← Daftar isi Latar Belakang dan Pokok Kitab Filipi · bab 10/22

MENERIMA KRISTUS SEBAGAI TELADAN KITA

Pembacaan Alkitab: Flp. 2:5-9, 12-13

Dalam berita terdahulu kita telah membahas perihal permintaan Paulus kepada orang kudus di Filipi agar mereka menyempurnakan sukacitanya. Permintaan ini tidak terbatas pada keempat ayat pertama dalam pasal 2, tetapi mencakup 2:1-16, dan disimpulkan dengan perkataan Paulus mengenai berpegang pada firman hayat, agar ia dapat bermegah pada hari Kristus bahwa ia tidak percuma berlomba dan bersusah payah.

AGAR SUKACITA RASUL SEMPURNA

Untuk menyempurnakan sukacita rasul tidak cukup dengan mengambil sikap yang wajar saja. Misalkan kaum beriman Filipi bersikap sangat positif terhadap Paulus, menghormati, dan mengasihinya dengan amat sangat, tetapi tidak menerima pesannya untuk mengalami Kristus. Rasul masih tidak bisa senang, sekalipun sikap orang kudus itu secara pribadi begitu baik terhadapnya. Satu-satunya hal yang dapat menyempurnakan sukacita rasul ialah orang kudus menerima perkataannya untuk mengalami Kristus dengan memadai dan normal.

Dalam 2:2 Paulus menyuruh orang kudus untuk memikirkan hal yang sama, memikirkan satu hal. Memikirkan hal yang sama berarti pikiran kita diduduki dan diresapi oleh Kristus. Pikiran kita harus diduduki oleh Kristus bukan hanya secara obyektif dan doktrinal, melainkan secara subyektif dan dalam pengalaman, yakni membiarkan Kristus meluas dari roh kita ke dalam pikiran kita, dan menduduki pikiran kita sepenuhnya, bahkan meresapi pikiran kita dengan pikiran-Nya. Jika pikiran kita diresapi oleh pikiran Kristus, pikiran kita akan seluruhnya terletak di atas roh. Lalu kita akan menjadi orang-orang yang diduduki, dijenuhi, dan diresapi oleh dan dengan Kristus. Jika keadaan kaum beriman Filipi sedemikian, niscaya Paulus akan sangat bersukacita. Sukacitanya terhadap mereka akan sempurna.

Saya ulangi, Paulus tidak bisa bersukacita hanya karena sikap positif orang Filipi terhadapnya. Dia menghendaki mereka membiarkan Kristus memiliki mereka, juga menghendaki mereka bertumbuh dalam hayat. Bila kaum beriman tidak membiarkan Kristus meresapi mereka dengan diri-Nya, tidak peduli bagaimana wajarnya sikap mereka terhadap Paulus, ia akan tetap merasa resah. Yang didambakan Paulus ialah semua orang kudus diduduki oleh Kristus dan karenanya mereka dapat memikirkan hal yang sama.

DIRESAPI OLEH KRISTUS UNTUK

MEMIKIRKAN HAL YANG SAMA

Kecuali Kristus meresapi pikiran kita dan menduduki pikiran kita, mustahillah kita dapat memikirkan hal yang sama. Sesudah itu barulah kita dapat dengan spontan memikirkan hal yang sama, bahkan memikirkan satu hal. Kalau kita tidak diresapi oleh Kristus sedemikian ini, tidak ada dua orang, bahkan suami istri pun, yang dapat memikirkan hal yang sama. Namun, permintaan dan pengharapan Paulus ialah agar seluruh gereja di Filipi bisa memikirkan hal yang sama. Dia mohon kepada orang-orang di Filipi agar jika mereka memiliki dorongan, penghiburan kasih, kasih mesra, dan belas kasihan terhadapnya, mereka dapat menyempurnakan sukacitanya dengan memikirkan hal yang sama. Tetapi, bagaimanakah sekelompok orang banyak itu bisa sepikir? Sekali lagi kita tunjukkan bahwa hal ini hanya bisa terjadi bila kaum beriman diduduki oleh Kristus dan membiarkan Dia meresapi seluruh diri mereka. Ketika itu, dan hanya ketika itu, barulah kaum beriman memikirkan hal yang sama.

Kristus itu unik, sentral, dan universal. Bila dalam pengalaman, bukan secara doktrin melulu, Kristus menjadi sentralitas dan universalitas kita, maka dengan otomatis kita akan bisa sepikir.

UJIAN DARI SEPIKIR

Benar tidaknya kita sepikir dapat diuji dengan memeriksa apakah kita memiliki kasih yang sama, sejiwa, bebas dari persaingan dan puji-pujian yang sia-sia, menganggap orang lain lebih utama daripada diri kita sendiri, dan menghargai kebajikan dan kualitas orang lain. Hal-hal ini selalu menguji sejauh mana kita telah benar-benar diduduki oleh Kristus, diatur oleh Kristus, dan dijenuhi oleh Kristus. Bila Kristus benar-benar telah secara batini menduduki kita, maka kasih kita terhadap semua orang kudus akan tidak pandang bulu. Tambahan pula, kita akan menjadi sejiwa, pikiran kita akan diduduki dengan hal mengenal, mengalami, menuntut, dan memperoleh Kristus. Akibatnya, kita tidak lagi melakukan sesuatu secara bersaing atau mencari puji-pujian yang sia-sia, sebaliknya kita akan menganggap orang lain lebih utama daripada kita sendiri dan menghar-gai kebajikan dan kualitas orang lain.

Dalam berita ini kita akan membahas 2:5-8. Ayat-ayat ini sangat kita kenal, dan berita-berita yang menerangkannya telah disampaikan berulang-ulang. Bahkan sejak kecil saya sudah mendengar berita tentang Filipi 2:5-8 ini; betapa Kristus mengosongkan diri-Nya dan merendahkan diri-Nya, turun dari surga ke bumi. Kebanyakan berita yang menerangkan ayat-ayat ini membahasnya secara umum saja. Ini membuat kita sangat sukar untuk mendalaminya secara tuntas.

KRISTUS SEBAGAI TELADAN DI DALAM KITA

Dalam 2:5-8 Paulus menampilkan Kristus sebagai teladan kita. Teladan ini tidak hanya obyektif, tetapi juga subyektif. Namun, ketika saya masih muda, saya hanya diajarkan tentang aspek obyektif dari Kristus sebagai teladan kita. Saya diajarkan bahwa dalam kehidupan-Nya di bumi, Kristus telah menetapkan satu teladan, dan kita harus mengikuti jejak-Nya. Setelah menetapkan teladan bagi kita, kini Kristus berada di surga berdoa agar kita dapat meng-ikuti-Nya dengan setia. Saya percaya banyak di antara kita yang pernah mendengar ajaran tentang Kristus sebagai teladan kita yang sedemikian ini.

Sekarang kita harus maju dan bertanya, di manakah Kristus yang menjadi teladan kita ini? Di surga, atau di dalam kita? Ayat 9 menunjukkan dengan jelas bahwa Allah telah meninggikan Kristus. Jadi tidak usah disangsikan bahwa sebagai teladan kita, Kristus berada di surga. Dia telah ditinggikan ke puncak yang tertinggi di alam semesta, tempat Allah bersemayam. Ini berkaitan dengan aspek obyektif dari teladan itu. Tetapi, jika Kristus hanya berada di surga tingkat ketiga secara obyektif, bagaimanakah kita bisa menerima-Nya sebagai teladan kita hari ini? Bagaimana kita yang berada di bumi dapat mengikuti Dia yang telah ditinggikan dan yang kini berada di surga? Itu mustahil. Untuk menerima Kristus sebagai teladan kita, teladan ini bagi kita haruslah bersifat subyektif.

Mengerjakan Keselamatan Kita

Ayat 12 menunjukkan bahwa teladan ini bersifat subyektif, “Saudara-saudaraku yang terkasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih lagi sekarang waktu aku tidak hadir.” Bagaimana mungkin kita dapat mengerjakan keselamatan kita? Jika kita dapat mengerjakan keselamatan kita, bukankah itu berarti keselamatan adalah perkara yang berasal dari perbuatan kita? Misalkan saya jatuh ke dalam lubang, lalu ada seseorang menolong saya, itulah keselamatan. Tetapi, kalau saya berhasil menyelamatkan diri saya sendiri, itu bukan keselamatan, melainkan pekerjaan saya sendiri. Karena keselamatan bukan berasal dari perbuatan, melainkan anugerah, apakah maksud Paulus menyuruh kita mengerjakan keselamatan kita? Jika kita yang pertama-tama mengutarakan perkataan seperti ini, kita akan dituduh sebagai bidah.

Kunci untuk memahami perkataan Paulus ini ialah mengenal arti keselamatan dalam ayat ini. Keselamatan di sini bukan keselamatan kekal dari hukuman Allah dan dari lautan api, melainkan keselamatan yang telah dikatakan Paulus dalam permulaan kitab ini. Dalam bahasa aslinya, kata-kata “karena itu” terdapat pada awal ayat 12, ini menunjukkan bahwa apa yang Paulus katakan dalam ayat ini adalah hasil dari apa yang telah diucapkan sebelumnya. Mengerjakan keselamatan kita ini adalah hasil dari menjadikan Kristus sebagai teladan kita, seperti tercantum dalam ayat-ayat sebelumnya. Sebagai teladan kita, Kristus adalah keselamatan kita. Tetapi keselamatan ini perlu dikerjakan oleh kita.

Agar hal ini terpenuhi dalam pengalaman kita, maka teladan ini harus menjadi subyektif bagi kita, tidak hanya bersifat obyektif. Jika hanya bersifat obyektif, tidak mungkin menjadi keselamatan yang dikerjakan oleh kita. Keselamatan di sini bukan merupakan keselamatan yang kita terima, melainkan yang kita kerjakan. Keselamatan yang kita terima adalah keselamatan dari hukuman Allah dan lautan api. Itu tidak perlu kita kerjakan. Keselamatan dalam Kitab Filipi adalah keselamatan jenis lain, atau keselamatan yang berbeda tingkatnya. Ini lebih tinggi daripada yang disebut dalam Kisah Para Rasul 16:31, yang menunjukkan seorang sipir diberi tahu, jika ia percaya kepada Tuhan Yesus, ia akan diselamatkan, ia dan seisi rumahnya. Keselamatan dalam 2:12 ini sebenarnya adalah seorang Persona yang hidup. Persona ini tidak lain ialah Kristus yang kita perhidupkan, alami, dan nikmati. Satu teladan yang hanya bersifat obyektif tidak mungkin menjadi keselamatan kita yang sedemikian. Fakta bahwa keselamatan ini merupakan seorang Persona yang hidup dan Persona itu adalah teladan kita, menunjukkan bahwa teladan ini tidak hanya bersifat objektif, lebih-lebih bersifat subyektif.

Mengalami Kristus Secara Subyektif

Alasan lain untuk mengatakan teladan ini bersifat subyektif dan obyektif berkaitan dengan fakta bahwa Kitab Filipi adalah kitab mengenai pengalaman akan Kristus. Setiap perkara yang mengenai pengalaman rohani tentu bersifat subyektif. Berdasarkan prinsip ini dan konteks keseluruhan Kitab Filipi, maka Kristus sebagai teladan tidak hanya bersifat obyektif, tetapi juga bersifat subyektif dan dapat dialami.

Allah Bekerja di dalam Kita

Tambahan pula, menyusul perkataannya tentang mengerjakan keselamatan kita, Paulus mengatakan, “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kesukaan-Nya yang indah” (2:13 Tl.). Kata “karena” pada awal ayat 13 menunjukkan bahwa pekerjaan Allah di dalam kita berkaitan dengan kita mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar. Allah mengerjakan di dalam kita, baik kemauan maupun pekerjaan, bagi kesukaan-Nya yang indah. Kata “mengerjakan” dalam ayat 13 pasti ditujukan kepada kata “kerjakan” dalam ayat 12. Kita mengakui bahwa kita tidak mampu mengerjakan keselamatan kita. Ya, di dalam diri kita sendiri kita tidak mampu. Tetapi, Allah yang bekerja di dalam kita, Dialah yang mampu. Karena Dia mengerjakan di dalam kita, baik kemauan maupun pekerjaan, barulah kita dapat mengerjakan keselamatan kita. Perkataan Paulus tentang Allah bekerja di dalam kita merupakan petunjuk lebih lanjut bahwa teladan ini tidak hanya bersifat objektif, tetapi juga bersifat subyektif. Dari segi doktrinal, teladan ini bersifat obyektif, namun dari segi pengalaman, teladan ini sangat subyektif.

Bekerja Sama, Bukan Meniru

Dalam Filipi 2 Paulus tidak menyuruh kita mengambil Kristus yang obyektif sebagai teladan kita untuk meniru Dia. Itu adalah praktek yang dianjurkan dalam buku “The Imitation of Christ”. Berusaha meniru Kristus sedemikian itu ibarat seekor kera ingin meniru manusia. Jangan mengambil ayat 5-8 terlepas dari konteksnya. Bila kita membahas ayat-ayat ini dalam konteksnya, kita nampak bahwa teladan ini adalah keselamatan kita, dan keselamatan ini adalah Allah sendiri yang bekerja di dalam kita untuk menyelamatkan kita secara riil. Walau dalam diri kita sendiri kita tidak mampu mengerjakan keselamatan kita, tetapi Dia yang mampu itu hari ini bekerja di dalam kita untuk berkehendak dalam batin dan bekerja di luar. Kewajiban kita ialah bekerja sama dengan Dia. Bila kita bekerja sama dengan pekerjaan Allah di dalam kita, kita menerima Kristus sebagai teladan kita.

PIKIRAN YANG BERADA DI DALAM KRISTUS

Sekarang mari kita membahas ayat 5-8 dengan lebih rinci. Dalam ayat 5 Paulus berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Ungkapan “menaruh pikiran dan perasaan” menurut bahasa aslinya mengacu kepada “menganggap” dalam ayat 3 dan “memperhatikan” dalam ayat 4. Pemikiran dan pikiran yang demikian juga terdapat dalam Kristus ketika Ia mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, dan merendahkan diri-Nya, menjadi sama dengan manusia (ayat 7-8). Untuk memiliki pikiran yang demikian, kita perlu bersatu dengan Kristus dalam hati (bagian dalam)-Nya (1:8). Untuk mengalami Kristus, kita perlu bersatu dengan Dia sedemikian rupa, yaitu dalam perasaan batin-Nya yang lembut, dan dalam pikiran-Nya.

LANGKAH-LANGKAH KRISTUS

MERENDAHKAN DIRI

Ayat 6 mengatakan, “Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.” Kata “dalam” menunjukkan keberadaan sejak semula, menyiratkan eksistensi kekal Tuhan.

Kata “rupa” bukan mengacu kepada gambar apa adanya Allah, melainkan mengacu kepada ekspresi apa adanya Allah (Ibr. 1:3), sesuai dengan sifat dan esens persona Allah. Jadi, mengekspresikan sifat dan esens Allah. Ini membicarakan ke-Allahan Kristus.

Dalam ayat 6, Paulus memberi tahu kita bahwa Kristus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai genggaman yang harus dipertahankan. Walaupun Tuhan sama dengan Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan atau dijaga; melainkan Ia mengesampingkan rupa Allah (bukan sifat Allah), dan mengosongkan diri-Nya sendiri, mengambil rupa seorang hamba.

Mengosongkan Diri-Nya dan

Mengambil Rupa Seorang Hamba

Ayat 7 meneruskan bahwa Kristus telah “mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Ketika Kristus mengosongkan diri-Nya, Ia mengesampingkan apa yang dimiliki-Nya semula — rupa Allah. Kata rupa dalam ayat 7 sama dengan kata rupa Allah dalam ayat 6. Dalam inkarnasi-Nya, Tuhan tidak mengubah sifat ilahi-Nya, Ia hanya mengubah ekspresi luar-Nya, dari rupa Allah yang tertinggi kepada rupa seorang hamba yang terendah. Ini bukan perubahan esens, melainkan perubahan wujud. Kata “menjadi” menunjukkan memasuki wujud baru.

Menjadi Sama dengan Manusia

Menurut ayat 7, Kristus menjadi “sama dengan manu-sia”. Rupa Allah menyiratkan realitas batiniah dari keilahian Kristus, keserupaan-Nya dengan manusia menunjukkan penampilan lahiriah dari keinsanian-Nya. Bagi manusia Ia tampak sebagai manusia secara lahiriah, tetapi sebagai Allah, Ia memiliki realitas keilahian secara batiniah.

Merendahkan Diri-Nya dan Taat

Sampai Mati di Kayu Salib

Ayat 8 menyambung, “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Ketika Kristus menjadi serupa dengan manusia, memasuki keadaan keinsanian, Ia didapati dalam rupa seorang manusia. Kata “keadaan” di sini menyiratkan penyamaran luaran, kemiripan. Ini adalah pengulangan mengenai “menjadi sama dengan” dalam ayat 7 secara lebih khusus. Rupa Kristus dalam keinsanian-Nya didapati manusia berada dalam keadaan sebagai manusia.

Dalam keadaan sebagai manusia, Kristus merendahkan diri-Nya. Pertama-tama Ia mengosongkan diri-Nya dengan menanggalkan rupa, atau ekspresi lahiriah dari ke-Allahan-Nya, dan menjadi sama dengan manusia. Kemudian Ia merendahkan diri-Nya melalui taat, bahkan sampai mati. Kristus adalah Allah yang memiliki ekspresi Allah. Walau Ia setara dengan Allah, Ia menanggalkan kesetaraan itu dan mengosongkan diri-Nya dengan mengambil rupa manusia. Ini menunjukkan bahwa Ia menjadi seorang manusia melalui inkarnasi. Kemudian, dalam keadaan sebagai ma-nusia Ia merendahkan diri-Nya. Ini berarti ketika Ia men-jadi manusia, Ia tidak mempertahankan apa pun, sebalik-nya Ia malah merendahkan diri-Nya sampai mati di kayu salib. Inilah Kristus, teladan kita.

Merendahkan diri-Nya sendiri adalah langkah lanjutan dalam pengosongan diri-Nya. Tindakan Kristus merendahkan diri-Nya menyatakan pengosongan diri-Nya. Kematian di kayu salib adalah puncak penghinaan terhadap Kristus. Bagi orang Yahudi itu adalah suatu kutukan (Ul. 21:22-23). Bagi orang bukan Yahudi itu adalah hukuman mati yang dijatuhkan bagi penjahat dan budak (Mat. 27:16-17, 20-23). Jadi itu adalah hal yang memalukan (Ibr. 12:2).

Penghinaan terhadap Tuhan mencakup tujuh langkah: (1) mengosongkan diri-Nya sendiri; (2) mengambil rupa seorang hamba; (3) menjadi serupa dengan manusia; (4) merendahkan diri-Nya sendiri, (5) menjadi taat; (6) taat hingga mati; dan (7) taat hingga mati di kayu salib.

MENEMPUH HIDUP YANG TERSALIB

Teladan yang ditampilkan dalam ayat-ayat ini sekarang justru menjadi hayat di batin kita. Hayat ini kita sebut hayat yang tersalib. Ketujuh langkah dari merendahnya Kristus merupakan aspek-aspek dari hayat yang tersalib. Meskipun Kristus memiliki ekspresi ke-Allahan, Ia mengesampingkan ekspresi itu. Akan tetapi Ia tidak membuang realitas ke-Allahan-Nya. Ia mengesampingkan rupa yang lebih tinggi, yakni rupa Allah, dan mengambil rupa yang lebih rendah, rupa seorang hamba. Dengan demikianlah Ia mengosongkan diri-Nya. Ini tentu adalah satu tanda dari hayat yang tersalib. Kemudian, setelah menjadi seorang manusia dan ditemukan dalam keadaan yang sama dengan manusia, Kristus lalu merendahkan diri-Nya, bahkan sampai mati di kayu salib. Ini adalah hayat yang tersalib yang diperhidupkan secara penuh dan mutlak.

Kristus bukan hanya sebagai teladan yang di luar bagi kita, Ia pun hayat dalam batin kita. Sebagai hayat batiniah, Ia menghendaki kita mengalami Dia, sehingga kita dapat memperhidupkan hayat yang tersalib ini. Dalam hayat yang tersalib ini tidak ada tempat bagi persaingan, puji-pujian yang sia-sia, atau bangga diri. Sebaliknya, di sini hanya ada pengosongan diri, dan merendahkan diri. Setiap kali kita mengalami Kristus dan memperhidupkan Dia, dengan otomatis kita akan memperhidupkan hayat yang tersalib yang sedemikian. Ini berarti bila kita memperhidupkan Kristus, kita memperhidupkan Dia yang menjadi teladan hayat yang tersalib. Kemudian kita pun akan mengosongkan dan merendahkan diri.

Jika dalam batin kita tidak ada hayat yang tersalib, kita tidak mungkin hidup sesuai dengan teladan yang disajikan dalam Filipi 2 ini. Hanya hayat yang tersaliblah yang dapat memperhidupkan teladan yang demikian. Jika kita tetap melakukan sesuatu karena persaingan dan mencari puji-pujian yang sia-sia atau masih berambisi menjadi penatua atau pemimpin, itu berarti kita tidak memperhidupkan hayat yang tersalib. Kita tidak mengosongkan dan merendahkan diri. Namun, dalam batin kita benar-benar memiliki satu hayat yang bisa mengosongkan dan merendahkan diri. Hayat ini tidak pernah menggenggam sesuatu sebagai mustika untuk dipertahankan. Sebaliknya, ia senantiasa rela mengesampingkan posisi dan gelar.

POLA TELADAN INI MENJADI KESELAMATAN KITA

Ketika teladan dalam Filipi 2 menjadi hayat batiniah kita, teladan ini menjadi keselamatan kita. Lalu kita akan diselamatkan dari persaingan dan puji-pujian yang sia-sia. Jika orang-orang Filipi enggan hidup sesuai dengan teladan ini, tidak mungkin mereka menyempurnakan sukacita Paulus. Dia akan tetap resah karena adanya persaingan dan puji-pujian sia-sia di antara mereka. Tetapi jika mereka rela menempuh hidup yang tersalib ini, yakni suatu hidup yang senantiasa mengosongkan dan merendahkan diri sendiri, tanpa menggenggam apa pun yang dianggap mustika, maka mereka akan memiliki pengalaman sejati akan Kristus. Pengalaman mereka akan Kristus sebagai teladan dan hayat batiniah sedemikian ini akan membuat rasul sangat bersukacita.

Menempuh hidup yang tersalib ini memperlihatkan bahwa terhadap rasul kita mempunyai dorongan di dalam Kristus, penghiburan kasih, persekutuan roh, serta kasih mesra dan belas kasihan. Hanya ketika kita memperhidupkan hayat yang tersalib barulah kita dapat membuat para rasul bersukacita dan membuat sukacita mereka puas. Dalam penjara, Paulus tidak memperhatikan bagaimana orang lain memperlakukannya, yang dia perhatikan adalah apakah kaum beriman mau menerima Kristus sebagai teladan mereka dan menempuh hidup yang tersalib. Itulah pengha-rapan hati Paulus, dan hanya itulah yang bisa membuat sukacitanya sempurna.