Bab 3
Dunia Terbenam di Bawah Air
“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”
Markus 16:15-16
Cara pembicaraan kalimat kedua dalam potongan ayat Alkitab ini sangat menakjubkan banyak orang. Yesus tidak berkata, “Siapa yang percaya dan diselamatkan akan dibaptis.” Tidak, sebaliknya Ia berkata, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan.” Jika kita mengubah apa yang Tuhan katakan menjadi apa yang tidak Ia katakan, ini sangat berbahaya bagi kita. Setiap perkara yang Tuhan katakan sangatlah penting, setiap kata mempunyai maknanya. Jadi, jika demikian, faktanya pasti adalah hanya melalui percaya kepada-Nya dan dibaptis, barulah kita diselamatkan. Ada beberapa orang merasa bingung terhadap hal ini. Mereka mungkin akan protes, “Apa arti perkataan Anda ini?” Jangan bingung, juga jangan menyalahkan saya! Bukan saya yang berkata demikian, tetapi Tuhan saya yang berkata demikian. Dialah yang menetapkan urutan ini: percaya, lalu dibaptis, lalu diselamatkan. Kita tidak boleh memutarbalikkan urutan ini menjadi percaya, lalu beroleh selamat, lalu dibaptis, meskipun itu sangat cocok dengan kesenangan kita. Apa yang Tuhan katakan pasti tepat, kita cukup memperhatikan apa yang Dia katakan.
(Di sini saya memandang perkataan Yesus dalam Markus 16:16 sangat tepat, meskipun saya tahu ada beberapa pengamat meragukan kebenaran perkataan ini, namun saya tidak ingin berdebat untuk ini. Pada suatu hari, di suatu desa saya bertemu dengan seorang penjahit yang bermarga Tan. Ia mengambil Injil Markus, ketika membaca sampai potongan yang tidak diyakini oleh pengamat kalau perkataan ini adalah bagian dari Injil Markus, ia percaya dan bersandar kepada Tuhan. Di tempat itu tidak ada orang Kristen yang lain, sebab itu tidak ada orang yang membaptisnya. Apa yang harus dia perbuat? Kemudian dia melanjutkan membaca ayat 20. Allah sendiri akan membuktikan perkataan-Nya: itu sudahlah cukup. Sebab itu, dengan sederhana ia memutuskan untuk membuktikan salah satu janji yang ditulis dalam ayat 18. Lalu ia pergi menjenguk beberapa tetangga yang sakit. Setelah berdoa, demi nama Tuhan menumpangkan tangan ke atas mereka, kemudian ia pulang. Ia memberi tahu saya, lewat sejangka waktu, orang-orang yang didoakannya semua sembuh, tidak ada yang terkecuali. Hal ini membuat ia sangat puas, dan imannya juga diteguhkan. Ketika saya berjumpa dia, sambil tetap tenang meneruskan profesinya sebagai penjahit, ia dengan setia bersaksi bagi Tuhan-Nya. Kalau dia bisa dengan serius menerima firman Allah, mengapa saya tidak boleh?)
Karena itu saya ulangi lagi, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan.” Sekarang Anda bisa dengan suara nyaring berkata, “Apakah Anda bermaksud memberitahuku, kalau aku percaya dan dibaptis akan dilahirkan kembali?” Tidak! Maksud saya bukan demikian! Tuhan tidak berkata, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan dilahirkan kembali.” Kalau Tuhan tidak berkata demikian, saya tidak perlu percaya begitu. Perkataan-Nya adalah, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan.” Sebab itu yang saya percayai dengan sungguh-sungguh adalah keselamatan baptisan.
Selanjutnya Anda akan bertanya, “Apa artinya perkataan ini?” Lukas memberi tahu kita bahwa Petrus menganjuri orang, “Berilah dirimu diselamatkan dari orang-orang yang jahat ini. Orang-orang yang menerima perkataannya itu dibaptis” (Kis. 2:40-41), apa artinya ini?
Untuk menjawab hal ini, pertama-tama kita harus bertanya kepada diri sendiri, apa arti kata “diselamatkan” yang kita bicarakan di sini? Saya khawatir, terhadap kata “diselamatkan” di sini kita mempunyai konsepsi yang salah. Sebagian besar orang menganggap diselamatkan adalah terlepas dari neraka dan naik ke surga; atau terlepas dari dosa untuk selanjutnya menempuh kehidupan yang kudus. Tetapi itu salah. Dalam Alkitab kita nampak, diselamatkan bukan hanya itu. Karena diselamatkan yang utama tidak berhubungan dengan dosa atau neraka; juga tidak berhubungan dengan kudus dan surga, tetapi berhubungan dengan perkara yang lain.
Kita tahu bahwa setiap karunia indah yang Allah berikan kepada kita, semuanya untuk melawan semacam kejahatan yang bertentangan dengannya. Allah memberi kita pembenaran, karena ada penghakiman. Dia memberi kita hidup yang kekal, karena ada kebinasaan. Dia memberi kita pengampunan, karena ada dosa. Dia menyelamatkan kita — karena apa? Pembenaran dipandang dari sudut penghakiman, surga dipandang dari sudut neraka, pengampunan berkaitan dengan dosa, lalu diselamatkan berkaitan dengan apa? Kita akan nampak bahwa diselamatkan berkaitan dengan kosmos (dunia).
Iblis adalah musuh Kristus. Ia bekerja melalui daging manusia, di bumi menghasilkan susunan perkara ini, semua orang, tanpa terkecuali, terlibat di dalamnya. Model seluruh dunia ini khusus berlawanan dengan Allah Bapa. Saya rasa kita semua tahu bahwa dunia, daging, dan Iblis, tiga jenis kuasa kegelapan ini, berlawanan dengan tiga Persona ilahi. Daging berlawanan dengan Roh Kudus yang sebagai Penolong, Iblis berlawanan dengan Tuhan Yesus Kristus, dan dunia berlawanan dengan Bapa yang sebagai Pencipta.
Kosmos yang kita bicarakan ini, sejak awal berlawanan dengan Allah yang sebagai Bapa dan Pemula. Dalam penciptaan Allah berkata, “sungguh amat baik,” menyiratkan penciptaan Allah adalah menurut rencana kekal-Nya, dan Allah terus bekerja mengarah kepada rencana ini. Sebelum dunia dijadikan, hati-Nya telah menetapkan bahwa di bumi ini akan menentukan satu urutan, dengan manusia sebagai puncaknya, dan urutan ini tanpa terbatas mengekspresikan ciri khas Putra-Nya. Tetapi Iblis datang mengganggu. Dengan bumi sebagai batu loncatan, dengan manusia sebagai alatnya, merampas ciptaan Allah, menjadikannya sebagai sesuatu yang dengan dirinya sebagai inti dan menampilkan gambarnya. Maka, sistem perkara yang tidak selaras dengan kehendak Allah ini secara langsung melawan rencana Allah.
Karena itu, hari ini kita menghadapi dua dunia, dua wilayah kekuasaan, yang ciri khasnya sama sekali berbeda bahkan berlawanan. Hari ini, bagi kita masalahnya bukan kelak naik ke surga atau turun ke neraka; masalahnya adalah dua dunia ini. Sebenarnya kita ini milik sistem dengan Kristus sebagai Tuhan, atau sebaliknya milik sistem dengan Iblis sebagai kepala yang sesungguhnya?
Maka, diselamatkan bukan hanya merupakan masalah pribadi dosa diampuni atau terhindar dari neraka. Kita harus nampak bahwa diselamatkan adalah keluar dari satu sistem. Ketika saya beroleh selamat, saya keluar dari keseluruhan satu dunia, dan masuk ke satu dunia lain. Hari ini saya beroleh selamat, berarti saya terlepas dari keseluruhan ruang lingkup organisasi yang dibangun oleh Iblis untuk melawan kehendak Allah.
Ruang lingkup ini, kosmos yang meliputi segalagalanya ini, memiliki banyak aspek yang istimewa. Tentunya dosa menempati posisi nomor satu, masih ada nafsu duniawi; standar dan cara penanganan permasalahan yang agak disegani orang juga menempati bagian yang tidak kecil. Pikiran, kebudayaan, dan filsafat manusia, beserta segala yang terbaik dalam masyarakat dan pengertian politik, semua tercakup di dalamnya. Selain itu, tidak diragukan lagi masih harus ditambah organisasi keagamaan dunia, termasuk organisasi kekristenan yang duniawi, serta “gereja dunia”. Di mana ada kekuatan manusia alamiah memerintah, di sana ada unsur sistem yang langsung digerakkan oleh Iblis.
Kalau ini adalah dunia, lalu diselamatkan itu apa? Arti diselamatkan adalah aku terlepas dari ini. Aku keluar dari kosmos yang meliputi segala-galanya ini. Aku tidak lagi milik sistem perkara Iblis. Hatiku tertuju pada perkara yang diperhatikan oleh hati Allah. Aku menjadikan kehendak kekal-Nya dalam Kristus sebagai sasaranku, aku masuk ke dalam kehendak Allah, sehingga diselamatkan terlepas dari sistem Iblis.
Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan. Apa yang dikatakan Yesus di sini sangat jelas artinya. Aku melangkahkan tindakan iman: Aku percaya dan dibaptis, demikian aku menjadi seorang yang diselamatkan. Inilah beroleh selamat. Karena itu jangan sekali-kali kita memandang remeh baptisan. Baptisan mempunyai sangkut-paut yang besar. Ini adalah masalah peperangan yang dahsyat dari dua dunia yang berlawanan, dan perpindahan kita dari satu dunia ke dunia lain yang saling berlawanan.
Dalam Alkitab ada potongan firman lain yang menjelaskan hal ini, yang menyinggung secara bersamaan baptisan dengan diselamatkan. Yang saya maksud adalah 1 Petrus 3. Dalam ayat 20 rasul memberi tahu kita, “Yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan melalui air bah itu.” Ia berkata bahwa air adalah satu tanda, corak, atau seperti yang dikatakan kalimat selanjutnya tentang adanya kiasan. “Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan . . . melalui kebangkitan Yesus Kristus.” Sebab itu dia menyimpulkan bahwa baptisan sekarang juga menyelamatkan kita. Jelas sekali Petrus sangat yakin kita diselamatkan melalui baptisan, sama seperti dia percaya Nuh diselamatkan melalui air. Ingatlah, saya tidak mengatakan dilahirkan kembali, saya juga tidak mengatakan terlepas dari neraka atau terlepas dari dosa. Kita harus jelas bahwa kita sedang membicarakan diselamatkan. Ini bukan hanya persoalan cara pembicaraan; ini bersangkutan dengan secara mendasar kita terpisah dengan sistem dunia hari ini.
Untuk lebih jelas memahami maksud Petrus, kita harus kembali kepada sumber perkara yang kita bicarakan, yaitu Kitab Kejadian 6—8. Makna gambar ini sangat dalam. Kita nampak pada hari Nuh, dunia telah rusak seluruhnya. Bumi asalnya adalah ciptaan Allah, pada hari manusia menempatkan dirinya di bawah tangan Iblis, bumi menjadi rusak karena perbuatan manusia. Begitu dosa terbawa masuk, segera berkembang bahkan menjadi liar, sedemikian rupa sehingga Roh Allah juga berseru, “Sudahlah! Perkaranya sudah berkembang sampai keadaan yang tidak bisa ditolong lagi; mereka hanya bisa dihakimi dan dimusnahkan.”
Karena itu Allah berpesan kepada Nuh untuk membuat bahtera, membawa seisi rumahnya dan semua makhluk ciptaan ke dalamnya, kemudian datanglah air bah. Air bah merendam semua gunung tinggi di seluruh kolong langit; melalui bahtera mereka “melampung tinggi dari bumi” (Kej. 7:17). Lalu mati binasalah segala yang hidup, termasuk manusia dan ternak, semuanya binasa; hanya yang melampung di atas air yang beroleh selamat. Di sini yang penting bukan mereka terlepas dari air bah sehingga tidak terbenam. Itu bukan titik beratnya. Bagi kita, titik berat yang sesungguhnya adalah: hanya merekalah orang-orang yang keluar dari sistem perkara yang rusak, yaitu dunia yang terendam di bawah air. Yang keluar pasti hidup, yang tertinggal di dunia pasti binasa; namun diselamatkan berarti keluar, bukan hasil dari keluar. Perhatikanlah, perbedaan ini sangat besar. Diselamatkan dalam esensnya adalah saat ini keluar dari sistem milik Iblis yang ditentukan akan binasa.
Puji syukur kepada Allah, mereka telah keluar! Bagaimana caranya keluar? Melalui air. Sebab itu hari ini orang beriman dibaptis adalah melambangkan melewati air, sama seperti Nuh dalam bahtera melewati air bah. Melewati air ini melambangkan mereka melarikan diri dari dunia, terlepas dari sistem perkara yang di bawah penghakiman Allah beserta rajanya. Saya ingin khusus bersekutu dengan orang yang akan dibaptis pada hari ini (keterangan: berita ini disampaikan dalam suatu sidang pembaptisan pada bulan Mei 1939 di London). Ingatlah, yang berada di dalam air bukan hanya Anda. Ketika Anda turun ke dalam air, seluruh dunia Anda juga ikut turun. Ketika Anda naik, Anda naik di dalam Kristus, di dalam bahtera yang mengapung di atas gelombang, tetapi dunia tertinggal di belakang Anda. Bagi Anda, dunia ini tenggelam, terbenam, sama seperti dunia pada zaman Nuh, dimatikan dalam kematian Kristus, takkan muncul lagi. Anda melalui baptisan mengumumkan demikian, “Tuhan, aku meningalkan duniaku di belakangku. Salib-Mu telah selamanya memisahkan aku dengan dunia!”
Jadi, dipandang dari segi perlambangan, ketika Anda melewati air baptisan, segala perkara milik sistem lama sudah diputuskan oleh air itu, tidak akan kembali lagi. Hanya Anda yang keluar dari air. Bagi Anda, ini adalah memasuki dunia yang lain, di dunia ini, Anda bisa nampak burung merpati dan daun pohon ara yang baru dipetik. Anda keluar dari dunia yang di bawah penghakiman, dan memasuki dunia yang penuh dengan corak baru hayat Allah.
Saya tekankan lagi, yang turun ke dalam air bukan hanya Anda; dunia Anda juga mengikuti Anda turun, kemudian tinggal di sana. Dipandang dari sudut kedudukan baru Anda, Anda menemukan bahwa air ini terus merendam dunia yang dulu Anda miliki. Air bah yang menyelamatkan Nuh dan seisi keluarganya, juga merendam dunia yang di dalamnya mereka pernah hidup. Jadi, air yang sama, di satu pihak menempatkan Anda dan saya pada tumpuan diselamatkan di dalam Kristus, di pihak lain juga mengubur sistem seluruh perkara Iblis. Tidak saja Anda, keturunan Adam ini, mengakhiri sejarah Anda sendiri dalam baptisan Anda, dunia Anda juga diakhiri di sana. Keduanya sudah mati, sudah dikubur, tidak ada satu pun yang bisa bangkit lagi. Inilah pengakhiran segalanya.
Ini berarti Anda tidak bisa membawa sesuatu apa pun dari dunia yang lalu ke dalam dunia yang baru. Segala perkara yang ada di dalam Adam dan milik ruang lingkup yang dulu, semua tertinggal di sana, tidak akan kembali lagi. Dulu mungkin Anda adalah karyawan di suatu toko, atau pembantu di suatu rumah; mungkin Anda adalah majikan, direktur, atau komisaris di suatu perusahaan. Hari ini boleh tetap sebagai majikan atau tetap sebagai pembantu, tetapi ketika Anda menjamah perkara Allah, datang ke dalam gereja Allah untuk melayani Allah, Anda akan menemukan bahwa di sini tidak ada yang merdeka, tidak ada budak, juga tidak ada majikan atau pembantu. Lagi pula, mungkin Anda adalah orang Yahudi atau orang bukan Yahudi, orang yang di dalam Adam mempunyai reputasi baik atau nama jelek. Begitu Anda melewati air ini, sistem semua perkara itu telah lewat, tidak akan kembali lagi. Sebaliknya, Anda nampak diri sendiri di dalam Kristus, di sini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada orang barbar atau orang Skit, juga tidak ada perkara yang lain, hanya ada satu manusia baru. Anda telah memasuki ruang lingkup perkara yang memiliki ciri khas pohon zaitun dan daun pohon zaitun, rahasia yang ada di dalamnya adalah hayat Allah. Perkataan “melalui kebangkitan Yesus Kristus”, menyatakan seluruh ciri khas kemudian hari (1 Ptr. 3:21). Ia menyiratkan Anda memasuki perkara yang sepenuhnya baru yang sedang diciptakan Allah. Menurut ahli penafsir Alkitab (Konkordansi Young), arti Ararat adalah “tanah suci”. Menurut pengertian ini, kita memuji Allah, bahtera berhenti pada kedudukan yang diperbarui, dalam bahtera penuh dengan makhluk ciptaan, melambangkan ciptaan baru. Dari kematian Kristus, Allah menghasilkan ciptaan yang sepenuhnya baru, lagi pula dalam kesatuan dengan kebangkitan Kristus, Dia membawa orang masuk ke dalam ciptaan baru ini. Dalam Kristus, Anda dan saya semuanya berada dalam ciptaan baru ini!
Sekarang Anda bertanya kepada saya, kalau kita tidak dibaptis apakah ada masalah? Satu-satunya jawaban saya adalah, “Ya”. Karena baptisan adalah pesan Tuhan sendiri (Mat. 28:19). Dia sendiri juga telah menolak halangan dari orang lain, dan tetap melakukan langkah ini (Mat. 3:13-15). Petrus menggambarkan baptisan adalah memohon atau memiliki kesaksian hati nurani yang baik kepada Allah (1 Ptr. 3:21). Kesaksian adalah proklamir. Jadi, melalui tindakan ini, Anda menyatakan suatu perkara; mungkin Anda tidak menggunakan kata-kata, tetapi melalui perbuatan Anda, Anda benar-benar memproklamirkan di mana Anda berdiri. Anda melewati air, mengumumkan kepada seluruh alam semesta bahwa Anda telah meninggalkan dunia Anda di belakang Anda, dan telah memasuki wilayah yang seluruhnya baru. Inilah diselamatkan. Anda secara terbuka berdiri di tempat di mana Allah meletakkan Anda di dalam Kristus.
Ini sangat membantu menjelaskan, mengapa kalau kita menganggap diselamatkan hanya berhubungan dengan neraka atau dosa, kita akan sulit menjelaskan beberapa ayat Alkitab yang membicarakan tentang diselamatkan. Misalnya, perkataan Paulus dan Silas kepada kepala penjara, kelihatannya sangat sulit dijelaskan. Orang itu bertanya, “Tuan-tuan, apa yang harus aku perbuat, supaya aku diselamatkan?” (Kis. 16:30). Bagaimana jawaban Anda? Kalau Anda adalah penginjil yang ortodok pada hari ini, Anda bisa dengan mantap berkata, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus, dan engkau akan selamat.” Tetapi kenyataannya, Paulus menambahkan, “engkau dan seisi rumahmu.” Anda pasti sangat tercengang dan berkata, “Apa ini berarti kalau aku percaya Tuhan Yesus, aku dan seisi rumahku akan selamat?” Sekarang kita juga harus hati-hati. Paulus tidak berkata, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus, Anda dan seisi keluarga Anda pasti beroleh hidup yang kekal.” Dia berkata, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” (Kis. 16:30-31). Ingatlah, yang diperhatikan oleh Paulus di sini adalah sistem perkara, yang ia perhatikan ialah menghendaki kepala penjara meninggalkan sistem itu. Kepala penjara yang adalah kepala sebuah rumah tangga, ketika ia mengumumkan bahwa sejak hari itu dia dan keluarganya akan beribadah kepada Tuhan, dan pengumuman ini diketahui oleh semua orang, bahkan orang-orang yang ada di jalanan pun bisa menunjuk pintu rumahnya dan berkata, “Mereka adalah orang Kristen.”
Inilah arti beroleh selamat. Anda mengumumkan bahwa Anda adalah orang milik sistem yang lain. Orang lain menunjukan Anda dan berkata, “Ya, inilah keluarga Kristen; mereka milik Tuhan!” Inilah karunia keselamatan yang Tuhan harapkan agar Anda peroleh. Melalui kesaksian terbuka Anda, Anda mengumumkan di hadapan Allah, “Duniaku sudah lewat. Aku sedang memasuki dunia yang lain.” Semoga Tuhan memberi kita keselamatan yang demikian, supaya kita seluruhnya tercabut bahkan sampai ke akar-akarnya dari sistem perkara yang usang, yang ditetapkan akan binasa, dan dengan teguh tertanam ke dalam dunia baru Allah.
Puji syukur kepada Allah, kesemuanya ini masih ada aspek positifnya yang mulia. Kita beroleh selamat “melalui kebangkitan Yesus Kristus”. Kemudian Petrus melanjutkan, “Yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke surga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya” (1 Ptr. 3:22). Allah telah menetapkan Putra-Nya berada di atas segala sesuatu, dan supaya semua kuasa takluk kepada-Nya. Allah yang mampu melakukan ini, sangat mampu membawa saya, baik tubuh maupun jiwa, ke dalam ruang lingkup yang lain.
Jadi, ringkasnya, di sini kita mempunyai dua dunia. Di satu pihak ada dunia di dalam Adam, yang dicengkeram dengan ketat oleh Iblis; di pihak lain ada ciptaan baru dalam Kristus, yaitu ruang lingkup pergerakan Roh ilahi. Bagaimana Anda dan saya bisa terlepas dari satu ruang lingkup (Adam), dan memasuki satu ruang lingkup yang lain (Kristus)? Kalau Anda tidak bisa dengan tegas menjawab pertanyaan ini, saya akan bertanya kepada Anda persoalan yang lain: Bagaimana mulanya Anda masuk ke dalam Adam? Karena jalan masuk menunjukkan jalan keluarnya. Anda melalui kelahiran masuk ke dalam ras Adam, masuk ke dalam ruang lingkup Adam. Lalu, bagaimana caranya Anda keluar? Tentunya melalui kematian. Bagaimana pula Anda memasuki ruang lingkup Kristus? Jawabannya tetap sama: melalui kelahiran. Jalan memasuki rumah Allah adalah melalui kebangkitan Yesus Kristus dari kematian, mendapatkan kelahiran kembali sehingga mempunyai hidup yang penuh pengharapan (1 Ptr. 1:3). Kalaupun Anda telah melalui rupa kematian-Nya menjadi satu dengan-Nya, Anda juga melalui rupa kebangkitan-Nya menjadi satu dengan-Nya (Rm. 6:5). Kematian mengakhiri hubungan Anda dengan dunia usang, dan kebangkitan membawa Anda masuk ke dalam kontak yang hidup dengan dunia baru ini.
Terakhir, saya ingin bertanya: apa yang memisahkan kedua dunia ini? Di mana batu pijak di antaranya? Bukankah penguburan? “Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian” (Rm. 6:4a). Dipandang dari sudut ini, “dikuburkan . . . dalam kematian” membicarakan kesudahan yang dahsyat. Sejarahku dalam Adam sudah berakhir dalam kematian Kristus, sebab itu ketika aku meninggalkan upacara penguburan itu, aku bisa berkata, diriku sudah “tamat”. Namun tidak hanya ini saja, puji Tuhan, masih ada aspek yang lain. Karena “Kristus telah dibangkitkan”, maka ketika aku keluar dari air, aku bisa hidup dalam corak hidup yang baru (Rm. 6:4b).
Dua khasiat ganda salib ini juga tersirat dalam perkataan Roma 6:3. “Atau tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?” Dalam kalimat ini juga menyiratkan dua aspek baptisan. Kita dibaptis adalah dibaptis ke dalam dua hal ini. Pertama, kita “dibaptis ke dalam kematian-Nya”. Ini adalah fakta yang besar. Apakah cuma ini saja? Tidak. Kedua, ayat ini juga mengatakan, kita “dibaptis dalam Kristus”. Dibaptis ke dalam kematian Kristus adalah mengakhiri hubungan kita dengan dunia ini; tetapi dibaptis ke dalam Pesona Kristus yang hidup ini, Kepala ras baru, adalah membukakan bagi kita perkara dunia yang sama sekali baru. Aku masuk ke dalam air, rampunglah segalanya, secara terbuka mengakui perkara pertama: sejak hari Anak Manusia “ditinggikan” yang menarik aku berpaling kepada-Nya, hal “dunia ini dihakimi” telah menjadi satu kenyataan bagiku.
Inilah Injil yang luar biasa, kita akan memberitakannya kepada seluruh makhluk ciptaan!