bahwa Paulus sengaja berbuat demikian, agar kita nampak bahwa Kristus yang menjadi teladan keselamatan kita sebenarnya adalah Allah yang beroperasi di dalam kita. Jika kita merenungkan konteks ayat ini, kita akan nampak Kristus yang sebagai pola teladan kita adalah juga Allah yang beroperasi. Dari segi obyektif Ia adalah teladan, dari segi subyektif, ketika Ia masuk ke dalam kita dan beroperasi di batin kita, Ia adalah Allah yang beroperasi. Di atas salib, Ia adalah Kristus, tetapi di batin kita, Ia adalah Allah yang beroperasi. Sebagai Kristus, Ia di atas salib menetapkan satu teladan bagi kita, tetapi sebagai Allah, Ia di batin kita adalah Sang Operator yang mengerjakan teladan tersebut. Jadi, teladan adalah keselamatan, dan keselamatan adalah Allah yang beroperasi.

Setiap hari kita boleh mengalami Allah yang beroperasi sebagai keselamatan kita yang riil. Setiap kali kita bekerja sama dengan Allah yang beroperasi di dalam kita, kita akan menikmati keselamatan. Operasi Allah akan menjadi keselamatan kita. Selain itu, keselamatan ini adalah cetakan ulang atau reproduksi dari teladan itu. Bila teladan ini tercetak ulang di dalam kita, ia akan menjadi keselamatan kita. Pencetakan ulang teladan ini digenapkan oleh Allah yang beroperasi di dalam kita.

MENYATAKAN FIRMAN HAYAT

Ayat 16 mengatakan, “sambil menyatakan firman hayat” (Tl.). Ketika Allah beroperasi di dalam kita, dengan spontan kita akan menyatakan firman hayat. Pada kenyataannya, firman hayat sebenarnya adalah Allah yang beroperasi di dalam kita. Allah bekerja di dalam kita melalui firman-Nya; Dia beroperasi di dalam kita melalui menjadi firman hayat. Kita telah berulang-ulang mengatakan tentang Allah yang beroperasi. Sekarang kita harus nampak bahwa Allah terwujud di dalam firman hayat. Ini berarti firman hayat adalah wujud Allah yang beroperasi itu.

Setiap hari Kita perlu mempraktekkan pengertian ini melalui datang kepada firman hayat, yaitu Alkitab. Setiap kali kita datang kepada firman, kita harus pula datang kepada Allah. Tetapi, ini bukan berarti kita menganggap Alkitab sebagai Allah. Namun, jangan memisahkan Allah dari firman-Nya, sebab Allah terwujud di dalam firman. Karena Allah itu rahasia, sukar sekali bagi siapa pun untuk memahami-Nya. Betapa kita bersyukur kepada Allah, karena Ia telah mewujudkan diri-Nya di dalam firman, yaitu Alkitab! Firman adalah perwujudan Allah yang tidak kelihatan dan rahasia. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi dari pengalaman, yakni bila kita datang kepada Alkitab dan membuka diri kita, kita akan menjamah Allah, dan Allah akan beroperasi di batin kita. Setiap kali kita menjamah firman hayat, kita akan mengalami Allah beroperasi di dalam kita, bergerak di dalam kita, untuk menghasilkan cetakan ulang dari teladan itu. Inilah keselamatan kita yang riil.

Sekarang kita dapat melihat bahwa Kristus, keselamatan, Allah, dan firman hayat adalah satu. Lagi pula, mengalami Kristus, keselamatan, Allah, dan firman hayat dengan cara yang kita lukiskan ini berarti memperhidupkan Kristus.

MENGALAMI KESELAMATAN

MELALUI ROH DAN FIRMAN

Paulus membicarakan keselamatan dalam Filipi 1:19 dan 2:12. Dalam 1:19 Paulus dapat berkata bahwa keadaannya akan menghasilkan keselamatan baginya. Ini menunjukkan sekalipun Paulus berada dalam penjara, ia tetap dapat menikmati keselamatan Allah. Keselamatan dalam 2:12 adalah keselamatan yang riil, yang menolong kita setiap hari dari sungut-sungut dan perbantahan. Namun, keselamatan dalam 1:19 dan 2:12 mengandung prinsip yang sama. Dalam kedua kasus keselamatan ini adalah satu keselamatan yang riil, sehari-hari, dan dari saat ke saat.

Menurut 1:19 Paulus menikmati keselamatan melalui suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus. Nampaknya, kita tidak menemukan suplai yang limpah lengkap dalam pasal 2. Kita hanya menemukan firman hayat. Tetapi, suplai yang limpah lengkap dari Roh itu dan firman hayat sebenarnya adalah satu. Setiap hari Paulus menikmati keselamatan melalui suplai yang limpah lengkap dari Roh itu, dan kita pun boleh menikmati keselamatan setiap hari melalui firman hayat. Selain itu, Paulus mengatakan bahwa menikmati keselamatan melalui suplai yang limpah lengkap dari Roh itu berarti memperbesar dan memperhidupkan Kristus. Seprinsip dengan itu, ketika kita menikmati keselamatan setiap hari melalui beroperasinya Allah dalam firman hayat, kita juga akan memperhidupkan Kristus. Jadi, menikmati keselamatan Allah secara riil berarti memperhidupkan Kristus, yaitu menyatakan firman hayat. Untuk memperhidupkan Kristus, pertama-tama kita harus menerima Kristus sebagai teladan yang hidup. Kemudian, kita perlu taat kepada Allah yang beroperasi di dalam kita, dan menerima firman hayat-Nya. Dengan demikian kita akan dengan spontan memperhidupkan Kristus.

Keselamatan, Kristus, Allah, dan firman hayat adalah “caturtunggal”. Akhirnya, dalam pengalaman kita, teladan adalah firman hayat. Firman hayat akan mengerjakan teladan itu melalui Allah yang beroperasi untuk menerapkan keselamatan ke dalam kehidupan sehari-hari kita. Dengan jalan inilah kita dapat menikmati Kristus dan memperhidupkan Dia.