MAKSUD ALLAH DI DALAM MENAMPAKKAN DIRINYA KEPADA AYUB
Pembacaan Alkitab: Ayb. 38:1-7; 40:1-14; 42:1-6
Di dalam berita ini saya ingin mengucapkan perkataan lebih lanjut mengenai maksud Allah di dalam menampakkan diri-Nya kepada Ayub.
MENYINGKAPKAN AYUB
Maksud Allah di dalam menampakkan diri kepada Ayub adalah untuk menyingkapkan dia, menunjukkan kepadanya bahwa ia benar-benar bukan apa-apa. Penampakkan diri Allah juga menyiratkan bahwa Dia ingin membantu Ayub mengenal bahwa ia berada di dalam alam yang salah. Ketika Allah mengajukan begitu banyak pertanyaan kepada Ayub mengenai alam semesta ini (38:4-38) dan mengenai binatang-binatang (38:39—39:30), maksud-Nya adalah untuk membuat Ayub melihat bahwa ia, sebagai seorang yang tetap tinggal di dalam dirinya sendiri itu, mempertimbangkan hal-hal mengenai alam semesta dan Allah itu jauh di luar kapasitasnya. Jadi, Allah berulang kali bertanya kepada Ayub untuk membuat dia diam. Allah seolah-olah berkata, “Ayub, Aku sedang melakukan sesuatu yang tidak kamu ketahui. Aku bermaksud memberikan sesuatu kepadamu yang bukan berada di dalam alammu melainkan di dalam alam lainnya.”
Di dalam 40:10, Allah mengatakan kepada Ayub, “Hiasilah dirimu dengan kemegahan dan keluhuran, kenakanlah keagungan dan semarak!” Di sini Allah sebenarnya bertanya kepada Ayub tentang kemegahan dan keluhuran dan tentang kehormatan dan semaraknya, dengan maksud bahwa Ayub akan menyadari bahwa ia tidak memiliki kemegahan, keluhuran, kehormatan, dan semarak apa pun. Di dalam ayat 12 dan 13 Allah selanjutnya mengatakan, “Amat-amatilah setiap orang yang congkak, tundukkanlah dia, dan hancurkanlah orang-orang fasik di tempatnya! Pendamlah mereka bersama-sama dalam debu, kurunglah mereka di tempat yang tersembunyi.” Di sini, Allah memberi tahu Ayub bahwa ia harus melihat dirinya sendiri dan menyadari bahwa ia sombong, sekalipun ia tidak memiliki alasan untuk menjadi sombong. Selain itu, Allah menunjukkan kepada Ayub bahwa ia harus merendahkan diri, bahwa ia seharusnya tersembunyi di dalam debu dan bahkan terkubur di sana.
AYUB BERADA DI DALAM TAHAP PRIMITIF DARI WAHYU ILAHI
Ayub berada di dalam tahap primitif dari wahyu ilahi. Banyak hal yang Allah ingin lakukan di dalam pergerakan-Nya, yang dimulai dengan inkarnasi, Ayub tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Allah melakukan banyak hal di dalam diri-Nya sendiri, tetapi Dia tidak bisa menyingkapkannya kepada Ayub. Allah tidak bisa berbicara kepada Ayub tentang hal-hal ini.
Perkataan Tuhan Yesus kepada Nikodemus mengenai kelahiran kembali juga bisa diterapkan kepada situasi Ayub: “Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya kalau Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal surgawi?”(Yoh. 3:12). Sebagai yang diwahyukan 16:12 dan 13, Tuhan Yesus bahkan dibatasi di dalam apa yang Dia bisa katakan kepada murid-murid-Nya: “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang akan datang.” Banyak dari hal-hal ini diwahyukan kepada rasul Paulus. Hari ini, dengan mengikuti Paulus, kita membicarakan perkara-perkara seperti ekonomi Allah, penyaluran ilahi, dan Roh yang almuhit sebagai perampungan dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung. Namun, kebanyakan orang Kristen hari ini tidak memahami perkara-perkara ini dan bahkan menganggapnya sebagia omong kosong.
Pergerakan Allah dari inkarnasi sampai keapda perampungan Yerusalem Baru melibatkan banyak hal rohani, yang meliputi kelahiran kembali, pembaruan, pengudusan, transformasi, pemuliaan dan transfigurasi. Karena Ayub berada di dalam tahap yang primitif dari wahyu ilahi itu, maka ia tidak bisa memahami satu pun dari hal-hal ini.
KEDAMBAAN ALLAH UNTUK MEMBAWA AYUB KE DALAM ALAM LAINNYA
Ayub berada di dalam alam yaitu membangun sesuatu yang salah. Ia sedang membangun dirinya sendiri di dalam kesempurnaan, ketulusan, dan kejujurannya. Ia mengira bahwa ia mutlak benar. Ia sombong akan apa yang telah dibangunnya, dan ia mengandalkan hal itu dan memuliakan dirinya di dalam hal itu. Itu adalah jubahnya untuk menutupi seluruh dirinya, dan itu adalah mahkotanya untuk menjadi kemuliaannya.
Sebenarnya, Ayub itu salah. Allah di dalam ekonomi kekal-Nya tidak memiliki kedambaan untuk membangun hal-hal ini. Sebaliknya, Dia menganggap semua hal ini sebagai penghalang dan bermaksud untuk melucutinya dari kita, menghabisinya sedikit demi sedikit. Ketika segala sesuatunya telah dilucuti, barulah Anda akan melihat Allah, dan Dia akan menarik Anda untuk menerima-Nya. Kemudian Anda akan memiliki sifat, hayat, elemen, esens, Allah dan bahkan keberadaan-Nya. Ini akan menyebabkan satu perubahan metabolik di dalam Anda untuk mentransformasi Anda dari bentuk insani Anda sekarang ini kepada bentuk lainnya, yaitu bentuk dari yang ilahi. Alhasil dari transformasi ini, Anda akan menjadi seorang yang memantulkan Allah, yaitu mengekspresikan Dia dan menyalurkan Dia kepada orang lain.
Inilah maksud Allah terhadap Ayub, dan inilah maksud-Nya terhadap kita pada hari ini. Sekarang Anda dan Allah mungkin berada di dalam dua alam yang berbeda. Tetapi Allah ingin mentransfer Anda dari alam Anda sekarang ini ke dalam alam-Nya, bukan hanya untuk membuat Anda menjadi satu dengan Dia melainkan bahkan membuat Anda menjadi satu bagian dari diri-Nya.
Misalnya seseorang berusaha untuk berbicara kepada Ayub tentang semua hal ini. Jika seseorang berbuat demikian, maka Ayub mungkin mengatakan, “Apa yang sedang kamu bicarakan? Aku telah mempelajari banyak hal tentang Allah dari nenek moyangku, dan aku telah menaruh perhatian kepada apa yang telah kupelajari. Namun engkau mengatakan bahwa aku berada di dalam alam yang salah dan bahwa Allah bermaksud untuk membangun sesuatu dari diri-Nya di dalam aku. Engkau berbicara kepadaku tentang inkarnasi, kelahiran kembali, dan transformasi, tetapi aku tidak tahu apa pun maksud dari hal-hal ini.”
KEDAMBAAN ALLAH UNTUK MEMBAWA AYUB MASUK KE DALAM ALAM LAINNYA
Ayub berada di dalam alam yaitu membangun sesuatu yang salah. Ia sedang membangun dirinya sendiri di dalam kesempurnaan/kesalehan, ketulusan dan kejujurannya. Ia mengira bahwa ia mutlak benar. Ia sombong akan apayang telah dibangunnya dan ia bersandar kepadanya dan memuliakan dirinya sendiri di dalam hal itu. Itulah pakaiannya yang menutupi seluruh dirinya, dan itulah mahkotanya untuk menjadi kemuliaannya.
Sebenarnya, Ayub salah. Allah di dalam ekonomi kekal-Nya tidak memiliki kedambaan untuk membangun hal-hal ini. Sebaliknya, ia menganggap semua hal ini sebagai penghalang-penghalang dan bermaksud untuk melucutinya dari kita, menghabisinya sedikit demi sedikit. Bila segala sesuatunya telah dilucuti, maka Anda akan melihat Allah, dan Dia akan menarik Anda untuk menerima Dia. Kemudian Anda akan memiliki sifat, hayat, elemen, esens Allah, dan bahkan diri-Nya. Ini akan menyebabkan satu perubahan metabolik di dalam Anda untuk mentransformasi Anda dari bentuk insani Anda sekarang ini ke bentuk lainnya, yaitu bentuk yang ilahi. Alhasil dari transformasi ini, Anda akan menjadi seorang yang memantulkan Allah, yaitu mengekspresikan Dia dan menyalurkan Dia kepada orang lain.
Inilah maksud Allah terhadap Ayub, dan inilah maksud-Nya terhadap kita pada hari ini. Sekarang Anda dan Allah mungkin berada di dalam dua alam yang berbeda. Tetapi Allah ingin mentransfer Anda dari alam Anda sekarang ini ke dalam alam-Nya, bukan hanya untuk membuat Anda menjadi satu dengan Dia melainkan bahkan membuat Anda menjadi satu bagian dari diri-Nya.
Misalnya ada seseorang yang telah berusaha untuk berbicara kepada Ayub tentang semua hal ini. Jika seseorang berbuat demikian, Ayub mungkin mengatakan, “Apakah yang sedang Anda bicarakan? Aku telah banyak belajar tentang Allah dari nenek moyangku, dan aku telah menaruh perhatian keapda apa yang telah kupelajari. Namun Anda mengatakan bahwa aku berada di dalam alam yang salah dan bahwa Allah bermaksud untuk membangun sesuatu dari diri-Nya di dalam aku. Anda berbicara kepadaku tentang inkarnasi, kelahiran kembali, dan transformasi, tetapi aku tidak tahu apa arti dari hal-hal ini.” Ayub tidak memiliki kapasitas untuk menerima wahyu yang demikian. Ia tidak memiliki istilah-istilah ini di dalam kamus rohaninya.
Menurut prinsipnya, situasi ini sama dengan kebanyakan orang Kristen hari ini. Wahyu ilahi telah diberikan, telah ditulis, dan telah ditafsirkan. Meskipun demikian, banyak kaum beriman yang tidak memahami ekonomi Allah atau tentang penyaluran ilahi menurut ekonomi ilahi ini. Mereka mungkin mengira bahwa menjadi seorang Kristen itu hanyalah percaya bahwa Yesus Kristus, Putra Allah, adalah Penyelamat kita, yang telah mencucurkan darah-Nya bagi dosa-dosa kita dan yang telah menyelamatkan kita melalui kematian-Nya; bahwa Roh Kudus sekarang menyertai kita untuk membantu kita berperilaku dengan baik dan berbuat baik agar Allah dapat dimuliakan; dan bahaw kita akan naik ke surga ketika kita mati. Mereka yang berpegang kepada konsep kehidupan Kristiani ini mungkin tidak sadar bahwa menjadi seorang Kristen juga melibatkan pengudusan, transformasi, penyerupaan, penyaluran ilahi dari ekonomi ilahi, dan Yerusalem Baru sebagai perbesaran dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung. Jika Anda ingin mengajar mereka tentang perkara-perkara ini, maka Anda harus melakukannya dengan sangat perlahan-lahan, di mulai dengan hal-hal yang paling mendasar.
ALAM CIPTAAN LAMA DAN ALAM CIPTAAN BARU
Kita semua perlu menyadari bahwa hari ini ada dua alam yang berbeda—alam ciptaan lama dan alam ciptaan baru. Alam ciptaan lama adalah alam hal-hal alamiah, dan alam ciptaan baru adalah alam hal-hal ilahi. Kita dilahirkan ke dalam ciptaan lama, ke dalam alam alamiah, namun Allah ingin kita menjadi ilahi. Untuk ini, maka kita memerlukan satu transfer yang besar: Kita perlu ditransfer keluar dari Adam ke dalam Kristus. Aspek pertama dari transfer ini adalah kelahiran kembali. Kita perlu dilahirkan kembali, dan kemudian kita perlu diperbarui. Ketika kita diperbarui, maka ada bagian-bagian tertentu dari diri kita yang akan “dikupas” dan diganti dengan satu elemen yang baru yang akan menyebabkan kita ditransformasi dan akhirnya diserupakan kepada gambar Kristus, yang adalah Putra sulung Allah (Rm. 8:29).
Kita juga perlu belajar bagaimana berbicara kepada orang lain tentang hal-hal rohani di dalam ciptaan baru. Misalnya, Anda bericara kepada seorang kaum beriman tentang ditransformasi ke dalam gambar Kristus sebagai Putra sulung Allah. Kaum beriman itu mungkin mengatakan, “Aku telah mendengar tentang Putra tunggal Allah tetapi belum mendengar tentang Putra sulung. Siapakah Putra sulung Allah itu?” Saya kuatir bahwa Anda mungkin tidak bisa menjelaskan hal ini.
Jika Anda ingin mengajar orang lain tentang hal ini, maka Anda perlu memberi tahu mereka bahwa ketika Allah berinkarnasi, Dia membawa keilahian ke dalam keinsanian, dan kemudian lahir di dalam keinsanian untuk menjadi manusia-Allah. Putra tunggal Allah memiliki keilahian tetapi tidak memiliki keinsanian, sedangkan manusia-Allah, Yesus, memiliki satu bagian dari diri-Nya—keinsanian-Nya—yang belum dijadikan ilahi. Supaya hal ini terjadi, maka Dia harus mati di atas salib dan kemudian dibangkitkan. Di dalam kebangkitan, Dia diperanakkan, dilahirkan, sebagai Putra sulung Allah di dalam keinsanian-Nya (Kis. 13:33; Rm. 1:3-4). Dengan cara demikian, keinsanian-Nya diallahkan. Kit ajuga bisa mengatakan bahwa keinsanian-Nya “diputrakan,” yang berarti bahwa Dia menjadi Putra Allah bukan hanya di dalam keilahian-Nya, melainkan juga di dalam keinsanian-Nya.
KAUM BERIMAN HARI INI HIDUP DI DALAM SATU WAKTU SETELAH KELENGKAPAN WAHYU ILAHI
Menurut zaman, kita jauh lebih baik daripada Ayub. Semakin akhir kita berada di dalam satu zaman, kita semakin baik. Jika kita ada bersama dengan Nuh, kita mungkin bahkan akan lebih kurang menyadari daripada Ayub. Tetapi setelah air bah, Allah tetap bergerak. Dia bergerak dari Nuh kepada Abraham. Kita percaya bahwa Ayub ada pada zaman Abraham, karena itu berkat Ayub berada pada tingkatan berkat yang mirip dengan Abraham.
Hari ini, kita telah menerima segala berkat (Ef. 1:3). Kemajuan wahyu ilahi telah disempurnakan dan telah dilengkapi oleh Paulus melalui tulisannya, terutama empat kitab ini yaitu Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose. Di dalam Kolose 1:25, Paulus membuat hal itu menjadi jelas bahwa ia menerima satu amanat dari Allah untuk melengkapi firman wahyu Allah, terutama mengenai misteri/rahasia ekonomi Allah. Rahasia ini berkenaan dengan Kristus dan Tubuh-Nya, dengan poin utama bahwa Kristus ada di dalam Tubuh-Nya sebagai pengharapan akan kemuliaan (ay. 26-27). Sekarang, satu-satunya yang bisa dikembangkan adalah pengharapan kita. Wahyu itu telah lengkap dan tidak akan memiliki perkembangan lagi. Hari ini kita memiliki segalanya.
Kita perlu menilai surat-surat kiriman rasul. Di dalam Kisah Para Rasul, kita bisa melihat pergerakan Allah sebagai Dia yang telah rampung di dalam orang-orang kudus-Nya telah telah ditransformasi. Namun, tidak didefinisikan, dijelaskan, dan dikembangkan dengan begitu jelas seperti di dalam empat belas kiriman surat Paulus. Surat-surat kiriman Paulus diatur sebagai yang pertama di antara semua surat kiriman. Kemudian bagian yang terakhir, yaitu bagian perampungan, ditulis oleh Yohanes. Kita perlu mempelajari keempat belas surat kiriman Paulus dan ketiga surat kiriman Yohanes dan Wahyu. Oleh kedua rasul inilah bahwa wahyu ilahi itu telah dilengkapi sepenuhnya.
Terima kasih kepada Tuhan bahwa kita memiliki firman-Nya, yaitu firman yang lengkap di tangan kita! Saya sangat berterima kasih kepada-Nya bahwa melalui begitu banyak tahun, Dia telah memelihara saya dari dunia ini sehingga saya bisa meluangkan seluruh waktu saya di atas Firman itu, tetapi terutapa meluangkan waktu untuk keempat belas surat kiriman Paulus, ketiga surat kiriman Yohanes, dan Wahyu. Sungguh berkat yang luar biasa!
UMAT PILIHAN ALLAH MENYADARI DAN MENGALAMI KRISTUS BAGI PERAMPUNGAN TUBUH DAN PERSIAPAN MEMPELAI PEREMPUAN
Hanya bagian dari wahyu ilahi yang ditemukan di dalam surat-surat kiriman Paulus dan Yohanes serta di dalam Wahyulah yang akan merampungkan ekonomi Allah untuk memiliki Kristus dengan sepenuhnya direalisasikan dan dialami oleh umat pilihan Allah. Mungkin tidak mayoritas melainkan minoritas, yaitu jumlah kecil yang akan menyadari Kristus sampa sedemikian rupa. Dengan demikian Tubuh bisa dirampungkan dan mempelai perempuan akan dipersiapkan. Kemudian waktunya akan tepat bagi Kristus sebagai Mempelai Laki-laki universal untuk datang kembali. Tetapi sekarang, ini tidak mungkin. Jika kita mempertimbangkan situasi pada hari ini, kita akan melihat bahwa tidak ada sesuatu yang telah siap bagi kedatangan kembali Kristus.
BANGKIT UNTUK MENJADI PARA PEMENANG DENGAN MEMPERHATIKAN DUA ROH ITU
Saya percaya bahwa Tuhan ingin agar kita bangkit, dan terangsang. Saya berdoa bahwa Tuhan akan memberi beban kepada kita semua untuk terus maju dengan khusus di dalam bagian terakhir dari hari-hari terakhir ini untuk mengalami Kristus menurut bagaimana kita telah melihat Dia sehingga kita bisa benar-benar menjadi bagian-bagian dari Tubuh Kristus.
Kita harus percaya bahwa hari ini Allah sedang melakukan sesuatu di dalam pemulihan-Nya. Penyebaran pemulihan-Nya di Rusia telah sangat menjadi satu dorongan bagi saya. Ini adalah satu permulaan yang baru, satu pemandangan yang baru. Saya percaya bahwa Tuhan akan melakukan hal yang sama di Amerika Serikat dan di seluruh Eropah karena bangsa-bangsa ini penuh dengan keturunan Yafet, salah seorang dari putra-putra Nuh. Alkitab menunjukkan bahwa perampungan Allah secara prinsip akan datang melalui pergerakan Allah di antara keturunan-keturunan Yafet (Kej. 9:26-27).
Sekarang kita telah melihat visi ini, setiap orang dari kita harus bangkit untuk menjadi seorang pemenang dengan memperhatikan kedua roh ini—Roh pemberi hayat yang almuhit dengan roh insani kita yang telah dilahirkan kembali. Allah sendiri telah rampung, dan Dia juga telah merampungkan kita. Semua yang kita perlukan sekarang adalah penerapan, yang adalah Roh yang telah rampung itu. Jika kita memperhatikan Dia di dalam roh kita, maka kita akan berhasil.