← Daftar isi Ayub · bab 1/38

KATA PEMBUKAAN

Pembacaan Alkitab: Ayub 1:1-5

Dengan berita ini kita akan memulai pelajaran-hayat Ayub. Beban saya di dalam berita-berita ini bisa diekspresikan oleh empat kalimat berikut ini:

1) Allah menanggulangi orang-orang kudus-Nya untuk tujuan agar mereka bisa mendapatkan Dia sebagai hayat.

2) Allah melucuti harta kekayaan dari para pencari-Nya supaya mereka dapat mewarisi Dia sepenuhnya.

3) Allah mengerjakan bobot kemuliaan yang kekal melalui penderitaan bagi para pemenang-Nya.

4) Allah membawa para pengasih-Nya ke dalam diri-Nya sendiri sebagai kemuliaan melalui segala sesuatu dan akan memuliakan mereka dengan diri-Nya sendiri.

I. NAMA

Kitab Ayub diberi nama menurut penulisnya, yaitu Ayub, yang namanya berarti “dibenci” atau “dianiaya,” yang melambangkan apa yang Ayub derita dari Satan, musuh Allah. Ayub sungguh menderita rasa benci dan penganiayaan dari Satan.

Di dalam kitab ini, Satan sebagai musuh Allah adalah satu misteri bagi kita. Kita tidak bisa memahami sepenuhnya mengapa Satan bukan hanya tetap memiliki kebebasan melainkan juga “hak sipil” untuk pergi ke tempat Allah dan menghadiri salah satu rapat yang diadakan oleh Allah dengan malaikat-malaikat-Nya. Tentunya, apa yang digambarkan di dalam Ayub 1 dan 2 itu terjadi dua ribu tahun sebelum Kristus mati di atas salib untuk menghancurkan iblis, yang memiliki kuasa atas maut (Ibr. 2:14). Karena Kristus menghancurkan Satan di atas salib, kita mungkin mengira bahwa Satan tidak lagi memiliki “hak sipil” untuk masuk ke hadirat Allah. Namun, menurut Wahyu 12:10, Satan masih bisa menuduh kita di hadirat Allah siang dan malam. Hak ini akan diambil dari Satan pada permulaan pencobaan besar. Ketika para pemenang naik ke surga, Satan akan dilemparkan dari surga ke bumi. Sejak waktu itu dan seterusnya, Satan tidak lagi berhak untuk datang ke hadirat Allah.

II. PENULIS

Penulis kitab Ayub adalah Ayub. Ini diteguhkan oleh Yehezkiel 14:12, 14, 20 dan Yakobus 5:11. Ayat-ayat ini adalah satu bukti keaslian dari kitab ini.

III. WAKTU

Menurut cara hidup pengembaraan Ayub (Ayb. 1:3) dan cara ia mempersembahkan kurban bakaran bagi anak-anaknya, kitab ini seharusnya ditulis pada zaman Abraham, Ishak, dan Yakub (ay. 5; Kej. 22:13; 31:54), sekitar 2000 SM. Ini berarti bahwa Ayub ditulis lima ratus tahun sebelum Musa menulis Pentatuk.

IV. TEMPAT

Kitab Ayub memberi tahu kita bahwa Ayub tinggal di Uz, sebuah kota di Edom (Rat. 4:21), sebelah barat padang gurun Arab.

V. BENTUK PENULISAN

Kitab Ayub berbentuk puisi/syair, kecuali pasal 1 dan 2 dan sebelas ayat terakhir dari pasal 42. Ayub adalah kitab puisi yang pertama dari lima kitab puisi di dalam Kitab Suci; empat kitab puisi lainnya adalah Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung.

VI. ISI

A. Ekspresi-ekspresi Perasaan-perasaan dari Orang-orang yang Saleh

Isi dari kitab Ayub adalah ekspresi-ekspresi perasaan-perasaan dari orang-orang yang saleh, termasuk Ayub, ketiga temannya, dan orang muda yang bernama Elihu. Kitab ini adalah catatan pembicaraan dari kelima pihak/kelompok ditambah pembicaraan Allah.

1. Menurut Pengalaman-pengalaman dari Kehidupan Saleh Mereka

Kitab Ayub, seperti halnya Mazmur, terdiri dari ekspresi-ekspresi perasaan-perasaan dari para pembicara menurut pengalaman-pengalaman dari kehidupan saleh mereka.

2. Penuh dengan Prinsip Baik dan Jahat

Ekspresi-ekspresi mereka diungkapkan sebelum hukum taurat diberikan, namun perasaan-perasaan mereka itu penuh dengan prinsip baik dan jahat. Ini adalah prinsip pohon pengetahuan baik dan jahat.

3. Logika Mereka Adalah menurut Garis Pohon Pengetahuan Baik dan Jahat

Logika mereka adalah menurut garis pohon pengetahuan baik dan jahat, dan berdasarkan hal ini, mereka sangat mempertimbangkan penghakiman Allah yang adil benar.

B. Berhubungan dengan Penghakiman-penghakiman dari Pemerintahan Allah

Ekspresi perasaan-perasaan dari orang-orang yang saleh ini berhubungan dengan penghakiman-penghakiman dari pemerintahan Allah. Perdebatan-perdebatan di antara Ayub dan ketiga temannya terutama mengenai penghakiman. Mereka berpikir bahwa Ayub pasti salah di dalam beberapa hal atau aspek dan bahaw hal-hal yang terjadi kepadanya itu adalah satu penghakiman dari Allah. Mereka juga memiliki pemikiran bahwa anak-anak Ayub itu salah dan mereka mati karena penghakiman Allah. Jadi, isi dari kitab ini melibatkan perkara penghakiman Allah.

1. Allah Menciptakan Alam Semesta menurut Ekonomi-Nya dan bagi Maksud-Nya

Menurut ekonomi-Nya dan bagi maksud-Nyalah bahwa Allah menciptakan alam semesta ini.

2. Allah Menciptakan Manusia menurut Kedambaan-Nya

Selain itu, menurut kedambaan-Nyalah bahwa Allah menciptakan manusia agar Dia bisa mengekspresikan diri-Nya sendiri melalui manusia. Agar Allah terkekspresi, maka manusia harus berada di bawah pemerintahan Allah dan ini melibatkan penghakiman Allah.

3. Allah Memakai Pengendalian Pemerintahan-Nya atas Manusia

Adalah perlu bahwa Allah memakai pengendalian pemerintahan-Nya atas manusia dan menghakimi manusia menurut keadilbenaran-Nya. Tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkan diri dari penghakiman Allah. Roma 2: 5 dan 6 mengatakan, “Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan. Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Di dalam Kisah Para Rasul 17:31, kita diberi tahu bahwa Allah “telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya.” Manusia ini adalah Yesus Kristus, yang telah diberi perintah oleh Allah untuk menghakimi yang hidup dan yang mati (Kis. 10:42). Lambat atau cepat, semua orang akan dihakimi oleh Tuhan Yesus Kristus.

4. Ada Beberapa dari Penghakiman-Nya Bersifat Sementara, dan Ada Beberapa adalah yang Terakhir

Ada beberapa dari penghakiman-penghakiman Allah itu bersifat sementara, seperti penghakiman atas Sodom, dan ada beberapa adalah yang terakhir, seperti penghakiman di takhta putih besar (Why. 20:11-15). Mengenai hal ini, 1 Timotius 5:24 mengatakan, “Dosa beberapa orang menyolok, seakan-akan mendahului mereka ke pengadilan, tetapi dosa beberapa orang lagi baru menjadi nyata kemudian.” Dosa-dosa dari orang-orang tertentu sampai kepada penghakiman Allah lebih dini, dan dosa-dosa dari orang-orang lainnya datang kemudian. Penghakiman Allah, apakah itu lebih dini atau kemudian, tergantung kepada waktu-Nya.

5. Beberapa Orang Makmur dan Subur untuk Sejangka Waktu, Sekalipun Mereka itu Penuh dengan Dosa dan Jahat

Karena ada beberapa dari penghakiman Allah ini bersifat sementara dan yang lainnya ada yang berakhir, maka ada beberapa orang itu makmur dan subur, sekalipun mereka itu penuh dengan dosa dan jahat. Ada beberapa yang menderita malapetaka-malapetaka alam karena kutukan yang diakibatkan melalui dosa manusia (Kej. 3:17-18). Apa yang mereka derita itu mungkin bukan karena perbuatan-perbuatan dosa mereka. Karena Adam telah jatuh, dan berbuat dosa, maka kutukan itu datang sebagai semacam penghakiman. Menurut Roma 8:20-22, “makhluk ciptaan telah ditundukkan kepada kesia-siaan” dan tunduk kepada perbudakan kebinasaan, “mereka sama-sama mengeluh dan sama-sama menderita sakit bersalin.” Ini juga semacam penghakiman. Karena penghakiman ini, maka orang-orang kadang-kadang menderita malapetaka-malapetaka alamiah, sekalipun mungkin mereka tidak berbuat dosa. Tidak semua orang yang menderita satu malapetaka seperti angin topan yang merusak karena mereka itu penuh dengan dosa.

6. Pandangan-pandangan yang Berbeda mengenai Penghakiman Allah

Ayub dan teman-temannya memiliki pandangan-pandangan yang berbeda mengenai di dalam hal yang mereka paksakan dan berdebat tentang penghakiman Allah. Banyak dari perdebatan mereka itu diakibatkan dari pandangan-pandangan yang berbeda mengenai penghakiman Allah.

7. Ayub dan Teman-temannya Tidak Melihat Aspek Positif dari Ekonomi Allah di dalam Menanggulangi Umat Kudus-Nya

Terbukti bahwa Ayub dan teman-temannya itu tidak melihat aspek yang posifit dari ekonomi Allah di dalam menanggulangi umat kudus-Nya. Yaitu, Allah ingin melucuti, bukan menghakimi, orang-orang kudus-Nya agar Dia bisa mendapatkan supaya mereka bisa mendapatkan Dia lebih banyak.

Teman-teman Ayub mengira bahwa apa yang sedang dideritanya itu adalah perkara penghakiman Allah. Namun, penderitaan-penderitaan Ayub bukanlah penghakiman Allah melainkan pelucutan Allah. Orang-orang Syeba mengambil lembu dan keledai Ayub, “api Allah” melahap kawanan dombanya, orang-orang Kasdim mengambil unta-untanya, dan angin besar menyebabkan kematian anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuannya (Ayb. 1:13-19). Semua hal ini adalah pelucutan Allah, tetapi Ayub dan teman-temannya menganggap hal-hal itu sebagai penghakiman Allah. Sepanjang abad, banyak pembaca kitab Ayub memiliki konsep yang sama, dan mengira bahwa Ayub menderita karena penghakiman Allah.

Pernahkah Anda memiliki pemikiran bahwa seringkali Allah melakukan sesuatu untuk melucuti Anda? Sekalipun Anda mungkin tidak salah, tetapi tiba-tiba hal-hal tertentu terjadi kepada Anda, dan Allah memakai hal-hal ini untuk melucuti Anda. Sebelum saya masuk ke dalam pemulihan Tuhan, kata melucuti tidak ada di dalam kamus rohani saya. Saya telah mendengar tentang penghakiman, penghukuman, dan ganjaran tetapi tidak mendengar tentang melucuti. Dari Saudara Neelah bahwa saya belajar tentang pelucutan oleh Allah.

Hari ini di dalam kamus rohani kita, kata yang pertama seharusnya adalah Kristus, dan kata kedua seharusnya adalah melucuti. Berapa banyakkah Kristus yang telah Anda peroleh? Berapa banyak Kristus yang telah kita peroleh itu adalah menurut berapa banyak kita telah menderita pelucutan. Semakin kita menderita pelucutan oleh Allah, semakin kita akan memperloleh Kristus.

8. Melalui Pelucutan-Nya, Allah Menyalurkan Diri-Nya Sendiri kepada Orang-orang Yang Mengasihi Dia dan Mencari Dia

Melalui pelucutan-Nyalah Allah menyalurkan diri-Nya sendiri kepada orang-orang yang mengasihi Dia dan mencari Dia. Ayub telah kehilangan segala yang dia miliki, tetapi pada akhirnya, ia mendapatkan Allah itu sendiri. Allah melucuti segala yang dia miliki adalah agar Dia bisa menjadi segalanya bagi transformasi dan penyerupaannya kepada gambar kemuliaan dari Allah Putra-Nya (Rm. 8:29).

C. Di Bawah Wahyu yang Tidak Memadai terhadap Kebenaran-kebenaran Ilahi

Ayub dan teman-temannya tidak memiliki wahyu yang tidak memadai terhadap kebenaran-kebenaran ilahi. Sebagai orang-orang yang saleh, mereka mengekspresikan perasaan-perasaan mereka di dalam batas-batas dari wahyu yang telah mereka terima.

1. Wahyu Ilahi di dalam Alkitab itu Terus Maju

Wahyu ilahi di dalam Alkitab itu terus maju. Sampai zaman Ayub, kemajuan dari wahyu ilahi ini hanya mencapai tingkatan zaman Abraham, yaitu, bahwa orang-orang dosa memerlukan penebusan Allah dengan pencucuran darah dari kurban bakaran. Tidak ada satu pun yang disingkapkan mengenai kelahiran kembali, pembaruan, transformasi, penyerupaan dan pemuliaan. Hal-hal ini bukanlah satu bagian kebudayaan rohani dari Ayub dan Abraham.

Kebanyakan dari orang Kristen hari ini tidak mengenal tentang perkara-perkara seperti transformasi, penyerupaan, dan pemuliaan. Mereka mungkin mengenal sedikit tentang kelahiran kembali dan pembaruan, tetapi kebanyakan tidak tahu apa-apa tentang transformasi, penyerupaan, dan pemuliaan. Apakah Anda tahu tentang hal-hal ini sebelum Anda masuk ke dalam pemulihan Tuhan? Di antara orang-orang Kristen hari ini, pengajaran mengenai perkara-perkara seperti ini kurang karena wahyu mengenai hal-hal itu kurang. Sebaliknya dii dalam pemulihan ini, kita dengan tegas menekankan transformasi. Karena permulaan dari ministri saya di negeri ini, saya telah membicarakan tentang melatih roh bagi pengalaman dan kenikmatan akan Kristus dan tentang transformasi. Namun, bagi kebanyakan kaum saleh, transformasi itu hanyalah satu doktrin, bukan satu pengalaman yang praktis di dalam roh. Kehidupan orang Kristen adalah perkara Kristus hidup di dalam kita. Seperti Paulus mengatakan, :Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20). Inilah kehidupan orang Kristen, dan inilah pengalaman terhadap transformasi yang praktis dan sehari-hari di dalam roh kita.

2. Kebenaran-kebenaran Ilahi Tidak Diwahyukan dengan Lengkap sampai Zaman Rasul Paulus

Kebenaran-kebenaran ilahi mengenai perkara-perkara seperti kelahiran kembali, pembaruan, transformasi, penyerupaan, dan pemuliaan tidak diwahyukan dengan jelas kepada manusia di dalam ekonomi Perjanjian Lama Allah. Hal-hal itu tidak diwahyukan dengan lengkap sampai zaman rasul Paulus (Flp. 3:8). Paulus menerima satu wahyu yang penuh dan jelas tentang hal-hal mengenainya Abraham, Ayub dan teman-temannya tidak memahaminya karena kekurangan akan perlunya kebudayaan rohani. Kita tidak seharusnya menyalahkan atau meremehkan Ayub dan teman-temannya karena kekurangan mereka akan pemahaman ini.

Di dalam Ayub 42:5, Ayub mengatakan, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Kita bisa menafsirkan perihal Ayub melihat Allah dengan mengatakan bahwa ia mendapatkan Allah. Tetapi apakah arti mendapatkan Allah? Di dalam Ayub, tidak ada wahyu lebih lanjut mengenai hal ini, karena wahyu di dalam kitab ini tidak jelas, lengkap atau sempurna. Wahyu yang jelas, lengkap dan sempurna ada di dalam tulisan-tulisan Paulus, khususnya di dalam Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose, empat kitab yang membuat jantung dari Perjanjian Baru. Jika kita membaca kitab-kitab ini, kita akan memiliki satu pandangan yang jelas dari apa yang dimaksud dengan mendapatkan Allah. Sayangnya, kebanyakan orang Kristen hari ini tetap tinggal di zaman Ayub. Karena itu, saya harap, berita ini akan membatu untuk membuka mata Anda.

VII. SUBYEK

Subyek kitab Ayub adalah tujuan penanggulangan Allah terhadap orang kudus-Nya. Ayub adalah satu kitab tentang perdebatan-perdebatan dari orang-orang yang saleh mengenai tujuan dari penderitaan-penderitaan orang-orang kudus, yaitu, tujuan penanggulangan Alah terhadap umat-Nya. Karena Ayub adalah kitab yang demikian, maka kitab ini tidak berisi tentang satu wahyu yang jelas tetang tujuan penanggulangan Allah terhadap umat-Nya. Wahyu ini tidak diberikan kepada Ayub melainkan kepada Paulus. Di dalam surat-surat kiriman Paulus, kita melihat bahwa tujuan Allah di dalam menanggulangi kita adalah untuk melucuti kita dari segala sesuatu supaya kita bisa mendapatkan Allah lebih banyak. Inilah subyek dari kitab Ayub.

VIII. BAGIAN-BAGIAN

Ayub memiliki enam bagian: pembukaan (1:1—2:10); perdebatan-perdebatan antara Ayub dan tiga temannya (2:11—32:1); jawaban Elihu kepada Ayub (32:2—37:24); dialog antara Allah dan Ayub (38:1—42:6); penanggulangan Yehovah terhadap ketiga teman Ayub (42:7-9); dan akhir Ayub (42:10-17).