MENUNTUT MENGENAL KRISTUS, KUASA KEBANGKITANNYA, DAN PERSEKUTUAN PENDERITAANNYA
Pembacaan Alkitab:
Flp. 3:8-11; Ef. 1:19-20; Rm. 1:4; Mat. 20:22-23; Kol. 1:24; 2 Tim. 2:11
Jika kita ingin mengerti Filipi 3:8-11, kita harus memperhatikan cara penyusunan ayat-ayat ini. Dalam bahasa Yunani ayat 8-11 merupakan sebuah kalimat panjang. Dalam ayat 10 terdapat kata “mengenal”, dan kata ini berkaitan dengan frase “memperoleh Kristus dan ditemukan”. Ini menunjukkan bahwa mengenal Kristus merupakan satu akibat dari ditemukan orang di dalam Dia. Semua kata yang tercantum di antara “ditemukan di dalam Dia” dalam ayat 9 dan “mengenal Dia” dalam ayat 10 melukiskan dalam keadaan apakah Paulus ingin ditemukan orang di dalam Kristus. Dia rela melepaskan segalanya dan menganggapnya sampah, supaya ia memperoleh Kristus dan ditemukan di dalam Dia. Menurut konsepsi Paulus, jika kita ingin mengenal Kristus, pertama-tama kita harus ditemukan di dalam Dia. Tidak hanya demikian, untuk ditemukan di dalam-Nya, kita perlu menganggap semuanya rugi karena kemustikaan pengenalan akan Kristus dan kemudian melepaskan semuanya dan menganggapnya sampah. Hanya bila kita memiliki kemustikaan pengenalan akan Kristus, visi tentang Kristus yang mustika dan yang nilai-Nya melampaui segalanya, barulah kita dapat dengan rela melepaskan segala sesuatu dan menganggapnya sampah. Lalu kita akan memperoleh Kristus dan ditemukan di dalam-Nya. Kita akan menjadi orang-orang yang hidup di dalam Kristus dan ditemukan oleh orang di dalam Kristus. Jika kita ditemukan orang di dalam Dia, kita pasti akan mengenal Dia.
WAHYU DAN PENGALAMAN
Paulus hidup dalam suatu keadaan bukan dengan kebenarannya sendiri, melainkan dengan kebenaran yang berasal dari Allah, untuk mengenal (mengalami) Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan penderitaan-Nya. Untuk mendapatkan kemustikaan pengenalan akan Kristus dalam ayat 8, kita perlu memiliki wahyu. Tetapi untuk mengenal Dia yang disebutkan dalam ayat 10, kita perlu pengalaman, yaitu memiliki pengenalan akan Kristus dalam pengalaman, mengalami Kristus dalam pengenalan yang penuh akan Dia. Mula-mula Paulus menerima wahyu akan Kristus, lalu ia menuntut pengalaman akan Kristus, yaitu mengenal dan menikmati Kristus dalam pengalaman.
Setelah kita menerima kemustikaan pengenalan akan Kristus, barulah kita rela melepaskan segalanya dan menganggapnya sampah supaya memperoleh Kristus dan ditemukan di dalam Dia. Hasilnya, kita akan mengenal Kristus dalam pengalaman. Sebab itu, ayat 9 berasal dari ayat 8, dan ayat 10 berasal dari ayat 9. Jika kita tidak memiliki kemustikaan pengenalan akan Kristus (ayat 8), kita tidak akan ditemukan di dalam Kristus, sebab bila kita memiliki kemustikaan pengenalan akan Kristus, barulah kita mau melepaskan segalanya dan menganggapnya sampah, supaya memperoleh Kristus dan ditemukan di dalam Dia. Kemudian, begitu kita sudah memperoleh Kristus dan ditemukan di dalam Kristus, kita akan mengenal Dia, yakni kita akan menikmati Dia dan mengalami Dia.
Memperoleh Kristus adalah satu hal, dan mengalami Dia itu hal lain. Kita boleh mengilustrasikan perbedaan ini dengan perbedaan antara membeli barang-barang dan memakan makanan yang telah kita beli dan yang telah dipersiapkan. Memperoleh Kristus dapat diumpamakan dengan membeli barang-barang, dan mengalami Kristus dapat diumpamakan dengan memakan makanan yang telah kita beli dan telah kita masak. Akan tetapi, sebelum kita membeli barang, kita harus memiliki kemustikaan pengenalan akan barang-barang itu lebih dulu. Sebelum kita membeli sesuatu, kita lebih dulu tertarik oleh kemustikaan pengenalan akan barang-barang itu. Karena itu, pertama-tama kita harus memiliki kemustikaan pengenalan akan barang-barang itu, kemudian kita memperolehnya melalui membelinya, dan terakhir kita baru menikmati makanan itu melalui memakannya. Demikian pula, pertama-tama Paulus menerima kemustikaan pengenalan akan Kristus. Kemudian ia membayar harga untuk memperoleh Kristus dan ditemukan di dalam Dia, dan terakhir ia mengalami dan menikmati Dia. Paulus paham bahwa hasil dari memperoleh Kristus dan ditemukan di dalam Dia tidak lain ialah mengenal Dia, menikmati, dan mengalami Dia.
PENGENALAN YANG LEBIH TINGGI
AKAN KRISTUS
Pengalaman kita akan Kristus tidak dapat melampaui kemustikaan pengenalan kita akan Kristus. Sebaliknya, kemustikaan pengenalan kita akan Kristus selalu melampaui pengalaman kita akan Kristus. Tidak pernah terjadi pengalaman seorang beriman akan Kristus melampaui pengenalannya akan Kristus. Jika kita tidak memiliki pengenalan akan Kristus yang lebih tinggi, tidak mungkin kita mempunyai satu pengalaman yang lebih tinggi akan Kristus. Itulah sebabnya sangatlah penting bahwa kita tidak dibatasi oleh pengenalan kita yang lampau akan Kristus.
Mungkin Anda mengenal Kristus sebagai sukacita, damai sejahtera, dan perhentian. Sebelum Anda beroleh selamat, Anda tidak memiliki damai sejahtera. Tetapi, kini Anda telah menerima Tuhan, Anda telah memiliki damai sejahtera dan sukacita. Saya sama sekali tidak meremehkan aspek-aspek pengenalan akan Kristus ini. Saya benar-benar menikmati Tuhan Yesus sebagai damai sejahtera, perhentian, dan sukacitaku. Namun, kita tidak boleh merasa puas dengan pengenalan akan Kristus yang begitu terbatas, kita harus maju dalam pengenalan kita akan Dia. O, betapa kita perlu kemustikaan pengenalan akan Kristus!
Kemustikaan pengenalan akan Kristus akan menarik kita kepada Kristus dan menggerakkan kita untuk melepaskan setiap hal yang bukan Dia. Jika kita nampak kemustikaan nilai Kristus, kita tidak saja akan rela menganggap rugi hal-hal yang duniawi dan materi, bahkan budaya, agama, dan filsafat pun kita anggap rugi. Saya ulangi, kemustikaan pengenalan akan Kristus itulah yang menyebabkan kita membuang hal-hal yang lain, supaya kita dapat memperoleh Kristus dan ditemukan orang di dalam Dia.
KITA KURANG MEMPERHIDUPKAN KRISTUS
Kehidupan sehari-hari kita merupakan satu petunjuk apakah kita dan di mana kita berada dalam hal mengalami Kristus. Kita boleh jadi berbicara banyak tentang Kristus, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin tidak benar-benar berada di dalam Kristus. Sebaliknya, kita mungkin berada di dalam budaya, filsafat nasional, atau logika domestik kita. Ketika kita mengikuti sidang gereja atau berkumpul dengan orang-orang kudus, kita mungkin banyak berbicara tentang Kristus. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin hidup dalam filsafat nasional, logika domestik, atau konsepsi keluarga kita.
Setelah bertahun-tahun kita berada dalam pemulihan Tuhan, kita telah mengenal bahwa Tuhan adalah Roh yang almuhit, dan kita menjadi satu roh dengan Dia. Sekarang Tuhan adalah Roh itu yang berhuni dalam roh kita. Walaupun kita mengetahui hal ini sebagai satu doktrin, dalam kehidupan sehari-hari, kita jarang hidup dalam satu roh dengan Tuhan. Sebaliknya, kita sering hidup dalam budaya kita. Kita mungkin berdoa, “Tuhan, kami bersyukur kepada-Mu, karena Engkau adalah Roh pemberi-hayat, dan kami adalah satu roh dengan-Mu.” Namun, dari hari ke hari, kita tidak memperhidupkan Kristus saat demi saat. Kita tidak mempraktekkan menjadi satu roh dengan Dia setiap saat.
Belakangan ini Tuhan telah menunjukkan kepada saya kekurangan saya dalam memperhidupkan Kristus. Kebanyakan pengakuan dosa saya kepada-Nya berkaitan dengan kekurangan ini. Hari demi hari, saya menggunakan sangat sedikit waktu untuk hidup dalam satu roh dengan Tuhan. Kebanyakan waktu saya pakai untuk hidup dalam sesuatu yang bukan Kristus, yaitu dalam banyak hal yang baik yang bukan Kristus sendiri. Itulah situasi kita, maka kita semua perlu belas kasihan Tuhan.
Baik kita maupun Tuhan telah mencapai titik krisis. Situasi krisis jelas ada di tengah-tengah kita hari ini. Memang kita telah nampak visi bahwa Kristus adalah hayat kita. Dia adalah Roh pemberi-hayat, kita menjadi satu roh dengan Dia, dan kita membicarakan banyak tentang Kristus. Tetapi, dalam kehidupan sehari-hari kita yang riil, kita tidak memperhidupkan Kristus setiap saat. Kita tidak secara terus-menerus ditemukan orang di dalam Kristus. Kita mungkin sangat mengenal Filipi 3:7-10, tetapi berapa banyak Kristus yang sudah kita peroleh, berapa lama kita ditemukan di dalam Kristus, dan berapa banyak pula kita mengenal Kristus dalam pengalaman kita? Karena kebutuhan kita yang mendesak terhadap pengalaman akan Kristus ini, maka beban saya dalam berita-berita ini bukan ingin menyajikan ajaran-ajaran Alkitab, melainkan melayankan Kristus kepada orang kudus agar mereka dapat bertumbuh dalam hayat ilahi yang adalah Kristus sendiri, dan maju dalam pengalaman dan kenikmatan akan Kristus.
MENGALAMI KRISTUS
DALAM KUASA KEBANGKITAN
Dalam ayat 10 Paulus berkata, “Mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Menurut ayat ini, Paulus tidak saja ingin mengenal Kristus, juga ingin mengenal kuasa kebangkitan Kristus dan persekutuan dalam penderitaan-Nya. Kuasa kebangkitan Kristus adalah hayat kebangkitan-Nya yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati (Ef. 1:19-20). Realitas dari kuasa kebangkitan Kristus adalah Roh itu (Rm. 1:4). Untuk mengenal, mengalami kuasa ini, seseorang perlu diidentikkan dengan kematian Kristus dan diserupakan dengannya. Kematian adalah dasar dari kebangkitan. Untuk mengalami kuasa kebangkitan Kristus, kita perlu menempuh suatu hidup yang tersalib, seperti Dia. Penyerupaan kita dengan kematian-Nya memberikan dasar kepada kuasa kebangkitan-Nya untuk bangkit agar hayat ilahi-Nya dapat dinyatakan dalam kita.
“Persekutuan dalam penderitaan-Nya” berarti berbagian dalam penderitaan Kristus (Mat. 20:22-23; Kol. 1:24), suatu keadaan yang diperlukan untuk mengalami kuasa kebangkitan-Nya (2Tim. 2:11) melalui diserupakan dengan kematian-Nya. Paulus menuntut untuk mengenal dan mengalami bukan hanya keunggulan diri Kristus, melainkan juga kuasa hayat dari kebangkitan-Nya dan mengambil bagian dalam penderitaan-Nya. Bagi Kristus, penderitaan dan kematian datang lebih dulu, diikuti oleh kebangkitan-Nya. Bagi kita, kuasa kebangkitan-Nya datang lebih dulu, diikuti oleh partisipasi dalam penderitaan-Nya dan penyerupaan dengan kematian-Nya. Mula-mula kita menerima kuasa kebangkitan-Nya, lalu dengan kuasa ini kita dapat berpartisipasi dalam penderitaan-Nya dan menempuh suatu hidup tersalib dalam keserupaan dengan kematian-Nya. Penderitaan yang demikian terutama untuk menghasilkan dan membangun Tubuh Kristus.
Menjadi serupa dengan kematian Kristus merupakan dasar pengalaman akan Kristus. Jika kita tidak diserupakan dengan kematian Kristus, kita tidak mempunyai dasar untuk mengalami Kristus. Untuk mengalami Kristus, kita harus diserupakan dengan kematian-Nya. Tetapi untuk menjadi serupa dengan kematian Kristus, kita harus mem-punyai persekutuan dalam penderitaan-Nya. Melalui berpartisipasi dalam penderitaan Kristus, kita akan dibawa ke dalam satu posisi untuk mengalami kuasa kebangkitan-Nya. Kemudian, ketika kita mengalami kuasa kebangkitan Kristus, kita akan mengenal Dia.
Dalam Filipi 3 urutannya adalah: mengenal Kristus, mengenal kuasa kebangkitan Kristus, mengenal persekutuan dalam penderitaan-Nya, dan menjadi serupa dengan kematian-Nya. Akan tetapi, dalam pengalaman rohani kita, urutannya berlawanan. Setiap hari kita diserupakan dengan kematian Kristus, kemudian kita berpartisipasi dalam penderitaan-Nya, mengenal kuasa kebangkitan-Nya, dan melalui mengenal kuasa kebangkitan, kita mengenal Kristus sendiri. Menurut urutan Paulus, pertama-tama kita menerima kemustikaan pengenalan akan Kristus melalui nampak visi Kristus; kedua, kita menganggap segalanya sampah; ketiga, kita memperoleh Kristus dan ditemukan di dalam Dia; dan keempat, kita mengenal Kristus, mengalami Dia.
Untuk mengalami Kristus, kita harus berada dalam kuasa kebangkitan. Kita tidak dapat berada dalam hayat alamiah. Semakin kita mengenal kuasa kebangkitan Kristus, kita akan semakin berpartisipasi dalam penderitaan Kristus, dan karena itu kita mempunyai persekutuan dalam penderitaan-Nya. Jika kita mengalami persekutuan dalam penderitaan Kristus, kita akan menjadi serupa dengan kematian-Nya. Bila kita menjadi serupa dengan kematian Kristus, kita akan dibawa ke dalam kuasa kebangkitan-Nya. Dengan kuasa kebangkitan inilah kita mengenal dan mengalami Kristus.
KEPERLUAN YANG MENDESAK
AKAN VISI KRISTUS
Sangat penting sekali kita nampak visi Kristus, dan karena itu kita akan menerima kemustikaan pengenalan akan Kristus. Saya dapat bersaksi, melalui menyampaikan begitu banyak berita tentang Kristus dari Kitab Kolose, saya telah mendapat bantuan besar demi memiliki kemustikaan pengenalan akan Kristus. Pengenalan akan Kristus yang tercakup dalam kitab ini telah memberi saya kesan yang sangat dalam. Menurut Kitab Kolose, Kristus adalah bagian orang kudus, gambar Allah yang tidak kelihatan, yang Sulung dari segala yang diciptakan, Kepala Tubuh, dan yang Sulung dari antara orang mati. Dalam Kitab Kolose kita memiliki satu wahyu tentang Kristus yang almuhit dan alwasi.
Jika kita telah memperoleh kemustikaan pengenalan akan Kristus dari Kitab Kolose, kita akan dapat bersaksi bahwa Kristus bukan hanya damai sejahtera dan sukacita, tetapi Dia pun bagian orang kudus, rahasia Allah, dan perwujudan kepenuhan ke-Allahan. Memang, Kitab Kolose mewahyukan Kristus sebagai damai sejahtera kita, tetapi dalam kitab ini damai sejahtera tidak diwahyukan secara lazim. Sebaliknya, dalam Kolose 3:15 kita nampak bahwa damai sejahtera Kristus menjadi juri dalam hati kita. Hanya mengatakan Kristus adalah damai sejahtera saja tidak menuntut banyak kemustikaan pengenalan akan Kristus. Namun, untuk mengenal Kristus sebagai damai sejahtera yang menjadi juri dalam hati kita, benar-benar memerlukan kemustikaan pengenalan akan Dia.
Dalam Filipi 3, Paulus menggunakan ungkapan-ungkapan yang khusus. Dalam pasal ini Paulus tidak mengatakan Kristus adalah sukacita, damai sejahtera, atau perhentian kita. Sebaliknya, ia membicarakan tentang memperoleh Kristus, dan ditemukan di dalam Dia; tentang mengenal Kristus, kuasa kebangkitan-Nya, dan persekutuan dalam penderitaan Kristus; dan tentang menjadi serupa dengan kematian-Nya. Pertama-tama, kita perlu nampak semua hal ini. Kemudian kita harus berdoa mohon Tuhan mengaruniai kita anugerah untuk mengalami Dia.
Banyak orang Kristen tidak mengenal Kristus yang diwahyukan dalam Kitab Kolose dan Filipi. Mereka mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan Penebus mereka, juga sebagai sukacita, damai sejahtera, dan perhentian mereka, tetapi mereka belum mengenal Dia sebagai bagian orang kudus, gambar Allah, yang Sulung dari segala yang diciptakan, atau yang Sulung dari antara orang mati. O, kita semua memerlukan kemustikaan pengenalan akan Kristus!
Mengenal Kristus dalam semua aspek ini sebenarnya berarti mengalami dan menikmati Dia. Kita perlu menikmati persekutuan dalam penderitaan Kristus, agar kita dapat menjadi serupa dengan kematian-Nya dan mengenal kuasa kebangkitan-Nya. Untuk ini kita harus melupakan hal-hal yang di belakang dan mengarahkan diri kepada hal-hal yang di depan (ayat 13). Mudah-mudahan kita semua melupakan hal-hal yang di belakang dan maju kepada sesuatu yang lebih tinggi, lebih dalam, dan lebih rahasia tentang Kristus.
LEBIH BANYAK PENGENALAN
UNTUK LEBIH BANYAK PENGALAMAN
Dalam ayat 7-11 Paulus membawa kita makin lama makin tinggi. Semua ayat ini tidak berada pada tingkat yang sama, tetapi ibarat anak tangga. Tiap ayat membawa kita ke tempat yang lebih tinggi hingga kita mencapai puncaknya, yaitu ayat 11. Saya menganjuri orang kudus merenungkan butir-butir dalam ayat-ayat ini dengan seksama dan rinci. Kita perlu merenungkan ayat-ayat ini dengan banyak berdoa dan doa-baca, agar pengenalan kita makin bertambah. Kita tidak boleh puas dengan memiliki pengetahuan dasar dari hal-hal rohani. Kita harus mempelajari apakah kemustikaan pengenalan akan Kristus dan apakah artinya menganggap segalanya sampah; apakah artinya memperoleh Kristus dan ditemukan di dalam Dia; apakah pula artinya mengenal Dia, kuasa kebangkitan-Nya, dan persekutuan dalam penderitaan-Nya. Kita juga perlu mengerti apa artinya menjadi serupa dengan kematian Kristus. Kita perlu mohon Tuhan memperlihatkan kepada kita segala hal ini. Kita perlu bertanya kepada-Nya tentang tiap hal dalam ayat-ayat ini. Karena hal-hal ini sangat dalam, kita tidak dapat memahaminya dengan cepat atau mudah.
Janganlah kita merasa puas terus-menerus menjadi orang Kristen yang dangkal. Kitab Filipi bukan tulisan tingkat sekolah dasar, melainkan sejilid kitab “sekolah tingkat sarjana” dalam pengalaman rohani. Karena itu, kita tidak boleh puas hanya memiliki pengenalan yang umum terhadap kitab ini. Sebaliknya, kita harus mengenal dengan baik ungkapan-ungkapan khusus yang dipakai Paulus dalam Surat Kiriman ini. Sebelum kita bisa memiliki pengalaman, kita harus mengenal dengan baik ungkapan-ungkapan Paulus tersebut. Hal ini akan membawa kita keluar dari keusangan dan kelaziman dalam membicarakan Kristus. Semoga Tuhan mengaruniakan belas kasihan kepada kita, agar kita memiliki pengenalan lebih banyak akan Kristus dan supaya kita memiliki pengalaman lebih banyak akan Dia.