← Daftar isi Latar Belakang dan Pokok Kitab Filipi · bab 22/22

MENJADI SERUPA DENGAN KEMATIAN KRISTUS UNTUK MENCAPAI KEBANGKITAN YANG UNGGUL

DARI ANTARA ORANG MATI

Pembacaan Alkitab:

Flp. 3:10b-11; Yoh. 6:57; 1Kor. 9:24-26;

2Tim. 4:7-8; 1Tes. 4:16; 1Kor. 15:52;

Ibr. 11:35; Ef. 2:5-6; Rm. 8:6, 11

PENGARUH CIRI-CIRI SUKU BANGSA

Sangat mudah bagi kita untuk mengetahui bahwa hal-hal materi dapat menjadi pengganti Kristus dalam kehidupan kita atau dapat mengganggu kita dalam menikmati Kristus, tetapi tidaklah mudah mengetahui bahwa hal-hal yang bukan materi, seperti agama, filsafat, dan budaya, juga dapat menjadi pengganti Kristus. Sepanjang tahun-tahun ini, saya telah menjumpai banyak orang rohani dari berbagai bangsa; mereka benar adalah penuntut-penuntut Tuhan. Namun, walau mereka telah mencapai kemajuan rohani pada tingkat tertentu, hampir tidak ada seorang pun yang tidak hidup dalam budaya nasional mereka. Sebagai contoh, di antara semua penuntut Kristus yang sejati di China, sedikit sekali yang tidak hidup dalam filsafat etika China. Filsafat ini telah tergarap ke dalam mereka. Karena alasan ini, maka bahkan orang Kristen yang terbaik pun tidak lepas dari pengaruhnya. Itu tidak berarti ajaran-ajaran etika itu salah. Ajaran-ajaran itu telah melindungi orang-orang China berabad-abad lamanya. Masalah utamanya ialah, ajaran-ajaran etika itu bukan Kristus sendiri. Allah tidak menghendaki kita hidup menurut ajaran-ajaran etika tertentu. Etika bukan bagian dari ciptaan baru, bukan yang dari Kristus, bukan dari Roh, atau hayat kebangkitan. Segala sesuatu yang dari Kristus pasti berada dalam kebangkitan, dalam ciptaan baru, dan milik Roh.

Saudara Watchman Nee adalah seorang yang dapat membedakan etika dengan Kristus. Saya tidak pernah bertemu dengan seorang yang lebih jelas daripadanya dalam mengenal perbedaan antara Kristus dengan etika. Pada suatu saat ia pernah bersekutu secara tuntas dengan saya tentang perbedaan antara Kristus dengan etika yang dikembangkan menurut ajaran Konghucu. Tetapi, banyak di antara orang Kristen China yang menuntut, tidak dapat mengenali perbedaan tersebut. Soalnya, mereka tidak saja hidup di dalam filsafat etika China, yang lebih gawat lagi ialah mereka tidak mengetahui perbedaan antara etika filosofis China dengan Kristus.

Mengenai hal ini, saya merasa prihatin terhadap banyak orang kudus dalam pemulihan Tuhan. Walaupun mereka telah berada di bawah ministri ini bertahun-tahun lamanya, tetapi masih tidak memiliki daya pembeda yang wajar dalam membedakan etika filosofis dengan Kristus. Tidak hanya demikian, bahkan mereka yang memiliki daya pembeda pun mungkin tanpa disadari atau di bawah sadar masih lebih banyak hidup di dalam lingkungan etika daripada di dalam Kristus. Etika-etika kita boleh jadi sangat baik, tetapi kehidupan etika yang sedemikian bukan kehidupan dalam kebangkitan; itu tidak ada sangkut pautnya dengan Kristus, Roh, atau ciptaan baru.

Saya dapat bersaksi bahwa oleh belas kasihan Tuhan saya bisa membedakan Kristus dengan etika. Kristus sama sekali berbeda dengan etika China. Kristus tidak ada hubungannya dengan etika, dan etika juga tidak ada sangkut pautnya dengan Kristus. Tetapi, meskipun saya memiliki daya pembeda ini, saya tidak yakin bahwa dalam kehidupan sehari-hari saya tidak berada dalam ruang lingkup etika dan sepenuhnya berada dalam Kristus. Mungkin saja, setidak-tidaknya dalam tingkat tertentu, saya masih berada di bawah pengaruh ajaran-ajaran etika. Hanya pada waktu saya benar-benar dibawa ke dalam kebangkitan dan keterangkatan, barulah saya yakin bahwa saya sepenuhnya berada di dalam Kristus. Pada saat ini, saya hanya dapat bersaksi bahwa saya memiliki daya pembeda, tetapi ini tidak berarti saya telah hidup di luar ruang lingkup etika, dan sepenuhnya di dalam Kristus. Tidak disangsikan, ajaran-ajaran etika memang sangat baik, tetapi ajaran-ajaran ini bukan Kristus. Langkah pertama untuk tidak hidup di dalam etika melainkan hidup di dalam Kristus sendiri ialah mengembangkan daya pembeda untuk membedakan etika dengan Kristus.

Pengaruh etika terhadap orang-orang China sama dengan pengaruh berbagai budaya terhadap orang-orang Kristen di berbagai negara. Beberapa tahun yang lampau saya diundang ke suatu tempat di Inggris sebagai tamu kehormatan. Orang-orang Kristen di tempat itu terkenal dengan kerohaniannya. Ketika saya berada di sana, saya memperhatikan bahwa kehidupan kaum saleh di tempat itu sangat menuruti diplomasi orang Inggris, teristimewa para penatuanya. Mereka taat kepada penatua kepala. Ketika mereka kumpul bersamanya, mereka baik-baik dan sopan. Tetapi mereka juga sering membicarakannya secara negatif. Walaupun tempat itu merupakan sumber berbagai buku-buku rohani, tetapi kaum beriman di sana sebenarnya tidak seberapa menyatakan kerohanian yang sejati. Sebaliknya, mereka hidup menurut pola diplomasi mereka. Mereka benar-benar mengasihi Tuhan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari mereka mempraktekkan diplomasi, bukan hidup di dalam Kristus. Seperti halnya etika filosofis China telah tergarap ke dalam darah orang-orang China, demikian pula diplomasi Inggris telah tergarap ke dalam diri kaum beriman Inggris.

Saya menggunakan ilustrasi-ilustrasi ini untuk menunjukkan satu fakta, yaitu tidak peduli betapa sungguh-sungguhnya kaum beriman menuntut Tuhan, mereka tetap berada di bawah pengaruh ciri-ciri suku bangsa mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka lebih banyak dipengaruhi oleh budaya mereka daripada oleh Kristus. Ketika Paulus berkata bahwa ia menganggap segalanya rugi, maksudnya tidak semata-mata ditujukan kepada hal-hal materi, tetapi juga kepada hal-hal seperti agama, filsafat, dan budaya. Kita mungkin rela menganggap hal-hal materi rugi karena Kristus, tetapi tidak demikian dengan budaya atau ciri-ciri suku bangsa kita. Tetapi agama, budaya, dan ciriciri suku bangsa adalah hal-hal yang dianggap Paulus sebagai sampah demi memperoleh Kristus dan ditemukan di dalam Dia. Hal-hal itu mungkin sangat baik, tetapi semua itu tidak berada dalam kebangkitan dan ciptaan baru. Tambahan pula, semua itu bukan milik Kristus dan Roh itu.

PERLUNYA KEMUSTIKAAN

PENGENALAN AKAN KRISTUS

Sekalipun mungkin kita sangat mengasihi Tuhan dan setiap hari menggunakan waktu untuk berdoa hingga diri kita masuk ke dalam Roh, namun dalam kehidupan kita yang sebenarnya kita mungkin hidup di dalam hal-hal yang bukan Kristus. Kaum saleh China mungkin hidup dalam etika mereka, dan kaum saleh Inggris mungkin hidup dalam diplomasi mereka. Kita dengan otomatis dan spontan hidup dengan cara demikian. Betapa kita perlu visi tentang kemustikaan Kristus. Jika kita memiliki kemustikaan pengenalan akan Kristus, kita akan nampak bahwa Dia jauh melampaui ciri-ciri suku bangsa yang terbaik pun. Kita akan mengenal bahwa Kristus jauh lebih mustika daripada setiap unsur kebudayaan kita. Hanya kemustikaan pengenalan akan Kristus yang dapat menghindarkan kita dari pengaruh segala hal yang bukan Kristus sendiri.

Menerapkan Kristus sebagai damai sejahtera, sukacita dan perhentian kita memang agak mudah. Tetapi bila kita memikirkan aspek-aspek Kristus yang lebih tinggi, kita akan sadar bahwa hal ini cukup sulit diterapkan. Sebagai contoh, Kristus adalah rahasia ekonomi Allah. Walaupun kita mungkin mengenal Dia sebagai rahasia ekonomi Allah, tidak mudahlah kita menerapkan Dia dalam aspek ini dalam kehidupan sehari-hari kita. Besar sekali kesenjangan antara aspek Kristus yang sedemikian dengan kehidupan sehari-hari kita. Kita juga menemukan sulitnya kita mengalami Kristus sebagai wujud, realitas dari segala hal yang positif. Kita sangat perlu berdoa untuk hal ini.

Meskipun terang berpancar sangat cerah di tengah-tengah kita, tetapi nampaknya terlalu sedikit pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari kita. Dalam sidang, di bawah sorotan terang, kita boleh jadi terkesan oleh kemustikaan Kristus, tetapi ketika pulang ke rumah usai bersidang, kita kembali serupa dengan keadaan semula. Kita benar-benar perlu berdoa, agar kita melihat kemustikaan pengenalan akan Kristus. Jika kita memiliki pengenalan sedemikian dengan sungguh dan riil, semua unsur hidup insani kita yang bukan Kristus akan dibawa ke dalam maut. Kemustikaan pengenalan akan Kristus akan meniadakan pengaruh ciri-ciri suku bangsa dan filsafat domestik kita. Dari pengalaman saya, saya dapat bersaksi bahwa kemustikaan pengenalan akan Kristus dapat membunuh segala hal baik yang menggantikan Kristus dalam kehidupan sehari-hari kita.

KUASA KEBANGKITAN KRISTUS

Dalam Filipi 3:10 Paulus membicarakan kuasa kebangkitan Kristus. Kuasa kebangkitan Kristus adalah hayat kebangkitan-Nya yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati (Ef. 1:19-20). Hayat ilahi Kristus mengandung unsur kebangkitan. Bahkan sebelum Dia dibangkitkan, Dia dapat berkata kepada Marta, “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yoh. 11:25). Realitas hayat kebangkitan Kristus adalah Roh itu. Kebangkitan adalah sesuatu yang abstrak dan rahasia, tidak ada orang yang dapat mendefinisikannya. Tetapi kita dapat mengenal Roh itu sebagai realitas kebangkitan. Roh Kristus adalah realitas kebangkitan Kristus. Karena itu, di mana ada Roh Kristus, di situ ada kebangkitan. Karena Roh ini sekarang berada dalam batin kita, maka kuasa kebangkitan Kristus juga berada dalam batin kita.

Jangan terpengaruh oleh konsepsi golongan Pentakosta, yang menganggap jika kita berpuasa dan berdoa sejangka waktu, maka kita akan tiba-tiba dihinggapi oleh kuasa rohani. Menurut konsepsi itu, kuasa ilahi secara mendadak tercurah ke atas orang-orang yang mencarinya melalui berdoa dan berpuasa. Ini tidak sesuai dengan cara rohani yang benar yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru. Menurut cara rohani ini, ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita dilahirkan kembali, dan Roh itu dikaruniakan kepada kita dan menjadi kuasa kebangkitan di dalam kita.

Kita dapat menggunakan biji bunga anyelir untuk menerangkan cara dilepaskannya hayat kebangkitan. Walau biji anyelir sangat kecil, di dalamnya terkandung kuasa hayat yang mampu menghasilkan tanaman anyelir. Karena unsur hayat tersebut telah ada di dalam biji itu, maka biji itu tidak perlu menerima kuasa dari luar. Satu-satunya hal yang diperlukan ialah jatuhnya biji itu ke dalam tanah dan mati. Bila biji itu melewati kematian, maka kulitnya akan pecah, dan hayatnya akan dibebaskan dari dalam, bukan dari atas.

MENJADI SERUPA DENGAN KEMATIAN KRISTUS

Ilustrasi biji anyelir ini sesuai dengan wahyu Perjanjian Baru. Sebagai orang-orang yang dilahirkan kembali, kita memiliki benih Allah dalam batin kita. Menurut 1Yohanes 3:9, benih Allah berada di dalam semua orang yang telah dilahirkan dari Allah. Benih ini mengandung hayat ilahi, dan hayat ini merupakan kuasa kebangkitan. Untuk membebaskan hayat kebangkitan ini dari dalam benih, maka kulit yang di luar harus dipecahkan. Hal ini memerlukan penderitaan.

Dalam Filipi 3:10 Paulus selanjutnya berkata tentang persekutuan dalam penderitaan Kristus dan menjadi serupa dengan kematian-Nya. Persekutuan dalam penderitaan Kristus adalah partisipasi kita dalam penderitaan-Nya. Dalam seumur hidup-Nya, Kristus telah mengalami proses peremukan, sehingga kuasa hayat dapat dibebaskan dari batin-Nya. Dia dihancurkan, khususnya ketika Dia mati di atas salib. Benih hayat ilahi telah tertanam ke dalam diri kita. Sekarang kita juga perlu diremukkan, agar kuasa hayat dalam benih itu dapat dibebaskan. Jika manusia lahiriah kita telah dihancurkan, maka benih dalam batin kita akan dapat membebaskan kuasa hayatnya.

Akhirnya, proses peremukan manusia lahiriah ini akan menghasilkan penyerupaan penuh dalam kematian Kristus. Dengan jalan demikianlah kematian Kristus akan menjadi satu model atau pola bagi peremukan kita. Kemudian, dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat menerapkan Kristus pada setiap keperluan kita. Jika kita memerlukan kekuatan, Dia akan menjadi kekuatan kita. Jika kita memerlukan kesabaran, Dia sendiri akan menjadi kesabaran kita. Itulah artinya mengenal Kristus, mengalami Dia, dan menikmati Dia.

Dalam 3:10 Paulus memakai ungkapan “menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa Paulus ingin membuat kematian Kristus sebagai suatu cetakan hidupnya. Kematian Kristus merupakan satu cetakan yang kepadanya kita dibentuk menjadi serupa dengan kematian-Nya itu, laksana adonan ditaruh ke dalam cetakan kue dan diserupakan dengannya. Paulus senantiasa menempuh hidup tersalib, suatu hidup di bawah salib, seperti yang Kristus lakukan dalam hidup insani-Nya. Melalui hidup yang demikian kuasa kebangkitan Kristus dialami dan diekspresikan. Cetakan kematian Kristus mengacu kepada pengalaman Kristus yang terus-menerus mematikan hayat insani-Nya, agar Ia dapat hidup dengan hayat Allah (Yoh. 6:57). Hidup kita harus diserupakan dengan cetakan semacam ini melalui kematian kita terhadap hayat insani kita untuk menempuh hidup yang ilahi. Diserupakan dengan kematian Kristus adalah syarat untuk mengenal dan mengalami Dia, kuasa kebangkitan-Nya, dan persekutuan penderitaan-Nya.

Kita harus menjadi “adonan” dalam kehidupan sehari-hari kita, yang diserupakan dengan cetakan kematian Kristus. Jika kita mengizinkan keadaan sekitar kita menekan kita ke dalam cetakan ini, maka kehidupan sehari-hari kita akan tercetak dalam kematian Kristus. Inilah konsepsi Paulus ketika ia mengatakan tentang diserupakan dengan kematian Kristus.

MEMPERHIDUPKAN HAYAT ILAHI

MELALUI HAYAT INSANI

Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Dia menempuh kehidupan yang tersalib. Kristus memiliki dua hayat: hayat ilahi dan hayat insani. Allah berkehendak agar manusia Yesus ini memperhidupkan hayat ilahi melalui hayat insani-Nya. Allah tidak menghendaki Dia memperhidupkan hayat insani semata. Sebaliknya, Allah berkehendak agar Tuhan Yesus memperhidupkan hayat ilahi melalui saluran hayat insani. Kehidupan semacam ini dapat diilustrasikan dengan apa yang terjadi ketika sebuah carang dari satu pohon diokulasi ke pohon lain. Carang yang telah diokulasi ke suatu pohon lain tidak dapat memperhidupkan hayatnya sendiri, sebaliknya ia akan memperhidupkan hayat pohon yang kepadanya ia diokulasi. Ini berarti, hayat pohon itu mengalir keluar melalui carang yang telah diokulasikan kepadanya itu.

Ketika Tuhan Yesus hidup di bumi, Dia selalu mematikan hayat insani-Nya agar hayat ilahi yang ada dalam-Nya dapat diperhidupkan. Inilah pola kematian Kristus. Dalam pandangan manusia, Tuhan Yesus disalibkan pada akhir ministri-Nya, tetapi, dalam pandangan Allah, Dia telah disalibkan sepanjang hidup-Nya di bumi. Ini terbukti melalui fakta bahwa Dia telah dibaptiskan sejak Dia mulai melakukan pelayanan, sebagai satu petunjuk betapa Dia telah meletakkan diri-Nya sendiri ke dalam maut. Pembaptisan Tuhan Yesus oleh Yohanes menunjukkan bahwa Dia menempuh kehidupan insani-Nya di bawah kuasa pembunuhan salib. Dalam seumur hidup-Nya, hayat insani telah disalibkan, agar hayat ilahi dapat diperhidupkan. Alangkah ajaibnya kehidupan yang Tuhan Yesus tempuh!

Kehidupan yang ajaib ini menyiratkan pola kematian Kristus. Menurut pola ini, Kristus senantiasa meletakkan hayat insani-Nya ke dalam maut, agar hayat ilahi-Nya dapat mengalir keluar. Inilah cetakan hayat Kristus dan kematian Kristus.

Tidak diragukan bahwa hayat insani Tuhan Yesus pasti sangat indah. Tetapi bahkan hayat insani yang seindah itu pun harus dimatikan agar hayat ilahi dapat dibebaskan. Perhatikanlah fakta bahwa hayat insani Tuhan dimatikan bukan karena hayat tersebut ada kesalahannya, melainkan supaya hayat ilahi dapat diperhidupkan. Inilah alasan keharusan hayat insani Tuhan ditolak, dihancurkan, dan diletakkan ke dalam maut. Hari ini prinsipnya sama bagi kita. Sebagai orang-orang yang percaya kepada Kristus dan telah dilahirkan kembali oleh Roh, kita memiliki hayat insani dan ilahi. Tidak peduli berapa baiknya hayat insani kita, jika kita ingin memperhidupkan hayat ilahi, kita harus mematikannya.

Namun, kebanyakan orang Kristen mengira bahwa yang perlu dimatikan hanya unsur-unsur negatif dari hayat insani. Menurut pengertian mereka, seseorang tidak perlu mematikan hayat insaninya jika setiap aspek hayat insaninya itu baik. Pengertian demikian ini keliru. Setiap aspek dari hayat insani, baik maupun buruk, harus dimatikan agar hayat ilahi dapat dibebaskan. Ini berarti unsur-unsur hayat insani seperti etika China atau diplomasi Inggris sekalipun harus dimatikan. Asalkan itu berasal dari hayat insani, harus dimatikan, agar hayat ilahi dapat diperhidupkan. Setiap hari kita harus menempuh kehidupan yang tersalib, yaitu kehidupan yang di dalamnya hayat insani selalu dimatikan, agar hayat ilahi mendapat kesempatan untuk diperhidupkan. Inilah arti menjadi serupa dengan kematian Kristus.

Jangan mengira seorang Kristen menjadi serupa dengan kematian Kristus hanya pada waktu ia mati sahid. Tidak, menjadi serupa dengan kematian Kristus seharusnya menjadi pengalaman kita dari hari ke hari. Ketika kita berbicara dengan suami atau istri kita, dengan orang tua, dengan anak-anak kita, atau dengan orang-orang di sekitar kita di tempat kerja atau di sekolah, kita harus meletakkan hayat alamiah kita ke dalam maut dan tidak hidup menurut hayat itu. Jika kita mematikan hayat alamiah kita, kita akan merasa bahwa kita memiliki hayat lain, hayat ilahi di batin kita. Begitu hayat alamiah luaran kita dimatikan, maka hayat ilahi batiniah akan dibebaskan. Demikian, dalam pengalaman kita akan menjadi serupa dengan kematian Kristus.

SATU PROBLEM YANG SERIUS

Kebanyakan orang Kristen hanya mematikan aspek-aspek negatif dari hayat alamiah mereka. Mereka memusti-kakan aspek-aspek baiknya dan berusaha melindunginya. Setiap bangsa memustikakan ciri-ciri dan filsafat nasional mereka masing-masing. Orang China mungkin membanggakan diri mereka atas etika-etika filsafat mereka, sedangkan orang Amerika mungkin membanggakan keterusterangan dan keterbukaan mereka. Hampir tidak ada orang Kristen yang mau membuang ciri-ciri suku bangsa mereka guna memperhidupkan hayat ilahi. Walau kita mungkin mau mematikan banyak hal yang lain, tetapi kita mempertahankan ciri-ciri suku bangsa kita sebagai mustika yang tidak ternilai. Jika kita tidak memustikakan ciri-ciri ini secara sadar, mungkin kita memustikakannya di bawah sadar. Akibatnya, unsur dasar dari hayat alamiah kita tidak dimatikan. Unsur ini kemudian menjadi batu besar yang menghambat terbebaskannya kuasa kebangkitan Kristus dari batin kita.

Memustikakan sebagian dari hayat alamiah kita akan menciptakan satu problem yang serius dalam hal mengalami Kristus. Kita tidak mau membiarkan bagian tertentu dari diri kita diletakkan ke dalam maut dan menjadi serupa dengan kematian Kristus. Karena itu, bagian dari hayat alamiah ini bercokol terus sebagai satu gangguan terhadap pembebasan hayat ilahi. Itulah alasannya, setelah kita menuntut Tuhan dan mengalami Dia bertahun-tahun lamanya, kita mencapai suatu tahap di mana kita merasa diri kita berhenti dan tidak dapat maju lagi. Pada tahap awal hidup kristiani kita, mungkin kita telah bertumbuh agak pesat, tetapi karena masih ada “batu karang” ciri-ciri suku bangsa kita dalam batin kita, maka sekarang pertumbuhan hayat kita menjadi terhenti. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi bahwa situasi kita memang demikian.

Ada orang-orang kudus yang cukup lama dihentikan oleh “batu-batu karang” ini. Tahun demi tahun telah berlalu, tetapi mereka tetap tidak berubah. Mereka tidak meng-alami kemajuan rohani sedikit pun. Alasan kekurangan ini ialah mereka tidak mematikan ciri-ciri suku bangsa mereka dan tidak menganggapnya sampah. Orang-orang kudus ini mungkin mau menganggap hal-hal lainnya sebagai sampah, tetapi tidak menganggap ciri-ciri suku bangsa mereka demikian. Ada orang-orang yang menyatakan bahwa mereka menganggap segalanya sampah, tetapi setidak-tidaknya hal yang satu ini tidak, dan masih tersembunyi di batin mereka. Semoga Tuhan menerangi kita, agar kita nampak kekurangan kita dan alasan kekurangan tersebut.

Penyebab kekurangan kemajuan kita ialah kita tidak menjadi serupa dengan kematian Kristus secara penuh. Beberapa tahun yang lalu mungkin Anda lebih banyak menjadi serupa dengan kematian Kristus daripada hari ini. Karena Anda tidak ada kemajuan dalam menjadi serupa dengan kematian Kristus, maka pertumbuhan hayat Anda telah berhenti, dan pengalaman Anda atas kuasa kebangkitan Kristus menjadi sangat terbatas. Hal inilah yang menghambat Anda untuk mengalami Kristus dengan lebih jauh dan lebih tinggi. Karena itu, Anda tidak dapat mengatakan pengalaman-pengalaman yang mutakhir, malah berusaha hidup dengan pengalaman-pengalaman Anda yang lampau, dan mengisahkannya berulang-ulang.

MELEWATI PROSES DALAM KEBANGKITAN

Dalam ayat 11 Paulus mengatakan selanjutnya, “Supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan (yang unggul) dari antara orang mati.” “Beroleh” berarti mencapai. Untuk mendapat pahala, kita harus berlari dalam perlombaan dan menang (1Kor. 9:24-26; 2Tim. 4:7-8).

Kebangkitan yang unggul dari antara orang mati ditujukan kepada kebangkitan yang luar biasa, kebangkitan ekstra, yang akan menjadi hadiah bagi kaum saleh yang menang. Semua orang beriman yang telah mati dalam Kristus akan berbagian dalam kebangkitan dari antara orang mati pada saat kedatangan Tuhan (1Tes. 4:16; 1Kor. 15:52). Tetapi orang kudus pemenang akan menikmati suatu bagian ekstra dan luar biasa dari kebangkitan itu. Itulah “kebangkitan yang lebih baik” yang disebut dalam Ibrani 11:35. Kebangkitan yang lebih baik bukan hanya “kebangkitan yang pertama” (Why. 20:4-6), “kebangkitan hayat” (Yoh. 5:28-29), tetapi juga kebangkitan luar biasa, kebangkitan ekstra, kebangkitan yang di dalamnya para pemenang Tuhan akan menerima pahala kerajaan. Inilah yang dituntut oleh Rasul Paulus.

Mencapai kebangkitan yang luar biasa menunjukkan bahwa seluruh diri kita secara berangsur-angsur dan terus-menerus dibangkitkan. Mula-mula Allah membangkitkan roh kita yang mati (Ef. 2:5-6); lalu dari roh kita Ia maju untuk membangkitkan jiwa kita (Rm. 8:6) dan tubuh fana kita (Rm. 8:11), sampai seluruh diri kita — roh, jiwa, dan tubuh — dibangkitkan sepenuhnya dari diri kita yang usang oleh dan dengan hayat-Nya. Ini adalah suatu proses dalam hayat yang harus kita lalui dan suatu perlombaan lari yang harus kita tempuh, sampai kita mencapai kebangkitan yang luar biasa sebagai pahala. Karena itu, kebangkitan yang luar biasa seharusnya menjadi sasaran dan tujuan hidup kita sebagai orang Kristen. Kita dapat mencapai sasaran ini hanya dengan cara diserupakan dengan kematian Kristus, dengan menempuh hidup tersalib. Dalam kematian Kristus, kita dalam kebangkitan, melewati proses dari ciptaan lama kepada ciptaan baru.

?