← Daftar isi Kudus dan Tidak Bercela · bab 1/5

RENCANA ALLAH DAN PERHENTIAN ALLAH

Pembacaan Alkitab:

Kejadian 1:26—2:3; 2:18-24; Efesus 5:22-32; Wahyu 12; 21:1—22:5

Dalam empat bagian Alkitab ini disebutkan empat perempuan. Dalam Kejadian 2, perempuan ini adalah Hawa; dalam Efesus 5, perempuan ini adalah gereja; dalam Wahyu 12, perempuan ini adalah perempuan yang terlihat dalam penglihatan; dan dalam Wahyu 21, perempuan ini adalah pengantin perempuan dari Anak Domba.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita terang untuk melihat bagaimana kaitan keempat perempuan ini satu dengan yang lainnya, dan dengan rencana-Nya yang kekal. Kemudian kita dapat melihat kedudukan gereja dan tanggung jawabnya dalam rencana Allah, dan bagaimana pemenang-pemenang Allah melaksanakan tujuan-Nya yang kekal.

TUJUAN ALLAH MENCIPTAKAN MANUSIA

Mengapa Allah menciptakan manusia? Apa tujuan-Nya menciptakan manusia? Allah telah memberi kita jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini dalam Kejadian 1:26-27.

Kedua ayat ini sangat penting. Ayat-ayat ini menyatakan kepada kita bahwa penciptaan manusia oleh Allah benarbenar khusus. Ketika Allah menginginkan terang, Ia hanya berfirman, “Jadilah terang.” Ketika Ia menginginkan cakrawala, Ia berfirman, “Jadilah cakrawala,” dan semuanya terjadi menurut firman-Nya.Tetapi penciptaan manusia tidaklah sesederhana itu. Hal ini membutuhkan sebuah rapat ke-Allahan. Allah berfirman, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (ayat 26). Inilah yang direncanakan Allah dalam rapat ilahi-Nya untuk penciptaan manusia. Allah berfirman, “Baiklah Kita . . .” Kata-kata ini menyatakan kepada kita adanya rapat ke-Allahan dan menunjukkan rencana Allah terhadap manusia yang akan diciptakan-Nya. Kemudian ayat 27 menyatakan kepada kita penciptaan manusia oleh Allah, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Dan dalam ayat 28, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Dari ayat-ayat ini kita nampak manusia yang diinginkan Allah. Allah ingin mendapatkan manusia yang berkuasa, yang bisa menguasai bumi ini; dengan demikian, Ia akan merasa puas.

Manusia yang diciptakan Allah ini bukan hanya serupa dengan-Nya, tetapi juga memiliki gambar-Nya — rupa mengacu kepada yang di luar dan gambar mengacu kepada yang di dalam. Allah ingin manusia bukan hanya serupa dengan-Nya secara lahir, tetapi juga segambar dengan-Nya secara batin, demikian manusia dapat memiliki perasaan, dorongan batin, kehidupan, dan sifat kudus yang sama seperti diri-Nya. Allah ingin manusia serupa dengan diri-Nya, sehingga setiap orang yang berkontak dengan manusia semacam ini akan merasakan sifat Allah. Inilah keputusan yang dibuat dalam rapat ke-Allahan.

Bagaimana Allah menciptakan manusia? Ia menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri. Allah menginginkan seorang manusia yang seperti diri-Nya. Dengan demikian, jelas sekali bahwa kedudukan manusia dalam penciptaan Allah sangatlah khusus, karena di antara semua ciptaan Allah, hanya manusia yang diciptakan menurut gambar Allah. Manusia, yang sesuai dengan kehendak hati Allah dan yang ingin Allah dapatkan, mutlak berbeda dengan semua makhluk ciptaan lainnya. Manusia diciptakan menurut gambar Allah sendiri.

Di sini kita perlu memperhatikan satu hal. Ayat 26 mengatakan, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita . . .; tetapi ayat 27 mengatakan, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Dalam ayat 26, kata ganti “Kita” berbentuk jamak, tetapi dalam ayat 27, kata ganti “Nya” berbentuk tunggal. Menurut tata bahasa, karena dalam ayat 26, selama rapat ke-Allahan dikatakan, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,” maka ayat 27 seharusnya mengatakan, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar Mereka.” Tetapi ajaib, ayat 27 mengatakan, “Maka Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya.” Bagaimana kita dapat menjelaskan hal ini? Ini disebabkan di dalam ke-Allahan ada Bapa, Putra (Anak), dan Roh, tiga Persona; dan hanya satu yang memiliki gambar Allah di dalam ke-Allahan, yaitu Putra Allah. Karena itu, ketika ke-Allahan merancang penciptaan manusia, dikatakan bahwa manusia itu akan diciptakan menurut gambar “Kita,” tetapi ketika menciptakan manusia, dikatakan manusia diciptakan menurut gambar-”Nya.” “Nya” mengacu kepada Putra. Dari sini kita tahu dengan pasti bahwa Adam diciptakan menurut gambar Tuhan Yesus. Adam tidak mendahului Tuhan Yesus; Tuhan Yesuslah yang mendahuluinya. Jadi, ketika Allah menciptakan Adam, Ia menciptakannya menurut gambar Tuhan Yesus. Inilah alasannya dikatakan “menurut gambar-Nya” dan bukan “menurut gambar Mereka.”

Tujuan Allah adalah mendapatkan sekelompok orang yang serupa dengan Putra-Nya. Jika kita membaca Roma 8:29, kita akan nampak tujuan Allah, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Allah ingin memiliki banyak anak, dan Allah ingin semua anak ini serupa dengan Putra-Nya yang satu itu. Dengan demikian Putra-Nya tidak lagi menjadi Putra tunggal, melainkan Putra sulung di antara banyak saudara. Tujuan Allah adalah mendapatkan sekelompok orang semacam itu. Jika kita nampak hal ini, kita akan menyadari betapa berharganya manusia, dan kita akan bersukacita setiap kali manusia disebutkan. Betapa Allah menghargai manusia! Bahkan Ia sendiri menjadi manusia! Rencana Allah adalah mendapatkan manusia. Jika Allah mendapatkan manusia, rencana Allah pun terlaksana.

Melalui manusialah rencana Allah digenapi, dan melalui manusialah permintaan-Nya sendiri terpenuhi. Jika demikian, apakah yang diharapkan Allah dari manusia yang diciptakan-Nya? Manusia harus berkuasa. Ketika Allah menciptakan manusia, Ia tidak menakdirkan manusia untuk jatuh. Kejatuhan manusia terjadi dalam Kejadian 3, bukan pasal 1. Dalam rencana Allah menciptakan manusia, Ia tidak menakdirkan manusia untuk berdosa, juga tidak menakdirkan penebusan sebelumnya. Saya tidak mengecilkan pentingnya penebusan, melainkan hanya mengatakan bahwa penebusan itu tidak ditentukan Allah sebelumnya. Jika penebusan ditentukan sebelumnya, maka manusia harus melakukan dosa. Dalam rencana Allah menciptakan manusia, manusia ditakdirkan untuk memerintah. Ini dinyatakan kepada kita dalam Kejadian 1:26. Di sini Allah menyatakan kehendak-Nya dan memberitahukan rahasia rencana-Nya kepada kita. “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Inilah tujuan Allah menciptakan manusia.

Mungkin ada orang bertanya, “Mengapa Allah memiliki tujuan ini?” Ini disebabkan ada satu malaikat terang telah memberontak melawan Allah sebelum penciptaan manusia dan menjadi Iblis (Satan). Iblis telah berdosa, telah jatuh; bintang timur telah menjadi musuh Allah (Yes. 14:12-15). Karena itu, Allah menarik kuasa-Nya dari musuh itu dan menaruhnya ke atas manusia. Alasan Allah menciptakan manusia adalah agar manusia dapat memerintah menggantikan Iblis. Betapa berlimpah kasih karunia yang kita tampak dalam penciptaan manusia oleh Allah!

Allah bukan hanya menghendaki manusia memerintah, Ia juga memberi daerah khusus kepada manusia untuk memerintah. Kita melihat hal ini dalam Kejadian 1:26, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi . . .” “Seluruh bumi” adalah daerah kekuasaan manusia. Allah bukan hanya memberikan kuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, dan ternak, tetapi Ia lebih lanjut meminta agar manusia memerintah atas “seluruh bumi”. Daerah yang Allah inginkan untuk diperintah oleh manusia adalah bumi. Manusia secara khusus berkaitan dengan bumi. Bukan hanya dalam rencana-Nya untuk menciptakan manusia, perhatian Allah difokuskan pada bumi, tetapi setelah Allah menciptakan manusia, Allah dengan jelas memberi tahu manusia bahwa manusia harus memerintah bumi. Ayat 27-28 mengatakan, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu . . .” Yang ditekankan Allah di sini adalah manusia harus “memenuhi bumi” dan “menaklukkannya”. Penguasaan manusia terhadap ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, dan setiap makhluk hidup di bumi adalah hal kedua. Penguasaan manusia terhadap yang lainnya hanyalah tambahan; yang utama adalah bumi.

Kejadian 1:1-2 mengatakan, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya . . .” “Langit” di sini berbentuk jamak dan mengacu kepada langit dari semua bintang (Bumi memiliki langitnya sendiri, demikian juga semua bintang). Terjemahan langsung dari ayat dua adalah, “Dan bumi menjadi sia-sia dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya.” Dalam bahasa Ibrani, sebelum “bumi” ada kata penghubung “dan”. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Di sini tidak ada kesulitan, tidak ada masalah; tetapi setelah itu, terjadi sesuatu: “Dan bumi menjadi sia-sia dan kosong.” Kata “menjadi” di sini adalah kata yang sama dengan kata “menjadi” dalam Kejadian 19:26, “Istri Lot menjadi tiang garam.” Istri Lot tidak dilahirkan sebagai tiang garam, tetapi ia menjadi tiang garam. Demikian pula, bumi tidak sia-sia dan kosong pada waktu diciptakan, tetapi kemudian bumi itu menjadi sia-sia dan kosong. Allah menciptakan langit dan bumi, tetapi “bumi menjadi sia-sia dan kosong”. Ini menunjukkan kepada kita bahwa bukan langit yang menjadi masalah, melainkan bumi.

Jadi kita melihat bahwa bumi adalah pusat persoalannya. Yang diperhatikan Allah adalah bumi. Doa yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita adalah, “. . . Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga.” Menurut makna dalam bahasa aslinya, frasa “di bumi seperti di surga,” berlaku untuk ketiga klausa di depannya, bukan hanya klausa yang terakhir. Dengan kata lain, makna aslinya adalah: “Dikuduskanlah nama-Mu di bumi seperti di surga, datanglah Kerajaan-Mu di bumi seperti di surga, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Doa ini menyatakan kepada kita bahwa tidak ada masalah dengan “surga”; masalahnya terletak pada “bumi.” Setelah kejatuhan manusia, Allah berkata kepada ular, “Dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu” (Kej. 3:14). Ini berarti bumi akan menjadi kawasan hidup ular, tempat ia menjalar. Kawasan pekerjaan Iblis bukan surga, melainkan bumi. Jika Kerajaan Allah mau datang, Iblis harus dienyahkan dari bumi; jika kehendak Allah ingin dilakukan, kehendak-Nya harus dilakukan di bumi; jika nama Allah hendak dikuduskan, nama-Nya harus dikuduskan di bumi. Semua masalahnya terletak pada bumi.

Ada dua kata dalam kitab Kejadian yang sangat berarti. Kata yang pertama terdapat dalam Kejadian 1:28, yakni kata “taklukkanlah”. Yang kedua terdapat dalam Kejadian 2:15, “memelihara”, yang dapat juga diterjemahkan “menjaga”. Dari ayat-ayat ini kita nampak bahwa Allah menakdirkan manusia untuk menaklukkan dan menjaga bumi. Maksud Allah semula adalah memberikan bumi kepada manusia sebagai tempat tinggal. Allah tidak bermaksud membuat bumi menjadi kosong (Yes. 45:18). Allah, melalui manusia, tidak ingin membiarkan Iblis menyusup ke bumi, tetapi masalahnya adalah Iblis itu sudah ada di bumi dan bermaksud merusaknya. Karena itu, Allah ingin manusia mendapatkan kembali bumi dari tangan Iblis.

Satu masalah lain yang perlu kita perhatikan ialah: sebenarnya, yang Allah kehendaki agar direbut kembali oleh manusia bukan hanya bumi, tetapi juga langit yang berhubungan dengan bumi. Dalam Alkitab, “langit” dibedakan dengan “surga”. “Langit” adalah tempat takhta Allah berada, tempat Allah melaksanakan kuasa-Nya, sedangkan “surga” dalam Alkitab kadang-kadang mengacu kepada surga yang berhubungan dengan bumi. Surga inilah yang Allah ingin pulihkan (Lihat Why. 12:7-10).

Ada orang mungkin bertanya, “Mengapa bukan Allah sendiri yang melemparkan Iblis ke dalam lubang yang tanpa dasar atau ke dalam lautan api?” Jawabannya adalah: Allah dapat melakukannya, tetapi Allah sendiri tidak melakukannya. Kita tidak tahu mengapa Allah tidak melakukannya, tetapi kita sungguh-sungguh tahu apa yang dikehendaki-Nya. Allah ingin memakai manusia untuk membereskan musuh-Nya, dan Ia menciptakan manusia untuk tujuan ini. Allah ingin makhluk ciptaan membereskan makhluk ciptaan. Manusia yang diciptakan-Nya dipakai oleh-Nya untuk tujuan ini.

Mari kita baca lagi Kejadian 1:26, “Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi . . .” Kelihatannya kalimat ini akan berakhir di sini, tetapi ditambahkan sebuah frase lain, “dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi”. Di sini kita nampak bahwa binatang melata menempati posisi yang sangat besar, karena Allah mengatakannya setelah Ia selesai menyebutkan “atas seluruh bumi”. Ingin menguasai seluruh bumi, binatang melata tidak boleh diabaikan. Karena musuh Allah terwujud di dalam binatang melata itu. Ular dalam Kejadian 3 dan kalajengking dalam Lukas 10 adalah binatang melata. Bukan hanya ada ular, yang mewakili Iblis, ada pula kalajengking, yang mewakili roh-roh jahat (setan-setan) yang berdosa dan najis. Daerah kekuasaan ular dan kalajengking adalah bumi ini. Semua masalahnya ada pada bumi.

Karena itu, kita harus membedakan pekerjaan menyelamatkan manusia dengan pekerjaan Allah. Sering kali pekerjaan menyelamatkan manusia itu belum tentu pekerjaan Allah. Menyelamatkan manusia adalah membereskan masalah manusia, tetapi pekerjaan Allah adalah agar manusia berkuasa, memerintah segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah. Allah membutuhkan penguasa dalam ciptaan-Nya, dan Ia justru memilih manusia untuk menjadi penguasa itu. Jika kita hanya untuk diri kita sendiri sebagai manusia, maka semua penuntutan kita hanyalah mengharapkan diri kita makin mengasihi Tuhan, diri kita bisa menjadi lebih kudus, diri kita bisa lebih bergairah, dan diri kita bisa menyelamatkan lebih banyak jiwa. Semua penuntutan ini memang baik, tetapi terlalu berpusat pada manusia. Semua ini hanya memperhatikan keuntungan manusia; pekerjaan dan kebutuhan Allah sama sekali terabaikan. Kita harus nampak bahwa Allah mempunyai kebutuhan. Kita ada di bumi ini bukan untuk kepentingan manusia saja, lebih dari itu, untuk kepentingan Allah. Kita bersyukur kepada Allah, karena Ia telah menyerahkan pelayanan pendamaian antara manusia dengan Allah kepada kita. Tetapi sekalipun kita telah menyelamatkan semua jiwa di seluruh buni ini, kita belum menyelesaikan pekerjaan Allah atau memuaskan permintaan Allah. Ketika Allah menciptakan manusia, Ia telah mengatakan apa yang diinginkan-Nya. Allah menampakkan kepada kita bahwa keinginan-Nya ialah adanya manusia yang berkuasa, memerintah seluruh ciptaan-Nya. Memerintah untuk Allah bukanlah perkara kecil; ini perkara besar. Allah membutuhkan manusia yang dapat diserahi amanat-Nya dan yang tidak akan melalaikannya. Inilah pekerjaan Allah, dan inilah yang ingin didapatkan Allah.

Kami tidak meremehkan pekerjaan pemberitaan Injil, tetapi jika pekerjaan kita hanya memberitakan Injil dan menyelamatkan jiwa, kita tidak membuat Iblis menderita kekalahan fatal. Selama manusia belum merebut kembali bumi dari tangan Iblis, manusia belum mencapai tujuan Allah dalam menciptakannya. Menyelamatkan jiwa sering kali hanya untuk kesejahteraan manusia, tetapi menanggulangi Iblis adalah untuk keuntungan Allah. Menyelamatkan jiwa adalah memenuhi kebutuhan manusia, tetapi membereskan Iblis adalah memuaskan kebutuhan Allah.

Saudara saudari, ini menuntut kita membayar harga! Kita tahu bahwa setan dapat berbicara. Setan pernah berkata, “Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui; tetapi kamu, siapa kamu?” (Kis. 19:15). Masalahnya adalah: jika setan bertemu dengan Anda, akan larikah dia? Memberitakan Injil memang menuntut pengorbanan kita, tetapi kita harus lebih membayar harga untuk membereskan Iblis.

Ini bukan masalah khotbah atau pengajaran. Ini memerlukan pelaksanaan, dan harganya sangat besar. Jika kita mau menjadi orang-orang yang dipakai Allah untuk menggulingkan semua pekerjaan dan kekuasaan Iblis, kita harus menaati Tuhan secara mutlak dan sungguh-sungguh. Dalam melakukan pekerjaan lain, jika kita masih menyisakan kedudukan bagi diri sendiri, kaitannya masih terhitung kecil; tetapi dalam menghadapi Iblis, kita tidak boleh menyisakan apa pun bagi diri sendiri. Kita bisa menyisakan sesuatu bagi diri sendiri dalam hal membaca Alkitab, menyisakan sesuatu bagi diri sendiri dalam hal memberitakan Injil, menyisakan sesuatu bagi diri sendiri dalam hal membantu gereja atau saudara saudari, tetapi jika berurusan dengan Iblis, kita harus sepenuhnya melepaskan diri kita. Iblis tidak mungkin kita usir jika kita mempertahankan diri kita. Semoga Allah membuka mata kita untuk melihat apa tujuan Allah dalam menginginkan kita mutlak untuk Dia. Orang yang pikirannya bercabang tidak mungkin dapat membereskan Iblis. Semoga Allah menyampaikan kata-kata ini ke dalam hati kita.

TUJUAN ALLAH YANG TIDAK BERUBAH

Allah menghendaki manusia memerintah bagi-Nya di bumi ini, tetapi manusia tidak mencapai tujuan Allah. Dalam Kejadian 3, kejatuhan manusia terjadi, dan dosa mulai masuk. Manusia berada di bawah kuasa Iblis, dan segala sesuatu nampaknya telah berakhir. Nampaknya Iblis menang dan Allah kalah. Tetapi, selain ayat-ayat dalam Kejadian 1, ada dua bagian lainnya dalam Alkitab yang berkaitan dengan masalah ini. Kedua bagian tersebut adalah Mazmur 8 dan Ibrani 2.

Mazmur 8

Mazmur 8 menunjukkan kepada kita bahwa tujuan dan rencana Allah tidak pernah berubah. Setelah kejatuhan manusia, kehendak dan tuntutan Allah terhadap manusia tetap sama, tanpa perubahan apa pun. Kehendak-Nya dalam Kejadian 1 ketika Ia menciptakan manusia masih tetap sama, walaupun manusia telah berdosa dan jatuh. Mazmur 8 ditulis setelah kejatuhan manusia, namun pemazmur masih dapat memuji; matanya masih tertuju pada Kejadian 1. Roh Kudus tidak melupakan Kejadian 1, Putra tidak melupakan Kejadian 1, demikian pula Allah sendiri tidak melupakan Kejadian 1.

Mari kita melihat isi mazmur ini. Ayat kedua mengatakan, “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” Semua orang yang mendapatkan ilham dari Roh Kudus akan mengucapkan kata-kata semacam itu, “Betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” Walaupun beberapa orang memfitnah dan menolak nama Tuhan, namun pemazmur dengan suara lantang memproklamirkan, “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” Ia tidak mengatakan, “Nama-Mu sangat mulia.” “Sangat mulia” tidak sama artinya dengan “betapa mulia.” “Sangat mulia” berarti saya, pemazmur, masih dapat menggambarkan kemuliaan itu, sedangkan “betapa mulia” berarti saya dapat menulis mazmur, tetapi saya tidak memiliki kata-kata untuk mengekspresikannya, saya juga tidak mengetahui betapa mulianya nama Tuhan. Maka saya hanya dapat mengatakan, “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” Dan, bukan hanya nama-Nya mulia, tetapi juga mulia “di seluruh bumi!” Ungkapan “di seluruh bumi” di sini sama dengan yang ada dalam Kejadian 1:26. Jika kita mengetahui rencana Allah, setiap kali kita membaca kata “manusia” atau kata “bumi”, hati kita seharusnya bergembira.

Ayat 3 melanjutkan, “Dari mulut bayi-bayi dan anakanak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.” Bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu di sini mengacu kepada manusia, dan penekanannya dalam ayat ini adalah pada Allah yang memakai manusia untuk membereskan musuh. Tuhan Yesus mengutip ayat ini dalam Matius 21:16, “Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian.” Kalimat ini berarti, musuh boleh melakukan apa saja sebisanya, tetapi Allah tidak perlu menghadapinya sendiri, Allah akan memakai bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu untuk membereskannya. Apa yang dapat dilakukan oleh bayi-bayi dan anakanak yang menyusu? Dikatakan di sini bahwa “dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan.” Keinginan Allah adalah mendapatkan orang-orang yang dapat memuji; orang-orang yang dapat memuji adalah orang-orang yang dapat membereskan musuh.

Dalam ayat 4 sampai 9 pemazmur berkata, “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.” Jika kita yang menulis mazmur ini, mungkin di sini kita akan menambahkan catatan: “Sayang, manusia telah jatuh, berdosa, dan diusir dari Taman Eden! Manusia tidak bisa mencapainya.” Tetapi syukur kepada Allah, dalam hati pemazmur tidak ada pemikiran semacam itu. Dalam pandangan Allah, bumi masih dapat dipulihkan, kedudukan yang diberikan kepada manusia oleh Allah masih tetap ada, dan amanat-Nya kepada manusia untuk menghancurkan pekerjaan Iblis masih tetap ada. Inilah sebabnya, mulai dari ayat yang keempat pemazmur sekali lagi mengisahkan cerita lama yang sama, yang sepenuhnya mengabaikan Kejadian 3. Inilah ciri yang menonjol dari Mazmur 8. Tujuan Allah adalah agar manusia memerintah. Apakah manusia layak? Pasti tidak. Tetapi karena tujuan Allah adalah agar manusia memerintah, manusia harus memerintah.

Dalam ayat 10, pemazmur sekali lagi mengatakan, “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” Pemazmur terus-menerus memuji, seolah-olah ia sama sekali tidak nampak kejatuhan manusia. Adam dan Hawa telah berdosa, tetapi mereka tidak dapat menentang rencana Allah. Manusia bisa jatuh dan berdosa, tetapi manusia tidak dapat menggulingkan kehendak Allah. Sekalipun manusia telah jatuh, kehendak Allah terhadap manusia tetap sama. Allah masih menghendaki manusia menggulingkan kekuasaan Iblis. O, Allah sungguh tidak pernah berubah! Jalan-Nya tidak menyimpang dan mutlak lurus. Kita harus tahu bahwa Allah tidak dapat dikalahkan. Dalam dunia ini ada beberapa orang yang menerima banyak pukulan berat, tetapi tidak ada yang seperti Allah, yang diserang setiap hari dan menerima hantaman yang bertubitubi. Tetapi kehendak-Nya tidak dapat digulingkan. Hakiki Allah sebelum kejatuhan manusia sama dengan hakiki-Nya setelah kejatuhan manusia dan setelah dosa masuk ke dalam dunia. Keputusan yang ditetapkan-Nya pada waktu dahulu masih menjadi keputusan-Nya sekarang. Ia tidak pernah berubah.

Ibrani 2

Kejadian 1 membicarakan kehendak Allah pada penciptaan; Mazmur 8 membicarakan kehendak Allah setelah kejatuhan manusia; dan Ibrani 2 membicarakan kehendak Allah dalam penebusan. Sekarang mari kita lihat Ibrani 2. Kita akan nampak bahwa dalam kemenangan penebusan, Allah masih menginginkan manusia mendapatkan kekuasaan untuk membereskan Iblis.

Dalam ayat 5 sampai 8a dikatakan, “Sebab bukan kepada malaikat-malaikat telah Ia taklukkan dunia yang akan datang, yang kita bicarakan ini. Sebaliknya, ada orang yang pernah bersaksi di dalam suatu nas, katanya, ‘Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat, segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kaki-Nya. Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya, tidak ada suatu pun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepada-Nya.” Segala hal harus takluk kepada manusia; Allah telah menetapkannya sejak semula.

Tetapi kenyataannya belum seperti itu. Penulis meneruskan, “Tetapi sekarang ini kita belum melihat segala sesuatu ditaklukkan kepada-Nya. Tetapi yang kita lihat ialah bahwa Yesus untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat, dan karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat . . .” (ayat 8b-9). Yesus adalah Persona yang disajikan di sini. Mazmur 8 mengatakan bahwa Allah membuat manusia sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat, tetapi di sini rasul mengubah kata “manusia” menjadi “Yesus”. Ia menjelaskan kepada kita bahwa “manusia” itu mengacu kepada Yesus; Yesuslah yang menjadi sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat. Penebusan manusia berasal dari sini. Allah pada mulanya telah menetapkan agar manusia sedikit lebih rendah daripada malaikat; manusia akan dimahkotai dan memerintah atas seluruh ciptaan-Nya; manusia akan berkuasa; manusia akan mengusir musuh-Nya dari bumi dan dari surga yang berhubungan dengan bumi; manusia akan menghancurkan semua kekuasaan Iblis. Tetapi manusia jatuh dan tidak dapat berkuasa bagi-Nya. Karena itu, Tuhan Yesus datang dan memakai tubuh daging manusia, Dia menjadi “Adam yang akhir” (1 Kor. 15:45).

Ayat 9b mengatakan, “Supaya oleh anugerah Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.” “Semua manusia” menurut bahasa aslinya dapat diterjemahkan “segala hal.” Kelahiran Tuhan Yesus, kehidupan Tuhan Yesus sebagai manusia, dan juga penebusan Tuhan Yesus, menunjukkan kepada kita bahwa pekerjaan penebusan-Nya bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk semua makhluk ciptaan. Semua ciptaan (kecuali malaikat) termasuk di dalamnya. Tuhan Yesus berdiri dalam dua posisi: terhadap Allah, Ia adalah manusia yang pada mulanya, manusia yang ditetapkan Allah sejak semula; terhadap manusia, Ia adalah Juruselamat. Pada mulanya Allah menetapkan manusia untuk memerintah dan menggulingkan Iblis. Tuhan Yesus adalah manusia itu, dan manusia itu sekarang telah duduk di takhta! Haleluya! Manusia itu telah menggulingkan kekuasaan Iblis. Dia adalah manusia yang dicari dan ingin didapatkan oleh Allah. Dalam aspek-Nya yang lain, Dia adalah seorang manusia yang berhubungan dengan kita; Dia adalah Juruselamat kita, yang telah membereskan masalah dosa bagi kita. Kita berdosa dan jatuh, dan Allah membuat-Nya menjadi kurban pendamaian bagi kita. Selain itu, Dia bukan hanya menjadi kurban pendamaian bagi kita, tetapi juga dihakimi demi semua ciptaan. Hal ini dibuktikan dengan terkoyaknya tirai ruang kudus. Ibrani 10 memberi tahu kita bahwa tirai ruang kudus itu mengacu kepada tubuh Tuhan Yesus. Pada tirai itu terdapat sulaman kerub yang mewakili makhluk ciptaan; karena itu, tubuh Tuhan Yesus mencakup makhluk ciptaan. Pada saat Tuhan mati, tirai itu terkoyak menjadi dua dari atas ke bawah, dan sebagai akibatnya, kerub yang tersulam padanya juga ikut terkoyak. Ini menyatakan kepada kita bahwa kematian Tuhan Yesus mencakup penghakiman untuk semua makhluk. Ia bukan hanya merasakan kematian bagi semua manusia, tetapi juga bagi “segala hal”.

Ayat 10 melanjutkan, “Sebab memang sepantasnya Allah — yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan, yaitu Allah yang membawa banyak orang (anak) kepada kemuliaan.” Segala sesuatu adalah bagi Dia dan oleh Dia; segala sesuatu adalah kepada Dia dan berasal dari Dia. Bagi Dia berarti kepada Dia; oleh Dia berarti berasal dari Dia. Syukur kepada Allah, Allah tidak pernah mengubah tujuan-Nya dalam penciptaan! Apa yang ditetapkan Allah pada penciptaan, ditetapkan-Nya juga setelah kejatuhan manusia, dan dalam penebusan. Allah tidak mengubah rencana-Nya karena kejatuhan manusia. Syukur kepada Allah, Dia membawa banyak anak ke dalam kemuliaan! Dia memuliakan banyak anak. Allah ingin mendapatkan sekelompok manusia baru yang memiliki rupa dan gambar Putra-Nya. Karena Tuhan Yesus adalah manusia yang pantas menjadi wakil, maka seperti apa Dia, demikian pula manusia lainnya; dan mereka akan masuk ke dalam kemuliaan bersama-Nya.

Bagaimana hal ini dapat terlaksana? Ayat 11 mengatakan, “Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, semuanya berasal dari Satu.” Siapakah Ia yang menguduskan? Ia adalah Tuhan Yesus. Siapakah mereka yang dikuduskan? Kitalah yang dikuduskan. Jadi kita dapat membaca ayat ini demikian, “Karena Yesus yang menguduskan dan kita yang dikuduskan, semua berasal dari Satu.” Tuhan Yesus dan kita, semua berasal dari Bapa yang sama; kita semua berasal dari sumber yang sama, memiliki hayat yang sama, memiliki satu Roh Kudus yang berhuni di dalam, dan memiliki satu Allah sebagai Tuhan dan Bapa kita. “Itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara.” Kata “Ia” di sini mengacu kepada Tuhan Yesus, dan “mereka” mengacu kepada kita. “Ia tidak malu menyebut mereka saudara” karena Ia berasal dari Bapa dan kita juga berasal dari Bapa.

Kita adalah anak-anak Allah, dan pada akhirnya Allah akan membawa kita ke dalam kemuliaan. Penebusan tidak mengubah tujuan Allah; sebaliknya, penebusan itu menggenapi tujuan yang tidak terlaksana dalam penciptaan. Tujuan Allah mula-mula adalah agar manusia memerintah, khususnya memerintah atas bumi, tetapi sayangnya, manusia jatuh. Namun, segala sesuatu tidaklah berakhir karena kejatuhan manusia yang pertama. Apa yang tidak didapatkan Allah dari manusia pertama, Adam, akan didapatkan-Nya dari manusia kedua, Kristus. Karena Allah menakdirkan manusia untuk memerintah dan mendapatkan kembali bumi, karena Allah telah menetapkan manusia harus menghancurkan Iblis, maka terjadilah kelahiran di Betlehem. Itulah sebabnya Tuhan Yesus datang untuk menjadi manusia. Ia khusus melakukannya, Ia benar-benar menjadi manusia; Ia adalah manusia yang sejati. Kita telah nampak bahwa manusia pertama tidak menggenapkan tujuan Allah, manusia pertama telah berdosa dan jatuh. Ia bukan hanya gagal mendapatkan kembali bumi, bahkan ia sendiri ditangkap oleh Iblis. Ia bukan hanya gagal memerintah, bahkan ia sendiri takluk pada kekuasaan Iblis. Kejadian 2 mengatakan bahwa manusia terbuat dari debu; dan Kejadian 3 menjelaskan bahwa debu adalah makanan ular. Ini berarti, manusia yang jatuh menjadi makanan Iblis. Manusia tidak lagi dapat menanggulangi Iblis; ia sudah kalah. Jika demikian, apa lagi yang dapat dilakukan? Apakah ini berarti Allah tidak mungkin lagi mencapai tujuan-Nya yang kekal? Apakah Allah tidak mungkin lagi mendapatkan apa yang diinginkan-Nya? Apakah Allah tidak mungkin mendapatkan kembali bumi? Tidak! Ia mengutus Putra-Nya untuk menjadi seorang manusia. Tuhan Yesus benar-benar Allah, tetapi Ia juga benar-benar manusia.

Di seluruh dunia ini, ada satu Orang yang mau Allah, ada satu Orang yang dapat mengatakan, “Penghulu Dunia ini . . . tidak memiliki sesuatu apa pun di dalam-Ku.” Dengan kata lain, dalam diri Tuhan Yesus tidak ditemukan barang apa pun yang milik penghulu dunia ini. Kita harus memperhatikan dengan teliti bahwa Tuhan Yesus datang ke dunia ini bukan untuk menjadi Allah, melainkan menjadi manusia. Yang diinginkan Allah adalah manusia. Jika Allah sendiri yang membereskan Iblis, tentu sangat mudah; sekejap saja Iblis sudah rebah. Tetapi Allah tidak mau melakukannya sendiri. Ia ingin manusialah yang membereskan Iblis; Ia bermaksud agar makhluk ciptaan (manusia) membereskan makhluk ciptaan (Iblis). Ketika Tuhan Yesus menjadi manusia, Ia menderita godaan sebagai manusia dan mengalami semua pengalaman manusia. Sekarang Ia telah naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah, Manusia ini telah dimuliakan. Ibrani 2 menyatakan kepada kita bahwa Tuhan Yesus tidak datang untuk menerima kemuliaan sebagai Allah, melainkan menerima kemuliaan sebagai manusia. (Ini tidak berarti bahwa Ia tidak memiliki kemuliaan Allah, tetapi Ibrani 2 tidak mengacu kepada kemuliaan yang dimiliki-Nya sebagai Allah). Yesus yang dibuat sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat untuk menderita kematian, telah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Tuhan kita telah naik ke surga dalam rupa manusia. Hari ini, ada Seorang manusia telah naik ke surga, kelak akan banyak orang juga naik ke surga. Hari ini Seorang manusia sedang duduk di atas takhta; suatu hari, akan ada banyak orang yang duduk di atas takhta. Ini sudah pasti.

Ketika Tuhan Yesus dibangkitkan, Ia memberikan hayat-Nya ke dalam kita. Pada saat kita percaya kepada-Nya, kita menerima hayat-Nya. Kita semua menjadi anakanak Allah, dan dengan demikian kita semua menjadi milik Allah. Karena kita memiliki hayat ini di dalam diri kita, maka kita dapat dipercaya oleh Allah untuk menggenapkan tujuan-Nya. Karena alasan ini, dikatakan bahwa Ia akan membawa banyak anak ke dalam kemuliaan. Memerintah berarti dimuliakan, dan dimuliakan berarti memerintah. Jika anak-anak itu telah mendapatkan kekuasaan dan memulihkan bumi, mereka akan dibawa ke dalam kemuliaan dengan penuh kemenangan.

Karena itu, jangan sekali-kali beranggapan bahwa tujuan Allah hanya untuk menyelamatkan kita dari neraka, supaya kita dapat menikmati berkat surgawi. Kita harus ingat bahwa Allah ingin manusia menjadi penerus Anak-Nya dalam menjalankan kekuasaan-Nya di bumi. Allah ingin menyelesaikan sesuatu, tetapi Ia tidak ingin melakukannya sendiri; Ia ingin kita yang melakukannya. Jika kita telah melakukannya, berarti Allah telah mencapai tujuan-Nya. Allah ingin mendapatkan sekelompok manusia yang mau melakukan pekerjaan-Nya di bumi ini, sehingga Allah dapat memerintah di bumi melalui manusia.

HUBUNGAN ANTARA PENEBUSAN DENGAN PENCIPTAAN

Kita perlu melihat hubungan antara penebusan dengan penciptaan. Kita sama sekali tidak boleh menganggap bahwa Alkitab tidak membicarakan apa-apa kecuali penebusan. Syukur kepada Allah bahwa di samping penebusan ada penciptaan. Keinginan hati Allah dinyatakan dalam penciptaan. Tujuan, rencana, dan kehendak Allah semuanya dinyatakan dalam penciptaan-Nya. Penciptaan menyatakan tujuan kekal Allah; menunjukkan kepada kita, sebenarnya apa yang diinginkan Allah.

Posisi penebusan tidak mungkin lebih tinggi daripada penciptaan. Apakah penebusan itu? Penebusan adalah sesuatu yang memulihkan apa yang tidak didapatkan Allah melalui penciptaan. Penebusan tidak membawa sesuatu yang baru bagi kita; penebusan hanya memulihkan bagi kita apa yang sudah menjadi milik kita. Melalui penebusan, Allah mencapai tujuan-Nya dalam penciptaan. Menebus berarti mendapatkan kembali dan memulihkan; menciptakan berarti menentukan dan memulai. Penebusan adalah sesuatu yang terjadi kemudian, supaya tujuan Allah dalam penciptaan dapat terpenuhi. Semoga anak-anak Allah tidak memandang rendah penciptaan; semoga anak-anak Allah tidak memandang penebusan adalah segala-galanya. Penebusan berkaitan dengan kita, penebusan membuat kita terselamatkan, membuat kita mendapatkan hidup yang kekal, membuat kita mendapatkan faedah. Tetapi penciptaan berkaitan dengan Allah dan pekerjaan Allah. Hubungan kita dengan penebusan adalah untuk keuntungan manusia, sedangkan hubungan kita dengan penciptaan adalah untuk keuntungan Allah. Semoga Allah melakukan hal yang baru di bumi ini, sehingga manusia tidak hanya menekankan Injil, melainkan lebih dari itu, memperhatikan pekerjaan Allah, urusan Allah, rencana Allah. Jika kita bukan orang Kristen, itu masalah lain. Tetapi, begitu kita telah menjadi orang Kristen, kita bukan hanya mendapatkan faedah penebusan, kita pun harus mencapai tujuan Allah dalam penciptaan. Tanpa penebusan, kita tidak mungkin berhubungan dengan Allah. Tetapi, begitu kita telah diselamatkan, kita perlu mempersembahkan diri kita kepada Allah untuk mencapai tujuan-Nya yang semula dalam penciptaan manusia. Jika kita hanya memperhatikan Injil, ini hanya separuh. Allah menginginkan separuh lainnya, yaitu agar manusia memerintah bagi-Nya di bumi dan tidak mengizinkan Iblis tinggal di bumi lebih lama lagi. Yang separuh ini juga dituntut dari gereja. Ibrani 2 menunjukkan kepada kita bahwa penebusan bukan hanya untuk pengampunan dosa, supaya manusia dapat diselamatkan, tetapi juga untuk memulihkan manusia kembali kepada tujuan penciptaan.

Penebusan dapat diumpamakan dengan lembah di antara dua puncak. Di sisi sini tempat yang paling rendah di lembah tersebut. Menebus tidak lain berarti mencegah manusia agar tidak jatuh semakin dalam, menebus adalah mengangkat kembali manusia. Di satu pihak, kehendak Allah itu kekal dan lurus, tanpa penurunan, supaya tujuan penciptaan tercapai. Namun di pihak lain, sesuatu telah terjadi. Manusia telah jatuh, manusia telah meninggalkan Allah, dan jarak antara manusia dengan tujuan kekal Allah semakin lama menjadi semakin jauh. Kehendak Allah dari kekekalan sampai kekekalan merupakan garis lurus, tetapi sejak kejatuhan manusia, manusia tidak dapat mencapainya. Syukur kepada Allah, ada satu penyelamatan yang disebut penebusan. Ketika penebusan itu terjadi, manusia tidak perlu turun lagi. Setelah penebusan, manusia diubah dan mulai naik. Pada saat manusia terus naik, akan tiba saatnya, ia sekali lagi menyentuh garis lurus itu. Pada saat garis itu tercapai, Kerajaan Allah datanglah.

Kita bersyukur kepada Allah, karena kita mendapatkan penebusan. Tanpa penebusan, kita akan tercebur semakin dalam; kita akan ditindas semakin keras oleh Iblis sampai tidak ada jalan untuk bangkit. Puji Tuhan, penebusan telah membuat kita kembali kepada tujuan kekal Allah. Apa yang belum didapatkan oleh Allah dalam penciptaan dan apa yang hilang dari manusia dalam kejatuhan, didapatkan kembali dalam penebusan.

Kita harus mohon Allah membuka mata kita, agar kita dapat melihat apa yang Allah kerjakan, sehingga kehidupan dan pekerjaan kita bisa benar-benar terubah. Jika pekerjaan kita hanya menyelamatkan orang, kita masih gagal, kita tidak dapat memuaskan hati Allah. Baik penebusan maupun penciptaan dimaksudkan untuk mendapatkan kemuliaan dan menggulingkan semua kuasa Iblis. Mari kita di satu pihak mengumumkan kasih Allah dan kuasa Allah, di pihak lain, kita melihat dosa dan kejatuhan manusia, tetapi pada saat yang sama kita menggunakan kuasa rohani untuk menggulingkan kuasa Iblis. Tugas gereja ada dua: bersaksi tentang penyelamatan Kristus dan bersaksi tentang kemenangan Kristus. Di satu pihak, gereja membawa faedah bagi manusia, di pihak lain, membuat Iblis menderita kekalahan.

PERHENTIAN ALLAH

Selama enam hari pekerjaan penciptaan Allah, yang istimewa adalah penciptaan manusia. Semua pekerjaan penciptaan-Nya selama enam hari adalah untuk manusia. Sasaran-Nya yang sebenarnya adalah menciptakan manusia. Untuk melakukan hal ini, pertama-tama Allah harus memperbaiki bumi dan langit yang rusak. (Kejadian 2:4 mengatakan, “Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit.” Kata “Langit dan bumi” di sini menunjukkan penciptaan pada mulanya, karena pada waktu itu langitlah yang dibentuk lebih dahulu, kemudian baru bumi. Tetapi bagian kedua, “Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit,” mengacu kepada pekerjaan perbaikan dan pemulihan, karena dalam pekerjaan ini, bumilah yang diperhatikan lebih dahulu, kemudian baru langit.) Setelah Allah memulihkan bumi dan langit yang rusak, barulah Ia menciptakan manusia menurut rencana-Nya. Setelah hari yang keenam, ada hari yang ketujuh, dan pada hari ketujuh itu Allah berhenti dari semua pekerjaan-Nya.

Perhentian datang setelah bekerja: harus bekerja lebih dulu, kemudian perhentian dapat mengikutinya. Selain itu, pekerjaan harus diselesaikan sampai merasa benar-benar puas, baru ada perhentian. Jika pekerjaan itu belum dilakukan sepenuhnya dan dengan memuaskan, tidak mungkin ada perhentian dalam pikiran atau hati. Karena itu kita tidak boleh meremehkan fakta Allah beristirahat setelah enam hari penciptaan. Allah mendapat perhentian, ini adalah perkara besar. Ia harus mencapai tujuan tertentu, barulah Ia dapat beristirahat. Betapa besarnya kekuatan yang membuat Allah Pencipta ini bisa beristirahat! Menyuruh Allah yang penuh rencana dan penuh hayat ini beristirahat, membutuhkan kekuatan yang paling besar.

Kejadian 2 menunjukkan kepada kita bahwa Allah beristirahat pada hari yang ketujuh. Bagaimana mungkin Allah beristirahat? Bagian akhir Kejadian 1 mencatat bahwa hal ini disebabkan, “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.”

Allah beristirahat pada hari yang ketujuh. Tetapi, sebelum hari yang ketujuh, ada pekerjaan yang harus dilakukan-Nya, dan sebelum pekerjaan itu, Ia memiliki satu tujuan. Roma 11 membicarakan pikiran, penghakiman, dan jalan-jalan Tuhan. Efesus 1 membicarakan rahasia kehendak-Nya, kesenangan-Nya, dan tujuan kekal-Nya. Efesus 3 juga membicarakan tujuan kekal-Nya. Jadi, Allah bukan hanya Allah yang bekerja, bahkan adalah Allah yang bertujuan, Allah yang berencana. Ketika Ia merasa senang bekerja, Ia bekerja; Ia bekerja karena dalam hati-Nya ingin bekerja. Setelah Ia merasa puas dengan pekerjaan-Nya, Ia beristirahat. Jika kita ingin mengenal kehendak Allah, rencana Allah, kesenangan Allah, dan tujuan Allah, kita hanya perlu melihat apa yang membuat-Nya beristirahat. Jika kita nampak bahwa Allah beristirahat karena hal tertentu, kita akan tahu bahwa hal itulah yang diinginkan-Nya sejak semula. Manusia tidak bisa mendapatkan perhentian atas hal-hal yang tidak memuaskannya; ia harus mendapatkan apa yang diinginkannya, baru bisa mendapat perhentian. Kita tidak boleh meremehkan perhentian ini, karena artinya sangat besar. Allah tidak mendapat perhentian selama enam hari yang pertama, tetapi Ia mendapat perhentian pada hari yang ketujuh. Perhentian-Nya ini menyatakan kepada kita bahwa Allah telah merampungkan perkara yang menjadi keinginan hati-Nya, Ia telah melakukan sesuatu yang membuat-Nya bersukacita. Karena itu, Ia dapat beristirahat.

Kejadian 1:31 mengatakan, “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” Kita harus memperhatikan kata “melihat” di sini. Apa arti kata ini? Jika kita membeli sebuah benda yang sangat memuaskan kita, kita memutar-mutarnya dengan senang dan melihatnya dengan teliti. Inilah artinya “melihat”. Allah tidak sepintas lalu “melihat” segala sesuatu yang telah dijadikan-Nya dan mengatakan bahwa itu baik. Tetapi, Ia “melihat” segala sesuatu yang telah dijadikan-Nya dan nampak bahwa itu sungguh amat baik. Kita perlu memperhatikan bahwa pada saat penciptaan, Allah “melihat-lihat” apa yang telah dibuat-Nya. Kata “berhenti” merupakan pernyataan bahwa Allah puas, Allah merasa senang dengan apa yang telah dilakukan-Nya; kata ini menyatakan bahwa tujuan Allah telah tercapai dan maksud hati-Nya terpenuhi seluruhnya. Pekerjaan-Nya sempurna begitu rupa, sehingga tidak mungkin menjadi lebih baik lagi.

Karena alasan inilah Allah memerintahkan semua orang Israel turun-temurun untuk menaati hari Sabat. Allah merindukan sesuatu, Allah mencari sesuatu untuk memuaskan diri-Nya sendiri, dan Ia mendapatkannya, karena itu Ia mendapat perhentian. Inilah artinya Sabat. Sabat tidak berarti manusia harus lebih sedikit membeli atau lebih pendek berjalan. Sabat memberi tahu kita bahwa Allah mempunyai kehendak, Allah mempunyai satu tuntutan, dan suatu pekerjaan harus dilakukan untuk memenuhi kehendak dan tuntutan hati-Nya; sekarang, karena Allah telah mendapatkan apa yang dicari-Nya, Ia mendapat perhentian. Sabat bukanlah masalah hari yang khusus. Sabat memberi tahu kita bahwa Allah telah merampungkan rencana-Nya, telah tercapai tujuan-Nya, dan telah terpuaskan hati-Nya. Allahlah yang menuntut kepuasan itu, dan Allah juga yang merasa puas. Setelah Allah mendapatkan apa yang diinginkan-Nya, Ia mendapat perhentian.

Jika demikian, apa yang membuat Allah mendapat perhentian? Apa yang memberi-Nya kepuasan semacam itu? Selama enam hari penciptaan ada terang, cakrawala, rumput, tumbuh-tumbuhan, dan pohon-pohon; ada matahari, bulan, dan bintang-bintang; ada ikan, burung-burung, ternak, binatang melata, dan binatang buas. Tetapi dalam semua itu Allah tidak menemukan perhentian. Akhirnya, setelah ada manusia, Allah berhenti dari semua pekerjaan-Nya, Ia beristirahat, Ia mendapat perhentian. Semua penciptaan sebelum manusia merupakan persiapan. Semua pengharapan Allah terpusat pada manusia. Setelah Allah mendapatkan manusia, Ia merasa puas dan mendapatkan perhentian.

Mari kita baca lagi Kejadian 1:27-28, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ‘Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.’” Kemudian Kejadian 1:31 dan Kejadian 2:3, “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik . . .” “Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.” Allah mempunyai tujuan, dan tujuan ini adalah mendapatkan manusia — manusia yang memiliki kekuasaan untuk memerintah atas bumi. Perkara inilah yang dapat memuaskan hati Allah. Jika hal ini dapat dicapai, semuanya akan baik. Pada hari keenam, tujuan Allah tercapai. “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik . . . berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.” Tujuan dan pengharapan Allah telah tercapai; Ia dapat berhenti dan beristirahat. Perhentian Allah didasarkan pada manusia yang memerintah.