← Daftar isi Latar Belakang dan Pokok Kitab Filipi · bab 9/22

DUKUNGAN KAUM BERIMAN KEPADA RASUL

Pembacaan Alkitab: Flp. 2:1-4

Keempat ayat pertama dari Filipi 2 merupakan sebuah kalimat panjang. Ayat 1 dan 2 mengatakan, “Jadi, kalau dalam Kristus ada dorongan, kalau ada penghiburan kasih, kalau ada persekutuan roh, kalau ada kasih mesra dan belas kasihan, sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, memikirkan satu hal yang sama” (Tl.). Dalam 2:1-2 rasul memohon dorongan dan penghiburan dari kaum beriman di Filipi. Ia memohon mereka untuk membuat sukacitanya penuh atau sempurna, jika mereka memiliki dorongan dalam Kristus, penghiburan kasih, persekutuan Roh, kasih mesra, dan belas kasihan terhadapnya.

Predikat dalam Filipi 2:1-4 ialah “sempurnakanlah sukacitaku.” Karena kitab ini membahas pengalaman dan kenikmatan akan Kristus, yang menghasilkan sukacita, maka kitab ini adalah kitab yang penuh dengan sukacita dan kegembiraan (1:4, 18, 25; 2:17-18, 28-29; 3:1; 4:1, 4). Diantara orang-orang Filipi ada perbedaan dalam pikiran mereka (4:2), yang menyusahkan rasul. Karena itu, ia meminta mereka untuk memikirkan hal yang sama, bahkan, memikirkan satu hal yang sama, agar mereka dapat membuat sukacitanya penuh.

Dalam 2:1-4 kita nampak persekutuan antara kaum beriman dengan rasul. Lalu lintas dalam Filipi 1 adalah lalu lintas satu arah, yaitu dari rasul ke kaum beriman. Kini dalam pasal 2 kita nampak lalu lintas dari kaum beriman ke rasul. Persekutuan memerlukan lalu lintas dua arah yang sedemikian. Lalu lintas dua arah ini adalah untuk mengalami Kristus. Karena Paulus kaya dalam pengalamannya akan Kristus, maka ia dapat menuturkan pengalamannya kepada kaum beriman dalam pasal 1. Inilah persekutuannya kepada mereka. Sekarang dalam pasal 2, ia meminta kaum beriman di Filipi untuk membalasnya dengan persekutuan mereka pula.

Paulus memohon kepada orang-orang Filipi jika di dalam Kristus mereka mempunyai dorongan, atau penghiburan kasih, atau persekutuan roh, atau kasih mesra, dan belas kasihan, mereka perlu memberikannya kepadanya agar sempurnalah sukacitanya. Paulus dapat bergembira karena orang-orang Filipi, tetapi ada suatu keadaan di antara mereka yang tidak bisa membuat sukacitanya sempurna. Paulus dapat berkata, “Orang-orang Filipi, aku bersukacita karena kamu, tetapi sukacitaku tidak sempurna. Ada suatu keadaan di antara kamu yang membuat suka-citaku tidak sempurna. Aku mohon kepada kamu, sempurna sukacitaku.” Filipi 2:1-4 jelas ditulis oleh seorang yang penuh pengalaman dan sangat matang. Nada perkataan Paulus begitu lembut dan ramah. Karena cara Paulus menulis ayat-ayat ini demikian, maka kebanyakan pembaca Kitab Filipi tidak memahaminya dengan memadai, khususnya ayat 1. Apa sebenarnya yang dimaksud Paulus dalam ayat ini? Mengapa ia menanyakan jika dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, atau kasih mesra dan belas kasihan? Paulus berkata jika orang-orang Filipi memberinya hal-hal tersebut, maka mereka akan menyempurnakan sukacitanya. Jika mereka mempunyai nasihat, penghiburan, persekutuan, kasih mesra dan belas kasih, mereka pasti tidak sabar dan ingin secepatnya menyempurnakan sukacita rasul Paulus.

Kata-kata ini tidak mungkin diucapkan oleh seorang pemuda. Orang muda mungkin akan bertutur dengan tegas dan langsung. “Wahai orang-orang Filipi, apakah kalian mengasihi aku? Jika kalian mengasihi aku, kalian harus mendorong aku.” Nada yang demikian akan terasa kasar, tidak lembut. Nada dan ungkapan Paulus membuktikan kematangannya. Ia memohon dan meminta mereka untuk memberikan respons terhadap persekutuannya. Dalam pasal terdahulu ia telah memberikan persekutuan yang begitu positif kepada mereka. Sekarang ia menghendaki mereka membalas persekutuan tersebut. Balasan persekutuan yang demikian ini adalah dukungan kaum beriman kepada rasul. Dorongan, penghiburan, dan kasih mesra mereka akan mendukung Paulus yang berada dalam penjara itu.

Meskipun Paulus seorang tawanan, namun ia tidak mempedulikan pemenjaraannya, sebaliknya perhatiannya tertuju kepada sikap kaum beriman dan keadaan roh mereka terhadapnya. Tidak ada sesuatu yang lebih melukai hati rasul daripada sikap negatif kaum beriman terhadapnya. Dengan perkataan lain, Paulus tidak prihatin karena pemenjaraannya, tetapi ia prihatin karena situasi di antara kaum beriman di Filipi. Dia sangat prihatin terhadap kondisi rohani mereka. Sebab itu, Paulus memohon kepada orang-orang Filipi untuk membuatnya bersukacita. Paulus membutuhkan dorongan, penghiburan, dan persekutuan mereka sebagai dukungan terhadapnya. Jika orang-orang Filipi bisa memberikan dukungan sedemikian kepadanya, niscayalah mereka dapat membuat sukacitanya sempurna.

SEPIKIR

Orang-orang Filipi dapat membuat sukacita Paulus menjadi sempurna dengan sepikir, bahkan memikirkan satu hal yang sama (2:2, Tl.). Menurut konteks seluruh kitab ini, satu hal yang sama di sini pasti mengacu kepada pengenalan dan pengalaman subyektif akan Kristus (1:20-21; 2:5; 3:7-9; 4:13). Kristus, dan hanya Kristus yang harus menjadi sentralitas dan universalitas dari seluruh diri kita. Pikiran kita harus dipusatkan pada keunggulan pengenalan dan pengalaman akan Kristus. Bila kita memusatkan pikiran kita pada yang lain, kita akan berpikir secara berbeda, dengan demikian menimbulkan perbedaan pendapat di antara kita.

Yang membuat Paulus prihatin dalam pemenjaraannya ialah perbedaan pendapat di antara orang-orang Filipi. Kaum saleh di Filipi memang baik, gereja di kota itu pun telah dibangun dengan teratur. Namun, di antara mereka terdapat perbedaan pendapat. Walau mereka bersatu di dalam roh, mereka tidak berjuang dengan sejiwa. Walau mereka semua mengasihi Tuhan, mereka tidak sepikir. Itulah yang membuat hati Paulus berat. Oleh karena keberatan dalam hatinya, maka Paulus meminta kepada orang-orang Filipi untuk membuat sukacitanya sempurna melalui sejiwa dan sepikir.

SATU KASIH

Sepikir berhubungan dengan satu kasih. Dalam ayat 2 Paulus berkata tentang “satu kasih”. Ini menunjukkan bahwa karena perbedaan dalam pikiran mereka, kaum beriman di Filipi memiliki tingkat kasih yang berbeda-beda. Mereka tidak mempunyai kasih yang sama terhadap semua orang kudus untuk menjaga keesaan.

Dalam hidup gereja hari ini juga ada kemungkinan kita tidak memiliki kasih yang sama terhadap semua orang kudus. Kasih kita mungkin berbeda-beda tingkatannya. Kita boleh jadi mengasihi seorang saudara melebihi saudara yang lain. Mungkin karena kita mengasihi seorang saudara hanya sedikit saja, maka kita tidak begitu suka melayaninya dengan baik. Namun, karena kita sangat mengasihi seorang saudara lain, kita akan melayaninya secara berlebihan, bahkan merusaknya dengan kasih kita itu. Dalam hidup gereja mungkin terdapat tingkat kasih yang berbeda-beda terhadap orang kudus yang berbeda-beda. Jika situasi kita demikian, maka kasih kita bukanlah kasih dengan sejiwa. Kita dengan sejenis jiwa mengasihi seorang saudara, dan dengan jiwa yang berbeda mengasihi saudara yang lain. Akibatnya, kita tidak memiliki kesatuan yang riil, malah timbul perbedaan pendapat.

Dalam 2:2 Paulus juga menyinggung tentang satu jiwa. Ini menunjukkan bahwa perbedaan pendapat di antara kaum beriman di Filipi disebabkan oleh keadaan mereka yang tidak sejiwa, tidak memikirkan satu hal yang sama dalam pikiran mereka, yang merupakan bagian utama dari jiwa mereka. Masalah orang-orang Filipi bukan pada roh mereka, melainkan pada jiwa mereka, yaitu pada pikiran mereka. Mereka mempunyai Kristus dalam roh mereka melalui kelahiran kembali, tetapi mereka tidak mempunyai Kristus dalam jiwa mereka melalui pengubahan. Bila Kristus menjenuhi dan menduduki seluruh jiwa mereka, barulah mereka dapat menjadi sejiwa.

Orang-orang Filipi telah bersatu dalam roh, tetapi mereka belum sepenuhnya bersatu dalam jiwa. Adanya perbedaan-perbedaan tingkat kasih menandakan bahwa kita belum sejiwa. Jika kita telah sejiwa, kita akan memiliki satu kasih terhadap semua orang kudus.

KEPENTINGAN SENDIRI

DAN PUJIAN YANG SIA-SIA

Dalam 2:3 dan 4 Paulus melanjutkan, “Tanpa mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan perkara-perkaranya sendiri, tetapi perkara-perkara orang lain juga” (Tl.). Dari perkataan Paulus tentang kepentingan sendiri dan puji-pujian yang sia-sia menunjukkan bahwa orang-orang Filipi yang berbeda pendapat melakukan berbagai hal berdasarkan kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Kedua hal itu menyebabkan perbedaan pendapat di antara kaum beriman. Kepentingan sendiri dan puji-pujian yang sia-sia mungkin menyelinap di antara kita. Sampai-sampai ketika kita bersaksi dalam persidangan gereja mungkin ada kepentingan sendiri. Mungkin sewaktu Anda membagi-nikmat (sharing), tidak banyak orang kudus yang mengatakan amin. Tetapi bila orang lain yang membagi-nikmat, orang kudus sangat menyambutnya, dan banyak suara amin yang terdengar. Situasi ini membuat Anda kecewa, sehingga mungkin Anda memutuskan untuk tidak lagi membagi-nikmat di dalam sidang. Jadi dalam memberi kesaksian pun mungkin ada kepentingan sendiri. Bahkan ketika kita mempersekutukan pengalaman kita akan Kristus, suatu kepentingan sendiri mungkin tersembunyi di batin kita.

Ada beberapa saudara pernah menasihati orang kudus untuk mengucapkan amin bagi orang-orang yang agak lemah guna mendorong semangat mereka, sedang terhadap mereka yang kuat tidak usah terlalu banyak mengatakan amin. Padahal nasihat atau dorongan semacam ini hanya akan menyuburkan daging dan menguatkan jiwa.

Saya ulangi, dalam hidup gereja mungkin saja terjadi kepentingan sendiri di antara orang kudus. Misalkan sejumlah saudara datang ke dalam hidup gereja pada waktu yang hampir bersamaan. Kemudian, seorang di antara mereka diangkat menjadi penatua. Orang-orang lainnya mungkin tidak senang dan bertanya mengapa saudara itu saja yang diangkat menjadi penatua, padahal dia datang ke gereja tidak lebih lama daripada yang lain. Kata-kata ini mungkin tidak diucapkan, tetapi pikiran ini mungkin ada dalam hati saudara-saudara tersebut.

Kepentingan sendiri dan kehormatan yang sia-sia sering terjadi bersamaan. Di mana ada kepentingan sendiri, di situ juga ada puji-pujian yang sia-sia. Mengapa Anda tidak senang bila orang kudus tidak mengaminkan kesaksian Anda? Karena puji-pujian yang sia-sia. Mengapa saudara-saudara tidak senang ketika seorang saudara diangkat menjadi penatua dan mereka tidak? Itu juga kerena puji-pujian yang sia-sia.

Dalam 4:2 Paulus berkata, “Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.” Saya yakin di antara kedua saudari ini ada kepentingan sendiri, mungkin mereka berebut untuk menjadi pemimpin. Akibatnya, mereka bertindak dengan kepentingan sendiri dan mencari puji-pujian yang sia-sia.

Kalau di antara kaum beriman Filipi tidak ada kepentingan sendiri dan puji-pujian yang sia-sia, Paulus tidak akan menyebut hal ini dalam 2:3. Di sini Paulus seolah-olah berkata, “Aku minta kalian tidak berbuat sesuatu dengan kepentingan sendiri atau mencari puji-pujian yang sia-sia. Demikian akan membuat sukacitaku sempurna. Saudara-saudara, aku cemas dan gelisah karena di antara kalian ada yang berbuat sesuatu dengan kepentingan sendiri. Aku senang sekali kalian mengasihi Tuhan dan kalian berdiri di Filipi bagi kesaksian Tuhan. Aku bersukacita, tetapi sukacitaku tidak sempurna. Selama di antara kalian ada kepentingan sendiri, sukacitaku tidak dapat sempurna. Tambahan pula, beberapa di antara kalian ada yang mencari puji-pujian yang sia-sia. Jika kalian mempunyai penghiburan kasih terhadapku, sempurnakanlah sukacitaku dengan tidak melakukan sesuatu dengan kepentingan sendiri dan mencari puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya, dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.”

Melepaskan diri dari kepentingan sendiri dan puji-pu-jian yang sia-sia tidaklah mudah, sebab pada dasarnya kita cenderung bersaing dengan orang lain. Di negara-negara tertentu anak-anak sangat dianjuri untuk bersaing. Persaingan terdapat di mana-mana dalam masyarakat. Tetapi, dalam hidup gereja kita tidak seharusnya bersaing. Janganlah kita saling bersaing, sebaliknya, kita harus menganggap orang lain lebih utama daripada diri kita.

KERENDAHAN HATI

Dalam 2:3 Paulus menyinggung perihal kerendahan hati. Kerendahan hati berlawanan dengan kepentingan pribadi dan puji-pujian yang sia-sia. Ini bukanlah kerendahan hati alamiah kita, melainkan kerendahan hati Kristus, seperti yang digambarkan dalam ayat 7 dan 8.

Kata “hati” yang dipakai Paulus di sini sekali lagi menunjukkan bahwa masalah perbedaan pendapat di antara orang-orang Filipi adalah masalah pikiran mereka yang belum diubah. Mereka perlu mempunyai pikiran yang terdapat dalam Kristus (2:5).

Dalam 2:4 Paulus berkata, “Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan perkara-perkaranya sendiri, tetapi perkara-perkara orang lain juga” (Tl.). Kata “perkara-perkara” di sini mengacu kepada kebajikan dan kualitas. Kita seharusnya tidak hanya menghargai kebajikan dan kualitas kita sendiri, tetapi juga kebajikan dan kualitas orang lain.

PENGALAMAN YANG NORMAL AKAN KRISTUS

Kita telah menunjukkan dengan tegas bahwa Kitab Filipi membahas tentang mengalami Kristus. Menurut kitab ini hal mengalami Kristus merupakan masalah timbal balik antara rasul dengan kaum beriman. Ketika kita membaca kitab ini, kita bisa melihat bahwa Paulus selalu mengadakan persekutuan yang normal dengan orang kudus. Dalam setiap aspek dan dari setiap segi, persekutuannya dengan mereka adalah normal. Orang-orang Filipi sebaliknya, tidak bersekutu dengan rasul secara normal dalam segala aspek. Sebab itu, di pihak rasul, pengalaman akan Kristus bersifat normal, tetapi di pihak orang-orang kudus di Filipi, pengalaman akan Kristus tidak sepenuhnya normal. Setidak-tidaknya, pada segi-segi tertentu, bersifat abnormal.

Jika kita meninjau Kitab Filipi secara keseluruhan, kita akan memahami bahwa mengalami Kristus mencakup hubungan timbal balik. Ini jelas bukan masalah sepihak. Akan tetapi, orang-orang Kristen hari ini banyak yang menerima ajaran keliru, yakni mengira pengalaman akan Kristus itu bersifat sepihak. Namun kenyataannya kita tidak dapat memiliki pengalaman yang normal akan Kristus bila kita berwatak individualistis. Mengalami Kristus adalah masalah Tubuh. Apa pun yang berada dalam Tubuh dan dari Tubuh pasti mengandung persekutuan yang timbal balik. Karena itu, mengalami Kristus memerlukan persekutuan yang timbal balik. Kalau rasul tidak memiliki persekutuan yang wajar dengan orang kudus, maka pengalamannya akan Kristus pasti tidak normal. Demikian pula, jika kaum beriman tidak berada dalam persekutuan dengan rasul, merekapun tidak memiliki pengalaman yang normal akan Kristus. Ini menunjukkan normal tidaknya pengalaman kita akan Kristus tergantung pada sikap kita terhadap rasul. Dalam hal inilah kita akan diuji. Jika sikap kita terhadap rasul tidak wajar, pengalaman kita atas Kristus juga akan menjadi abnormal. Seprinsip dengan itu, bila sikap rasul terhadap kaum beriman telah menyimpang, maka pengalamannya akan Kristus juga akan menjadi abnormal.

Dalam Kitab Filipi kita mempunyai sebuah lukisan tentang persekutuan yang normal antara kaum beriman dengan rasul bagi pengalaman yang normal akan Kristus. Meskipun kaum beriman Filipi mengasihi Tuhan dan berada dalam gereja, namun pengalaman mereka akan Kristus tidak normal. Salah satu sebab dari keabnormalan ini ialah karena adanya perbedaan pendapat di antara mereka sendiri. Sebab lainnya ialah kurang mutlaknya sikap mereka terhadap rasul. Kalau sikap mereka terhadap rasul mutlak, mereka tentu akan menerima perkataan rasul untuk sepikir, memiliki satu kasih dan sejiwa, memikirkan satu hal, tidak melakukan sesuatu dengan kepentingan pribadi dan mencari puji-pujian yang sia-sia, melainkan yang seorang menganggap orang lain lebih utama daripada dirinya sendiri, dan menghargai kebajikan dan kualitas orang lain. Jika kaum beriman menerima kata-kata Paulus dan mengamalkannya, mereka akan menjadi seimbang dan normal dalam hal mengalami Kristus.

Dalam Kitab Filipi yang membahas pengalaman dan kenikmatan akan Kristus ini, kita nampak bahwa kenikmatan akan Kristus seharusnya merupakan masalah Tubuh, dan masalah persekutuan yang timbal balik. Jika sikap kita terhadap rasul tidak benar, kita juga akan tidak benar terhadap satu sama lain. Karena itu, sikap kita terhadap rasul merupakan suatu ujian bagi keadaan kita. Bila sikap kita terhadapnya tidak benar, situasi kita pasti tidak normal. Kalau demikian, pengalaman kita terhadap Kristus juga akan menjadi abnormal.

Pada hakikatnya di antara orang-orang Kristen hari ini tidak ada pengalaman yang normal akan Kristus. Sebaliknya, keadaan di kalangan orang-orang Kristen adalah abnormal. Persekutuan yang normal antara para rasul dengan kaum beriman telah rusak sampai ke tingkat terburuk. Dalam pemulihan Tuhan, kita perlu beroleh terang lewat Kitab Filipi, menerima rahmat dan anugerah dari Tuhan, agar ada persekutuan timbal balik yang wajar antara kaum beriman dengan para rasul.

Kita telah menunjukkan bahwa dalam Kitab Filipi kita nampak sikap dan roh Paulus terhadap kaum beriman. Paulus memohon agar kaum beriman mau menyatakan sikap dan roh yang tepat terhadapnya, supaya persekutuan di antara mereka menjadi normal. Persekutuan yang wajar antara kaum beriman dengan rasul merupakan perlindungan bagi pengalaman yang normal akan Kristus. Jika sikap kita terhadap rasul wajar, dan persekutuan kita dengannya benar, kita akan mengalami Kristus dengan normal.