PENDAHULUAN (2)
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 1:1-9
Dalam berita ini kita akan membahas lebih lanjut kata pengantar Paulus dalam 1:1-9. Ayat 2 mengatakan, ”Kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus.” Menurut tata bahasa, ”kepada gereja (jemaat) Allah” merupakan keterangan bagi ”yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus.” Ini dengan kuat menyatakan bahwa gereja terdiri atas orang-orang kudus, dan orang-orang kudus adalah unsur penyusun gereja. Kita tidak seharusnya menganggap keduanya sebagai satuan yang berbeda. Secara individu, kita adalah orang kudus; secara korporat, kita adalah gereja. Jadi, gereja bukan hanya tersusun dari Allah, tetapi juga tersusun dari orang-orang kudus.
Dikuduskan berarti dipisahkan untuk Allah, untuk merampungkan tujuan Allah. Orang-orang kudus adalah orang-orang yang disisihkan, yang dipisahkan bagi Allah.
Dalam ayat ini Paulus berkata bahwa kita telah ”dikuduskan dalam Kristus Yesus.” Kita dikuduskan dalam unsur dan ruang lingkup Kristus. Ketika kita percaya ke dalam Kristus, yaitu ketika kita dibawa masuk ke dalam kesatuan organik dengan-Nya oleh iman kepada-Nya, Kristus adalah unsur dan ruang lingkup yang memisahkan kita, menguduskan kita bagi Allah.
Ungkapan ”dipanggil menjadi orang-orang kudus (orang-orang kudus yang terpanggil, Tl.)” menunjukkan bahwa kaum beriman dalam Kristus adalah orang-orang kudus yang terpanggil; bukan dipanggil menjadi orang kudus. Ini adalah perkara posisi, adalah pengudusan posisi, untuk mencapai pengudusan watak.
Banyak pembaca Surat 1Korintus sulit mengakui bahwa kaum beriman di Korintus adalah orang-orang kudus. Memang, menurut definisi aliran kekristenan tertentu, mereka bukanlah orang-orang kudus. Menurut aliran itu, hanya orang-orang tertentu yang dapat benar-benar disebut orang kudus. Kita mungkin heran bagaimana kaum beriman Korintus yang bersifat daging itu bisa disebut orang-orang kudus. Namun, di dalam Alkitab Paulus melukiskan mereka sebagai orang-orang yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan menjadi orang-orang kudus yang terpanggil.
Beranikah Anda mengatakan bahwa Anda kudus? Mungkin ada yang menjawab, ”Aku tidak dapat membantah perkataan Paulus dalam 1Korintus 1:2. Menurut perkataan tersebut, aku telah dikuduskan. Tetapi aku tetap tidak merasa bahwa aku kudus.” Mengenai hal ini, janganlah kita memandang diri sendiri. Paulus tidak mengatakan orang-orang Korintus dikuduskan dalam diri mereka sendiri, ia menyatakan bahwa mereka telah dikuduskan dalam Kristus Yesus. Kita perlu melupakan diri sendiri dan nampak bahwa di dalam Kristuslah kita telah dikuduskan.
Mengenai perkara dikuduskan dalam Kristus Yesus, seorang saudara tidak seharusnya terpengaruh oleh opini negatif istrinya terhadapnya. Setiap saudara kudus dalam pandangan orang lain, tetapi tidak demikian dalam pandangan istrinya. Seorang istri selalu mengetahui titik-titik kelemahan dari suaminya. Ia mempunyai pengetahuan yang detail atas kekurangannya. Hal ini membuat istri mana pun sulit mengakui bahwa suaminya kudus. Tetapi sekalipun seorang saudara tidak kudus dalam pandangan istrinya, ia tetap telah dikuduskan dalam Kristus Yesus.
Allah tidak memandang kita di dalam diri kita sendiri; sebaliknya, Ia memandang kita di dalam Kristus. Ini dapat diilustrasikan dengan perkataan nabi Bileam yang diucapkannya tentang bani Israel. Memang nampaknya bani Israel penuh dengan kejahatan. Tetapi ketika Bileam bernubuat tentang mereka, ia menyatakan, “Tidak ada ditengok kepincangan di antara keturunan Yakub, dan tidak ada dilihat kesukaran di antara orang Israel” (Bil. 23:21). Demikian pula, Paulus mengetahui semua perkara yang jahat tentang gereja di Korintus. Namun, dalam kata pembukaannya, ia menyebut mereka sebagai orang-orang yang dikuduskan dalam Kristus Yesus, dan menyebut mereka sebagai orang-orang kudus.
Dengan menggunakan keterangan tambahan lainnya, dalam ayat 2 Paulus berkata bahwa mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus disebut orang-orang kudus yang terpanggil. Bagi kita, kata-kata ini tampaknya seperti suatu pengulangan. Tetapi tanpa pengulangan demikian kita mungkin tidak dapat menerima kesan yang kuat tentang fakta bahwa kaum beriman di Korintus benar-benar adalah orang-orang kudus, bahkan orang-orang kudus yang terpanggil.
Setiap orang yang beroleh selamat adalah orang yang terpanggil. Terpanggil adalah beroleh selamat. Ketika Tuhan Yesus berkata kepada Petrus, ”Ikutlah Aku,” itulah panggilan-Nya kepada Petrus. Kita, orang-orang yang telah beroleh selamat, semua sudah terpanggil. Begitu kita dipanggil, kita menjadi orang-orang kudus.
Janganlah mengira hanya orang-orang seperti Theresa atau Francis yang boleh disebut orang kudus. Anda dan saya juga adalah orang kudus. Beranikah Anda menyatakan bahwa Anda orang yang kudus? Beberapa orang di antara kita mungkin hanya berani mengatakan bahwa kita adalah kaum beriman, tetapi tidak berkeyakinan untuk berkata bahwa kita adalah orang kudus. Beberapa orang mungkin berkata, ”Aku seorang berdosa yang diselamatkan oleh kasih karunia, dan aku seorang beriman dalam Kristus. Tetapi aku tidak berani mengatakan bahwa aku adalah orang kudus.” Alasan kurangnya keyakinan ini ialah pengaruh buruk ”agama” yang masih mempengaruhi pengertian kita. Orang lain, karena khawatir akan kegagalan-kegagalan, seperti marah-marah atau bertengkar dengan pasangan mereka, tidak berkeyakinan untuk berkata bahwa mereka adalah orang-orang kudus. Tetapi entah Anda seorang kudus atau bukan, tidak tergantung pada apakah Anda marah-marah atau bertengkar, ini tergantung pada apakah Anda telah terpanggil atau tidak.
Sebagai ganti mengatakan ”orang kudus yang terpanggil”, Alkitab versi LAI mengatakan ”dipanggil menjadi orangorang kudus.” Menurut terjemahan ini, menjadi orang kudus adalah suatu hal yang akan terjadi, belum merupakan fakta yang telah rampung. Tetapi Paulus tidak berkata bahwa kita dipanggil menjadi orang-orang kudus, ia berkata bahwa kita adalah orang-orang kudus yang terpanggil. Jika kita beralih dari diri kita sendiri dan memandang kepada Kristus, kita akan dapat mengatakan bahwa kita adalah orang-orang kudus. Kita akan menyadari bahwa orang kudus tidak lain adalah orang yang terpanggil.
Dipanggil oleh Allah berarti dipisahkan bagi-Nya. Sebagai contoh, mereka yang telah dipanggil ke dalam wajib militer telah dipisahkan dari kehidupan sipil dan ditarik ke dalam wajib militer. Ini mengilustrasikan panggilan Allah. Tatkala kita dipanggil oleh Allah, kita ditarik, dipisahkan oleh Dia. Hasilnya, kita telah dikuduskan, yaitu kita telah dipisahkan untuk maksud tertentu. Karena kita semua telah dipanggil oleh Allah untuk tujuan-Nya, maka kita semua adalah orang-orang kudus yang terpanggil.
2. Dengan Semua Orang di Segala Tempat yang Berseru kepada Nama Tuhan Kita
Dalam ayat 2 Paulus berkata pula, ”Dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.” Perhatikanlah bahwa di sini tidak dikatakan ”dan semua orang”, melainkan ”dengan semua orang”. Ini menunjukkan: satu gereja lokal, seperti gereja di Korintus, hanya tersusun dari kaum beriman di lokal itu, bukan tersusun dari semua orang beriman di berbagai lokal. Surat ini bukan hanya untuk satu gereja di Korintus, melainkan untuk seluruh kaum beriman di setiap tempat. Surat ini ditujukan kepada setiap orang beriman di mana saja dan kapan saja.
Seandainya saya menulis Surat Kiriman ini, mungkin saya menggunakan kata ”dan”, bukan ”dengan”. Pemakaian kata oleh Paulus di sini sangat penting. Sebagaimana telah kita nampak, itu menunjukkan bahwa sebuah gereja lokal hanya meliputi orang-orang yang ada di tempat itu, bukan semua orang kudus yang ada di bumi. Paulus menulis Surat Kiriman ini kepada gereja di Korintus dengan semua orang kudus di bumi. Hanya orang kudus setempat yang merupakan komponen suatu gereja tertentu. Orang kudus di tempat lain bukan komponen gereja itu. Namun, salam ini menunjukkan bahwa surat ilustrasi ini ditulis bukan hanya kepada orang kudus di Korintus, tetapi juga kepada semua orang kudus, tak peduli di mana mereka berada.
Ketika menyebut orang-orang kudus di Korintus, Paulus menggunakan ungkapan ”Orang-orang kudus yang terpanggil”. Tetapi tatkala ia mengatakan semua orang kudus di bumi, ia menggunakan keterangan lain, ”Semua orang yang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus.” Dalam ayat ini kita nampak dua panggilan: pertama, kita adalah orang-orang kudus yang terpanggil; kedua, kita berseru kepada nama Tuhan. Ini menunjukkan bahwa kita, kaum beriman, orang-orang kudus, telah dipanggil oleh Allah untuk berseru kepada nama Tuhan. Kita telah dipanggil untuk berseru! Dipanggil adalah perkara sekali untuk selamanya, tetapi berseru kepada nama Tuhan adalah perkara seumur hidup. Kita perlu terus-menerus berseru kepada-Nya.
Menyeru nama Tuhan menyiratkan percaya ke dalamNya (Rm. 10:14). Setiap orang beriman di dalam Tuhan, seharusnya adalah orang yang menyeru nama-Nya (Kis. 9:14, 21; 22:16). Kita sudah dipanggil untuk menyeru, yaitu dipanggil Allah untuk menyeru nama Tuhan Yesus.
Dalam ayat-ayat pembukaan Surat Kiriman ini, Paulus memberi kita definisi tentang seorang rasul, gereja, dan orang-orang kudus. Orang kudus pertama-tama berarti orang yang telah dipanggil oleh Allah kepada Dia. Kedua, orang kudus adalah orang yang berseru kepada nama Tuhan Yesus.
Berseru kepada nama Tuhan Yesus bukan perkara berdoa secara diam-diam, melainkan berseru kepada Tuhan dengan suara terdengar. Orang Kristen sering berdoa dengan diam-diam atau dengan suara yang sangat kecil. Tetapi jika kita hendak berseru kepada nama Tuhan Yesus, kita perlu memanggil Dia dengan suara terdengar. Saya dapat bersaksi bahwa seruan ini akan sangat berbeda.
Jika Anda menyeru nama Tuhan dengan demikian, Andalah yang pertama-tama mendengar doa Anda. Jika Anda tidak mendengar doa Anda sendiri, bagaimana Anda dapat mengharap Tuhan mendengarnya? Tetapi jika Anda mendengar doa Anda, Anda akan berkeyakinan bahwa Tuhan juga telah mendengarkannya.
Sebagai orang kudus dalam Kristus Yesus, kita bukan mesin. Karena itu, doa kita kepada Tuhan jangan seperti mesin. Ketika kita berseru kepada Tuhan Yesus, seluruh diri kita tergerak. Seluruh insan batiniah kita digunakan.
Kita telah menunjukkan bahwa orang kudus adalah orang yang telah dipanggil oleh Allah dan yang berseru kepada nama Tuhan Yesus. Namun ada beberapa orang Kristen sangat menentang praktek menyeru nama Tuhan. Tetapi menyeru nama Tuhan Yesus bukan hanya Alkitabiah, tetapi juga diperlukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagai orang Kristen, kita tidak boleh bisu. Kita tidak seharusnya menghadiri sidang-sidang dan duduk diam, seolah-olah kita adalah berhala yang bisu. Kita harus menyeru nama Tuhan Yesus dengan nyaring. Kadang-kadang kita bahkan perlu berseru kepada-Nya di tempat-tempat umum. Mungkin Anda mengira hal ini akan membuat Anda kehilangan muka. Padahal Anda tidak dipermalukan, malah Anda akan ditinggikan dalam Tuhan.
Anda telah dipanggil oleh Tuhan, tetapi apakah Anda berseru kepada Dia? Saya khawatir bahkan di antara kita pun ada sebagian orang yang tidak menyeru nama Tuhan. Mereka masih takut kehilangan muka mereka. Semakin kita menyeru nama Tuhan Yesus, kita akan semakin dibebaskan dan ditinggikan. Tambahan pula, penyeruan ini menandakan bahwa kita adalah orang-orang kudus yang terpanggil.
Dalam ayat 2 Paulus berkata bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah ”Tuhan mereka dan Tuhan kita.” Kristus Sang Almuhit ini adalah milik setiap orang beriman. Dia adalah bagian yang diberikan Allah kepada kita (Kol. 1:12). Rasul menambahkan frase istimewa ini pada akhir ayat ini untuk menekankan satu fakta penting, yaitu Kristus adalah sentral unik (satu-satunya) setiap orang beriman di mana saja mereka berada dan bagaimanapun situasi mereka. Dalam surat ini, maksud rasul ialah membereskan masalah-masalah yang ada di antara kaum beriman di Korintus. Terhadap segala masalah, terutama perpecahan, penyelesaiannya yang unik adalah Kristus yang almuhit. Kita semua telah dipanggil masuk ke dalam persekutuan-Nya, berbagian atas-Nya (ayat 9). Setiap orang beriman harus berfokuskan Dia saja, tidak terpecah-belah oleh orang-orang tertentu yang berkarunia, doktrin tertentu yang ditekankan secara berlebihan, atau pelaksanaan tertentu.
II. SALAM
Dalam ayat 3 terdapat salam Paulus kepada orang-orang Korintus: ”Anugerah dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.” Anugerah (kasih karunia) adalah Allah sebagai kenikmatan kita (Yoh. 1:17; 1Kor. 15:10), dan damai sejahtera adalah keadaan yang dihasilkan dari anugerah yang berasal dari kenikmatan atas Allah Bapa kita.
III. KARUNIA-KARUNIA AWAL
A. Diberikan oleh Anugerah Allah dalam Kristus
Dalam ayat 4 Paulus berkata, ”Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas anugerah Allah yang diberikan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus.” Rasul bersyukur kepada Allah atas orang-orang beriman di Korintus bukan berdasarkan keadaan mereka di dalam diri sendiri, melainkan berdasarkan anugerah yang Allah berikan kepada mereka di dalam Kristus.
B. Diperkaya dalam Kristus dalam Segala Hal
Dalam ayat 5 Paulus melanjutkan, ”Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: Dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan.” Dalam bahasa Yunani kata ”perkataan” dalam ayat ini ialah logos, yaitu perkataan yang mengungkapkan maksud atau pemikiran yang terkandung dalam pikiran. Perkataan Injil yang diberitakan rasul menyalurkan maksud Allah ke dalam pemahaman kita. Karena itu, firman adalah pengutaraan, pengungkapan pemikiran ilahi. Pengetahuan adalah pengertian dan pengenalan atas perkara yang disalurkan dalam firman. Oleh anugerah (kasih karunia) Allah, kaum beriman di Korintus telah menjadi kaya dalam segala hal yang berkaitan dengan pengutaraan pemikiran ilahi tentang Kristus dan dalam segala pengertian dan kesadaran terhadap pengenalan akan Kristus.
C. Diteguhkan oleh Kesaksian Kristus di Antara Kamu
Dalam ayat 6 Paulus selanjutnya mengatakan, ”Sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu.” Kesaksian Kristus adalah pemberitaan Kristus oleh rasul, yang bukan hanya berisi doktrin yang obyektif, tetapi juga berisi pengalaman yang subyektif. Rasul adalah seorang saksi, yang menjadi saksi hidup bagi Kristus. Kesaksian sedemikian bagi Kristus diteguhkan di dalam dan di antara kaum beriman di Korintus dengan menjadi kayanya mereka di dalam Kristus, seperti yang dikatakan dalam ayat 4 dan 5.
D. Tidak Kekurangan dalam Karunia Apa pun
Bertahun-tahun saya dipersulit oleh ayat 4-7, terutama oleh makna perkataan karunia dalam ayat 7. Saya heran bagaimana Paulus dapat bersyukur atas gereja di Korintus, sebab ketika itu orang-orang kudus di sana dalam keadaan yang kasihan, terpecah belah, dan kacau balau. Saya juga tidak memiliki pengertian yang tepat atas anugerah. Tahun 1940-an, saya tidak mengetahui apa itu anugerah. Sebab itu, saya tidak dapat memahami ayat 4. Mengenai ayat 5, saya heran bagaimana kaum beriman di Korintus dapat diperkaya di dalam Kristus. Demikian pula, saya tidak mengerti apa artinya kesaksian Kristus diteguhkan di antara mereka dan mereka tidak kekurangan karunia apa pun. Mengenai ayat 7, saya bahkan pernah memberitakan antara lain sebagai berikut: ”Dari 1Korintus kita nampak bahwa karunia itu tidak efektif. Dari ayat 7 kita mengerti bahwa Anda dapat memiliki segala macam karunia namun Anda tetap seperti bayi.” Pada waktu itu saya kira pengertian saya ini benar. Tetapi di dalam lubuk batin saya tidak ada damai sejahtera tentang ayat-ayat tersebut. Pada akhirnya, saya mulai nampak bahwa dalam ayat 7 terdapat apa yang dapat kita sebut karunia-karunia awal, karunia-karunia yang berasal dari anugerah yang telah kita terima ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus.
Dalam ayat 7 karunia mengacu kepada karunia batiniah yang timbul dari anugerah, seperti karunia cuma-cuma akan hayat yang kekal (Rm. 6:23) dan karunia Roh Kudus (Kis. 2:38) sebagai karunia surgawi (Ibr. 6:4). Ini tidak mengacu kepada karunia yang di luar, yang mujizat, seperti penyembuhan, berbahasa lidah, dan lain-lainnya yang dikatakan dalam pasal 12 dan pasal 14. Semua karunia batiniah ini adalah barang-barang awal dalam hayat ilahi yang diterima dalam anugerah. Semua barang awal ini perlu bertumbuh (3:6-7), hingga mencapai perkembangan yang penuh dan matang. Kaum beriman di Korintus tidak kekurangan karunia awal dalam hayat, tetapi mereka sangat kekurangan pertumbuhan dalam hayat. Karena itu, tak peduli berapa kayanya karunia awal yang mereka dapatkan dari anugerah, mereka tetap bayi di dalam Kristus, jiwani, milik tubuh daging, bahkan karnal (2:14; 3:1, 3).
Setelah lewat bertahun-tahun, sekarang saya berani berkata bahwa karunia dalam 1:7 berbeda dengan karunia-karunia yang dibicarakan dalam pasal 12 dan 14. Dalam kedua pasal itu ada beberapa karunia yang bersifat ajaib dan lainnya berkaitan dengan kematangan. (Kita akan membahas hal ini sepenuhnya apabila kita sampai pada bagian tersebut). Sebagaimana telah kita tunjukkan, karunia dalam ayat 7 mengacu kepada karunia-karunia awal yang berasal dari anugerah, yakni hayat kekal dan karunia Roh Kudus. Pada saat kita dilahirkan kembali, kita telah menerima hayat kekal sebagai karunia Allah. Menurut Kisah Para Rasul 2:38, Roh Kudus juga sebuah karunia. Menyebut karunia-karunia ini sebagai karunia awal menunjukkan bahwa karunia-karunia ini belum dikembangkan; mereka belum bertumbuh sampai matang.
Pertumbuhan tanaman dari sebuah biji sampai tanaman yang matang mengilustrasikan pertumbuhan dan perkembangan karunia-karunia awal. Pertama-tama, sebutir biji ditaburkan ke dalam tanah. Biji ini adalah tanaman yang awal. Tatkala biji itu bertumbuh, ia berkembang terus sampai mencapai kematangan. Kaum beriman Korintus telah memiliki karunia-karunia awal; mereka semua telah mempunyai hayat ilahi dan Roh Kudus yang ditaburkan ke dalam mereka sebagai benih-benih. Jika kita memahami ayat-ayat ini melalui konteksnya, juga dalam terang pengalaman kita sendiri serta pengalaman kaum beriman lain, kita akan nampak bahwa di sini Paulus sedang berkata kepada orang-orang Korintus demikian: ”Kalian telah menerima Tuhan Yesus. Ketika kalian percaya kepada-Nya, kalian menerima karunia-karunia awal, yaitu hayat ilahi dan Roh Kudus. Masalahnya ialah kalian tidak membiarkan karunia-karunia ini bertumbuh dan berkembang.” Karena itu, dalam pasal 3 Paulus menunjukkan bahwa orang-orang Korintus perlu bertumbuh. Paulus berkata, ”Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan” (3:6). Ditinjau dari karunia awal, orang-orang Korintus benar-benar masih bayi dan perlu bertumbuh.
Seorang bayi mempunyai hayat dan fungsi hayat, tetapi belum memiliki pertumbuhan atau perkembangan hayat. Hal ini membuatnya mustahil untuk berbuat sesuatu. Semakin bertumbuh, makin banyak yang dapat dilakukannya. Misalkan, cucu saya yang berusia sebelas tahun dapat melakukan banyak hal yang tidak dapat dilakukan oleh adiknya yang berusia tujuh tahun. Bahkan pertumbuhan empat tahun sudah berbeda jauh. Ini tidak berarti adiknya yang lebih muda itu tidak memiliki hayat. Ia memiliki hayat, tetapi pertumbuhan hayatnya tidak sama. Demikian pula, walaupun orang-orang Korintus telah menerima karunia-karunia awal dan telah diperkaya di dalam Kristus dalam segala macam penyataan dan pengetahuan, mereka tetap masih bayi. Karunia awal itu belum dikembangkan.
Surat 1Korintus ditulis kepada orang-orang yang berfilsafat. Namun jangan mengira orang-orang Yunani kuno itu lebih berfilsafat daripada kita hari ini. Kita semua memiliki filsafat. Sama dengan orang-orang Korintus, kita orang-orang yang berfilsafat ini telah diperkaya dalam pengertian kita tentang hal-hal rohani. Kita mungkin mempunyai pengetahuan tentang perkara-perkara ini, namun masih bayi di dalam Kristus.
Karena pendidikan mereka, banyak orang kudus mampu mengerti ungkapan-ungkapan yang digunakan untuk me-nyampaikan perkara-perkara rohani. Mereka mungkin mampu menangkap pemikiran itu tetapi tidak memiliki realitasnya. Inilah situasi kaum beriman Korintus. Karena mereka berbudaya, terpelajar, dan berfilsafat, mereka dapat mengerti perkataan-perkataan yang menyampaikan pemikiran dari ministri Paulus. Tetapi mereka tidak mempunyai realitas dari pemikiran ini. Para sarjana hari ini, memang bisa mengerti pemikiran yang disampaikan dalam kata-kata, namun mereka kekurangan realitas yang ditunjukkan oleh pemikiran itu. Realitas ini adalah Kristus sendiri. Seperti halnya kaum beriman Korintus, mereka kaya dalam penyataan dan pengetahuan, dalam pengertian mereka tentang hal-hal rohani, tetapi mereka tidak memiliki realitas perkara-perkara tersebut.
E. Menantikan Penyataan Tuhan Kita
Dalam ayat 7 Paulus juga mengatakan tentang ”menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus.” Penyataan ini mengacu kepada kedatangan kembali Tuhan. Menanti penyataan Tuhan adalah tanda yang normal atas diri orang beriman yang sejati.
F. Diteguhkan Sampai kepada Kesudahannya
Dalam ayat 8 Paulus mengatakan, ”Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus.” Kata ganti relatif ”Ia” dalam ayat ini mengacu kepada Allah dalam ayat 4. Allah yang semula memberi kita anugerah juga akan meneguhkan kita sampai kepada kesudahannya. Kata meneguhkan menunjukkan setelah menerima karunia awal, kita kaum beriman masih perlu bertumbuh dalam hayat.