TIGA ASPEK POSITIF DARI KAUM BERIMAN ROHANI BERLAWANAN DENGAN TIGA ASPEK NEGATIF
DARI PENGANUT AGAMA YAHUDI
YANG AGAMIS
Pembacaan Alkitab: Flp. 3:1-6
Kitab Filipi tidak ditulis dengan susunan logis menurut doktrin. Karena itu, sangat sulit memisahkannya menjadi bagian-bagian. Kita bahkan heran mengapa Paulus, setelah menyinggung persekutuan timbal balik antara dia dengan kaum beriman Filipi pada pasal 2, lalu melanjutkannya dengan masalah lain yang disebut dengan kata “akhirnya”. Saya percaya bahwa alasan perubahan judul ini terletak pada fakta sangat terganggunya Paulus oleh aktivitas para penganut agama Yahudi. Dia tahu bahwa para penganut agama Yahudi selalu merusuhi gereja, merusak hidup ge-reja, dan mencoba mengalihkan orang kudus dari iman yang mereka miliki.
Kitab Filipi ditulis pada waktu Paulus menerima suplai materi dari kaum beriman di Filipi. Mereka telah mengirimkan suplai ini melalui Epafroditus guna memenuhi kebutuhan Paulus selama dia berada di penjara. Setelah menerima pemberian mereka, Paulus lalu menulis surat kiriman ini kepada mereka. Seperti telah kita tunjukkan, dalam dua pasal pertama kita nampak perhatian kaum beriman terhadap Paulus dan perhatian Paulus terhadap orang kudus. Menurut 1:7, Paulus memahami bahwa kaum beriman di Filipi memiliki dia dalam hati mereka dan mereka mengambil bagian atas anugerahnya. Paulus berkata selanjutnya bahwa ia merindukan mereka “dengan kasih mesra Kristus Yesus” (1:8). Jadi, di sini terdapat suatu perhatian timbal balik antara rasul dengan kaum beriman.
Hingga akhir pasal 2, Paulus menyinggung tentang mengirim Timotius dan Epafroditus ke Filipi. Catatan tentang pengiriman sekerja untuk mengunjungi orang kudus biasanya tercantum pada bagian terakhir dari Surat-surat Kiriman Paulus. Hal ini dapat menunjukkan bahwa Paulus berniat menutup Surat Kiriman ini pada akhir pasal 2. Akan tetapi, Paulus jelas berbeban untuk menulis lebih banyak. Sesudah ia menyinggung Timotius dan Epafroditus, bebannya masih belum dapat dilepaskan. Dalam lubuk hatinya ia masih merasa terganggu oleh para penganut agama Yahudi. Saya percaya inilah alasan Paulus mengubah judul pada permulaan pasal 3.
I. BERSUKACITA DALAM TUHAN
Dalam 3:1 Paulus berkata, “Akhirnya, Saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu.” Kata “berat” di sini dalam bahasa aslinya juga berarti melelahkan, bertele-tele, atau menyulitkan. Paulus tidak merasa berat atau lelah untuk menuliskan hal-hal ini lagi kepada orang kudus.
Di sini Paulus menyuruh orang kudus bersukacita dalam Tuhan. Bersukacita dalam Tuhan merupakan suatu perlindungan, suatu pengamanan. Paulus menulis surat menyuruh orang kudus bersukacita dalam Tuhan, ini adalah kepastian atau kemantapan bagi mereka. Pemakaian kata kemantapan ini menunjukkan kaitan antara 3:1 dengan 3:2. Di Filipi pasti ada semacam situasi yang perlu perlindungan, perlu semacam pengamanan. Situasi yang terdapat dalam pikiran Paulus adalah gangguan yang ditimbulkan oleh para penganut agama Yahudi. Sebab itu, setelah menyuruh kaum beriman bersukacita dalam Tuhan, ia lalu menyuruh mereka berhati-hati terhadap anjing-anjing, pekerja-pekerja yang jahat, dan penyunat-penyunat palsu (ayat 2). Istilah hati-hatilah di sini dalam bahasa aslinya berarti selalu memasang mata yang waspada. Di satu pihak, rasul menasihati orang-orang Filipi untuk bersukacita di dalam Tuhan; di pihak lain, ia memperingatkan mereka untuk selalu memasang mata yang waspada terhadap para penganut agama Yahudi.
II. TIGA ASPEK NEGATIF DARI PARA PENGANUT
AGAMA YAHUDI YANG AGAMIS
Dalam menggunakan istilah “anjing-anjing” Paulus bersikap sangat keras dan tegas. Jika kita hari ini menggunakan ungkapan sedemikian, kita pasti akan disalahkan orang. Akan tetapi, Paulus bukan orang pertama yang begitu berani dalam ucapannya. Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus menyebut orang-orang Farisi itu keturunan ular beludak (Mat. 3:7; 12:34). Seperti halnya Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus, Paulus mengutarakan fakta dengan jujur dan terus terang. Orang-orang Farisi benar-benar keturunan ular beludak, dan para penganut agama Yahudi benar-benar “anjing”.
Dalam 3:2 Paulus berkata, “Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat itu.” Karena tidak ada kata sambung yang dipakai di antara ketiga klausa ini, kata-kata ini pasti mengacu kepada orang-orang yang berkelas sama. Anjing itu binatang najis (Im. 11:27), pekerja-pekerja yang jahat adalah jahat, dan penyunat-penyunat yang palsu adalah mereka yang patut dicela. (Penyunat-penyunat palsu berarti mutilasi, pemotongan, yaitu suatu istilah yang bersifat menghina untuk penyunatan). Anjing-anjing yang dimaksud di sini adalah para penganut agama Yahudi. Dalam sifatnya para penganut agama Yahudi itu adalah anjing-anjing najis; dalam tingkah lakunya, mereka adalah pekerja-pekerja jahat; dan dalam keagamaan mereka adalah penyunat-penyunat palsu, orang-orang yang memalukan. Dalam kitab yang membahas pengalaman dan kenikmatan akan Kristus seperti ini, rasul memperingatkan kaum beriman kafir agar waspada terhadap orang-orang yang najis, jahat, dan hina itu.
Dalam mengatakan anjing-anjing, pekerja-pekerja yang jahat, penyunat-penyunat palsu, Paulus menyingkapkan keaiban para penganut agama Yahudi. Dalam sifatnya, mereka adalah anjing-anjing; dalam perilakunya, mereka jahat; dan dalam agama, mereka adalah yang terhina. Meskipun mereka membanggakan agama mereka, tetapi Paulus menganggapnya sebagai perkara yang memalukan dan aib. Dia menghendaki kaum beriman berhati-hati terhadap anjing-anjing, pekerja-pekerja yang jahat, dan penyunat-penyunat palsu itu.
III. TIGA ASPEK POSITIF
DARI KAUM BERIMAN YANG ROHANI
Dalam ayat 3 Paulus meneruskan, “Sebab kitalah orang-orang bersunat yang beribadah oleh Roh Allah dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak mengandalkan daging” (Tl.). Orang-orang yang bersunat di sini adalah kaum ber-iman Perjanjian Baru, yang sungguh-sungguh telah disunat oleh penyaliban Kristus. Mereka mutlak berbeda dari para penganut agama Yahudi. Mereka melayani dengan Roh Allah sebagai para imam, bukan dengan peraturan hukum Taurat; mereka bermegah dalam Kristus, bukan dalam hukum Taurat; dan mereka tidak mengandalkan daging, melainkan pada Roh itu.
Dalam ayat 2 dan 3 terdapat suatu perbedaan rangkap tiga: kaum beriman yang melayani dengan Roh Allah, sangat berbeda dengan anjing-anjing; kaum beriman yang bermegah dalam Kristus, berbeda dengan pekerja-pekerja jahat; dan kaum beriman yang tidak mengandalkan daging, berbeda dengan penyunat-penyunat palsu. Para penganut agama Yahudi hidup dengan sifat mereka yang jatuh, sedangkan kaum beriman dalam Kristus beribadah oleh Roh Allah. Jadi, Roh Allah berbeda dengan sifat “anjing-anjing”. Para penganut agama Yahudi melakukan perkara-perkara jahat bahkan bermegah dalam hal-hal tersebut, sedangkan kaum beriman sejati bermegah di dalam Kristus. Mereka bermegah dan bersukacita di dalam Dia. Kata bermegah yang dipakai di sini tidak saja mengisyaratkan kemegahan, tetapi juga sukacita dan kebanggaan. Kemegahan, kebanggaan, dan sukacita kita bukan dalam perilaku lahiriah, bukan dalam tingkah laku atau perbuatan, melainkan dalam Kristus semata. Para penganut agama Yahudi mengandalkan daging, sedangkan kaum beriman sejati dalam Kristus tidak mengandalkan daging.
“Daging” dalam 3:3 mencakup segala apa adanya kita dan segala milik kita dalam manusia alamiah kita. Fakta bahwa para penganut agama Yahudi mengandalkan sunat menyatakan bahwa mereka mengandalkan daging, tidak mengandalkan Roh itu. Mereka bersandarkan pada kualitas dan kualifikasi alamiah mereka, dan tidak mengandalkan Roh itu. Mereka mengandalkan apa adanya mereka secara alamiah. Mereka bersandar pada fakta bahwa mereka adalah orang-orang Yahudi. Sebaliknya, Paulus berkata dengan tegas bahwa kita, orang-orang yang percaya kepada Kristus, tidak mengandalkan daging. Kita mutlak mengandalkan Tuhan.
Betapa kontrasnya apa yang kita nampak dalam ayat 2 dan 3! Kita beribadah oleh Roh Allah, kita bermegah di dalam Kristus, dan kita tidak mengandalkan daging, hanya mengandalkan Tuhan.
Karena kita menyangkal sifat usang kita, kita adalah orang-orang bersunat yang sejati. Penyangkalan daging adalah sunat yang sejati, yakni penanggalan daging yang sejati seperti yang diwahyukan dalam Kolose 2:11.
IV. SAULUS DARI TARSUS SEBAGAI SATU MODEL PARA PENGANUT AGAMA YAHUDI
Menurut ayat 4-6, Paulus tadinya adalah satu model dari para penganut agama Yahudi, “Sekalipun aku juga ada alasan untuk mengandalkan hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat mengandalkan pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam menaati hukum Taurat aku tidak bercacat.” Ketika Paulus dahulu berada di tengah-tengah penganut agama Yahudi, ia sangat aktif dan memiliki banyak kualifikasi yang menonjol.
A. Lebih Dapat Mengandalkan Daging
Sebagai salah seorang mantan tokoh agamawan Yahudi, Paulus punya lebih banyak alasan daripada orang lain untuk mengandalkan daging. Dalam Galatia 1:14 Paulus mengatakan, “Aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku.” Dalam pengertian yang sesungguhnya, Paulus dahulu adalah seekor “anjing” yang paling top di antara para penganut agama Yahudi.
B. Disunat pada Hari Kedelapan
Dalam ayat 5 Paulus berkata bahwa ia disunat pada hari kedelapan, hari penyunatan bagi orang Israel asli (Kej. 17:12). Disunat pada hari itu membedakan dia dari kaum Ismael (Ismael disunat tiga belas tahun setelah kelahirannya — Kej. 17:25) dan orang-orang yang pindah agama, yang disunat belakangan. Paulus adalah seorang Yahudi yang khas, bukan penganut baru. Hal ini memberinya alasan untuk bangga ketika ia bergairah sebagai penganut agama Yahudi.
C. Dari Bangsa Israel
Paulus juga dari bangsa Israel, bangsa yang dipanggil Allah, keturunan Abraham yang sesungguhnya (Rm. 11:1; 2Kor. 11:22). Dia bukanlah seorang keturunan mereka yang berpindah agama, yang diokulasi ke dalam bangsa perjanjian Allah.
D. Dari Suku Benyamin
Paulus dapat juga mengandalkan fakta bahwa ia adalah seorang dari suku Benyamin. Suku ini adalah suku yang menyenangkan dan setia, di antaranya terdapat kota kerajaan Yerusalem bersama Bait Allah (Ul. 33:12).
E. Orang Ibrani Asli
Paulus juga mengaku bahwa ia adalah seorang Ibrani asli, yakni orang Ibrani yang lahir dari orang tua Ibrani dengan nenek moyang orang Ibrani dari kedua belah pihak. Hanya orang yang demikian baru dapat mengaku dirinya orang Ibrani asli. Dia adalah seorang Ibrani yang berdarah Ibrani murni, karenanya ia dapat membanggakan diri sebagai orang Ibrani.
F. Seorang Farisi yang Menaati Hukum Taurat
Dalam ayat 5 Paulus berkata, tentang hukum Taurat, dia adalah seorang Farisi. Hukum Taurat di sini ialah hukum Taurat Musa yang dihormati oleh semua orang Yahudi ortodoks. Sebagai seorang Farisi, Paulus adalah anggota sekte yang paling ketat dalam agama Yahudi (Kis. 26:5; 23:6), sekte yang sangat bergairah bagi hukum Musa. Orang-orang Farisi membanggakan kehidupan agamis mereka yang lebih unggul, pengabdian mereka kepada Allah, dan pengetahuan mereka terhadap Alkitab.
G. Menganiaya Gereja karena Kegairahan terhadap Hukum Taurat
Karena bergairah terhadap hukum Taurat dan agama Yahudi, Paulus menganiaya gereja. Ketika Paulus berkata, “Tentang kegiatan, aku penganiaya jemaat”, itu ditujukan kepada kegairahan demi hukum Musa dan agama Yahudi (Gal. 1:14). Orang-orang Yahudi yang menganiaya gereja tentu adalah tokoh-tokoh dalam agama Yahudi. Tidak seorang pun yang dapat mengungguli mereka dalam kegairahan mereka. Paulus membanggakan diri dalam kegairahannya menganiaya gereja.
H. Tidak Bercacat dalam Hukum Taurat
Terakhir, Paulus berkata, “Tentang kebenaran dalam menaati hukum Taurat,” ia ternyata tidak bercacat. Hal ini adalah menurut penilaian manusia, dalam pandangan manusia. Dalam pandangan Allah, menurut hukum kebenaran-Nya, tidak ada daging yang tidak bercacat (Gal. 2:16).
Paulus menyodorkan daftar kualifikasi ini dengan maksud memperlihatkan kepada orang-orang Filipi bahwa mereka tidak seharusnya menaruh percaya sedikit pun kepada para penganut agama Yahudi. Dahulu Paulus adalah seorang tokoh agama Yahudi, tetapi suatu perubahan radikal terjadi pada dirinya. Sekarang ia sangat berbeda dengan keadaannya dahulu. Ini adalah satu petunjuk kuat bagi kaum beriman di Filipi untuk tidak mengikuti jejak para penganut agama Yahudi itu.
Perkataan Paulus dalam 3:1-6 juga berkaitan dengan pengalaman akan Kristus. Bila Paulus tetap seorang penganut agama Yahudi, tidak mungkin ia mengalami Kristus. Tetapi karena ia menjadi seorang yang lain, yaitu orang yang beribadah oleh Roh Allah, yang bermegah dalam Kristus Yesus, dan yang tidak mengandalkan daging, maka dapatlah ia menikmati Kristus dan mengalami-Nya dengan sangat limpah. Kita juga harus menjadi orang yang tidak mengandalkan daging, tidak mengandalkan kecakapan alamiah, tidak mengandalkan adat istiadat atau tradisi kita. Sebaliknya, kita harus menjadi orang yang beribadah kepada Allah oleh Roh, yang bermegah dalam Kristus, dan yang tidak mengandalkan daging. Jika kita adalah orang yang demikian, kita akan memiliki pengalaman sejati akan Kristus.
Walau kita bukan penganut agama Yahudi, pada prinsipnya kita mungkin serupa dengan keadaan penganut agama Yahudi itu. Sekalipun kita telah dilahirkan kembali, kita mungkin masih terus hidup dalam sifat kita yang telah jatuh, bermegah dalam apa yang kita lakukan dalam daging, dan mengandalkan kualifikasi alamiah kita. Kita telah menunjukkan bahwa dalam 3:2 anjing-anjing, pekerja-pekerja jahat, dan penyunat-penyunat palsu masing-masing ditujukan kepada sifat, perbuatan-perbuatan, dan agama yang telah jatuh itu. Bila kita terus hidup menurut sifat usang kita, bermegah dalam apa yang kita lakukan dalam diri sendiri, dan percaya kepada kualifikasi kita, kita akan serupa dengan para penganut agama Yahudi itu. Akibatnya, kita akan menimbulkan masalah dalam gereja, dan kita akan tidak mungkin maju dalam pengalaman akan Kristus. Untuk mengalami Kristus, haruslah kita beribadah oleh Roh Allah, bukan oleh sifat kita yang jatuh; bermegah dalam Kristus, bukan dalam perbuatan-perbuatan sendiri; dan tidak mengandalkan kualifikasi alamiah kita, melainkan hanya mengandalkan Kristus. Inilah satu rahasia untuk mengalami Kristus.
Dalam batin kita mungkin mengira kita berbeda dengan para penganut agama Yahudi. Namun, kita boleh jadi tetap hidup dalam sifat usang kita, bermegah dalam perbuatan kita, dan mengandalkan kualifikasi alamiah kita. Saya tidak yakin sebagian besar dari orang kudus sudah sepenuhnya menghakimi sifat alamiah mereka yang jatuh. Sebaliknya, banyak yang masih hidup, bergerak, dan bertindak menurut sifat “anjing”. Selain itu, setidak-tidaknya dalam tingkatan tertentu, kita mungkin masih bermegah dalam perbuatan-perbuatan kita, menganggap diri kita pandai dan mampu. Lagi pula, kita mungkin juga masih mengandalkan daging kita, kualifikasi alamiah kita.
Yang penting ialah kita semua terjamah secara dalam dan secara pribadi oleh ayat-ayat dalam Filipi 3 ini. Kita perlu terang Tuhan menyoroti kita, mengenai sifat kita, perbuatan-perbuatan kita, dan keyakinan kita pada daging. Jika kita diterangi oleh Tuhan, kita akan mengakui bahwa walaupun kita telah dilahirkan kembali, menjadi anak-anak Allah yang memiliki hayat dan sifat ilahi, kita tetap terlalu sering hidup dalam sifat “anjing” kita. Memang benar kita berhak mengumumkan fakta bahwa kita adalah anak-anak Allah. Akan tetapi bila pengumuman itu berlawanan dengan pengalaman kita sehari-hari, itu hanya satu doktrin belaka bagi kita. Pada suatu hari, ketika terang menyoroti Anda dalam masalah ini, Anda akan merebahkan diri di hadapan Tuhan dan mengaku betapa najisnya sifat Anda. Kemudian Anda akan mengutuk setiap perkara yang Anda lakukan oleh sifat Anda yang jatuh itu. Anda akan nampak bahwa dalam pandangan Allah, apa saja yang dikerjakan dalam sifat yang jatuh itu jahat dan patut dikutuk. Dahulu kita membanggakan perbuatan-perbuatan dan kualifikasi kita, tetapi kelak, kita tidak lagi membanggakan daging berikut kualifikasi-kualifikasinya, sebaliknya kita akan menyalahkannya. Kemudian, kita hanya akan bermegah di dalam Kristus, dan menyadari bahwa di dalam diri kita sendiri kita sama sekali tidak patut bermegah.
Bila kita telah diterangi oleh Allah, barulah kita benar-benar dapat berkata bahwa kita tidak mengandalkan kualifikasi, kemampuan, atau kepintaran alamiah kita. Pada saat itu barulah kita dapat bersaksi bahwa kita sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Setelah kita diterangi demikian, baru kita dapat mengalami Kristus. Saya harap banyak di antara kita yang nampak terang ini dan berpaling dari suatu pengertian obyektif semata atas ayat-ayat ini kepada kenikmatan dan pengalaman yang subyektif akan Kristus.