← Daftar isi Kudus dan Tidak Bercela · bab 3/5

TUBUH KRISTUS DAN MEMPELAI PEREMPUAN KRISTUS

Kita telah melihat bagaimana Hawa melambangkan gereja dalam rencana Allah. Dalam rencana Allah, segala sesuatu dari gereja berasal dari Kristus, tidak ada sedikit pun yang berasal dari manusia, lebih-lebih tidak memiliki kaitan apa pun dengan dosa. Allah kita ingin mendapatkan gereja semacam ini. Apa pun yang kurang dari ini tidak mungkin dapat memuaskan hati-Nya. Allah bukan hanya merencanakan gereja semacam ini, tetapi juga akan mendapatkannya. Haleluya! Ini adalah fakta! Kita harus tahu bahwa Allah kita tidak dapat dihalangi atau digagalkan. Begitu Allah menetapkan sesuatu, walaupun alam maut dan semua ciptaan bangkit untuk menentang-Nya, Allah tidak dapat dilawan. Walaupun kita jatuh, penuh dengan kegagalan, bersifat daging, jiwani, meninggalkan Allah, dan tidak menaati-Nya, Allah tetap akan mencapai tujuan-Nya. Apa pun yang dilakukan manusia, tidak dapat menghancurkan rencana Allah; paling jauh hanya dapat menundanya. Karena itu, kita bukan hanya perlu mengetahui ketetapan Allah, tetapi juga mengetahui bahwa Allah pasti akan mendapatkan hal yang telah ditetapkan-Nya itu. Sejak kekekalan yang lampau, Allah telah menetapkan untuk mendapatkan gereja yang sepenuhnya berasal dari Kristus, gereja yang sedikit pun tidak ada ketidakmurnian manusia, sedikit pun tidak ada unsur tanah, dan sedikit pun tidak ada bau dosa. Setiap bagian dari gereja adalah berasal dari Kristus, dan Kristus adalah hayatnya.

Tetapi, mulai Kejadian 3, manusia jatuh. Jadi sekarang, kita tidak hanya memiliki fakta tujuan Allah dalam penciptaan, tetapi juga fakta kejatuhan manusia. Karena itu, mari kita melihat bagaimana cara Allah menghadapi dan menyelamatkan situasi ini.

Efesus 5:25-30 mengatakan, “Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat (gereja) dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dalam firman, supaya dengan demikian Ia mempersembahkan jemaat kepada diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi memelihara dan merawatnya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya” (Tl.).

Keenam ayat Alkitab ini dapat dibagi dalam dua bagian: yang pertama, dari ayat 25-27, memberi tahu kita bahwa alasan pertama suami harus mengasihi istri; kedua, ayat 28-30, memberi tahu kita alasan kedua suami harus mengasihi istri. Dalam kedua bagian ini, kita nampak dua perintah untuk mengasihi istri, dan juga dua alasan. Tetapi ada perbedaan antara kedua bagian ini. Bagian pertama mengatakan bahwa Kristus “mengasihi” gereja dan “menyerahkan” diri-Nya baginya — kata-kata ini berbentuk kala lampau. Tetapi, mulai ayat 28, kata kerjanya semuanya dalam bentuk kala kini, seperti “memelihara” dan “merawat”. Kedua bagian dari ayat-ayat ini memiliki unsur waktu yang berbeda — satu bagian mengacu pada masa lampau, dan lainnya pada masa sekarang.

Pokok kedua bagian ini juga berbeda. Bagian pertama berbicara tentang gereja sebagai mempelai perempuan Kristus, dan bagian kedua berbicara tentang gereja sebagai Tubuh Kristus. Dalam bagian yang pertama, ketika gereja dikatakan sebagai mempelai perempuan Kristus, digunakan kala lampau. Mengapa? Karena seluruh tujuan Kristus, yang dinyatakan kepada kita, adalah mendapatkan mempelai perempuan. Bahkan kematian-Nya adalah untuk tujuan ini, supaya Ia dapat memiliki seorang mempelai perempuan. Walaupun Ia akan mendapatkan mempelai perempuan-Nya di masa kelak, tetapi pekerjaan ini telah selesai di masa lampau. Lalu, bagaimana dengan sekarang? Gereja hari ini adalah Tubuh Kristus, dan Tuhan sekarang memelihara dan merawat gereja-Nya.

HUBUNGAN ANTARA TUBUH DAN MEMPELAI PEREMPUAN

Dalam pandangan Tuhan, gereja memiliki dua posisi: menurut hayatnya, gereja adalah Tubuh Kristus; menurut masa depannya, gereja adalah mempelai perempuan Kristus. Menurut kesatuan Kristus dengan gereja, gereja adalah Tubuh-Nya; menurut hubungan Kristus yang intim dengan gereja, gereja adalah mempelai perempuannya.

Di mana pun firman Allah berbicara tentang kesatuan antara Kristus dan gereja, kita melihat Kristus sebagai Kepala dan gereja sebagai Tubuh-Nya. Di mana pun firman menunjukkan perbedaan antara Kristus dan gereja, kita melihat gereja sebagai mempelai perempuan Kristus. Memang benar Adam dan Hawa disebutkan sebagai dua yang menjadi “satu daging”, tetapi mereka masih tetap dua orang; Allah masih menghitung mereka dua. Adam masih tetap Adam, dan Hawa tetap Hawa. Mereka adalah dua yang disatukan menjadi satu. Inilah hubungan antara gereja dengan Kristus. Dari satu menjadi dua; dari dua menjadi satu. Ketika Allah pada mulanya menciptakan manusia, ia menciptakan laki-laki dan perempuan. Hawa berasal dari Adam; karena itu, Hawa dan Adam adalah satu. Demikian pula, gereja berasal dari Kristus; karena itu, gereja dan Kristus juga satu. Tetapi, karena Adam dan Hawa keduanya ada pada saat yang sama, ada perbedaan antara mereka. Demikian pula, karena gereja dan Kristus ada secara bersamaan, ada perbedaan antara mereka. Mengenai kesatuan, mereka satu, tetapi mereka juga berbeda satu dengan yang lain.

Dua posisi yang berbeda ini berkaitan dengan perbedaan waktu. Saat ini gereja adalah Tubuh Kristus, tetapi di masa kelak gereja akan menjadi mempelai perempuan Kristus. Saat ini gereja adalah Tubuh Kristus, untuk mengekspresikan hayat Kristus. Suatu hari kelak, ketika hayat gereja sudah matang, Allah akan membawa gereja yang rohani kepada Kristus, dan pada hari itu, gereja akan menjadi mempelai perempuan Kristus. Ada orang berpendapat bahwa hari ini gereja adalah mempelai perempuan Kristus, pendapat ini salah. Hal semacam ini tidak mungkin. Karena Tuhan Yesus belum menjadi Mempelai Lakilaki, bagaimana mungkin gereja sudah menjadi mempelai perempuan? Tidak, baru pada hari itu, ketika pekerjaan gereja sebagai Tubuh Kristus telah diselesaikan, Allah akan membawa gereja kepada Kristus dan ia akan menjadi mempelai perempuan-Nya.

Jika kita melihat lambang dalam Kejadian 2, kita akan nampak hubungan antara tubuh dan mempelai perempuan. Hawa dibuat dari tulang rusuk Adam, karena itu ia adalah tubuh Adam. Karena sebagian tubuh Adam digunakan untuk membuat Hawa, maka kedudukan Hawa adalah tubuh Adam. Tetapi setelah Hawa diciptakan, Allah membawanya kepada Adam, dan ia menjadi mempelai perempuan Adam. Inilah hubungan antara tubuh dan mempelai perempuan. Jika acuan kita adalah Hawa yang berasal dari Adam, berarti ia adalah tubuh Adam, tetapi ketika Hawa dibawa kepada Adam dan menjadi penolongnya (jodohnya), berarti ia menjadi mempelai perempuan Adam. Apa yang berasal dari Adam adalah tubuh Adam, dan apa yang dibawa kepada Adam adalah mempelai perempuannya.

Yang berasal dari Adam, baru dapat menjadi jodoh Adam. Yang tidak berasal dari Adam, tidak dapat menjadi jodohnya. Ketika semua burung di udara dibawa kepada Adam, Adam tidak mengambil satu pun dari mereka sebagai jodohnya, karena mereka tidak berasal dari Adam. Ketika semua ternak dibawa kepadanya, Adam tidak mengambil satu pun darinya, karena mereka juga tidak berasal dari Adam. Demikian juga dengan semua binatang lainnya. Asal usul mereka tidak tepat. Karena mereka tidak berasal dari Adam, maka mereka tidak dapat menjadi jodohnya. Jadi, siapa yang dapat menjadi jodoh Adam? Hawa dapat! Hawa juga dibawa kepada Adam, seperti burung-burung di udara, ternak di padang, dan binatangbinatang buas, tetapi ada perbedaan yang mendasar antara Hawa dan mereka. Mereka tidak berasal dari Adam. Karena Hawalah satu-satunya yang berasal dari Adam, maka hanya dia yang memenuhi syarat untuk menjadi mempelai perempuannya. Karena berasal dari Adam, ia dibawa kembali kepada Adam. Yang berasal dari Adam itulah tubuhnya; yang dibawa kembali kepada Adam itulah mempelai perempuannya.

Hanya yang berasal dari Kristus, dapat kembali kepada Kristus. Yang tidak berasal dari Kristus, tidak mungkin kembali kepada Kristus. Hanya yang berasal dari surga, dapat kembali ke surga. Jika kita tidak turun dari surga, kita tidak dapat kembali ke surga. Rumah adalah tempat asal-usul kita. Jika kita mengatakan bahwa kita pulang ke rumah, maksud kita ialah kita kembali ke tempat asal kita. Yang berasal dari surga, baru dapat kembali ke surga. Yang berasal dari Adam, baru dapat kembali kepada Adam. Adam hanya dapat menerima apa yang berasal dari dirinya sendiri. Ini adalah sebuah lambang yang menunjukkan bahwa Kristus hanya menerima yang berasal dari diri-Nya sendiri. Hanya orang-orang yang berasal dari Kristus dapat kembali kepada-Nya. Hanya mereka yang menerima hayat-Nya dapat diterima oleh-Nya.

Banyak orang berkata bahwa mereka hendak mempersembahkan segala miliknya untuk dipakai oleh Tuhan. Tetapi Allah tidak dapat menerima apa pun yang berasal dari diri manusia. Allah tidak dapat mengambil atau menggunakan apa pun yang berasal dari manusia sendiri. Di antara semua orang Kristen, khususnya di antara orang-orang yang cukup bergairah, ada kesalahan yang serius. Mereka berpendapat, asalkan mereka menyerahkan diri mereka kepada Tuhan, bersama-sama dengan kemampuan, bakat, dan segala sesuatu yang mereka miliki, segalanya akan beres. Tetapi, kita harus ingat, Kristus hanya mau menerima apa yang berasal dari diri-Nya sendiri; Ia tidak mau menerima apa pun yang berasal dari manusia.

Anda mungkin berkata, “Di antara rasul-rasul, bukankah ada Paulus? Bukankah ia berpendidikan? Bukankah ia orang yang sangat pandai?” Tetapi kita harus ingat kata-kata yang Paulus ucapkan tentang dirinya sendiri, “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa” (1 Kor. 2:2-4). Kita berterima kasih kepada Allah, karena orang-orang yang pandai dan fasih bicara mau masuk ke dalam gereja, tetapi kepandaian dan kefasihan mereka yang alamiah dan bawaan itu tidak ada manfaat rohaninya dalam gereja. Dalam gereja hanya ada satu hal yang diakui — yang berasal dari Kristus. Hanya yang berasal dari Kristus dapat kembali kepada Kristus. Bahan untuk membangun mempelai perempuan ini adalah Kristus sendiri.

Inilah perkara yang perlu kita perhatikan: hanya yang berasal dari Kristus yang mempunyai nilai dan manfaat rohani di dalam gereja. Allah tidak pernah menggunakan ciptaan lama untuk membangun ciptaan baru. Allah juga tidak pernah menggunakan apa yang berasal dari manusia untuk membangun apa yang berasal dari Allah. Ia sama sekali tidak mungkin menggunakan hal-hal kedagingan untuk menghasilkan sesuatu yang rohani. Tuhan Yesus berkata kepada kita bahwa apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh. Apakah mungkin apa yang berasal dari daging menjadi roh? Tidak! Apa yang berasal dari daging adalah daging. Semua perkara adalah masalah sumber. Jika kita ingin tahu apakah hasilnya rohani, kita hanya perlu bertanya apakah sumbernya rohani. Tuhan Yesus berkata, “Apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh” (Yoh. 3:6b). Kita tidak dapat menggunakan apa pun yang bersifat daging untuk menghasilkan sesuatu yang rohani. Khotbah yang berasal dari pemikiran tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali pemikiran. Pekerjaan yang dilakukan dengan menggerakkan emosi hanya dapat menghasilkan rangsangan emosi. Hanya pekerjaan yang dilakukan dari roh dapat menghasilkan roh. Masalahnya di sini bukanlah apakah sasaran atau tujuannya benar, tetapi bagaimana prosesnya. Manusia selalu berpikir asalkan tujuannya benar, segala sesuatu yang lain juga benar. Tetapi Allah tidak hanya bertanya apakah tujuannya benar, Ia juga bertanya bagaimana Anda melakukannya. Orang mungkin mengatakan, “Diriku untuk Tuhan, dan pekerjaan yang kulakukan adalah pekerjaan gereja, pekerjaan menyelamatkan jiwa, pekerjaan rohani, pekerjaan memperluas Kerajaan Surga. Aku telah memberikan semua kemampuan dan kepandaianku. Bukankah ini baik?” Sekalipun demikian, kemampuan dan kepandaian alamiah manusia, yang belum dibereskan di salib, tidak ada manfaat rohaninya. Tuhan berkata, “Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging.”

Jadi, yang penting bukan hanya memiliki tujuan rohani saja, prosesnya juga harus rohani; caranya harus rohani, manusianya sendiri juga harus rohani. Hanya yang berasal dari Roh Kudus yang dapat menjadi rohani. Hanya yang berasal dari Adam dapat kembali kepada Adam. Pertama-tama, ini pasti tubuh Adam, dan kemudian baru mempelai perempuan Adam. Pertama-tama, kita harus menjadi Tubuh Kristus, kemudian kita dapat dibawa kembali menjadi mempelai perempuan Kristus. Kita berharap bahwa kita akan menyentuh realitas rohani dalam hal ini. Kita perlu nampak apa yang sesungguhnya diminta oleh Allah. Yang diminta oleh Allah ialah semua berasal dari Kristus, semua dilahirkan dari roh.

Karena itu, setiap orang Kristen harus menuntut hayat Tubuh. Jika kita tidak menuntut hayat Tubuh, kita tidak dapat menuntut hayat mempelai perempuan. Jangan sekalikali berpikir, tidak ada bedanya apakah kita mengalami hayat Tubuh atau tidak. Kita harus tahu bahwa jika pada hari ini kita mendapatkan hayat Tubuh, pada masa kelak kita akan mendapatkan hayat mempelai perempuan. Jika hari ini kita hidup tanpa kejelasan dan tanpa tujuan, kita tidak mungkin mengetahui hayat mempelai perempuan. Semua orang Kristen harus mengenal Tubuh Kristus. Dalam pandangan Allah, inilah yang harus kita tuntut. Kita tidak dapat hidup sebagai individu saja; kita harus hidup bersama anak-anak Allah yang lain. Seorang Kristen harus tahu bahwa ia hanya seorang anggota dari seluruh Tubuh. Ia bukan hanya seorang Kristen di antara banyak orang Kristen lainnya, tetapi ia juga seorang anggota. Ia harus hidup sebagai seorang anggota dengan begitu banyak orang Kristen lainnya, dan saling memiliki keterkaitan tubuh dengan mereka. Jika kita sungguh-sungguh mengenal hayat Tubuh, kita akan nampak bahwa orang Kristen tidak dapat hidup sehari pun tanpa Tuhan Yesus, dan ia juga tidak dapat hidup sehari pun tanpa orang-orang Kristen lainnya. Tanpa Tuhan Yesus, ia tidak ada, dan tanpa orang-orang Kristen lainnya, ia tidak akan ada. Allah ingin mendapatkan satu Tubuh, bukan banyak orang Kristen yang berdiri sendiri-sendiri dan terisolasi. Yang dirindukan Allah adalah Hawa yang utuh, bukan sebuah tangan di sini dan sebuah kaki di sana. Allah harus mendapatkan Hawa sebagai manusia yang utuh, demikian baru berguna bagi-Nya. Allah tidak menginginkan seorang yang cacat. Ia menginginkan seorang yang baru, yang korporat.

Karena alasan inilah maka semua perpecahan dan individualisme harus disingkirkan. Masalah perpecahan ini bukanlah sesuatu yang luaran, ini adalah masalah hati. Martin Luther berkata, “Paus yang terbesar tidak hidup di Roma, tetapi di dalam hati.” Kita harus tahu bahwa rintangan terbesar terhadap kehendak Allah bukanlah perpecahan yang luaran, tetapi diri kita sendiri, manusia individual, yang tidak mengenal hayat Tubuh. Sampai di sini, kita membutuhkan dua wahyu: yang pertama, nampak bahwa Tubuh itu satu; yang kedua, nampak bahwa aku adalah sebagian dari Tubuh itu, aku adalah anggota Tubuh itu. Jika kita nampak bahwa Tubuh itu satu, kita tidak mungkin berani memecah-belah. Jika kita nampak bahwa sebagai anggota, kita hanya sebagian dari seluruh Tubuh, kita tidak akan berani membenarkan diri kita sendiri, atau beranggapan bahwa sebagai anggota tunggal, kita dapat menjadi unit yang utuh. Hanya seluruh Tubuh bersamasama dapat menjadi satu unit. Kita sendiri sebagai anggota terlalu kecil, terlalu tidak mampu. O, semoga Allah melepaskan kita dari sikap individualistis. Kemudian kita dapat menjadi orang-orang yang berguna bagi-Nya.

KRISTUS MENGASIHI GEREJA

Sekarang mari kita baca Efesus 5:28-29, “Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi memelihara dan merawatnya, sama seperti Kristus terhadap jemaat.” Mengapa suami harus mengasihi istrinya? Karena mengasihi istri berarti mengasihi tubuhnya sendiri. Manusia selalu memelihara dan merawat tubuhnya, dan Kristus melakukan hal yang sama dalam memelihara dan merawat gereja. Dalam pandangan Kristus, gereja adalah Tubuh-Nya sendiri, tulang dari tulang-Nya dan daging dari daging-Nya. Ayat-ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa gereja adalah Tubuh Kristus, dan bahwa pekerjaan-Nya terhadap gereja hari ini adalah memelihara dan merawatnya, karena gereja adalah diri-Nya sendiri. Karena kita semua berasal dari Kristus, Ia pasti akan memelihara dan merawat kita. Kita tahu bagaimana memelihara dan merawat diri kita sendiri; dengan cara yang sama, Kristus akan memelihara dan merawat kita. Fakta menunjukkan bahwa “manusia tidak pernah membenci tubuhnya sendiri.” Jika seorang manusia yang normal tangannya terluka, ia dengan teliti merawat tangannya; jika kakinya luka, ia dengan lembut memperhatikannya. Manusia selalu memelihara dan merawat dirinya sendiri. Demikian pula, Kristus mengasihi gereja, karena gereja adalah diri-Nya sendiri.

Mari kita baca Efesus 5:25-27, “Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dalam firman, supaya dengan demikian Ia mempersembahkan jemaat kepada diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela” (Tl.). Ketiga ayat ini berbicara tentang gereja sebagai mempelai perempuan Kristus. “Mempersembahkan jemaat kepada diri-Nya,” sama seperti Allah membawa Hawa kepada Adam. Dengan cara yang sama, Kristus akan mempersembahkan gereja kepada diri-Nya sendiri. Tetapi, ini akan terjadi kelak. Hari ini gereja belum sampai ke sana. Hari ini Kristus sedang bekerja selangkah demi selangkah di dalam gereja, sampai pada hari itu Ia dapat mempersembahkan gereja kepada diri-Nya sendiri. Dengan kata lain, ayat-ayat ini (Ef. 5:25-27) berbicara tentang jalan penebusan ke Kerajaan Allah. Langkah demi langkah, gereja sekarang sedang dipersiapkan, sampai pada hari itu, Kristus dapat mempersembahkannya kepada diri-Nya sendiri.

Mengapa di sini dikatakan bahwa gereja harus “disucikan”? Karena ini adalah Efesus 5, bukan Kejadian 2. Wahyu Allah yang tertinggi tentang gereja terdapat dalam kitab Efesus. Ciri khas kitab ini adalah, kitab ini tidak dimulai dengan orang-orang berdosa yang diselamatkan, melainkan dimulai dengan pemilihan dalam kekekalan. Roma 1 pertama-tama berbicara tentang dosa, bagaimana kita telah berdosa, dan bagaimana diselamatkan. Tetapi Efesus 1 mulai dari kekekalan dan kita dipilih Allah sebelum dunia diciptakan. Baru pada pasal 2 disebutkan tentang dosa. Surat Efesus memperlihatkan dua garis kepada kita: yang pertama adalah dari kekekalan sampai kekekalan, dan yang kedua adalah dari kejatuhan manusia sampai penebusannya. Dalam Surat Efesus, hal-hal yang luar biasa dinyatakan kepada kita. Kita nampak, bagaimana gereja berasal dari Kristus, dipilih sebelum dunia diciptakan, dan akan menyatakan kemuliaan Kristus dalam kekekalan. Pada saat yang sama, kitab ini juga memperlihatkan kepada kita fakta kejatuhan manusia, perbuatan dosa manusia, dan eksistensi kehidupan alamiah. Inilah sebabnya, pasal 5 mengatakan bahwa Kristus akan menguduskan kita dengan menyucikan kita dengan air dalam firman-Nya. Ia ingin memulihkan kita sedemikian rupa sehingga kita benar-benar sesuai dengan kehendak Allah yang kekal.

Di satu pihak, kita harus memiliki visi, nampak bahwa gereja tidak pernah gagal, berdosa, atau jatuh. Gereja belum pernah menyentuh dosa; dari kekekalan sampai kepada kekekalan ia berada pada satu garis lurus itu. Di pihak lain, kita perlu nampak bahwa kita hanyalah sekelompok orang berdosa yang diselamatkan oleh kasih karunia, karena itu kita membutuhkan air dalam firman, membutuhkan hayat dalam firman-Nya, untuk menguduskan dan memulihkan kita. Semoga Allah mengaruniakan kasih karunia kepada kita sehingga kita dapat mencapainya.

PENYUCIAN GEREJA DENGAN AIR DALAM FIRMAN

Kita harus memperhatikan frasa ini, “dengan memandikannya dengan air dalam firman.” Dalam Perjanjian Baru digunakan dua kata Yunani untuk menunjukkan “firman”. Yang satu adalah “logos”, yang mengacu kepada firman dalam pengertian umum; yang lainnya adalah “rhema”, yang walaupun diterjemahkan sebagai “firman” dalam Alkitab, memiliki arti yang agak berbeda dari “logos”. “Logos” mengacu kepada perkara-perkara yang telah ditentukan secara kekal, yang obyektif. Inilah firman yang biasanya kita gunakan, firman yang dikenal dalam kekristenan. Tetapi “rhema” mengacu kepada kata-kata yang diucapkan. Kata ini lebih subyektif daripada “logos”. Mari kita lihat beberapa bacaan dalam Perjanjian Baru yang menggunakan kata “rhema”.

Dalam Matius 4:4, Yesus menjawab, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Di sini, “firman” adalah “rhema”, bukan “logos”. Ketika kita mengatakan bahwa Alkitab adalah firman Allah, “firman” ini adalah “logos”, bukan “rhema”. Tetapi dapatkah kita mengatakan bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari firman Allah yang tercatat dalam Alkitab? Tidak. Kami tidak mengatakan bahwa firman Allah yang tertulis tidak berguna, tetapi bahwa “logos” (firman Allah yang tertulis dalam Alkitab) saja, tidak berguna bagi kita. Misalnya, pada suatu hari, seseorang memberi tahu seorang ibu bahwa anaknya tertabrak oleh mobil dan berada dalam keadaan gawat. Ibu ini segera membuka Alkitab dan secara kebetulan nampak Yohanes 11:4, “Penyakit itu tidak akan membawa kematian . . .” Karena ayat ini, ia merasa damai dan bahkan mulai bersukacita. Tetapi ketika ia tiba di tempat kejadian, ia menemukan anaknya sudah meninggal. Apakah ini berarti bahwa apa yang tercatat di dalam Injil Yohanes bukan firman Allah? Ini memang firman Allah, tetapi ini “logos”, bukan “rhema”. Kata-kata yang dimengerti oleh ibu ini bukan kata-kata yang diucapkan oleh Allah kepadanya pada saat yang khusus itu. Baik “logos” maupun “rhema” adalah firman Allah, tetapi logos adalah firman Allah yang tercatat secara obyektif di dalam Alkitab, sedangkan “rhema” adalah firman Allah yang diucapkan kepada kita pada sebuah peristiwa khusus.

Roma 10:17 mengatakan, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Sekali lagi di sini, kata ini adalah “rhema”, bukan “logos”. Ayat ini berarti, ketika Kristus pertama kali berbicara di dalam diri kita, kita dapat percaya.

Yohanes 3:16 adalah sebuah ayat yang banyak dari antara kita dapat menghafalnya. Mungkin kita telah mengetahuinya selama sepuluh atau dua puluh tahun. Apa ayat ini firman Allah? Tentu saja ini firman Allah. Tetapi ini adalah “logos”. Sampai suatu hari, kita membaca lagi ayat ini, dan ayat ini sama sekali berbeda bagi kita dibandingkan sebelumnya. “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini.” Allah bukan mengasihi dunia, melainkan mengasihi “aku”. “Sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal bukan hanya kepada dunia, tetapi kepada “aku”. “Supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa.” Bukan setiap orang yang percaya kepada-Nya, melainkan “aku” yang percaya kepada-Nya. “Tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” “Akulah” yang tidak binasa, dan “akulah” yang sekarang ini memiliki hidup kekal. Kata-kata ini sekarang menjadi “rhema,” Allah sedang mengucapkan kata-kata itu kepada kita, dan pada saat yang sama kita memiliki iman. Karena itu, kita harus meminta kepada Allah, “Ya Tuhan, jika Engkau merahmati aku, mohon Engkau memberi aku ‘rhema,’” Ini tidak berarti bahwa “logos” tidak ada gunanya. “Logos” memiliki kegunaan yang pasti, karena tanpa “logos”, kita tidak mungkin memiliki “rhema”. Semua “rhema” dari Allah didasarkan atas “logos”. Kita tidak dapat menyangkal bahwa Yohanes 3:16 adalah firman Allah. Tetapi pada suatu hari, ketika “logos” Allah menjadi “rhema” yang diucapkan oleh Allah kepada kita, kita memiliki iman dan seluruh masalahnya bereslah.

Yohanes 6:63 mengatakan, “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” Apakah orang-orang Yahudi tidak memiliki “logos” Allah? Mereka memilikinya. Mereka sangat mengenalnya dan dapat menghafal perintah-perintah dalam Perjanjian Lama dengan sangat baik, tetapi itu tidak ada gunanya bagi mereka. Hanya kata-kata yang diucapkan Tuhan kepada mereka adalah roh dan hayat. Hanya “rhema” adalah roh dan hayat.

Markus 14:72 mengatakan, “Seketika itu juga berkokoklah ayam untuk kedua kalinya. Petrus pun teringat bahwa Yesus telah berkata kepadanya, ‘Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.’ Lalu menangislah ia tersedu-sedu.” Petrus teringat akan “rhema” yang dikatakan Yesus kepadanya. “Rhema” adalah apa yang diingatnya, yang dapat dipikirkannya. Ketika Petrus berbohong, tiba-tiba “rhema” itu datang. Kalimat Tuhan masuk ke dalam dirinya. “Rhema” adalah kata yang telah diucapkan Tuhan, dan sekarang Ia mengucapkannya lagi.

Dalam Lukas 1:38, “Kata Maria, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.’ Lalu malaikat itu meninggalkan dia.” Sekali lagi, di sini kata ini adalah “rhema”. Ini bukan sekadar kata-kata nubuat dalam Yesaya 7:14, “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak lakilaki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel,” tetapi juga kata-kata yang diucapkan secara khusus kepada Maria oleh malaikat, “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki.” Karena mendengar ini, Maria dikuatkan dan hal itu pun tergenapkan.

Dalam Lukas 2:29, Simeon mengatakan, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,” “firman” di sini adalah “rhema”. Sebelum Tuhan Yesus datang, Allah menyatakan firman-Nya kepada Simeon bahwa ia tidak akan mati sebelum Ia melihat Kristus Tuhan. Tetapi pada hari ia melihat Tuhan Yesus, Simeon berkata, “Sekarang biarlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan firman-Mu.” Simeon memiliki “rhema” dari Tuhan. Ini tidak didasarkan pada pasal atau ayat tertentu dalam Alkitab, melainkan menurut kata-kata yang diucapkan kepadanya pada hari itu oleh Tuhan. Hanya mendapatkan sebuah kata dari pasal dan ayat tertentu dalam Alkitab tidaklah cukup; kata-kata yang diucapkan Tuhan kepada kita itulah baru ada manfaatnya. “Rhema” menyatakan sesuatu kepada kita secara pribadi dan langsung; “rhema” menunjukkan kepada kita apa yang kita jamah, apa yang harus kita bereskan, apa yang harus kita bersihkan. Kita harus menuntut hal ini, karena pada “rhema”lah kehidupan kristiani kita bersandar. Sebenarnya, apa yang telah Allah ucapkan kepada kita, dan bagaimanakah Ia berbicara kepada kita? Kita harus ingat bahwa kekristenan hari ini masih tetap kekristenan dari wahyu pribadi. Jika Tuhan tidak berbicara di dalam diri manusia, ini bukan kekristenan, dan juga bukan Perjanjian Baru.

Lukas 3:2 mengatakan, “Pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun.” “Firman” di sini adalah “rhema”.

Lukas 5:5 mengatakan, “Simon menjawab, ‘Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala juga.’” Ini adalah perkataan yang diucapkan oleh Tuhan pada saat itu. Tuhan berbicara kepada Simon secara pribadi. Inilah “rhema”. Tuhan tidak berbicara dari pasal dan ayat tertentu dalam Alkitab bahwa Simon harus menebarkan jalanya. Jika seseorang mencoba untuk berjalan di atas laut menurut Matius 14:29, ia pasti akan tenggelam. Itu bukanlah firman yang diucapkan Tuhan hari ini, walaupun Ia memang mengatakannya pada hari itu. Memang kata-kata yang diucapkan Allah pada masa lalu dan hari ini memiliki kuasa yang sama; kata-kata itu tidak pernah berubah. Tetapi yang penting adalah: Apakah Allah mengucapkan lagi kata-kata yang tepat sama itu kepada kita pada hari ini?

Lukas 24:8 mengatakan, “Lalu teringatlah mereka akan perkataan (‘rhema’) Yesus itu.” Singkatnya, apakah “rhema” itu? “Rhema” adalah yang dahulu diucapkan Tuhan, sekarang diucapkan-Nya lagi. Dengan kata lain, “rhema” adalah kata-kata yang diucapkan Tuhan untuk kedua kalinya, ini adalah yang hidup.

Dalam Kisah Para Rasul 11:16, Petrus mengatakan, “Lalu teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.” Ketika Petrus sedang berkhotbah kepada keluarga Kornelius, Roh Tuhan tercurah ke atas mereka, dan firman Tuhan datang kepada Petrus. Petrus tidak berusaha untuk mengingat-ingat kata itu kembali, tetapi Tuhanlah yang berbicara kepadanya, “Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.”

Satu hal yang selalu kita mustikakan adalah fakta bahwa Tuhan masih berbicara bahkan sampai hari ini. Ia tidak hanya berbicara dalam Alkitab, Ia tidak hanya berbicara kepada Paulus dan Yohanes, tetapi juga berbicara kepada kita. Firman Tuhan tidak pernah berhenti. Setiap kali orang-orang yang bekerja bagi Tuhan berdiri dan berbicara untuk-Nya, mereka harus mengharapkan “rhema”. Jika Tuhan tidak berbicara kepada kita hari ini, kita benar-benar gagal. Berapa kalikah kita telah berkhotbah tanpa Tuhan mengucapkan satu kata pun? Tidak ada sesuatu yang salah dengan khotbah itu, tetapi semua itu hanya kata-kata Tuhan yang umum, tidak ada “rhema” di dalamnya. Masalah gereja hari ini adalah: gereja kekurangan kata-kata Allah yang hidup; sebaliknya hanya ada doktrin-doktrin yang mati. Benar-benar ada kekurangan yang nyata dalam hal komunikasi langsung dari Allah. Hanya ada informasi dari khotbah manusia. Betapa sayangnya bahwa begitu banyak orang telah mati di bawah doktrin-doktrin yang bagus! Semoga Allah membelaskasihani kita, memberi kita “rhema” — perkataan yang langsung Allah katakan kepada kita hari ini. Hanya jika kita memiliki “rhema”, kita dapat maju dan memiliki firman hidup untuk menyuplai orang-orang lain. Yang kita butuhkan adalah “rhema”.

Dalam kehendak Allah yang kekal, gereja itu tanpa dosa. Gereja tidak memiliki sejarah dosa, melainkan sepenuhnya rohani dan seluruhnya dari Kristus. Tetapi bagaimana dengan sejarah gereja yang sesungguhnya? Kita mengetahui bahwa gereja itu tidak sepenuhnya berasal dari Kristus, dan sebagian besar unsurnya berasal dari tanah. Jadi, bagaimana Kristus membawa gereja kepada kesempurnaan? Ia akan melakukannya dengan menyucikan gereja itu dengan air dalam firman — “rhema”. Kita telah menyebutkan sebelumnya bahwa air mengacu kepada hayat. Air adalah hayat yang dibebaskan melalui kematian non-penebusan Kristus. Kristus sedang menggunakan hayat-Nya melalui firman-Nya, “rhema”-Nya, untuk menyucikan kita.

Apa artinya Kristus sedang menyucikan kita dengan hayat-Nya melalui firman-Nya? Pertama-tama kita harus melihat masalah gereja itu dari sudut pandang Allah. Kekurangan gereja bukanlah karena Kristus yang diperolehnya itu terlalu sedikit, melainkan karena ia memiliki terlalu banyak hal lain selain Kristus. Gereja dalam kehendak Allah sepenuhnya berasal dari Kristus, tanpa dosa, tanpa kedagingan, tidak berisi hayat alamiah. Tetapi bagaimana dengan keadaan kita yang nyata hari ini? Masing-masing dari kita yang benar-benar milik Kristus memiliki satu bagian tertentu yang sepenuhnya Kristus. Kita berterima kasih kepada Allah atas bagian ini. Tetapi di samping bagian ini, kita masih memiliki banyak hal yang tidak berasal dari Kristus. Karena semua hal lainnya ini, kita perlu disucikan. Apa artinya disucikan? Ini berarti mengurangi, bukan menambah. Jika penyucian berarti tambahan bagi kita, ini berarti pencelupan. Hawa dalam Kejadian 2 tidak perlu disucikan, karena ia melambangkan gereja dalam rencana Allah yang kekal. Tetapi jika kita beranggapan bahwa kita tidak perlu disucikan hari ini, kita menipu diri kita sendiri. Allah memang merencanakan untuk membawa kita ke sebuah tempat di mana penyucian itu tidak diperlukan, tetapi hari ini kita masih perlu disucikan.

Bagaimana Allah menyucikan kita? Ia melakukan-Nya dengan hayat-Nya melalui firman-Nya sendiri. Sering kali kita tidak tahu dalam aspek manakah kita perlu disucikan. Tetapi pada suatu hari, hayat di dalam diri kita tidak melepaskan kita. Tidak lama kemudian, “rhema”-Nya masuk ke dalam kita, menunjukkan apa yang harus dibereskan. Di satu pihak, hayatlah yang menyentuh kita; di pihak lain, firmanlah yang memberi tahu kita. Kadang-kadang kita terlibat dalam sesuatu yang nampaknya cukup baik menurut doktrin, dan alasan kita melakukannya juga cukup baik, tetapi di dalam, ada sesuatu yang terus menyentuh kita dan tidak melepaskan kita. Kemudian, pada akhirnya, Tuhan berbicara kepada kita, “rhema”, kata-kata Tuhan yang berkuasa, datang. Rhema ini memberi tahu kita bahwa perkara tertentu harus dibereskan dan disucikan. Di satu pihak, inilah hayat; di pihak lain, inilah kata-kata Tuhan. Dengan ini kita disucikan. Kadang-kadang urutannya diubah. Mula-mula kita tidak merasakan apa pun ketika terlibat dalam suatu masalah tertentu; kenyataannya, kita merasa bahwa semuanya baik-baik saja. Tetapi ketika “rhema” itu datang, firman Tuhan lebih dulu berbicara kepada kita, memberi tahu kita bahwa hal ini salah, dan kemudian hayat di dalam diri kita menuntut agar kita membereskannya. Inilah kehidupan kita sehari-hari. Hayat Tuhan tidak mengizinkan kita melakukan sesuatu, dan kemudian firman itu datang; atau firman itu datang lebih dulu, dan kemudian hayat itu menuntut agar kita membereskan sesuatu. Tetapi selalu terjadi penyucian dengan air dalam firman untuk menguduskan kita.

Karena itu, seluruh masalah pertumbuhan dan kemajuan kita tergantung kepada sikap kita terhadap hayat dan “rhema”. Jika kita memiliki perasaan batin dalam hayat kita, kita tidak boleh membiarkannya. Kita harus berdoa, “Tuhan, berilah aku ’rhema’, agar aku mengetahui bagaimana menghadapi situasi ini.” Jika Tuhan memberikan “rhema” lebih dulu, Ia berbicara kepada kita lebih dulu, kita masih perlu meminta-Nya menyuplai kita dengan hayat untuk menghadapi masalah itu. Jika kita memperhatikan perkara-perkara ini dan tidak menganggap remeh, Tuhan akan menyucikan kita dengan memandikan dengan air dalam firman sehingga kita menjadi kudus.

Di hadapan Tuhan, arti dari gereja yang dibersihkan dengan air adalah hayat Kristus membereskan semua bagian yang tidak berasal dari Kristus. Hayat alamiah dan semua yang tidak berasal dari Kristus harus disingkirkan. Pengudusan hanya dapat terjadi setelah pembersihan, dan dasar dari pembersihan adalah kata-kata Tuhan, “rhema”. Jika kita tidak mengenal firman Tuhan, kita tidak memiliki jalan untuk dibersihkan dan dikuduskan. Sejak kita menjadi orang Kristen, dari mana datangnya pengetahuan kita? Apakah pengetahuan ini berasal dari sumber luar, atau dalam? Apakah kita memahami kehendak Allah dari dalam batin, ataukah ini masih sesuatu di luar diri kita? Banyak kesulitan bersumber pada masalah ini — kurangnya firman Allah. Penyebab Tubuh Kristus tidak dapat dibangun adalah karena kita hanya memiliki sesuatu yang luaran, bukan sesuatu yang batini. Seluruh dasar Kekristenan tergantung pada firman Allah. Pertumbuhan gereja juga tergantung pada kata-kata yang diucapkan oleh Tuhan. Karena itu, pusat doa kita yang utama haruslah kerinduan kita akan kata-kata Tuhan. O, semoga Tuhan berbicara kepada kita! Kata-kata Tuhan yang diucapkan kepada kitalah yang memungkinkan kita untuk mencapai kehendak kekal Allah. Gereja hari ini tidak seperti Hawa yang ada dalam Kejadian 2, karena gereja telah jatuh. Karena itu Tuhan harus menyucikan kita dengan memandikan kita dengan air dan firman.

Gereja dalam kehendak Allah dan gereja dalam pengalaman adalah dua hal yang benar-benar berbeda. Gereja dalam kehendak Allah sepenuhnya tanpa dosa; gereja ini tidak pernah mengenal dosa, dan juga tidak memiliki sejarah dosa. Gereja ini sangat jauh di atas dosa, tanpa jejak dosa sama sekali. Gereja ini sepenuhnya rohani dan berasal dari Kristus. Di pihak lain, gereja dalam sejarah telah gagal dan jatuh. Hari ini, Tuhan sedang bekerja di antara orang-orang yang jatuh untuk membawa mereka kembali kepada gereja yang sesuai dengan kehendak-Nya yang mula-mula. Tuhan ingin bekerja di antara orang-orang yang jatuh, bobrok, dan terasing, penuh dosa, dan kenajisan tersebut, supaya Ia mendapatkan sebuah gereja dari antara mereka. Ia bermaksud memulihkan mereka kepada ketetapan dan keinginan-Nya di masa kekekalan yang lampau, sehingga Ia bisa mendapatkan apa yang diinginkan-Nya di masa kekekalan yang akan datang. Dalam karya-Nya yang agung, Tuhan menggunakan kata-kata yang diucapkannya sebagai alat untuk membawa gereja kembali kepada kehendak Allah yang mula-mula. O, kita sungguh tidak boleh meremehkan firman Tuhan.

Kita harus ingat bahwa pengetahuan dan perawakan (pertumbuhan) rohani itu tidak sama. Semua doktrin, pengajaran, teologi, dan pengetahuan hanya sedikit manfaatnya jika hanya mengalir dari satu orang ke orang lainnya. Pertumbuhan yang benar tergantung pada penerimaan kita terhadap firman langsung dari Allah. Allah sedang menggunakan “rhema”nya untuk melakukan pekerjaan-Nya, dan Ia rindu berbicara kepada kita. Karena itu, jika tujuan kita dalam membaca Alkitab hanya untuk pengetahuan, sungguh sayang. Jika memang demikian, kita sudah gagal. Nilai yang sebenarnya dari Alkitab adalah bahwa Allah dapat berbicara kepada manusia melaluinya. Jika kita ingin berguna di tangan Tuhan, kita harus mendengarkan kata-kata Tuhan. Rohani atau tidaknya pertumbuhan kita tergantung pada apakah Tuhan telah berbicara kepada kita. Pengetahuan dan doktrin tidak ada manfaat rohaninya. Hanya kata-kata Tuhan terhadap kita yang memiliki nilai rohani.

Bagaimana mungkin kita akan puas dengan pengetahuan dan doktrin sedangkan gereja berada dalam kejatuhan, gereja mengecewakan Allah dan membutakan diri terhadap kehendak-Nya? Semoga Allah membelaskasihani kita, merahmati kita, sehingga kita dapat berdoa, “Tuhan, mohon Engkau berbicara kepada kami.” Semua kata dari luar, semua kata yang disampaikan kepada kita melalui orang-orang lain, walaupun sudah diucapkan seribu atau sepuluh ribu kali, tidak ada gunanya. Hanya “rhema” yang ada gunanya. Jika Anda melakukan atau tidak melakukan sesuatu hanya karena orang-orang lain memberi tahu Anda untuk berbuat demikian, itu berarti Anda menaati hukum Taurat, Anda tidak berada dalam Perjanjian Baru. Setiap orang yang memiliki pikiran yang jelas dapat membagi Surat Roma menjadi bagian-bagian, seperti keselamatan, pembenaran, dan sebagainya. Tetapi di dalam dirinya ada satu kelemahan yang besar — Allah tidak berbicara kepadanya. Seseorang mungkin mempunyai pengetahuan, tetapi tidak memiliki firman Allah. Banyak orang beranggapan bahwa pengetahuan akan Alkitab dan pemahaman doktrin adalah kerohanian. Tidak ada perkara demikian! Pengetahuan Alkitab tidak mungkin menjadi pengganti kerohanian. Hanya perkataan Allah secara pribadi dan langsung yang ada nilainya. Ketika Allah berbicara kepada kita melalui firman-Nya, kita diterangi, melalui firman-Nya kita dikuduskan dan bertumbuh. Kita perlu mengetahui apakah hidup dan mati itu, apa yang hanya pengetahuan dan apa yang rohani. Segala sesuatu yang tidak hidup, tidak bernilai rohani. Jika kita memiliki “rhema”, firman Allah yang hidup, kita dapat dibersihkan dan dikuduskan.

MENJADI GEREJA YANG MULIA

Apa tujuan Kristus dalam pekerjaan penyucian dan pengudusan-Nya? Tujuannya adalah agar suatu hari nanti, “Ia mempersembahkan gereja kepada diri-Nya sebagai gereja yang mulia” (Ef. 5:27 Tl.). Inilah yang ditunggu Kristus, supaya gereja dipersiapkan dan dipersembahkan kepada diri-Nya. “Gereja yang mulia” dalam bahasa aslinya berarti gereja itu dibawa kepada kemuliaan. Dengan kata lain, gereja akan mengenakan kemuliaan, memakai kemuliaan. Efesus 4 mengatakan bahwa gereja akan mencapai kesatuan iman, dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah (ayat 13). Kemudian pasal 5 mengatakan bahwa gereja akan mengenakan kemuliaan untuk dipersembahkan kepada Kristus. Allah bermaksud membawa seluruh gereja kepada keadaan ini. Ini benar-benar sesuatu yang luar biasa! Jika kita melihat keadaan gereja hari ini, kita mengatakan, “Bagaimana mungkin?” Tetapi Tuhan sedang bekerja. Suatu hari nanti gereja akan sampai kepada kesatuan iman; ia akan sampai kepada pengetahuan yang benar akan Kristus; ia akan mengenakan kemuliaan dan dipersembahkan kepada Kristus. Inilah yang dirindukan dan akan didapatkan oleh Tuhan. Inilah juga yang kita rindukan dan akan kita dapatkan.

Gereja yang mulia ini tidak memiliki cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi akan kudus dan tidak bercela (Ef. 5:27). Tuhan akan menyucikan kita sedemikian rupa sehingga akan nampak bahwa gereja tidak pernah mengalami cacat atau kerut. Akan nampak bahwa gereja tidak pernah melakukan dosa; jejak dosa pun tidak dapat ditemukan padanya.

Gereja bukan saja tanpa noda, tetapi juga tanpa kerut. Kita semua tahu bahwa anak-anak dan pemuda tidak memiliki kerut. Jika kerut muncul pada seseorang, berarti ia mulai menjadi tua. Tuhan ingin membawa gereja kepada suatu keadaan di mana tidak ada sesuatu yang tua, tidak ada sesuatu dari masa lalu. Ia menginginkan segala sesuatu di dalam gereja menjadi baru. Suatu hari nanti, ketika gereja berdiri di hadapan Tuhan, akan nampak seolah-olah ia tidak pernah berdosa, bahwa ia tidak pernah memiliki sejarah dosa. Ia tidak akan memiliki cacat atau kerut. Karena gereja ada dalam tujuan Allah pada penciptaan, demikianlah juga halnya di masa kelak.

Gereja bukan saja menjadi tanpa cacat atau kerut, bahkan tidak memiliki “yang serupa itu”. Dalam terjemahan dari bahasa Yunani, ini bisa dibaca sebagai berikut, “penyakit yang serupa itu.” Gereja bukan hanya tanpa cacat dan kerut, bahkan tidak memiliki penyakit apa pun; semua penyakit tidak ada. Akan tiba harinya pekerjaan Allah atas gereja dilakukan sedemikian rupa sehingga gereja penuh kemuliaan.

Selain itu, gereja “kudus dan tidak bercela”. Allah akan membawa gereja mencapai suatu tahap di mana tidak ada sesuatu yang dapat dikatakan untuk mencelanya; dunia tidak dapat berkata apa-apa; Iblis tidak dapat berkata apaapa; setiap orang dan setiap hal tidak dapat berkata apaapa. Pada hari itu, ketika gereja sangat mulia, ia akan menjadi mempelai perempuan Kristus.

Kita harus nampak kedua perkara ini dengan sangat jelas: Pertama, pada hari ini kita adalah Tubuh Kristus sendiri. Sebagai Tubuh-Nya, Kristus membersihkan dan mempersiapkan kita, supaya kita dapat menjadi gereja yang dimaksudkan Allah dari kekekalan. Kedua, ketika saatnya tiba, Kristus akan datang dan kita akan dibawa ke hadapan-Nya untuk dipersembahkan kepada-Nya sebagai gereja yang mulia, mempelai perempuan-Nya. Karena itu, pertama-tama kita memiliki sejarah Tubuh Kristus di bumi, kemudian kita memiliki sejarah mempelai perempuan dalam kemuliaan. Sekarang kita berada dalam proses penyucian. Sekarang saatnya kita membutuhkan “rhema”. Orang-orang Kristen yang tidak pernah menerima wahyu secara langsung adalah orang-orang yang menunda Tuhan. Jika kita tidak pernah mendengar Tuhan berbicara kepada kita, kita menghalangi Tuhan untuk mencurahkan kasih karunia-Nya. Semoga Allah membelaskasihani kita, sehingga kita tidak menjadi orang-orang yang menghalangi-Nya. Sebaliknya, semoga kita menjadi orang-orang yang mendengarkan-Nya dan terus maju, sehingga gereja dapat dibawa menjadi mempelai perempuan Kristus.

PEKERJAAN DAN TANGGUNG JAWAB GEREJA DI HADAPAN ALLAH

Kitab Efesus menampakkan kepada kita gereja yang telah ditetapkan Allah dalam kekekalan. Pasal 5 memberi tahu bagaimana gereja akan menjadi gereja yang mulia, tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, kudus dan tidak bercela. Kemudian pasal 6 berbicara tentang pekerjaan gereja yang sesungguhnya, yakni peperangan rohani.

Ketika kita membaca Efesus 6:10-12, kita akan tahu bahwa pekerjaan dan tanggung jawab gereja adalah peperangan rohani. Musuh-musuh dalam peperangan ini bukanlah daging dan darah, melainkan makhluk-makhluk rohani yang tempat tinggalnya di udara. Mari kita membaca ayat 13-14, “Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah . . .” Di sini dikatakan bahwa kita harus berdiri tegap, bukan menyerang. Peperangan rohani bersifat mempertahankan, bukan menyerang, karena Tuhan Yesus telah bertempur dan menang. Pekerjaan gereja di bumi tidak lain adalah mempertahankan kemenangan Tuhan. Tuhan telah memenangkan peperangan itu, dan gereja ada di sini untuk mempertahankan kemenangan-Nya. Pekerjaan gereja bukan mengalahkan Iblis, melainkan mempertahankan orang-orang yang sudah dimenangkan oleh Tuhan. Pekerjaannya bukan mengikat orang yang kuat — orang yang kuat itu sudah diikat. Pekerjaan gereja adalah tidak membiarkan ikatan itu longgar. Gereja tidak perlu menyerang; menjaga saja sudah cukup. Titik awal peperangan rohani adalah berdiri di atas kemenangan Kristus, melihat bahwa Kristus telah menang. Titik awal ini bukanlah menanggulangi Iblis, melainkan percaya kepada Tuhan. Bukan mengharapkan agar kita menang, karena kita sudah menang. Iblis tidak dapat melakukan apa-apa.

Pekerjaan dan tanggung jawab gereja adalah peperangan rohani. Ini adalah masalah konflik antara kuasa Allah dan kekuatan Iblis. Sekarang kita akan melihat hubungan antara gereja dan Kerajaan Allah.

Beberapa orang berpendapat bahwa Kerajaan Allah hanya berkaitan dengan masalah pahala. Ini merupakan pikiran yang terlalu rendah mengenai Kerajaan Allah. Tuhan Yesus pernah menjelaskan kepada kita apakah Kerajaan Allah itu. Ia berkata, “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Mat. 12:28). Apakah Kerajaan Allah itu? Kerajaan Allah adalah penggulingan kekuatan Iblis oleh kekuasaan Allah. Jika Iblis tidak tahan berdiri di suatu tempat tertentu, di tempat itulah Kerajaan Allah sudah datang. Di mana Iblis telah disingkirkan, di situ ada Kerajaan Allah.

Wahyu 12:9-10 mengatakan, “Naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring di surga berkata, ‘Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara seiman kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.’” Kita harus memperhatikan kata “karena” dalam ayat 10. Kerajaan Allah datang, “karena” Iblis telah disingkirkan. Iblis kehilangan kedudukannya dan tidak dapat lagi berdiri di situ. Pada saat itu, ada sebuah suara yang besar di langit mengatakan, “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia (Kristus) yang diurapi-Nya.” Di mana pun Iblis meninggalkan sebuah tempat, itu karena Kerajaan Allah ada di situ. Di mana pun ada Kerajaan Allah, di situ tidak mungkin ada Iblis. Hal ini dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa dalam Alkitab arti penting pertama dari Kerajaan Allah adalah menanggulangi Iblis.

Ketika orang-orang Farisi bertanya kapankah Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk. 17:20-21). Apa yang dimaksudkan Tuhan ketika Ia mengatakan, “Kerajaan Allah ada di antara kamu?” Maksud-Nya, “Aku berdiri di sini!” Tentu saja, kita semua mengetahui bahwa Kerajaan Allah tidak mungkin ada di dalam orang-orang Farisi. Pada hari itu, Kerajaan Allah ada di antara mereka karena Tuhan Yesus berdiri di antara mereka. Ketika Ia ada di sana, Iblis tidak mungkin di sana. Tuhan Yesus berkata, “Penghulu dunia ini datang, dan Ia tidak berarti apaapa dalam-Ku” (Yoh. 14:30 Tl.). Di mana ada Tuhan Yesus, Iblis pasti pergi. Dalam Lukas 4, ada seorang laki-laki yang kerasukan setan. Bagaimana reaksi setan itu ketika ia bertemu Tuhan? Sebelum Tuhan mengatakan apa pun untuk mengusirnya, setan itu berteriak, “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami?” (ayat 34). Di mana ada Tuhan, setan tidak mungkin ada di situ. Kehadiran Tuhan Yesus sendiri mewakili Kerajaan Allah, dan Ia adalah Kerajaan Allah. Di mana Ia berada, di situ juga Kerajaan Allah berada.

Apa hubungan hal ini dengan kita? Wahyu 1:5-6 mengatakan, “Bagi Dia, yang mengasihi kita dan telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya —dan telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya — bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin.” Perhatikan kata “kerajaan” dalam ayat 6. Ayat ini menunjukkan kepada kita bukan hanya di mana ada Tuhan Yesus, di situ ada Kerajaan Allah, tetapi juga di mana ada gereja, di situ ada Kerajaan Allah. Bukan hanya Tuhan Yesus sendiri yang mewakili Kerajaan Allah, Gereja juga mewakili Kerajaan Allah. Titik pokoknya di sini bukanlah pahala di masa kelak atau kedudukan dalam Kerajaan Allah, besar atau kecil, tinggi atau rendah, semua itu bukan masalah. Titik pokoknya adalah Allah ingin agar gereja mewakili Kerajaan-Nya.

Pekerjaan gereja di bumi adalah mendatangkan Kerajaan Allah. Semua pekerjaan gereja diatur oleh prinsip Kerajaan Allah. Penyelamatan jiwa-jiwa ada di bawah prinsip ini, demikian juga pengusiran setan dan pekerjaanpekerjaan lainnya. Semuanya harus berada di bawah prinsip Kerajaan Allah. Mengapa kita harus memenangkan jiwa-jiwa? Untuk Kerajaan Allah — bukan semata-mata karena manusia membutuhkan keselamatan. Kita berdiri pada kedudukan Kerajaan Allah ketika kita bekerja, dengan Kerajaan Allah menanggulangi kekuatan Iblis.

Tuhan ingin kita berdoa, “Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” (Mat. 6:9-10). Jika datangnya Kerajaan Allah itu datang dengan sendirinya, Tuhan tidak mungkin mengajar kita untuk berdoa seperti ini. Tetapi karena Tuhan meminta kita untuk berdoa seperti ini, Ia tidak lain ingin menunjukkan kepada kita bahwa inilah pekerjaan gereja. Ya, gereja harus memberitakan Injil, tetapi, lebih dari itu, gereja harus berdoa supaya Kerajaan Allah datang. Beberapa orang berpikir bahwa berdoa atau tidak, Kerajaan Allah akan datang secara otomatis. Tetapi jika kita mengenal Allah, kita tidak akan pernah berkata demikian. Prinsip pekerjaan Allah adalah menunggu orang-orang-Nya bergerak, baru Ia akan bergerak.

Allah memberi tahu Abraham bahwa orang-orang Israel akan keluar dari bangsa yang menyengsarakan mereka. Tetapi baru 430 tahun berikutnya hal ini terlaksana. Baru pada saat orang Israel berseru kepada Allah, Ia mendengar seruan mereka dan datang membebaskan mereka. Jangan beranggapan bahwa apakah kita berseru atau tidak, segala sesuatu akan sama. Allah membutuhkan manusia untuk bekerja sama dengan-Nya dalam pekerjaan-Nya. Jika umat Allah bergerak, Allah juga akan bergerak. Ketika umat Allah menyadari bahwa mereka harus meninggalkan Mesir (walaupun tidak semua orang Israel menyadari hal ini), mereka berseru kepada Allah, dan Allah bergerak untuk melepaskan mereka.

Bahkan kelahiran Tuhan Yesus adalah hasil kerjasama dari beberapa umat Allah dengan-Nya. Di Yerusalem ada beberapa orang yang secara terus-menerus mencari penghiburan bagi Israel. Itulah sebabnya Tuhan dilahirkan. Walaupun tujuan Allah adalah mendatangkan Kerajaan-Nya, Ia sendiri saja tidak cukup. Ia membutuhkan gereja untuk bekerja dengan-Nya. Melalui doa, gereja harus melepaskan kuasa Kerajaan Allah di bumi. Kemudian, ketika Tuhan datang, kerajaan dunia ini akan menjadi Kerajaan Tuhan dan Kristus-Nya (Why. 11:15 Tl.).

Karena pekerjaan gereja adalah berdiri bagi Allah dan tidak memberikan kedudukan kepada Iblis, sikap hidup bagaimanakah yang harus kita miliki untuk melaksanakan tugas ini? Semua dosa dan ketidakbenaran kita harus dibereskan, konsikrasi kita terhadap Allah harus sempurna, hayat jiwa kita harus dimatikan, dan manusia alamiah kita harus ditinggalkan. Kekuatan daging sama sekali tidak berguna dalam peperangan rohani. “Aku” tidak berdaya menanggulangi Iblis. “Aku” harus keluar. Kapan “aku” keluar, Tuhan Yesus akan masuk. Jika “aku” masuk, ada kegagalan. Jika Tuhan masuk, ada kemenangan. Iblis hanya mengenal satu Persona — Tuhan Yesus. Kita tidak dapat melawan Iblis. Anak panah api Iblis dapat menembus daging kita. Namun puji Tuhan, kita dapat mengenakan Kristus, Kristus telah menang.

Kita percaya bahwa Kristus akan datang lagi. Tetapi jangan berpikir bahwa dengan duduk dan menunggu secara pasif, Tuhan Yesus akan secara otomatis datang. Tidak, ada pekerjaan yang harus dilakukan oleh gereja. Sebagai Tubuh Kristus kita harus belajar untuk bekerja sama dengan Allah. Jangan pernah berpikir bahwa diselamatkan saja sudah cukup. Tidak cukup. Kita harus memperhatikan kebutuhan Allah. Akibat kejatuhan manusia ada dua: yang pertama adalah masalah tanggung jawab moral manusia; yang lainnya adalah Iblis mendapatkan kekuasaan atas bumi. Di satu pihak, manusia menderita kerugian, tetapi di pihak lain, Allah juga menderita kerugian. Penebusan telah membereskan masalah tanggung jawab moral dan kerugian manusia, tetapi kerugian yang diderita oleh Allah belum terbereskan. Kerugian Allah tidak dapat dipulihkan melalui penebusan, melainkan melalui Kerajaan. Tanggung jawab moral manusia telah dibereskan oleh salib, tetapi masalah kuasa Iblis harus dibereskan oleh Kerajaan. Tujuan langsung dari penebusan adalah untuk manusia, sedangkan tujuan langsung dari Kerajaan adalah untuk menanggulangi Iblis. Penebusan mendapatkan kembali apa yang hilang dari manusia; Kerajaan akan menghancurkan apa yang telah didapatkan Iblis.

Manusia pada mulanya diberi tanggung jawab untuk menggulingkan kekuasaan Iblis, tetapi manusia jatuh, membuat kuasa itu jatuh kepada Iblis. Bahkan manusia sendiri tunduk kepadanya. Iblis menjadi orang yang kuat, dan manusia menjadi harta bendanya (Mat. 12:29). Situasi ini memerlukan Kerajaan menanggulanginya. Jika tidak ada Kerajaan, maka pekerjaan Iblis yang ada karena kejatuhan manusia tidak akan dapat digulingkan.

Langit dan bumi yang baru tidak langsung terjadi setelah penebusan selesai, karena masalah Iblis belum dibereskan. Sebelum langit dan bumi yang baru datang, harus ada Kerajaan. Wahyu 11:15 mengatakan, “Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai Raja sampai selama-lamanya.” Setelah Kerajaan datang, kekekalan akan datang. Kerajaan berkaitan dengan kekekalan. Kita dapat mengatakan bahwa Kerajaan adalah permulaan langit dan bumi yang baru. Wahyu 21 dan 22 menunjukkan kepada kita bahwa langit dan bumi yang baru muncul setelah Kerajaan. Yesaya 65 bahkan menggambarkan Kerajaan sebagai langit dan bumi yang baru. Ini berarti bahwa Yesaya memandang Kerajaan itu sebagai permulaan langit dan bumi yang baru. Jadi, jika Kerajaan itu dimulai, langit dan bumi yang baru juga mulai.

Semoga Allah membuka mata kita sehingga kita tidak menganggap diri kita sendiri sebagai inti. Mengapa kita diselamatkan? Apakah hanya agar kita tidak masuk neraka? Tidak. Bukan ini inti masalahnya. Jika demikian, mengapa Kristus ingin menyelamatkan kita? Kita dapat menjawab pertanyaan ini dari dua sudut pandang yang berbeda. Yang pertama kita melihatnya dari sudut pandang manusia; yang kedua dari sudut pandang Allah. Jika kita memandang perkara yang sama dari dua sudut yang berbeda, perkara ini nampak berbeda. Kita tidak boleh hanya memandang perkara ini dari sudut pandang manusia. Kita juga harus melihatnya dari sudut pandang Allah. Sebenarnya, pemulihan kerugian manusia adalah untuk pemulihan kerugian Allah. Kerugian Allah harus dipulihkan melalui Kerajaan. Hari ini Allah telah memberikan kemenangan Yesus kepada kita. Di mana ada kemenangan Tuhan Yesus, Iblis harus pergi. Kita hanya perlu berdiri teguh, karena Tuhan Yesus telah menang. Dalam pekerjaan penebusan-Nya, Tuhan Yesus menghancurkan semua kedudukan Iblis. Semua pengaturan Iblis yang sah telah dimusnahkan melalui penebusan. Penebusan adalah suatu hukuman di mana Iblis diambil dari kedudukannya yang sah. Sekarang tanggung jawab melaksanakan hukuman ini berada pada gereja. Pada hari Allah nampak bahwa gereja telah memenuhi tugas ini dengan baik, Kerajaan akan datang, dan sesudah itu langit dan bumi yang baru. Langit dan bumi yang baru dalam kitab Yesaya akan memimpin kepada langit dan bumi yang baru dalam kitab Wahyu.

Hari ini, kita sedang berdiri di antara penebusan dan Kerajaan. Ketika kita menoleh ke belakang, kita melihat penebusan; ketika kita melihat ke depan, kita melihat Kerajaan. Tanggung jawab kita ganda: di satu pihak, kita harus memimpin orang-orang dunia ini untuk diselamatkan, dan di pihak lain, kita harus berdiri teguh untuk Kerajaan. O, semoga kita memiliki visi ini, supaya kita melihat tanggung jawab yang diserahkan kepada gereja oleh Tuhan.

Mari kita ulangi apakah Kerajaan Allah itu. Kerajaan Allah adalah Allah berkuasa. Kita harus memiliki Kerajaan semacam ini di antara kita. Kita harus membiarkan Allah yang berkuasa di surga, juga berkuasa atas diri kita. Allah pasti mendapatkan kekuasaan, kekuatan, dan kemuliaan-Nya di antara kita. Kita bukan saja harus berusaha untuk hidup sesuai Efesus 5 di hadapan Allah, kita juga harus mengejar tanggung jawab yang dinyatakan kepada kita dalam Efesus 6. Kemudian kita bukan hanya akan menjadi gereja yang mulia, kudus, dan tidak bercela, kita juga akan menjadi orang-orang yang telah bekerja sama dengan Allah untuk mendatangkan Kerajaan-Nya dan menyebabkan Iblis menderita kekalahan di bumi ini.