← Daftar isi Markus (3) · bab 2/23

KATA PENGANTAR (2)

Pembacaan Alkitab:

Yes. 42:1-4, 6-7; 49:5-7; 50:4-7; 52:13— 53:12; Mrk. 10:45

Berita ini merupakan lanjutan kata pengantar dalam Pelajaran Hayat Injil Markus. Kita telah nampak bahwa Injil ini melukiskan keindahan kebajikan Kristus dalam keinsanian-Nya sebagai Hamba. Injil Yohanes menyajikan Kristus sebagai Allah Penyelamat, Injil Matius menyajikan Dia sebagai Raja Penyelamat, dan Injil Lukas menyajikan Kristus sebagai Manusia Penyelamat. Akan tetapi Injil Markus menyajikan Kristus sebagai Hamba Penyelamat. Karena itu, subyek kitab Injil ini adalah Hamba Allah sebagai Hamba-Penyelamat bagi orang-orang dosa. Pertama-tama kita akan nampak Tuhan sebagai Hamba Allah dan kemudian sebagai Hamba-Penyelamat bagi orang-orang dosa (10:45).

HAMBA ALLAH

Seperti yang Dinubuatkan dalam Kitab Yesaya

Dalam berita ini kita akan terutama melihat nubuat Yesaya mengenai Kristus sebagai Hamba TUHAN.

Pilihan Allah dan Perkenan-Nya

Yesaya 42:1 mengatakan, “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berke-nan.” Yesus Kristus, Hamba Allah, adalah pilihan Allah dari antara milyaran manusia. Karena Dia adalah pilihan Allah, maka Allah berkenan kepada-Nya. Karena itu, Dia menjadi kesenangan hati Allah.

Tumbuh di Hadapan Allah sebagai Taruk

Yesaya 53:2-3 mengatakan, “Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas (akar) dari tanah ke-ring. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada, se-hingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mu-kanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hi-tungan.” Jika Anda membaca Lukas 2, Anda akan nampak Kristus tumbuh sebagai taruk (tanaman yang lembut) dan sebagai tunas (akar) dari tanah kering. Tuhan dibesarkan dalam keluarga tukang kayu yang miskin di kota Nazaret yang terhina di propinsi Galilea yang terhina pula. Ini ada-lah penggenapan dari tanah kering dalam Kitab Yesaya.

Tuhan tidak tampan, tidak menarik, dan tidak elok, sehingga Dia pun tak diingini. Malahan Dia dihina dan ditolak oleh orang-orang, seorang yang penuh duka, yang biasa menderita. Kehidupan Tuhan adalah kehidupan yang menderita dan sengsara.

Wajah-Nya Lebih Buruk daripada Manusia Mana pun

Mengenai Tuhan Yesus, Yesaya 52:14 menubuatkan, “Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi.” Hal ini menunjukkan bahwa penampilan Tuhan, raut muka-Nya, sangatlah bu-ruk. Kata “buruk” adalah kata yang keras dan menunjuk-kan bahwa wajah Tuhan sedikit banyak telah terluka dan rusak.

Banyak tahun yang lalu ada seorang seniman melukis lukisan yang menggambarkan Tuhan sebagai seorang laki-laki yang tampan. Gambar itu mutlak keliru. Namun, ba-nyak orang Kristen yang memiliki tiruan gambar itu di ru-mah mereka. Ketika saya memberitakan Injil mengelilingi China tengah pada tahun 1936, saya menghadapi kasus ke-rasukan setan yang berkaitan dengan gambar ini. Seorang wanita muda kerasukan setan, dan orang-orang yang ber-usaha menolongnya memberitahukan kasus tersebut kepada saya. Saya berkata kepada mereka bahwa sebagian besar kerasukan setan berhubungan dengan penyembahan ber-hala, dan saya bertanya apakah ada berhala di rumahnya. Mereka menyatakan tidak ada, hanya ada sebuah gambar “Yesus” yang tersohor itu. Saya memberi tahu mereka bah-wa gambar itu adalah berhala dan harus diturunkan dan dibakar. Setelah gambar itu dibakar, setan meninggalkan wanita muda itu. Memiliki gambar “Yesus” sedemikian itu sama sekali bertentangan dengan Alkitab. Tujuan saya men-ceritakan kisah ini adalah untuk menunjukkan fakta ter-sebut. Menurut Alkitab, Tuhan Yesus tidak memiliki wajah tampan. Malahan wajah-Nya begitu buruk.

Dihina Orang, Dijijikkan Bangsa-bangsa, dan Hamba Penguasa-Penguasa

Yesaya 49:7 mengatakan, “Beginilah firman TUHAN, Penebus Israel, Allahnya yang Mahakudus, kepada dia yang dihinakan orang, kepada dia yang dijijikkan bangsa-bangsa, kepada hamba penguasa-penguasa.” Menurut ayat ini, Tuhan Yesus dihina orang, Dia dijijikkan bangsa-bangsa dan Dia adalah Hamba penguasa-penguasa. Dalam bahasa Ibrani frase “hamba penguasa-penguasa” berarti orang yang dicengkeram oleh tirani. Tuhan adalah Hamba yang berada dalam cengkeraman, dalam perbudakan oleh tirani.

Memberikan Punggung-Nya kepada para Pemukul dan Pipi-Nya kepada para Penganiaya

Yesaya 50:6 berkata tentang Tuhan, “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.” Ini adalah perkataan yang paling jelas menggambarkan bagaimana Tuhan berperilaku sebagai seorang Hamba. Ia memberikan punggung-Nya kepada orang-orang yang memukul-Nya, Ia memberikan pipi-Nya kepada para penganiaya, dan Ia tidak menyembunyikan muka-Nya ke-tika dinodai.

Tidak Berteriak atau Menyaringkan Suara-Nya

Yesaya 42:2 menunjukkan bahwa Tuhan tidak berteri-ak atau menyaringkan suara-Nya, “Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara, atau memperdengarkan suara-nya di jalan.” Ini berarti Tuhan tidak menjerit atau bersu-ara. Dia tidak berteriak agar suara-Nya terdengar di jalan-jalan, sebaliknya Dia tenang dan diam.

Tidak Memutuskan Buluh yang Terkulai dan

Tidak Memadamkan Sumbu yang Pudar Nyalanya

Yesaya 42:3-4 mengatakan, “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan me-nyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.” Menurut ayat-ayat ini, Tuhan tidak akan memutuskan buluh yang patah terkulai atau memadamkan sumbu yang pudar nyalanya. Orang-orang Yahudi sering membuat suling dari buluh. Ketika buluh sudah patah terkulai dan tidak lagi berguna sebagai alat musik, mereka memutuskannya. Mereka juga membuat obor dari rami dengan bahan bakar mi-nyak. Bila minyaknya habis, rami itu berasap, mereka lalu memadamkannya. Beberapa pengikut Tuhan ada yang se-perti buluh yang patah terkulai yang tidak dapat memper-dengarkan suara musik; yang lainnya seperti obor berasap yang tidak dapat bercahaya menerangi sekitarnya. Namun Tuhan tidak akan “memutuskan” orang-orang yang patah terkulai, yang tidak dapat memperdengarkan suara musik, atau memadamkan orang-orang yang seperti obor yang pudar nyalanya, yang tidak dapat bercahaya menerangi sekitarnya. Di satu pihak, Tuhan tidak akan memutuskan buluh yang patah terkulai atau memadamkan obor yang pudar nyalanya. Di pihak lain, menurut ayat-ayat ini, Ia sendiri tidak akan seperti obor yang pudar nyalanya, juga tidak akan seperti buluh yang patah terkulai.

Diberi Lidah Seorang Murid

Dalam Yesaya 50:4 kita nampak bahwa sebagai Hamba Allah, Tuhan diberi lidah seorang murid, “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru ke-pada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” Sebagai seorang Hamba, Tuhan bukanlah seorang pengajar, namun ia diberi lidah seorang murid. Allah mengajar Dia agar Dia mengetahui bagaimana dengan perkataan mem-beri semangat kepada orang yang letih lesu. Karena Allah telah mengajari Dia, maka Dia bisa memberi semangat kepada orang yang letih lesu hanya dengan sepatah kata. Sepatah kata sedemikian ini lebih dapat melayankan hayat daripada sebuah berita yang panjang.

Percaya kepada Allah,

Mengeraskan Wajah seperti Gunung Batu

Yesaya 50:7 mengatakan, “Tetapi Tuhan ALLAH meno-long aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku (mengeraskan wajahku) seperti keteguh-an gunung batu, karena aku tahu bahwa aku tidak akan mendapat malu.” Di sini kita nampak bahwa Tuhan percaya kepada Allah dan mengeraskan wajah-Nya seperti gunung batu. Ketika Tuhan Yesus berjalan di jalan Allah untuk menggenapkan kehendak Allah, wajah-Nya seperti gunung batu. Dalam hal menggenapkan kehendak Allah, Dia sa-ngatlah kuat.

Menanggung Penyakit Kita

dan Memikul Kesengsaraan Kita

Dalam Yesaya 53:4-5 kita menjumpai perkataan me-ngenai Tuhan Yesus, “Tetapi sesungguhnya, penyakit kita-lah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang di-pikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul, dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pem-berontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita men-jadi sembuh.” Apa yang dijelaskan dalam ayat-ayat ini berkaitan dengan kematian Tuhan di atas salib. Dia me-nanggung penyakit kita dan memikul kesengsaraan kita. Dia tertikam karena pemberontakan kita dan diremukkan karena kejahatan kita. Ganjaran yang mendatangkan ke-selamatan bagi kita, yaitu ganjaran untuk damai sejah-tera kita, ditimpakan kepada-Nya, dan oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh.

Dianiaya dan Ditindas

Menurut Yesaya 53:7 Tuhan tidak membuka mulut-Nya ketika Ia dianiaya dan ditindas, “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang meng-gunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” Ini berarti bahwa ketika Tuhan dibawa ke atas salib, Ia seperti domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya. Ketika Ia ditindas dan dianiaya, Ia tidak berkata apa pun.

Allah Menimpakan Kepada-Nya

Kejahatan Kita Semua

Yesaya 53:6 mengatakan, “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.” Kemudian ayat 10 melanjutkan, “Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai kurban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana oleh-Nya.” Dari ayat-ayat ini kita nampak bahwa Allah menimpakan kepada-Nya kejahatan kita sekalian, meremukkan Dia dengan kesakitan, dan men-jadikan diri-Nya sebagai kurban penebus salah.

Mencurahkan Nyawa-Nya kepada Maut

Yesaya 53:12 mengatakan, “Sebab itu Aku akan mem-bagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan (mencurahkan) nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menang-gung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.” Tuhan mencurahkan nyawa-Nya ketika Ia mati di atas salib. Ia disalibkan di antara dua penyamun dan karenanya terhitung di antara para pemberontak. Fakta bahwa Ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa sya-faat bagi para pemberontak digenapi oleh doa Tuhan di kayu salib, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34a).

Terputus dari Negeri Orang-orang Hidup

Menurut Yesaya 53:8, Tuhan Yesus “terputus dari ne-geri orang-orang hidup.” Tuhan terputus dari negeri orang-orang hidup berarti Ia dibunuh.

Dibangkitkan untuk Melihat Buah Jerih Payah-Nya

Yesaya 53:11 mengungkapkan bahwa Tuhan dibangkit-kan untuk melihat buah jerih payah-Nya, “Sesudah kesusah-an jiwanya, ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenar-kan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.” Di dalam kebangkitanlah Tuhan melihat buah dari jerih payah-Nya. Sekarang setelah kebangkitan-Nya, Dia, sebagai Hamba Allah yang benar, membenarkan ba-nyak orang, yang kejahatan-kejahatannya Ia pikul.

Diangkat dan Sangat Ditinggikan

Yesaya 52:13 berbicara tentang pengangkatan Tuhan, “Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggi-kan, disanjung, dan dimuliakan.” Setelah kebangkitan-Nya, Tuhan diangkat dan ditinggikan.

Menjadi Perjanjian bagi Umat Manusia,

Terang bagi Bangsa-bangsa

Yesaya 42:6 mengatakan, “Aku ini, TUHAN, telah me-manggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah meme-gang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa.” Setelah keterangkatan-Nya, Tuhan menjadi perjanjian bagi orang Yahudi dan terang bagi bangsa-bangsa lain. Hal ini berarti dalam keterangkatan-Nya, Tuhan Yesus sendiri menjadi Perjanjian Baru bagi umat Allah. Ia juga menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain, bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah, melalui pemberita-an Injil yang dilakukan oleh murid-murid-Nya.

Penyelamatan Allah Hingga ke Ujung Bumi

Dalam Yesaya 49:6 kita nampak bahwa Tuhan adalah penyelamatan Allah hingga ke ujung bumi, “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegak-kan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan mem-buat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya ke-selamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” Kristus dalam keterangkatan-Nya kini adalah keselamatan Allah sampai ke segala penjuru bumi. Nubuat mengenai Tuhan Yesus ini dikatakan oleh Yesaya tujuh ratus tahun sebelum kelahiran Tuhan Yesus.

Dalam Kitab Yesaya kita menemukan nubuat yang rinci mengenai Tuhan Yesus sebagai Hamba Allah. Dalam Perjanjian Baru kita tidak dapat menemukan catatan sedemikian ini. Dengan mempelajari nubuat-nubuat dalam Kitab Yesaya mengenai Kristus sebagai Hamba Allah, kita dapat mengerti lebih sempurna mengenai apa yang dicatat dalam Injil Markus mengenai Dia sebagai Hamba.

Perkataan Paulus

mengenai Kristus sebagai Hamba

Dalam Filipi 2:5-11 ada perkataan Rasul Paulus mengenai Kristus sebagai Hamba Allah.

Eksis dalam Rupa Allah

Dalam Filipi 2:5-6 Paulus berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.” Di sini kita nampak bahwa Tuhan bukan hanya eksis dengan Allah, tetapi juga di dalam rupa Allah. Kata Yunani yang diter-jemahkan “dalam” di sini menunjukkan eksistensi sejak permulaan. Ini menyatakan eksistensi (keberadaan) Tuhan adalah kekal. Mengatakan bahwa Kristus eksis di dalam ru-pa Allah berarti Ia berada dalam ekspresi apa adanya Allah (Ibr. 1:3), juga berarti Ia identik dengan esens dan sifat per-sona Allah. Ini mengacu kepada ke-Allahan Kristus.

Menurut Filipi 2:6, walaupun Kristus eksis dalam rupa Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu se-bagai sesuatu yang harus dipertahankan. Ia setara dengan Allah, tetapi Ia tidak menganggap kesetaraan ini sebagai harta milik yang harus dipertahankan dan disimpan. Seba-liknya, Ia bersedia datang ke dunia sebagai manusia.

Mengosongkan Diri-Nya Sendiri,

Mengambil Rupa Seorang Hamba

Dalam Filipi 2:7 Paulus meneruskan, “melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa se-orang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Tuhan mengosongkan diri-Nya sendiri dari kedudukan dan kemuli-aan-Nya beserta hal-hal lain yang berkaitan dengan ke-Allahan-Nya. Tentu saja, Ia tidak mengosongkan keilahian-Nya. Setelah mengosongkan diri-Nya, Tuhan datang seba-gai seorang manusia, mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia.

Dalam Filipi 2:7 kita mendapatkan dua fase yang penting: “rupa” dan “menjadi sama”. Dalam inkarnasi-Nya Tuhan tidak mengubah sifat ilahi-Nya, Ia hanya mengubah ekspre-si luar-Nya, dari rupa Allah kepada rupa seorang hamba. Ini bukan perubahan esens, melainkan perubahan wujud. “Rupa Allah” menyiratkan realitas batiniah dari ke-Allahan Kristus; “menjadi sama dengan manusia” menunjukkan pe-nampilan lahiriah dari keinsanian Kristus. Bagi manusia ia tampak sebagai manusia secara lahiriah, tetapi sebagai Allah, Ia memiliki realitas ke-Allahan secara batiniah. Ia mengambil rupa seorang hamba dan menjadi seorang manusia, sama dengan manusia.

Dalam Lukas 2 kita dapat nampak Tuhan sebagai seorang manusia. Ketika Ia datang ke Yerusalem dengan orang tua-Nya, Ia adalah manusia, seorang anak. Di sana kita tidak nampak Tuhan sebagai seorang Hamba. Ketika Tuhan Yesus keluar untuk melayani, itulah saatnya kita nampak Dia sebagai seorang Hamba. Ketika Tuhan Yesus melayani Dia adalah seorang Hamba. Misalnya, ketika Ia membasuh kaki murid-murid-Nya, Ia berada dalam rupa seorang Hamba (Yoh. 13:4-5). Pertama-tama, Tuhan men-jadi manusia, menjadi sama dengan manusia. Kemudian Ia berperilaku sebagai seorang Hamba dalam rupa seorang Hamba.

Jika seorang saudara berdiri untuk berbicara dalam sidang gereja, ia tentunya mempunyai rupa manusia. Akan tetapi, jika saudara yang sama itu mengenakan pakaian kerja dan mulai membersihkan karpet, kita boleh mengata-kan ia memakai rupa seorang petugas kebersihan. Ilustrasi sederhana ini kiranya membantu kita mengerti bagaimana Tuhan menjadi manusia dan kemudian akhirnya melayani dalam rupa seorang Hamba.

Ketika para murid bertengkar mengenai siapa yang paling besar di antara mereka, Tuhan memberi tahu me-reka bahwa Ia datang untuk melayani sebagai seorang Hamba, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberi-kan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk. 10:45). Di sini Tuhan seakan-akan berkata, “Lihatlah Aku, Aku telah datang untuk melayani sebagai seorang Hamba, bahkan memberikan nyawa-Ku. Aku siap memberikan nya-wa-Ku sebagai tebusan.” Melalui ini kita nampak bahwa dalam ministri-Nya Tuhan melayani dalam rupa seorang Hamba.

Merendahkan Diri-Nya, Taat Sampai Mati

Dalam Filipi 2:8 Paulus berkata, “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Tuhan

merendahkan diri-Nya sendiri adalah langkah lebih lanjut dalam mengosongkan diri-Nya. Tindakan Kristus merendah-kan diri-Nya menyatakan pengosongan diri-Nya. Tuhan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Tuhan ma-ti di kayu salib menyatakan bahwa Dia telah merendahkan diri-Nya sampai pada puncaknya. Bagi orang Yahudi, kema-tian di kayu salib adalah kutukan (Ul. 21:22-23), dan bagi orang-orang bukan Yahudi itu adalah hukuman mati yang dijatuhkan bagi pembangkang (penjahat) dan budak-budak (Mat. 27:16-17, 20-23). Jadi, kematian di kayu salib sangat-lah memalukan (Ibr. 12:2).

Diangkat Tinggi dan Diberikan

Nama di Atas Segala Nama

Dalam Filipi 2:9 Paulus berkata, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.” Tuhan sangat merendahkan diri-Nya, tetapi Allah meninggikan-Nya ke puncak yang ter-tinggi. Sejak kenaikan Tuhan, tidak ada nama di bumi yang melebihi nama Yesus. Perkataan Paulus dalam Filipi 2:9 mengenai keterangkatan Tuhan adalah sama dengan yang dinubuatkan dalam Yesaya 52:13.

Tidak Ada Catatan Silsilah-Nya atau Status-Nya

Dalam Injil Markus tidak ada catatan tentang silsilah Tuhan atau status-Nya. Karena Markus menyajikan Penye-lamat sebagai seorang Hamba, ia tidak menceritakan silsilah atau status-Nya, sebab nenek moyang seorang hamba tidak berharga untuk dicatat.

Dengan Catatan Terutama Mengenai

Perbuatan-perbuatan-Nya yang Unggul

Catatan mengenai Kristus sebagai Hamba Allah dalam Injil Markus terutama bukanlah catatan kata-kata-Nya yang menakjubkan, melainkan catatan mengenai perbuatanperbuatan Tuhan yang unggul (melampaui).

Perbuatan-perbuatan ini memamerkan kebajikan dan kesempurnaan keinsanian-Nya yang indah, serta kemuliaan dan kebesaran (keagungan) keilahian-Nya. Kita perlu memi-liki kesan yang dalam terhadap fakta ini. Dalam Injil Markus kita nampak seorang hamba, Ia memiliki kebajikan dan ke-sempurnaan keinsanian yang elok, juga memiliki kemuliaan dan kebesaran keilahian.

HAMBA-PENYELAMAT

BAGI ORANG-ORANG DOSA

Injil Markus menyajikan Tuhan Yesus sebagai Hamba Allah dan sebagai Hamba-Penyelamat bagi orang-orang dosa. Sebagai Hamba-Penyelamat, Tuhan melayani orang-orang dosa dan memberi hayat-Nya sebagai tebusan untuk mere-ka (10:45). Dengan memberikan hayat-Nya sebagai tebusan bagi orang-orang dosa, Tuhan sebagai Hamba-Penyelamat merampungkan kehendak kekal Allah, yang Ia layani seba-gai Hamba.