← Daftar isi Hakim-hakim (1) · bab 1/10

KATA PENDAHULUAN

Pembacaan Alkitab:

Hak. 1:1-2; 2:11—3:11; 21:25; Kis. 13:19-20

Saat kita memulai pelajaran-hayat Kitab Hakim-hakim, saya memiliki beban untuk membicarakan makna intrinsik dari kitab ini. Untuk memahami sejarah dalam Perjanjian Lama, kita perlu meninjau Alkitab secara keseluruhan. Jika kita membaca Perjanjian Lama menurut pandangan menyeluruh ini, kita akan menyadari bahwa di Gunung Sinai Allah menikahi Israel. Dalam konsep dan kedambaan-Nya, terhadap Israel, Allah ingin bersikap seperti seorang suami terhadap istri, dan Dia mengharapkan Israel bertindak sebagai seorang istri terhadap Dia. Kita perlu mengingat hal ini ketika kita membaca Kitab Hakim-hakim.

Dalam menulis kitab sejarah, Samuel meletakkan Kitab Hakim-hakim setelah Kitab Yosua untuk memperlihatkan kepada kita, hidup macam apa yang ditempuh Israel terhadap Suaminya. Untuk alasan tertentu, ia tidak berminat menjadi istri TUHAN. Sebagai seorang istri, ia melupakan Suaminya, meninggalkan Suaminya, dan bertindak semaunya sendiri. Akhirnya, Israel menjadi seorang sundal. Pada zaman Hosea, Israel adalah seorang sundal di mata Allah (Hosea 1:2; 2:2). Setelah jatuh ke dalam dosa perzinahan, ia tidak memiliki seorang suami yang jelas. Selain TUHAN sebagai Suaminya, ia memiliki banyak laki-laki lain. Inilah situasi Israel dalam Kitab Hakim-hakim. Dalam Kitab Hakim-hakim ada gambaran mengerikan mengenai seorang istri yang meninggalkan Suaminya dan bahkan tidak mengakui keberadaan-Nya. Inilah suatu gambaran buruk dari seorang sundal, seorang istri yang meninggalkan Suaminya dan mengikuti berhala-berhala.

Pada mulanya Israel memiliki kasih pernikahan terhadap Allah, tetapi setelah menikah ia meninggalkan posisinya sebagai seorang istri yang suci untuk Suaminya. Ia meninggalkan Allah dan mengikuti berhala-berhala. Setiap berhala adalah seorang “lelaki,” dan Israel menjadi penuh dengan berhala. Yeremia 11:13 mengatakan bahwa seperti banyaknya jalan di Yerusalem demikian banyaknya mezbah yang kamu dirikan untuk membakar korban kepada Baal. Yehezkiel 16:24 memberi tahu kita bahwa Israel membuat “bagimu tempat yang tinggi dan membuat bagimu bukit pengorbanan di tiap-tiap tanah lapang.” Ini berarti ada satu berhala di setiap jalan. Ini berhubungan dengan Perjanjian Baru, yang memperlihatkan kepada kita sundal besar yang lain dalam Wahyu 17, Gereja Katolik Roma, yang adalah ibu dari banyak pelacur. Karena ibu pelacur adalah Gereja Roma yang murtad, pelacur-pelacur, putri-putri gereja yang murtad, tentu adalah semua sekte dan kelompok dalam kekristenan yang pada tingkat tertentu memegang pengajaran, praktek, dan tradisi dari Gereja Roma yang murtad.

Dalam Kitab Hakim-hakim, ada satu perkataan khusus yang diulang beberapa kali: “pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (17:6; 18:1; 19:1; 21:25). Tetapi Allah adalah Raja! Menurut prinsip Alkitab, suami adalah kepala pernikahan dan kepala keluarga. Dalam penciptaan Allah menentukan bahwa laki-laki akan memiliki otoritas ini; karena itu, ia juga memiliki jabatan raja. Dalam perlambangan dan dalam gambaran, Allah adalah manusia yang unik. Kita semua adalah perempuan karena kita, gereja, adalah istri korporat Kristus. Karena Allah adalah Pencipta kita dan Tuhan kita, Dia seharusnya juga menjadi Raja kita.

Ketika Israel berkata bahwa tidak ada raja di antara mereka, ini berarti mereka telah membuang Allah dan status-Nya. Dalam Kitab 1Samuel, bangsa Israel meminta Allah untuk menunjuk seorang raja bagi mereka (8:5). Ini adalah satu pelanggaran besar terhadap Allah (ayat 7). Bahkan walaupun Israel adalah istri Allah, ia menjadi seorang pelacur. Dia tidak mengakui jabatan Allah sebagai raja, dan ia tidak mengakui Allah sebagai Suaminya. Karena itu, bangsa Israel melakukan apa yang benar menurut pandangannya sendiri, dan sebagai akibatnya mereka menjadi bobrok dan rusak.

Inilah apa yang kita lihat dalam Kitab Hakim-hakim. Dengan demikian, sejarah dalam kitab ini adalah sejarah kebobrokan. Setelah sejarah Yehuda dan Kaleb dalam 1:1-20, sejarah Israel seperti yang dicatat dalam Kitab Hakim-hakim penuh dengan kebobrokan dan kerusakan dari seorang pelacur. Inilah makna mendasar Kitab Hakim-hakim.

Sekarang saya ingin memberi kata pendahuluan yang singkat untuk pelajaran kita atas Kitab Hakim-hakim.

I. KITAB YOSUA ADALAH KITAB SEJARAH

ORANG ISRAEL YANG PENUH KEMENANGAN-KEMENANGAN YANG MENAKJUBKAN

DAN KITAB HAKIM-HAKIM ADALAH KITAB SEJARAH ORANG ISRAEL YANG PENUH KEKALAHAN

YANG MENYEDIHKAN

Kita perlu melihat kontras antara Kitab Yosua dengan Kitab Hakim-hakim. Kitab Yosua adalah kitab sejarah orang Israel yang penuh kemenangan-kemenangan yang menakjubkan atas penduduk Kanaan di hadapan TUHAN. Sebaliknya, Kitab Hakim-hakim adalah kitab sejarah orang Israel yang penuh kekalahan yang menyedihkan di bawah musuh-musuh mereka dengan meninggalkan TUHAN.

II. PENULISNYA

Penulis Kitab Hakim-hakim kemungkinan Samuel. Banyak pengulas Kitab Suci berpandangan seperti ini.

III. WAKTUNYA

Waktu yang diliput dalam Kitab Hakim-hakim kira-kira 305 tahun, dari sekitar 1425 S.M. (setelah kematian Yosua, 1:1) sampai 1120 S.M. (pada saat kematian Simson, 16:30-31; cf. Kisah Para Rasul 13:19-20). Berikut ini adalah urutan kronologi berdasarkan sejarah: kuning

1. 2:6-9 sekitar 1426 S.M.

2. 1:1-36 " 1425 S.M.

3. 2:1-5 " 1425 S.M.

4. 2:10-13

5. Pasal 17—21 " 1406 S.M.

(Rut " 1322-1312 S.M.)

6. 2:14—16:31 " ? -1120 S.M.

IV. TEMPATNYA

Tempat Kitab Hakim-hakim adalah tanah Kanaan.

V. ISINYA

Isi dari Kitab Hakim-hakim terdiri dari orang Israel yang percaya di dalam Allah, meninggalkan Allah, dikalahkan oleh musuh mereka, dibebaskan oleh hakim-hakim, dan dirugikan (1:1-2; 2:11—3:11). Ketika bangsa Israel, yang bersandar Allah, meninggalkan Allah, mereka dikalahkan oleh musuh-musuh mereka. Karena situasi mereka yang menyedihkan, mereka bertobat dan Tuhan yang penuh rahmat membangunkan hakim-hakim untuk membebaskan mereka. Walaupun, setelah orang Israel dibebaskan, mereka dirugikan. Semua ini menjadi satu siklus yang berputar dalam Kitab Hakim-hakim.

VI. POKOK PIKIRANNYA

Pokok pikiran Kitab Hakim-hakim adalah orang Israel meninggalkan Allah, dikalahkan oleh musuh-musuh mereka, dan menjadi bobrok; dan karena tidak ada raja di antara mereka, setiap orang melakukan apa yang benar di pandangan matanya (17:6; 18:1; 19:1; 21:25).

VII. BAGIAN-BAGIANNYA

Kitab Hakim-hakim terdiri atas tiga bagian: orang Israel bersandar Allah (1:1—2:5); orang Israel meninggalkan Allah (terdiri atas kekalahan, pertobatan, dan penyelamatan Allah (2:6—16:31); dan orang Israel menjadi bobrok (17:1—21:25).