BAGAIMANA MENGONTAKI ORANG (2)
Kita telah melihat bahwa dalam semua kontak kita dengan orang, kita harus mengasuh mereka dengan tujuan merawat mereka dengan kekayaan Kristus yang tak terduga. Jika kita mau mendispensikan kekayaan-kekayaan Kristus yang diwahyukan dalam Alkitab ke dalam orang, kita sendiri harus dikonstitusi dengan kekayaan-kekayaan ini.
Alkitab pertama kali ditulis, lalu diterjemahkan, dan akhirnya diinterpertasikan dan dijelaskan. Menurut jalan lama kita, banyak di antara kita telah mendengarkan berita-berita yang menafsirkan Alkitab selama bertahun-tahun, tetapi ketika kita pergi mengontaki orang, kita masih tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Inilah sebabnya mengapa saya telah membagikan bahwa kita perlu mengikuti pola dari kaum saleh di Taiwan untuk melaksanakan D B H T—doa-baca, belajar, hafal, tutur-sabda. Semua ini memerlukan waktu. Doa-baca tidak dapat dilakukan dengan ringan. Kemudian kita perlu mempelajari kebenaran-kebenaran itu kata demi kata, istilah demi istilah, dan kelompok kata (frase) demi kelompok kata (frase). Sebagai contoh, Yohanes 1:1 mengatakan,”Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Kemudian ayat 14 mengatakan bahwa Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Kemudian ayat 14 mengatakan bahwa Firman itu telah menjadi daging dan diam di antara kita, penuh kasih karunia dan realitas. Banyak orang membaca ayat-ayat ini tanpa memahaminya. Inilah sebabnya mengapa kita perlu firman yang telah tertafsir/terinterpretasi bagi kita.
Kisah Para Rasul 8 memberikan kita contoh yang amat baik tentang hal ini. Sida-sida Etiopia yang dikontaki Filipus sedang membaca kitab Yesaya, dan Filipus bertanya kepadanya,”Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?” Sida-sida itu menjawab,”Bagaimana akau dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” (ay. 30-31). Filipus menginterpretasikan firman itu kepada sida-sida ini, dan dia percara kepada Tuhan dan dibaptis (ay. 35-38). Berapa orang mengatakan bahwa semua yang kita perlukan adalah “Firman yang murni”, tetapi bagaimana kita dapat memahaminya? Kisah Para Rasul 8 memperlihatkan bahwa kita perlu Firman diinterpretasikan untuk kita.
Pelaksanaan belajar kita memperlengkapi kita untuk menginterpretasikan Firman kepada orang lain. Dengan mempelajari Firman selama bertahun-tahun, saya nampak bahwa kasih karunia adalah Allah didapatkan dan dinikmati oleh kita dan realitas adalah Allah dinyatakan oleh diri kita. Kita harus mendapatkan Dia, menerima Dia, dan menikmati Dia sebagai kasih karunia. Kemudian kita harus menyadari Dia sebagai realitas. Walaupun butir-butir tersebut telah menjadi jelas dalam Pelajaran-Hayat Alkitab kita, kita mungkin tidask menaruh perhatian kepada butir-butir itu untuk memperlajarinya. Agar dapat dikonstitusi oleh kebenaran, kita perlu berdoa-baca dan kemudian belajar. Mendoa-bacakan ayat-ayat seperti Yohanes 1:1 dan 14 meletakkan dasar yang baik. Kemudian kita dapat mempelajari butir-butir penting dari ayat-ayat tersebut dengan bantuan pelajaran-pelajaran hayat. Dengan bantuan ini kita daspat menemukan apakah kasih karunia dan realitas itu. Kita perlu mempelajari kebenaran kata demi kata, istilah demi istilah, dan kelompok kata (frase) demi kelompok kata (frase). Secara langsung/spontan kita akan mampu mengulangi/menghafal apa yang kita doa-bacakan dan pelajari. Sebagai kelengkapan daripada penuntutan pelajaran pribadi kita, kita juga perlu belajar bersama orang lain. Belajar semaca ini tidak dapat dilaksanakan dalam sidang yang besar. Hal itu dapat dilakukan dengan saling berhubungan dalam sidang kelompok vital yang terdiri dari enam sampai sepuluh orang dan tidak lebih dari jumlah itu.
Kita telah mewarisi begitu banyak interpretasi-interpretasi/penafsiran-penafsiran Firman terdahulu dan telah memiliki pelajaran-hayat dari seluruh Alkitab. Kemudian Tulah telah membawa kita lebih maju untuk memiliki pelajaran kristalisasi. Dalam pelajaran ini saya harus menghabiskan banyak waktu bukan hanya untuk menyajikan berita-berita seperti yang saya lakukan dengan pelajaran-hayat, tetapi juga menyajikan garis besar. Kita harus berdoa-baca, belajar, menghafal, dan bertutur-sabda dari butir-butir dalam garis-garis besar ini. Jika kita diperlengkapi untuk menghafal garis besar, kita akan dengan spontan/langsung mengetahui bagaimana bertutur -sabda. Butir kedua dari garis besar pertama dari sidang istimewa Thanksgiving baru-baru ini mengatakan,”Keinsanian-Nya (Kristus) melalui inkarnasi-Nya menjadi kulit luar untuk menutupi kemuliaan keilahian-Nya.” Pada mulanya adalah Firman, yang adalah Allah, Firman ini menjadi daging, dan daging ini adalah kulit luar untuk menutupi kemuliaan keilahian Kristus. Inilah sebabnya mengapa semboyan pertama sidang istemewa itu mengatakan,”Kemuliaan keilahian Kristus tersembunyi di dalam Dia seperti di dalam sebutir biji gandum.” Kulit luar biji gandum menyembunyikan hayat dan kekayaan biji gandum itu. Jika kita bertutur-sabda dengan butir-butir seperti ini, orang-orang yang kita kontaki akan mau mendengar apa yang kita katakan. Jalan baru doa-baca, belajar, menghafal, dan bertutur sabda (D B H T) ini telah tersebarkan ke banyak tempat. Apa yang saya bicarakan di sini adalah semacam instruksi kepada semua gereja. Jalan baru saya adalah D B H T. Inilah jalan bagi kita untuk memasak dan memakan kekayaan yang telah dilepaskan tahun-tahun belakangan ini.
Sebagian dari latihan musim dingin kita yang akan datang adalah pelajaran kristalisasi dari keselamatan organik Tuhan dalam kitab Roma. Roma 5:10 mengatakan,”Sebab jikalau kita, ketika masih seteru diperdamaikan dengan Allah oleh kematian anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” Kita harus mendoa-bacakan ayat ini dan kemudian mempelajarinya. Subyek kita mengacu kepada kaum beriman. Suatu kali kita adalah seteru dengan Allah, tetapi kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya. Kematian Anak Allah adalah bagi penebusan yuridis kita. Keselamatan dalam hayat Kristus adalah bagi keselamatan organik kita. Kita harus mempelajari butir-butir ini dan kemudian mengulangi/menghafalnya kemudian kita diperlengkapi untuk bertutur-sabda.
Kita harus bertutur-sabda dengan apa yang dapat kita hafalkan; apa yang kita hafalkan adalah apa yang kita telah pelajari; dan apa yang telah kita pelajari adalah apa yang telah kita doa bacakan. Jika kita tidak berdoa-baca, belajar, atau menghafal, kita tidak dapat bertutur-sabda. Saya mendorong orang untuk bertutur-sabda dalam sidang Hari Tuhan, tetapi mereka masih menyatakan bahwa mereka tidak tahu apa yang hendak dikatakan. Sekarang kita telah memiliki jalan baru. Jika kita mendoa-baca, mempelajari, dan menghafal butir-butir garis besar yang dilepaskan dalam pelajaran kritalisasi Firman kita, kita pasti akan bertutur-sabda. Siapa yang tidak dapat bertutur sabda? Mereka yang tidak dapat bertutur sabda adalah orang-orang yang tidak mendoa-baca garis besar, yang tidak mempelajari garis besar, dan yang tidak menghafal garis besar. Jika kita melaksanakan D B H (doa-baca, belajar, dan menghafal) setiap hari, dari hari Senin sampai hari Sabtu, kita pasti akan bertutur sabda dalam sidang Hari Tuhan gereja.
Sebelum memberikan berita ini, sasya mempelajari pertemuan Filipus dengan sida-sida Etiopia dalam Kisah Para Rasul 8. Ayat 32 sampai 35 mengatakan,”Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya. Dalam kehinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya; siapakah yang akan menceritakan asal usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi. Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: ‘Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?” Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya.” Inilah pemberitaan Filipus mengenai injil.
Catatan dalam Kisah Para Rasul 8 ini memperlihatkan bahwa praktek D B H T bukanlah jalan baru kita. Ini sudah ada di dalam Alkitab, dalam Kisah Para Rasul 8. Cara Filipus menjawab dan memberitakan Kristus sebagai Injil kepada sida-sida itu tentu menunjukkan bahwa Filipus telah mengingat bagian dari Yesaya 53 itu, yang dikutipkan oleh sida-sida itu kepadanya, dan bahwa Filipus telah mengingat bagian itu sehingga ia dapat memberitakan Kristus sebagai Injil, seperti semacam tutur-sabda. Jika dia tidak benar-benar mengenal bagian dari firman kudus itu, bagaimana dia dapat memberitakan Kristus sebagai Injil sesuai dengan bagain firman itu? Pemberitaannya adalah tutur-sabda yang sejati dari firman kudus yang telah dikenalnya.
Jika seseorang datang bersidang pada hari Tuhan dipagi hari tanpa mempersiapkan diri untuk bertutur-sabda, ini menunjukkan bahwa dia telah bermalas-malasan selama seminggu itu. Selama seminggu itu, dia tidak berdoa-baca, belajar, atau menghafal. Jika dia telah mempraktekkan ini, dia akan dapat bertutur-sabda pada hari Tuhan. Setelah membaca persekutuan dalam berita ini, kita mungkin merasa bahwa standar dalam gereja terlalu tinggi. Pada satu pihak, ini memang benar karena kita berada dalam pemulihan Tuhan. Kita tidak ingin tinggal dalam kekristenan yang merosot. Mereka yang ada di dalam agama Katolik hanya dituntut untuk menghadiri misa. Mereka tidak perlu berfungsi. Mereka di dalam agama Protestan kebanyakkan hanya mendengar khotbah-khotbah. Mereka tidak dituntut untuk berbicara bagi Tuhan dalam sidang-sidang mereka. Pemulihan Tuhan berbeda.
Semua anggota Tubuh Kristus seharusnya adalah anggota-anggota yang berfungsi, yang berbicara bagi Tuhan. Inilah sebabnya mengapa kita perlu mempraktekkan D B H T. Kita perlu doa-baca, belajar, dan menghafal butir-butir yang telah kita pelajari. Kemudian doa-baca, belajar dan penghafalan kita akan menjadi tutur-sabda kita. Banyak dasri kita yang senang mendengarkan beberapa saudara yang pandai berbicara. Ini membuktikan bahwa untuk mengubah mental kita bukanlah suatu hal yang mudah, karena kita masih dipengaruhi oleh kekristenan.
Tulisan-tulisan rasul Yohanes disusun dari wahyu-wahyu dalam visi-visi dari Allah. Mereka menuliskan apa yang mereka lihat dalam Perjanjian Baru, dan ini telah diturunkan kepada kita. Kita perlu menginterpretasikan/menafsirkan apa yang mereka lihat. Di dalam pelajaran kristalisasi Yohanes 1, Kita menunjukkan bahwa Firman yang adalah Allah menjadi daging (ay. 1,14). Dalam daging Dia menjadi Anak Domba (ay. 29), dsan kemudian di dalam kebangkitan Dia menjadi burung merpati (ay. 32). Natanael mengenal Dia sebagai Anak Allah. Tuhan kemudian mewahyukan kepada Natanael bahwa Dia bukan hanya Anak Allah tetapi juga Anak Manusia, yang di atas-Nya malaikat-malaikat Allah naik dan turun (ay. 49-51). Kita harus mempelajari butir-butir ini, menghafalnya, dan kemudian kita akan dapat membicarkannya. Dengan mengambil jalan ini, kita akan diperlengkapi untuk merawat/mengasuh orang dengan kekayaan Kristus yang tak terduga.