SUPLAI LIMPAH LENGKAP DARI ROH YESUS KRISTUS
Pembacaan Alkitab: Flp. 1:19-21
Dalam 1:19-21 tercantum tiga ungkapan yang penting: “suplai limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus” (19 Tl.), “Kristus dengan nyata diperbesar di dalam tubuhku” (20 Tl.), dan “bagiku hidup adalah Kristus” (21). Dalam berita ini kita akan meninjau ungkapan yang pertama, “suplai limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus.”
I. SUPLAI LIMPAH LENGKAP
Dalam 1:19 Paulus mengatakan, “Karena aku tahu bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan suplai limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus” (Tl.). Kata “suplai limpah lengkap” bukan mutlak terjemahan dari bahasa Yunani, melainkan satu terjemahan penafsiran dari kata Yunani yang dipakai di sini. Secara harfiah, kata Yunani yang diterjemahkan suplai ini ditujukan kepada suplai segala kebutuhan anggota paduan suara oleh pemimpinnya. Kata yang dipakai Paulus menyiratkan suplai yang limpah lengkap. Pemimpin rombongan itu menyuplaikan semua keperluan dari setiap anggota paduan suara, antara lain makanan, pakaian, tempat tinggal, serta alat-alat musik. Suplai ini sungguh lengkap, bahkan almuhit. Bila seseorang mengikuti rombongan kesenian tersebut, ia tidak perlu cemas terhadap kebutuhan-kebutuhan kehidupannya, sebab pemimpin rombongan dapat menyuplaikan apa saja yang ia perlukan. Dalam menggunakan ungkapan “suplai limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus” Paulus mengibaratkan suplai Roh itu seperti pemimpin rombongan tersebut. Sebab itu, jika kita ingin memiliki pengertian yang tepat terhadap 1:19, perlulah kita membubuhi kata limpah lengkap di belakang kata suplai. Suplai limpah lengkap dari Roh yang almuhit membuat Paulus dapat memperhidupkan dan memperbesar Kristus dalam penderitaannya bagi Dia. Suplai Roh Yesus Kristus ini limpah lengkap dan almuhit. Apa yang kita miliki hari ini bukan suatu suplai yang sebagian, tetapi suplai yang limpah lengkap dan almuhit.
II. ROH YESUS KRISTUS
Roh Yesus Kristus adalah “Roh itu” yang disebut dalam Yohanes 7:39. Ini bukan Roh Allah semata-mata, yang sudah ada sebelum inkarnasi Tuhan, melainkan Roh Allah, Roh Kudus dengan keilahian-Nya setelah kebangkitan Tuhan, yang diramu (dicampur) dengan inkarnasi (keinsanian), hidup insani di bawah salib, penyaliban, dan kebangkitan. Minyak urapan kudus dalam Keluaran 30:23-25, ramuan yang terdiri dari minyak zaitun dengan empat macam rempah-rempah, adalah suatu lambang lengkap dari Roh Allah yang majemuk ini, yang sekarang adalah Roh Yesus Kristus. Di sini tidak disebut Roh Yesus seperti tercantum dalam Kisah Para Rasul 16:7, juga bukan Roh Kristus yang tercantum dalam Roma 8:9, melainkan Roh Yesus Kristus. Roh Yesus terutama berhubungan dengan keinsanian Tuhan dan hidup insani-Nya; Roh Kristus terutama berhubungan dengan kebangkitan Tuhan. Untuk mengalami keinsanian Tuhan seperti yang digambarkan dalam Filipi 2:5-8, kita perlu Roh Yesus. Untuk mengalami kuat kuasa kebangkitan Tuhan, seperti yang disebutkan dalam 3:10, kita perlu Roh Kristus. Dalam penderitaannya, Paulus telah mengalami penderitaan Tuhan dalam keinsanian-Nya dan kebangkitan-Nya. Karena itu, baginya Roh itu adalah Roh Yesus Kristus, yakni Roh pemberi-hayat yang almuhit dan majemuk dari Allah Tritunggal. Roh yang demikian memiliki dan bahkan adalah suplai limpah lengkap bagi orang seperti Paulus, yang mengalami dan menikmati Kristus dalam hidup insani-Nya dan kebangkitan-Nya. Akhirnya, Roh Yesus Kristus yang majemuk ini menjadi tujuh Roh Allah, yaitu ketujuh obor yang menyala-nyala di hadapan takhta-Nya untuk melaksanakan pemerintahan-Nya di bumi bagi penggenapan ekonomi-Nya mengenai gereja; Dia juga adalah ketujuh mata Anak Domba untuk mentransfusikan segala apa adanya Dia ke dalam gereja (Why. 1:4; 4:5; 5:6).
A. Roh Allah dalam Penciptaan
Wahyu dalam Alkitab mengenai Allah, Kristus, dan Roh makin lama makin maju. Wahyu ini dimulai dari Kejadian 1 dan berkembang secara progresif hingga mencapai kesempurnaannya dalam Kitab Wahyu. Kali pertama Roh disebutkan dalam Alkitab adalah dalam Kejadian 1:2, “Roh Allah mengerami di atas permukaan air” (Tl.). Dalam kaitan dengan penciptaan Allah, Roh itu khusus disebut Roh Allah.
B. Roh Yehova dalam Hubungan-Nya dengan Manusia
Sudah tentu, hubungan Allah dengan manusia lebih intim daripada hubungan-Nya dengan makhluk ciptaan lainnya. Maka, ketika membicarakan hubungan Allah dengan manusia, sebutan Roh adalah Roh Yehova (Roh TUHAN, LAI) (Hak. 3:10; 1Sam. 10:6).
C. Roh Kudus dalam Menguduskan Manusia
Pada waktu Kristus dikandung dan dilahirkan, istilah Roh Kudus dipakai dalam Alkitab (Luk. 1:35; Mat. 1:20). Sebutan Roh Kudus ini berkaitan dengan kesucian, pengudusan, dan pemisahan kepada Allah. Melalui Roh Kudus, ada beberapa unsur dalam manusia dikuduskan, dijadikan suci.
D. Roh Yesus dalam Penderitaan
Kisah Para Rasul 16:7 mencantumkan kata Roh Yesus. Kehidupan Tuhan di muka bumi merupakan kehidupan yang menderita. Jadi, sebutan “Roh Yesus” khususnya ditujukan kepada Roh yang berkaitan dengan penderitaan Tuhan.
E. Roh Kristus dalam Kebangkitan
Dalam Roma 8:9-11 Paulus membicarakan Roh Kristus. Menurut konteks ayat-ayat ini, Roh Kristus terutama berkaitan dengan kebangkitan Kristus.
F. Roh Yesus Kristus dalam
Penderitaan dan Kebangkitan-Nya
Dalam Filipi 1:19 kita telah nampak Paulus mengatakan Roh Yesus Kristus. Karena Roh Yesus khususnya berkaitan dengan penderitaan Tuhan, dan Roh Kristus berkaitan dengan kebangkitan-Nya, maka Roh Yesus Kristus berkaitan dengan penderitaan merangkap kebangkitan-Nya. Ketika Paulus di dalam penjara, dia menikmati Roh sebagai Roh Yesus dalam penderitaan dan Roh Kristus dalam kebangkitan. Ketika Paulus menderita, dia menikmati kebangkitan Kristus. Karena dia mengalami penderitaan dan kebangkitan, maka baginya Roh itu adalah Roh Yesus Kristus.
G. Roh Itu — Roh Pemberi-Hayat yang Almuhit dari Allah Tritunggal
Yohanes 7:39 mengatakan, “Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh itu yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum ada, karena Yesus belum dimuliakan” (Tl.). Ayat ini mengatakan “Roh itu”, memberi tahu kita bahwa sebelum Tuhan Yesus disalibkan dan di-bangkitkan “Roh itu” belum ada. Roh Allah sudah ada sejak semula (Kej. 1:1-2), tetapi “Roh itu” sebagai Roh Yesus Kristus “belum ada” pada waktu Yohanes 7:39, sebab Tuhan belum dimuliakan. Setelah kebangkitan-Nya, Roh Allah baru menjadi Roh Yesus Kristus yang berinkarnasi, disalibkan, dan dibangkitkan. Meskipun sebelum kematian dan kebangkitan Tuhan, Roh Allah adalah Roh Yehova dan Roh Kudus, tetapi “Roh itu” belum ada. Istilah “Roh itu” sering dipakai Paulus dalam Surat-surat Kirimannya dan dipakai Yohanes dalam Kitab Wahyu. Paulus tidak mengatakan Roh Allah atau Roh Kudus, ia sering mengatakan “Roh itu”, yakni Roh pemberi-hayat yang almuhit dari Allah Tritunggal.
H. Roh Majemuk yang Dilambangkan oleh Minyak Urapan Majemuk
Kata “Roh majemuk” ini tidak ada dalam Alkitab. Tetapi realitas Roh itu pada aspek ini ada dalam Alkitab. Demikian pula dengan Allah Tritunggal. Walau istilah “tritunggal” tidak dapat kita temukan dalam Alkitab, tak dapat disangkal bahwa Alkitab mewahyukan Allah itu tritunggal. Matius 28:19 mengatakan tentang membaptiskan orang ke dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, satu petunjuk jelas bahwa Allah itu tritunggal. Petunjuk lainnya ialah 2Korintus 13:13, yang membicarakan anugerah Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus. Berdasarkan fakta bahwa Allah itu tritunggal menurut Alkitab, maka kita menggunakan istilah tritunggal atau trinitas. Seprinsip dengan itu, berdasarkan fakta dalam Alkitab, kita boleh menyebut Roh itu sebagai Roh majemuk. Menurut Keluaran 30:23-24, satu hin minyak zaitun dicampur dengan empat macam rempah-rempah untuk menghasilkan minyak urapan yang kudus. Secara kiasan, minyak melambangkan Roh Allah, dan minyak urapan majemuk, minyak yang dicampur dengan empat macam rempah-rempah, melambangkan Roh itu. Melalui suatu proses pencampuran, minyak itu kemudian menjadi minyak urapan yang dipakai untuk mengurapi Kemah Pertemuan dan setiap benda yang berkaitan dengannya. Bahkan para imam pun diurapi dengan minyak urapan yang kudus ini. Sebelum Keluaran 30, minyak urapan majemuk ini “belum ada”, tetapi setelah Keluaran 30, minyak urapan itu benar-benar ada. Demikian pula, sebelum Kristus disalibkan, dibangkitkan, dan dimuliakan, Roh yang sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit ini “belum ada”. Tetapi melalui proses penyaliban dan kebangkitan Kristus, Roh Allah, yang dilambangkan oleh minyak, telah menjadi Roh majemuk, yang dilambangkan oleh minyak urapan itu.
Keempat macam rempah-rempah yang dipakai untuk membuat minyak urapan dalam Keluaran 30 melambangkan khasiat kematian Kristus, kemanisan kematian-Nya, kuasa kebangkitan-Nya, dan keharuman kebangkitan-Nya. Sebelum penyaliban dan kebangkitan Kristus, Roh Allah tidak memiliki keempat unsur itu. Tetapi setelah kebangkitan Kristus, unsur-unsur itu telah tercampur ke dalam Roh Allah, dan Roh Allah telah menjadi “Roh itu”, Roh majemuk.
I. Ketujuh Roh Allah
Kitab Wahyu menyebutkan ketujuh Roh Allah (Wahyu 1:4; 4:5; 5:6). Ketujuh Roh Allah ini adalah ketujuh obor yang menyala-nyala di hadapan takhta Allah dan juga ketujuh mata Anak Domba. Karena Kitab Wahyu menyebut ketujuh Roh, kita harus bertanya Roh Allah itu satu atau tujuh. Menurut matematika kita, satu itu satu, tujuh itu tujuh. Tetapi menurut matematika Alkitab, ada satu pengertian bahwa tujuh itu satu, dan satu itu tujuh. Satu Roh itu disebut tujuh Roh.
Menurut pengertian tradisional tentang Trinitas, Bapa, Anak, dan Roh dianggap sebagai tiga persona yang berbeda. Bahkan ada orang yang mempertahankan bahwa ketiganya adalah persona-persona yang berbeda dan terpisah. Tetapi menurut Alkitab ketiganya ini tak terpisahkan. Saya tidak tahu bagaimana orang-orang yang membela pengertian yang tradisional itu tentang Trinitas menjelaskan Wahyu 5:6. Ayat tersebut mengatakan kepada kita bahwa ketujuh Roh itu (persona yang ketiga) adalah tujuh mata Anak Domba (persona yang kedua). Jika Anak dan Roh merupakan dua persona yang terpisah, bagaimana mungkin ketujuh Roh menjadi mata Anak Domba? Dengan perkataan lain, bagaimana mungkin satu persona dari Trinitas, Roh itu, menjadi mata persona yang lain, Anak? Dalam pengertian tradisional tentang Trinitas khususnya yang mengikuti Kredo Nicea, tidak ada tempat bagi “Roh itu”, Roh majemuk, atau ketujuh Roh. Sebenarnya orang-orang yang berpegang pada tradisi itu sangat picik, kerdil, dan terbatas dalam pengertian mereka, tetapi orang-orang yang berpegang pada firman yang murni secara keseluruhan sangatlah lapang dan meliputi semuanya.
Kita boleh menggunakan kata persona untuk membicarakan tiga dari Allah Tritunggal itu. Namun, kita harus hati-hati jangan terlampau menekankan kata tersebut. W.H. Griffith Thomas menyadari adanya bahaya itu. Dalam bukunya “The Principles of Theology” ia mengatakan tentang Trinitas sebagai berikut: “Istilah persona juga adakalanya ditentang orang. Seperti halnya semua bahasa manusia, kata ini juga sukar terhindar dari sifatnya yang tidak tepat, bahkan dianggap kesalahan yang serius. Karena itu, kata persona tidak boleh ditekankan terlalu berat, jika tidak ia akan menjurus ke tritheisme (tiga Allah) . . .” Orang-orang yang terlalu menekankan istilah persona akhirnya tidak saja menonjolkan ketiga persona dari ke-Allahan, tetapi juga tiga Allah. Akhirnya, apa yang mereka miliki bukan tritunggal tetapi triteisme. Karena tidak memahami hal ini, maka banyak guru Kristen telah berbuat khilaf yang demikian. Kita harus mengakui bahwa kita sama sekali tidak dapat mendefinisikan tritunggal dengan memadai. Terhadap manusia saja kita tidak mempunyai satu pengertian yang tuntas, lalu bagaimana mungkin kita mengharap mengerti setepat-tepatnya rahasia Allah Tritunggal ini? Kita harus beralih dari kekurangan Kredo Nicea dan dari pengertian yang tradisional tentang Allah Tritunggal, untuk kembali kepada firman Allah yang murni. Dalam terang firman Allah, kita nampak bahwa Roh yang sedang kita nikmati hari ini bukan saja Roh Allah, Roh Yehova, dan Roh Kudus, Roh ini bahkan tidak terbatas pada Roh Yesus atau Roh Kristus. Roh yang sedang kita nikmati ini adalah Roh Yesus Kristus. Roh ini adalah “Roh itu,” yakni Roh pemberi-hayat yang majemuk dan almuhit dari Allah Tritunggal. Karena Roh ini begitu kaya, limpah lengkap, dan almuhit, Dia mempunyai suplai untuk memenuhi segala kebutuhan kita. Sebab itu, ketika Paulus menderita karena Injil, ia menikmati suplai limpah lengkap dari Roh almuhit ini.
Orang-orang Kristen hari ini mungkin banyak memperbincangkan Roh, bahkan menulis buku-buku tentang Roh, tetapi mereka sedikit pun tidak menyinggung Roh majemuk atau ketujuh Roh. Sebaliknya, mereka berpegang pada pengertian tradisional tentang Roh Allah yang dinyatakan dalam Kredo Nicea. Orang-orang dalam gerakan Karismatik atau Pentakosta menyatakan mereka mengalami Roh. Tetapi mereka pun mengabaikan Roh pemberi-hayat, Roh majemuk, dan ketujuh Roh. Jika kita ingin memiliki pengertian yang tepat terhadap Roh Kudus, kita perlu memahami bahwa Roh itu hari ini tidak lain tidak bukan adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses lewat inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Ada sementara orang menentang kata “melalui proses”. Mereka mendebat bahwa Allah tidak mungkin melalui proses. Tetapi bukankah Allah melalui inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan? Jika ini bukan suatu proses, lalu kata apakah yang harus kita gunakan untuk melukiskannya? Sebagaimana kita memakai kata Tritunggal untuk mengungkapkan wahyu Allah Tritunggal dalam Alkitab, maka kita juga memakai kata proses untuk mengungkapkan langkah-langkah yang telah ditempuh Allah Tritunggal dari inkarnasi Kristus hingga kebangkitan-Nya.
Kita tidak merasa puas hanya memiliki pengertian terhadap Roh Yesus Kristus secara doktrinal saja. Kita harus maju terus untuk mengalami Roh itu, Roh majemuk, dan ketujuh Roh Allah. Kita perlu lebih banyak lagi mengalami Roh pemberi-hayat yang almuhit dan majemuk yang adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi segala sesuatu bagi kita. Melalui Roh yang sedemikian inilah Paulus telah menderita bagi ekonomi Allah dan sekaligus menikmati suplai yang limpah lengkap yang meneguhkan dia dalam kebangkitan. Paulus adalah seorang pemenang bukan karena ia mempunyai satu tekad yang kuat, melainkan karena ia mengalami dan menikmati Roh almuhit dengan suplai-Nya yang limpah lengkap yang berhuni di dalamnya sebagai segala sesuatunya. Paulus menyadari dalam pengalamannya bahwa Allah Tritunggal sedang menggarapkan diri-Nya ke dalam dirinya. Semoga kita juga mengalami dan menikmati Allah Tritunggal yang menyuplai kita dan menggarapkan diri-Nya ke dalam kita sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit dan majemuk.