ROH MANUSIA MENGETAHUI HAL-HAL MANUSIA, ROH ALLAH MENGETAHUI
HAL-HAL ALLAH
(1)
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 1:9-12, 17-31; 2:1-16
Menurut susunan kitab-kitab dalam Perjanjian Baru, Surat Roma persis terletak sebelum Surat 1Korintus. Meskipun kedua Surat Kiriman ini ditulis oleh Paulus, namun keduanya berbeda dalam gaya komposisinya. Surat Roma disusun menurut doktrin dan mewahyukan kebenaran secara doktrinal. Pada awal Surat Roma terdapat orang-orang ber-dosa, tetapi pada akhir Surat Roma terdapat gereja-gereja lokal. Dalam Roma 1:18-32 kita melihat sebuah lukisan mengenai orang berdosa di bawah hukuman Allah. Tetapi dalam Roma 16 tercantum gereja-gereja. Misalnya dalam ayat 1 Paulus berkata, ”Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari seiman kita yang melayani jemaat di Kengkrea.” Alangkah menakjubkan, orang-orang yang tadinya berdosa itu dapat dibenarkan, dikuduskan, dan akhirnya memiliki pengalaman dan kenikmatan penuh atas Roh sebagai buah sulung. Hasilnya, mereka menjadi Tubuh Kristus yang terekspresi secara riil sebagai gereja-gereja lokal. Roma 16 tidak hanya berbicara mengenai gereja di Kengkrea, namun juga gereja yang di rumah Priska dan Akwila (ayat 5). Gereja di Roma bersidang di rumah pasangan ini. Sungguh menarik sekali, kitab yang doktrinal seperti Surat Roma ini dimulai dengan orang-orang berdosa dan berakhir dengan gereja-gereja lokal.
SEJILID KITAB YANG RUMIT
Surat Roma dan 1 Korintus masing-masing terdiri atas enam belas pasal. Berbeda dengan Surat Roma, Surat 1Korintus bukanlah kitab doktrin, melainkan kitab praktek. Namun, Surat Kiriman ini sangat rumit. Pada umumnya perkara-perkara doktrinal itu rumit. Nampaknya kapan saja dan di mana saja kita membicarakan doktrin, kita akan menghadapi kerumitan. Akan tetapi sungguh menakjubkan, dalam kitab doktrin seperti Surat Roma malah tidak ada kerumitan. Karena alasan itu, sejak saya menjadi orang Kristen, saya menyukai Surat Roma, sebab kitab ini sama sekali tidak rumit. Tetapi saya tidak terlalu memperhatikan 1 Korintus. Kadang-kadang dalam pembacaan Alkitab saya, saya loncati kitab ini, karena ingin menghindari semua kerumitan dan problem-problem yang terkandung di dalamnya.
Contoh-contoh kerumitan dalam 1Korintus terdapat dalam pasal 1, 5, dan 15. Dalam 1:10 Paulus menasihati kaum beriman di Korintus supaya jangan ada perpecahan di antara mereka. Kemudian dalam ayat 11 dan 12 ia berbicara mengenai perselisihan dan perpecahan: ”Sebab, Saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu bahwa ada perselisihan di antara kamu. Yang aku maksudkan ialah bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus.” Sudah pasti, laporan yang diterima Paulus menyinggung satu situasi yang rumit.
Dalam pasal 5 Paulus menanggulangi dosa percabulan. Masalah ini terlalu mengerikan, sehingga saya tidak suka membicarakannya. Kemudian dalam pasal 15 kita ketahui bahwa beberapa orang beriman menyangkal adanya kebangkitan. Dengan membaca ketiga pasal tersebut kita nampak betapa gawatnya kerumitan-kerumitan di antara kaum beriman di Korintus.
Karena 1Korintus mengandung kerumitan-kerumitan dalam praktek hidup gereja, maka saya tidak menyukai kitab ini. Namun dari segi arti yang lain, saya sangat menyukai Surat Kiriman ini. Kelihatannya seperti bertentangan, namun sesungguhnya inilah satu cara untuk meninjau kedua aspek yang berbeda dari kitab ini. Banyak hal dalam Alkitab sepertinya bertentangan. Sebagai contoh: Allah itu esa, namun Dia Tritunggal. Roh Allah itu satu, namun kitab Wahyu membicarakan mengenai ketujuh Roh. Mengatakan bahwa Kristus adalah Allah pun manusia, tampaknya juga bertentangan. Dengan berpegang pada prinsip bahwa kebenaran Alkitab memiliki dua aspek, maka saya dapat berkata, kalau saya memandang 1 Korintus dari satu sudut, saya tidak menyukai kitab ini; namun ketika saya memandangnya dari sudut yang berbeda, saya sangat menyukainya.
PERBANDINGAN SURAT ROMA
DENGAN 1 KORINTUS
Pernah saya katakan dahulu bahwa kita dapat mengandaikan seluruh Alkitab seperti tangan seseorang, Perjanjian Baru seperti sebuah cincin, dan Surat Roma seperti berlian pada cincin itu. Betapa indah dan mustikanya Surat Kiriman Paulus kepada gereja di Roma! Surat itu benar-benar sebutir berlian. Walaupun saya boleh memakai ilustrasi demikian untuk memperlihatkan nilai Surat Roma, tetapi saya tidak bisa mengilustrasikan kemustikaan 1 Korintus. Pada aspek tertentu, 1 Korintus lebih mustika daripada Surat Roma.
Dalam 1 Korintus Paulus meliput banyak hal yang bahkan tidak disebut-sebut dalam Surat Roma. Misalnya, dalam 1:9 Paulus mengatakan bahwa melalui Allah yang setia kita telah dipanggil ke dalam persekutuan Anak-Nya Yesus Kristus. Perkataan semacam ini tidak diucapkan Paulus dalam suratnya kepada orang Roma. Dalam 1:24 Paulus melanjutkan bahwa bagi kita yang dipanggil, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Hal ini tidak disebut di dalam Surat Roma.
Surat Roma mewahyukan bahwa kita ada di dalam Kristus, namun dalam 1Korintus 1:30 Paulus mengumumkan lebih lanjut: ”Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus.” Di sini kita melihat bahwa oleh Allahlah kita berada dalam Kristus. Surat Roma memberi kita fakta tentang beradanya kita di dalam Kristus, tetapi tidak menyebutkan bahwa oleh Allahlah kita berada di dalam Kristus. Sebelum Anda beroleh selamat, pernahkah Anda bermimpi bahwa Anda akan berada di dalam Kristus? Pernahkah Anda membayangkan bahwa Allah akan menaruh Anda ke dalam Kristus? Kita tahu dari 1:30 bahwa hanya oleh Allahlah kini kita berada di dalam Kristus. Pada masa kekekalan yang lampau, sebelum Allah menciptakan apa-apa, Allah sudah berpikir untuk menaruh kita di dalam Kristus. Kita bahkan boleh mengatakan bahwa Allah mempunyai sebuah mimpi mengenai kita, sebuah mimpi menurut keinginan hati-Nya, yaitu agar kita dapat berada di dalam Kristus. Karena Allah damba untuk mendapatkan kita, Dia bermimpi sedemikian mengenai kita. Jadi bukanlah secara kebetulan kalau kita berada di dalam Kristus. Hal ini telah ditetapkan Allah pada kekekalan yang lampau. Setiap kali saya memikirkan bahwa pada kekekalan yang lampau Allah mempunyai kedambaan untuk menaruh saya ke dalam Kristus, saya lupa diri karena sukacita. Oh, betapa bermaknanya perkara ini, Allah sudah bermimpi tentang kita dalam kekekalan! Betapa manis dan menyenangkan hal ini! Betapa mustikanya pernyataan: ”Oleh Dia kamu berada di dalam Kristus Yesus!”
Dalam 1 Korintus Paulus juga berbicara tentang hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah dan tentang minum dari satu Roh. Dalam Roma 11:33 Paulus memang berkata, ”O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah!” Akan tetapi dalam Surat Roma ia tidak menyebut hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah, tidak pula disebut tentang minum dari satu Roh. Ungkapan-ungkapan unik yang terdapat dalam 1Korintus ini bukan hanya mustika, tetapi juga nikmat untuk kita kecap. Dalam Surat Roma banyak hal yang mustika, tetapi hal-hal yang mustika dalam 1Korintus lebih baik untuk kita kecap. Dalam berita ini kita akan membahas lebih lanjut banyak hal mustika yang terdapat dalam 1 Korintus 1 dan 2.
HAL-HAL YANG TERDAPAT DALAM DIRI MANUSIA DAN ROH MANUSIA
Ketika membaca 1 Korintus selagi masih muda, saya merasa bingung dengan ungkapan ”Apa yang terdapat di dalam diri manusia” dalam 2:11. Tidakkah Anda dibingungkan dengan ungkapan ini? Mengapa Paulus mengatakan bahwa kita tidak dapat mengetahui apa yang terdapat di dalam diri manusia jikalau tanpa roh manusia? Mengapa begitu sulit untuk mengetahui hal-hal yang terdapat di dalam diri manusia? Menurut konsepsi saya, tidaklah sukar untuk mengetahui hal-hal dalam diri manusia, sebab saya kira Paulus mengacu kepada perkara-perkara seperti makanan, pakaian, perumahan, dan kehidupan keluarga. Pada waktu itu saya tidak tahu apa-apa tentang roh manusia. Tahukah Anda apa itu roh dan di mana roh Anda berada? Sebagai seorang Kristen yang masih muda, saya tidak mengetahui roh manusia maupun hal-hal yang terdapat di dalam diri manusia. Perkara tersebut di atas hanya dapat diketahui oleh roh manusia. Akan tetapi saya tidak dipersulit oleh perkataan Paulus bahwa tidak seorang pun mengetahui hal-hal yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah. Saya cukup paham, karena saya bukan Allah maka saya tidak dapat mengetahui apa yang terdapat di dalam diri Allah. Saya mengerti bahwa hanya Roh Allah yang mengenal apa yang terdapat di dalam diri Allah. Tetapi yang mempersulit saya ialah apa yang Paulus katakan tentang hal-hal yang terdapat di dalam diri manusia dan roh manusia.
Apakah hal-hal yang ada di dalam diri manusia seperti yang disinggung Paulus dalam 2:11? Hal ini tentu bukan mengacu kepada pengetahuan tentang hal-hal luar yang berkenaan dengan manusia, seperti mengetahui umurnya, tempat kelahirannya, nama istrinya dan anak-anaknya, profesinya, riwayat pendidikannya, dan jenis mobil yang dikendarainya. Mengenal seseorang secara demikian tidak ada hubungannya dengan apa yang Paulus maksudkan dengan hal-hal yang terdapat di dalam diri manusia seperti yang tertulis dalam 1 Korintus.
Menurut Yohanes 6:42, orang-orang Yahudi berkata, ”Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapak-Nya kita kenal?” Mereka mengenal hal-hal lahiriah tertentu dari Tuhan bahwa Dia berasal dari Galilea, Dia seorang tukang kayu, dan Dia mempunyai saudara laki-laki dan perempuan namun mereka sesungguhnya sama sekali tidak mengenal Dia (Mrk. 6:3; Yoh. 7:41). Hal ini menunjukkan bahwa apa yang kita ketahui dari seseorang tidak berarti apa-apa. Kita mungkin mengenal seseorang secara lahiriah tanpa mengenal kesejatian orang itu. Di satu pihak kita mengenal manusia, di pihak lain kita tidak mengetahui hal-hal yang terdapat dalam diri manusia. Kita tidak dapat menyangkal fakta bahwa kita mengenal manusia. Namun, kita tidak dapat menyatakan bahwa kita mengenal hal-hal di dalam diri manusia. Apakah Anda memiliki pengenalan yang penuh mengenai diri Anda sendiri? Tahukah Anda sumber dan nasib Anda? Tahukah Anda cinta sejati dan hayat sejati Anda? Anda mungkin mengetahui banyak hal mengenai diri Anda tanpa mengetahui hal-hal yang terdapat dalam batin Anda.
GAMBARAN MANUSIA DAN ALLAH
Pada prinsipnya, baik hal-hal yang terdapat dalam diri manusia maupun hal-hal yang terdapat dalam diri Allah yang disebutkan dalam 2:11 tentu mengacu kepada hal-hal yang telah dikatakan Paulus dalam kedua pasal pertama dari 1 Korintus. Inilah cara yang tepat, bukan saja untuk memahami Alkitab, tetapi juga untuk memahami tulisan-tulisan lainnya. Andaikata ayah Anda menulis sepucuk surat yang panjang untuk Anda. Dalam surat itu ia ber-bicara mengenai banyak hal. Pada butir tertentu ia mungkin berkata, ”Apabila kamu tidak mempunyai pengetahuan yang memadai, kamu tidak akan dapat mengerti hal-hal ini.” Frase ”hal-hal ini” pastilah mengacu kepada semua hal yang disebutkan sebelumnya dalam surat itu. Demikian juga, hal-hal yang terdapat dalam diri manusia dalam 2:11 pasti mengacu kepada apa yang telah dikatakan Paulus tentang menusia dalam ayat-ayat sebelumnya. Begitu pula halnya tentang hal-hal yang terdapat dalam diri Allah. Dengan demikian kita dapat melihat bahwa 1Korintus 1 dan 2 memberi kita satu wahyu, satu pandangan yang jelas tentang manusia dan Allah. Dalam kedua pasal ini kita melihat sebuah gambar manusia juga Allah.
Kedua pasal ini dengan serentak memberi kita sebuah potret dari Allah dan manusia. Dalam 1 Korintus 1 dan 2 kita memiliki sebuah visi rangkap dua, sebuah visi tentang hal-hal yang terdapat dalam diri Allah dan hal-hal yang terdapat dalam diri manusia. Sudahkah Anda nampak visi rangkap dua ini? Sudahkah Anda nampak bahwa dalam potret Paulus tentang manusia, kita juga mempunyai potret Allah? Sudahkah Anda nampak bahwa sementara kita melihat hal-hal dalam diri manusia dalam pasal ini, kita pun nampak hal-hal yang terdapat dalam diri Allah? Alangkah menakjubkan wahyu yang terkandung di sini!
Telah kita tunjukkan bahwa pada prinsipnya, hal-hal yang terdapat dalam diri manusia dan hal-hal yang terdapat dalam diri Allah dalam 2:11 mengacu kepada apa yang telah ditulis oleh Paulus dalam Surat Kiriman ini tentang manusia dan Allah. Jadi, jika kita hendak mengetahui hal-hal yang terdapat dalam diri manusia dan Allah, kita harus membahas apa yang dibahas Paulus dalam pasal-pasal ini.
CONTOH-CONTOH DARI HAL-HAL
YANG TERDAPAT DALAM DIRI MANUSIA
Dalam 1:10-12 Paulus berbicara tentang hal-hal tertentu yang terdapat dalam diri manusia, misalnya dalam ayat 10 ia berkata, ”Tetapi aku menasihatkan kamu, Saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata.” Seiasekata pasti adalah salah satu aspek yang terdapat di dalam diri manusia. Mungkin kita menyangka bahwa seiasekata adalah hal yang biasa, yang umum. Akan tetapi, pernahkah Anda melihat sekelompok manusia yang selalu seiasekata? Pernahkah Anda melihat sepasang suami-istri, yang benar-benar seiasekata? Sepasang suami-istri sangat sulit untuk seiasekata. Saudara-saudara, seringkah Anda dan istri Anda seiasekata? Dalam 1:10 Paulus menasihati kaum beriman di Korintus untuk seiasekata. Hal ini bukanlah aspek dari kehidupan manusia yang jatuh, melainkan aspek dari orang-orang yang telah beroleh selamat. Ketika saya membaca ayat ini beberapa tahun yang lampau, saya menggelengkan kepala, tidak percaya. Menurut saya, tidak mungkin kaum beriman di suatu lokal bisa selalu seiasekata. Apakah setiap orang di gereja lokal Anda seiasekata? Faktanya kita sering berbeda perkataan dan pendapat, baik dalam kehidupan gereja maupun dalam kehidupan pernikahan kita. Berbeda pendapat dan perkataan adalah ciri-ciri yang menonjol dari manusia yang telah jatuh. Kegagalan untuk seiasekata dalam hidup gereja maupun hidup pernikahan akan menimbulkan banyak problem. Tetapi, walaupun kita telah terbiasa untuk berbeda pendapat dan perkataan, kedambaan Allah ialah agar semua orang yang telah beroleh selamat dan ditebus-Nya dapat seiasekata. Jadi berdasarkan kedambaan inilah Paulus menasihati kaum beriman di Korintus untuk seiasekata.
Dalam 1:10 Paulus melanjutkan, ”Dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.” Di sini ada perpecahan, sehati, dan sepikir, kesemuanya ini termasuk dalam hal-hal yang terdapat dalam diri manusia. Di sini Paulus menyinggung hati (sehati). Sering kali kita mungkin tidak berbeda pembicaraan, tetapi dalam batin kita mempertahankan opini yang berbeda. Misalnya, seorang saudara mungkin berkata bahwa para saudari harus mengenakan tudung kepala. Walaupun istrinya tidak berkata apa-apa, tetapi dalam batinnya mungkin ia tidak setuju. Hal ini menunjukkan bahwa saudara itu dan istrinya tidak sepikir. Menurut perka-taan Paulus dalam 1:10, kita tidak saja harus seiasekata, tetapi juga sehati dan sepikir.
Sering sekali kita mempunyai pendapat yang berbedabeda dalam hidup gereja. Misalnya, seorang saudara lebih menyukai dan memilih penatua yang pandai, saudara yang lain mungkin memilih yang lemah-lembut, dan saudara yang lain lagi memilih yang lambat dan toleran. Hal ini menunjukkan fakta bahwa di antara saudara-saudara itu terdapat opini yang berbeda-beda. Opini-opini yang sedemikian adalah aspek-aspek dari hal-hal yang terdapat di dalam diri manusia.
Dalam 1:11 Paulus melanjutkan, ”Sebab, Saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu.” Perselisihan yang tercatat dalam ayat ini juga termasuk hal-hal yang terdapat di dalam diri manusia. Dalam ayat 12 Paulus mengatakan selanjutnya, ”Yang aku maksudkan ialah bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus.” Di sini kita lihat adanya kesukaan-kesukaan di antara orang-orang Korintus. Kesukaan-kesukaan ini juga termasuk hal-hal yang terdapat di dalam diri manusia.
HAL-HAL YANG TERDAPAT DALAM DIRI ALLAH
Dalam ayat 17-25 Paulus tiba pada hal-hal yang terdapat di dalam diri Allah. Dalam 1:18 ia menyebut kata salib. Perkataan tentang salib adalah salah satu dari hal-hal yang terdapat dalam diri Allah. Bagi kita yang telah beroleh selamat, perkataan salib adalah kekuatan Allah. Kekuatan Allah juga merupakan satu aspek dari hal-hal yang terdapat dalam diri Allah. Menurut ayat 19 dan 20, Allah akan membinasakan hikmat orang berhikmat, melenyapkan kearifan orang-orang bijak, dan membuat hikmat dunia ini menjadi satu kebodohan. Hal-hal ini tentu juga tercakup dalam hal-hal yang terdapat dalam diri Allah. Dalam ayat 21 Paulus berkata, ”Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmat, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.” Bahkan kebodohan pemberitaan adalah salah satu dari hal-hal yang terdapat dalam diri Allah. Ayat 24 melanjutkan, ”Tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” Kekuatan Allah dan hikmat Allah juga tergolong dalam hal-hal yang terdapat dalam diri Allah. Akhirnya, dalam ayat 25 Paulus menyatakan, ”Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia.” Paulus bahkan menggolongkan kebodohan dan kelemahan dari Allah di antara hal-hal yang terdapat dalam diri Allah.
Dalam ayat 26 Paulus sekali lagi beralih kepada hal-hal yang terdapat dalam diri manusia: ”Ingat saja, Saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.” Menurut konsepsi manusia, kita seharusnya menganggap diri kita sendiri bijaksana, tidak bodoh.
Dalam ayat 27-28 Paulus berbicara lagi mengenai hal-hal yang terdapat dalam diri Allah, ”Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti.” Di sini kita nampak apa yang telah dipilih Allah. Hal-hal yang terdapat dalam diri Allah di sini termasuk pemilihan Allah atas orang yang bodoh untuk memalukan yang bijak; yang lemah untuk memalukan yang kuat; dan yang tidak terpandang, hina, dan yang tidak berarti untuk meniadakan yang berarti. Hasilnya, tidak ada daging yang dapat memegahkan dirinya di hadapan Allah (ayat 29).
Ayat 30 mengatakan,”Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita: kebenaran, dan pengudusan, dan penebusan kita” (Tl.). Hal-hal yang ada dalam diri Allah pasti juga mencakup Allah menaruh kita dalam Kristus Yesus.
PENGETAHUAN YANG TEPAT
ATAS ALLAH DAN MANUSIA
Kalau kita membahas Surat 1 Korintus, kita melihat bahwa hal-hal yang terdapat dalam diri manusia meliputi posisi, situasi, kondisi, kebutuhan, sumber, dan nasib manusia. Pikiran alamiah manusia tidak cukup untuk mengetahui hal-hal ini. Bahkan para profesor pun tidak mengetahuinya. Konghucu mengenal filsafat etis, namun ia tidak mengenal hal-hal yang terdapat dalam diri manusia maupun Allah. Ia mengatakan bahwa jika kita berdosa kepada langit, tidak ada jalan untuk memperoleh pengampunan. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak mengenal Allah maupun manusia. Ia tidak mengenal sumber, kondisi, posisi, situasi, kebutuhan, dan nasib manusia. Sungguhpun ia tahu bahwa Allah itu ada, namun ia tidak mengenal Allah.
Orang-orang Farisi dan Saduki menyangka bahwa karena mereka mengenal Perjanjian Lama, maka mereka juga mengenal Allah. Walaupun mereka berusaha keras untuk memelihara Perjanjian Lama sampai tingkat tertentu, tetapi mereka tidak memiliki pengenalan yang benar akan Allah. Apakah Anda menyangka bahwa para imam yang menyembah Allah di bait itu benar-benar mengenal Dia? Tidak, mereka sama sekali tidak mengenal Dia. Demikian pula, orang-orang Farisi, Saduki, dan para ahli Taurat tidak mengenal hal-hal yang terdapat dalam diri manusia. Mereka tidak mengenal posisi, kondisi, dan kebutuhan mereka sendiri. Hanya Tuhan Yesuslah yang mengetahui hal-hal yang terdapat dalam diri manusia dan Allah. Karena agamawan-agamawan itu memahami pikiran alamiah mereka, maka mereka tidak dapat mengetahui hal-hal ini. Akan tetapi Tuhan Yesus memakai rohNya. Menurut Markus 2:8, dalam rohNya Ia mengerti pikiran-pikiran dan motivasi orang-orang Farisi. Karena Ia memakai roh-Nya dengan Roh Allah, Ia dapat mengetahui hal-hal yang terdapat dalam diri manusia dan Allah.
Dalam 1Korintus 1 dan 2 kita melihat bahwa Paulus adalah satu contoh dari orang yang mengetahui hal-hal dalam diri manusia dan Allah. Ia tahu posisi, kondisi, situasi, dan nasib kaum beriman di Korintus. Karena kaum beriman ini memakai mentalitas filsafat Yunani, mereka tidak mengetahui hal-hal yang terdapat dalam diri manusia. Walaupun mereka tidak mengenal diri mereka sendiri, namun Paulus sangat mengenal mereka, karena Paulus adalah seorang yang memakai rohnya agar dibawa masuk ke dalam Roh Allah. Dengan sarana kedua roh inilah, Paulus memiliki pengenalan yang lengkap terhadap orang-orang Korintus.
Paulus pun memiliki pengenalan yang tepat mengenai Allah. Ketika ia melukiskan situasi dan kondisi di antara para filsuf Yunani di Korintus, ia memberi kita sebuah potret Allah. Bukankah menakjubkan, sementara ia melukiskan kondisi kaum beriman ia menyajikan sebuah gambar dari hal-hal yang terdapat di dalam diri Allah? Di sini Paulus menunjukkan bahwa sementara orang-orang Korintus menjunjung hikmat manusia, Allah bermaksud membinasakannya. Jadi, mengenai hal ini, kita memiliki sebuah wahyu rangkap dua: Pertama, orang-orang Korintus mengagungkan hikmat mereka; kedua, Allah membinasakan hikmat itu. Dengan prinsip yang sama, dalam pasal 3 kaum beriman Korintus merusak gereja; akan tetapi Allah membangunnya. Sekali lagi sebuah gambar menyajikan wahyu rangkap dua: sebuah visi perusakan oleh manusia dan pembangunan oleh Allah. Selain itu, dengan menunjukkan betapa orang-orang Korintus memerlukan Kristus, Paulus juga mengungkapkan sampai sejauh mana Allah menyuplai mereka dengan Kristus. Sekali lagi, sebuah gambar memuat dua visi. Dalam kedua pasal ini kita melihat betapa kita memerlukan Kristus dan juga betapa Kristus disuplaikan Allah kepada kita. Karena itu, kita nampak hal-hal yang terdapat di dalam diri manusia dan hal-hal yang terdapat di dalam diri Allah.