GEREJA DI SMIRNA
Pembacaan Alkitab: Why. 2:8 - 11
Gereja di Smirna
Sekarang mari kita lanjutkan peninjauan kita terhadap gereja yang kedua: gereja di Smirna. Semoga Allah membuka mata kita, agar kita dapat melihat lebih banyak, dan tidak melalaikan butir-butir yang sangat penting. Menurut sejarah gereja, gereja pada zaman para rasul beserta gereja-gereja yang menyusul di belakang gereja para rasul itu telah mengalami penganiayaan besar. Menderita kesengsaraan memang adalah keistimewaan pengalaman gereja. Itulah sebabnya mengapa gereja di sini bernama “Smirna”. Istilah Smirna berasal dari “myrrh” yang berarti pahit. Maka gereja ini mewakili gereja yang menderita kesengsaraan.
Kitab ini memperlihatkan kepada kita keistimewaan nama Tuhan Yesus, dan keistimewaan pahala untuk pemenang. Tuhan menyebut diri-Nya sebagai “Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali.” Kepada pemenang Dia berfirman, “Ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.” Itu membuktikan bahwa kehidupan (hayat) telah mengalahkan kematian (maut). Banyak orang hanya nampak “hidup” tidak nampak “hidup sampai selamalamanya” (1:18). Dan tidak nampak betapa besarnya “hidup kembali” itu. Pada hari Pentakosta rasul berkata demikian, “Tetapi Allah membangkitkan Dia setelah melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu” (Kis. 2:24). Maut tidak dapat menawan Dia; dengan perkataan lain, semua orang hidup begitu masuk ke dalam maut, ia tidak akan keluar lagi. Namun, Tuhan Yesus tidak dapat ditawan oleh maut, maut tak berdaya menangkap Dia. Itulah artinya kebangkitan. Hayat-Nya dapat menahan maut. Itulah sebabnya, prinsip kebangkitan dalam Alkitab menjadi suatu hal yang sangat berharga sekali. “Telah mati dan hidup kembali” ini menyatakan bahwa hayat-Nya dapat menahan maut.
Demikian pula, dalam pandangan Allah gereja pun dapat menahan maut. Meskipun pintu-pintu gerbang alam maut terbuka kepada gereja, namun ia tidak mampu mengalahkannya dan tidak dapat menguncinya di dalam. Jadi, hakiki gereja ialah kebangkitan. Bila gereja telah kehilangan kekuatan kemenangannya terhadap kesengsaraan, maka ia sudah tidak berguna lagi. Banyak orang begitu menjumpai perkara-perkara yang tidak lancar, ia segera lenyap, seolah-olah berjumpa dengan maut. Namun kebangkitan sekali-kali tidak takut kepada maut; justru melalui penderitaan dan kesengsaraan itu membuktikan bahwa ia menang atas maut. Anda mungkin mengira Saudara A akan habis bila mengalami ujian tertentu, tetapi kenyataannya tidak. Ia melaluinya dan kemudian hidup kembali. Sesuatu yang tetap hidup setelah mengalami maut itulah kebangkitan.
Kehidupan pribadi kita pun sering demikian. Mungkin Anda mengalami ujian atau cobaan yang sangat berat, sehingga Anda tidak dapat berdoa dan membaca Alkitab.
Saudara-saudara di sekitar Anda juga mengira Anda kali ini pasti akan jatuh dan habis. Akan tetapi tidak lama kemudian Anda bangun lagi. Hayat Allah yang di dalam Anda terbit kembali. Yang bisa ditelan oleh maut itu bukanlah kebangkitan. Gereja mempunyai satu prinsip utama, yaitu ia tidak dapat dikubur ke dalam maut. Itulah kebenaran yang khusus dinyatakan oleh gereja di Smirna. Kalau kita membaca buku sejarah tentang kemartiran yang ditulis oleh Fox, kita akan nampak alangkah hebatnya kesengsaraan atau penganiayaan yang dialami gereja pada masa itu.
Contohnya, ada seorang penilik gereja pada masa itu yang bernama Policarp. Ia tertangkap. Karena ia sudah berusia cukup lanjut, yaitu berumur 86 tahun, maka para penganiaya tidak sampai hati membunuhnya. Ia diberi kelonggaran khusus dengan syarat asal ia mau berkata, “Aku tidak mengakui Yesus, orang Nazaret itu”, dan untuk ini ia akan dibebaskan. Akan tetapi ia menjawab mereka, “Aku tidak bisa menyangkal Dia. Aku telah melayani Dia puluhan tahun lamanya. Selama ini Dia tidak pernah mengecewakan aku, mana boleh aku karena menyayangi tubuhku lalu menyangkal Dia!” Mereka segera mengangkutnya ke kobaran api. Pada saat api telah membakar bagian bawah dari tubuhnya, ia masih sempat berkata, “Terima kasih Allah, hari ini aku layak dibakar orang dan menyaksikan Dikau dengan nyawaku ini.”
Ada lagi seorang saudari yang dipaksa menundukkan kepala dan memberi hormat pada dewa Diana (sebuah berhala Artemis di Efesus seperti yang tercantum dalam Kisah Para Rasul 19). Ia akan segera dibebaskan asal berbuat demikian. Bagaimanakah reaksinya? Ia berkata, “Apakah kalian menyuruh aku memilih Kristus atau Diana? Sejak semula aku telah memilih Kristus, kalau kini kalian menyuruh aku memilih lagi, aku tetap memilih Kristus.” Akhirnya ia pun dihukum mati. Saat itu ada dua orang saudari menyaksikan peristiwa itu, lalu mereka berkata satu sama lain, “Sudah banyak anak-anak Allah yang diangkut pergi, mengapa kita berdua masih tinggal di sini?” Akhirnya mereka pun dijebloskan ke dalam penjara. Di sana mereka melihat banyak orang yang dijadikan mangsa binatang buas, sekali lagi mereka berkata, “Banyak orang sudah bersaksi dengan darahnya, mengapa kita hanya bisa bersaksi dengan mulut?” Salah seorang dari kedua saudari itu sudah bersuami, sedang yang lainnya telah bertunangan. Maka datanglah orang tua, suami, dan calon suami mereka, bahkan anak saudari itu pun dibawa ke sana, semua orang itu membujuk mereka supaya mereka mau menyangkal Tuhan. Tetapi mereka tetap menolak bujukan mereka dan berkata, “Apalagi yang kalian hendak bawa untuk dapat dibandingkan dengan Kristus?” Akhirnya kedua saudari itu pun diseret keluar untuk dijadikan mangsa singa buas. Sambil berjalan, mereka masih dapat berkidung sampai akhirnya tewas terkoyak-koyak oleh singa.
Alangkah dahsyatnya penderitaan dan penganiayaan yang dialami gereja di Smirna! Tetapi, tidak peduli bagaimana dan apa yang akan Anda lakukan, hayat tetap akan hidup kembali meskipun ia melewati maut. Penganiayaan itu hanya menyatakan bahwa gereja itu adalah gereja yang bagaimana. Dia adalah “Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali.”
“Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu.” Di dunia, kamu tidak mempunyai tumpuan, namun Tuhan mengetahui bahwa sebenarnya “kamu kaya”. “Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!” Gereja di Smirna telah seluruhnya teraniaya. Namun hayat yang telah mati dan hidup kembali itu mampu mendobrak segalanya itu. Karena gereja di Smirna telah mengenal realitas kebangkitan, maka mereka mampu menahan penganiayaan yang maha hebat itu. Hanya kebangkitanlah yang dapat membawa Anda keluar dari liang kubur.
“Dan (Aku tahu) fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian.” Di sini, sekali lagi kita harus memperhatikan masalah orang Yahudi. Tuhan berkata bahwa pada saat gereja mengalami kesesakan, kesusahan, dan kemiskinan, semuanya itu masih mudah dihadapi. Akan tetapi kesulitan yang berasal dari dalam itulah yang tidak mudah dihadapi. Orang Yahudi yang dikatakan di sini bukan ditujukan kepada orang Yahudi di dunia ini, melainkan ditujukan kepada orang Yahudi yang ada di dalam gereja. Seperti halnya dengan “rakyat” yang telah kita lihat di berita terdahulu, bukan ditujukan kepada rakyat dunia, tetapi kaum awam Kristen. Di sini Tuhan mengatakan bahwa mereka dianiaya oleh orang Yahudi; bagi gereja itulah suatu kesusahan yang paling berat di antara segala kesusahan. Dalam ketujuh surat kita dapati sebuah garis oposisi. Pengikut-pengikut Nikolaus tercantum dua kali, yaitu di Efesus sekali dan di Pergamus sekali. Orang Yahudi pun tercantum dua kali, di sini sekali dan di gereja Filadelfia sekali. Di Pergamus terdapat pula pengajaran Bileam, sedang di Tiatira terdapat Izebel. Semuanya itu berada pada garis oposisi. Apakah arti orang Yahudi di sini? Bukankah keselamatan itu datangnya dari bangsa Yahudi? (Yoh. 4:22). Mengapa mereka di sini memfitnah gereja? Untuk itu, kita perlu mengetahui apakah yang disebut agama Yahudi dan apakah yang disebut kekristenan.
Banyak perbedaan yang asasi antara agama Yahudi dengan kekristenan. Di sini saya ingin mengetengahkan empat perkara istimewa yang harus kita perhatikan. Pertama ialah Bait Suci, kedua ialah hukum Taurat, ketiga ialah Imam dan keempat ialah Perjanjian. Orang-orang Yahudi telah mendirikan sebuah Bait Suci yang megah dengan batu dan emas di bumi ini, dan di situlah mereka beribadah kepada Tuhan. Mereka memiliki kesepuluh Hukum serta banyak peraturan yang menjadi patokan perbuatan dan penghidupan mereka. Mereka memiliki jabatan imamat yang menjadi golongan istimewa yaitu mendapat hak khusus untuk melakukan urusan rohani bagi Allah mereka. Dan yang terakhir, mereka memiliki Perjanjian sebagai jaminan berkat dan kenyamanan untuk hidup di dunia ini. Perhatikanlah bahwa di bumi ini agama Yahudi merupakan agama duniawi semata (earthly religion). Yang mereka miliki adalah Bait Suci material, hukum Taurat yang harfiah, imamat yang berkastakasta (mediatorial priests), dan kenikmatan yang bersifat duniawi.
Ketika orang Yahudi menduduki Tanah Kanaan, mereka lalu mendirikan sebuah Bait Suci, jika aku seorang Yahudi dan ingin beribadah kepada Allah, aku harus pergi ke Bait Suci. Jika aku merasa diriku berdosa dan ingin menebus dosa melalui mempersembahkan kurban di hadapan Allah, aku wajib melakukannya di dalam Bait Suci itu. Begitu juga jika aku ingin bersyukur pada Allah karena telah menerima berkat-Nya, aku pun harus pergi ke Bait Suci. Itulah jalan satusatunya bagiku. Aku baru dapat menyembah kepada Allah setelah aku tiba di Bait Suci itu. Inilah yang lazimnya disebut tempat kebaktian atau rumah ibadah. Orang-orang Yahudi adalah umat yang beribadah, sedang Bait Suci ialah tempat di mana mereka menjalankan ibadah atau kebaktian. Jadi, orang yang melakukan ibadah dengan tempat ibadahnya adalah dua perkara yang berbeda.
Namun, dalam Perjanjian Baru tidaklah demikian. Keistimewaan kekristenan justru tanpa tempat; tidak ada Bait Suci sebagai tempat kebaktian, sebab orang-orangnya itulah menjadi Bait Suci. Silakan Anda baca Efesus 2:21-22, “Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” Sudahkah Anda nampak? Keistimewaan kekristenan ialah tempat kediaman (bait) Allah justru adalah tubuh kamu sekalian. Dari segi pribadi, setiap diri kita masing-masing adalah Bait Suci; dari segi korporat, kita semua dibangun dan disusun rapi sehingga menjadi tempat kediaman Allah. Jadi, keristenan tidak mempunyai tempat kebaktian, kalau ada, maka orang-orang yang beribadah itulah tempatnya. Ke mana kita pergi ke sana pula tempat ibadah itu mengikuti. Maka, pada dasarnya kekristenan sangatlah berbeda dengan agama Yahudi. Kalau bait orang Yahudi berupa Bait Suci material, maka bait kekristenan berupa Bait Suci yang rohani.
Pernah ada orang yang menaksir nilai Bait Suci orang Yahudi itu, harganya cukup untuk memberi setiap orang di seluruh dunia, masing-masing beberapa dolar. Bagaimanakah dengan bait orang Kristen hari ini? Di dalamnya ada orang timpang, lumpuh, buta, miskin dan lain sebagainya. Itulah Bait Suci kita.
Ada orang berkata demikian, “Kalau Anda tidak mau pergi beribadah di Bait Suci yang megah dan indah, setidaktidaknya Anda perlu memiliki sebuah gedung ‘kebaktian’.” Tetapi dalam gereja tidak ada gedung “kebaktian”. Di mana orang Kristen itu berada, di situ pula gedung “kebaktian” berada. Sebab Allah berdiam di dalam manusianya, bukan di dalam gedungnya. Dalam agama Yahudi, Allah berhuni di dalam rumah, akan tetapi dalam kekristenan, Allah berhuni di dalam manusia.
Umumnya manusia berpendapat, kalau ingin beribadah kepada Allah haruslah ada tempatnya, bahkan ada orang yang langsung menyebut gedung “kebaktian” itulah gereja. Inilah agama Yahudi, bukan kekristenan! Gereja (ekklesia) adalah orang-orang yang terpanggil, adalah orang-orang yang telah dibeli Tuhan dengan darah adi. Hari ini kita boleh memiliki bait di atas loteng, atau di serambi Salomo, atau di depan gerbang indah, ataupun di lantai dasar. Agama Yahudi memiliki tempat ibadah yang material. Lalu, siapakah orang Yahudi itu? Mereka tak lain adalah orang-orang yang memasukkan tempat ibadah yang material ke dalam kekristenan. Maka, jika kita ingin menempuh jalan Tuhan, kita harus mohon Allah membuka mata kita, agar kita nampak bahwa gereja sekali-kali bukanlah yang material, melainkan mutlak rohani.
Orang Yahudi juga memiliki hukum Taurat yang menjadi peraturan bagi kehidupan sehari-hari. (Sebenarnya Taurat hanya dipakai Allah untuk menyatakan dosa-dosa manusia semata). Setiap orang Yahudi wajib memelihara kesepuluh hukum itu. Akan tetapi, Tuhan Yesus berkata dengan tegas bahwa sekalipun Anda telah memelihara kesepuluh Taurat itu, Anda tetap masih kekurangan satu perkara (Luk. 18:20-22). Ajaran Yahudi memiliki satu standar hidup sebagai manusia, terukir di atas loh batu, dan yang harus dihafalkan oleh mereka. Namun di sini timbullah satu persoalan: Kalau aku bisa membaca, aku bisa mengenalnya, tetapi kalau aku buta huruf, aku pasti tidak akan mengenalnya. Lagi pula kalau aku memiliki ingatan baik, aku bisa menghafalkannya; sebaliknya kalau aku seorang pelupa, aku tidak dapat menghafalkannya. Begitulah keadaan agama Yahudi. Patokan kehidupan agama Yahudi adalah statis, mati, dan berada di luar.
Namun kekristenan tidak memiliki Taurat, hukumnya pun tidak terletak di tempat lain; sebab ia bukan tertulis di atas loh batu, melainkan di dalam hati. Hukum Roh yang memberi hidup itu berada di batin kita. Roh Kudus berdiam di dalamku dan menjadi hukum Tauratku. Silakan Anda membaca Ibrani 8 dan Yeremia 31, Allah berfirman, “Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka.” Maka pada hari ini, mana yang benar atau mana yang salah, tidak dinyatakan di atas loh batu, melainkan dinyatakan di dalam hati. Keistimewaan kita pada hari ini ialah Roh Allah telah berhuni di dalam kita.
Ada satu kisah nyata yang sangat senang saya ceritakan, sebab kisah ini cocok sekali untuk menyatakan maksud dan kebenaran firman Allah tadi. Kisah ini terjadi pada diri seorang tukang listrik bermarga Yu yang tinggal di Kuling. Sebelum ia beroleh selamat, ia mempunyai kebiasaan makan sambil minum arak; terutama pada hari-hari dingin. Pada waktu itu sudah mulai musim dingin. Suatu hari, seperti biasa, lauk pauk sudah disiapkan, juga arak telah disediakan. Ketika itu ia, istrinya, dan seorang pembantu sudah duduk siap untuk makan. Saudara Yu memulai dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan. Akan tetapi, sampai beberapa saat lamanya ia tidak dapat mengeluarkan suaranya. Kemudian ia berkata, “Sekarang aku telah menjadi orang Kristen, tetapi aku tidak tahu apakah orang Kristen boleh minum arak. Sayang sekali penginjil itu (yang dimaksud adalah saya) sudah pergi, kalau tidak, kita bisa bertanya kepadanya. Tetapi coba kita periksa dalam Alkitab dan melihat apakah di sana diterangkan boleh atau tidak seorang Kristen minum arak.” Mereka bertiga lalu membuka dan membolak-balik Alkitab, namun mereka kecewa karena tidak menemukan sebuah ayat yang menerangkan hal tersebut. Akhirnya istrinya menyarankan, “Ah, kali ini mari minum saja. Nanti menulis surat kepada penginjil itu, kalau ia mengatakan tidak boleh minum arak, selanjutnya kita hentikan; tetapi kalau ia mengatakan boleh minum, kita minum lagi.” Mendengar itu, Saudara Yu berdiri hendak mengucapkan syukur lagi, tetapi aneh sekali, ia tetap tidak dapat mengeluarkan kata-katanya.
Pada suatu hari, Saudara Yu itu bertemu dengan saya, dan ia menceritakan peristiwa itu kepada saya. Saya bertanya kepadanya “Bagaimana akhirnya, jadi minum atau tidak?” Jawabannya sungguh indah sekali, “Tidak, aku tidak jadi minum arak itu, sebab ada seorang majikan di dalamku yang tidak mengizinkan.” Nah, nampakkah Anda bahwa ada majikan di dalamnya. Itu tidak lain adalah Roh Kudus. Jika Roh Kudus tidak menyetujui, Anda mengatakan alasan apa pun tidak ada gunanya; sebaliknya, jika Roh Kudus menyetujui atau membenarkan, Anda mengatakan apa pun tidak berguna juga. Bagi kita, kini hukum Taurat itu telah menjadi masalah yang di dalam, bukan yang di luar.
Dalam agama Yahudi terdapat hukum Taurat yang tertulis di luar. Hari ini di dalam “gereja” juga terdapat banyak peraturan yang serupa, demikian ini bukan kekristenan. Semua yang peraturannya terpampang dan ditulis di luar, bukan kekristenan. Kita tidak memiliki hukum peraturan yang di luar, patokan kehidupan kita berada di dalam. Kesengsaraan gereja di Smirna justru disebabkan karena ada orang-orang yang menyebut dirinya Yahudi itu hendak memasukkan peraturan-peraturan agama Yahudi itu ke atas diri mereka.
Dalam agama Yahudi, orang yang menyembah Allah dengan Allah yang disembah itu saling terpisah jauh. Maka jarak merupakan ciri-ciri agama Yahudi. Bila manusia melihat Allah orang Yahudi, ia segera akan mati. Lalu, bagaimana orang-orang beragama Yahudi baru dapat mendekati Allah mereka? Mereka harus bersandarkan seorang mediator, yaitu imam. Imamlah yang mewakili mereka datang kepada Allah. Tetapi mereka sendiri menganggap diri sendiri sebagai orang duniawi yang hanya layak mengerjakan urusan duniawi saja, dan bahkan merasa boleh menjadi duniawi. Sebaliknya bagaimana dengan para imam? Para imam harus menjadi serohani mungkin, demi untuk menanggung urusan rohani. Akibatnya, kewajiban orang Yahudi yang duniawi itu hanyalah membawa lembu atau kambing ke Bait Allah untuk diserahkan kepada imam, selain itu segalanya adalah urusan imam, bukan urusan mereka.
Kekristenan tidak demikian. Dalam kekristenan, Allah tidak saja menghendaki kita membawa benda-benda materiil, bahkan Dia menghendaki kita membawa diri kita sendiri ke hadapan-Nya. Kini kelas mediator sudah dihapus. Apakah kata-kata fitnah/hina yang diucapkan orang Yahudi itu? Di gereja Smirna ada segolongan orang yang berkata, “Wah, kalau setiap urusan rohani: berkhotbah, membagi-bagi roti, membaptiskan orang dan lain sebagainya, boleh dilakukan oleh saudara-saudara awam itu tidak beraturan, pasti akan kacau dan akibatnya bahaya sekali!” Mereka bermaksud mendirikan kelas-kelas mediator.
Kekristenan dewasa ini sudah di”Yahudi”kan. Agama Yahudi ada para imam sebagai oknum mediator; dalam kekristenan ada pastor — yang paling keras, ada orang-orang kudus/paderi — yang agak lunak, dan juga ada sistem kependetaan — yang paling lunak. Pastor, kaum paderi, dan pendeta, adalah orang-orang yang menangani semua urusan rohani. Kepada anggota-anggota, mereka hanya menganjurkan memberi sumbangan belaka. Sebab mereka sebagai kaum awam yang duniawi, maka hanya layak mengerjakan urusan duniawi dan boleh menjadi duniawi sekehendak hati mereka. Akan tetapi, saudara saudari! Gereja tidak memiliki orang duniawi seorang pun. Ini bukan berarti kita tidak melakukan urusan dunia, melainkan dunia sudah tidak dapat menjamah kita. Dalam kekristenan setiap orang adalah rohani.
Saya memberi tahu Anda, begitu dalam gereja hanya tinggal segelintir orang yang menangani urusan rohani, maka gereja itu sudahlah jatuh! Seperti kita ketahui bahwa pastorpastor dalam gereja Katolik tidak diperbolehkan menikah, itu karena: semakin mereka berbeda dengan orang biasa, semakin aman pula orang menyerahkan tugas rohani itu kepada mereka. Kekristenan mutlak tidak demikian! Kekristenan menuntut agar kita mempersembahkan segenap tubuh kita kepada Allah. Itulah jalan yang ditetapkan-Nya. Setiap orang wajib melayani Allah. Kita mengerjakan urusan duniawi hanya bermaksud memenuhi kebutuhan kehidupan seharihari saja.
Mari kita teruskan melihat butir keempat. Tujuan orang Yahudi beribadah kepada Allah ialah supaya mereka diberkati Allah dengan berkat duniawi. Misalnya mendapat hasil gandum lebih banyak dari ladang mereka; ternak lembu atau domba bisa beranak banyak tanpa ada keguguran, mirip dengan apa yang diharapkan oleh Yakub dahulu kala. Jadi tujuan mereka tak lain ialah mencari berkat duniawi. Memang perjanjian Allah terhadap mereka seluruhnya adalah yang duniawi. Di dunia ini mereka ingin menjadi negara terkemuka, yakni yang menjadi kepala bukan menjadi ekor.
Akan tetapi, janji Tuhan yang pertama dalam kekristenan ialah memikul salib dan mengikut Dia. Ketika saya memberitakan Injil, adakalanya orang bertanya kepada saya, “Bila seorang percaya Tuhan Yesus, apakah ia bisa mendapatkan makanan?” Saya menjawabnya, “Tidak, kalau Anda percaya Tuhan Yesus, malahan mungkin bakul nasi Anda akan terbalik!” Janganlah Anda mengira setelah Anda percaya Tuhan Yesus, segalanya bisa mendapat lebih banyak.
Ketika saya di Nanking, saya pernah mendengar seorang penginjil terkenal dalam khotbahnya mengatakan demikian, “Jika kalian mau percaya Yesus, kalaupun Anda tidak menjadi kaya raya, sedikitnya Anda akan hidup sehat sejahtera.” Saya rasa, apa yang ia beritakan bukanlah yang disebut kekristenan. Ajaran kekristenan bukan aku bisa lebih banyak mendapatkan benda-benda duniawi dari Allah, melainkan aku harus bisa lebih banyak melepaskan di hadapan Allah. Bagi kekristenan menderita kesusahan sekali-kali bukan suatu perkara yang pahit, melainkan itu adalah perkara yang menyenangkan (1 Ptr. 4:12-14). Hari ini, keempat perkara itu — bait kudus yang material, hukum peraturan yang lahiriah, sistem imamat yang mediatorial, dan perjanjian yang duniawi — apakah telah berada di dalam gereja? Saudara saudari, disini kita ingin menerangkan Firman Allah lebih banyak, dan kita harap semoga anak-anak Allah semuanya menjadi orang rohani, meskipun mereka memiliki pekerjaan-pekerjaan duniawi.
Di sini Tuhan mengucapkan kata-kata yang sangat berat, “Tetapi yang sebenarnya tidak demikian, sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis.” Yang dimaksud jemaah di sini bukan ditujukan kepada gereja. Dalam bahasa Ibrani disebutkan “synagoge”, yaitu rumah ibadah orang Yahudi. Istilah tersebut khusus berhubungan dengan agama Yahudi. Seperti halnya wihara berhubungan dengan agama Budha, biara berhubungan dengan agama Tao, dan mesjid berhubungan dengan agama Islam. Tuhan mengatakan bahwa mereka sebenarnya adalah jemaah Iblis. Orang Yahudi yang Tuhan katakan di sini ditujukan kepada orang Yahudi dalam kekristenan, sebab merekalah yang membawa masuk “synagoge” itu ke dalam gereja. Semoga Allah membelaskasihani kita, agar kita mutlak terlepas dari segala sesuatu yang menjadi milik agama Yahudi.
Dalam gereja di Smirna terdapat kesusahan, kemiskinan, dan fitnahan orang Yahudi. Namun Tuhan berfirman pada mereka, “Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antara kamu ke dalam penjara supaya kamu dicobai.” Jangan takut! Asalkan kita tahu bahwa suatu masalah itu adalah pekerjaan Iblis, maka persoalannya sudah beres separuh. Jika kita hanya mengira urusan itu berasal dari manusia, pasti kita akan merasa sulit. Akan tetapi kalau kita telah nampak itu perbuatan musuh, masalahnya pasti akan segera beres dan hati kita pun akan menjadi teguh, sentosa di hadapan Allah.
“Kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari.” Banyak penafsir Kitab Wahyu dan Kitab Daniel biasanya menafsirkan “sepuluh hari” ini sebagai sepuluh tahun. Jadi sehari ditafsir sebagai setahun. Oleh karena inilah mereka selalu ingin menemukan masa itu (sepuluh tahun) di dalam sejarah, akan tetapi mereka tidak menemukannya. Menurut saya, tafsiran demikian sama sekali tidak ada dasar Alkitabnya. Banyak hari-hari di dalam Alkitab yang tidak dapat ditafsirkan seperti itu. Misalnya dalam Wahyu 12:14 tercantum satu masa, dua masa dan setengah masa, ini berarti tiga tahun setengah. Dan lagi dalam Wahyu 12:6, seribu dua ratus enam puluh hari. Menurut kalender Yahudi, satu tahunnya terhitung 360 hari, maka seribu dua ratus enam puluh hari berarti tiga tahun setengah. Kalau sehari ditafsirkan menjadi setahun, maka masa itu akan menjadi 1.260 tahun. Kita dapat bayangkan, kalau malapetaka besar itu sedemikian lamanya, bagaimana mungkin manusia dapat menghadapinya?
Apakah sebenarnya maksud sepuluh hari itu? Dalam Alkitab kita dapati beberapa kali tentang sepuluh hari. Pertama dalam Kejadian 24, ketika hamba Abraham hendak membawa Ribka, ibu dan kakak Ribka meminta supaya ia tinggal lagi bersama mereka paling sedikit sepuluh hari lamanya. Dalam Daniel 1, ketika Daniel dengan kawan-kawannya menolak hidangan raja, maka ia mohon petugas raja untuk mencoba mereka selama sepuluh hari juga. Maka sepuluh hari dalam Alkitab mengandung makna tertentu, yakni waktu atau masa yang tidak lama. Firman Tuhan di sini pun mengandung arti yang serupa. Di satu pihak berarti, bahwa kesusahan kita itu ada masanya yang tertentu; ini juga berarti hari-hari di mana kita mengalami kesesakan itu telah dihitung oleh Tuhan. Dan setelah harinya berlalu, kita pasti akan dibebaskan, seperti halnya pada diri Ayub. Di pihak lainnya, sepuluh hari pun berarti waktu yang sangat singkat. Tak peduli ujian atau pencobaan apa pun yang kita terima di hadapan Allah, waktunya tidak akan berlangsung terlalu panjang. Apabila waktu itu telah penuh, Iblis tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi. Kesusahan atau pencobaan yang Anda alami akan berlalu dengan cepat.
“Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” Setia sampai mati adalah masalah waktu dan sikap. Tuhan menghendaki kehidupan setiap pelayan-Nya menjadi milik-Nya, itulah sebabnya kita harus setia sampai mati. Siapa saja yang telah dibeli oleh darah adi-Nya, menjadi milik-Nya, maka ia patut dimiliki Tuhan sepenuhnya. Sejak semula, Kristus hendak memperoleh segala sesuatu kita. Kini Tuhan berfirman, “Hendaklah engkau setia sampai mati.” Dari segi sikap, kita harus setia sampai mati; dari segi waktu, kita harus setia selama hidup kita, sampai kita mati. “Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” Mahkota ialah pahala. Pada waktu itu kehidupan akan berubah menjadi mahkota.
“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Siapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.” Di sini dengan jelas dikatakan kepada kita, tidak saja tidak akan mati, bahkan tidak akan menderita malapetaka apa-apa, sebab ia telah mempelajari pelajaran itu. Penderitaan merupakan sesuatu yang sangat berat. Jika Anda tidak pernah jatuh dalam penderitaan, Anda tidak akan tahu betapa beratnya hal itu. Kemiskinan juga sangat menyesakkan, tanpa mengalaminya Anda pun tidak tahu bagaimana rasanya. Terlebih pula fitnah, kalau Anda belum pernah difitnah orang, Anda tidak mungkin mengerti betapa sakit tekanannya. Setiap musibah seolah-olah menyeret kita ke dalam maut. Namun setelah kita mengalami semua itu, kita dapat membuktikan bahwa kebangkitan adalah suatu fakta. Tuhan telah keluar dari kubur, kita pun akan keluar dari situ. Hari ini, hayat kebangkitan-Nya tidak mungkin tenggelam ke dalam maut. Sebab itu, kita pun berani berkata bahwa kita juga tidak mungkin ditenggelamkan olehnya!