SEJIWA DAN MEMPERTARUHKAN JIWA KITA
Pembacaan Alkitab: Flp. 2:19-30
Dalam berita ini saya ingin menyampaikan perkataan lebih lanjut mengenai masalah sejiwa dan mempertaruhkan jiwa kita. Paulus berkata tentang Timotius, “Karena tidak ada seorang pun padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia dan begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu” (2:20). Tentang Epafroditus ia berkata, “Sebab ia nyaris mati karena pekerjaan Kristus dan ia mempertaruhkan nyawanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku.” Tanpa pengalaman rohani, kita tidak mungkin memahami sepenuhnya pemikiran Paulus dalam ayat-ayat ini. Hanya membaca tanpa pengalaman tidaklah cukup. Melalui pengalaman kita dalam hidup gereja dan melalui pengamatan, setidak-tidaknya kita dapat mengerti sedikit apa yang dimaksud Paulus ketika ia mengatakan sejiwa dan mempertaruhkan jiwa.
SUMBER PERPECAHAN
Seperti kita semua ketahui, di kalangan orang Kristen hari ini terdapat sangat banyak perpecahan, ribuan jumlahnya. Perpecahan-perpecahan itu semua ditimbulkan oleh orang-orang Kristen yang memperhatikan Tuhan dan yang benar-benar mengasihi Tuhan. Nyatanya, semakin kaum beriman mengasihi Tuhan, semakin mudahlah perpecahan-perpecahan itu terjadi. Hal ini disebabkan oleh kasih mereka terhadap Tuhan yang membuat mereka ingin melakukan sesuatu bagi-Nya, dan pada akhirnya timbul perpecahan yang tak kunjung henti.
Untuk melaksanakan dan menggenapkan sesuatu bagi Kristus kita perlu menggunakan jiwa kita. Untuk bersekutu dengan Tuhan saja kita cukup melatih roh, tetapi untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan, kita perlu melatih jiwa serta fungsi-fungsinya. Itulah sebabnya Allah menciptakan jiwa berikut fungsi pikiran, emosi, dan tekad. Setiap kali kita hendak melakukan sesuatu bagi Tuhan, kita wajib menggunakan fungsi-fungsi itu. Namun demikian, masalah yang serius adalah ketika orang-orang Kristen berusaha melakukan sesuatu bagi Tuhan Yesus dengan kasih mereka terhadap Tuhan, mereka tidak sejiwa. Sebaliknya, mereka sangat berbeda dalam jiwa. Perbedaan-perbedaan dalam jiwa itulah yang merupakan penyebab utama dari perpecahan.
Pada umumnya orang mengira bahwa perpecahan-perpecahan di kalangan orang Kristen berasal dari perbedaanperbedaan yang doktrinal. Secara luaran kelihatannya begitu, tetapi sebenarnya sumber perpecahan yang sesungguhnya bukanlah pada ketidaksesuaian atas doktrin, melainkan pada perbedaan-perbedaan dalam jiwa kaum beriman. Karena banyak sekali orang Kristen tidak sejiwa, tidak benar-benar bersatu dalam jiwa, mereka yang mengasihi Tuhan Yesus menimbulkan paling banyak perpecahan yang kita saksikan hari ini. Karena itu, sumber perpecahan ialah jiwa manusia.
Orang-orang kudus dalam pemulihan Tuhan semua mengasihi Tuhan Yesus dengan kasih yang sejati. Sejauh yang menyangkut masalah mengasihi Tuhan dan menikmati persekutuan dengan-Nya, tidak ada masalah apa-apa. Tetapi bila kita berusaha melakukan sesuatu bagi Tuhan menurut apa yang telah kita nampak dalam persekutuan kita dengan Dia di dalam roh, kita mungkin menghadapi masalah, karena kita berbeda jiwa dengan orang kudus lainnya. Dengan perkataan lain, kita tidak dapat sejiwa dalam hal-hal yang ingin kita lakukan itu.
DUA AKIBAT
Perbedaan dalam jiwa yang sedemikian ini dapat menimbulkan dua macam akibat yang berbeda. Pertama, ada orang boleh jadi bahkan meninggalkan hidup gereja dan menimbulkan perpecahan. Kedua, ada orang mungkin tetap memelihara kedudukan yang tepat pada tumpuan keesaan, dan tetap tinggal dalam pemulihan, tetapi mereka mungkin bersikap negatif, berselisih, atau menjadi dingin. Orang yang tetap dalam pemulihan Tuhan tetapi mempertahankan sikap demikian boleh jadi berkata kepada dirinya sendiri, “Saudara-saudara itu sungguh sangat kuat konsepsinya terhadap hal-hal tertentu. Aku tidak dapat menyesuaikan ideku dengan mereka. Karena mereka enggan menerima usulku, lebih baik sejak kini aku berdiam diri. Aku tidak mau aktif lagi, aku akan mundur dan bersikap pasif saja. Aku akan menghadiri sidang-sidang gereja, tetapi aku akan membiarkan orang lain yang memperhatikan berbagai masalah dalam hidup gereja ini.” Orang-orang yang mengambil sikap demikian boleh jadi mempunyai maksud baik. Mereka mungkin enggan berbantah-bantahan atau menimbulkan kesulitan. Sebagai contoh, misalkan seorang penatua dalam sebuah gereja lokal berpikir dalam dirinya sendiri demikian: “Konsepsiku berbeda dengan konsepsi penatua lainnya. Me-nurut opiniku, caraku lebih baik daripada cara mereka. Tetapi mereka tidak mau menerima saranku. Aku tidak mau berdebat, lebih baik aku tidak mengatakan apa pun. Biarlah saudara-saudara itu berbuat menurut cara mereka, dan biarlah mereka yang mengemban tanggung jawab untuk memajukan gereja.” Saya telah melihat banyak kasus yang demikian dalam hidup gereja.
MENGALAMI KRISTUS DALAM TUBUH
Sangat penting untuk disadari bahwa bila kita berpegang pada sikap semacam itu karena adanya perbedaan-perbedaan dalam jiwa, hal itu akan menyebabkan pengalaman kita akan Kristus menjadi terbatas. Kita tidak akan dapat mengalami Dia ke tingkat yang sepenuh-penuh-nya. Sebaliknya, pengalaman kita akan Kristus akan terbatas pada apa yang kita alami dalam persekutuan kita dengan-Nya di dalam roh. Kita akan tidak berdaya lebih maju untuk mengalami Kristus di dalam Tubuh. Karena adanya perbedaan-perbedaan dalam emosi, pengertian, atau keputusan tentang hal-hal tertentu, maka kita menjadi berbeda dalam jiwa. Perbedaan-perbedaan yang sedemikian ini akan menjauhkan kita dari pengalaman yang sepenuhnya akan Kristus, yaitu mengalami Dia dalam Tubuh. Jika kita tidak mengalami Kristus dalam Tubuh, berarti kita tidak dapat mengalami Dia sepenuh-penuhnya. Hanya melalui mengalami Kristus di dalam Tubuh barulah kita dapat mengalami Dia ke tingkat yang paling penuh.
Untuk mengalami Kristus di dalam Tubuh, pengalaman kita perlu bersifat korporat. Tambahan pula, untuk mengalami Kristus secara korporat, kita perlu sejiwa dengan orang lain. Kita benar-benar perlu belajar bersejiwa dengan orang lain. Seorang penatua wajib belajar bersejiwa dengan penatua lainnya, dan semua anggota sebuah gereja lokal perlu belajar bersejiwa dengan orang kudus lain.
Selama bertahun-tahun ini kita telah nampak sejumlah orang kudus yang telah mundur dari partisipasi penuh dalam hidup gereja karena mereka tidak sejiwa. Sebagai contoh, ada beberapa orang enggan menceburkan diri mereka ke dalam pelayanan gereja secara positif dan aktif. Mereka memaafkan diri sendiri atas kekurangan keterlibatan mereka dengan mengatakan tidak mau menimbulkan kesulitan, tetapi ingin memelihara situasi yang tenang dalam gereja. Namun, alasan sebenarnya dari mundurnya mereka ialah karena mereka tidak sejiwa dan enggan mempertaruhkan jiwa mereka dalam hidup gereja. Kita tahu ada beberapa saudara yang benar-benar bersikap “seperti” ksatria dalam hubungan mereka dengan gereja. Mereka jujur, baik, dan tidak pernah menimbulkan keributan. Namun, karena perbedaan opini mereka, karena mereka tidak sejiwa, akhirnya mereka meninggalkan pemulihan Tuhan. Ketika saudara-saudara ini mengundurkan diri dari hidup gereja, mereka tidak mengkritik kita. Mereka hanya menempuh jalan mereka sendiri. Penyebab yang mendasari kepergian mereka dari hidup gereja ialah mereka mempertahankan perbedaan-perbedaan dalam jiwa mereka. Seperti telah kita tunjukkan, asal-usul perpecahan di kalangan orang Kristen terutama karena perbedaan jiwa yang sedemikian ini.
Orang kudus lainnya yang tidak sejiwa memilih tetap tinggal dalam pemulihan. Tetapi terhadap hidup gereja pada umumnya dan terhadap pelayanan gereja khususnya, mereka bersikap negatif. Mereka tidak menyinggung orang lain dan menimbulkan kesulitan, tetapi mereka mundur dan dingin. Di satu pihak, mereka tidak meninggalkan pemulihan Tuhan; di pihak lainnya mereka tidak maju bersama gereja secara perkasa, positif, dan aktif.
Ketika Paulus menulis surat kepada orang-orang Filipi, ia mempunyai sejumlah sekerja, tetapi seperti dikatakan olehnya sendiri, selain Timotius tidak ada seorang yang sejiwa yang sungguh-sungguh memperhatikan kepentingan kaum beriman di Filipi. Situasi Paulus sangat sulit karena sekerjanya. Di satu pihak, ada beberapa orang sekerja. Tetapi, pada waktu ia ingin mengirim seorang saudara untuk memahami situasi di antara orang kudus di Filipi, ia mengetahui hanya seorang, yaitu Timotius, yang sejiwa dengannya. Karena itu, Timotius merupakan satu-satunya sekerja yang dapat diutus Paulus ke Filipi guna memperhatikan kepentingan orang kudus di situ.
Setiap sekerja yang tidak dapat diutus Paulus demi memperhatikan Tubuh Kristus sedemikian itu tidak dapat mengalami Kristus sepenuh yang dialami Paulus. Karena Timotius sejiwa dengan Paulus, maka ia bersyarat mengalami Kristus sepenuhnya di dalam Tubuh, seperti halnya pengalaman Paulus akan Kristus. Akan tetapi orang-orang yang berbeda jiwa dengan Paulus tidak mungkin mengalami Kristus ke tingkat yang setinggi itu. Pengalaman mereka akan Kristus terbatas oleh perbedaan-perbedaan jiwa mereka.
MENGALAMI KRISTUS DENGAN MEMPERTARUHKAN JIWA KITA
Dalam Kitab Filipi Paulus tidak saja menyinggung masalah sejiwa, tetapi juga membicarakan masalah mempertaruhkan hayat jiwa. Paulus mengatakan tentang Epafroditus yang telah mempertaruhkan nyawanya (jiwanya), untuk memenuhi kekurangan pelayanan orang-orang Filipi terhadap Paulus. Ketika kita mengatakan Epafroditus mempertaruhkan jiwanya, mungkin ada orang berkata bahwa maksud Paulus di sini ialah bahwa Epafroditus tidak mengasihi hayat jasmaninya, melainkan rela mengorbankannya bagi kepentingan Tubuh Kristus. Sungguh benar mengatakan Epafroditus mempertaruhkan hayat jasmaninya bagi kepentingan Tubuh, tetapi perkataan ini menyiratkan bahwa dia mempertaruhkan jiwanya.
MARTIR BAGI HIDUP GEREJA
Beberapa tahun yang silam saya membaca sebuah karangan yang mengatakan bahwa sebelum seorang Kristen dapat menjadi martir, ia harus memiliki sikap seorang martir lebih dulu. Menurut karangan tadi, setiap martir sudah diperlengkapi dengan sikap-sikap tertentu, dan bila saatnya tiba untuk mati martir, orang-orang ini dapat benar-benar menjadi martir melalui menyerahkan hayat jasmaninya. Prinsip ini berlaku dalam mempertaruhkan jiwa di dalam kehidupan gereja. Jika kita tidak memiliki hati untuk mengorbankan pikiran, emosi, dan tekad kita demi kepentingan Tubuh Kristus, kita tidak mungkin dapat mengorbankan hayat jasmani kita menjadi martir. Untuk mempertaruhkan hayat jasmaninya, Epafroditus harus mau mempertaruhkan jiwanya lebih dulu.
Pada hakekatnya kita di dalam hidup gereja perlu menjadi martir bagi Tubuh Kristus dan semua orang kudus. Jika kita damba menjadi satu dengan Tuhan bagi pemulihan-Nya, kita harus mau mengorbankan pikiran, perasaan, dan keinginan kita. Ini berarti mempertaruhkan jiwa kita. Untuk mengalami Kristus sepenuh-penuhnya, kita tidak saja perlu sejiwa, bahkan mempertaruhkan jiwa dengan mengorbankan pikiran, emosi, dan tekad kita.
Dalam 2:30 Paulus berkata kepada orang-orang Filipi bahwa Epafroditus telah mempertaruhkan jiwanya “untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku.” Epafroditus telah mempertaruhkan jiwanya demi memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayanan kaum beriman Filipi terhadap Paulus. Hal ini menunjukkan bahwa bila kita tidak mempertaruhkan jiwa kita, mustahillah kita bisa memenuhi kekurangan yang mungkin ada dalam Tubuh Kristus. Memenuhi kekurangan dalam Tubuh Kristus memberi kita suatu kesempatan yang baik sekali untuk mengalami Kristus. Kita perlu mengalami Kristus sedemikian rupa agar kita dapat memenuhi apa yang kurang da-lam Tubuh. Jika kita mau mengalami Kristus sampai taraf demikian, kita harus mempertaruhkan hayat jiwa kita dengan mengorbankan emosi kita serta keinginannya, tekad kita serta kemauannya, dan pikiran kita serta opininya. Setiap kali kita mengorbankan jiwa kita demi Tubuh, kita akan memiliki suatu kesempatan untuk mengalami Kristus di dalam Tubuh. Ini berarti mengalami Kristus sepenuh-penuhnya.
Jika kita setiap hari mempertaruhkan jiwa kita dalam hidup gereja, kita akan siap menjadi martir bila perlu. Orang-orang yang mempertaruhkan jiwa mereka demi Tubuh Kristus dapat menyerahkan hayat jasmani mereka bagi Tuhan. Selain itu, jika kita mempertaruhkan jiwa kita, ki-ta akan sangat mudah sejiwa dengan kaum beriman yang lain.
PEMBATASAN YANG DISEBABKAN TIDAK SEJIWA
Selama tahun-tahun saya tinggal bersama Saudara Watchman Nee di China, saya memahami betapa tidak mudahnya dia melaksanakan apa yang ia tampak dalam persekutuannya dengan Tuhan mengenai pergerakan-Nya di bumi ini bagi Tubuh-Nya. Kesulitan ini dikarenakan adanya beberapa sekerja yang tidak sejiwa dengan Saudara Watchman Nee. Hal yang sangat penting dalam pemulihan Tuhan tidak dapat digenapi secara memadai karena sekerja-sekerja itu tidak sejiwa.
Salah satu contoh yang jelas dari kekurangan ini adalah kasus seorang pemuda yang pandai yang segera akan meninggalkan China untuk belajar di Amerika Serikat. Pemuda ini baru saja beroleh selamat dan hendak dibaptis. Saudara Watchman Nee yakin bahwa pembaptisan atas pemuda ini benar dan perlu, maka ia mengira gereja seharusnya membaptiskannya sebelum ia meninggalkan China. Namun, seorang sekerja di tempat itu mempunyai opini yang berlawanan. Sekerja itu berpikir karena pemuda ini baru saja percaya kepada Kristus, maka belum mantap untuk dibaptiskan. Ketika Saudara Watchman Nee menunjukkan bahwa pemuda ini sudah akan berangkat ke Amerika Serikat dan mereka tidak yakin apakah kelak ada kesempatan untuk membaptiskan dia, sekerja itu tetap tidak setuju. Dari berbagai sudut Saudara Watchman Nee mencoba meyakinkannya untuk mengubah pikirannya. Pada akhirnya Saudara Watchman Nee bahkan mengatakan ia mau membaptiskan pemuda ini dan bertanggung jawab penuh atas hal ini di hadapan Tuhan. Tetapi karena sekerja itu tetap tidak setuju, maka akhirnya Saudara Watchman Nee tidak berdaya berbuat apa-apa.
Kejadian itu mengilustrasikan perbedaan dalam jiwa yang terdapat di antara beberapa sekerja dengan Saudara Watchman Nee. Pada waktu itu saya tidak menyadari bahwa masalah itu dikarenakan mereka tidak sejiwa dengannya. Namun ketika saya mengenang kembali situasi itu di dalam terang perkataan Paulus dalam Kitab Filipi, saya baru nampak jelas apakah hakikat masalah itu. Akhirnya beberapa sekerja yang terkasih yang tidak sejiwa dengan Saudara Watchman Nee itu telah meninggalkan pemulihan Tuhan. Pengalaman mereka akan Kristus terbatas. Mereka tidak dapat melanjutkan pengalaman mereka akan Kristus sampai tingkat yang penuh dalam Tubuh.
PERLUNYA KITA SEJIWA
DAN MEMPERTARUHKAN JIWA KITA
Perkataan Paulus tentang sejiwa merupakan satu peringatan bagi segenap orang yang ada dalam pemulihan Tuhan. Jika kita tidak dapat bersejiwa dengan orang lain, kita tidak bisa memiliki kenikmatan yang penuh akan Kristus, sekalipun kita tinggal di dalam hidup gereja. Walau kita di dalam roh tidak ada masalah, kita mungkin mempertahankan perbedaan-perbedaan dalam jiwa kita. Menurut kesan Anda, perasaan yang Anda miliki dalam jiwa Anda memang benar. Tetapi, karena Anda mempertahankan perbedaan-perbedaan Anda, pengalaman Anda terhadap Kristus akan terbatas. Jadi, penting sekali kita semua belajar bersejiwa di dalam hidup gereja. Jangan mengizinkan perbedaan-perbedaan dalam jiwa Anda menghambat pengalaman Anda akan Kristus di dalam Tubuh-Nya. Semoga kita semua belajar mengorbankan jiwa kita, mempertaruhkan pikiran, emosi, dan tekad kita. Kemudian baru kita dapat bersejiwa dengan orang-orang lain di dalam Tubuh Kristus. Jika kondisi kita demikian, betapa banyaknya pengalaman dan kenikmatan kita akan Kristus yang kita miliki di dalam Tubuh! Untuk mengalami Kristus pada tingkat yang penuh ini di dalam Tubuh, kita perlu sejiwa dan mempertaruhkan jiwa kita.