GILIRAN ELIHU UNTUK BERBICARA PASAL 32—37 (2)
KOREKSI KEDUA DAN KETIGA DARI ELIHU DAN SANGGAHAN TERHADAP AYUB
Pembacaan Alkitab: Ayub 34—35
Pasal 34 dan 35 meliput tentang koreksi kedua dan ketiga dari Elihu dan sanggahan terhadap Ayub.
I. KOREKSI KEDUA ELIHU DAN SANGGAHAN TERHADAP AYUB
Koreksi kedua Elihu dan sanggahan terhadap Ayub tercatat di dalam pasal 34
A. Meminta Hikmat dan Pengetahuan untuk Mendengar Perkataannya
Elihu meminta hikmat dan pengetahuan untuk mendengar perkataannya (ay. 1-4). Menurut dia, telinga itu menguji kata-kata, seperti langit-langit mengecap makanan. Di dalam ayat 4, ia mengatakan, “Biarlah kita memutuskan bagi kita sendiri apa yang adil, menentukan bersama-sama apa yang baik.”
B. Mengoreksi Ayub karena Mengatakan Bahwa Ia Benar dan Bahwa Allah Telah Mengambil Haknya
Selanjutnya, Elihu mengoreksi Ayub karena mengatakan, “Aku benar, tetapi Allah mengambil hakku” dan “Tidaklah berguna bagi manusia, kalau ia dikenan Allah” (ay. 5, 9).
C. Menghakimi Ayub
Elihu juga menghakimi Ayub.
1. Mengatakan Bahwa Ayub Mencari Persekutuan dengan Orang-orang yang Melakukan Kejahatan
Pertama, Elihu menghakimi Ayub dengan mengatakan bahwa ia mencari persekutuan dengan orang-orang yang melakukan kejahatan dan berjalan bersama dengan orang-orang fasik (ay. 7-8).
2. Mengatakan Bahwa Ayub Berbicara dengan tanpa Pengetahuan
Elihu juga mengatakan bahwa Ayub telah berbicara dengan tanpa pengetahuan dan bahwa kata-katanya tidak mengandung pengertian (ay. 35). Elihu bahkan mengumumkan bahwa ia ingin agar “Ayub diuji terus menerus, karena ia menjawab seperti orang-orang jahat” (ay. 36). Selain itu, Elihu menghakimi sambil mengatakan bahwa ia menambah dosanya dengan pelanggaran, ia mengepalkan tangan di antara mereka dan banyak bicara terhadap Allah (ay. 37).
D. Menyanggah Ayub
1. Mengatakan Bahwa Allah Tidak Akan Pernah Melakukan Kejahatan
Elihu selanjutnya menyanggah Ayub, dan mengatakan bahwa Allah tidak akan pernah melakukan kejahatan dan bahwa Yang Mahakuasa tidak akan pernah melakukan kesalahan (ay. 10). Sebaliknya, Allah mengganjar manusia sesuai perbuatannya, dan membuat setiap orang mengalami sesuai kelakuannya (ay. 11). Di dalam ayat 12 sampai 20, Elihu berbicara lebih jauh bahwa Allah tidak berbuat jahat dan membengkokkan keadilan. Di dalam ayat 12 sampai 15 ia mengumumkan, “Sungguh, Allah tidak berlaku curang, Yang Mahakuasa tidak membengkokkan keadilan. Siapa mempercayakan bumi kepada-Nya? Siapa membebankan alam semesta kepada-Nya? Jikalau Ia menarik kembali Roh-Nya, dan mengembalikan nafas-Nya pada-Nya, maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu.”
2. Mengatakan Bahwa Allah Mengendalikan dan Menghakimi Bangsa-bangsa dan Orang-orang Tidak Sesuai dengan Ayub
Di dalam ayat 21 sampai 33, Elihu melanjutkan untuk menyanggah Ayub, dengan mengatakan bahwa Allah mengendalikan dan menghakimi bangsa-bangsa dan orang-orang tidak sesuai dengan Ayub, karena Ayub telah menentangnya. Elihu mengatakan bahwa mata Allah mengawasi jalan manusia dan Ia melihat segala langkahnya; bahwa Dia tahu perbuatan orang-orang yang perkasa, menggulingkan mereka hingga hancur lebur tanpa mengadakan penyelidikan dan mengangkat orang lain sebagai pengganti mereka; dan Dia menampar mereka karena kefasikan mereka, karena mereka meninggalkan-Nya, dan tidak mengindahkan satupun dari pada jalan-Nya. Sambil mengakhiri pembicaraannya, Elihu bertanya kepada Ayub, “Menurut hematmu apakah Allah harus melakukan pembalasan karena engkau yang menolak?” (ay. 33a).
Melalui membaca pasal 34 ini, kita bisa menyadari bahwa Elihu adalah seorang yang penuh pengetahuan baik dan jahat. Orang muda ini seharusnya mempertimbangkan bahwa Ayub dan ketiga temannya itu sudah mengetahui segala sesuatu yang ia bicarakan. Tetapi ia begitu penuh dengan pengetahuan, dan ia mengatakan bahwa ia akan meledak jika ia tidak berbicara.
Saya seringkali membayangkan mengapa kitab ini tidak mengatakan bahwa Ayub dan ketiga temannya serta Elihu berkumpul bersama untuk berdoa dengan melatih roh mereka untuk menjamah Allah. Saya tidak bisa memahami bagaimana sekelompok orang saleh demikian ini bisa berkumpul bersama tanpa doa apa pun. Mereka hanya melatih pikiran mereka. Pembicaraan mereka itu semuanya merupakan susunan puisi. Perkataan Elihu pun diucapkan dalam bentuk puisi. Itu memerlukan banyak pemakaian mentalitas. Mengapa mereka tidak berdoa bersama untuk mencari pemikiran Tuhan, mencari tujuan Tuhan? Betapa kasihan bahwa mereka tidak berbuat demikian!
II. KOREKSI KETIGA ELIHU DAN SANGGAHAN TERHADAP AYUB
Di dalam pasal 35, kita memiliki koreksi ketiga Elihu dan sanggahan terhadap Ayub.
A. Mengoreksi Ayub Lebih Lanjut dengan Memeriksa Dia mjengenai Jawabannya
Elihu mengoreksi Ayub lebih lanjut dengan memeriksa dia mengenai jawabannya (ay. 1-3). Elihu bertanya kepadanya apakah Ayub menganggap jawabannya itu benar. Kemudian ia bertanya kepada Ayub, “Inikah yang kauanggap adil dan yang kausebut: kebenaranku di hadapan Allah, kalau engkau bertanya: Apakah gunanya bagiku? Apakah kelebihanku bila aku berbuat dosa?” (ay. 2-3).
B. Sanggahan Elihu terhadap Ayub di hadapan Teman-teman-Nya
Di dalam ayat 4 Elihu mengatakan, “Akulah yang akan memberi jawab kepadamu dan kepada sahabat-sahabatmu bersama-sama dengan engkau.” Ini menunjukkan bahwa Elihu menyanggah Ayub di hadapan teman-temannya.
1. Menyuruh Ayub Memandang ke Langit dan Memperhatikan Awan-awan
Elihu menyuruh Ayub untuk memandang ke langit dan memperhatikan awan-awan, yang lebih tinggi daripadanya. “Jikalau engkau berbuat dosa, apa yang akan kaulakukan terhadap Dia? Kalau pelanggaranmu banyak, apa yang kaubuat terhadap Dia? Jikalau engkau benar, apakah yang kauberikan kepada Dia? Atau apakah yang diterima-Nya dari tanganmu?” (ay. 6-7). Di sini Elihu memberi tahu Ayub bahwa apakah ia berdosa atau benar, itu tidak mempengaruhi Allah.
Pembicaraan Elihu itu sia-sia. Ia tidak perlu menyuruh Ayub secara demikian.
2. Mengajar Ayub Bahwa Orang-orang Menjerit kepada Allah karena Banyaknya Penindasan dan Berteriak Minta Tolong karena Kekerasan Orang-orang yang Berkuasa
Elihu melanjutkan dengan mengajar Ayub bahwa orang-orang menjerit kepada Allah karena banyaknya penindasan dan berteriak minta tolong karena kekerasan orang-orang yang berkuasa (ay. 9). Tetapi menurut Elihu tidak ada seorang pun yang mengatakan, “Di mana Allah, yang membuat aku, dan yang memberi nyanyian pujian di waktu malam; yang memberi kita akal budi melebihi binatang di bumi, dan hikmat melebihi burung” (ay. 10-11). Elihu kemudian mengatakan bahwa Allah tidak menjawab jeritan mereka karena kecongkakkan orang-orang jahat. Ia mengatakan lebih jauh bahwa Allah tidak mendengar dan menghiraukan seruan yang kosong (ay. 12-13). Mengapa Elihu tidak menyuruh Ayub dan teman-temannya untuk berdoa? Mengapa ia tidak menyuruh mereka untuk memuji sang Pembuat mereka?
Elihu selanjutnya mengatakan bahwa Ayub mengatakan bahwa ia tidak melihat Allah, bahwa perkaranya sudah diadukan ke hadapan-Nya, dan bahwa ia harus menanti-nantikan Allah. Menurut Elihu, karena Allah tidak berkunjung dalam amarah-Nya ataupun menghiraukan kesombongan yang demikian besar, dan bahwa Ayub berbesar mulut dengan sia-sia, dan ia banyak bicara tanpa pengertian (ay. 14-16). Elihu menuduh Ayub berbicara sia-sia, tetapi bagaimana dengan kata-katanya sendiri? Ketika kita membaca pasal ini, kita bisa melihat bahwa tidak ada realitas di dalam kata-kata Elihu.
Di dalam pembicaraannya lebih lanjut kepada Ayub, Elihu tetap tidak bisa menjawab Ayub mengenai tujuan Allah menanggulangi dia, seperti yang rasul Paulus lakukan di dalam mengumumkan kepada kaum beriman Perjanjian Baru bahwa kesusahan yang diderita oleh kaum beriman mengerjakan bagi mereka satu bobot kemuliaan yang kekal, yang adalah Allah kemuliaan menjadi porsi kemuliaan mereka untuk didapatkan dan dinikmati sampai kekal (2 Kor. 4:17).