PENDAHULUAN (1)
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 1:1-9
Susunan kitab-kitab dalam Alkitab benar-benar adalah berasal dari kedaulatan Tuhan. Sebagai contoh, kitab Wahyu bukanlah kitab pertama, dan kitab Kejadian bukanlah kitab terakhir. Satu contoh ini saja membuktikan bahwa susunan kitab-kitab dalam Alkitab adalah menurut kedaulatan Allah.
Dalam Perjanjian Baru, keempat kitab Injil menyajikan catatan tentang kehidupan Tuhan Yesus dan menunjukkan betapa Ia merampungkan penebusan melalui penyaliban-Nya. Dari kitab-kitab Injil itu kita juga mengetahui kebangkitan dan kenaikan Kristus. Dalam kitab Kisah Para Rasul kita nampak pergerakan Tuhan di surga dan dalam kebangkitan melalui Tubuh-Nya di bumi. Dalam kitab ini kita tidak saja nampak kisah dari para rasul dan para murid, tetapi juga nampak kisah dari Kristus yang telah bangkit dan terangkat itu.
Sesudah kitab Kisah Para Rasul ada kitab pertama dari Surat Kiriman dalam Perjanjian Baru Surat Roma. Surat Roma menyajikan satu sketsa penuh dan lengkap tentang kehidupan orang Kristen maupun kehidupan gereja. Dalam Surat Roma kita tidak saja memiliki ajaran-ajaran tentang kehidupan orang Kristen dan kehidupan gereja, tetapi juga prinsip-prinsipnya.
Sesudah Surat Roma kita memiliki 1Korintus. Kitab ini memberi kita sebuah ilustrasi tentang kehidupan orang Kristen, kehidupan gereja, dan kehidupan Tubuh, yang masing-masing diilustrasikan sepenuhnya dalam 1Korintus. Tetapi tidak banyak guru Kristen yang menyadari bahwa apa yang diwahyukan dalam Surat Roma secara garis besar diilustrasikan sepenuhnya dalam 1Korintus. Saya ulangi, kita memiliki sketsa kehidupan orang Kristen dan kehidupan gereja dalam Surat Roma, sedangkan ilustrasi kehidupan orang Kristen, kehidupan gereja, dan kehidupan Tubuh, kita temukan dalam 1Korintus.
Di antara guru-guru Kaum Saudara dan aliran Pentakosta atau gerakan Kharismatik tidak sedikit yang telah menulis buku-buku mengenai 1Korintus. Beberapa guru Kaum Saudara mengatakan bahwa 1Korintus ditulis untuk memecahkan sejumlah problem serius dalam gereja. Mereka yang berlatar belakang Pentakosta atau Kharismatik mungkin menekankan apa yang disebut karunia-karunia dalam 1Korintus, khususnya bahasa lidah dan kesembuhan ilahi. Akan tetapi Surat 1 Korintus terutama bukan membahas problem-problem dalam gereja atau karunia-karunia dan mujizat-mujizat rohani. Kitab ini sebenarnya memberi kita sebuah ilustrasi tentang kehidupan orang Kristen, kehidupan gereja, dan kehidupan Tubuh; hendak-nya kita terkesan oleh fakta ini.
Sebagian besar pembaca Surat 1Korintus menaruh kesan negatif terhadap gereja di Korintus. Apakah Anda menyukai gereja ini? Jika Anda jujur, Anda akan mengakui bahwa Anda tidak menaruh apresiasi terhadap gereja ini. Pada tahun-tahun yang lampau saya tidak terlalu memperhatikan gereja di Korintus, tetapi sekarang saya menaruh apresiasi terhadap gereja lokal ini. Bagi saya, Surat 1 Korintus sangatlah manis dan nikmat. Saya menikmati kitab ini bukan karena ia memecahkan banyak problem atau menanggulangi masalah karunia, tetapi karena ia mengilustrasikan kehidupan orang Kristen, kehidupan gereja, dan kehidupan Tubuh.
Ada sebagian orang mungkin akan membantah pernyataan bahwa 1Korintus merupakan sebuah ilustrasi dari kehidupan orang Kristen kita. Mungkin mereka akan bertanya, ”Apakah kita dituntut untuk mengikuti pola orang Kristen di Korintus? Haruskah kita memiliki corak kehidupan orang Kristen yang dilukiskan dalam kitab ini? Haruskah kita menuruti contoh gereja di Korintus dan memiliki jenis kehidupan gereja yang mereka miliki? Haruskah kita menempuh kehidupan Tubuh seperti yang kita lihat di Korintus? Segala yang ada dalam gereja di Korintus serba kasihan. Kehidupan orang Kristennya, kehidupan gerejanya, dan kehidupan Tubuh, semua serba kasihan!” Namun, kasihan atau tidaknya orang-orang Korintus dalam perkara-perkara ini adalah soal kedua. Di sini yang penting adalah bahwa pada hakikatnya Surat Korintus mengilustrasikan kehidupan orang Kristen, kehidupan gereja, dan kehidupan Tubuh yang biasa dan khas. Sebenarnya, kehidupan orang Kristen umumnya tepat seperti yang ada di Korintus. Demikian pula kehidupan gereja dan kehidupan Tubuh yang khas.
Renungkan kehidupan orang Kristen, kehidupan gereja, dan kehidupan Tubuh Anda sendiri. Apakah kehidupan orang Kristen Anda lebih baik daripada orang-orang Korintus? Apakah kehidupan gereja dan kehidupan Tubuh Anda lebih unggul daripada yang mereka miliki? Jika Anda jujur, Anda akan menjawab bahwa Anda tidak lebih baik daripada orang-orang Korintus dalam perkara-perkara tersebut.
Tiap gereja lokal adalah suatu Korintus. Jangan membanggakan gereja di lokal Anda dan menganggapnya istimewa, lebih unggul daripada gereja di Korintus. Apakah Anda mempunyai keyakinan untuk mengatakan bahwa kehidupan orang Kristen Anda lebih baik daripada yang dimiliki orang-orang Korintus, atau kehidupan gereja dan kehidupan Tubuh Anda lebih unggul daripada yang mereka miliki? Jangan anggap gereja lokal Anda lebih indah daripada gereja di Korintus. Kehidupan gereja di Korintus adalah satu ilustrasi yang sebenarnya dari gereja di tiap lokal.
Bagaimana pengalaman Anda mengenai kehidupan Tubuh? Beberapa orang mungkin menaruh apresiasi atas kehidupan Tubuh di tempat tertentu dan merasakannya sangat indah. Namun apakah kehidupan Tubuh di sana lebih baik daripada yang diilustrasikan dalam Surat 1Korintus? Sudah tentu tidak. Karakter dan corak kita semua serupa dengan kaum beriman di Korintus. Allah memakai gereja di Korintus sebagai ilustrasi lengkap dari kehidupan orang Kristen, kehidupan gereja, dan kehidupan Tubuh yang terdapat di tiap lokal. Ini tentu sesuai dengan hikmat Allah.
Kita telah menunjukkan bahwa ada guru-guru Alkitab tertentu, teristimewa yang berada di kalangan Kaum Saudara, mengatakan bahwa 1 Korintus menanggulangi problem-problem serius dalam gereja. Surat 1Korintus memang meliput banyak problem. Yang pertama dari problem-problem itu adalah problem perpecahan. Dalam 1:11-12 Paulus berkata, ”Sebab, Saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu bahwa ada perselisihan di antara kamu. Yang aku maksudkan ialah bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus.” Sebagaimana perpecahan-perpecahan itu terjadi di antara kaum beriman di Korintus, perpecahan-perpecahan juga ada di antara kaum beriman dalam gereja hari ini. Gereja lokal mana yang tidak mengalami perpecahan? Beranikah Anda berkata bahwa dalam gereja di lokal Anda tidak ada perpecahan? Perpecahan-perpecahan ini bukan saya tujukan pada adanya berbagai denominasi, melainkan jenis perpecahan yang diilustrasikan orang-orang Korintus, yang masing-masing berkata, ”Aku dari golongan Paulus, atau aku dari golongan Apolos.” Memang umum di sebuah gereja lokal ada saudara-saudara tertentu yang mengatakan bahwa mereka untuk perkara atau orang tertentu, dan yang lain menyatakan bahwa mereka untuk perkara atau orang yang lain lagi. Inilah yang saya maksud perpecahan. Tidak ada seorang pun di antara kita yang berani mengatakan bahwa dalam gereja lokal kita tidak ada perpecahan semacam ini.
Tidak jarang bahkan terjadi perpecahan atau perselisihan antara seorang saudara dengan istrinya. Sebagai saudara dan saudari dalam Kristus, mereka datang bersama ke Sidang Pemecahan Roti dan sama-sama menerima satu roti. Namun, saudari itu mungkin tidak benar-benar bersatu dengan suaminya. Sebagai contoh, mungkin ia berbicara kepada suaminya dengan cara yang berbeda, atau walau tidak berkata apa-apa tetapi dalam batin menyalahkannya atau tidak menyetujuinya. Inilah perpecahan. Sesungguhnya, tidak seorang pun di antara kita dapat mengatakan bahwa dalam kehidupan gereja atau keluarga kita tidak ada perpecahan. Dalam hal ini kita serupa dengan gereja di Korintus.
Dengan menyinggung masalah perpecahan ini saya tidak bermaksud memperlihatkan bahwa 1Korintus merupakan surat yang membicarakan problem-problem, melainkan saya hendak menekankan fakta bahwa surat ini adalah surat yang mengilustrasikan kehidupan orang Kristen, kehidupan gereja, dan kehidupan Tubuh. Surat ini membicarakan orang-orang Kristen individual, gereja, dan Tubuh. Karena itu ada tiga kategori kehidupan rohani yang di ilustrasikannya: kehidupan orang Kristen individual, kehidupan gereja yang korporat, dan kehidupan Tubuh yang organik. Memiliki pandangan sedemikian ini amatlah penting ketika kita membaca surat ini. Dengan demikian kita akan memahami bahwa surat ini ditulis bukan untuk menyelesaikan problem atau menekankan karunia-karunia, melainkan mengilustrasikan kehidupan orang Kristen, kehidupan gereja, dan kehidupan Tubuh yang riil dan nyata.
Ilustrasi-ilustrasi dalam 1 Korintus kelihatannya bersifat negatif. Ya, memang itu negatif, tetapi riil. Lagi pula, situasi sebenarnya di antara kaum beriman dan dalam gereja-gereja banyak unsur negatifnya, baik pada masa Paulus maupun masa kini. Sungguh sulit menemukan satu gereja lokal yang situasinya sama sekali bebas dari unsur-unsur negatif. Sebagian orang mungkin sangat mengagumi kehidupan gereja yang dilukiskan dalam Kisah Para Rasul 2 dan 4. Tetapi apakah yang bisa lebih negatif daripada kasus Ananias dan Safira dalam Kisah Para Rasul 5? Kasus bersungut-sunggutnya orang banyak dalam Kisah Para Rasul 6 juga menunjukkan adanya suatu situasi yang negatif. Bahkan ketika Tuhan Yesus masih berada di bumi bersama murid-murid-Nya, saat itu pun banyak situasi negatif. Para murid saling bertengkar mengenai siapa yang paling besar. Tentu, 1Korintus bukan suatu ilustrasi dari Yerusalem Baru. Sebaliknya, ia adalah ilustrasi dari kehidupan orang Kristen, kehidupan gereja, dan kehidupan Tubuh pada zaman ini. Karena kita hidup dalam zaman ini, zaman gereja, maka kita perlu menerima 1 Korintus sebagai ilustrasi kita. Surat ini merupakan sebuah potret dari gereja lokal kita. Kiranya kita semua nampak dengan jelas bahwa 1 Korintus adalah sebuah ilustrasi dari kehidupan orang Kristen, kehidupan gereja, dan kehidupan Tubuh kita sendiri.
Pada satu aspek, kehidupan gereja kita diilustrasikan dengan kehidupan gereja di Korintus; pada aspek lain, dalam kehidupan orang Kristen individual, kita serupa dengan orang-orang Korintus. Dari Surat Kiriman ini kita mengetahui bahwa kaum beriman di Korintus masih jiwani dan bertindak dalam daging. Apakah Anda tidak pernah berada dalam keadaan jiwani? Apakah Anda tidak pernah hidup menurut daging? Khususnya, dapatkah Anda berkata bahwa Anda hari ini sama sekali tidak menghamburkan waktu Anda dalam daging? Jika kita dengan sejujurnya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita akan nampak bahwa secara rohani kita semua adalah orang Korintus. Kita semua adalah orang-orang yang berasal dari daerah yang orang-orangnya hidup di dalam jiwa dan daging. Namun puji Tuhan, kadang-kadang kita juga seperti orang-orang Korintus, yakni hidup di dalam roh.
Butir penting berikutnya ialah bahwa Surat 1Korintus ini menekankan Kristus. Dalam 2:2 Paulus mengutarakan sebuah kalimat yang keras: ”Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” Di sini Paulus bukan membicarakan Kristus yang telah dibangkitkan atau Kristus yang telah naik ke surga, bukan pula Kristus yang mengaruniakan segala karunia kepada kita, melainkan Kristus yang disalibkan, Kristus yang dimatikan. Jadi yang di tekankan Paulus dalam surat ini ialah Kristus yang dihukum, disalibkan. Dalam surat ilustrasi ini, Kristuslah fokusnya, tetapi terutama bukan Kristus sebagai Roh pemberi hayat dalam kebangkitan, melainkan Kristus yang disalibkan. Jika kita nampak bahwa 1Korintus merupakan sejilid surat ilustrasi dan surat ini menekankan Kristus yang disalibkan, maka kita sudah siap untuk membahas Surat Kiriman ini secara terperinci.
Dalam 1:1-9 Paulus meliput sejumlah butir penting. Dalam ayat-ayat tersebut pertama-tama kita nampak satu pemahaman yang wajar mengenai rasul. Kemudian kita nampak satu pandangan jelas tentang gereja dan kaum beriman. Selanjutnya Paulus membahas sesuatu yang boleh kita sebut sebagai karunia-karunia awal. Jika kita ingin memahami Surat 1Korintus, kita harus mengetahui apakah karunia-karunia awal dan apakah karunia-karunia yang dikembangkan. Dalam pasal 1 kita tidak nampak karunia-karunia yang dikembangkan, yakni karunia-karunia yang berasal dari pertumbuhan hayat, melainkan hanya ada karunia-karunia awal. Ayat 9 amat penting. Di sini Paulus berkata, ”Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” Di sini Paulus membicarakan tentang persekutuan Kristus. Allah memanggil kita untuk memasuki persekutuan ini. Jadi, butir-butir utama dalam 1:1-9 adalah rasul, gereja, kaum beriman, karunia-karunia awal, dan persekutuan Kristus.
I. PENULIS DAN PENERIMA
A. Penulisnya
1. Paulus, Rasul yang Dipanggil oleh Kristus
Satu Korintus 1:1 mengatakan, ”Dari Paulus, yang atas kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara seiman kita.” Seorang rasul adalah orang yang diutus. Paulus adalah orang yang demikian, bukan menunjuk diri sendiri, melainkan dipanggil Tuhan. Jabatan rasulnya benar-benar dapat diandalkan (9:1-5; 2Kor. 12:11-12; lihat 2Kor. 11:13; Why. 2:2), memiliki otoritas pemerintahan Perjanjian Baru Allah (2Kor. 10:8; 13:10). Berdasarkan kedudukan ini dan dengan otoritas ini, rasul menulis surat ini, bukan hanya untuk merawat dan membangun orang-orang kudus di Korintus, tetapi juga untuk mengatur dan membenahi gereja di sana.
Membandingkan cara Paulus menerangkan kerasulannya dalam 1 dan 2 Timotius dan Titus dengan apa yang ia katakan dalam 1 Korintus adalah perkara yang berfaedah. Dalam 1Timotius 1:1, Paulus mengatakan bahwa ia adalah seorang rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah dan Kristus Yesus. Dalam 2Timotius 1:1, ia mengatakan tentang dirinya sendiri sebagai rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, menurut janji hayat dalam Kristus Yesus. Dalam Titus 1:1-2, Paulus mengatakan bahwa ia adalah seorang rasul Yesus Kristus menurut iman (kepercayaan) orang-orang pilihan Allah, dan pengetahuan penuh tentang kebenaran yang sesuai dengan ibadah, dan dalam pengharapan akan hidup yang kekal. Satu Korintus 1:1 menekankan dua hal mengenai kerasulan Paulus, bahwa Paulus adalah seorang rasul Kristus Yesus yang dipanggil dan bahwa ia menjadi rasul melalui kehendak Allah.
Paulus adalah seorang rasul yang dipanggil, ini menunjukkan bahwa ia bukan memilih diri sendiri, atau mengangkat diri sendiri, kerasulannya bukan dari prakarsa dirinya sendiri. Sejak buku saudara Watchman Nee ”Kehidupan Gereja yang Normal” diterbitkan, banyak orang mulai menganggap diri mereka sebagai rasul; sebenarnya, mereka adalah orang-orang yang menentukan diri sendiri. Paulus, sebaliknya, adalah seorang rasul sejati, rasul yang dipanggil. Ia tidak bermaksud menjadi seorang utusan Kristus Yesus. Sebaliknya, sebagai orang yang mengabdi kepada agama Yahudi, ia bermaksud menganiaya orang-orang yang berseru kepada nama Tuhan. Tetapi pada suatu hari, dalam perjalanan ke Damsyik, Tuhan menampakkan diri kepadanya, dan ia menerima panggilan Allah. Ia dipanggil menjadi rasul oleh Kristus yang naik ke surga. Sebab itu, jabatan rasulnya bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari Kristus yang di surga.
Dalam 1:1, Paulus berkata bahwa ia adalah seorang rasul oleh kehendak Allah. Kehendak Allah adalah ketentuan Allah untuk merampungkan tujuan-Nya. Berdasarkan kehendak ini Paulus dipanggil untuk menjadi rasul Kristus. Perkataan Paulus di sini memperkuat kedudukan dan otoritasnya sebagai rasul. Dalam Surat-surat Kiriman lainnya, Paulus juga memberi tahu kita bahwa ia adalah seorang rasul oleh kehendak Allah (2Kor. 1:1; Ef. 1:1; Kol. 1:1; 2Tim. 1:1). Kehendak Allah di sini bersangkutan dengan pemerintahan Allah, administrasi Allah. Paulus dipanggil menurut kehendak Allah dan di bawah pemerintahan Allah untuk melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Ini adalah suatu perkara yang bermakna besar. Paulus diangkat dan dipanggil menurut kehendak Allah untuk melaksanakan pemerintahan-Nya.
Oleh karena Paulus dipanggil menjadi rasul menurut prakarsa Kristus dan kehendak Allah untuk melaksanakan pemerintahan-Nya, maka Paulus mempunyai kedudukan maupun otoritas sebagai utusan Allah. Jadi, ia memiliki alasan untuk menulis Surat Kiriman ini. Karena itu, 1 Korintus bukan surat ajaran semata-mata, melainkan surat otoritas. Sebagai contoh, dalam 4:21 Paulus bertanya kepada orang-orang Korintus, ”Apa yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan roh yang lemah lembut?” (Tl.). Sebagai rasul yang dipanggil oleh kehendak Allah, Paulus memiliki kedudukan dan otoritas sebagai rasul.
2. Sostenes, Saudara Kita
Dalam 1:1, Paulus tidak saja menyebut dirinya sendiri, tetapi juga menyebut Sostenes, saudara itu. Sostenes di sini mungkin bukan Sostenes dalam Kisah Para Rasul 18:17. Sostenes itu adalah kepala rumah ibadah di Korintus ketika Paulus dianiaya di sana. Surat Kiriman ini ditulis di Efesus (1Kor. 16:8) tidak lama setelah rasul meninggalkan Korintus. Sostenes di sini adalah seorang saudara dalam Tuhan, tentunya ia keluar menunaikan ministri bersama Paulus. Penyebutan namanya di sini memperkuat kerasulan Paulus dan menyatakan prinsip Tubuh.
B. Penerimanya
1. Gereja Allah di Korintus, yang Dikuduskan dalam Kristus, Umat Kudus yang Terpanggil
Dalam 1:2 tercantum orang-orang yang menerima Surat Kiriman ini. Surat ini ditulis kepada ”jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus.” Gereja (jemaat) Allah! Suatu ungkapan yang indah! Bukan gereja Kefas, atau gereja Apolos, atau gereja Paulus, juga bukan gereja dari tata cara atau doktrin apa pun, tetapi gereja Allah. Meskipun dalam gereja di Korintus ada perpecahan, dosa, kekacauan, penyalahgunaan karunia, dan ajaran sesat, rasul tetap menyebutnya gereja Allah, sebab esens ilahi dan rohani yang membuat kaum beriman berhimpun bersama menjadi gereja Allah benar-benar ada di sana. Sebutan rohani oleh rasul ini berdasar pada pandangan rohaninya dalam memandang gereja di dalam Kristus. Sebutan yang sederhana ini seharusnya menyingkirkan semua perpecahan dan kekacauan atas tata cara dan doktrin.
Dalam ayat 2 Paulus mengatakan tentang ”gereja Allah di Korintus.” Gereja dibentuk oleh Allah alam semesta, tetapi bereksistensi di banyak tempat di bumi, salah satu di antaranya adalah Korintus. Atas sifat, gereja adalah universal di dalam Allah, tetapi atas pelaksanaan, gereja adalah lokal di tempat tertentu. Jadi, gereja memiliki dua aspek: aspek universal dan aspek lokal. Tanpa aspek universal, gereja akan tidak ada isinya, tanpa aspek lokal, tidak akan ada perwujudan dan pelaksanaan gereja. Karena itu, Perjanjian Baru juga menekankan aspek lokal gereja (Kis. 8:1; 13:1; Why. 1:11).
Keterangan Paulus tentang gereja itu sangat indah. Namun, orang Kristen jarang memperhatikannya. Gereja adalah gereja Allah, sebab ia tersusun dari sifat ilahi. Ungkapan ”gereja Allah” menunjukkan bahwa gereja mempunyai sifat Allah, yaitu tersusun dari unsur Allah. Sebab itu, gereja adalah dari Allah. Inilah aspek universal gereja. Tetapi gereja yang dari Allah ini pun bersifat lokal. Dalam hal ini, ialah gereja Allah di Korintus.
Dalam sebuah ayat ini kita nampak aspek universal maupun aspek lokal gereja. Aspek universal mengacu pada susunan, sifat, dan isi gereja, sedangkan aspek lokal mengacu pada ekspresi dan pelaksanaan gereja. Jika kita hanya memiliki aspek lokal, tetapi tidak memiliki aspek gereja yang dari Allah, kita hanya mempunyai suatu formalitas lahiriah. Kita akan kekurangan realitas batiniahnya. Tetapi jika kita hanya memiliki aspek universal, tetapi tidak memiliki aspek lokal gereja di tempat tertentu, kita akan memiliki realitas namun tanpa pelaksanaan. Di satu pihak, gereja tersusun dari Allah, di pihak lain, gereja diekspresikan di tempat tertentu.
Tidak banyak guru Kristen yang nampak kedua aspek gereja ini. Dalam tulisan-tulisan mereka, ada yang membicarakan tentang gereja Allah, dan yang lain mungkin mengatakan sesuatu tentang gereja berada di Korintus. Tetapi kita perlu terkesan bahwa keterangan tentang gereja dalam 1:2 meliputi dua aspek gereja, yakni universal dan lokal. Kita pun harus mengerti bahwa aspek universal mengacu kepada sifat dan isi gereja dan bahwa aspek lokal mengacu kepada pelaksanaan dan ekspresi gereja. Hari ini kita wajib memiliki kedua aspek ini. Kita wajib menjadi gereja Allah di satu tempat tertentu, misalnya di Anaheim, Vancouver, atau Filadelfia. Kita wajib menjadi universal juga lokal, lokal juga universal. Kita semua harus dapat berkata bahwa kita adalah dari gereja Allah di suatu tempat. Tatkala orang bertanya kepada Anda, Anda milik gereja mana, Anda harus mengatakan bahwa Anda milik gereja Allah di tempat Anda berada, tempat tertentu. Dalam pemulihan Tuhan, kita mempunyai gereja universal yang terekspresi dan dilaksanakan di tempat-tempat (lokal) tertentu.