GEREJA DI PERGAMUS
Pembacaan Alkitab: Why. 2:12 - 17
Gereja di Pergamus
Kita telah melihat gereja di Efesus yang merupakan gereja akhir zaman para rasul sebelum Rasul Yohanes wafat, yang oleh Yohanes sendiri disebut gereja akhir zaman, dan yang dikatakan dalam 2 Petrus maupun 2 Timotius itu. Kemudian kita pun telah melihat gereja di Smirna, yakni zaman di mana gereja teraniaya. Baiklah kini kita melihat gereja di Pergamus.
Kata “pergamus” berarti “menikah” atau “bergabung”. Di sini kita nampak gereja mengalami satu perubahan. Saya kira orang Kristen pada masa itu tidak mengerti arti surat yang ditujukan kepada gereja di Pergamus ini. Namun kini, setelah kita menoleh melihat sejarah gereja, kita dapat memahaminya dengan jelas.
Gibbon, seorang ahli sejarah, mengatakan, “Pada masa itu, seandainya seluruh orang Kristen di Kota Roma dibunuh, maka kota tersebut akan menjadi sunyi, tidak ada penduduknya lagi.” Jadi, kalau ada penganiayaan terbesar di dunia sekalipun, tetap tidak akan berdaya membasmi gereja. Maka Iblis mengubah siasatnya dalam menyerang gereja. Kini, dunia bukan saja tidak menentang gereja, bahkan kerajaan dunia yang terbesar pada masa itu, yaitu Roma, menerima kekristenan menjadi agama negaranya.
Konon, kaisar Roma, Konstantin, dalam mimpinya melihat sebuah salib dengan sebuah kalimat, “Bersandarkan tanda ini bisa menang”. Kemudian ia menyelidiki dan mengetahui bahwa salib itu adalah tanda kekristenan, maka ia segera menerima kekristenan menjadi agama negaranya. Semua orang dianjurkan menerima baptisan, dan kepada orang yang mau dibaptis diberi hadiah dua setel pakaian putih serta beberapa mata uang perak. Demikianlah terjadi perkawinan atau penggabungan antara gereja dengan dunia; pada saat itulah gereja telah jatuh.
Pada bab sebelumnya kita nampak gereja di Smirna yang menderita sengsara begitu hebat, namun ia tidak dicela Tuhan. Akan tetapi, di sini kita nampak Pergamus telah bergabung dengan dunia hingga menjadi gereja negara yang paling besar. Menurut pandangan manusia, itu berarti gereja telah berkembang dan maju, namun hal itu tidak diperkenan Tuhan. Karena bila gereja menggabungkan diri dengan dunia, maka kesaksian gereja pasti akan habis. Di atas dunia ini, gereja adalah pelancong. Seperti sebuah perahu yang hanya boleh berlayar di atas air; tetapi kalau airnya masuk ke dalam perahu, itu tidak boleh, itu akan celaka!
“Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua.” Tuhan berkata bahwa pada diri-Nya ada pedang tajam bermata dua; artinya Dia akan melaksanakan penghakiman.
Gereja telah jatuh. Namun ini tidak berarti bahwa gereja pada masa itu tidak memiliki kesaksian sama sekali. Tak peduli dalam keadaan apa pun, realitas gereja tetap ada. Pergamus adalah gereja yang menyusul di belakang Smirna, ia berada dalam situasi dan tempat yang bagaimana? Tuhan berkata, “Aku tahu di mana engkau tinggal, yaitu di tempat takhta Iblis.” Tuhan mengakui bahwa ia berada dalam situasi yang sangat sulit. Ia justru berada di tempat di mana Iblis bertakhta. Sudah pasti gereja ini sulit sekali untuk mempertahankan kesaksiannya.
Di sini ada seorang yang istimewa, yaitu “Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku.” Dalam sejarah tidak terdapat orang ini. Karena ini kitab nubuat, maka kita juga harus mencari makna kata itu. “Anti” berarti “menentang”, “pas” berarti “segalanya”. Ada seorang yang setia kepada Tuhan, ia adalah Antipas, ia menentang segalanya, semuanya ditentangnya. Ini bukan berarti tidak peduli dalam keadaan apa ia dengan sengaja mengacau dan menentang, melainkan demi memihak kepada Allah ia menentang segala yang tidak diperkenan Allah. Sudah pasti orang yang demikian tergolong kaum sahid. Sejarah tidak mengenal dia, namun Tuhan mengenalnya.
Ketika orang yang setia itu terbunuh, Tuhan berfirman, “Engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku.” Di sini ada dua perkara: nama Tuhan dan iman kepada Tuhan. Anak-anak Allah adalah orang-orang yang dipilih Allah dari antara orang kafir untuk menjadi milik Tuhan dan di bawah nama Tuhan. Ada suatu prinsip dasar yang berbeda antara kekristenan dengan agama lainnya. Dalam agama lainnya, orang sudah cukup dengan menerima ajaran-ajarannya saja; tetapi dalam kekristenan, jika orang tidak percaya kepada Tuhan, itu tidak akan berarti. Nama Tuhan mewakili diri Tuhan sendiri. Inilah keistimewaannya. Tidak saja demikian, nama ini pun menunjukkan bahwa Tuhan pernah datang ke dunia ini, Dia telah kembali, Dia telah mati namun telah bangkit kembali, karenanya Dia meninggalkan nama di antara kita. Jika kita kehilangan nama Tuhan ini, maka kita akan kehilangan kesaksian kita. Ada satu perkara yang wajib diperhatikan secara khusus oleh anak-anak Allah, yaitu kita harus menyatakan diri kita sebagai orang yang berada di bawah nama Tuhan. Nama ini adalah nama yang istimewa yang dapat melindungi kita, agar kita tidak kehilangan kesaksian.
Tuhan juga berkata, “Engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku.” Istilah “iman” di sini dalam bahasa Yunani adalah “pistin”, berarti “percaya”. Namun ini bukan percaya yang biasa, melainkan yang unik, berbeda dengan percaya lainnya. Tuhan Yesus berkata, engkau tidak menyangkal iman yang unik ini. Kekristenan bukan filsafat, bukan ilmu pengetahuan, bukan etika, dan bukan pula ilmu kejiwaan; semua itu bukan. Bahkan sepuluh perintah, pengajaran di atas gunung, juga tidak bisa mewakili kekristenan. Kekristenan adalah satu percaya atau iman. Setiap anak-anak Allah wajib memelihara iman ini. Kepercayaan kita terhadap Tuhan sedikit pun tidak boleh berubah. Justru iman inilah yang telah memisahkan kita dari dunia ini. “Engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku.” Kedua perkara itulah yang dipuji oleh Tuhan.
“Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: Di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berzina.”
Bileam sebenarnya orang kafir, kita tidak tahu mengapa Allah menyebutnya nabi. Hal ini mungkin sama dengan Saul yang walaupun mendapat gerakan Roh Allah, tetapi Roh Allah tidak tinggal di dalamnya. Pada masa itu, karena bani Israel terus menang perang, maka Balak merasa takut dan dipanggillah Bileam serta katanya, “Engkau adalah seorang nabi, kutuklah bangsa itu.” Bileam tamak terhadap uang yang akan diberikan oleh Balak, maka ia mau melakukan hal tersebut. Pada mulanya Allah melarang, tetapi akhirnya dibiarkan. Tetapi Bileam tidak berdaya, ia tidak bisa mengutuk bani Israel. Dan karena ia telah menerima uang, ia merasa malu terhadap Balak. Maka sebelum pergi, ia memberikan suatu siasat untuk orang Moab, yaitu menyuruh perempuanperempuan Moab mendekati orang Israel. Akhirnya perempuan Moab itu kawin dengan laki-laki Israel. Demikianlah mereka membawa berhala ke dalam keluarga Israel. Mereka telah menjerumuskan orang Israel tidak saja ke dalam perzinaan bahkan juga ke dalam penyembahan berhala. Saat itu bangkitlah murka Allah atas bani Israel dan terbunuhlah mereka sebanyak 24.000 orang. Karena kejadian ini, Moab terhindar dari kemusnahan. Dalam Bilangan 25, kita nampak perempuan-perempuan Moab bersatu dengan bani Israel; pada pasal 31, barulah kita tahu bahwa itu adalah hasil rancangan Bileam.
Allah telah menunjukkan arti Pergamus kepada kita, yakni menikah dengan dunia. Pada mulanya dunia menentang gereja, kini malah menikah dengannya. Berulang kali telah saya katakan bahwa “ekklesia” berarti orang-orang yang dipanggil keluar dari dunia. Orang-orang itu tidak menggabungkan diri dengan dunia, melainkan yang disisihkan, dipanggil keluar dari dunia. Demikian barulah gereja. Jadi perbuatan Bileam tidak lain adalah merusak dan meniadakan perbedaan antara gereja dengan dunia, dan akibatnya ialah penyembahan terhadap berhala.
Di sini ada dua perkara yang harus khusus kita perhatikan: perzinaan dan penyembahan berhala. Ini sangat khusus, karena dua perkara itu disebutkan secara bersamaan. Dalam 1 Korintus, dua perkara itu pun disejajarkan. Allah sangat membenci kedua hal itu baik dalam segi tubuh daging maupun dalam segi rohani. Dengarkanlah apa yang dikatakan dalam Yakobus 4:4, “Tidakkah kamu tahu bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah?” Jadi, Allah sangat membenci kalau umat-Nya bergabung dengan dunia. Mamon (uang) juga beroposisi dengan Allah, karenanya Tuhan berkata, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat. 6:24). Jika orang mengabdi kepada Allah, ia tidak dapat mengabdi kepada Mamon; sebaliknya jika orang mengabdi kepada Mamon, ia tidak dapat mengabdi kepada Allah. Di sini kita nampak perkara yang sangat penting: Mamon bermusuhan dengan Allah. Banyak berhala yang keberadaannya tergantung pada Mamon.
Hari ini tidak ada orang Kristen yang membunuh orang dan menyembah berhala. Akan tetapi, bila kita tamak akan uang, mengandalkan kuasa uang, itu sama dengan menyembah berhala (Ef. 5:5). Mamon merupakan prinsipnya berhala, maka Allah menghendaki kita menjauhkan diri dari Mamon. Kita telah nampak bahwa berzina bergandengan dengan berhala, sedang bergabung dengan dunia bergandengan dengan tamak akan uang. Saya ingin membentangkan pihak-pihak yang saling berlawanan di dalam Alkitab kepada kalian. Kalau Anda bisa nampak negatifnya, Anda pun bisa nampak positifnya. Alkitab selalu menaruh Iblis sebagai lawan Kristus; daging sebagai lawan Roh Kudus; dunia beserta Mamon sebagai lawan Allah. Karenanya dalam 1 Yohanes 2:15 dikatakan, “Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih kepada Bapa tidak ada di dalam orang itu.” Mamon berlawanan dengan Allah. Bila seseorang mengabdi kepada Mamon, ia tidak mungkin mengabdi kepada Allah.
Perbuatan Bileam tidak lain ialah menggabungkan gereja dengan dunia. Perlu Kaisar Konstantin mengangkat kita, itulah pengajaran Bileam. Pencegahan terhadap masuknya ajaran Bileam ke dalam diri kita lebih sulit dilakukan daripada perkara lainnya. Hari ini, umumnya anak-anak Allah ingin menjadi besar dan memiliki sebanyakbanyaknya tanpa mengindahkan kesucian dan kebersihan. Bertoleransi terhadap dosa, bertoleransi terhadap ajaran Bileam, akibatnya ialah menyangkal nama Tuhan.
Di sini, Tuhan khusus menyinggung Bileam. Bileam adalah orang pertama yang memperdagangkan karunia demi Mamon. Perjanjian Baru menyinggung hal ini beberapa kali. Dalam 2 Petrus 2, ia dilukiskan sebagai orang yang loba akan upah yang tidak halal. Kitab Yudas mengatakannya sebagai orang yang berlari-lari mengejar keuntungan dengan lobanya. Cobalah kita bayangkan sejenak, andaikata gereja di Korintus berniat mendatangkan Paulus, mungkinkah sebelumnya mereka menanyakan tentang honorarium yang akan diberikan; atau gereja di Yerusalem membuat suatu perjanjian atau kontrak dengan Petrus, yaitu akan membayar kompensasi sekian dinar per tahunnya. Mungkinkah hal demikian terjadi? Semua pekerja Allah sebenarnya berharap pada pemberian Allah semata. Mereka tidak sepatutnya meminta apa-apa kepada manusia, dan tidak pula menerima uang dari orang kafir (3 Yoh. 7).
Akan tetapi pada masa Konstantin, setiap pekerja Allah telah menerima upah/gaji dari bendahara negara. Hal itu dipraktekkan kira-kira tahun 300 Masehi. Setiap pekerja Allah menerima gaji, inilah buktinya bahwa ajaran Bileam telah masuk. Ajaran Bileam mutlak bukan yang ditentukan oleh Allah. Andaikata Anda bertanya kepada salah seorang rasul pada masa dulu, “Berapakah honor Anda setiap bulan?”
Bukankah ini sebuah lelucon! Namun pada hari ini keadaan yang demikian sudah menjadi terlalu biasa. Kalau kita bisa percaya dan bersandar kepada Allah, jadilah pekerja Allah; tetapi kalau kita tidak beriman untuk bersandar kepada-Nya, lebih baik jangan menjadi pekerja-Nya. Kita harus memperhatikan hal ini dengan sebaik-baiknya di hadapan Allah.
Menyusul masalah ini, kembali masalah pengikutpengikut Nikolaus disinggung oleh Tuhan. Kata “demikian juga”, merupakan kata-kata yang melanjutkan kalimat yang di atasnya. Sebagaimana Tuhan menentang ajaran Bileam, begitu pula Dia menentang ajaran pengikut Nikolaus. Allah telah menetapkan norma-norma gereja yang sewajarnya di dalam Alkitab. Mari kita baca bersama Injil Matius 20:25-28, “Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, ‘Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang’.”
Sudahkah Anda nampak? Gereja didirikan oleh Tuhan sendiri, dan di dalamnya tidak dibenarkan jika ada raja (penguasa) atau pembesar-pembesar, tingkatan-tingkatan yang demikian tidak sepatutnya ada di dalam gereja. Tuhan berkata, “Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Jadi siapa yang menjadi pelayan, dialah yang besar. Besar bukan ditentukan dari kedudukan, tetapi ditentukan dari pelayanan. Jika Anda membaca Matius 23:8-11, Anda akan nampak lebih jelas lagi. Prinsip asasi gereja ialah kita masing-masing adalah saudara, tidak ada Rabi, tidak ada guru, juga tidak ada Bapa.
Ketika Konstantin menerima kekristenan, saat itulah muncul pengajaran Bileam dan pengajaran Nikolaus. Kita lihat munculnya sistem “bapa”. Di antara banyak bapa itu, ada satu bapa yang paling tinggi kedudukannya, itulah Paus. Ketika seseorang mencium kakinya, ia masih harus berkata, “Ya, Tuhanku.” Bersamaan dengan itu, kita pun melihat di Vatikan ada pejabat-pejabat tinggi. Banyak pula duta besar dari berbagai negara yang ditempatkan di situ. Sehingga di sana ada raja dan pembesar-pembesar; ada yang disebut bapa, ada pula yang disebut rabi. Semua itu tidak lain adalah ajaran-ajaran pengikut Nikolaus.
Karena itu, orang-orang yang berkedudukan dan bereputasi di dunia ini harus hati-hati, jangan sekali-kali memasukkan perkara duniawi ke dalam gereja. Jika Anda tidak dapat bersaudara dengan orang rendah yang duduk di sebelah Anda, itu berarti di dalam Anda ada masalah. Anda duduk di tengah-tengah saudara dan saudari, namun Anda tidak dapat memperlakukan diri sendiri sebagai saudara atau saudari, itulah tandanya bahwa ajaran pengikut-pengikut Nikolaus telah muncul. Kata “laus” tidak hanya berarti rakyat biasa, juga berarti orang yang bukan ahli. Misalnya seorang dokter adalah ahli, maka mereka menganggap semua orang yang bukan dokter sebagai orang luar. Tukang kayu dengan tukang kayu adalah sama-sama ahli, dan mereka menganggap orang yang bukan seprofesi dengan mereka sebagai orang luaran. Pengikut-pengikut Nikolaus adalah orang yang mengatasi orang awam dan mereka menganggap dirinya sebagai ahli. Tuhan berkata bahwa hal itu adalah yang ditentang-Nya.
Keadaan di Efesus berbeda dengan di Pergamus. Di Efesus hanya ada perbuatan pengikut Nikolaus, tetapi di Pergamus telah muncul ajaran Nikolaus. Perbuatan selalu mendahului ajaran; dan entah harus melewati waktu berapa lama, suatu perbuatan baru bisa berkembang menjadi ajaran. Kalau sudah ada perbuatannya kemudian ditambah dengan ajarannya, maka keadaannya sudah menjadi gawat.
Beberapa tahun yang lalu saya bertemu dengan seorang anggota gereja, ia bergundik. Lalu ada seorang saudara meminta saya untuk menasihatinya. Ternyata ia tidak saja tidak mengakui kesalahannya, malah ia membantah dengan menunjukkan contoh-contoh dalam Alkitab demi menutupi dosanya itu. Bergundik adalah suatu perbuatan, sedang membantah dengan mengutip ayat Alkitab itulah ajaran. Begitulah keadaan dewasa ini. Ajaran pengikut-pengikut Nikolaus sudah menjadi hal yang terang-terangan. Bagaimana Pergamus bisa menghasilkan ajaran-ajaran itu? Seperti telah kita katakan di depan, sebab Konstantin menerima kekristenan sebagai agama negaranya sehingga gereja menikah dengan dunia.
Asalkan Anda orang Roma, Anda sudah boleh menerima baptisan. Karenanya dalam gereja penuh dengan orang-orang yang tidak beriman. Sebenarnya dalam gereja hanya terdapat saudara, dan mereka semua adalah imam. Pada saat ini gereja penuh dengan orang campuran. Sudah tentu orang-orang demikian tidak bisa melayani Allah. Untuk memudahkan persoalannya, maka mereka memilih segolongan orang dan mengatakan, “Kalian saja yang menanggung urusan-urusan rohani itu, dan orang-orang lainnya biar menjadi kaum awam saja.” Maka banyak sekali orang yang menjadi anggota gereja sama sekali tidak mengenal Tuhan, dan orang yang mengenal Tuhan otomatis menjadi golongan ahli. Itulah proses munculnya ajaran pengikut-pengikut Nikolaus. Dan itu adalah akibat dari pernikahan antara gereja dengan dunia.
Di Efesus, pengikut-pengikut Nikolaus masih merupakan perbuatan saja, tetapi di Pergamus, ia sudah berubah menjadi ajaran. Sekarang muncul satu saran: sejak hari ini, gereja adalah tanggung jawab kaum ahli (para rohaniwan), bukan tanggung jawab kaum awam. Sekarang ajarannya ialah: orang-orang boleh tidak rohani, urusan rohani serahkan saja kepada kaum ahli; dan kita yang bukan ahli boleh saja menjadi duniawi dan mengerjakan urusan duniawi sekehendak kita. Dan sekarang doktrinnya ialah: dalam gereja ada dua golongan orang, satu golongan khusus mengerjakan urusan rohani dan golongan lain khusus mengerjakan urusan duniawi. Yang golongan awam dan biasa, cukup asal datang mengikuti kebaktian saja, urusan lainnya boleh diabaikan. Jika ada orang membentangkan prinsip bersidang seperti yang tercantum pada 1 Korintus 14, itu sama sekali tidak mungkin dilaksanakan. Doktrin Bileam telah membawa masuk ajaran pengikut-pengikut Nikolaus.
Saya yakin benar bahwa hal inilah yang paling dibenci Allah. Karena itu, kita harus dengan serius memperhatikannya. Kita mengakui dalam gereja ada jabatan, ada teladan Paulus yang melayani sambil mengerjakan kemah, ada teladan Petrus, Yakobus, dan Yohanes yang dengan sepenuh waktu memberitakan Injil. Namun kedudukan sebagai saudara yang kita katakan hari ini sama sekali tidak berhubungan dengan jabatan itu. Dalam gereja lokal orang yang menjadi diaken atau penatua adalah saudara-saudara dari gereja lokal itu sendiri. Setiap saudara saudari sama-sama mengambil bagian dalam urusan rohani gereja. Mereka masing-masing adalah imam. Pelayanan mereka sekali-kali tidak dapat diwakili oleh penatua atau diaken. Penatua atau diaken hanya “mengawasi” belaka. Pekerja-pekerja Allah yang datang di dalam gereja kedudukannya tidak lebih dari sebagai seorang saudara saja. Di sinilah letaknya perbedaan antara saudara dengan pengikut-pengikut Nikolaus.
Kita nampak dalam Alkitab bahwa setiap anak-anak Allah dapat bersaksi, hanya para rasul bersaksi lebih banyak. Sifat atau status mereka adalah sama, yang berbeda hanya banyak sedikitnya pelayanan mereka. Tetapi ajaran pengikutpengikut Nikolaus justru terbalik, yakni hanya segelintir orang golongan istimewa yang menangani urusan rohani. Itulah perbuatan yang tercela di hadapan Allah. Sebab jika demikian, maka gereja boleh menjadi duniawi, asal ada segelintir orang yang rohani sudah cukup. Di dalam gereja, dipilih beberapa orang yang sangat rohani, lalu menyerahkan segala urusan rohani kepada mereka; mereka menjadi satu kasta/tingkatan yang lain yang memborong semua urusan rohani. Sistem bapa dalam gereja dunia, sistem paderi dalam gereja negara, dan sistem pendeta dalam gereja independen, sifat dan asasnya adalah sama. Mereka semua adalah pengikut-pengikut Nikolaus.
Dalam Alkitab hanya ada saudara. Ada karunia gembala (pastor atau pendeta), tetapi tidak ada sistem pendeta. Sistem pastor atau pendeta itu adalah tradisi manusia. Jika anakanak Allah tidak dapat kembali ke kedudukan yang semula, bagaimanapun mereka berusaha, tidak akan benar. Gereja tidak patut bergabung dengan dunia dan tidak patut menerima orang yang tak beriman menjadi anggotanya. Kalau tidak, maka gereja akan sangat mudah menerima ajaran pengikut-pengikut Nikolaus. Manusia harus terlebih dulu dipisahkan dengan dunia, baru bisa masuk gereja. Begitu kita mengizinkan orang-orang yang tak beriman masuk ke dalam gereja, maka gereja bukan lagi gereja, melainkan dunia. Kekudusan dan perbedaan gereja harus kita pertahankan, sekalipun dengan mengeluarkan harga berapa pun juga.
“Sebab itu, bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang dimulut-Ku ini.”Perkataan Tuhan di sini sangat keras sekali. Dia akan menghakimi semua orang yang ingkar kepada-Nya. Semoga Allah membelaskasihani kita, agar di antara kita tidak ada orang yang menjadi pengikut Nikolaus! Saya yakin, bila gereja menjadi rohani, pengikutpengikut Nikolaus tentu tidak akan muncul. Tetapi begitu gereja menjadi duniawi, pengikut-pengikut Nikolaus segera muncul. Kehendak Allah yang semula terhadap bani Israel ialah seluruh bani Israel itu menjadi imam-imam Allah. Tetapi berhubung mereka berdosa, terpaksa Allah menyisihkan suku Lewi untuk mewakili mereka menjadi imam. Jadi, begitu gereja jatuh menjadi duniawi, maka pelayanan kepada Allah itu dialihkan kepada segolongan minoritas. Allah kini menghendaki segenap orang dalam gereja melakukan pekerjaan rohani.
“Siapa yang menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapa pun, selain oleh yang menerimanya.”
Tuhan menjanjikan dua hal kepada pemenang: manna yang tersembunyi dan batu putih. Manna yang tersembunyi tidak sama dengan manna yang di padang gurun. Ketika bani Israel mengembara di padang belantara, mereka setiap hari makan manna yang diturunkan Allah dari surga. Suatu hari, Musa menyuruh mereka menyimpan manna segomer ke dalam sebuah buli-buli emas, dan buli-buli emas itu ditaruh dalam tabut perjanjian. Maksudnya ialah untuk dijadikan bukti kepada angkatan yang akan datang, bagaimana Allah telah memimpin nenek moyang mereka melewati padang gurun (lihat Kel. 16:14-35), sehingga mereka semua mengetahui perbuatan Allah yang ajaib itu. Bagi orang yang pernah mengecap rasa manna, pasti mempunyai kesan lain terhadap manna yang tersembunyi tadi. Ya, akan timbul kenangan di dalam hati mereka. Berbeda dengan orang yang belum pernah memakannya. Meskipun mereka mungkin bisa melihatnya, namun mereka tidak mempunyai kesan apa-apa terhadapnya.
Tuhan akan memberi manna yang tersembunyi kepada para pemenang, artinya, kepada mereka akan diberikan suatu kesan atau kenangan. Semua pengalaman di hadapan Allah itu ada nilainya dan tidak akan lenyap begitu saja. Banyak saudara bertanya kepada saya, apakah pengalamanpengalaman kita di hadapan Allah ada arti dan nilainya di alam kekal kelak? Jika kita mengerti makna manna yang tersembunyi itu, kita dapat mengetahui ada tidaknya nilai pengalaman kita tersebut. Dan jika kita berkesempatan melihat “manna yang tersembunyi”, niscayalah kita akan mengulangi pengalaman kita akan “manna sehari-hari”. Kesulitan apa pun yang kita alami, dan air mata yang kita alirkan demi Tuhan pada hari ini, kelak akan menjadi pelajaran ulangan. Bagi saya manna yang tersembunyi adalah manna sehari-hari. Bagi orang yang belum pernah melihat manna, ketika ia melihatnya pada hari itu — meskipun mengetahui pimpinan karunia ini, tetapi karena belum pernah mengecapnya — pasti tidak mempunyai kenangan apa-apa terhadapnya. Tetapi bagi orang yang pernah makan manna, itu akan menjadi suatu kenangan yang sepenuhnya.
Manna yang tersembunyi adalah prinsip yang besar dan juga satu mustika yang besar dalam Alkitab. Kelak kita akan makan manna yang tersembunyi dan yang surgawi itu. Kalau di atas diri kita tidak ada tanda bilur dan luka, bukan sebagai pemenang, tidak pernah mengalami semua itu, meskipun kelak kita diberi manna yang tersembunyi, kita tidak akan memiliki kesan atau kenangan apa pun. Jangan sekalikali berkata, “Pengalaman-pengalaman yang kami alami hari ini tidaklah berarti.” Tidak ada satu pengalaman yang merupakan pengalaman yang merugikan. Pada hari itu, kita semua akan terkenang. Jangan pula kita mengatakan, “Di dalam kerajaan semuanya sama saja.” Tidak, tidak sama! Pengalaman di bumi hari ini akan berkaitan dengan kenikmatan kita di kemudian hari. Manna yang tersembunyi, bagi orang yang mengetahuinya, ia akan tahu; bagi orang yang tidak mengetahuinya, ia tidak akan tahu. Pada hari ini, kita mengalami penderitaan dan sengsara; pada hari itu, Tuhan akan menyeka air mata kita. Orang yang tidak pernah mengucurkan air mata, dapatkah ia merasakan kemustikaan penyekaan air mata oleh Tuhan?
Masih ada satu pahala, yakni batu putih yang bertuliskan nama pemenang itu sendiri. Tuhan memberinya satu nama baru, dan sudah tentu nama baru itu adalah yang sesuai dengan keadaannya di hadapan Tuhan. Ada saudara meminta saya memberi nama baru kepadanya, tetapi saya tidak tahu setelah saya ganti namanya, apakah kemudian harus diganti lagi. Nama pemenang yang baru yang ditulis di atas batu putih, hanya Tuhan dan ia sendiri yang mengetahuinya. Pemenang bukan memperoleh satu nama istimewa, melainkan mendapatkan nama yang sepatutnya ia dapatkan. Semoga Allah membuka mata kita, sehingga kita tahu, di manakah jalan mencapai kemenangan, dan kita bisa mendapatkan manna yang tersembunyi dan nama baru di atas batu putih itu.