← Daftar isi Kelompok Vital · bab 1/16

TUJUAN DARI KELOMPOK VITAL

Pembacaan Alkitab:

Mat 18:15-22; 2 Tim 2:22; Rm 14:17; Ef 2:14-17; 2 Ptr 1:8

GARIS BESAR

I. Tinggal di dalam kehidupan kerajaan—Matius 18:115-22:

A. Kehidupan Kerajaan adalah kehidupan manusia-Allah.

B. Apa yang tersembunyi dalam Matius 18:15-22 memperlihatkan kepada kita bagaimana kita menanggulangi seorang saudara yang berdosa di dalam sebuah vital grup:

1. Tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatkannya kembali—ayat 15.

2. Jika dia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan—ayat 16.

3. Jika dia tidak mau mendengarkan nasihat mereka, sampaikan soalnya kepada Gereja—ayat 17a.

4. Jika dia juga menolak untuk mendengarkan gereja, kelompok vital seharusnya berdoa berdasar otoritas gereja, yang adalah otoritas kerajaan.

5. Menghadapi situasi seperti itu dengan suasana harmonis dalam kelompok vital bersama Tuhan ditengah-tengah mereka—ayat 19-20.

6. Bersama dengan Roh yang pengampun—ayat 21-22.

7. Dengan cara ini kelompok-kelompok vital menjalani kehidupan manusia Allah seperti Kristus lakukan ketika Ia hidup di bumi.

II. Menempuh kehidupan gereja—2 Timotius 2:22:

A. Kejarlah kebenaran, kesetiaan, kasih, damai dengan mereka yang dipanggil oleh Allah dengan hati yang murni.

B. Kehidupan Kerajaan dilatih dan dilaksanakan di dalam kehidupan gereja—Roma 14:17.

C. Kita harus menjalani kehidupan kerajaan seperti yang ada dalam Matius pasal 5 sampai 7; kemudian kita dapat menjalani kehidupan gereja:

1. Dengan mengejar:

a. Kebenaran—menjaga jalan kebenaran Allah—Roma 14:17a.

b. Kesetiaan—memelihara kesetiaan Allah.

c. Kasih—mengetahui hati Allah.

d. Damai— menjaga damai sejahtera Allah dalam menghasilkan gereja untuk hubungan kita dengan yang lainnya di dalam gereja—Efesus 2:14-17; Roma 14:17b.

2. Melalui menyeru Tuhan dengan hati yang murni—tidak mencari sesuatu apapun kecuali hanya Tuhan, tanpa suatu ambisi atau ketamakan apapun.

3. Pengejaran akan hal-hal tersebut seperti itu, timbul di dalam kelompok vital dan melimpah, menyusun suatu kelompok vital yang tidak pasif/mati dan berbuah (Yoh 15:5,16) sampai kepada pengetahuan yang penuh akan Tuhan kita Yesus Kristus.

4. Sampai pada tahap ini, kelompok-kelompok vital dapat menjalani kehidupan gereja yang normal, menang atas kemerosotan gereja, untuk mengkonstitusi tubuh Kristus untuk perampungan Yerusalem baru, yaitu tujuan ekonomi kekal Allah:

a. Dengan melatih roh kita yang telah dilahirkan kembali atas kekuatan, kasih, dan ketertiban —2 Timotius 1:7.

b. Memegang teguh dalam kesetiaan dan cinta kata-kata yang membangun yang diterima dari ajaran rasul dan memeliharanya bagai harta yang indah melalui roh yang bersemayam—1:13-14

c. Memberitakan perkataan kebenaran itu—2:15.

d. Menikmati Tuhan didalam roh kita sebagai kasih karunia yang menyertai.

Saya sangat berterima kasih kepada Tuhan yang telah memulihkan/mengembalikan persekutuan ini tentang kelompok-kelompok vital. Hal ini telah dihalangi/digagalkan oleh setan selama lebih dari dua tahun. Dalam berita ini kami ingin nampak tujuan kelompok vital dalam arti yang mendasar. Tujuan dari kelompok-kelompok vital tersebut ialah menjalani dua jenis kehidupan: kehidupan kerajaan dan kehidupan gereja. Kita harus bertobat dan mengakui bahwa kita memiliki kekurangan-kekurangan dalam kedua jenis kehidupan ini. Meskipun kita mungkin telah ada didalam pemulihan Tuhan selama bertahun-tahun, kita belum melihat bahwa kelompok-kelompok vital adalah untuk menjalani kehidupan kerajaan dan kehidupan gereja.

Wahyu perjanjian baru berhubungan dengan kedua jenis kehidupan ini. Inti dari keempat Injil adalah kerajaan. Injil Matius dan Yohanes adalah dua kitab yang mengarahkan kepada penyampaian kebenaran daripada kerajaan. Poin utama dari pada injil Matius adalah kerajaan sorga, dan poin utama yang dibicarakan oleh Injil Yohanes ialah kerajaan Allah. Injil Yohanes sudah tentu adlah injil hayat, tetapi hayat membaawa kita kedalam kerajaan Allah. Kita dilahirkan kembali kedalam kerajaan Allah. Jika kita tidak terlahir kembali maka kita tidak dapat melihat dan masuk kedalam kerajaan Allah( Yoh.3:3,5). Dalam surat-surat kiriman termasuk Kisah Para Rasul intinya ialah kehidupan gereja.

Ketika kami melatih kehidupan gereja di dataran China sebelum tahun 1949, kita hanya memiliki sidang-sidang perumahan bukan sidang-sidang kelompok. Latihan ini dimulai di Shanghai dan dibawa dengan penuh berkat. Kemudian ketika Tuhan membawa kami ke Taiwan, kami menyadari bahwa hanya memiliki sidang-sidang perumahan itu tidak cukup, jadi kami mulai mengadakan sidang-sidang kelompok. Berkat Tuhan atas kami begitu kaya dan limpah. Beberapa orang di Korea pada tahun 1958 mengikuti kita untuk melakukan latihan ini, tetapi sebagai pengganti dari istilah kelompok-kelompok, mereka menggunakan istilah sel-sel/(cells/satuan-satuan). Tubuh terbangun atas sel-sel tersebut. Latihan sidang kelompok kami di Taiwan merupakan hal yang luar biasa terhadap peningkatan/pertumbuhan. Selama empat tahun, kami meningkat dari jumlah kira-kira tiga sampai lima ratus sebagai permulaan sampai mencapai lima puluh ribu. Di Amerika, kami memusatkan latihan kelompok-kelompok ini, tetapi kelompok-kelompok tersebut telah masuk ke dalam suatu situasi yang tidak hidup. Setelah dipelajari situasi kami, kami menyadari bahwa kelompok-kelompok kami tidak vital.

Dasar dari Firman dalam alkitab untuk pelajaran kami menyangkut latihan sidang kelompok vital adalah dalam Matius 18:15-22 dan 2 Timotius 2:22. Matius 18:15-22 menunjukkan kepada kita bagaimana memiliki kelompok-kelompok kecil di dalam kerajaan. Kemudian 2 Timotius pasal 2:22 menunjukkan kepada kita bagaimana menjalani suatu kehidupan gereja di dalam kemerosotan gereja.

I. MENJALANI KEHIDUPAN KERAJAAN

Kita perlu membaca dan mempertimbangkan dengan doa yang sungguh-sungguh tentang firman Tuhan dalam Matius 18:15-22, yang mengungkapkan bagaimana kita dapat menjalani kehidupan kerajaan. Ayat 15 sampai 17 mengatakan,”Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengankan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.” Jika Saudara yang berdosa ini bahkan tidak mendengarkan jemaat/gereja, apa yang seharusnya kita lakukan? Kalimat tersebut menyatakan kepada kita bahwa kita harus memandang dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau pemungut cukai yakni seperti dengan seorang yang tak tertolong yang berada di luar persekutuan gereja.

Ayat 18 kemudian mengatakan,”Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat didunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia akan terlepas di sorga.” Kita harus melihat hubungan antara ayat 17 dan 18. Ayat 17 begitu sederhananya menyatakan bahwa kita harus memandang seorang yang berdosa tersebut yang tidak mendengarkan gereja sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Tetapi ayat 18 menyatakan bahwa kita harus menjamah sorga dengan doa kita yang mengikat dan terlepas. Inilah doa kelompok vital. Ayat 19 menyatakan,”Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh BapaKu yang di sorga.” Ini adalah pelaksanaan latihan dari sebuah kelompok vital dari dua atau tiga orang sepakat menjamah Allah di sorga. Ini adalah dua atau tiga orang yang disebut dalam ayat 16: ”Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi...” Inilah anggota-anggota dari sebuah kelompok vital.

Jika seorang saudara berdosa, kita perlu menegur dia dalam kasih. Jika kita tidak berhasil, kita harus membawa satu atau dua saudara lagi untuk berkontak dengan dia. Jika kita masih tidak dapat menyelesaikannya, kita harus menyampaikan hal itu kepada jemaat/gereja, dan jika jemaat/gereja tidak bisa menanggulanginya, maka saudara yang berdosa itu akan kehilangan persekutuannya dengan gereja. Tetapi hal tersebut bukan sampai disitu saja. Kita kemudian harus berdoa dengan cara mengikat dan terlepas, dan kita harus sepakat/sehati berdoa. Apa yang kita doakan, Bapa kita di sorga akan mengabulkan untuk mendapatkaat orang itu. Ayat 20 mengatakan,”Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam NamaKu di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Inilah realitas daripada kelompok vital. Dua atau tiga orang ini berkumpul didalam Nama Tuhan untuk tujuan Tuhan, bukan dalam nama mereka untuk tujuan mereka.

Sering kita merasakan bahwa hal seperti ini sudah tidak ada harapan lagi dan kita berhenti karena perasaan ini terhadap dia didalam kelompok-kelompok kita. Kita selalu mengakhiri perkumpulan kelompok kecil kita seperti dalam ayat 17. Kita tidak menggunakan Kristus sebagai tangga sorgawi untuk mencapai sorga dengan doa yang mengikat satan dan melepaskan saudara yang berdosa ini. Kita dan gereja mungkin sudah tak memiliki jalan keluar terhadap saudara ini, namun haruskah kita mengabaikan dan membiarkan dia begitu saja? Tuhan Yesus berkata bahwa kita harus memandang dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Tetapi Tuhan melanjutkan perkataanNya bahwa kita harus mengikat satan. Kita harus mengikat pihak yang harus diikat dan melepaskan pihak yang telah diikat dengan sepakat dan sehati berdoa.

Kita tidak seharusnya membawa masuk opini-opini dengan membeberkan keadaan yang jatuh dari orang yang sedang kita doakan. Kita harus mengikat pihak yang diikat, satan, dan kita harus melepaskan pihak yang berdosa, yaitu pihak yang telah diikat satan, melalui kesepakatan dan kesehatian kita dalam doa. Sehati, sepakat maksudnya seperti suara-suara instrumen musik yang serempak/kompak. Ketika piano dimainkan dengan baik, banyak tut-tut piano yang dihentak sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu alunan musik yang harmonis/indah. Ketika kita sepakat/sehati berdoa bagi orang-orang “jatuh, berdosa, doa kita untuk mengembalikan mereka menjadi sama seperti suara musik yang indah yang kemudian berkenan didengar Allah disorga.

Sesudah Tuhan berkata mengenai perkataan ini, Petrus datang kepada Tuhan dan bertanya kepadaNya suatu pertanyaan. Ayat 21 sampai 22 mengatakan,”Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus:”Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni suadaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya:”Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Mungkin saja saudara yang tadi dimaksud ialah saudara yang berbuat dosa kepada Petrus. Dia tidak mau lagi mengampuni saudara ini, maka dia bertanya kepada Tuhan,”Tuhan ,sampai berapa kali akau harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Tuhan berkata bahwa Petrus harus mengampuni dia tujuh puluh kali tujuh kali, atau 490 kali. Jika kita memiliki roh untuk mengampuni seorang yang berdosa sampai 490 kali, pastilah orang dosa itu akan kembali. Apakah kita yang berbagian dalam dalam kelompok vital memiliki roh peengampunan yang seperti itu?

Mungkin kelompok vital kita sedang menyusut/berkurang dibandingkan berkembang/bertambah. Dimanakah saudara-saudara yang lainnya? Mungkin beberapa dari mereka telah dalam keadaan merosot atau kembali tersesat dan yang lainnya dalam keadaan tersinggung/sakit hati. Kita mungkin memiliki alasan untuk setiap saudara yang sudah lama tidak berkumpul/bersidang dengan kita, tapi apakah Tuhan akan setuju akan alasan kita? Tuhan akan bertanya,”Dimanakah saudaramu?"” Dengan perkataan lain, Tuhan tidak akan membiarkan kita mengabaikan orang-orang ini. Kita tidak seharusnya “menyerah pada setiap orang. Kita harus menghadap Tuhan terus dan terus berdoa sehati/sepakat menyentuh sorga dengan mengikat dan terlepas. Sorga maksudnya ialah Allah. Kita menyentuh Allah, dan Allah datang melakukan sesuatu. Inilah yang disebut menjalani kehidupan kerajaan.

Jika seseorang bersalah kepada kita, kita tidak seharusnya tersinggung tapi harus tetap mengasihi dia. Kita tidak seharusnya pergi menceritakan kepada orang lain tentang hal ini. Melainkan kita harus mendatanginya dibawah empat mata. Kita harus menutupi situasi ini dengan mendatanginya langsung dibawah empat mata. Tetapi jika ia tidak mau mendengarkan kita, kita harus membawa seorang atau dua orang lagi untuk menemuinya. Pada akhirnya mungkin kita akan menyampaikan soalnnya kepada jemaat/gereja. Inilah jalan kehidupan kerajaan dalam Matius 18, tapi kita tidak melatih hal ini. Saat ada orang yang berdosa terhadap kita, kita membicarakan hal tersebut kepada suami atau isteri kita atau kepada saudara-saudari lainnya. Ini sungguh tidak benar.

Pelajaran pertama yang harus kita pelajari sebagai anggota kelompok vital ialah tidak membeberkan kelemahan orang lain. Cerita tentang Ham dalam kejadian pasal 9 ialah suatu gambaran bagi kita tentang hal ini. Ayahnya Nuh setelah minum anggur, mabuklah ia, dan ia telanjang dalam kemahnya. Ham melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya. Tetapi saudaranya, Sem dan Yafet, mengambil sehelai kain dan membentangkannya pada bahu mereka berdua, lalu mereka berjalan mundur:mereka menutupi aurat ayahnya sambil berpaling muka, sehingga mereka tidak melihat aurat ayahnya. Akibat dari hal ini, Ham dikutuk tetapi saudara-saudaranya beroleh berkat (ay 20-27). Di dalam kelompok vital, kita harus menghindari pembicaraan seperti ini. Pembicaraan kita yang seperti itu ialah suatu dampak yang benar-benar negatif yang kemudian akan menghancurkan kelompok vital kita. Kita harus belajar untuk menutupi kelemahan orang lain. Ketika kita menyadari bahwa seseorang berdosa atau seseorang bersalah terhadap kita, kita tidak seharusnya menceritakan kepada yang lainnya tetapi harus langsung berbicara kepadanya. Manusia lama kita selalu gemar menceritakan kepada orang lain tentang kesalahan-kesalahan atau dosa-dosa orang lain. Ini adalah salah.

Tuhan memberi kita jalan selangkah demi selangkah dalam Matius 18. Langkah-langkah ini yaitu tegorlah dia dibawah empat mata, kemudian bawalah satu atau dua orang lagi, dan akhirnya menyampaikannya kepada gereja, apakah kita akan menyerah? Kita mungkin berhenti sampai ayat 17 dalam Matius pasal 18 yang dengan sederhana memandang dia sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Jika kita berhenti sampai disini, bagaimanapun juga kelompok vital kita akan menyusut bukan bertambah. Sebagai kelanjutan dari ayat 17 ialah ayat 18 dimana Tuhan mengatakan bahwa kita harus belajar mengikat dan melepas. Kita harus belajar sehati/sepakat berdoa bagi saudara yang berdosa. Kemudian Allah yang di sorga akan mengabulkan apa yang kita minta dan akan ada di tengah-tengah kita. Kita juga harus belajar untuk mengampuni orang lain dengan tiada hentinya. Inilah realitas kehidupan kelompok vital.

Paulus dalam 1 korintus pasal 5 menegor orang-orang beriman di Korintus dan meminta mereka untuk menjauhkan orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah mereka (ay 13). Permintaan Paulus ini agak sebanding dengan Hukum Musa di perjanjian lama (lihat Ul. 13:5; 17:7, 12; 21:21; 22:21-22, 24; 24:7). Tetapi dalam 2 Korintus Paulus begitu lemah lembut, berhati-hati, dan bijaksana menghadapi orang dosa ini. Setelah Paulus mengatakan kepada kaum saleh untuk menjauhkan dia dari tengah-tengah mereka, ia merasa tidak damai, maka dia mengirim Titus untuk melihat keadaan disana. Titus kembali dengan membawa berita yang menggembirakan yaitu bahwa orang pembuat kejahatan ini telah bertobat (7:6-13). Kemudian Paulus berkata kepada orang-orang beriman disana bahwa mereka harus mengampuni dan menghibur dia. Kalau tidak Satan akan beroleh keuntungan atas mereka (2::6-11).

Sebuah kelompok vital adalah suatu perwakilan gereja yang nyata. Gereja harus belajar bagaimana menanggulangi seorang yang berdosa seperti contoh dari Paulus. Paulus tidak merasa damai ketika orang dosa ini dijauhkan dari tengah-tengah mereka, maka dia masih melakukan sesuatu untuk menangani situasi ini. Hal yang paling penting ialah untuk menghibur dan mengampuni. Berkunjung adalah untuk menghibur. Paulus mengutus Titus mengunjungi Korintus untuk menghibur orang-orang Korintus. Kemudian Paulus berkata kepada mereka untuk saling mengampuni. Mengampuni harus diikut-sertakan dengan penghiburan. Kemudian kita baru bisa mengembalikan dan mendapatkan orang.

A. Kehidupan manusia-Allah

Kehidupan kerajaan ialah kehidupan manusia-Allah.

B. Bagaimana menangani seorang saudara yang berdosa dalam suatu kelompok vital

Sebagai ikthisar, apa yang tersembunyi dalam Matius 18:15-22 memperlihatkan kepada kita bagaimana menangani seorang saudara yang berdosa di dalam kelompok vital. Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia dibawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatkannya kembali (ay 15). Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan (ay16). Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat/gereja (ayat 17a). Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat/gereja, kelompok vital harus mendoakannya dengan menggunakan otoritas gereja, yang adalah otoritas kerajaan (ay 17b-18;16:18-19). Keadaan seperti ini ditanggulangi oleh kelompok vital dalam suasana sehati/sepakat bersama Tuhan di tengah-tengah mereka (ay 19-20) dengan roh yang pengampun (ay 21-22). Dengan menempuh jalan ini kelompok vital menjalani kehidupan manusia Allah seperti yang Kristus lakukan ketika Dia hidup di bumi.

II. MENEMPUH HIDUP GEREJA

A. Mengejar keadilan, kesetiaan, kasih, dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni

Tujuan dari kelompok vital juga adalah menempuh kehidupan gereja. 2 Timotius 2:22 mengatakan,”Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih, dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” Inilah jalan menempuh kehidupan gereja oleh kelompok vital.

B. Kehidupan kerajaan menjadi latihan dan pelaksanaan dalam kehidupan gereja

Paulus mengatakan dalam Roma 14:17 bahwa Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Kehidupan kerajaan ini dilatih dan dilaksanakan dalam kehidupan gereja.

C. Menempuh kehidupan gereja dengan menjalani kehidupan kerajaan

Kita harus menempuh kehidupan kerajaan seperti dalam Matius 5 sampai 7. Baru kemudian kita dapat menempuh kehidupan gereja.

1. Dengan mengejar

a. Kadilan(kebenaran)

Kita menempuh kehidupan gereja dengan mengejar keadilan. Mengejar keadilan ialah untuk mejaga jalan keadilan Allah. Matius 5:20 berkata bahwa jika keadilan/kebenaran kita tidak lebih benar dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kita tidak akan masuk ke dalam kerajaan Sorga. Kerajaan ialah soal kebenaran (Rm 14:17a), dan menurut surat-surat kiriman, kebenaran yang melampaui ini ialah Kristus sendiri yang tinggal di dalam kita (flp 3:9). Kita harus tinggal selamanya dalam Kristus sebagai keadilan/kebenaran kita.

b. Kesetiaan

Mengejar kesetiaan ialah memelihara kesetiaan Allah. Ibrani 11:6 mengatakan bahwa tanpa iman/kesetiaan tidak mungkin beroleh perkenan Allah. Juga ketika kita datang kepada Allah, kita harus percaya bahwa itu Allah dan kita bukan apa-apa dan bahwa Dia adalah yang mengaruniakan mahkota bagi mereka yang menuntutNya dengan tekun. Kita harus mengejar kesetiaan yang mempersatukan kita dengan Allah. Kita harus menjadi seorang yang bersatu dengan Allah.

c. Kasih

Mengejar kasih ialah mengetahui hati Allah. Kasih memperkuat hubungan kita dengan saudara-saudari lain. Dalam 1 Korintus pasal 13 Paulus memberitahu kita bahwa diantara iman, pengharapan dan kasih, yang paling besar ialah kasih (ay. 13). Dalam pasal 8:1 Paulus mengatakan bahwa pengetahuan membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun. Mengampuni orang ialah perihal kasih. Menjenguk orang secara berkesinambungan tanpa merasa kecewa atau putus harapan adalah juga perihal kasih.

d. Damai

Mengejar damai ialah menjaga damai Allah dalam menghasilkan gereja untuk hubungan kita di dalam gereja (Ef. 2:14-17; Rm. 14:17b). Efesus 2:14 sampai 17 mengatakan bahwa Krisus menyalibkan semua jenis hukum/peraturan untuk menciptakan damai sejahtera. Opini/pendapat kita merupakan salah satu jenis dari hukum/peraturan tersebut. Semua hukum/peraturan harus disalibkan, sehingga kita dapat memiliki damai sejahera. Kehidupan gereja di dalam kelompok vital memerlukan damai sejahtera. Orang kristen terpecah karena tidak adanya damai diantara mereka yang disebabkan oleh opini-opini dan konsep-konsep mereka yang begitu banyak. Tanpa damai sejahtera kita tidak akan berbuah. Kita adalah carang-carang Kristus sang pokok anggur itu. Kita harus menghasilkan buah, tetapi menghasilkan buah tergantung pada damai sejahtera kita. Jika carang-carang saling bertentangan satu dengan yang lain, bagaimana dapat mereka menghasilkan buah? Kelahiran buah-buah kita dihancurkan oleh opini-opini yang berbeda dan beraneka-ragam.

2. Melalui berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni

Kita mengejar Tuhan sebagai keadilan/kebenaran, kesetiaan, kasih, dan damai dengan berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni, tidak mencari sesuatu apapun melainkan hanya Tuhan, tanpa suatu ambisi atau ketamakan apapun. Kita ingin menjadi sesuatu di dalam gereja atau menjadi pemimpin di dalam kelompok kecil kita tetapi kita perlu suatu hati yang murni dalam menempuh kehidupan gereja.

3. Menjadi hidup/aktif dan berbuah

Pengejaran akan hal-hal seperti diatas di dalam kelompok vital, timbul di dalam kelompok vital dan sungguh melimpah, menyusun kelompok vital yang hidup/aktif dan berbuah (Yoh. 15:5, 16) sampai keberhasilan kita dalam pengenalan kita akan Tuhan kita Yesus Kristus (2 Ptr. 1:8).

4. Menempuh kehidupan gereja yang normal

Sampai tahap ini, kelompok vital bisa menempuh kehidupan gereja yang normal, menang atas kemerosotan gereja, untuk mengkonstitusi tubuh Kristus sebagai perampungan Yerusalem baru, yakni tujuan ekonomi kekal Allah. Jika kita menempuh kehidupan kerajaan dan kehidupan gereja, kita akan menang dari kemerosotan gereja. Hari ini kesulitan kita bukan hanya oleh pihak satan, dosa, dunia, daging dan diri kita sendiri. Kita sedang menghadapi faktor lain yang kuat yakni kemerosotan gereja. Sesungguhnya kita terlahir di dalam kemerosotan gereja dan berada di bawah pengaruh kemerosotan gereja. 2 Timotius ialah kitab yang berhubungan dengan kemerosotan gereja. Di dalamnya mengatakan mereka yang di Asia telah berpaling daripada rasul Paulus (1:15). Sebenarnya mereka meninggalkan pengajaran rasul, maka kemudian mereka mulai merosot. Itulah sebabnya mengapa Paulus menulis surat kirimannya yang kedua kepada Timotius.

a. Dengan melatih roh kita yang telah dilahirkan kembali

Kita dapat menempuh kehidupan gereja yang normal dan menang atas kemerosotan gereja dengan melatih roh kekuatan, kasih, dan ketertiban kita yang telah dilahirkan kembali (2 Tim. 1:7). Kita harus membarakan roh kita (ay. 6). Roh ketertiban dan kekuatan kita juga perlu menjadi kasih. Kita tidak akan membiarkan seseorang pergi atau mngabaikan orang saat kita melatih roh yang pengasih dan pengampun ini.

b. Memegang perkataan-perkataan/ajaran yang sehat dan memelihara sebagai harta indah

Kita juga perlu memegang sesuatu yang telah didengar sebagai contoh dari perkataan/ajaran yang sehat yang diterima dari rasul, dan dilakukan dalam iman dan kasih dan memeliharanya sebagai harta yang indah, yang telah dipercayakanNya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita (2 Tim. 1:13-14). Inilah harta indah dari perkataan/ajaran yang kita pelihara bersama dengan Roh Allah yang diam di dalam kita.

c. Memberitakan perkataan kebenaran

2 Timotius 2:15 mengatakan bahwa kita perlu memberitakan perkataan kebenaran. Pemberitaan ini adalah seperti seorang tukang kayu yang memotong sepotong kayu. Kita harus memotong perkataan dengan murni tanpa ada ditambah. Hal ini adalah untuk mengungkapkan firman Allah dengan bagian-bagian yang beraneka dengan tepat dan murni tanpa memberikan pengertian yang salah.

d. Menikmati Tuhan di dalam roh kita sebagai kasih karunia yang kekal

Untuk menang atas kemerosotan gereja, kita harus menikmati Tuhan di dalam roh kita sebagai kasih karunia kekal. Kristus hari ini adalah Roh pemberi hayat yang bersemayam di dalam roh kita. 2 Timotius 4:22 pada ayat terakhir dari surat kiriman ini, mengatakan,”Tuhan menyertai rohmu. Kasih karuniaNya menyertai kamu.” Oleh sebab itu, akhir dari surat kiriman ini yang menyangkut bagaimana kita menanggulangi kemerosotan gereja ialah kita harus menikmati Kristus di dalam roh kita sebagai kasih karunia kita yang kekal. Inilah jalan yang ditempuh dalam kehidupan gereja di dalam kelompok vital di bawah kemerosotan gereja.

Kita harus menempuh kehidupan kerajaan yang tepat, dan kehidupan kerajaan tersebut sebenarnya ialah kehidupan gereja. Tanpa adanya kehidupan kerajaan, maka tidak ada kemungkinan untuk menempuh kehidupan gereja. Tuhan berkata bahwa setiap orang yang mau mengikuti Dia, ia harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya (Mat. 16:24). Inilah realitas kehidupan kerajaan. Kehidupan ini adalah suatu kehidupan yang selalu menyangkal diri kita sendiri untuk mematikan manusia lama kita dengan segala kecenderungannya. Semua manusia lama kita harus disalibkan. Kemudian kita dapat memiliki kehidupan kerajaan dan kebenaran yang lebih baik dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Kebenaran ini adalah Kristus yang ada di dalam kita sebagai kehidupan kerajaan yang menjadi kehidupan gereja.