PEMBARUAN PIKIRAN
Pembacaan Alkitab:
Gal. 4:19; Rm. 12:2; Ef. 4:17-24
Dalam bab ini kita melanjutkan membahas pembaharuan pikiran. Dalam bab-bab sebelumnya kita melihat bahwa dalam kehidupan kristiani kita diubah secara bertahap ke dalam gambar Tuhan (2 Kor. 3:18.). Kita diciptakan menurut gambar Allah (Kej. 1:26). Allah memiliki pikiran, emosi, dan tekad (lih. Ef. 1:11; Rm 9:13; Why. 4:11), dan karena Dia menciptakan kita menurut gambar-Nya, Dia juga memberi kita pikiran, emosi, dan tekad. Namun, gambar Allah di mana kita diciptakan adalah hanya luar dan bukan gambar yang Paulus acukan pada 2 Korintus 3:18. Sampai kita telah dilahirkan kembali oleh Tuhan, masuk ke dalam roh kita untuk menjadi hayat kita, gambar kita yang berbagi dengan Allah tetap dangkal. Sebelum kita dilahirkan kembali, meskipun kita mengemban gambar luar Allah, Dia bukan isi batin kita. Hanya ketika kita dilahirkan kembali Tuhan masuk ke dalam roh dan mulai meluas ke setiap bagian diri kita menjadi isi seluruh diri kita, khususnya jiwa kita. Ketika Dia masuk ke dalam roh kita, roh kita segera diubah menjadi gambar-Nya. Kemudian sebagai Tuhan yang diam di dalam kita, Dia secara bertahap mengubah kita dengan menjadi isi batin kita, terutama pikiran, emosi, dan tekad kita. Hari ini Tuhan sedang menunggu kesempatan untuk meluas ke setiap bagian dari seluruh diri kita sehingga kita dapat diubah menjadi gambar-Nya secara penuh. Kita harus bekerja sama dengan kedambaan Allah dengan melaksanakan memberi Dia jalan bebas untuk menyebarkan diri-Nya ke setiap bagian diri kita.
Dalam kehidupan kita sehari-hari pikiran adalah bagian pengendali diri kita. Terlepas dari kondisinya, pikiran mengendalikan hayat dan diri kita. Dalam Efesus 4, Paulus berbicara tentang bangsa-bangsa lain, yang "berjalan dalam kesia-siaan pikiran mereka" (ayat 17 Tl.). Bagi kita berjalan dalam kesia-siaan pikiran adalah membiarkan kesia-siaan pikiran mengendalikan kita. Untuk berjalan dalam kesia-siaan pikiran adalah berada di bawah aturan, arahan, dan kendali pikiran yang penuh kesia-siaan. Orang yang demikian memiliki pikiran mengasihi dunia, uang, dan hal-hal yang sia-sia lainnya. Kehidupan sehari-hari orang tersebut berada di bawah kendali pikiran kesia-siaan. Kita harus menyadari bahwa mungkin bagi kita untuk tetap berada di bawah kendali manusia lama bahkan setelah kita dilahirkan kembali. Meskipun roh kita diperbaharui dan menjadi ciptaan baru pada saat kita dilahirkan kembali, sangat mungkin kita masih usang dalam pikiran kita. Jika ini adalah kasus kita, itu adalah tanda bahwa pikiran kita belum diubah atau diperbaharui.
Dalam bab ini kita ingin membahas pertanyaan, "Bagaimana pikiran kita bisa diperbaharui?" Jawaban atas pertanyaan ini penting, karena pembaharuan pikiran mempengaruhi seluruh kehidupan kristiani. Sebagai contoh, kebanyakan orang Kristen ingin mengalahkan dosa-dosa mereka. Namun, mereka mungkin tidak menyadari bahwa mengalahkan dosa berhubungan erat dengan pembaharuan pikiran. Jika kita mengabaikan pengalaman pembaharuan pikiran, akan sulit bagi kita mengalahkan dosa. Di sisi lain, jika kita mengalami pembaharuan pikiran dan diubah ke dalam gambar Tuhan, maka akan mudah bagi kita untuk mengalahkan segala macam dosa. Jika kita mau diperbaharui dalam pikiran kita dan diubah ke dalam gambar Tuhan, begitu banyak hal dalam kehidupan kristiani kita akan menjadi mudah bagi kita. Karena itu, jenis kehidupan kristiani kita sangat tergantung pada apakah pikiran kita sedang diperbarui hari demi hari.
Ketika kita mengasihi seseorang dengan gambar di batin, kita akhirnya berjalan, bertindak, dan berpikir seperti orang itu. Setelah suami dan istri saling mengasihi untuk sejangka waktu, mereka memiliki pikiran, sikap, dan keinginan yang sama. Ini merupakan petunjuk bahwa gambar sejati menyebabkan dua orang menjadi satu pikiran. Jika seorang istri benar-benar mengasihi suaminya, gambar itu akan membatasi dia berpikir seperti suaminya berpikir, bertindak seperti tindakan suaminya, dan melakukan hal-hal seperti suaminya lakukan. Jika dia tidak pernah berpikir, bertindak, dan melakukan hal-hal seperti yang dia lakukan ini merupakan pertanda bahwa kasih yang dia miliki kepadanya kemungkinan tidak riil. Namun, ilustrasi ini terbatas, tidak peduli berapa banyak suami mengasihi istrinya dan ia mengasihinya, mereka tidak bisa benar-benar masuk ke dalam satu sama lain seperti Tuhan telah masuki ke dalam diri kita. Tuhan telah masuk ke dalam kita dan sekarang di dalam kita (2 Kor. 13:5.). Kita diikatkan kepada Tuhan, Dia dan kita adalah satu roh (1 Kor. 6:17). Tuhan kita yang berhuni sedang menunggu kita untuk diperbaharui, diubah, ke dalam gambar-Nya oleh diri-Nya dengan hayat kebangkitan-Nya. Kita harus datang ke realisasi bahwa tidak ada yang sama pentingnya dengan pembaharuan pikiran kita. Jika kita mau memiliki kehidupan kristiani yang riil—kehidupan yang di dalamnya kita dapat dengan mudah mengalahkan semua hal-hal negatif dan mengikuti Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya—kita harus diperbaharui dalam pikiran, dalam emosi, dan dalam tekad. Karena pikiran adalah bagian utama jiwa kita, adalah sangat penting bahwa kita diperbaharui dalam pikiran.
KRISTUS TERBENTUK DI DALAM KITA
Galatia 4:19 mengatakan, "Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu." Untuk memiliki Kristus terbentuk di dalam kita adalah memiliki pikiran, emosi, dan tekad yang diperbaharui. Ketika jiwa kita seluruhnya diperbarui secara ini, kita tidak akan hanya memiliki pikiran Kristus untuk berpikir seperti Dia pikirkan, Kristus sendiri akan menjadi persona yang berpikir di dalam kita. Ketika Kristus terbentuk di dalam kita, pada saat kita berpikir tentang sesuatu, Dia menyebar dari roh kita ke dalam dan melalui pikiran kita untuk menjadi isi pikiran kita. Kemudian, ketika Dia menyebar, Dia menjadi orang yang berpikir di dalam kita. Kelihatannya, kita adalah orang-orang yang berpikir, sebenarnya, Kristus adalah satu-satunya yang berpikir di dalam kita. Ini akan sama dengan emosi kita. Ketika kita mengasihi sesuatu atau seseorang, kita tidak akan mengasihi sendirian, Kristus di dalam kita juga akan mengasihi. Mengenai tekad kita, ketika kita memutuskan untuk melakukan sesuatu, tidak akan hanya kita sendiri yang memutuskan, Kristus di dalam kita akan memutuskan. Jika kita mengalami Kristus yang terbentuk di dalam kita, kita akan menjadi "orang ganda." Meskipun kita masih akan menjadi diri kita sendiri, di dalam kita orang lain, Kristus, akan berada dalam proses pembentukan di dalam kita. Karena orang ini terbentuk di dalam kita, Dia akan menyebar ke setiap bagian batin kita. Akibatnya, ketika kita berpikir, kita akan memiliki pikiran Kristus, ketika kita mengasihi, kita akan memiliki kasih Kristus, dan ketika kita memutuskan, kita akan memiliki kehendak Kristus. Kristus akan menjadi tidak hanya di dalam roh kita, Dia akan menyebar ke dalam pikiran, tekad, dan emosi. Karena Kristus terbentuk di dalam kita, kita secara bertahap diubah ke dalam gambar-Nya.
Mengasihi Tuhan
Apakah Kristus terbentuk di dalam kita dan kita diubah dalam jiwa kita atau tidak, tergantung pada sedikitnya tiga hal. Pertama, kita harus mengasihi Dia. Ketika suami dan istri berjalan bersama, mereka sering berjalan bergandengan tangan. Meskipun mereka adalah dua orang, mereka adalah satu dalam tindakan dan gerakan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka saling mengasihi. Dengan cara yang sama, jika kita mengasihi Tuhan secara riil, kita ingin menjadi sama seperti Dia dalam segala hal. Ketika kita akan melakukan sesuatu, kita bertanya kepada diri sendiri, "Apakah ini cara Tuhan mengasihi hal-hal? Apakah ini cara Tuhan bertindak." Dengan memeriksa diri kita secara ini, kita tentu akan disesuaikan dalam pemikiran, perasaan, dan keputusan kita? Ketika kita menemukan bahwa pemikiran kita bukan pemikiran Tuhan dan bahwa pikiran kita bukan pikiran-Nya, kita akan menyerahkan pemikiran kita dan disesuaikan dengan pikiran Tuhan. Kita harus menyerahkan pikiran kita kepada pikiran Tuhan, emosi kita kepada emosi Tuhan, dan kehendak kita kepada kehendak Tuhan. Mari kita tunduk kepada-Nya. Jika kita mengasihi Tuhan sedemikian rupa, kita akan memberikan-Nya kebebasan, tumpuan, dan kesempatan untuk menduduki satu bagian demi satu bagian diri kita. Masalah kita adalah bahwa meskipun kita telah dilahirkan kembali dan memiliki hati yang mengasihi Tuhan, kita tidak mengasihi Tuhan dengan sepenuhnya. Sebagai hasilnya, tampaknya bahwa Tuhan tidak memiliki kesempatan untuk melakukan apa pun dalam pikiran, emosi, dan tekad kita. Alasan Tuhan tidak memiliki tumpuan untuk mengisi pikiran kita adalah bahwa kita tidak begitu mengasihi Dia.
Sering, meskipun kita mengasihi Tuhan untuk tingkat tertentu, kita tidak bersatu dengan-Nya. Setelah mengunjungi banyak rumah sepanjang tahun, saya menyadari bahwa antara suami dan istri, bahkan mereka yang saling mengasihi, situasi seperti ini sering ada. Meskipun pasangan sering bertindak dan berpikir sebagai satu, saya telah memperhatikan bahwa sangat sering suami dan istri tidak satu. Saya telah melihat istri memutuskan untuk melakukan yang berkebalikan dari apa yang suaminya lakukan, dan sebaliknya. Sering kali, kita memiliki hubungan semacam ini dengan Tuhan. Berapa kali kita mengatakan kepada Tuhan, "Engkau pergi di jalan-Mu, aku akan pergi di jalanku"? Jika ini adalah keadaan hubungan kita dengan Tuhan, tidak hanya kita akan gagal diperbaharui dalam pikiran kita, pikiran kita akan menjadi semakin merdeka dari Tuhan, dan kita akan menutup Tuhan keluar dari pikiran kita. Namun, jika kita mengasihi Dia secara mutlak, dalam setiap situasi kita akan memandang kepada Tuhan dan berkata, "Tuhan, aku hanya mengasihi-Mu. Aku ingin tahu bagaimana Engkau mempertimbangkan situasiku. Apa yang Engkau pikirkan mengenai hal ini? Aku ingin mengambil pikiran-Mu sebagai pikiranku dan memiliki pikiran-Mu menyebar ke dalam pikiranku. Karena aku sangat mengasihi Engkau, aku ingin memiliki pikiran yang dijenuhi oleh dan berbaur dengan pikiran-Mu." Jika kita mengasihi Tuhan secara ini, kita akan memberi-Nya banyak kebebasan, tumpuan, dan kesempatan untuk menanggulangi kita mengenai pikiran kita. Kita harus mengasihi Dia sehingga secara bertahap pikiran kita dapat diperbaharui, diisi, dijenuhi, dan berbaur dengan pikiran Tuhan, yaitu dengan Tuhan sendiri. Kemudian ketika kita berpikir dan mempertimbangkan hal-hal, orang akan merasakan bahwa dalam pemikiran dan pertimbangan kita ada cita rasa Kristus (lihat 2 Kor. 2:14). Jika kita ingin Kristus terbentuk di dalam kita dan jika kita ingin pikiran kita diperbarui, kita harus sangat mengasihi Tuhan.
Bersekutu dengan Tuhan
Kedua, agar dapat diperbarui, kita perlu tetap dalam persekutuan dengan Tuhan. Tidak hanya kita harus tinggal dalam persekutuan dengan Tuhan pada saat kita berdoa, kita harus tetap berkontak dengan-Nya bahkan di tengah-tengah aktivitas sehari-hari dan percakapan kita. Ketika kita berkomunikasi dengan orang, kita harus bersekutu dengan Tuhan secara bersamaan. Bahkan selama waktu sibuk, kita harus tetap dalam persekutuan dengan Tuhan. Hal ini memerlukan latihan kita. Bertahun-tahun yang lalu, saya tahu saudara muda yang dibawa ke poin di mana ia terus dalam persekutuan dengan Tuhan. Saudara ini mengatakan kepada saya bahwa saat dia berjalan, dia akan berhenti pada satu atau dua blok agar tetap dalam persekutuan dengan Tuhan. Jika kita tetap dalam persekutuan secara konstan dengan Tuhan, kita akan memberikan kepada Tuhan banyak kesempatan untuk menguasai pikiran, emosi, dan tekad kita.
Berdoa
Ketiga, agar Kristus terbentuk di dalam kita, kita harus berdoa. Hal ini tidak memadai bagi kita untuk berdoa hanya karena kita memiliki banyak hal untuk memohon kepada Tuhan. Kita harus berdoa untuk tujuan sederhana mengontaki Tuhan dan melatih roh kita.
Ketika kita mendengarkan hal-hal, secara otomatis kita melatih telinga kita. Ketika kita berjalan atau berlari, otomatis kita melatih kaki dan telapak kaki. Menurut prinsip yang sama, jika kita berdoa, kita otomatis akan melatih roh kita, karena berdoa adalah latihan roh. Meskipun berkali-kali ketika kita mulai berdoa, kita tidak dalam roh, setelah mungkin lima atau sepuluh menit kita masuk ke dalam roh. Ketika balita pertama kali mencoba untuk berjalan, mereka tidak begitu menggunakan telapak kaki dan kaki. Tetapi semakin mereka berlatih berjalan, semakin mereka menggunakannya. Dengan cara yang sama, jika hari demi hari kita lebih banyak berdoa, otomatis kita akan lrbih banyak melatih roh. Saya percaya bahwa banyak dari kita telah mengalami bahwa semakin kita banyak berdoa, semakin berada dalam roh dan semakin tumbuh terbiasa melatih roh kita. Semakin kita melatih roh untuk berdoa, semakin kita membuka jalan bagi Tuhan sebagai Roh di dalam kita untuk menyebar ke semua bagian batin kita. Meskipun kita bisa berdoa untuk meminta hal-hal dari Tuhan, alasan yang paling penting mengapa kita berdoa adalah untuk melatih roh kita untuk tetap berkontak dengan Tuhan. Jika kita melatih roh kita dengan berdoa secara ini, seluruh diri kita secara bertahap akan diperbarui, dan kita akan diubah ke dalam gambar Tuhan.
Kristus terbentuk di dalam kita dan diri kita diperbaharui dalam roh pikiran kita sangat tergantung pada tiga hal—kita harus mengasihi Tuhan, tetap dalam persekutuan dengan-Nya, dan latihan untuk berdoa. Semakin banyak kita melakukan hal-hal ini, semakin kita akan diperbaharui.
MEMPELAJARI KRISTUS
Banyak dari Anda telah belajar banyak ajaran dan doktrin Kristen. namun, beban dalam hati saya dalam berita ini adalah untuk bersekutu dengan Anda tentang cara-cara yang pasti di mana Anda dapat mengalami hal-hal yang telah Anda pelajari. Dengan kata lain, saya berbeban supaya Anda masuk ke dalam realitas dari apa yang Anda sudah tahu.
Efesus 4:20 berkata, "Tetapi bukan dengan demikian kamu belajar mengenal Kristus." Kita harus memperhatikan kalimat belajar mengenal Kristus dan memahaminya secara tepat. Untuk mempelajari Kristus tidak berarti bahwa karena Kristus mengasihi orang, kita juga harus mengasihi orang-orang. Ketika saya masih kecil, saya diajarkan bahwa karena Yesus mengasihi orang miskin, kita harus mengasihi orang miskin juga. Saya secara salah diajarkan bahwa meniru tersebut apakah diartikan mempelajari Kristus. Untuk mempelajari Kristus tidak berarti bahwa kita meniru-Nya, itu berarti bahwa di dalam kita Kristus berdiam, memiliki Kristus sebagai hayat kita dalam segala hal yang kita lakukan. Ini berarti bahwa ketika kita berpikir tentang hal-hal, kita mengambil Kristus sebagai hayat kita secara subyektif dan memperhidupkan Dia. Mempelajari Kristus tidak objektif—tidak hanya mengambil Kristus yang berada di luar kita dan mengikuti teladan-Nya. Sebaliknya, mempelajari Kristus adalah secara subyektif. Memiliki segala sesuatu untuk dilakukan dengan Kristus yang ada di dalam kita, tinggal di dalam kita, dan menjadi hayat kita. Bagi kita mempelajari Kristus berarti bahwa pikiran-Nya menjadi pikiran kita, kasih-Nya menjadi kasih kita, dan hati-Nya menjadi hati kita. Kita harus mengambil pikiran-Nya sebagai pikiran kita dan karena itu menyingkirkan pikiran kita sendiri. Ini adalah cara yang benar untuk mempelajari Kristus.
Dalam ayat berikutnya, Paulus mengatakan "Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus" (ayat 21). Semua realitas yang ada di dalam Kristus harus dinikmati oleh kita dan harus menjadi bagian kita. Misalnya, kasih dan terang adalah realitas. Realitas ini ada di dalam Kristus. Karena kita telah dilahirkan kembali, Kristus ada di dalam kita. Karena itu, apa pun yang Dia memiliki ada di dalam diri-Nya—dalam contoh ini, kasih dan terang—telah menjadi bagian kami. Karena itu, kita perlu menikmati semua realitas yang ada di dalam Dia. Jalan bagi kita untuk menikmati realitas yang diberikan kepada kita ada dalam ayat 22 sampai 24. Pertama, kita harus "menanggalkan manusia lama." Menanggalkan manusia lama adalah sesuatu yang kita lakukan sekali untuk selamanya ketika kita dibaptiskan. Kedua, kita harus "diperbaharui dalam roh pikiran [kita]." Ini adalah sesuatu yang kita harus alami terus-menerus. Ketiga, kita harus "mengenakan manusia baru." Seperti menanggalkan manusia lama, hal ini telah diselesaikan sepenuhnya. Karena itu, kita memiliki tiga hal: menanggalkan manusia di satu pihak, mengenakan manusia baru di pihak lain, dan pembaharuan pikiran di tengah-tengah. Apakah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru atau tidak ini nyata dalam pengalaman kita sehari-hari tergantung pada apakah kita mengalami diperbaharui dalam roh pikiran kita atau tidak. Perbaharuan kita dalam roh pikiran adalah perkara sentral.
Kita mungkin tahu fakta dan doktrin bahwa di dalam Kristus kita telah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, dan kita mungkin menyadari bahwa kita adalah ciptaan baru (2 Kor. 5:17). Dan bahwa yang lama sudah berlalu dan yang baru telah datang. Namun, dalam pengalaman kita, apakah fakta-fakta ini realitas bagi kita atau hanya doktrin? Kita mungkin sering berbicara tentang bagaimana kita disalibkan bersama Kristus, bagaimana manusia lama kita telah dihukum mati di salib, dan bagaimana kita telah mengenakan Kristus dan karena itu ada di dalam Dia (Gal. 3:27). Tetapi sangat mungkin bahwa hal-hal ini hanya ajaran semata bagi kita. Ada kemungkinan bahwa kita tidak tahu bagaimana membuat hal-hal ini riil dalam kehidupan kita. Kita harus menantang diri kita sendiri dan mengenai fakta-fakta ini bertanya kepada diri sendiri, "Apakah ini nyata bagi saya? Apakah itu nyata bagi saya bahwa saya sebagai manusia lama yang telah diletakkan kepada kematian? Apakah itu nyata bagi saya bahwa saya telah mengenakan manusia baru? Lagi, Apakah hal-hal ini menjadi nyata bagi kita tergantung hanya pada apakah kita mengalami diperbaharui dalam roh pikiran kita atau tidak.
Jalan bagi kita untuk diperbaharui dalam roh pikiran kita sangat sederhana. Pertama, kita harus mengasihi Tuhan. Kita hanya harus mengasihi Dia dengan seluruh diri kita. Jika kita mengasihi Tuhan sampai puncaknya, Dia akan mendapatkan tumpuan di dalam kita dan memiliki kebebasan penuh untuk menduduki seluruh diri kita. Kemudian pikiran kita akan sangat banyak diperbaharui oleh-Nya. Kedua, kita harus bersekutu dengan-Nya, yaitu, kita harus tetap berkontak dengan-Nya. Hari demi hari dan saat ke saat, kita tidak boleh menyimpang keluar dari hadirat Tuhan. Sebaliknya, kita harus selalu berada di hadirat-Nya.
Ketiga, kita perlu belajar untuk melatih roh kita melalui berdoa. Semakin kita banyak berdoa, semakin akan melatih roh kita. Dalam dunia jasmani, bagian-bagian dari tubuh kita yang dilatih kebanyakan menjadi kuat, dan bagian-bagian yang jarang kita pergunakan tetap lemah. Beberapa tahun yang lalu, saya menjadi sakit parah dan terbaring di tempat tidur selama enam bulan. Karena saya berada di tempat tidur, saya tidak dapat menggunakan kaki dan telapak kaki selama waktu itu. Ini tidak pernah terjadi kepada saya bahwa saya tidak mungkin bisa berjalan pada akhir penyakit saya. Saya mengambil begitu saja kenyataan bahwa saya akan berdiri dan berjalan. Mengejutkan saya, ketika saya mencoba untuk meninggalkan tempat tidur, saya tidak mampu untuk berdiri. Karena saya tidak menggunakan kaki dan telapak kaki sejangka waktu yang panjang, anggota-anggota tubuh saya telah menjadi begitu lemah bahkan tidak mampu untuk berdiri. Ini adalah sama dengan roh kita. Jika Anda tidak berdoa, yakinlah bahwa Anda akan tetap lemah dalam roh Anda. Alasan bahwa banyak dari Anda yang lemah ketika Anda datang ke sidang doa dan sidang meja Tuhan (pemecahan roti) adalah karena Anda jarang berdoa. Jika Anda banyak berdoa hari demi hari, ketika Anda datang ke sidang itu, roh Anda akan menjadi sangat kuat, dan akan mudah bagi Anda untuk berdoa dalam sidang. Kita perlu berdoa dan melatih roh kita sehingga jiwa kita dapat menjadi kuat. Dengan cara ini, Tuhan sebagai Roh akan memiliki cara yang terbuka untuk menyebar ke semua bagian diri kita.
DUA KONDISI PIKIRAN
Dalam Efesus 4 ada dua ekspresi yang menggambarkan pikiran. Ayat 17 berbicara tentang kesia-siaan pikiran, dan ayat 23 berbicara tentang roh pikiran. Kedua ayat ini menggambarkan dua kondisi yang mungkin bagi pikiran kita terjadi. Kita dapat memiliki kesia-siaan dalam pikiran atau roh pikiran kita. Kondisi apa yang ada dari pikiran Anda—kesian-siaan atau roh? Dalam pikiran orang-orang dunia ini tidak ada apa pun tetapi kesia-siaan. Kesia-siaan menduduki pikiran orang-orang dunia, pikiran mereka bahkan dapat dicirikan oleh kesia-siaan. Jika kesia-siaan dunia ini menduduki pikiran kita, pikiran kita akan tetap usang dan tidak pernah akan menjadi baru. Apalagi, jika pikiran kita penuh kesia-siaan, itu mutlak mustahil bagi kita untuk bertumbuh dalam hayat bahkan untuk tingkat terkecil. Namun, ketika pikiran kita diduduki oleh roh, yang seperti telah kita lihat, merupakan perluasan ke dalam pikiran kita, kita akan memiliki roh pikiran. Ketika roh kita meluas ke dalam pikiran kita, pikiran kita tidak lagi diduduki dengan kesa-siaan tetapi akan diduduki dengan roh.
Mari kita mempertimbangkan bagian dari Kitab Suci yang menyangkut dua kondisi pikiran, Efesus 4:17-24. Silahkan perhatikan fakta bahwa bagian ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, terdiri dari ayat 17 sampai 19, berkaitan dengan kesia-siaan pikiran. Bagian kedua, dimulai dengan kata namun dalam ayat 20, berkaitan dengan roh pikiran:
Sebab itu, kukatakan dan 1kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup yang berasal dari Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kekerasan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan dengan serakah mengerjakan segala macam perbuatan cemar. Tetapi bukan dengan demikian kamu belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibarui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
Ketika kesia-siaan menduduki pikiran seseorang, pemahamannya adalah gelap, hatinya mengeras, ia tersingkir dari hayat Allah, ia mecampakkan segala perasaan (yang berarti ia mecampakkan segala kesadaran hati nuraninya), dan ia menyerahkan diri kepada hal-hal dosa. namun, ketika roh kita menyebar ke dalam pikiran kita, pikiran diperbaharui. Dengan memperbaruan datang realitas penanggalan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Ketika kita diperbaharui, kita diubah ke dalam gambar Tuhan (Rm. 12:2). Jika kita memiliki kesia-siaan dalam pikiran kita, adalah mungkin bagi kita untuk melakukan segala jenis dosa. Jika, di sisi lain, kita memiliki roh dalam pikiran, kita akan diperbaharui, diubah, ke dalam gambar Tuhan.
Semoga Roh Kudus memperlihatkan kepada kita dua cara berperilaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Cara pertama adalah dikendalikan dan diarahkan oleh kesia-siaan pikiran, yaitu dengan pikiran yang sia-sia. Cara kedua adalah hidup dan berjalan dalam roh pikiran kita, yaitu dengan pikiran yang adalah roh. Jika kita mengambil cara yang diperbaharui dalam roh pikiran kita, kita akan dipimpin ke titik di mana kita akan menjadi seperti Tuhan—kita akan diubah dalam gambar Allah. Pengubahan yang menakjubkan dan indah ini terjadi melalui diri kita diperbaharui dalam roh pikiran. Pikiran kita perlu diperbaharui dari pikiran yang penuh kesia-siaan kepada pikiran-pikiran yang penuh roh. Kemudian kita akan dibebaskan dari segala hal yang berdosa, dipindahkan ke dalam kerajaan terang-Nya yang menakjubkan (1 Ptr. 2:9), dan diubah ke dalam gambar Tuhan.