← Daftar isi Jangan Mengasihi Dunia · bab 4/11

Bab 4

Bagiku, Dunia Telah Disalibkan

Dipisahkan dari dunia, dipisahkan bagi Allah, adalah prinsip pertama dari kehidupan orang Kristen. Ketika Yohanes mendapatkan wahyu Yesus Kristus, ia nampak bahwa kedua hal ini merupakan ekstrem yang tidak bisa disatukan, sesungguhnya merupakan dua dunia yang berjalan berlawanan arah. Ia terlebih dulu dalam roh dibawa ke padang gurun, nampak Babel adalah ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi (Why. 17:3-5), kemudian di dalam roh yang sama dibawa ke satu gunung yang besar dan tinggi, dari sana nampak Yerusalem, mempelai perempuan, adalah istri Anak Domba (21:10). Perbandingan ini sangat jelas, hampir-hampir tidak bisa diutarakan lebih jelas lagi.

Baik kita sebagai Musa, atau Bileam, kalau ingin mempunyai pandangan Allah terhadap perkara-perkara, harus seperti Yohanes dibawa ke atas gunung. Banyak orang tidak nampak rencana kekal Allah, atau meskipun sudah melihat, hanya memahaminya sebagai doktrin yang kering dan hambar, karena mereka tertinggal di dataran rendah. Karena mengerti saja sama sekali tidak bisa menggerakkan kita; hanya wahyu yang bisa menggerakkan kita. Dari padang gurun kita bisa nampak perkara Babel, tetapi kita perlu wahyu rohani baru bisa nampak Yerusalem Baru Allah. Begitu nampak, kita pasti akan berubah, tidak bisa seperti dulu lagi. Karena itu, segala sesuatu orang Kristen, sepenuhnya tergantung pada terceliknya mata, tetapi untuk memiliki pengalaman mata tercelik, harus siap melepaskan standar yang biasa, lalu berusaha terus mendaki ke atas.

Perempuan sundal Babel selalu disebut sebagai “kota besar” (16:19 dan lainnya), menekankan kesuksesan besarnya. Sebaliknya, Yerusalem Baru selalu disebut sebagai “kota kudus” (21:2, 10), menekankan dia terpisah bagi Allah. Dia berasal dari Allah, juga berdandan untuk suaminya. Untuk ini, dia mempunyai kemuliaan Allah. Hal ini bagi kita semua adalah perkara pengalaman. Pengudusan di dalam kita adalah milik Allah, yang sepenuhnya terpisah bagi Kristus. Prinsip di sini adalah yang berasal dari surga baru bisa kembali ke surga; sebab tidak ada yang lain yang kudus. Kalau kita meninggalkan prinsip pengudusan ini, segera berada dalam Babel.

Maka, ketika Yohanes menggambarkan kota kudus, ciri pertama yang disinggung adalah tembok. Kota juga memiliki pintu yang diperuntukkan Allah keluar masuk, tetapi Yohanes terlebih dulu menyinggung tembok. Saya ulangi lagi, karena penyisihan adalah prinsip pertama kehidupan orang Kristen. Kalau Allah menginginkan kota-Nya pada hari itu mencapai kapasitas dan kemuliaan yang begitu, hari ini kita harus terlebih dulu di dalam hati manusia membangun tembok kota itu. Dalam pelaksanaannya, kita harus memandang mustika semua perkara milik Allah, dan menolak bahkan membuang segala perkara milik Babel. Saya berkata demikian, bukan mengacu kepada perbedaan di tengah-tengah orang Kristen. Terhadap saudara-saudara kita, meskipun ada kalanya kita tidak bisa mengambil bagian atas hal-hal yang mereka lakukan, kita tidak berani mengisolir mereka di luar. Tidak, kita harus mengasihi dan menerima setiap orang yang bersama-sama dengan kita menjadi orang Kristen. Namun pada prinsipnya, pemisahan kita dengan dunia tidak bisa dikompromikan.

Pada hari itu dengan sukses Nehemia membangun kembali tembok Yerusalem, tetapi dia menghadapi penentangan yang besar. Karena Iblis membenci perbedaan yang demikian, ia tidak bisa tahan kalau manusia terpisah atau dikhususkan bagi Allah. Karena itu Nehemia dengan orangorangnya mempersenjatai diri mereka, sambil membangun tembok, sambil siap berperang. Inilah harga yang harus kita keluarkan bagi pengudusan kita.

Kita benar-benar harus membangun. Taman Eden tidak mempunyai tembok yang dibangun manusia guna menutup musuh di luar; sebab itu Iblis mempunyai celah untuk masuk. Allah menghendaki Adam dan Hawa “memelihara/ menjaga” taman itu (Kej. 2:15), menghendaki mereka menjadi satu benteng pelindung yang riil terhadap Iblis. Hari ini, melalui Kristus, Allah telah merencanakan satu Eden dalam hati orang yang Ia tebus, Iblis bagaimanapun tidak bisa memasukinya, inilah fakta kemenangan. “Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, melainkan hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu” (Why. 21:27).

Kebanyakan di antara kita menyetujui bahwa rasul Paulus telah menerima wahyu yang khusus tentang gereja Allah. Demikian juga, kita merasa bahwa Allah membuat Yohanes mempunyai pemahaman yang khusus terhadap sifat dunia. Kosmos sesungguhnya adalah istilah yang sering dipakai oleh Yohanes. Kitab Injil yang lain hanya memakai 15 kali, (Matius 9 kali, Markus dan Lukas masingmasing 3 kali), dalam 8 Surat Kiriman, Paulus memakai 47 kali. Tetapi Yohanes memakai 105 kali; dalam kitab Injil 78 kali, dalam Surat Kiriman 24 kali, dalam kitab Wahyu 3 kali.

Dalam Surat Kiriman pertamanya Yohanes menulis, “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, tidak berasal dari Bapa, melainkan dari dunia” (1 Yoh. 2:16). Perkataan ini jelas sekali memantulkan godaan yang diterima Hawa (Kej. 3:6). Dengan inilah Yohanes menjelaskan perkara dunia atau apa yang ada di dalam dunia. Apa saja yang bisa tercakup dalam nafsu atau keinginan bawaan, apa saja yang bisa merangsang ketamakan dan ambisi, apa saja yang di dalam kita menimbulkan kesombongan atau bujukan untuk kehidupan hari ini, semua perkara semacam ini merupakan satu bagian dalam sistem Iblis. Mungkin kita tidak perlu lebih jauh menjelaskan dua butir yang pertama, tetapi kita akan sejenak melihat butir yang ketiga. Apa saja yang menimbulkan kesombongan di dalam kita, itu adalah perkara dunia. Kegagahan, kekayaan, kesuksesan, semua ini dipuji oleh dunia. Orang bangga akan kesuksesannya adalah hal yang wajar. Namun Yohanes berkata bahwa apa saja yang menimbulkan perasaan sukses semacam ini, berasal “dari dunia”.

Sebab itu, setiap kali kita mengalami kesuksesan (bukan berarti dalam setiap hal kita harus gagal), di dalam kita, seharusnya mempunyai semacam reaksi, yaitu segera dengan rendah hati mengakui dosa yang terkandung dalam kesuksesan ini; karena setiap kali kita merasa puas terhadap kesuksesan tertentu, kita segera bisa merasakan sedang menjamah dunia. Kita juga bisa tahu bahwa kita sudah meletakkan diri sendiri di bawah penghakiman Allah, karena bukankah kita sudah mengakui bahwa seluruh dunia berada di bawah penghakiman? Hari ini (marilah kita mencoba memahami fakta ini) orang-orang yang mempunyai pemahaman ini, dan mengakui mereka mempunyai keperluan ini, akan mendapatkan perlindungan olehnya.

Akan tetapi, kesulitannya ialah ada berapa orang yang mengetahui hal ini? Bahkan orang-orang yang hidup dalam keluarganya sendiri pun sama dengan orang-orang yang secara terbuka sukses, mudah sekali jatuh ke dalam jerat keangkuhan masa kini. Seorang perempuan yang memasak di dapur, yang setiap hari menyediakan makanan untuk tamu, juga bisa menjamah dunia sehingga merasa puas diri. Setiap kemuliaan yang bukan untuk Allah, adalah sia-sia; yang aneh, sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dibilang sukses pun memiliki kebanggaan sia-sianya. Di mana saja kita menyentuh kesombongan, kita menyentuh dunia, persekutuan kita dengan Allah segera ada lubangnya. O, semoga Allah membuka mata kita, supaya kita jelas nampak apakah dunia ini! Tidak saja perkara yang jahat, perkara apa saja yang menarik kita berangsur-angsur meninggalkan Allah, juga adalah unsur dari sistem yang melawan Dia. Rasa puas yang berasal dari kesuksesan atas pekerjaan wajar tertentu, juga bisa menjadi penghalang di antara kita dengan Allah. Karena perkara itu di dalam kita membangkitkan keangkuhan masa kini, bukan pujian terhadap Allah, maka kita benar-benar tahu bahwa kita telah menjamah dunia. Sebab itu, kalau kita ingin mempertahankan persekutuan dengan Allah tidak tercemar, kita perlu terus berjaga-jaga dan berdoa.

Lalu, bagaimana kita bisa terhindar dari perangkap Iblis untuk menjerat umat Allah? Pertama saya akan tekankan, jalan untuk menghindar bukan dengan melarikan diri. Banyak orang mengira kalau kita berusaha menolak perkara dunia, pasti bisa terhindar dari dunia. Itu bodoh. Bagaimana kita bisa dengan cara dunia menghindari sistem dunia? Marilah kita merenungkan perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 11:18-19, “Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” Ada orang mengira di sini Yohanes Pembaptis memberi cara untuk menghindar dari dunia, tetapi “tidak makan, tidak minum” bukan kepercayaan orang Kristen. Kristus datang, Ia makan dan minum, orang berkata: Ia adalah pelahap dan peminum, itu baru kepercayaan orang Kristen! Ketika rasul Paulus membicarakan “roh-roh dunia” (unsur-unsur dunia), ia menjelaskan semuanya itu adalah “jangan pegang ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini” (Kol. 2:20-21). Sebab itu pertapaan hanyalah cara duniawi, bagaimana kita bisa menaruh harapan kepada “roh-roh dunia” untuk menghindari dunia? Namun, banyak sekali orang Kristen yang giat justru meninggalkan berbagai macam kenikmatan duniawi dengan harapan melalui ini bisa terlepas dari dunia! Anda pergi ke tempat yang terpencil, membangun gubuk untuk diri sendiri, menyembunyikan diri di sana, melarikan diri dari dunia. Tetapi meskipun demikian, dunia bisa mengikuti Anda ke sana. Tidak peduli ke mana Anda pergi, dunia bisa membuntuti Anda, bisa menemukan Anda.

Kita diselamatkan terlepas dari dunia, bukan dimulai dari meninggalkan ini atau itu, melainkan dimulai dari kita memiliki pandangan Allah, nampak bahwa dunia berada di bawah keputusan hukuman mati. Tanda yang dipakai dalam permulaan Wahyu 18 memperlihatkan kepada kita: “Sudah runtuh, sudah runtuh Babel, kota besar itu” (ayat 2). Hukuman mati selalu diumumkan kepada orang yang hidup, bukan diumumkan kepada orang yang mati. Dipandang dari satu pihak, hari ini dunia adalah kuasa yang hidup, yang dengan kejam terus membuntuti dan mencari mangsanya. Keputusan hukuman mati telah diumumkan, meskipun harus menunggu kemudian hari baru dilaksanakan, tetapi kematiannya sudah pasti. Orang yang dijatuhi hukuman mati, selain dikurung dalam penjara menunggu mati, tidak ada hari depan yang lain. Demikian juga, dunia berada di bawah penghakiman, tidak ada hari depan. Kita berkata, sistem dunia belum “digulung” (Ibr. 1:12), belum diakhiri oleh Allah; tetapi pada suatu hari kelak, pasti digulung. Kalau kita nampak ini, kita pasti berubah sama sekali. Ada orang memakai pertapaan untuk mencari kelepasan dari dunia, seperti Yohanes Pembaptis, tidak makan, tidak minum. Itu bukan kepercayaan orang Kristen. Kita, orang Kristen, makan dan minum, tetapi ketika kita makan dan minum, kita menyadari bahwa makan minum adalah perkara duniawi, bahkan bersama dunia berada di bawah hukuman mati, sebab itu makan minum tidak bisa mengendalikan kita.

Misalnya, Walikota Shanghai menurunkan perintah untuk menutup sekolah di tempat Anda mengajar. Begitu Anda mendengar kabar ini, Anda segera sadar bahwa di sekolah tersebut Anda tidak memiliki hari depan lagi. Anda masih mengajar di sana sejangka waktu, tetapi Anda tidak bisa melakukan sesuatu untuk hari depan Anda. Begitu Anda mendengar kabar sekolah akan ditutup, sikap Anda terhadap sekolah itu segera berubah. Misalnya lagi, pemerintah memutuskan akan menutup suatu bank tertentu, apakah Anda cepat-cepat menyetor sejumlah besar uang untuk menyelamatkan bank itu supaya tidak ditutup? Tidak. Begitu Anda mendengar bahwa bank itu tidak ada hari depan, sepeser pun Anda tidak akan menyetor ke sana. Anda tidak akan menyetor uang ke bank itu lagi, karena Anda tidak menaruh pengharapan kepadanya.

Kita mempunyai dasar untuk berkata bahwa dunia pasti akan ditutup. Ketika tentaranya berperang melawan Anak Domba, ketika Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuhan mengalahkan mereka melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Babel segera runtuh (Why. 17:14). Ia tidak mempunyai hari depan lagi.

Wahyu salib Kristus membuat kita menemukan fakta ini, yaitu melalui salib, segala sesuatu yang milik dunia telah berada di bawah keputusan hukuman mati. Kita masih tetap hidup di dalam dunia, dan masih memakai barangbarang dunia, tetapi kita tidak memakai mereka untuk membangun hari depan kita, karena salib telah menghancurkan semua pengharapan kita terhadap mereka. Kita boleh berkata dengan sungguh-sunguh, salib Tuhan Yesus telah menghancurkan pengharapan kita terhadap dunia; di dunia ini tidak ada sesuatu yang untuknya kita hidup.

Tidak ada satu cara yang sungguh-sungguh bisa menyelamatkan kita dari dunia yang bukan dimulai dari wahyu semacam ini. Ketika kita mencoba melarikan diri dari dunia, menghindar dari dunia, kita akan menemukan bahwa kita sangat mengasihi dunia, dan dunia pun mengasihi kita. Kita boleh melarikan diri ke mana pun, tetapi dunia masih bisa mengejar kita. Namun, begitu kita sadar bahwa dunia ini segera binasa, kita pasti tidak berselera sedikit pun terhadap dunia, dan dunia pun tidak bisa menangkap kita lagi. Asal kita nampak hal ini, dengan sendirinya terpisah dengan seluruh sistem Iblis.

Dalam akhir Surat yang ditujukan kepada orang-orang di Galatia, Paulus dengan jelas menjabarkan hal ini. “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia” (6:14). Ada hal apa dalam ayat ini yang menarik perhatian Anda? Ayat ini membicarakan dua aspek pekerjaan salib yang berkaitan dengan dunia, yang telah kita singgung sedikit dalam pasal yang lalu. “Aku (disalibkan) bagi dunia”, perkataan ini sangat cocok dengan pemahaman kita tentang tersalib bersama Kristus, seperti yang dijelaskan ayat Alkitab dalam Roma 6. Tetapi ayat ini juga dengan khusus berkata, “dunia telah disalibkan bagiku”. Ketika Allah membawa wahyu perampungan pekerjaan Kristus kepada Anda dan saya, Dia memperlihatkan kepada kita bahwa kita sendiri telah di atas salib, juga memperlihatkan kepada kita bahwa dunia kita pun berada di atas salib. Sebagaimana Anda dan saya tidak bisa terhindar dari penghakiman salib, begitu juga dunia tidak bisa terhindar dari penghakiman salib. Apakah kita benar-benar telah nampak hal ini? Inilah letak segala persoalannya. Begitu saya nampak hal ini, saya tidak lagi mencoba membuang dunia yang saya cintai; karena saya telah nampak bahwa salib sudah membuangnya. Saya tidak akan mencoba melarikan diri dari dunia yang menempel pada diri saya; saya nampak melalui salib, saya sudah terlepas darinya.

Cara untuk diselamatkan dari dunia seperti banyak perkara dalam kehidupan orang Kristen, membuat kita takjub, karena sama sekali berbeda dengan konsepsi alamiah manusia. Orang menganggap menjauhkan diri dari tempat yang membahayakannya akan menyelesaikan masalah tentang dunia. Akan tetapi, kepergian tubuh tidak menghasilkan kepergian rohani; sebaliknya, tubuh berkontak dengan dunia belum tentu menyebabkan roh tertawan oleh dunia. Kerohanian yang terikat oleh dunia adalah hasil dari kebutaan rohani; diselamatkan adalah hasil dari terceliknya mata kita. Tidak peduli seberapa akrab kontak kita dengan dunia, asal kita benar-benar nampak sifat dunia, kita akan terlepas dari kuasanya. Sifat dasar dunia adalah milik Iblis; dia bermusuhan dengan Allah. Kalau kita nampak hal ini, berarti beroleh selamat.

Izinkan saya bertanya kepada Anda: apa profesi Anda? Pedagang? Dokter? Jangan meninggalkan profesi itu. Asal menulis kalimat ini: jual beli berada di bawah keputusan hukuman mati; kedokteran berada di bawah keputusan hukuman mati. Kalau Anda benar-benar berbuat demikian, kehidupan Anda selanjutnya akan berubah. Anda akan mengetahui bagaimana hidup, menjadi orang yang benarbenar mengasihi Dia, yang takwa kepada-Nya, dalam dunia yang bermusuhan dengan Allah dan yang telah dijatuhi hukuman.