Daftar isi Dua Belas Bakul (12) · bab 1/12

Makna Baptisan

Sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan dengan berseru kepada nama Tuhan!

Kis. 22:16

Atau tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

Rm. 6:3-4

Dalam berita ini kita akan khusus melihat satu judul yaitu, apa sebenarnya makna baptisan itu. Saya tidak perlu membuang tenaga untuk membicarakan bagaimana baru terhitung dibaptis, tetapi akan khusus membicarakan makna baptisan, melihat bagaimana perkataan Alkitab terhadap pengajaran ini, apa titik beratnya. Mengapa Alkitab menyuruh kita dibaptis? Terlebih dulu saya ingin bertanya, biasanya, mengapa kita mandi, di dalam air? Karena takut tubuh kita kotor. Karena tubuh atau kaki kita berdebu, maka perlu dicuci bersih. Tidak ada orang yang masuk ke dalam air mencuci diri dengan tujuan membuat dirinya kotor. Orang yang mencuci diri ke dalam air selalu ingin mencuci bersih dirinya; kalau tidak, ia tidak akan masuk ke dalam air. Sebab itu makna yang pertama Alkitab menyuruh kita dibaptis adalah untuk dicuci bersih. Kalau tidak untuk dicuci bersih, kita tidak perlu dibaptis.

Masih ada satu hal lagi, yaitu kapan kita membuang suatu barang ke dalam air? Kapan Anda menuang satu cikrak kotoran atau satu keranjang sampah ke dalam air? Bukankah saat Anda tidak menghendakinya? Karena Anda ingin membuangnya, maka memasukkannya, membuangnya ke dalam air. Arti kedua Alkitab membicarakan baptisan yaitu untuk dikubur, tidak menghendakinya. Anda tidak menghendakinya, sebab itu Anda perlu menguburnya.

MENCUCI DOSA

Kita telah membaca dua ayat Alkitab di atas, bagaimana perkataan Kisah Para Rasul? Kisah Para Rasul mengatakan bahwa Ananias diutus Roh Kudus; ada satu penglihatan yang jelas ditampakkan kepadanya, dan Tuhan berfirman kepadanya bahwa ia harus bangun dan pergi kepada Saulus dari Tarsus. Ananias berkata kepada Paulus, “Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan dengan berseru kepada nama Tuhan!” Mengapa harus dibaptis? Apa tujuan baptisan? Tujuan baptisan adalah menyucikan atau mencuci bersih dosa manusia.

Ayat Alkitab ini mudah disalahpahami orang. Beberapa hari yang lalu datang dua saudara bertanya kepada saya tentang ayat ini. Mereka bertanya bahwa di sini dikatakan “dosa-dosamu disucikan”. Namun ada orang bertanya kepada kami bahwa kalau orang tidak dibaptis, apakah dosanya belum dicuci bersih? Banyak orang mempunyai kesalahpahaman yang sama. Alkitab dengan jelas mengatakan “dosadosamu disucikan”. Memang Alkitab berkata demikian, tetapi apa arti yang sebenarnya?

Alkitab tidak saja mengatakan bahwa baptisan bukan semacam upacara, juga memberi tahu kita bahwa baptisan adalah membuat suatu kesaksian. Untuk apa orang masuk ke dalam air? Orang masuk ke dalam air untuk membuat kesaksian di hadapan Allah, di hadapan manusia, di hadapan malaikat, dan di hadapan Iblis: Orang ini telah percaya Tuhan Yesus, dosanya sudah diampuni dan dicuci bersih. Baptisan berarti di hadapan Allah, di hadapan manusia, di hadapan malaikat, dan di hadapan Iblis mengakui: aku percaya apa yang dirampungkan Kristus bagiku adalah hal yang sungguh-sungguh, yang sempurna, yang dapat diandalkan. Baptisan adalah menyatakan, mempersaksikan hal ini.

Itulah sebabnya Ananias menyuruh Paulus bangun dan memberi diri dibaptis. Mengapa harus dibaptis? Untuk mencuci bersih dosanya. Maksud Ananias, bukan berarti baptisan bisa menghapus dosa manusia. Bukan baptisan itu sendiri yang bisa mencuci bersih dosa manusia, melainkan perkara yang dinyatakan oleh baptisan itu, perkara yang disaksikan oleh baptisan itu, yang bisa mencuci bersih dosa. Semua air di dunia tidak bisa mencuci sedikit pun dosa manusia. Tetapi darah Tuhan yang dinyatakan dan disaksikan oleh air baptisan, yang bisa mencuci bersih semua dosa manusia. Sudah percayakah Anda? Kalau sudah percaya, segeralah dibaptis untuk mencuci dosa Anda. Makna pertama baptisan adalah mencuci bersih dosa.

Saudara saudari, kita harus tahu, tidak ada orang yang dipandang najis oleh Allah, yang dosanya belum diampuni, boleh menerima baptisan. Tidak ada orang yang belum mengetahui bahwa dosanya sudah dicuci bersih, bahwa dirinya sudah memiliki hayat kekal, sudah beroleh selamat, boleh menerima baptisan. Kalau orang yang demikian dibaptis, itu tidak benar. Setiap orang yang turun ke dalam air untuk dibaptis, harus bersaksi tentang perkara yang ia ketahui. Apa itu bersaksi? Bersaksi adalah berbicara atas apa yang telah ia lihat. Terlebih dulu melihat, setelah melihat baru berbicara, bersaksi. Orang yang tidak melihat, tidak bisa bersaksi. Sebab itu seseorang harus lebih dulu mengetahui dosanya sudah diampuni, mengetahui segala dosanya sudah dicuci bersih dalam darah Tuhan, barulah bisa di hadapan orang membuat kesaksian yang menyatakan bahwa dosanya sudah dicuci bersih.

Kalau demikian, baptisan bagi bayi adalah tindakan yang tidak benar. Orang yang dibaptis kalau tidak bisa bersaksi, ia tidak terhitung dibaptis. Kalau orang yang tidak percaya atau saat belum percaya sudah menerima baptisan, baptisan itu tidak bisa dipertanggungjawabkan, tidak terhitung apa-apa. Hanya yang bisa bersaksi bahwa dia tahu dosanya sudah diampuni dan dicuci bersih, baru bersyarat menerima baptisan. Yang dilakukan orang di dalam air ialah mempersaksikan apa yang telah dirampungkan oleh Kristus, mempersaksikan bahwa dosanya sudah dicuci bersih.

Pada kesempatan yang lalu, saya pernah mengatakan bahwa orang yang percaya bisa mengetahui apakah dirinya sudah beroleh selamat. Apa yang harus dilakukan oleh orang yang telah mengetahui dirinya sudah beroleh selamat dan dosanya sudah diampuni? Harus bersaksi! Bersaksi dalam hal apa? Kesaksian yang pertama, dilakukan di dalam air.

Kesaksian ini ia lakukan di hadapan Allah, di hadapan manusia, di hadapan malaikat, juga di hadapan Iblis, mempersaksikan bahwa dosa-dosanya sudah dicuci bersih. Inilah makna pertama baptisan, juga syarat untuk menerima baptisan.

Kalau dosa seseorang belum dicuci bersih, ia tidak bersyarat dibaptis. Ia harus mengetahui dosanya sudah diampuni sepenuhnya, baru bersyarat dibaptis.

DUA ASPEK DOSA

Semua perkara yang dibicarakan Alkitab sangatlah ajaib. Dulu saya pernah berkata dan sekarang akan berkata lagi: umumnya dosa dibagi menjadi dua aspek. Allah memperlakukan dosa manusia juga ada dua aspek. Alkitab mengatakan kedua aspek dosa ini berbeda; yang satu dosa di hadapan Allah, yang lainnya dosa di dalam manusia. Dosa di hadapan Allah perlu diampuni dan dicuci bersih oleh Allah; dosa di dalam kita perlu kita kalahkan dan kita perlu mendapat kebebasan. Dosa di hadapan Allah telah Tuhan Yesus pikul bagi kita; dosa di dalam kita perlu kita menghitung diri kita sudah mati. Dosa di hadapan Allah harus ada darah Tuhan yang mencuci bersih; dosa di dalam kita harus ada penyelamatan salib Tuhan. Dosa di hadapan Allah perlu diampuni oleh Allah; dosa di dalam kita perlu kita mendapatkan kebebasan, mendapatkan kemerdekaan. Kedua aspek dosa ini sama sekali berbeda. Dalam bab ini kita hanya bisa melihat sedikit perbedaan dari kedua aspek dosa ini. Kalau Tuhan mengizinkan, di lain kesempatan kita akan melihatnya lebih rinci.

Sekarang saya tidak membicarakan bagaimana perbedaan sifat kedua aspek dosa ini, hanya mengatakan bagaimana perbedaan akibat dari dua aspek dosa ini. Mari kita terlebih dulu melihat dosa di hadapan Allah. Dosa di hadapan Allah membuat manusia tidak damai. Begitu seseorang teringat akan hukuman, neraka, kematian, dan persoalan kesudahan hidup manusia, ia segera merasa dirinya berdosa di hadapan Allah. Begitu memikirkan tentang kekudusan, keadilan, kebenaran, dan ketetapan Allah, segera merasa gundah, tidak tenteram. Hari ini di antara kita masih ada orang yang belum percaya Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, orang yang demikian pasti mempunyai pengalaman semacam ini. Kalau Anda tidak mempunyai pengalaman ini, saya merasa kasihan kepada Anda; karena Anda tidak berpengetahuan, tidak berperasaan, tidak mengetahui bahaya yang sedang mengancam Anda. Asal saja seseorang memiliki sedikit pengetahuan, memiliki pikiran, begitu memikirkan tentang alam maut, neraka, begitu memikirkan tentang hidup kekal, begitu memikirkan tentang hukuman Allah, begitu memikirkan tentang dosa, hatinya pasti tidak tenteram, tidak mengetahui harus bagaimana. Karena dia di hadapan Allah adalah orang yang berdosa; dosanya belum disingkirkan, karena itu dia tidak berani memikirkan hal-hal ini. Begitu menyinggung hal-hal ini, dia sadar bahwa dirinya pasti akan masuk ke dalam lautan api, menerima penderitaan kekal. Dia takut, tidak ada sentosa. Ini memberi tahu kita bahwa di hadapan Allah, kita adalah orang berdosa, dosa kita di hadapan Allah membuat kita tidak ada rasa tenteram, kita takut memikirkan tentang hukuman, kesudahan hidup manusia, kematian, dan lain sebagainya.

Manusia tidak saja memiliki dosa di hadapan Allah, juga mempunyai dosa di dalam dirinya sendiri. Seorang murid teologi berkata kepada gurunya: hari ini dari dalam Alkitab aku menemukan satu hal baru, yaitu doktrin tentang dosa, yang juga pernah dibicarakan dalam Alkitab. Hari ini aku baru tampak. Sang guru berkata: hari ini kamu baru tampak, baru menemukan doktrin dosa dalam Alkitab? Saya jauh hari sudah menemukannya di dalam hatimu! Tidak perlu ke dalam Alkitab mencari doktrin dosa, asal mencari ke dalam hati manusia, pasti menemukannya. Setiap orang bisa membuktikan bahwa dosa bukan saja di hadapan Allah, juga di dalam manusia!

Anda sering marah-marah. Anda menganggap Anda marah dikarenakan perkara di luar yang membuat Anda marah. Namun sesungguhnya bukan perkara di luar yang membuat Anda marah, tetapi karena di dalam Anda ada api, ada suatu benda yang sering hendak meletus. Anda berusaha menekannya, namun tidak mampu. Begitu ada kesempatan, sesuatu itu pun meletus. Kalau suatu peledak meletus, jangan menyalahkan di luar ada api, itu sebenarnya dikarenakan di dalamnya ada bahan peledak. Dosa itu keluar dari hati. Banyak orang mengira: pikiranku terlalu najis, penuh dengan dosa.

Semua ini karena aku telah membaca buku-buku yang tidak baik, sehingga tergoda untuk berbuat dosa. Saya ingin bertanya kepada Anda, sering kali lingkungan situasi Anda sangat baik dan bersih, tidak ada perkara-perkara yang menggoda, apakah saat itu hati Anda sepenuhnya bersih? Ada seorang remaja berkata, ia telah membaca terlalu banyak buku cerita, otaknya penuh dengan angan-angan jahat dan najis, coba bagaimana caranya untuk mencuci bersih pikirannya? Apakah kita bisa terus menggoyangkan kepala sehingga barang-barang najis itu terlempar dari otak kita? Coba Anda pikir, bisakah demikian? Ketahuilah, Anda tidak bisa membuangnya dengan menggoyangkan kepala.

Dosa yang tinggal di dalam manusia mempunyai akar yang dalam, tidak bisa disingkirkan. Banyak orang dosa suka berjudi, menghisap ganja. Bukan karena perkara yang di luar yang menggoda mereka berbuat itu, melainkan dosa yang di dalam yang mendesaknya berbuat itu. Dosa yang di hadapan Allah ada penghukumannya; tetapi dosa di dalam Anda juga mempunyai kuasa mencengkeram Anda, membuat Anda melakukan hal-hal yang tidak ingin Anda lakukan. Anda bisa dengan kekuatan dan tekad yang sangat besar menekan dia sementara waktu, supaya dia tidak meletus; tetapi begitu ada kesempatan, dosa itu akan meletus. Inilah keadaan manusia yang sesungguhnya. Dosa menjadi raja dalam manusia. Kita menjadi budaknya. Dosa mempunyai kuasa mencengkeram kita, memaksa kita melakukan perkara yang tidak ingin kita lakukan.

DUA ASPEK PENYELAMATAN

Karena dosa ada dua aspek, yakni aspek di hadapan Allah dan aspek di dalam manusia, maka penyelamatannya juga ada dua aspek. Dosa mempunyai penghukuman dosa dan kuasa dosa, sebab itu cara penyelamatannya juga ada dua aspek. Ini bukan berarti ada dua penyelamatan, melainkan ada dua aspek penyelamatan. Tuhan menyelamatkan kita terlepas dari takut akan hukuman, tuduhan hati nurani, dan semua ketidaktenteraman; bersamaan dengan itu Tuhan juga menyelamatkan kita terlepas dari kuasa dosa. Penyelamatan Tuhan itu sempurna. Ia menyelamatkan manusia terlepas dari hukuman Allah, juga menyelamatkan manusia terlepas dari kuasa dosa.

Bagaimana Tuhan mati bagi kita, menyelamatkan kita terlepas dari dua aspek dosa? Alkitab memberi tahu kita, orang yang berdosa harus mati. Tuhan memikul hukuman mati bagi kita. Dia berdarah menebus dan mencuci bersih semua dosa kita di hadapan Allah. Darah Tuhan telah mencuci bersih kita. Ajaib sekali, Alkitab tidak pernah memberi tahu kita bahwa darah Tuhan mencuci bersih hati kita. Siapa yang bisa menemukan satu ayat Alkitab yang mengatakan bahwa darah Tuhan mencuci hati kita? Izinkan saya dengan tegas berkata bahwa seluruh Alkitab tidak ada satu ayat pun yang mengatakan darah Tuhan mencuci hati manusia, hanya mengatakan mencuci hati nurani manusia. Apakah hati nurani itu? Hati nurani adalah suatu organ di dalam kita yang menuduh kita dengan mengatakan bahwa kita tidak benar, sebab itu kita patut mati, patut binasa. Darah Tuhan hanya mencuci bersih hati nurani manusia, supaya manusia tidak dituduh oleh hati nurani, dan manusia bisa mendapatkan sentosa. Darah Tuhan membuat kita tahu bahwa meskipun dosa kita seharusnya dihukum, dan Tuhan telah mati bagi dosa-dosa kita, telah merampungkan kebenaran Allah, tetapi tidak ada orang yang dapat bersandar pencucian darah Tuhan untuk membuat moralnya menjadi baik, tidak berbuat dosa lagi, dan terlepas dari dosa. Darah Tuhan hanya bisa membuat kita menjadi bersih di hadapan Allah, menghapus tuduhan hati nurani, tetapi darah Tuhan tidak mencuci hati kita supaya hati kita bersih dan tidak ada lagi dosa yang tersembunyi di dalam kita. Darah Tuhan bukan yang subjektif, melainkan yang objektif; bukan mencuci hati manusia, melainkan mencuci hati nurani manusia.

Semua manusia telah najis dan rusak. Begitu ada darah Tuhan, dosa bisa diampuni, tidak dihukum lagi. Tetapi Alkitab tidak memberi tahu kita bahwa darah bisa menghapus kuasa dosa; itu adalah aspek yang lain. Di satu pihak Alkitab memberi tahu kita tentang darah Tuhan, di pihak lain juga memberi tahu kita tentang salib Tuhan. Darah menyatakan kematian, salib juga menyatakan kematian. Darah berhubungan dengan penghukuman, membereskan dosa di hadapan Allah. Salib membereskan kuasa dosa di dalam manusia. Saliblah yang bisa membuat hati kita bersih, sehingga bisa mengalahkan dosa.

Sekarang saya ingin menyinggung sedikit perbedaan antara salib dengan darah. Darah Tuhan menghapus dosa kita di hadapan Allah. Salib adalah membereskan dosa di dalam manusia. Ingatlah salib bukan mematikan dosa yang di dalam. Ini perlu kita mengerti. Banyak orang yang membicarakan doktrin kesucian, telah salah menekankan hal ini. Salib Tuhan tidak mematikan dosa. Dalam Alkitab tidak bisa ditemukan satu ayat yang mengatakan bahwa salib mematikan dosa. Siapa yang bisa menemukan satu kalimat dalam Alkitab yang mengatakan bahwa salib telah memaku dosa yang ada di dalam seseorang atau dosa yang ada di luar seseorang, di atas salib? Tidak ada. Lalu salib memaku apa? Tuhan terpaku di atasnya. Betul. Ada orang mengatakan dosa juga telah terpaku di atasnya. Siapa yang berkata demikian? Alkitab memberi tahu kita, bukan dosa yang mati terpaku, melainkan manusia lama kita yang mati terpaku. Bukan dosa yang mempunyai kuasa itu yang mati tersalib, melainkan manusia lama yang suka mendengar perintah dosa itu yang mati terpaku. Bukan akar dosa — dosa yang menjadi akar itu - yang dicabut, melainkan manusia lama — orang yang sangat intim dengan akar dosa itu — yang dipaku di atas salib oleh Tuhan. Hari ini saya memberi tahu Anda satu Injil, yaitu ketika Tuhan Yesus disalibkan, bukan hanya Dia yang tersalib di sana, saya dan Anda yang sudah sangat bejad ini, saya dan Anda yang berdosa dan najis ini, juga bersama-sama tersalib di atas salib! Kita sudah bersama-sama dengan Dia terpaku di atas salib!

Roma 6:6 mengatakan, “Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Ingatlah, di sini mengatakan manusia lama kita dan Tuhan bersama-sama disalibkan, bukan mengatakan dosa bersama-sama Tuhan disalibkan. Saudara saudari, mungkin ada orang yang memberi tahu Anda bahwa dosa dapat dipaku di atas salib, akar dosa bisa dicabut. Sebenarnya tidak ada perkara yang demikian.

Dalam Roma 6:6 kita tampak tiga hal: (1) Manusia lama, (2) Tubuh dosa — tubuh yang berbuat dosa, dan (3) Dosa. Ayat Alkitab ini memberi tahu kita tiga hal yang sangat penting. (1) Manusia lama kita telah turut disalibkan dengan Tuhan. (2) Apa tujuannya? Supaya melenyapkan tubuh dosa kita. (3) Apa hasilnya? Supaya aku — diriku ini — tidak lagi menjadi budak dosa. Manusia lama telah mati tersalib, lalu aku tidak dapat berbuat dosa lagi, jadi aku tidak akan melakukan dosa lagi. Tetapi dosa sendiri tidak mati, dosa itu masih hidup.

Izinkan saya dengan perumpamaan menjelaskan maksud ini. Di sini ada tiga hal: Manusia lama, dosa, dan tubuh dosa. Dosa seperti tuan. Manusia lama seperti pengurus rumah tangga. Tubuh sama seperti boneka. Dosa tidak mempunyai kuasa dan kekuatan untuk mengendalikan atau menyuruh tubuh berbuat dosa. Dosa mengendalikan manusia lama, ketika manusia lama setuju, lalu tubuh menjadi boneka. Sebab itu ketika manusia lama kita hidup, manusia lama berada di tengah-tengah, tubuh berada di luar, dan dosa berada di dalam, lalu dosa yang di dalam menggoda manusia lama supaya nafsu manusia lama timbul, demikian membuat manusia lama memberi perintah, supaya tubuh berbuat dosa, melakukan dosa. Tubuh sangatlah lemah, kalau Anda menyuruh dia berbuat apa, dia akan melakukannya. Dia adalah sesuatu yang tidak mempunyai kuasa, dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, harus manusia lama yang menyuruh dia berbuat sesuatu, barulah ia melakukannya. Sekarang Tuhan menyelamatkan kita, bukan membunuh tubuh kita, juga bukan menghapus akar dosa, melainkan menyalibkan mati manusia lama kita, supaya manusia lama kita disalibkan bersama dengan Dia. Tiga hal yang berada dalam Roma 6:6 sekarang tinggal dua. Tubuh berada di luar, dosa berada di dalam, dan di tengahnya muncul satu manusia baru yang menggantikan kedudukan manusia lama yang dulu. Dosa yang di dalam ingin menyuruh tubuh berbuat dosa, lalu dia mencobai manusia baru, menyuruhnya timbul nafsu, tetapi manusia baru tidak mendengarkan perkataannya, tidak mempedulikan usulnya. Dulu manusia lama memikirkan dosa, senang terhadap dosa, mendambakan dosa, tetapi manusia baru tidak berbaikan dengan dosa, tidak mempedulikan dosa, juga tidak mengabulkan permintaan dosa. Sebab itu tubuh tidak melakukan dosa lagi.

Mari kita lihat lagi Roma 6:6. Saya hanya menjelaskan sedikit ayat Alkitab ini, karena ayat Alkitab ini sudah berkata dengan jelas sekali. Kita tahu bahwa dosa sangatlah jelek, dan semua orang berharap dapat mencabut dosa dari tubuhnya. Tetapi kita tidak tahu bahwa keberadaan akar dosa sama seperti keberadaan Iblis, yakni tidak ada hubungannya dengan buah-buah kekudusan kita; yang tidak baik, yang jelek adalah manusia lama kita. Sering kali kita bisa dicobai, bisa timbul nafsu, bisa melakukan dosa yang di luar, semuanya karena manusia lama kita masih hidup. Tetapi Tuhan telah menyalibkan manusia lama kita bersama dengan Dia.

Apakah tujuan manusia lama disalibkan? Tujuannya ialah supaya “tubuh dosa hilang kuasanya”. Dalam bahasa aslinya, kata-kata “hilang kuasanya” berarti “kehilangan pekerjaan”. Artinya, kalau tidak ada manusia lama, tubuh dosa tidak bisa berbuat apa-apa. Dulu tubuh dosa setiap hari mendengar perintah manusia lama untuk melakukan sesuatu, seperti berbuat dosa adalah profesinya. Yang dia lakukan adalah berbuat dosa. Hal ini tidak lain karena manusia lama terlalu senang terhadap dosa, menyukai dosa, mendambakan dosa, senang melakukan perbuatan dosa. Sebab itu tubuh juga mengikutinya melakukan dosa, lalu menjadi tubuh dosa. Sekarang manusia lama telah dibereskan Tuhan, telah disalibkan; sebab itu tubuh dosa kehilangan pekerjaan, tidak ada yang bisa dikerjakan lagi. Dulu ketika manusia lama masih hidup, tubuh dosa tiap hari hanya dengan berbuat dosa, sebagai profesinya. Puji Tuhan, manusia lama yang tidak bisa diatur ini, manusia lama Anda dan saya, sudah mati tersalib! Tubuh yang berbuat dosa juga kehilangan pekerjaan. Meskipun dosa masih ada, meskipun dia tetap ingin menjadi tuan, tetapi kita tidak lagi menjadi budaknya. Meskipun dosa berkali-kali ingin menghasut tubuh melakukan dosa, namun karena manusia baru dengan Roh Kudus sebagai tuan di dalamnya, dosa tidak mampu melewatinya. Sebab itu sekarang dosa tidak ada jalan untuk mendorong tubuh berbuat dosa. Jadi Alkitab memberi tahu kita bahwa hasil dari manusia lama disalibkan dan tubuh dosa kehilangan pekerjaan adalah “Agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa!”

Manusia lama sudah mati, sebab itu kita bisa sepenuhnya mengalahkan dosa. Darah Tuhan telah dialirkan, menyelamatkan kita terlepas dari dosa yang di hadapan Allah, supaya hati nurani tidak lagi mendakwa kita, supaya kita tahu bahwa sekarang kita bukan lagi orang yang binasa; dan karena darah Tuhan, kita menerima damai sejahtera, dapat berdamai dengan Allah, dapat memiliki perhentian. Tetapi kalau kita hanya mengetahui penyelamatan aspek ini saja, kehidupan kita masih menderita. Anda mengetahui dosa telah diampuni, tetapi Anda masih dengan berbuat dosa sebagai pekerjaan Anda, dalam praktik Anda belum bisa mengalahkan dosa, dan menghasilkan buah-buah kudus. Setiap hari Anda masih didorong untuk berbuat dosa. Anda akan tampak dalam hati bahwa Anda belum memiliki damai sejahtera; persekutuan Anda dengan Allah terputus. Meskipun Anda mengetahui diri Anda beroleh selamat, mempunyai hidup yang kekal, namun perbuatan dosa yang Anda lakukan setiap hari membuat Anda kehilangan sukacita karunia keselamatan. Puji syukur kepada Allah, penyelamatan Tuhan tidak separuh saja. Tuhan berdarah mencuci dosa kita, salib Tuhan menyingkirkan manusia lama, menyelamatkan kita dari kuasa dosa.

Ingatlah, matinya setiap orang beriman bukan karena ia mematikan dirinya sendiri, bukan bunuh diri. Ada orang memberitakan bahwa orang Kristen harus mematikan dirinya sendiri, supaya tidak berbuat dosa lagi. Ini tidak benar. Ketika Tuhan Yesus disalibkan, Dialah yang membawa kita juga disalibkan. Saya bertanya kepada Anda, apakah Anda sudah mati? Puji Tuhan, manusia lama yang sulit ditanggulangi, yang sulit dibunuh itu, telah dipaku oleh Tuhan di atas salib! Puji syukur pada Tuhan! Haleluya!

Saya tidak tahu apakah Anda menyadari bahwa diri Anda sangat bobrok? Saya tahu bahwa diri saya sangat bobrok. Sering kali karena tertekan oleh kuasa dosa, saya sungguh-sungguh mengharapkan mati saja. Tetapi kasihan sekali, saya tidak bisa mematikan diri saya sendiri. Kemudian saya tampak, ketika Tuhan disalibkan, Tuhan juga membawa manusia lama saya bersama-sama disalib dengan Dia, supaya tubuh dosa saya tidak lagi menjadi budak dosa. Betapa gembiranya saya! Karena pekerjaan Tuhan, dosa telah terinjak di bawah kaki saya, tidak memiliki kekuasaan mengendalikan saya lagi. Puji syukur pada Tuhan!

Dosa Anda tidak bisa tersingkirkan melalui berdoa, membaca Alkitab, beribadah, melakukan penyembahan, pengendalian diri, pertapaan, atau penderitaan, cara untuk menyingkirkan dosa ialah Tuhan menyalibkan manusia lama Anda bersama dengan Dia, supaya Anda mendapatkan penyelamatan. Ingatlah, darah menanggulangi dosa di hadapan Allah, salib menanggulangi manusia lama.

Lalu, bagaimana seharusnya sikap kita terhadap dosa? Lihatlah Roma 6:11, “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: Bahwa kamu telah mati terhadap dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” Kata “memandang” dalam bahasa aslinya adalah “menghitung”. Ada orang mengubah ayat ini menjadi: “Demikian hendaklah kamu juga memandang bahwa dosa itu mati”. Mereka mengira bahwa dosa itu bisa mati; sebenarnya tidak demikian. Ada orang berkata bahwa akar dosa bisa dicabut; ada orang berkata, harus menghitung dosa itu mati. Ketahuilah, bukan menghitung dosa itu mati, melainkan menghitung diri kita sudah mati tersalib.

Banyak orang tidak memahami bahwa Tuhan sudah menyalibkan manusia lama mereka, tubuh dosa seharusnya sudah kehilangan pekerjaan, mereka sendiri seharusnya tidak lagi menjadi budak dosa. Namun, mengapa dalam pengalaman sama sekali tidak demikian. Mereka tetap berdosa, belum bisa terlepas dari cengkeraman dosa, tubuh dosa masih sibuk sekali dikuasai oleh dosa. Mengapa bisa demikian? Ini karena meskipun Tuhan telah merampungkan penyelamatan yang sempurna bagi kita, tetapi, kita belum menerima pekerjaan-Nya, belum percaya akan pekerjaan yang telah Dia rampungkan, belum dengan iman menerima dan menerapkan kemenangan-Nya. Dia telah menyalibkan manusia lama kita, namun kita belum sepenuhnya percaya bahwa manusia lama kita sudah disalibkan. Kita mengira bahwa manusia lama kita masih hidup. Sebab itu, setelah Roma 6:6 memberi tahu fakta kepada kita, ayat 11 memberi tahu kita apa yang harus kita lakukan. Roma 6:6 mengatakan bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan bersama Tuhan, ayat 11 mengatakan bahwa karena Tuhan telah menyalibkan manusia lama kita, maka sekarang kita perlu menghitung dia betul-betul sudah mati, tidak bisa menyuruh kita berbuat dosa lagi. Jadi, sekarang kita boleh berkata kepada dosa: Manusia lamaku sudah mati, aku tidak lagi menjadi budakmu. Kalau Anda ingin melihat dosa Anda mati, melihat nafsu Anda mati, itu tidak mungkin. Dosa lebih bersiaga daripada kita, dosa lebih aktif daripada kita, begitu ada sedikit kesempatan, ia akan menangkap kita. Dosa tidak bisa mati. Namun tidak mengapa, karena manusia lama kita sudah mati. Kita bisa mengalahkan dosa, bukan menghitung dosa itu mati, melainkan percaya fakta yang telah Tuhan rampungkan, yakni menghitung manusia lama kita telah mati.

Kata “memandang” dalam Roma 6:11, bahasa aslinya adalah “menghitung”. Bagaimana caranya Anda menghitung? Dua tambah dua sama dengan empat. Mengapa Anda menghitung hasilnya adalah empat? Karena dua tambah dua betul-betul adalah empat. Sebab itu, arti menghitung diri sendiri telah mati, bukanlah diri kita tidak mati, hanya saja, kita menganggap dia mati, mengira dia mati, atau menganggap dia “Sama seperti telah mati”; melainkan hal manusia lama mati ini adalah hal yang telah dilakukan oleh Allah, sebab itu kita menghitungnya betul-betul mati. Menghitung artinya, Allah menghitung kita sudah mati tersalib, di aspek Allah sudah terhitung demikian, maka kita juga menghitung diri kita sudah mati. Saya menghitung dua tambah dua sama dengan empat, karena dua tambah dua memang sama dengan empat, bukan tiga, juga bukan lima. Allah berkata: aku sudah mati tersalib; aku percaya perkataan ini, mengakui aku sudah mati. Percaya berarti: Allah mengatakan dosaku sudah diampuni, aku juga berkata dosaku betul-betul sudah diampuni. Allah berkata aku sudah mati, aku juga mengakui diriku sudah mati. Kalau orang Kristen setiap hari berdiri di atas kedudukan Roma 6, baru bisa mengalahkan segala dosa. Saya bukan berbesar mulut; saya berkata, tak peduli dosa apa, tidak ada satu pun yang tidak bisa dikalahkan. Karena Tuhan telah menyalibkan manusia lama kita bersama dengan Dia, maka kita bisa mengalahkan semua dosa.

DIKUBUR

Sekarang kita kembali kepada topik kita, mengapa kita harus dibaptis? Karena penyucian dosa adalah satu aspek, dan kita mati adalah aspek yang lain lagi. Karena dosaku sudah dicuci bersih, maka aku harus dibaptis, untuk mempersaksikan bahwa dosaku sudah dicuci bersih. Karena manusia lamaku sudah mati, maka aku pun harus dibaptis, untuk membuktikan bahwa manusia lamaku betul-betul sudah mati. Setelah seseorang mati, apa perkara pertama yang harus dilakukan? Apakah ada orang meletakkan orang yang sudah mati beberapa hari lebih lama untuk dilihat-lihat? Lebih lama beberapa hari, mayat itu akan menimbulkan bau busuk, mungkin dalam kulitnya timbul ulat. Tahun yang lalu, ada seorang saudari meninggal dunia, kita sangat sayang kepadanya, tetapi kita tidak bisa menaruh dia lebih lama beberapa hari. Kalau manusia telah mati, tidak ada gunanya sama sekali. Perkara pertama yang harus dilakukan adalah mengusungnya keluar dan menguburkannya. Perbuatan mengubur mempersaksikan bahwa orang yang dikubur telah mati. Misalnya, Anda mempunyai seorang yang sangat Anda kasihi, Anda mengasihi dia sama seperti mengasihi diri sendiri. Sayang, dia sakit dan hampir mati. Namun dia masih mempunyai sedikit napas, masih mempunyai sedikit denyut nadi, dia berbaring terus tidak bergerak sama sekali, juga tidak bisa bicara, maukah Anda menaruh dia ke dalam peti mati? Anda pasti tidak mau. Karena Anda tidak percaya dia sudah mati. Kapan Anda menguburkan orang yang sangat Anda kasihi itu? Setelah Anda mengetahui bahwa ia sudah mati, tidak bisa hidup lagi, baru Anda mau menguburkannya. Kalau masih ada sedikit harapan untuk hidup, Anda pasti tidak mau menguburkan orang yang Anda kasihi. Sampai mereka telah mati, tidak ada cara lain lagi, terpaksa Anda mengubur mereka. Demikian juga, orang yang belum mati tidak bisa dikubur, setelah seseorang mati, perkara pertama adalah menguburnya.

Alkitab memberi tahu kita, karena kita sudah mati tersalib, maka perlu dikubur bersama dengan Tuhan. Dalam Alkitab, makna baptisan bukan hanya dicuci bersih, juga dikubur. Sebab itu, kita harus dibaptis. Karena Anda percaya diri Anda sudah mati, sebab itu mengundang orang lain untuk mengubur Anda dalam air. Ini dikarenakan Anda percaya diri Anda telah mati, tidak bisa diubah lagi. Orang yang tidak percaya dirinya telah mati, tidak bisa dibaptis. Karena berbuat demikian berarti mengubur orang yang masih hidup. Ini tidak benar. Orang yang dibaptis, harus percaya bahwa dirinya telah mati tersalib bersama dengan Kristus. Bagaimana Anda menyatakan bahwa Anda percaya? Bagaimana Anda bersaksi untuk pekerjaan yang telah dirampungkan Kristus? Melalui dibaptis. Ketika Anda dikubur di dalam air, telah dibaptis, Anda menyatakan percaya darah Tuhan telah mencuci bersih dosa Anda, dan salib-Nya juga telah menyalibkan manusia lama Anda bersama-sama dengan Dia. Anda percaya fakta ini, barulah Anda dibaptis, membuktikan Anda sudah dicuci bersih, sudah mati.

Karena itu, syarat dibaptis ada dua. Alkitab tidak saja memberi tahu kita: bangunlah, cucilah dosamu (karena percaya Allah sudah mencuci bersih dosa dan menebus kita, maka kita bangun dan menerima baptisan sebagai satu kesaksian). Alkitab juga menghendaki kita karena percaya bahwa diri kita sudah mati, maka kita menerima baptisan dikubur di dalam air. Bukan saja mengatakan dosa telah dicuci, juga mengatakan diriku telah dikubur. Dosa telah dicuci bersih, orangnya juga telah dibereskan. Inilah makna baptisan, inilah kesaksian baptisan.

KATA PENUTUP

Teman, bisakah Anda melakukan kesaksian ini? Saya tidak perlu menganjuri Anda dibaptis. Jika Anda belum percaya Tuhan, dosa Anda belum diampuni, saya harap Anda cepat-cepat percaya Tuhan. Kalau Anda sudah percaya, namun belum tahu bahwa dosa bisa dikalahkan, Anda masih sering marah-marah dan berbuat dosa, Anda begitu tidak baik, ketahuilah, Tuhan kita sudah menyalibkan Anda bersama dengan-Nya. Sekarang seharusnya tidak ada satu perkara apa pun yang menyebabkan Anda berdosa. Anda bisa mengalahkan segala dosa. Silakan Anda dengan hati yang percaya berdiri di atas Roma 6, percaya diri Anda sudah mati. Demikian, dosa masih dapat berbuat apa lagi terhadap Anda? Orang beriman harus berdiri di atas Roma 6:6 dan 6:11, baru bisa mengalahkan dosa; kalau tidak, meskipun Anda berdoa dan membaca Alkitab dengan sangat ibadah, juga tidak seberapa berguna. Anda harus menghitung diri Anda sudah mati, ditambah lagi ini baru berguna.

Jika Anda sudah percaya darah Tuhan mencuci bersih dosa Anda, juga percaya Tuhan telah menyalibkan manusia lama Anda bersama dengan Dia, cepat-cepatlah dibaptis, menyerahkan diri Anda kepada orang untuk dikubur.

Di sini saya ada sepatah dua patah tambahan, pembaptisan yang tepat, selain dicelupkan ke dalam air, tidak ada perkara lain yang dapat terhitung lagi. Lihatlah, Perjanjian Lama pertama kali mencatat perkara penguburan berada di dalam Kejadian 23:8, “Serta berkata kepada mereka: Jika kamu setuju aku menguburkan orangku yang mati itu, supaya ia tidak ada di hadapan mataku, maka dengarkanlah aku . . .” (Tl.). Apa arti dikubur? Yaitu supaya orang yang mati itu tidak berada di hadapan mataku, supaya mataku tidak melihat orang mati itu lagi. Kalau Anda tidak dicelupkan ke dalam air, tidak terhitung sebagai penguburan. Penguburan demikian adalah agar selamanya tidak melihat manusia lama lagi.

Hari ini saya tidak berkata apa yang terhitung sebagai baptisan atau apa yang tidak terhitung sebagai baptisan, melainkan berkata makna baptisan ada dua. Pertama, mencuci bersih dosa; kedua, menghitung manusia lama telah mati tersalib, lalu dikubur. Semoga setiap orang bisa bersaksi, Tuhan telah menyelamatkan aku terlepas dari dosa, bukan saja mengampuni dosaku, juga diriku telah mati. Bukan saja dalam mulut bersaksi, juga dalam kehidupan sehari-hari bersaksi untuk ini. Semoga kita semua percaya perkara yang telah digenapkan oleh Tuhan, supaya kita mendapatkan damai sejahtera dan sukacita pengampunan dosa, lebih-lebih bisa menjadi orang yang telah dibebaskan, mendapatkan kemerdekaan, dan menang. Amin!