BAB 3
Dalam berita ini, kita tetap akan membahas topik yang telah kita singgung, yaitu kekuatan laten jiwa; apa yang bisa dilakukannya pada zaman ini dan bagaimana mengetahui bahwa sesuatu itu milik Allah atau bukan milik Allah; bagaimana kita dapat membedakan perkara mana yang jiwani dan mana yang rohani. Pada akhir zaman ini, akan ada banyak mujizat, keajaiban, dan kejadian adikodrati. Apakah itu dilakukan oleh Allah sendiri, ataukah oleh operasi kekuatan lain? Bagaimana cara kerja dan sarana kerja kekuatan jiwa? Kiranya kita mengetahui apa yang berasal dari Allah dan apa yang bukan berasal dari Allah.
NUBUAT DALAM ALKITAB
Terlebih dulu, mari kita lihat apa yang dikatakan Alkitab tentang tanda-tanda akhir zaman dan tanda-tanda kedatangan Tuhan:
Matius 24:24 -- "Sebab Mesias-Mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga."
Wahyu 13:2-5,12-13 -- "Binatang yang kulihat itu serupa dengan macan tutul, dan kakinya seperti kaki beruang dan mulutnya seperti mulut singa. Dan naga itu memberikan kepadanya kekuatannya, dan takhtanya dan kekuasaannya yang besar. Maka tampaklah kepadaku satu dari kepala-kepalanya seperti kena luka yang membahayakan hidupnya, tetapi luka yang membahayakan hidupnya itu sembuh. Seluruh dunia heran, lalu mengikut binatang itu. Dan mereka menyembah naga itu, karena ia memberi kekuasaan kepada binatang itu . . . kepadanya diberikan juga kuasa untuk melakukannya empat puluh dua bulan lamanya . . . Dan seluruh kuasa binatang yang pertama itu dijalankannya di depan matanya. la menyebabkan seluruh bumi dan semua penghuninya menyembah binatang pertama, yang luka parahnya telah sembuh. Dan ia mengadakan tanda-tanda yang dahsyat, bahkan ia menurunkan api dari langit ke bumi di depan mata semua orang. "
Dua Tesalonika 2:8-10 -- "Pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulutnya dan akan memusnahkannya, kalau ia datang kembali. Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai ruparupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. "
Sebelum kita membahas bagian ini, perhatikanlah kata "palsu" dalam II Tesalonika 2:9. Kata "palsu" dalani ayat ini, menurut bahasa aslinya seharusnya mengandung arti "menipu orang." Mujizat-mujizat itu sungguh-sungguh terjadi, tetapi tujuannya adalah untuk menipu orang. Perkaranya bukan hanya sekadar isapan jempol, tetapi adalah suatu fakta, hanya itu bukan berasal dari Allah, motivasinya adalah untuk menipu dan menyesatkan orang.
Ketiga bagian ayat Alkitab yang baru saja kita baca itu mengacu pada satu hal, yaitu perkara-perkara yang akan berlangsung pada masa kesusahan besar. Namun beberapa peristiwa tersebut nampaknya akan terjadi sebelum kesusahan besar. Hal ini sesuai dengan prinsip dalam Alkitab, yaitu sebelum penggenapan suatu nubuat, biasanya didahului dengan terjadinya sesuatu yang mirip, sebagai pendahuluan dari penggenapannya. Berdasarkan ini, banyak pelajar yang meneliti nubuatan setuju bahwa apa yang akan terjadi pada masa kesusahan besar itu, saat ini juga sedang berlangsung satu per satu, hanya itu tidak sehebat kejadian yang sebenarnya pada masa kesusahan besar.
Ayat-ayat Alkitab di atas menunjukkan kepada kita ciriciri khusus pada masa kesusahan besar. Selama masa itu akan terjadi tanda-tanda ajaib dan mujizat-mujizat. Sebelum kedatangan Tuhan, Antikristus akan melakukan satu pekerjaan yang istimewa, yaitu melakukan perbuatan-perbuatan ajaib dan mujizat. Sebelum seseorang datang, terlebih dulu akan terlihat bayangannya dan terdengar suaranya. Demikian juga, sebelum tibanya kesusahan besar, bayangan dan suara tanda-tanda mujizat dari kesusahan besar itu sudah terlihat. Tanda-tanda ajaib dan mujizat akan menjadi hal yang sangat umum selama kesusahan besar. Hari ini, menjelang akhir zaman, perbuatan-perbuatan ajaib dan mujizat akan makin berkembang.
KOMENTAR PRIBADI
Sebelum saya membahas lebih jauh, saya ingin memberikan suatu komentar pribadi. Secara pribadi saya tidak menentang adanya mujizat. Ada banyak mujizat yang tercatat dalam Alkitab, dan hal tersebut sangat mustika dan penting sekali. Dahulu saya pernah menekankan, bahwa orang Kristen perlu bertumbuh dalam beberapa hal. Saya akan mengulanginya sekali lagi. Pertama, setelah seseorang beroleh selamat, ia harus menuntut pengenalan terhadap Alkitab. Kedua, ia harus menuntut kemajuan dalam hayat rohani, seperti kemenangan, kekudusan, kasih yang sempurna, dan lainnya. Ketiga, harus berkobar-kobar dalam memenangkan jiwa. Keempat, harus percaya kepada Allah, memiliki iman yang hidup dan murni, hidup di hadapan Allah, bersandar kepadaNya, sehingga melihat pekerjaan Allah -- mujizat.
Di antara saudara saudari dalam gereja, terdapat banyak penyakit. Banyak orang hanya tertarik pada pemahaman Alkitab. Pengetahuan mereka sangat baik, namun mereka tidak memperhatikan atau menuntut pertumbuhan hayat rohani. Ada orang yang lebih maju, mereka menuntut pertumbuhan hayat yang lebih tinggi, menuntut hal-hal yang lebih dalam mengenai Allah, tetapi mereka mengabaikan tiga aspek lainnya. Ada yang mempunyai cukup gairah dan semangat, tetapi mereka tidak mempunyai pengetahuan Alkitab yang memadai. Segala usaha yang berat sebelah itu tidak sehat.
Satu hal yang mengherankan, dalam gereja hari-hari ini, tidak sedikit orang yang menuntut pemahaman Alkitab, baik secara harfiah maupun secara rohani; tidak sedikit yang menuntut pertumbuhan hayat yang lebih dalam dan kaya; tidak sedikit yang bergairah untuk memenangkan jiwa; tetapi sedikit sekali yang percaya kepada Allah dengan iman yang hidup sehingga dapat memperoleh sesuatu dari-Nya.
Sekali lagi ingatlah, untuk menjadi orang Kristen yang bisa dikatakan sempurna haruslah memenuhi empat perkara: Pertama, harus memiliki pengetahuan Alkitab. Kedua, harus menuntut kehidupan rohani yang lebih kaya, lebih dalam, lebih kudus, dan lebih indah sempurna. Ketiga, harus bergairah dalam pekerjaan. Keempat, harus belajar memiliki satu doa yang beriman kepada Allah, bersandar kepada Allah, mendapatkan jawaban Allah, dan melihat perbuatan Allah yang ajaib. Setiap orang Kristen harus berusaha mengembangkan keempat aspek pertumbuhan ini dengan seimbang agar jangan terjadi kepincangan. Jadi ingatlah, saya sama sekali tidak menentang perbuatan ajaib, sebaliknya saya sangat menghargainya. Tetapi karena adanya mujizat-mujizat palsu, adanya penipuan-penipuan melalui tanda-tanda ajaib, maka saya harus membicarakan masalah ini. Hari ini saya ingin menyingkapkan apa yang merupakan tanda ajaib atau mujizat palsu. Saya tidak menentang adanya perbuatan ajaib atau mujizat.
Ingatlah, semua pekerjaan Allah dikerjakan oleh Roh Kudus dan melalui roh kita; selamanya tidak pernah melalui jiwa manusia. Iblis justru melakukan pekerjaannya melalui jiwa manusia, yaitu melalui kekuatan yang terpendam di dalam daging manusia akibat kejatuhan. Sebab itu, menjelang akhir zaman, Iblis akan membangkitkan seorang Antikristus yang akan diberi kekuatan dan kuasanya; karena Iblis tidak bisa tidak menggunakan kekuatan laten jiwa manusia.
Sekarang saya akan memberikan beberapa contoh yang membantu kita memahami apakah suatu gejala itu demonstrasi kekuatan rohani atau kekuatan laten jiwa. Karena kita telah banyak menyinggung tentang mujizat dari kekuatan jiwa, kini kita akan memperhatikan segi-segi non mujizat.
Contoh 1 – Penginjilan Pribadi
Keadaan psikologis masing-masing orang berbeda, demikian pula kekuatan jiwanya. Ada orang memiliki pikiran yang lebih kuat, bahkan kadang-kadang dapat membaca pikiran orang lain. Ada orang beranggapan, kalau mau menanggulangi seseorang, haruslah terlebih dulu mengetahui jalan pikiran orang itu, kemudian baru dengan perkataan yang tepat berbicara kepadanya. Ini adalah cara mengenal yang bersifat alamiah. Cara seperti ini harus kita tolak.
Maaf, untuk menggambarkan hal ini, saya terpaksa menyinggung pengalaman pribadi saya. Kalau saya berbicara dengan seseorang, saya dapat dengan mudah mengetahui isi pikirannya, setelah saya berdialog sebentar dengan orang itu. Saya dapat mengetahui tanpa adanya alasan-alasan tertentu. Ketika mulai melayani Tuhan, saya mengira kemampuan tersebut sangat membantu dalam pekerjaan Tuhan. Tetapi setelah saya memahami lebih dalam, saya tidak berani lagi menggunakan kemampuan alamiah saya itu. Setiap kali keadaan tersebut muncul, saya segera berdoa dan menolaknya.
Setiap kali kita bercakap-cakap dengan seseorang, kita tidak perlu mengetahui apa yang sedang dipikirkan orang itu. Karelia ada satu hal yang pasti, yaitu semua yang berasal dari jiwa, semua yang dikerjakan oleh kekuatan jiwa, pasti tidak menghasilkan apa-apa. Jika Anda melakukan sesuatu melalui kekuatan jiwa Anda, sekalipun orang yang bersangkutan mengatakan bahwa ia memperoleh bantuan Anda, tetapi hayatnya tetap tidak mendapatkan pembinaan, di dalam lubuk batinnya sedikitpun tidak mendapatkan faedah apa-apa. Jadi, ketika ada orang datang kepada Anda, hal terpenting yang harus Anda lakukan ialah berdoa kepada Tuhan, mohon Tuhan menunjukkan kepada Anda bagaimana membantu orang itu. Anda seharusnya berkata kepada Tuhan, "Tuhan, aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya; aku juga tidak tahu bagaimana keadaan jiwa maupun rohnya. Aku dengan tiada sandaran apapun datang kepadaMu, mohon Dikau memberi perkataan kepadaku." Kita harus meletakkan seluruh apa adanya diri kita, untuk menerima pertolongan Allah.
Contoh 2 -- Sidang Kebangunan Rohani
Satu hal yang cukup mengherankan, yaitu banyak saudara pengkhotbah berkata kepada saya, bahwa kalau mereka pergi ke suatu tempat sidang yang ruangannya tidak begitu terang, jumlah yang hadir sedikit, banyak bangku-bangku kosong, saat itu mereka kehilangan tenaga untuk berdiri dan berkhotbah. Tetapi kalau lampu-lampu menyala terang, yang hadir banyak, dan mereka dengan gembira dan antusias ingin mendengarkan khotbah, maka mereka merasa berkekuatan untuk berkhotbah, bahkan makin berkhotbah, makin kuat. Tetapi saya ingin bertanya, kekuatan apakah itu? Terus terang saya katakan, "Itu tidak lain adalah kekuatan jiwa manusia." Kekuatan yang berasal dari Roh Kudus tidak terpengaruh oleh keadaan di luar. Kalau Anda ingin mengetahui berkhotbah dengan kekuatan jiwa itu seperti apa, asal Anda hadir pada suatu sidang besar dengan pengunjung yang penuh, dilengkapi dengan alat-alat yang terbaik, mendengarkan mereka menyanyi dan memperhatikan gerak-gerik mereka, Anda akan merasakan ada sesuatu kekuatan yang khusus di tempat yang ramai itu. Tetapi, kekuatan itu kekuatan apa? Ketika Anda hadir di sana, apakah Anda merasakan ada suatu kekuatan sedang menekan Anda? Apakah itu kekuatan Roh Kudus? Bukan! Itu kekuatan jiwa.
Bagaimana bisa mengatakan bahwa itu adalah kekuatan jiwa? Mari kita teliti apa yang dilakukan oleh orang-orang itu. Ketika menyanyi, mereka menyanyi sedemikian rupa sambil mengarah ke satu tujuan. Dengan demikian, mereka memusatkan semua kekuatan jiwa. Betapa hebatnya kekuatan ini. Ketahuilah, pada saat-saat demikian, mungkin tadinya Anda datang dengan maksud membantu mereka, tetapi karena suasana itu, sebaliknya Anda yang terpengaruh oleh mereka. Ini sungguh berbahaya! Banyak hamba Tuhan yang menceritakan hal yang sama kepadaku, bagaimana jumlah hadirin, udara panas atau dingin dan sebagainya; seolah semua itu bisa membantu atau malah menghambat pekerjaan mereka. Saya selalu berkata kepada mereka, "Semua itu karena diri Anda sendiri yang berkhotbah, karena Anda dengan kekuatan Anda sendiri berkhotbah, maka Anda terpengaruh dan terkendali oleh keadaan lingkungan."
Contoh 3 – Menyanyi
Tak sedikit hal menyanyi ini sangat membantu dalam pekerjaan Allah. Tetapi adakalanya ia menjadi suatu aktivitas jiwani. Banyak orang senang mengunjungi gedunglkatedral kelompok kekristenan tertentu, karena peralatan musiknya bagus. Ada kelompok kekristenan yang mengeluarkan sejumlah besar dana hanya untuk memasang satu perangkat alat musik. Banyak yang berkata, saat mereka berjalan mengunjungi tempat semacam itu, begitu mendengar suara musik dan suara nyanyian, hati roh mereka segera membubung ke hadirat Allah. Memang, kalau Anda mengunjungi tempat-tempat tersebut, Anda akan merasakan keadaan itu. Tetapi benarkah Anda dibawa ke hadirat Allah? Dapatkah roh manusia bebas dan dibawa lebih dekat kepada Allah hanya dengan sedikit pernyataan seperti itu? Inikah cara bekerja Allah?
Ketahuilah, banyak tata-cara di tempat-tempat tersebut bersifat karnal, sedikitpun tidak ada kebenaran di dalamnya. Mereka berusaha membangkitkan emosi orang dan merangsang naluri agama orang melalui suara musik dan nyanyian. Kekuatan semacam itu bukan kekuatan Allah, melainkan kekuatan nyanyian dan musik. Kita juga menyanyi, tetapi kita tidak mau meletakkan iman kita di atas nyanyian. Hanya apa yang dikerjakan oleh Roh Kudus baru mendatangkan faedah, lainnya tidak dapat mencapai roh kita.
Pernahkah Anda berkunjung ke suatu desa yang terpencil? Syukur kepada Allah, Ia pernah memberi kesempatan kepada saya untuk mengunjungi tempat seperti itu. Suatu kali, saya berkunjung ke sebuah desa di tepi laut. Semua penduduknya adalah nelayan. Di antara mereka ada yang sudah percaya kepada Tuhan, dan mereka mengadakan sidang-sidang; ada yang berjumlah 20-30 orang, atau 50-60 orang. Ketika mereka berkumpul dan bernyanyi, nada-nada sumbang dan irama yang kacau akan menusuk telinga Anda. Ketika menyanyi, nyanyian akan berhenti dengan selisih beberapa detik bahkan menit; karena beberapa orang menyanyi dengan cepat, beberapa orang lagi menyanyi dengan lambat. Yang cepat segera menyelesaikan bait terakhir, tetapi yang lambat menyusul beberapa saat kemudian. Kalau Anda menghadapi situasi dan kondisi demikian, dapatkah Anda bersidang? Mungkin Anda akan gelisah karena tidak sabar, dan seluruh kekuatan akan terkuras karena kegelisahan Anda itu. Ada seorang saudara berkata kepada saya, "Setelah mendengar nyanyian mereka, aku tidak dapat berkhotbah lagi." Saya berkata, "Salah satu masalahnya, apakah kekuatan itu berasal dari diri Anda sendiri atau berasal dari Tuhan?"
Ingatlah, di sini ada satu kondisi, yaitu Anda dan saya biasanya melihat keadaan sekitar dan terpengaruh olehnya. Tetapi kalau berasal dari Roh Kudus, maka kitalah yang akan mengendalikan keadaan sekitar kita. Ini adalah satu prinsip yang dalam. Semoga kita semua memegang ini. Jangan menggunakan kekuatan jiwa kita, agar kita tidak terpengaruh oleh keadaan di sekeliling kita.
Adakalanya, seseorang merasa dirinya tertekan, tetapi melalui nyanyian, Allah membebaskan orang itu. Adakalanya, berdoa juga bisa membebaskan orang. Tetapi jika kita menggunakan nyanyian dan doa sebagai inti, kita berada dalam bahaya memamerkan kekuatan jiwa. Banyak orang hidup dengan sembrono dan sembarangan selama enam hari (mulai hari Senin sampai dengan hari Sabtu), dan pada hari Minggu, mereka mengikuti sidang gereja. Begitu mendengarkan nyanyian dan puji-pujian, mereka merasa terbakar, bergairah, dan bersukacita. Tetapi dari mana asal gairah dan sukacita itu? Saya dapat membuktikan bahwa ada sesuatu yang tidak beres di dalamnya. Seseorang yang selama enam hari hidup dengan sembrono, melewatkan hari-hari dengan sembarangan, lalu pada satu hari datang ke hadapan Allah, seharusnya ia merasa telah berdosa kepada Allah, menyesal, dan bertobat. Bagaimana mungkin begitu menyanyi bersama, segera merasa bergairah dan bersukacita? Nyatalah bahwa kekuatan itu bukan kekuatan rohani. Terhadap masalah ini, saya tidak ingin menjadi seorang pengecam yang keras, tetapi saya harus menunjukkan bahwa terlalu banyak hal menyanyi yang merupakan aktivitas membangkitkan kekuatan jiwa manusia.
Contoh 4 – Pemahaman Alkitab
Terhadap perkara pemahaman Alkitab, juga ada bahaya menyatakan kekuatan jiwa. Misalnya, seseorang tidak begitu paham terhadap satu bagian tertentu dalam Alkitab. Kemudian dia terus memikirkannya; tidak peduli apakah ia sedang berjalan atau berbaring di tempat tidur, sedang duduk di ruang belajarnya atau dalam gerbong kereta api. Tiba-tiba seolah sekilas terang menyorotinya, lalu ia merasa bahwa dirinya telah memahami bagian itu dan sangat logis. Jika daya ingatnya baik, tanpa ragu-ragu ia akan menyimpannya dalam otaknya; jika daya ingatnya tidak begitu baik, ia akan menuliskannya dalam buku catatannya. Ia merasa, bukankah interpretasi yang datang secara tibatiba seperti itu sangat indah? Tetapi dapatkah itu diandalkan? Kita perlu mengujinya, sebab kadang-kadang itu berasal dari kekuatan jiwa. Dengan melihat hasilnya, hal itu dapat diketahui. Hal itu merupakan sesuatu yang baru, mengherankan, khusus, dan bermakna, maka seolah itu terasa cukup dalam, tetapi nyatanya tidak dapat menghasilkan buah-buah rohani. Tidak saja dirinya sendiri tidak memperoleh hayat, ketika dia memberikan itu kepada orang lain, orang lain pun tidak mendapatkan bantuan hayat darinya, hanya mendapatkan sedikit pengertian saja. Ini menunjukkan, bahwa pemahaman itu bukan berasal dari Allah.
Saya tidak berkata bahwa Allah tidak dapat memberikan makna dari firmanNya ketika seseorang sedang merenungkannya. Juga tidak berkata bahwa Allah tidak bisa secara tiba-tiba, entah saat kita di tengah jalan, di dalam rumah, memberikan firmanNya kepada kita. Allah mampu melakukan itu. Tetapi ingatlah, Allah tidak pernah memberikan firmanNya kepada seseorang, pada saat yang tidak diperlukan. Setiap pikiran, pengetahuan yang berasal dari Allah, tidak pernah diberikan kepada Anda, kalau Anda tidak memerlukannya. Demikian juga dalam hal Allah memberi uang kepada seseorang. Allah tidak pernah memberi Anda sejumlah uang untuk disimpan di dalam tanah, dan baru digunakan setelah lima tahun kemudian. Demikian juga dalam hal Allah membukakan suatu kebenaran kepada Anda. Tatkala Anda tidak memerlukannya, Ia tidak akan memberikan itu kepada Anda. Allah juga tidak menjawab doa dan permohonan yang tidak diperlukan seseorang. Ada seorang mengatakan dengan baik sekali; dia berkata, "Syarat pertama agar Allah bekerja ialah adanya keperluan." Benar, adanya keperluan merupakan Iangkah pertama dari mujizat. lnilah prinsip terjawabnya suatu doa. Apa yang menyalahi prinsip ini, tidak akan membuat Allah bekerja. Tetapi, Iblis justru melawan prinsip ini untuk melakukan pekerjaannya.
Contoh 5 – Sukacita
Banyak orang ingin mempunyai sukacita dalam perasaan mereka. Ada satu kecenderungan yang saat ini diminati orang, yaitu yang disebut "tertawa kudus." Mereka mengatakan, "Jika seseorang dipenuhi oleh Roh Kudus, ia pasti memiliki 'tertawa kudus' itu." Orang yang menyatakan diri mendapatkan tertawa semacam itu, ia sendiri merasa heran, seolah sedang mengidap suatu penyakit, tanpa satu alasanpun, ia akan tertawa; semakin dipikir, semakin ingin tertawa, seperti orang yang sakit ingatan, tidak dapat mengendalikan diri sendiri.
Suatu kali, di suatu tempat ada sidang demikian. Selesai khotbah, diumumkan bahwa setiap orang supaya mencari/ menuntut tertawa kudus. Semua hadirin mulai memukul-mukul meja dan kursi, melompat, dan berjingkrak berkeliling, benar-benar seperti sekelompok orang sakit ingatan. Sejangka waktu kemudian, apa yang disebut tertawa kudus itu tiba. Lalu mereka saling bertatapan muka dan saling tertawa, makin dipikirkan makin lucu, makin tertawa, semua tidak dapat menahan diri dan makin larut dalam tertawa. Apakah itu? Mungkinkah itu disebabkan oleh kepenuhan Roh Kudus? Dapatkah itu dikatakan sebagai pekerjaan Roh Kudus? Tidak! Itu adalah salah satu dari pekerjaan jiwa.
Saya menyinggung perkara ekstrim di atas dengan maksud menggambarkan bahwa sedikit penyimpangan Akan membawa kita jauh tersesat. Ketika Mr. Barlow bersidang bersama kita, saya mendapat satu bantuan darinya, Dia berkata, "Untuk melihat benar tidaknya satu perkara, kita cukup membesarkan perkara itu seratus kali lipat, yaitu membawanya kepada keadaan ekstrim. Kalau ia ternyata salah pada kelipatan yang keseratus, maka ia juga salah pada kelipatan pertama atau yang kedua." Perkataan ini tepat. Betapa sulit melihat kesalahan suatu hal dari kelipatan yang pertama atau kedua; kalaupun ia salah, kesalahan itu masih terlalu kecil untuk dapat dilihat. Tetapi dengan memperpanjang atau meluaskan situasi dan lingkungan, maka segalanya akan menjadi sangat jelas.
Ada suatu pepatah yang berbunyi demikian, "Penyimpangan seperseratus atau seperseribu di permulaan akan terpisah jauh di akhir." Pada permulaannya Anda hanya menyimpang seperseratus atau seperseribu, tetapi beberapa waktu kemudian, Anda akan menemukan betapa jauh perbedaannya. Demikian pula dengan melihat ketidak-tepatan sesuatu pada jarak seribu mil, Anda tahu bahwa kesalahan itu sudah terdapat pada seperseratus atau seperseribu inci di permulaannya.
Misalkan ada dua garis benang yang tidak sejajar, mereka saling membentuk sudut kecil, kecil sekali, hampir tidak terlihat dengan mata telanjang. Jika kedua garis ini ditarik satu inci, maka jarak keduanya akan bertambah besar. Kalau kedua garis ini ditarik sampai dua inci, jarak keduanya akan semakin lebar. Kalau ditarik sampai ke ujung bumi, berapa ribu kilometer penyimpangannya? Kalau perbedaan jarak di ribuan kilometer itu salah, tentu di titik permulaannya telah terjadi kesalahan.
Sekarang kita terapkan prinsip ini pada apa yang disebut tertawa kudus itu. Bagaimana orang-orang itu memperoleh tertawa semacam itu? Prosedur apa yang mereka turuti, atau kondisi apa yang harus dipenuhi? Tidak lain, karena dalam hati mereka mempunyai satu keinginan, mempunyai satu pikiran, yaitu ingin tertawa. Mereka mengatakan menuntut pemenuhan Roh Kudus. Memang mulut mereka mungkin berkata, "Tuhan penuhi aku dengan Roh-Mu." Tetapi itu hanyalah satu prosedur, tujuan permintaan bukan di sana. Meskipun mulut mengatakan demikian, tetapi maksud hatinya lain. Lalu apa tujuannya? Mereka ingin tertawa, ingin bersukacita. Mereka tidak berdoa, "Tuhan, penuhi kami dengan RohMu. Kami tidak mempedulikan perasaan yang di luar, asal Dikau memenuhi kami, semuanya pasti baik." Inilah sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang yang ingin dipenuhi Roh Kudus Allah.
Contoh 6 -- Penglihatan dan Mimpi
Hari ini, banyak orang dalam gereja yang mencari menuntut penglihatan dan mimpi. Ada orang bertanya kepadaku, "Apakah Anda menentang perkara-perkara itu?" Jawabku, "Saya tidak menentang penglihatan dan mimpi; saya sendiri pernah mengalaminya." Memang, kadang-kadang penglihatan dan mimpi dapat membantu. Tetapi saya ingin Anda memperhatikan, dari manakah asal penglihatan dan mimpi itu? Dari Allah atau bukan?
Pernah dalam sebuah sidang, karena ada orang bersaksi dan berkomentar bagaimana dia mendapatkan penglihatan, lalu komentar itu menyebabkan banyak orang juga berdiri menceritakan penglihatan atau mimpi masing-masing. Akhirnya, hampir seluruh jemaat beroleh kesempatan untuk bersaksi melihat penglihatan dan mimpi. Setelah mendengar kesaksian dan komentar-komentar itu, banyak orang mulai berdoa bagi dirinya sendiri, mohon agar Allah mengaruniakan pengalaman yang sama. Kalau penglihatan itu belum juga dikaruniakan kepada mereka, mereka akan berdoa puasa sampai berhari-hari. Tubuhnya menjadi lemah, pikirannya kosong, dan hampir tidak memiliki tekad lagi, dalam keadaan demikianlah mereka mengatakan menerima apa yang disebutnya penglihatan atau mimpi. Memang, mereka mendapatkan sesuatu, tetapi bagaimanakah cara mereka mendapatkan sesuatu itu? Apakah itu berasal dari Allah? Penuntutan dengan membuat pikiran kosong dan tekad menjadi pasif bukanlah pengajaran dari Alkitab. Apa yang mereka lakukan itu tak lain adalah menghipnotis diri sendiri.
Ada orang cenderung mudah bermimpi dan dapat menginterpretasikan mimpinya dengan cara yang lucu. Saya mempunyai seorang teman yang berprofesi dokter. Setelah ia percaya Tuhan, ia mengatakan bahwa ia mudah bermimpi. Setiap kali saya berjumpa dengannya, ia selalu bercerita akan mimpinya dan juga interpretasinya. Hampir setiap malam ia bermimpi dan sering kali ada tiga atau empat kali mimpi dalam satu malam. Mengapa hal itu bisa terjadi? Apakah Allah demikian senang memberinya mimpi terus menerus? Saya tahu penyebabnya. Karena ia adalah seorang 'pemimpi siang hari' (pelamun), maka ia selalu bermimpi pada malam harinya. Anehnya, seorang dokter yang sepandai itu ternyata malah memiliki pikiran yang sekalut itu. Dari pagi hingga malam, pikirannya bergerak, berputar-putar; ia tidak dapat mengendalikan pikirannya. Apa yang dimimpikan pada malam hari adalah apa yang ia pikirkan pada pagi hari. Sebab itu, dengan tegas saya memberitahunya, "'Jika Anda tidak menolak mimpi-mimpi Anda yang begitu banyak itu, Anda akan tertipu, sehingga tidak dapat bertumbuh dalam hayat rohani." Puji Tuhan, sejangka waktu kemudian ia berubah menjadi baik. Dari perkara ini kita dapat mengetahui bahwa banyak mimpi bukan berasal dari Allah, tetapi adalah akibat dari pikiran yang tidak sehat dan tidak terkendali.
Contoh 7 – Pencurahan Roh Kudus
Masih ada satu keadaan, saya lebih cenderung menyebutnya sebagai "kesetrum"; yaitu adanya sejenis kekuatan yang kalau tertimpa ke atas seseorang, orang tersebut bisa gemetaran, seolah kena aliran listrik. Badan orang tersebut akan terasa panas, ia akan mengoceh tak karuan, mengucapkan kata-kata yang aneh-aneh, tangan dan kakinya melakukan gerakan-gerakan yang khusus. Keadaan ini oleh mereka disebut mendapatkan pencurahan Roh Kudus. Saya tidak menentang pencurahan Roh Kudus. Tetapi ingatlah, semua perkara yang dihasilkan oleh jiwa, sebenarnya ada juga di dalam roh; namun yang keluar dari jiwa bertujuan memalsu apa yang ada di dalam roh. Kekuatan jiwa bisa menipu orang sehingga dianggap berasal dari Roh Kudus, berasal dari Allah. Karena itu, kita harus bisa membedakan, mana yang berasal dari jiwa dan mana yang berasal dari roh.
Banyak orang sangat ingin merasakan suatu sukacita atau kegembiraan yang khusus di dalam perasaannya. Untuk itu, mereka lalu berdoa dengan tekun, berdoa sampai berhari-hari, bahkan berdoa puasa. Mereka mengira, dengan melakukan semua itu, maka mereka akan dapat mengalami pencurahan Roh Kudus. Ini benar-benar adalah perbuatan menghipnotis diri sendiri. Kalau seseorang mengharapkan demikian dan terus-menerus melakukan demikian, maka ia akan merasakan apa yang ia harapkan itu. Hasil apakah itu? Apakah Allah benar-benar telah memenuhi hatinya? Karena perbuatan itu tidak sesuai dengan ajaran Alkitab, maka saya tidak berani mempercayainya sebagai hal yang sejati. Di satu pihak, kita harus mengenal Allah, mengenal bagaimana Allah memandang perkara tersebut; di pihak lain kita harus mengenal apakah perbuatan-perbuatan itu berasal dari Allah.
Ada sekelompok orang menganggap bahwa semua itu berasal dari Allah, maka mereka segera menerima semua itu, akibatnya mereka tertipu. Ada juga sekelompok orang yang merasa bahwa membedakan hal-hal yang berasal dari Allah atau bukan adalah perkara yang sangat sulit, maka mereka menolak semuanya. Sikap demikian tidaklah semestinya. Kita harus membedakan apa yang berasal dari Allah dan apa yang bukan berasal dari Allah. Segala yang berasal dari Allah, harus kita terima. Semua yang bukan berasal dari Allah, meskipun mungkin lebih baik, harus kita tolak. Ingatlah, semua pekerjaan Iblis adalah melalui kekuatan jiwa manusia, dan inilah yang harus kita hindari.
MENGUJI SUMBERNYA
Ada orang menuntut penglihatan, ada orang mengatakan telah melihat terang atau nyala api, ada orang mengatakan telah bermimpi, ada orang merasakan telah mengalami "kesetrum" sehingga tubuh gemetaran. Setelah ada kesaksiankesaksian itu, makin lama makin banyak orang yang mengatakan bahwa mereka pun memiliki pengalaman-pengalaman yang serupa. Saya tidak menentang adanya keadaan itu, tetapi saya ingin bertanya, dari mana sumber keadaan itu? Apakah itu berasal dari jiwa atau dari roh? Sekali lagi ingatlah, segala sesuatu yang berasal dari roh, jiwa pun juga dapat memalsukannya. Jika kita tidak menguji' sumber perkara-perkara tersebut, kita akan mudah tertipu. Yang paling penting di sini, bukan ada tidaknya perkara-perkara itu, melainkan sumber perkara-perkara itu dari jiwa atau dari roh!
HASIL OPERASI ROH BERBEDA DENGAN HASIL OPERASI JIWA
Apakah perbedaan hasil operasi roh dengan hasil operasi jiwa? Inilah satu prinsip yang sangat besar yang membuat kita dapat membedakan apakah sesuatu itu berasal dari roh atau berasal dari jiwa. Satu Korintus 15:45 mengatakan, "Adam yang pertama menjadi jiwa yang hidup, Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat" (Tl.). Di sini Paulus mengatakan, bahwa Adam yang pertama menjadi jiwa yang hidup. Jiwa itu hidup, dia memiliki hayatnya sendiri, dia dapat melakukan apa yang ingin dilakukannya. Ini menunjukkan posisi yang dimiliki Adam. Kemudian Paulus melanjutkan, "Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat." Perkataan ini patut kita perhatikan, ini sungguh mustika dan penting. Di sini dengan jelas terbentang perbedaan antara basil operasi jiwa dengan hasil operasi roh. Jiwa itu hidup, mempunyai hayatnya sendiri; tetapi roh dapat memberi hayat kepada orang lain, menyebabkan orang lain hidup. Jiwa itu hidup, tetapi tidak dapat menghidupkan orang lain; roh memang hidup, namun ia pun sanggup menghidupkan orang lain. Hanya roh yang dapat menghidupkan orang lain. Meskipun Anda memiliki jiwa yang sangat kuat dan hidup, itu tidak dapat membuat orang lain mendapatkan hayat. Tuhan Yesus berkata, "Rohlah yang memberi hayat, daging sama sekali tidak berguna" (Yohanes 6:63, Tl.).
Semoga kita dapat membedakan kedua operasi ini dengan tegas, sebab ini sangatlah penting. Tidak ada seorang pun yang dapat bekerja dengan baik, jika ia masih kacau dalam perkara ini. Saya ulangi lagi, memang jiwa itu hidup, tetapi ia tidak dapat menghidupkan orang lain. Sebaliknya, roh tidak hanya hidup bahkan juga bisa menghidupkan orang lain. Itulah sebabnya saya selalu menekankan bahwa kita harus mengesampingkan kekuatan jiwa kita. Semua yang berasal dari jiwa, tidaklah terhitung. Ini bukan masalah perdebatan istilah, tetapi adalah satu prinsip yang sangat penting. Meskipun jiwa itu hidup, tetapi ia tidak mampu menghidupkan orang lain. Karena itu, dalam membantu orang lain, kita bukan membantu otak orang itu, melainkan bekerja di dalam batin orang, agar orang lain memperoleh faedahnya. Kita tidak boleh bekerja dengan kekuatan jiwa, sebab itu tidak dapat menyelamatkan orang. Kita harus berhati-hati! Kita harus menolak segala sesuatu yang berasal dari jiwa! Semua yang berasal dari jiwa bukan saja tidak dapat membantu orang lain, malahan dapat menghalangi dan menghambat pekerjaan Allah, tidak membuat Allah mendapatkan kemuliaan.
BAHAYA BEKERJA DI DALAM
KEKUATAN JIWA
Saya akan menggunakan beberapa ilustrasi umum untuk menunjukkan perbedaan antara bekerja di dalam roh dengan bekerja di dalam jiwa. Di sini saya tidak akan menyinggung mengenai kasus-kasus mujizat, itu telah kita babas di depan. Mungkin boleh saya katakan, bahwa hari ini gereja telah terbiasa menggunakan cara-cara psikologi. Betapa sering metode-metode psikologi dipakai di dalam pelayanan sidang dengan tujuan untuk menarik orang. Banyak cara-cara psikologi dilibatkan dalam sidang-sidang pemberitaan untuk merangsang pendengar. Dengan mengamati metode-metode yang digunakan, kita dapat menentukan pekerjaan apakah yang sedang dilakukan oleh orang-orang di suatu tempat. Dengan sejujurnya saya katakan, banyak khotbah yang hanya dapat membantu jiwa orang, tetapi ia tidak dapat membantu roh orang. Karena yang ia beritakan berasal dari jiwanya, maka hanya dapat mencapai jiwa manusia dan menambah sedikit pengetahuan manusia saja. Kita jangan bekerja secara demikian, sebab pekerjaan demikian tidak pernah dapat menjangkau roh manusia.
Bagaimana dengan praktik dari kebanyakan kebangunan rohani masa kini? (Sebelumnya harus saya tegaskan, yaitu saya tidak menentang adanya kebangunan rohani umat Kristiani.) Pertanyaan saya ialah apakah pelaksanaan sidangsidang kebangunan rohani pada hari ini berasal dari roh? Bukankah dalam banyak perhimpunan kebangunan rohani, terlebih dulu diusahakan munculnya suasana yang membuat orang merasa terbakar dan bergairah? Menyanyikan nyanyian pendek secara berulang-ulang untuk membakar semangat peserta; beberapa kisah yang mudah mengharukan orang diceritakan untuk merangsang orang banyak memberi kesaksian-kesaksian. Yang demikian itu adalah metode dan tangan manusia, bukan kuasa Roh Kudus. Ketika suasana sudah membara atau membubung, barulah si pengkhotbah berdiri berkhotbah. Sementara ia berbicara, si pengkhotbah telah mengetahui hasil yang akan dicapainya pada hari itu. Ia telah mempersiapkan strateginya; jika berbuat begini, tentu akan ada orang-orang yang akan gemetaran, jika berbuat begitu, ada orang-orang akan menangis, mengaku dosa, dan bertekad. Kebangunan semacam ini perlu diulangi setiap satu atau dua tahun kemudian, sebab pengaruh "obat" yang diberikan itu akan habis khasiatnya dan orang-orang akan kembali pada kondisi yang lama. Bahkan tidak jarang pengaruh suatu kebangunan rohani hanya dapat bertahan selama beberapa minggu atau beberapa bulan. Memang, pada saat-saat permulaan kebangunan itu, semangat, gairah, dan kerelaan benar-benar diwujudkan, tetapi sejangka waktu kemudian segala sesuatunya berlalu begitu saja, hilang tanpa bekas. Mengapa demikian? Tidak lain karena orang-orang itu tidak mendapatkan hayat.
Kalau sejarah kaum imani itu dicatat, maka akan tercatat suatu sejarah kebangunan: bangun-jatuh, jatuh-bangun, silih berganti. Perangsang yang dipakai pada kebangunan yang pertama harus ditambah dosisnya pada kebangunan yang kedua. Supaya lebih efektif, metode yang digunakan pada kebangunan yang kedua ini harus lebih emosional dan lebih menggemparkan. Karena itu, saya anggap metode seperti itu lebih tepat disebut "menyuntikkan candu rohani". Mereka perlu disuntik beberapa kali dan diulang terusmenerus. Oh, jiwa hanya dapat hidup untuk dirinya sendiri, ia tidak dapat menghidupkan orang lain. Bekerja dengan kekuatan jiwa, walaupun dapat membuat orang menangis, bertekad, dan bergairah, tetapi hasilnya sama sekali tidak berharga.
ROHLAH YANG MEMBERI HIDUP
Apakah dilahirkan kembali itu? Dilahirkan kembali adalah mendapatkan hayat kebangkitan Tuhan. Mengapa Alkitab mengatakan bahwa kita dilahirkan kembali oleh hayat kebangkitan Tuhan, bukan oleh kelahiran Tuhan? Karena hayat yang kita terima melalui kelahiran kembali bukanlah hayat yang di Betlehem. Hayat inkarnasi di Betlehem itu berkemungkinan untuk mati, tetapi hayat kebangkitan, selamanya tidak akan mati. Tuhan berkata, "Aku adalah . . . Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah Aku hidup, sampai selama-lamanya" (Wahyu 1:17-18). Hayat kebangkitan tidak akan mati, Ia hidup sampai selama-lamanya. Hayat inkarnasi adalah hayat di dalam daging, berkemungkinan mati. Hayat yang kita terima pada saat dilahirkan kembali adalah hayat yang hidup selama-lamanya, tidak akan binasa.
Apakah kebangkitan itu? Misalnya, di sini tergeletak satu jenazah. Kita tidak mungkin membangkitkan orang yang telah mati dengan sarana-sarana manusiawi. Sekalipun menggunakan banyak energi dan panas, orang yang telah mati itu tidak akan hidup kembali. Satu-satunya cara supaya ia dapat hidup kembali adalah dengan memasukkan hayat Allah ke dalamnya. Hayat yang mampu menghidupkan dia kembali inilah hayat kebangkitan. Inilah kebangkitan.
Suasana apakah yang lebih buruk daripada kematian? Keadaan apa yang lebih dingin daripada kematian? Sesosok jenazah hanya akan memburuk dan membusuk, tetapi jika ada hayat kebangkitan dimasukkan ke dalamnya, maka hayat itu akan menelan maut. Jadi, seseorang yang telah dilahirkan kembali, ia dapat menolak segala sesuatu yang menjadi milik maut dan dapat membuang segala perkara yang mati.
Ada sebuah ilustrasi yang kadang-kadang dipakai untuk menggambarkan kebangkitan. Dulu ada orang-orang tidak percaya adanya kebangkitan. Dia adalah salah seorang penting dalam lingkungan orang-orang atheis. Suatu hari ia meninggal. Pada batu nisannya ditulisi kata-kata, "Kubur yang tidak akan pecah sampai selamanya." Kubur itu dibangun dari batu marmer dan sangat megah. Betapa mengejutkan, pada suatu hari kubur yang terbuat dari batu marmer itu retak. Ternyata ada sebuah biji dari pohon Ek (oak) yang jatuh di antara celah-celah batu ketika kubur itu sedang dibangun. Secara perlahan biji itu bertumbuh menjadi pohon oak, makin lama makin besar, bahkan akhirnya membuat kubur itu pecah menganga. Pohon memiliki hayat, karena itu ia dapat menembus dan memecahkan kuburan. Hanya hayat yang dapat mengalahkan kematian. Inilah kelahiran kembali. Inilah kebangkitan.
Rohlah yang memberi hidup, hanya roh yang dapat memberikan hayat kepada manusia. Inilah yang harus kita perhatikan. Tetapi sayang sekali. hari ini terlalu banyak barang yang telah menggantikan kedudukan roh.
HARUS MENANGGULANGI JIWA
Allah hanya bekerja dengan kekuatanNya sendiri. Sebab itu, kita harus mohon Allah membelenggu jiwa kita. Setiap kali kita bekerja bagi Allah, terlebih dulu kita harus menanggulangi diri kita sendiri, mengesampingkan diri sendiri. Kepandaian kita, pendapat kita, bakat kita, dan kebaikan-kebaikan kita harus terlebih dulu diletakkan. Kita harus memohon agar Allah mengikat semuanya itu. Kita harus berkata kepada Allah, "Ya Allah, aku ingin Engkau yang bekerja, aku tidak ingin bersandar pada bakat atau kekuatanku. Bersandar pada diriku, aku tidak dapat melakukan apa-apa. Tuhan, kiranya Engkau sendiri yang bekerja."
Hari ini, banyak pekerja beranggapan bahwa hanya mengandalkan kekuatan Allah saja tidaklah cukup, maka mereka memasukkan kekuatannya sendiri ke dalam pekerjaannya. Pekcrjaan demikian bukan saja tidak mendatangkan faedah, malahan mencelakakan orang. Ingatlah, pekerjaan Roh Kudus selamanya tidak pernah bertoleransi dengan campur tangan manusia. Saya sering mengatakan, bahwa dalam pekerjaan Allah, manusia harus menjadi seperti "manusia kertas", tidak berhayat, sedikitpun tidak mampu berbuat apa-apa. Manusia memerlukan satu pemasukan hayat, baru dapat bekerja. Marilah kita masing-masing menyangkal diri sendiri sedemikian rupa sehingga menjadi seperti manusia kertas, tak memiliki kekuatan apapun di dalam diri sendiri. Semua kekuatan harus berasal dari atas; semua metode yang digunakan juga harus berasal dari atas. Kita tahu hanya Roh1ah yang memberi hidup, dan Allah bekerja melalui Roh. Jika kita ingin Allah bekerja, kita harus mohon Allah mengikat jiwa kita, dengan demikian Allah baru dapat dengan leluasa bekerja.
Yohanes 1.2:24-25 mengatakan, "Aku berkata kepadamu: sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal"
Ayat di atas memperlihatkan kepada kita, barangsiapa menyayangi hayat jiwanya, ia akan kehilangan hayat jiwanya, tetapi barangsiapa rela kehilangan hayat jiwanya ia akan memeliharanya untuk hidup kekal. Ini adalah satu amanat Tuhan yang khusus. Tuhan mengatakan ini dengan maksud menerangkan arti kata-kata sebelumnya, "Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah". Terlebih dulu harus mati, baru kemudian ada sesuatu terjadi. Jika seorang beriman tidak mengesampingkan hayat jiwanya, maka roh tidak akan pernah dapat bekerja dengan leluasa, dan ia tidak bisa mendatangkan manfaat bagi orang lain. Jika kita ingin melakukan pekerjaan yang lebih dalam bagi Tuhan, kita harus menanggulangi jiwa kita secara praktis. Jiwa harus dikesampingkan. Satu biji gandum itu baik, dan warna kuning keemasannya pun indah. Tetapi jika ia diletakkan di atas meja, katakan sampai seratus tahun, ia akan tetap satu biji saja dan tak akan berkembang. Semua kekuatan jiwa sepertilah sebiji gandum yang tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, selamanya tidak akan pernah bertambah banyak.
Marilah kita melihat masalah ini dengan serius. Apakah hayat kebangkitan yang kudus dan tanpa cacat-cela yang Anda miliki itu telah menghasilkan buah? Ada orang bertanya, "Mengapa saya tidak dapat membantu atau menyelamatkan orang lain?" Ada yang bertanya, "Mengapa saya tidak memiliki kekuatan untuk bekerja?" Banyak orang yang mengaku bahwa mereka tidak memiliki kekuatan. Tapi saya akan menjawab, bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk bekerja justru dikarenakan kekuatannya sendiri terlalu besar. Kalau Anda telah memiliki kekuatan Anda sendiri yang besar, tentu tidak ada kesempatan bagi Allah untuk bekerja. Jika Anda memakai hikmat Anda sendiri, memakai metode diri sendiri, menggunakan kekuatan diri sendiri, menggunakan alamiah diri sendiri, itu berarti Anda telah menghalangi pengekspresian kekuatan Allah.
Dalam perkara mujizat dan tanda ajaib, banyak yang merupakan pernyataan kekuatan jiwa manusia, bukan berasal dari Allah. Bagaimana Anda bisa mengharapkan hasil yang baik, sedangkan Anda telah menggantikan kuasa Allah dengan kekuatan jiwa? Banyak sidang kebangunan rohani yang kelihatannya sukses pada saat diadakan, tetapi setelah sejangka waktu, hasilnya sama dengan nol. Memang, ada sidang kebangunan rohani yang benar-benar bermanfaat bagi orang. Tetapi apa yang saya kemukakan di sini adalah pekerjaan-pekerjaan yang dikerjakan dengan metode manusia. Dengan serius saya tegaskan, barangsiapa ingin melakukan pekerjaan yang lebih baik dan lebih dalam, janganlah ia banyak berbicara tentang kuasa/kekuatan. Kewajiban kita adalah jatuh ke dalam tanah dan mati. Jika telah mati, menghasilkan buah itu adalah hal yang sangat wajar.
Bagaimana perkataan Tuhan tentang seseorang yang kehilangan nyawanya, yaitu orang yang membenci nyawanya sendiri di dunia ini? la akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Misalnya, saya pandai berbicara, namun saya menolak menggunakannya. Hati saya tidak mengukuhi fasih lidah saya. Saya tidak mau menggunakannya sebagai sarana untuk bekerja; saya mengesampingkan fasih lidah, saya tidak bersandar pada fasih lidah saya. Apa hasilnya? Saya memperoleh hayat, saya dapat membantu orang lain mendapatkan hayat. Misalnya lagi, saya memiliki bakat menangani urusan-urusan. Saya justru menolak menggunakannya. Saya malah menantikan di hadapan Allah. Jika demikian, saya akan mendatangkan faedah yang sejati bagi orang lain. Marilah kita belajar tidak menggunakan kekuatan diri sendiri, supaya kita dapat berbuah.
Kekuatan haruslah diperoleh di dalam lingkungan kebangkitan. Kebangkitan adalah suatu kehidupan yang telah melewati maut. Yang kita perlukan bukan kekuatan yang lebih besar, melainkan kematian yang lebih dalam: Kita harus menolak semua kekuatan alamiah. Barangsiapa tidak pernah kehilangan hayat jiwanya, ia tidak akan pernah tahu apakah kekuatan itu. Tetapi orang yang telah melalui kematian, ia akan mendapatkan hidup. Barangsiapa kehilangan jiwanya, ia akan seperti sebiji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati, dan kemudian ia akan bertumbuh dalam hayat Allah dan menghasilkan banyak buah.
Saya rasa, banyak orang yang terlalu kaya dan terlalu kuat, sehingga mereka tidak memberi kedudukan bagi Allah untuk bekerja. Sering kali saya teringat pada satu perkataan. "Tiada sandaran dan tiada harapan". Anda boleh berkata kepada Allah, "Segala yang ada padaku adalah milikMu. Saya sendiri tidak memiliki apa-apa. Selain Engkau, saya sungguh tiada sandaran dan tiada harapan." Kalau demikian, Anda akan memiliki satu sikap yang bersandar kepada Allah, sehingga seolah-olah dalam hal bernafas pun Anda tidak bisa tanpa Dia. Alhasil, Anda akan menemukan bahwa kekudusan Anda adalah kekudusan yang berasal dari Dia; kekuatan Anda berasal dari Dia; keinginan Anda melakukan ini atau itu, berasal dari Dia; segala sesuatu yang ada pada Anda berasal dari Dia. Oh, Allah sangat berkenan, jika kita datang kepadaNya dalam sikap tiada sandaran dan tiada harapan.
Seorang saudara bertanya kepada saya, "Apakah syaratnya agar Roh Kudus bekerja?" Saya jawab, "Roh Kudus selamanya tidak pernah menggunakan bantuan kekuatan jiwa. Roh Kudus harus terlebih dulu membawa kita ke suatu posisi, yaitu kita tidak dapat melakukan apapun bersandarkan diri kita sendiri." Marilah kita belajar menolak segala sesuatu yang berasal dari alamiah kita. Baik yang bersifat mujizat atau yang biasa, asal itu bukan berasal dari Allah, kita harus belajar menolaknya. Demikianlah Allah baru akan menggunakan kekuatanNya untuk melakukan apa yang hendak dilakukanNya.
TELADAN TUHAN
Dalam Yohanes 5:19 Tuhan berkata, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri, jikalau tidak la melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak." Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri. Dengan perkataan lain, apa yang telah dikerjakan Tuhan tidak satupun yang dikerjakan berdasarkan diriNya sendiri. Inilah sikap Tuhan kita. Dia tidak melakukan berdasarkan kekuatanNya sendiri, Dia tidak melakukan menurut maksudNya sendiri, segala sesuatu yang berasal dari diriNya sendiri tidak dilakukanNya. Apakah ada sesuatu yang salah dengan jiwaNya? Bukankah kekuatan jiwaNya dapat digunakan? Apakah berdosa jika la menggunakan kekuatan jiwaNya, sedangkan pada diri-Nya sedikitpun tidak ada dosa? Dengarlah perkataanNya, "Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri. "
Jika Tuhan yang begitu kudus dan sempurna menolak menggunakan kekuatan jiwaNya, apalagi kita! Tuhan yang begitu indah sempurna, dalam hidupNya masih tiada sandaran dan tiada harapan terhadap diri sendiri, Ia mutlak bersandar kepada Allah. la datang ke dunia, dalam segala hal mengerjakan apa yang menjadi kehendak Allah. Kita sebagai manusia kecil ini, masihkah ada sesuatu yang terhitung yang berasal dari diri kita? Kita harus mengesampingkan kekuatan jiwa kita, menolak segala sesuatu yang berasal dari jiwa kita, setelah itu barulah kita dapat bekerja dengan kekuatan rohani dan menghasilkan banyak buah. Semoga Allah memberkati kita.