ORANG YANG PALING LEMBUT
“Musa pun dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya.”
Kisah Para Rasul 7:22
“Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada putri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: ‘Karena aku telah menariknya dari air’.”
Keluaran 2:10
“Tetapi di tengah jalan, di suatu tempat bermalam, TUHAN bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya.”
Keluaran 4:24
Sekarang kita memperhatikan apakah hikmat Allah dan hikmat manusia itu. Kita tidak hanya akan melihat bagaimana Allah menghakimi dan menolak hikmat manusia dalam kehidupan manusia, juga akan melihat bagaimana kita baru bisa diperkenan Allah dalam pekerjaan.
Mari kita terlebih dulu memperhatikan satu hal, yaitu dalam daging ada tiga perkara besar yang paling menentang Allah. Dalam pekerjaan kita harus terlebih dulu menanggulangi tiga perkara daging ini. Jika Anda belum menanggulangi ketiga perkara ini, selamanya Anda jangan berpikir untuk melakukan pekerjaan yang baik bagi Allah. Tiga perkara ini, pertama adalah hikmat daging, kedua adalah kekuatan daging, ketiga adalah kemegahan daging. Kalau ketiga perkara ini tidak disingkirkan, pekerjaan Anda tidak akan baik. Hikmat, kekuatan, dan kemegahan daging, menimbulkan hubungan yang paling berkebalikan dengan pekerjaan Allah. Saya benar-benar mengetahui, tiga perkara daging ini merusak pekerjaan Allah. Urutan tiga perkara ini adalah: (1) Hikmat, (2) kekuatan, dan (3) kemegahan. Inilah urutan alamiahnya. Di antara ketiga perkara ini ada hubungan yang sangat erat.
CARA KERJA ALLAH IALAH TERLEBIH DULU
MENANGGULANGI MANUSIA
Musa adalah hamba pertama yang dipilih Allah; orang pertama yang dipilih oleh Allah untuk melayani Dia. Abraham, Ishak, Yakub, meskipun lebih awal daripada Musa, tetapi mereka bukan hamba Allah, Allah hanya pernah mengadakan perjanjian dengan mereka. Sebagaimana Paulus dalam Perjanjian Baru adalah hamba pertama yang dipilih oleh Allah, begitu juga Musa dalam Perjanjian Lama adalah hamba pertama yang dipilih Allah. Bagaimana Allah menanggulangi Musa? Bagaimana Musa mendapatkan perkenan Allah? Sebelum Allah menanggulangi bangsa Israel, harus terlebih dulu menanggulangi Musa; sebelum Allah menanggulangi Firaun, Dia harus terlebih dulu menanggulangi Musa. Sebelum Allah menanggulangi orang Mesir, Dia harus terlebih dulu menanggulangi Musa.
Pengarang buku “Asal Usul Kekuatan Rohani” mengatakan: “Kalau seseorang ingin melakukan satu perkara, ia selalu terlebih dulu memikirkan caranya. Tetapi, ketika Allah hendak melakukan satu perkara, Ia terlebih dulu mencari orangnya. Kalau Allah tidak mendapatkan orang, Dia tidak bisa berbuat apa-apa.” Hari ini dalam gereja, ada banyak macam cara, ada banyak rencana dan pengaturan, tetapi tidak ada orangnya. Yang Allah perhatikan bukan caranya, Allah terlebih dulu mencari orangnya. Hari ini pandangan dan visi manusia sangat berbeda dengan ini. Orang-orang menganggap asal ada cara yang baik, pasti akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Tetapi orang-orang yang melakukan hal ini masih tidak berubah, akhirnya, mereka tetap tidak bisa menghasilkan buah yang baik.
Hari ini Allah bukan tidak menemukan orang yang berbakat, tetapi Allah tidak menemukan orang yang bisa dipakai-Nya. Tiga bulan sesudah dilahirkan, Musa “diceburkan” ke dalam air, kemudian ditarik keluar dari air oleh anak perempuan Firaun, diambilnya sebagai anak. Sebab itu namanya Musa, yang berarti ditarik keluar dari air. Musa adalah orang pertama dari bangsa Israel yang ditarik keluar, kemudian baru ada banyak orang yang ikut dia ditarik keluar. Allah terlebih dulu menanggulangi Musa di padang gurun, kemudian Musa baru bisa memimpin orang Israel keluar dari Mesir, yang juga ditanggulangi Allah di padang gurun. Kalau kita tidak beroleh selamat, jangan mengharapkan orang lain bisa beroleh selamat. Kalau kita tidak melihat visi, jangan harap orang lain bisa melihat jalan Allah. Kalau kita tidak menempuh jalan Tuhan, jangan harap ada orang yang menempuh jalan Tuhan. Hari ini Allah hanya mengharapkan kita ditanggulangi terlebih dulu. Kalau Allah tidak bisa mendapatkan beberapa orang di tengahtengah kita, kita jangan mengharap bisa mendapatkan orang lain.
Pada mulanya Allah hanya mendapatkan beberapa orang, lalu Ia dapat dalam dua tiga puluh tahun menyebarkan Injil ke seluruh Kerajaan Romawi. Banyak gereja lokal terbangun. Allah hanya mendapatkan Paulus seorang diri, bisa menyebarkan Injil ke seluruh pelosok Kerajaan Romawi saat itu, supaya banyak orang menerima dan percaya Injil. Kalau kita sekarang bisa seperti Paulus pada hari itu, Injil yang sama akan tersebar ke seluruh negara di bawah kolong langit ini. Kita tidak perlu menggunakan berbagai macam propaganda untuk mendorong, mencari sumbangan, dan untuk menarik orang percaya firman. Asal diri kita adalah orang yang bisa dipakai oleh Allah, sudahlah cukup. Apakah Allah bisa memakai Anda? Hasil pekerjaan Anda itu karena Allah memakai Anda, atau karena Anda memakai cara tertentu?
Sebelum Allah dapat menyelamatkan bangsa Israel, Ia harus mendapatkan Musa lebih dulu. Jika Allah tidak mendapatkan Musa, Ia tidak dapat menyelamatkan bangsa Israel. Tanpa manusia, Allah tidak ada jalan. Jika manusia pertama belum ditarik keluar, tidak akan ada banyak manusia ditarik keluar. Jika manusia pertama tidak ditanggulangi di padang gurun, tidak akan ada banyak orang ditanggulangi di padang gurun. Jika Allah tidak menyelamatkan Musa, Ia tidak dapat menyelamatkan seluruh bangsa Israel. Hari ini juga sama. Jika Allah tidak dapat menggunakan kita, Ia tidak dapat bekerja. Jika Roh Kudus belum memenuhi kita, kita tidak dapat menyuruh Roh Kudus bekerja dalam orang lain, untuk menyelamatkan mereka, dan kita juga tidak memiliki kekuatan untuk bekerja. Jika Allah tidak mendapatkan kita lebih dulu, kuasa-Nya dan hayat-Nya tidak akan mendapatkan jalan untuk mengalir keluar. Kepenuhan Allah hanya dapat mengalir melalui Anda. Jika Anda ingin menjadi orang semacam ini, ada dua hal yang harus Anda lakukan: percaya dan taat.
Allah menetapkan suatu perjanjian dengan Abraham, Ishak, dan Yakub, untuk menyelamatkan keturunan mereka. Kemudian Ia melihat bahwa bangsa Israel dianiaya oleh orang-orang Mesir; Ia mendengar suara teriakan mereka. Ia ingin menyelamatkan mereka menurut perjanjian yang telah ditetapkan dengan mereka. Tetapi ingatlah, untuk menyelamatkan mereka, Allah harus lebih dulu mendapatkan saluran untuk menggandengkan Dia dengan orang yang ingin Dia selamatkan. Allah harus mendapatkan ini lebih dulu sebelum Ia dapat melakukan apa yang ingin Ia lakukan. Musa adalah saluran yang digunakan oleh Allah. Ia tidak mengecewakan Allah. Allah dapat memakai dia. Hari ini banyak orang mengecewakan Allah dan membuat Allah tidak dapat memakai mereka. Kini Allah sedang mencari manusia yang Ia perlukan, manusia yang dapat Ia pakai.
ALLAH MEMERLUKAN MANUSIA YANG MENGENAL SALIB
Syarat untuk bekerja bagi Allah bukanlah mengikuti sebuah seminar, memiliki iman yang ortodok, sangat bergairah, atau mengasihi jiwa-jiwa manusia. Syaratnya adalah kita harus sepenuhnya didapatkan oleh Allah. Allah memerlukan laki-laki dan perempuan yang telah tersalib untuk memberitakan salib Putra-Nya.
Dalam 1 Korintus 1 dan 2, Paulus berkata bahwa ia hanya tahu Kristus dan Dia yang disalibkan. Inilah yang ia ketahui. Ia tidak tahu yang lainnya dan tidak memberitakan yang lainnya. Kita tidak seharusnya salah paham menganggap Paulus menekankan hal pemberitaan. Apa yang ia tekankan adalah mengenal. Tidak peduli di mana ia berada — di rumah atau di luar, tinggal sendiri atau bersama orang lain, meyakinkan seseorang untuk percaya Firman atau memberitakan kepada orang banyak — ia selalu mengenal salib. Seumur hidupnya ia berada di bawah salib. Allah tidak memerlukan manusia yang memberitakan salib; Ia memerlukan manusia yang mengenal salib.
Paulus bekerja di Korintus. Ia berkata bahwa ia tidak mengetahui yang lain kecuali Kristus dan Dia yang disalibkan. Bagaimana ia memberitakan salib? Dia berkata, “Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, Saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang muluk atau dengan hikmat yang tinggi untuk menyampaikan rahasia Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah” (1 Kor. 2:1-5). Ingatlah, kalau Anda tidak bekerja dengan kekuatan Allah, Anda sama sekali tidak berguna. Paulus tidak memberitakan dengan kata-kata yang muluk atau kata-kata hikmat manusia yang meyakinkan. Ia memberitakan firman dengan kekuatan Allah. Sikap yang ia miliki terhadap dirinya sendiri adalah lemah, takut, dan gentar. Allah harus menggarap Anda sampai Anda meninggalkan hikmat Anda sendiri, kepandaian Anda sendiri, dan talenta Anda sendiri, barulah Allah dapat memakai Anda. Hari ini Allah mencari orang yang tidak percaya kepada diri sendiri, orang yang tidak percaya kepada kemampuan diri sendiri, atau yang tidak dipekerjakan oleh diri sendiri. Jika Allah dapat menemukan orang semacam ini, Allah akan memakai mereka. Sampai sejauh mana seseorang menolak percaya kepada diri sendiri, sejauh itu pula Allah akan memakainya. Banyak orang berpikir bahwa selama mereka memiliki pengajaran yang paling murni dalam kepercayaan, dan memiliki terang yang membantu mereka memahami Alkitab, sudahlah cukup. Tetapi Roh Kudus hanya dapat bekerja melalui orang-orang yang menempatkan diri mereka sepenuhnya dalam tangan Allah. Orang-orang semacam ini adalah saluran-saluran, Roh Kudus akan melalui mereka mengalirkan hayat dan kekuatan.
Sama seperti Musa harus ditanggulangi oleh Allah lebih dulu, demikian juga kita harus ditanggulangi oleh Allah lebih dulu. Jika Allah tidak menanggulangi Musa, Ia tidak dapat menanggulangi bangsa Israel. Jika Allah tidak menanggulangi Musa, Ia tidak dapat menanggulangi Firaun dan orang-orang Mesir. Jika Allah tidak menanggulangi kita lebih dulu, Ia tidak dapat menanggulangi roh-roh jahat dan Iblis; demikian juga Ia tidak dapat menanggulangi orang-orang dalam dunia. O saudara-saudara! Apakah Ia telah mendapatkan kita? Bila Allah telah mendapatkan kita, barulah Ia memiliki jalan untuk menanggulangi Iblis dan orang-orang dalam dunia ini.
Dua Korintus 10:6 mengatakan, “Dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bilamana ketaatan kamu telah menjadi sempurna.” Paulus hanya dapat mengatakan sebanyak ini kepada kaum beriman di Korintus. Ia tahu benar bahwa jika mereka tidak ditanggulangi lebih dulu, ia tidak dapat menanggulangi orang yang memberontak terhadap Allah. Itulah sebabnya ia berkata bahwa bila mereka sepenuhnya taat, barulah mereka dapat menangkap orang lain dan menanggulangi mereka. Jika orang beriman sendiri belum sepenuhnya ditanggulangi, Paulus tidak memiliki jalan untuk menanggulangi orang lain.
ALLAH MENANGGULANGI MUSA
Dalam Kisah Para Rasul 7:22 kita nampak pendidikan yang Musa terima. “Musa pun dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya.” Musa belajar segala hikmat orang Mesir di istana Firaun. Ia pandai, cakap, dan berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya. Walaupun Musa memiliki segala hikmat dan talenta, kemampuan menangani masalah, pandai berbicara, namun itu bukanlah syarat yang diminta oleh Allah untuk memakai Musa. Sebaliknya, itu justru adalah alasan-alasan Allah tidak dapat memakainya. Manusia menaruh perhatian pada hikmat dan kekuatan, tetapi Allah menaruh perhatian pada kebodohan dan kelemahan. Satu Korintus membicarakan tentang hikmat dan kekuatan Kristus, pada saat yang bersamaan mengatakan juga Allah telah memilih yang bodoh dan lemah. Orang-orang Yunani mencari hikmat, orang-orang Yahudi menuntut tandatanda, yaitu manifestasi kekuatan, tetapi Allah menolak hikmat dan kekuatan manusia. Di mana ada hikmat, di situ juga ada kekuatan daging. Jika kita mempekerjakan hikmat dan kekuatan manusia dalam pekerjaan Allah, kita akan merusak pekerjaan Allah. Allah hanya dapat menggunakan kuasa Roh untuk menggenapkan pekerjaan-Nya. Kuasa dari Roh Kudus hanya dapat diekspresikan melalui kebodohan dan kelemahan. Jika kita tidak dalam realitas dibawa oleh Allah kepada tahap sepenuhnya membuang hikmat dan kekuatan kita, serta menjadi bodoh dan lemah di hadapan-Nya, Ia tidak dapat memakai kita.
Allah Menanggulangi Hikmat dan Kekuatan Daging Musa
Kita semua tahu cerita Musa. Ia pandai bicara, bijaksana, cakap, dan berpengetahuan. Ia berpikir bahwa ia dapat melakukan sesuatu. Ketika ia melihat orang Mesir menekan saudara-saudaranya, ia membunuh orang Mesir itu dengan kekuatan dagingnya. Hari berikutnya, ia melihat dua orang Israel sedang bertengkar, dan ia menasihati mereka untuk berdamai. Mungkin ia mengira ini dapat dilakukan dengan mudah. Tidak disangka, mereka tidak hanya tidak menerimanya, malah menyinggung kejadian pembunuhan orang Mesir pada hari sebelumnya. Akibatnya, Musa melarikan diri ke Tanah Midian.
Apakah artinya ini?Musa hanya mengetahui hikmat dan kekuatannya. Ia belum mengenal kebodohan dan kelemahannya. Allah menginginkan dia nampak bahwa hal-hal itu tidak dapat dilakukan bersandar dirinya sendiri. Musa ingin membantu Allah menyelamatkan orang Israel, tetapi Allah tidak memerlukan manusia untuk membantu-Nya. Setiap orang yang mencoba membantu Allah dengan hikmat dan kekuatan dagingnya, selamanya tidak dapat menyenangkan Dia. Ada banyak orang yang tidak dipakai oleh Allah, bukan karena mereka kekurangan hikmat dan kekuatan, tetapi karena mereka memiliki terlalu banyak hikmat dan kekuatan. Allah tidak dapat memakai mereka, terpaksa Ia harus mengesampingkan mereka dan mendinginkan mereka. Ia tidak dapat memakai mereka sekarang; Ia harus menunggu sampai api asing mereka tidak lagi menyala baru bisa memakai mereka.
Musa adalah orang yang mencoba membantu Allah dengan hikmat dan kekuatan manusia. Allah menyuruh dia berhenti dan tidak memakainya. Karena hikmat jiwani dan hikmat emosional sangat mudah membangkitkan kekuatan daging. Semuanya itu sama sekali tidak ada tempat dalam pekerjaan Allah. Musa tinggal di padang gurun selama 40 tahun. Ia tidak hanya diuji oleh Allah tetapi juga dilatih oleh-Nya. Ia sadar bahwa semua yang ia miliki adalah sia-sia. Setelah ia mencapai tahap ini, barulah ia menjadi berguna. Demikian juga, Allah sekarang meletakkan kita di padang gurun untuk menguji dan melatih kita. Ia telah menyisihkan kita, tetapi kita tetap tidak memahami kehendak-Nya. Berulang-ulang Ia menanggulangi kita, tetapi kita tetap belum takluk kepada-Nya. Berulang-ulang Ia menempatkan kita ke suatu tempat dan tidak memberi kita lingkungan yang lancar, supaya kita menyerahkan diri ke tangan-Nya yang penuh kuasa. Ia ingin melihat apakah kita rela bertindak menurut ke-hendak-Nya. Opini kita harus ditanggulangi. Inilah satu pos yang harus kita lalui. Penolakan orang-orang Israel terhadap Musa berasal dari Allah. Pencarian Firaun untuk membunuhnya berasal dari Allah. Pelariannya ke padang gurun berasal dari Allah. Ia berkomunikasi dengan Allah selama 40 tahun di padang gurun, menerima pelatihan dari Allah, akhirnya, ia tahu ketidakbergunaannya. Setelah itu ia tidak lagi ingin menggunakan kekuatannya sendiri untuk menyelamatkan bangsa Israel. Ia tidak lagi berpikir tentang dirinya sebagai manusia yang besar dan cakap atau sebagai orang yang luar biasa dalam dunia rohani. Ia tahu bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa. Inilah yang diinginkan Allah atas dirinya.
Mengakui Diri Sendiri Tidak Mampu
Selanjutnya di Gunung Horeb, Allah mengutus Musa untuk menyelamatkan bangsa Israel. Jika Musa mendengarkan perkataan ini 40 tahun sebelumnya, ia akan pergi dengan sangat gembira. Tidak perlu Allah mengutusnya, dengan sendirinya ia akan pergi dengan penuh semangat. Ia hanya tahu apa yang dapat ia lakukan; ia tidak tahu apa yang tidak dapat ia lakukan. Sekarang Musa sudah berbeda. Ia tahu siapa dia. Ia juga tahu bahwa hikmat dan kekuatannya tidak dapat menggenapkan apaapa. Karena itu, ia berkata kepada Tuhan, “Siapakah aku ini, . . . membawa orang Israel keluar dari Mesir?” (Kel. 3:11). Ia sekarang sangat berbeda dari dulu. Dulu, ia berpikir bahwa tidak ada seorang pun yang dapat melakukan segala sesuatu selain dia. Sekarang, dia berkata, “Siapakah aku ini?” Ia tidak lagi percaya kepada diri sendiri, tidak lagi percaya kepada kemampuan diri sendiri. Ia menganggap dirinya tidak ada apa-apanya. Saudara-saudara, Allah akan membawa kita ke tahap ini. Inilah “surut ke belakang” yang rohani, surut ke belakang kudus, dan surut ke belakang yang diberkati. Jika Allah belum membuat kita nampak bahwa kita tidak ada apa-apanya, kita tetap tidak dapat dipakai oleh-Nya.
Musa berkata, “Siapakah aku ini, . . . membawa orang Israel keluar dari Mesir?” (Kel. 3:11). Ia menganggap dirinya begitu kecil dan tahu ketidakmampuannya. Jika kita tidak pernah menilai diri kita demikian, kita tidak dapat melakukan pekerjaan Allah. Sekarang Musa nampak bahwa pekerjaan ini sangat besar dan dia sangat kecil. Ia telah belajar pelajaran dan tidak berani menggunakan hikmat alamiah dan kekuatan daging. Ia mengakui kelemahannya bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia bahkan tidak berani menilai dirinya sendiri. Ia hanya dapat bertanya kepada Allah, “Siapakah aku ini?” Ia membiarkan Allah menilai dirinya. Ia harus dipimpin oleh Allah sampai pada tahap ini, baru bisa dipakai oleh Allah.
Mengakui Diri Sendiri Tidak Pandai Berbicara
Sekarang Allah mendorongnya. Inilah kebangkitan yang pernah saya sebutkan. Keberanian, hikmat, dan kekuatan Musa yang semula, semuanya telah melewati mati. Sekarang semua keberanian, hikmat, dan kekuatannya diterima dari tangan Allah. Inilah kebangkitan. Empat puluh tahun ini, sama seperti tongkat Harun yang diletakkan semalam di hadapan Allah dalam Kemah Pertemuan. Setelah semalam berlalu, segala sesuatu yang telah mati dibangkitkan. Dalam pekerjaan Allah, segala sesuatu harus melalui kematian dan kebangkitan baru dapat dipakai oleh Allah. Ketika kita melihat seorang muda yang mempunyai pengetahuan, keberanian, dan kemampuan, lalu kita mengatakan, “Jika orang ini diselamatkan, ia akan sangat berguna dalam tangan Allah.” Tetapi pengetahuan, keberanian, dan kemampuannya tidak berguna dalam tangan Allah. Allah tidak memerlukan hikmatnya, sama seperti Ia tidak memerlukan kebodohannya. Orang berhikmat haruslah membawa hikmat mereka melewati kematian, dan orang bodoh haruslah membawa kebodohan mereka melewati kematian. Allah hanya dapat menggunakan hal-hal yang berada dalam ruang lingkup kebangkitan. Setiap hal yang alamiah harus melewati kematian, baru kemudian dapat menerima sesuatu yang baru, yang dibangkitkan oleh Allah. Inilah prinsip besar dalam pekerjaan. Tanpa kebangkitan tidak akan ada pekerjaan. Musa telah melewati 40 tahun sebelum ia nampak bahwa semua hikmat dan kekuatan yang ia miliki sebelumnya tidak berguna. Ia telah mati, sekarang Allah ingin memberi dia keberanian dan hikmat yang berasal dari kebangkitan.
Dalam Keluaran 3:12 Allah berjanji menyertai Musa. Dalam ayat 13 Musa sekali lagi bertanya, “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? Apakah yang harus kujawab kepada mereka?” Musa tidak berani menganggap dirinya berpengetahuan luas atau mampu memberi tahu setiap orang tentang segala sesuatu. Ia telah ditanggulangi oleh Allah. Ia tidak memiliki perkiraan, tidak memiliki ide, dan ia tidak berani bertindak dengan ceroboh. Itulah sebabnya ia bertanya kepada TUHAN secara demikian. Ia telah belajar suatu pelajaran. “Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan . . . Karena itu, apa yang Aku katakan, Aku sampaikan sebagaimana difirmankan oleh Bapa kepada-Ku” (Yoh. 12:49-50). Musa sekarang tahu, bahkan ketika ia berbicara, haruslah menurut perintah Allah. Sering kali perkataan kita tidak dibatasi oleh Allah! Khususnya orang yang memiliki kemampuan berbicara, yang berpikir bahwa mereka mampu berbicara. Tetapi mereka yang telah ditanggulangi oleh Allah tahu bagaimana menerima pengajaran selama mereka berkata-kata; mereka tidak mempertahankan dirinya sendiri. Selanjutnya Allah memberi tahu nama-Nya kepada Musa. Namun, meskipun Musa telah memiliki nama Allah, ia tetap tidak berani pergi. Ia takut kalau bangsa Israel tidak percaya akan perkataannya (Kel. 4:1). Sebelumnya, ia berani seorang diri keluar dan membunuh orang Mesir. Ketika ia melihat orang-orang Israel saling bertengkar; ia berani menasihati mereka. Tetapi sekarang, ketika TUHAN menyuruhnya pergi, ia sangat kecil hati dan takut. Keberanian dagingnya sepenuhnya telah surut. Keberanian yang datang dari dirinya sendiri tidak ada lagi. Ia tidak mempercayai dirinya lagi; ia menjadi rendah hati. Kerendahhatiannya hampir mencapai tahapan merasa takut. Kerendahan hati yang sejati dan kurang percaya kepada diri sendiri adalah ekspresi dari kerohanian. Sekarang ia telah belajar, ia tahu bahwa bersandar dirinya, ia tidak dapat berbuat apa-apa di antara orang-orang Israel. Lalu TUHAN untuk ketiga kalinya mendorong dia, dan memberi dia mujizat-mujizat tongkat berubah menjadi ular, air berubah menjadi darah, dan membuat tangannya terkena kusta. Allah melakukan hal ini agar orang-orang mempercayai Musa. Tetapi Musa bertanya untuk keempat kalinya, “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah” (Kel. 4:10). Perkataan-perkataan ini sepenuhnya berkebalikan dengan perkataan-perkataan dalam Kisah Para Rasul 7:22 yang mengatakan bahwa Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya. Di sini Musa beralasan bahwa ia tidak dapat berbicara dan tidak pandai bicara. Karena itu, TUHAN membuat Harun menjadi mulutnya. Ketahuilah, Alkitab tidak mencatat Harun keluar berbicara kepada orang-orang bagi Musa. Alkitab selalu mencatat Musa sendiri berbicara kepada orang-orang itu. Mengapa? Karena melalui banyak tahun, Musa telah belajar dan tahu bahwa Allah tidak memakai semua kepandaian berbicara, kekuatan, dan hikmat daging. Kalau bukan Roh yang bergerak memberi seseorang kepandaian berbicara dan hikmat, semua kekuatan alamiah tidak berguna dalam pekerjaan Allah. Kekuatan rohani mutlak diperlukan. Saudara-saudara, apakah kita semua tahu bagaimana menerima penanggulangan Allah sampai pada satu tahap, sama sekali tidak memakai kemampuan berbicara dari daging? Sebaliknya kita lebih baik tidak menggunakan kata-kata yang cerdik, ekspresi-ekspresi yang menarik, dan ilustrasi-ilustrasi yang jelas untuk membantu orang memahami salib Tuhan dan kemenangan Tuhan. Apakah kita telah ditanggulangi oleh salib sedemikian rupa sehingga kita mati terhadap perkataan kita sendiri? Perkataan-perkataan kita akan menyingkapkan, sebenarnya kita adalah orang macam apa? Allah menghendaki kita nampak bahwa meskipun kita memiliki kata-kata yang indah, itu tidak akan menghasilkan buah dan bukan dari roh. Jika kita tidak membiarkan Allah mendapatkan kemenangan dalam perkataan kita, pekerjaan Allah akan menderita kerugian besar.
Musa memiliki dua macam alasan untuk menolak. Pertama, ia tidak pandai berbicara dan berat mulut. Kedua, setelah ia berbicara dengan Allah pada hari itu, ia tetap tidak dapat berbicara. Ia sepenuhnya menyangkal dirinya sendiri di hadapan Allah. Ia menganggap bahwa tidak ada sesuatu dari dirinya sendiri yang dapat berdiri di hadapan Allah. Ia telah belajar pelajaran yang dalam. Dalam 40 tahun itu, ia meninggalkan segala sesuatu yang alamiah dan yang dimiliki oleh diri sendiri.
Surut ke Belakang yang Berlebihan
— Tidak Mengenal Kuasa Kebangkitan
Namun, hanya mengetahui diri sendiri tidak berguna, masih tidak bermanfaat. Yang paling penting ialah mengenal kuasa Allah. Inilah kebangkitan. Allah ingin Musa mengenal Allahlah yang membuat mulut manusia. Allah mendorongnya sekali lagi, tetapi Musa sekali lagi menolaknya. Keluaran 4:13 mengatakan, “Tetapi Musa berkata: Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus.” Ketika Allah mendengar perkataan ini, Ia murka terhadap Musa. Mengapa? Memang tidak mempertahankan diri sendiri dan tidak mempercayai diri sendiri itu penting (Allah menghargai sikap ini dan membimbing kita kepada tahap ini), namun jika kita berhenti pada tahap ini dan tidak tahu bersandar Allah untuk maju, hal ini tidak disenangi oleh Allah. Sering kali kita harus berhatihati, jangan dari satu ekstrem jatuh ke ekstrem yang lain. Jika Allah telah menjanjikan kita karunia untuk berbicara, dan kita tetap bimbang, ini berarti kita berdosa kepada Allah. Yang kita waspadai bukan hanya rendah hati, tetapi juga surut ke belakang; bukan hanya hati-hati, tetapi juga takut urusan; bukan hanya tidak percaya kepada diri sendiri, tetapi juga tidak percaya kepada Allah. Allah membawa kita melewati kematian agar kita dapat dibangkitkan. Tujuannya bukan kematian, tetapi kebangkitan. Tidak ada gunanya kalau kita tetap tinggal dalam kematian tanpa dibangkitkan.
Musa tidak hanya ingin menyembunyikan dirinya sendiri, tetapi ia telah menjadi malas. Ia bahkan berpikir bahwa lebih baik Allah tidak mengutusnya. Saudara-saudara, memang baik bila kita tahu kelemahan diri kita. Tetapi jika karena kelemahan kita lalu tidak percaya bahwa Allah bisa memperkuat kita, pengenalan atas diri sendiri yang demikian sangatlah berbahaya. Perhatian yang berlebihan atas kelemahan kita sama seperti perhatian yang berlebihan atas kekuatan kita, bisa menyingkirkan rasa percaya kita terhadap Allah. Banyak kelayuan dan pengunduran diri yang bukan merupakan kerendahan hati rohani, tetapi menunjukkan sifat penakut dan malas yang disebabkan oleh introspeksi diri. Kita harus dalam segi positif dikuatkan oleh kuasa-Nya untuk menjadi orang yang perkasa.
Saudara-saudara, dalam pekerjaan rohani, hal yang paling penting adalah dengan jelas diutus oleh Allah. Tuhan Yesus tidak datang ke bumi oleh diri-Nya sendiri. Alkitab mengatakan bahwa Ia diutus. Bapalah yang mengutus Anak. Pada saat ini, pekerjaan Allah sedang dirusak oleh banyak sukarelawan yang tidak diutus oleh Allah. Allah tidak senang kepada orang-orang yang tidak diutus oleh-Nya tetapi bekerja menurut kemauan dirinya sendiri. Allah tidak senang manusia bertindak sendiri dengan ceroboh. Kecerobohan adalah dosa yang sama dengan pemberontakan. Ketika perintah dikeluarkan dan kita tidak mau melaksanakannya, itu adalah dosa. Ketika perintah tidak dikeluarkan dan kita dengan ceroboh melakukannya, itu juga dosa.
Musa tidak meminta tugas. Ia tidak ingin pergi, tetapi Allah tetap menyuruhnya pergi. Suatu kali saya mendengar seorang misionaris Barat mengatakan: “Jika kita tidak dapat berhenti bekerja untuk Allah, Allah tidak dapat memakai kita untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Kalau kita bisa tidak bekerja bagi Allah, Ia dapat memakai kita untuk menyelamatkan orang lain.” Saya tidak mengatakan bahwa manusia dapat diselamatkan tanpa Allah memberitakan Injil melalui orang. Tetapi jika suatu pekerjaan bukan dari kehendak Allah, kita harus menghentikannya. Kita lebih baik tidak “menyelamatkan” orang daripada kita bertindak dengan ceroboh. Jika kita tidak menerima perintah Allah, kita harus tetap diam dan tidak bergerak. Hanya orang yang demikian dapat diutus oleh Allah untuk mendapatkan orang lain.
Hari ini gereja menderita banyak kerugian bukan karena penentangan dari luar atau perusakan dari orang yang belum percaya, tetapi karena tindakan-tindakan yang terlalu berani dari mereka yang menganggap diri sendiri paling murni dalam iman, tetapi yang bertindak tanpa arahan atau perintah Allah. Hasilnya, apa yang mereka lakukan tidak ada realitas dan nilai rohaninya sama sekali. Pekerjaan yang tidak pernah disuruh oleh Allah untuk kita lakukan atau yang tidak diperintah oleh Allah untuk kita lakukan, sama seperti rumah yang dibangun di atas pasir; hanya disepuh dengan warna emas. Pekerjaan seperti ini memang dapat berdiri sementara waktu, juga bisa berkemilauan; akan tetapi, ketika diuji di hadapan takhta penghakiman, akan habis. Hanya pekerjaan-pekerjaan dari mereka yang dengan ketat mengikuti perintah Allah, baru berguna.
Menerima Sunat
Selanjutnya Musa berhenti berbicara. Tetapi ia harus menyatakan sepenuhnya membuang apa yang dari daging dan manusia alamiah, menyerahkannya kepada kematian, barulah ia dapat menyelamatkan bangsa Israel. Karena itu, kita melihat ketika Musa di tengah jalan, TUHAN bermaksud membunuhnya (Kel. 4:24). Mengapa? Karena Musa tidak memiliki tanda perjanjian. Musa dan anaknya belum menerima sunat. Mereka sama seperti orang-orang kafir. Sebentar lagi ia akan memulai pekerjaan Allah, tetapi ia masih sama seperti orang-orang kafir yang tidak bersunat. Karena itu, Allah tidak membiarkan dia menyelamatkan bangsa Israel. Allah bermaksud membunuhnya untuk menunjukkan kepadanya bahwa pekerjaan Allah tidak dapat dilakukan oleh orang-orang yang tidak bersunat. Kemudian, mereka disunat. Setelah selesai sunat, Tuhan baru membiarkan Musa mulai menyelamatkan bangsa Israel. Selanjutnya, ketika bangsa Israel sampai pada pos pertama di Kanaan, mereka juga disunat. Apa artinya? Apakah makna sunat itu? Silakan membaca Kolose 2:11. “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus.” Ini menyatakan dengan jelas bahwa sunat tidak lain adalah menanggalkan daging. Apakah daging itu? Daging tidak lain adalah kemampuan alamiah yang kita dapatkan pada saat kita lahir. Tuhan mengatakan, “Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh” (Yoh. 3:6 Tl.). Segala sesuatu yang kita miliki sebelum kelahiran kembali adalah daging. Segala sesuatu yang kita miliki setelah kelahiran kembali oleh Roh Kudus barulah yang rohani. Kemampuan bicara, kekuatan, hikmat, kepandaian, dan pekerjaan-pekerjaan baik alamiah, semuanya milik daging dan keinginannya. Apa yang harus kita lakukan? Kita harus melalui salib Kristus menanggalkan semua talenta alamiah kita. Baik itu kemampuan berbicara, hikmat, atau kekuatan, semua harus dipotong. Inilah sunat yang dibicarakan dalam Kolose 2. Pekerjaan Allah hanya dapat diselesaikan oleh orang yang telah dibunuh oleh Allah. Di hadapan Allah tidak ada kedudukan lain bagi daging kecuali mati. Mereka yang mengikuti daging adalah orang-orang yang akan Allah bunuh. Pekerjaan Allah memerlukan manusia mati.
PRINSIP SALIB
Saudara-saudara, apakah Anda sudah mati? Apakah Anda telah membuang kekuatan dan hikmat alamiah Anda? Jika belum, Anda tidak dapat melakukan pekerjaan Allah. Sekarang banyak orang sedang bekerja, tetapi sesungguhnya mereka tidak terhitung bekerja, karena Allah tidak bekerja, hanya manusia yang bekerja. Pada diri mereka, bukan ciptaan baru yang bekerja, melainkan hanya ciptaan lama yang bekerja. Karena itu, Roh Kudus tidak bekerja di dalam pekerjaan mereka. Pekerjaan yang kita lakukan oleh kekuatan Roh Kudus adalah suatu pekerjaan yang dimulai dengan roh dan diakhiri dengan roh; pekerjaan ini dimulai dari roh kita mencapai roh orang lain.
Paulus tidak mau memberitakan perkataan tentang salib dengan kata-kata yang muluk dan hikmat. Mengapa? Ia takut kalau perkataan tentang salib menjadi tidak berarti. Karena salib adalah suatu fakta, memberitakan tentang salib menurut pengetahuan kita hanyalah menyebarluaskan logika atau alasan tentang salib; tidak akan menyebarluaskan kekuatan dan hayat salib. Kita tidak memberitakan salib dengan esens dan hayat salib. Karena kita tidak memberitakan menurut prinsip salib, kita hanya dapat melihat penyebarluasan alasan tentang salib, tetapi kekuatan salib tidak tersebar luas. Karena itu, salib harus menjadi suatu prinsip; harus menanggulangi kita lebih dulu. Saudara-saudara, apakah syarat kita untuk memberitakan salib? Apakah kita melakukan pekerjaan ini karena kita mengetahui doktrin-doktrin Alkitab dengan baik dan mampu menjelaskan Alkitab? Apakah karena kita memiliki kemampuan berbicara atau karena memberitakan firman adalah profesi kita? Jika Anda demikian, saya merasa sayang sekali. Banyak pemimpin gereja menjadi pemimpin bukan karena mereka memiliki pengalaman rohani atau kekuatan dan hayat dari Roh Kudus, tetapi karena mereka lebih pandai daripada yang lain. Mereka menjadi pemimpin gereja karena mereka memahami doktrin-doktrin lebih jelas atau lebih pandai berbicara daripada yang lain. Sesungguhnya, banyak orang yang mendengarkan pemberitaan mereka, kondisi rohaninya di hadapan Allah lebih baik daripada mereka dan pengalamannya juga lebih dalam daripada mereka, pengetahuan tentang hal-hal rohani lebih banyak dan lebih dalam daripada mereka. Di beberapa tempat, saya sering melihat sekerja muda mengajar orang beriman yang lebih tua yang tidak begitu terdidik. Sebenarnya, kondisi rohani, pengalaman, iman, dan doa dari orang-orang yang tua itu lebih baik daripada sekerja yang muda itu. Tetapi karena yang muda memiliki beberapa pengetahuan dan kepandaian berbicara, mereka sebaliknya mengajar yang tua tentang perkara-perkara rohani.
Kita harus tahu apakah Allah telah menanggulangi ego kita; apakah kekuatan dan hikmat alamiah kita telah ditanggulangi; apakah Allah di dalam kita memiliki kekuatan? Jika kita belum melalui perjalanan yang lebih dalam ini, kita hanya memberi tahu orang lain cara menempuh jalan ini menurut kemampuan kita; sesungguhnya diri kita sendiri belum sepenuhnya tahu cara menempuh di atasnya. Sekarang banyak kasus orang buta memimpin orang buta. Penginjil-penginjil hanya dapat memberitakan pengetahuan; mereka tidak dapat memberitakan hayat dan Roh Kudus.
Semua ini bertentangan dengan prinsip. Jika sebutir biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Jika kepandaian dan hikmat kita belum mati, Allah tidak dapat memakainya. Perkara-perkara rohani bukan masalah hikmat dan kepandaian atau masalah pemahaman otak, tetapi masalah pengalaman dan kekuatan dalam roh. Jika seorang beriman telah beroleh selamat, secara dalam mengalami realitas roh, dan dengan sungguh-sungguh mendapatkannya, tidak perlu orang lain membangkitkannya lagi. Banyak orang berkeliling ke mana-mana untuk mengadakan sidang-sidang menurut kepandaian alamiah mereka. Mereka tidak tahu bahwa diri mereka sendiri perlu dipimpin oleh Allah untuk mendapatkan kebangunan rohani. Jika Allah tidak membangkitkan mereka, pekerjaan mereka sia-sia saja, dan orang lain tidak mendapatkan apa-apa dari mereka, hal ini juga sia-sia. Allah harus membawa mereka ke jalan buntu. Kita harus berjalan sampai pada tahap jalan rusak, jembatan juga hancur. Jika setiap pemberitaan saya selalu bersandar diri sendiri, saya lebih baik tidak memberitakannya. Setelah kita bekerja dengan cara ini selama dua puluh atau tiga puluh tahun, apakah hasilnya? Apa yang terjadi di hadapan takhta penghakiman? Allah ingin membawa kita lebih dulu melihat terang takhta penghakiman, supaya kita sendiri yang berkata bahwa ini salah dan aku tidak mau melakukannya lagi. Semoga Allah memperlihatkan kepada kita, betapa salahnya bekerja dengan pengetahuan dan talenta, sehingga kita dapat menganggap segala sesuatu yang berasal dari Adam lama sudah mati, dan tidak pernah menggunakannya lagi. Sama seperti ketika kita diselamatkan, kita menolak segala sesuatu yang berasal dari ciptaan lama, dan sepenuhnya menerima hayat baru dari Adam ciptaan baru. Saudara-saudara, bagaimana kita mengatur jalan dan masa depan kita? Apakah kita ingin kekuatan Allah dan kehendak-Nya mengendalikan kita, atau apakah kita ingin mengendalikan diri kita sendiri?
Ada orang hanya dibangkitkan sesaat ketika ia mengikuti sidang kebangunan rohani. Begitu sidang kebangunan rohani berakhir, kegairahannya juga berakhir. Apa bedanya kebangunan semacam ini dengan suntikan obat perangsang? Setelah suntikan pertama, suntikan kedua memerlukan dosis yang lebih tinggi, atau obat itu tidak manjur lagi. Kali pertama diperlukan kegairahan dan emosi di luar agar seseorang dapat dibangkitkan. Kemudian, kali kedua diperlukan kepandaian berbicara, kegairahan yang lebih besar, dan orang-orang yang lebih menimbulkan sensasi. Kalau tidak demikian, orang itu tidak dapat dibangkitkan lagi. Ini tidak berguna.
Semoga dalam hari-hari ini, Allah mendapatkan sesuatu yang sejati bagi nama-Nya. Jika Allah tidak mendapatkan sesuatu, jika Allah tidak mendapatkan kemuliaan, segala sesuatu akan sia-sia. Semoga kita ditanggulangi oleh Allah. Semoga kita menyerahkan diri kita kepada Allah dan tidak mengecewakan-Nya. Semoga kita memberikan kepada Allah apa yang patut bagi-Nya. Semoga kita meletakkan diri kita sendiri khusus ke dalam tangan Allah, dan memohon Allah membawa kita maju. Jika Allah benar-benar memimpin kita, kita tidak perlu menggunakan hikmat dan kekuatan kita lagi. Kita harus melakukan yang terbaik untuk mengesampingkannya dan sekali lagi datang ke hadapan-Nya, untuk menerima kekuatan baru. Kita harus memeriksa apakah jalan kita adalah jalan yang diatur oleh Allah bagi kita.
Kita hanya ingin Allah mendapatkan kemuliaan dan kehendak-Nya terjadi. Kita ingin Allah mendapatkan sesuatu, bukannya kita yang mendapatkan sesuatu. Kita boleh mengabaikan apa yang orang lain katakan tentang kita. Kita tidak lagi menggunakan hikmat kita sendiri untuk mengatur hidup dan pekerjaan kita. Sebaliknya, kita hanya memohon agar kita dapat melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan kehendak-Nya. Semoga kita dibebaskan dari semua kehendak diri, dan semoga kita hanya dengan kehendak Allah sebagai kehendak kita!
UTUSAN SALIB
PENGANTAR
Akhir-akhir ini banyak orang tampaknya bosan mendengar berita tentang salib. Namun, kita bersyukur dan memuji Allah Bapa, karena demi kebesaran namaNya, Dia telah memelihara banyak orang setia yang tidak bertekuk lutut kepada Baal. Bagaimanapun, saya merasa bahwa ada satu hal yang harus diketahui oleh para hamba Kristus yang setia, yaitu mengapa setelah mereka begitu banyak memberitakan tentang salib, hasilnya masih begitu saja, dan tidak banyak perubahan yang terjadi dalam hidup orang-orang yang telah mendengar firman Allah yang sejati? Saya rasa masalah ini patut kita perhatikan dengan serius. Kita yang bekerja untuk Tuhan harus mengerti, mengapa kita tidak bisa mendapatkan orang-orang dengan Injil yang kita beritakan. Saya harap, kita mau berdoa dengan tenang di hadapan Tuhan dan memohon Roh Allah untuk menerangi hati kita, supaya kita tahu, di mana letak kegagalan kita.
KEGAGALAN UTUSAN SALIB
Pada saat ini kita harus memperhatikan firman yang kita beritakan. (Kita tidak perlu menyebutkan mereka yang memberitakan Injil yang salah, sebab kepercayaan mereka adalah salah). Yang kita beritakan ialah salib Tuhan Yesus Kristus dan bagaimana hal itu menyelamatkan orang dosa dari penghukuman dosa dan kuasa dosa. Ketika kita memberitakan, kita sangat memperhatikan garis besar, logika dan pemikiran. Kita berusaha sebisanya membuat khotbah kita itu jelas, bahkan orang yang paling tidak terpelajar pun dapat mengerti. Kita juga memperhatikan faktor kejiwaan manusia. Kita berusaha sebaik mungkin dalam "seni berkhotbah" kita, agar sesuai dengan jiwa manusia. Yang kita beritakan itu benar dan sangat Alkitabiah; topik kita ialah salib Tuhan Yesus. Kita tahu, bahwa Tuhan Yesus wafat di kayu salib untuk brang dosa, sehingga semua orang yang percaya kepadaNya dapat diselamatkan tanpa harus melakukan perbuatan apapun. Kita juga tahu, bahwa penyaliban Tuhan Yesus itu bukan hanya untuk penggantian, melainkan juga untuk menyalibkan orang dosa dan dosanya bersama Dia; kita tahu cara untuk diselamatkan. Kita tahu bagaimana mati bersama Tuhan, bagaimana menerapkan kematian Tuhan dengan iman, bagaimana mati bersama Dia untuk membereskan dosa dan diri (ego). Kita juga mengerti tentang ajaran-ajaran lain yang berkaitan di dalam Alkitab. Kita bisa menyampaikan berita secara jelas dan menyenangkan, sehingga setiap pendengar dapat mengerti. Para pendengar sangat memperhatikan kita ketika kita memberitakan salib Tuhan; mereka menyukainya dan terjamah olehnya. Bahkan kita mungkin berbakat dalam kefasihan berbicara dan dapat menyajikan kebenaran secara meyakinkan, sehingga kita mengira bahwa pekerjaan kita sangat berhasil. Dalam keadaan seperti itu, kita seharusnya melihat banyak orang menerima hayat (kehidupan) dan banyak orang percaya mendapatkan hayat yang lebih berlimpah. Tetapi, ternyata hasilnya berlawanan dengan yang kita harapkan. Meskipun pendengar mungkin terjamah di dalam balai sidang, meskipun khotbah itu masih segar dalam ingatan mereka, namun setelah mereka meninggalkan balai sidang, mereka tidak memperoleh apa yang kita harapkan. Tidak ada perubahan dalam hidup mereka. Mereka mengerti apa yang kita beritakan, tetapi hal itu tidak ada pengaruhnya atas hidup mereka sehari-hari. Mereka hanya menyimpan firman yang diberitakan dalam otak mereka. Mereka tidak menerapkannya dalam hati mereka.
Penyebabnya ialah, yang Anda miliki hanyalah kefasihan, kata-kata, dan hikmat. Di balik khotbah Anda, Anda tidak mempunyai kekuatan yang menjamah hati orang. Anda memiliki kata-kata dan suara yang terbaik, tetapi di balik kata-kata dan suara itu, Anda tidak mempunyai sejenis kekuasaan yang "mengendalikan" hidup manusia. Dengan kata lain, Anda dapat membuat orang mendengarkan Anda dengan penuh perhatian di balai sidang, tetapi Roh Kudus tidak bekerja sama dengan Anda. Karena itu, jerih payah Anda tidak efektif atau tidak mempunyai hasil yang kekal. Kata-kata Anda tidak dapat meninggalkan kesan yang kekal pada hidup manusia. Meskipun mulut Anda meluncurkan kata-kata, roh Anda tidak mengalirkan hayat untuk merawat, membangkitkan dan menghidupkan pendengar yang sekarat.
Dalam tahun-tahun terakhir ini, Tuhan memberitahu saya untuk berhati-hati terhadap pemberitaan seperti ini. Kita tidak ingin menjadi orator (ahli pidato) yang terkenal; (Tuhan kita adalah Pemberi Hayat); kita ingin menjadi saluran hayat, mengalirkan hayat ke dalam hati orang. Bila kita memberitakan salib, kita seharusnya mengalirkan hayat salib ke dalam hayat orang lain. Hal yang paling menyedihkan saya ialah begitu banyak orang memberitakan salib dewasa ini, tetapi orang masih belum memperoleh hayat Allah. Orang tampaknya menyetujui dan dengan senang hati menerima kata-kata kita, tetapi mereka belum menerima hayat Allah. Sering kali ketika kita memberitakan kematian pengganti di salib, orang-orang tampaknya mengerti makna dan alasan kematian pengganti, tampaknya mereka terjamah pada waktu itu; tetapi kita tidak dapat melihat kasih karunia Allah bekerja dalam diri pendengar sampai mereka benar-benar memperoleh hayat yang dilahirkan kembali. Kita juga memberitakan penyaliban bersama di salib; kita menjelaskannya dengan sangat jelas dan mengharukan. Pada waktu orang mendengarnya, mereka mungkin berdoa dan memutuskan untuk mati bersama Tuhan dan memperoleh pengalaman mengalahkan dosa dan ego. Tetapi setelah semua itu berlalu, kita tidak melihat mereka memperoleh hayat Allah yang lebih berlimpah. Hasil seperti itu sangat menyedihkan saya. Hal itu merendahkan hati saya di hadapan Tuhan untuk mencari terangNya. Jika Anda mempunyai pengalaman seperti saya, saya harap Anda akan bersedih di hadapan Tuhan seperti saya dan menyesali kegagalan kita. Kekurangan kita sekarang adalah orang-orang yang memberitakan salib, lebih-lebih para pemberita yang memberitakan salib dalam kuasa Roh Kudus.
Sekarang marilah kita membaca firman Allah. Paulus berkata, "Demikian pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh" (I Korintus 2:1-4). Dalam ayat-ayat ini kita melihat tiga hal: (1) berita yang disampaikan Paulus, (2) diri Paulus sendiri, dan (3) cara Paulus menyampaikan beritanya.
BERITA YANG DISAMPAIKAN PAULUS
Berita yang disampaikan Paulus ialah Tuhan Yesus Kristus dan Dia yang disalibkan. Pokok beritanya ialah salib Kristus dan Kristus yang disalibkan. Dia tidak tahu apa-apa kecuali ini. Jika kita melupakan salib dan tidak menjadikan salib serta Kristus sebagai satu-satunya judul kita, betapa besar kerugian kita dan pendengar kita! Saya yakin, bahwa kita bukanlah orang-orang yang tidak memberitakan salib.
Berita dan judul kita memang sudah benar. Tetapi, bukankah kita memiliki pengalaman mempunyai berita yang baik namun tidak mampu menyalurkan hayat kepada orang lain? Ketahuilah, walaupun berita yang kita sampaikan itu penting, tapi jika berita itu tidak dapat memberikan hayat kepada orang lain, maka pekerjaan kita itu kebanyakan sia-sia. Kita harus ingat, bahwa tujuan pekerjaan kita ialah memberikan hayat kepada manusia. Kita memberitakan kematian pengganti di kayu salib, supaya Allah dapat memberikan hayatNya kepada mereka yang percaya. Kalaupun orang lain tergerak dan terangsang, atau bahkan bertobat dan setuju dengan apa yang kita beritakan, tetapi jika hayat Allah tidak masuk ke dalam diri mereka, apakah gunanya? Mereka hanya menunjukkan simpati di luaran, mereka sendiri belum diselamatkan. Karena itu, tujuan kita bukanlah membuat orang bertobat atau mempengaruhi pikiran mereka, tetapi menyalurkan hayat Allah ke dalam diri mereka, sehingga mereka dapat memiliki hayat dan diselamatkan. Bahkan ketika kita memberitakan kebenaran yang lebih dalam atau berusaha membantu orang lain memahami kebenaran penyaliban bersama, prinsipnya tetap sama. Membuat orang tahu dan memahami apa yang kita beritakan adalah mudah; juga tidaklah sulit membuat orang lain menerima ajaran kita dalam benak mereka. Sebab setiap orang yang percaya, yang mempunyai sedikit pengetahuan, dapat mengerti jika Anda menerangkan hal-hal itu kepadanya dengan cukup jelas. Namun, jika Anda ingin dia memperoleh hayat dan kekuatan serta mengalami apa yang Anda beritakan, tidak ada jalan lain kecuali Allah menyalurkan hayat yang lebih kaya melalui Anda kepadanya.Kita harus tahu, bahwa pekerjaan kita satu-satunya ialah menjadi saluran hayat Allah, menyalurkan hayat ke dalam roh orang lain. Karena itu, sekalipun judul atau berita yang kita sampaikan itu tidak salah, kita masih perlu mengetahui apakah kita adalah saluran yang sesuai bagi Allah untuk menyalurkan hayat kepada orang lain.
DIRI PAULUS SENDIRI
Berita yang disampaikan oleh Paulus adalah salib Tuhan Yesus Kristus. Berita yang disampaikannya tidak sia-sia karena dirinya adalah saluran hayat yang hidup. Dia melahirkan banyak orang melalui Injil salib. Yang diberitakannya ialah firman tentang salib. Mengenai dirinya sendiri, dia berkata bahwa dia "lemah dan ketakutan serta sangat gentar". Dia adalah orang yang disalibkan! Hanya orang yang disalibkan yang dapat memberitakan firman tentang salib. Dia tidak mempunyai keyakinan sedikitpun terhadap dirinya. Dia tidak mengandalkan dirinya sendiri. Lemah, ketakutan, gentar, tidak mempercayai diri sendiri, menganggap diri sendiri sama sekali tidak berguna -- ini adalah ciri-ciri seorang yang disalibkan. Dia berkata, "Aku telah disalibkan dengan Kristus" (Galatia 2:19b) dan "Tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut" (1 Korintus 15:31). Hanya Paulus yang mati yang dapat memberitakan firman mengenai penyaliban. Jika dia sendiri tidak benar-benar telah mati, hayat kematian Tuhan tidak dapat mengalir keluar dari dirinya. Memberitakan salib itu mudah, tetapi tidaklah mudah memberitakan salib dengan diri sendiri sebagai orang yang disalibkan. Kalau seseorang itu bukan orang yang disalibkan, dia tidak dapat memberitakan firman tentang salib, dan tidak dapat memberikan hayat salib kepada orang lain. Tepatnya, orang yang tidak mengenal salib dalam pengalamannya tidak patut memberitakan salib.
CARA PAULUS MENYAMPAIKAN BERITANYA
Berita Paulus ialah penyaliban. Dia sendiri adalah orang yang disalibkan, dan dia memberitakan salib melalui cara salib. Ia adalah manusia salib yang menyampaikan berita salib dengan roh salib. Sering kali yang kita beritakan ialah salib, tetapi sikap kita, kata-kata kita, dan perasaan kita menunjukkan seakan-akan kita tidak memberitakan salib! Banyak pemberitaan salib yang tidak disampaikan dalam roh salib! Paulus berkata, "Aku . . . tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu." Di sini kesaksian Allah mengacu kepada firman salib. Paulus tidak memberitakan salib dengan kata-kata yang indah atau dengan kata-kata hikmat. Dia berkata, "Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakink.an, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh." Inilah roh salib. Salib ialah hikmat bagi Allah tetapi kebodohan bagi manusia (I Korintus 1:23-24). Bila kita memberitakan firman "kebodohan" ini, kita harus memiliki bentuk "kebodohan" itu, sikap "kebodohan", dan pembicaraan "kebodohan". Paulus mendapatkan kemenangan karena dia benar-benar orang yang disalibkan. Dia memberitakan salib dengan roh salib dan sikap salib. Orang yang tidak pernah mengalami penyaliban, tidak akan dipenuhi dengan roh salib, dan tidak patut memberitakan firman salib.
Setelah melihat pengalaman Paulus, tidakkah hal itu memberitahu kita penyebab kegagalan kita? Berita yang kita sampaikan mungkin baik, tetapi kita harus memeriksa diri dalam terang Tuhan, apakah kita benar-benar adalah orang-orang yang disalibkan? Dengan roh, kata-kata, dan sikap apa kita memberitakan salib? Semoga kita merendahkan diri di hadapan pertanyaan-pertanyaan ini, supaya Allah dapat membelaskasihani kita.
Kita tidak berbicara mengenai mereka yang memberitakan "injil yang lain." Kita berbicara tentang mereka yang memberitakan "Injil kasih karunia Allah". FirmanNya tidak salah, berita kita tidak salah, tetapi mengapa orang lain tidak memperoleh hayat? Ini pasti disebabkan oleh kegagalan pemberita! Manusianya yang salah, bukan firman yang telah hilang kekuatannya. Manusialah yang telah merintangi hayat Allah untuk mengalir, bukan firman Allah yang telah hilang khasiatnya. Bila orang yang memberitakan salib itu sendiri tidak mempunyai pengalaman salib, tidak mempunyai roh salib, dia tidak dapat memberikan hayat salib kepada orang lain. Kita tidak dapat memberikan kepada orang lain apa yang kita sendiri tidak miliki. Jika salib tidak menjadi hayat kita, kita tidak dapat memberikan hayat salib kepada orang lain. Kegagalan pekerjaan kita terjadi karena kita terlalu suka memberikan salib kepada orang lain, sedang kita sendiri tidak tahu apakah diri kita sendiri sudah memiliki salib atau belum sama sekali. Mereka yang pandai memberitakan kepada orang lain harus pandai memberitakan kepada diri mereka sendiri lebih dahulu. Kalau tidak, Roh tidak akan bekerjasama dengan mereka.
Meskipun berita yang kita sampaikan itu penting, kita tidak boleh terlalu menekankan berita itu dan lupa akan diri sendiri. Kita dapat memperoleh pengetahuan dari buku tentang firman salib yang kita beritakan. Kita dapat menggunakan pikiran kita untuk mencari banyak makna di dalam Alkitab. Namun, semuanya itu hanyalah pinjaman, bukan milik kita. Mereka yang pandai lebih berbahaya daripada orang lain! Pengkhotbah lebih berbahaya daripada para pendengar! Jangan-jangan semua penyelidikan, pembacaan, penelitian, dan apa yang mereka dengar itu dilakukan untuk orang lain dan bukan untuk dirinya sendiri. Dia bekerja untuk orang lain, tapi dirinya sendiri lapar secara rohaniah! Kita dapat mendengar uraian yang dalam tentang berbagai segi salib, atau membaca dari buku-buku tentang makna kematian penggantian dan penyaliban bersama, atau jika kita mempunyai otak yang pandai, kita bahkan dapat menambahkan suatu urutan yang benar pada ajaran-ajaran itu, sehingga bila kita yang berbicara, kita dapat mengembangkan hal-hal yang telah kita dengar dan pikirkan dengan jelas, tulus. Segala sesuatu diatur dengan baik, semua pokok disajikan dengan jelas, dan uraian dibagi dengan rapi. Kita mungkin membuat pendengar kita mengira, bahwa mereka telah mengerti segala sesuatu. Namun, meskipun mereka telah mengerti segalanya, tidak ada kekuatan yang mendorong para pendengar untuk melaksanakan apa yang telah mereka pahami. Mereka mengira, bahwa hanya memahami ajaran-ajaran salib sudahlah cukup; mereka berhenti pada hal-hal yang mereka pahami dan tidak mau maju untuk mendapatkan apa yang dijanjikan salib kepada mereka. Bahkan jika pengkhotbahnya mengerti kejiwaan para pendengar, dan ia mempunyai suara yang lantang dan berat, ia juga mendorong mereka untuk tidak hanya memahami ajaran tetapi mengejar pengalaman, mungkin pendengarnya dapat dirangsang pada waktu itu, namun mereka tetap tidak menerima hayat. Mereka masih mempunyai teori saja, bukan pengalaman. Kita tidak boleh berpuas diri dan mengira bahwa lidah kita yang fasih dapat mengarahkan pendengar. Mereka mungkin terpengaruh pada saat itu, tetapi apakah kita hanya memberi mereka pemikiran dan ajaran? Atau haruskah kita memberi hayat kepada mereka? Tanpa memberi hayat kepada manusia, kita tidak membantu apa-apa pada kerohaniannya. Apakah gunanya hanya memberi orang pemikiran atau ajaran? Semoga pemikiran ini tertanam dalam-dalam pada diri kita sehingga kita mau menyesali kesia-siaan pekerjaan kita terdahulu!
Penyebab mengapa tak seorangpun memperoleh hayat melalui pemberitaan salib kita ialah: (1) kita sendiri tidak memiliki pengalaman salib; (2) kita tidak menggunakan semangat salib untuk memberitakan firman salib.
PENYEBAB KEGAGALAN ORANG YANG MEMBERITAKAN SALIB
Orang yang tidak disalibkan, tidak dapat dan tidak patut menyampaikan berita salib. Salib yang kita beritakan harus menyalibkan kita terlebih dahulu. Berita yang kita sampaikan harus membakar hayat kita dahulu sehingga hayat kita dan berita kita dapat berpadu. Dengan demikian, hayat kita akan menjadi berita kita yang hidup. Salib yang kita beritakan tidak boleh sekadar berita. Kita setiap hari harus menampilkan salib dalam hidup kita, sehingga apa yang kita beritakan tidak hanya sekadar berita melainkan hayat yang kita tampilkan setiap hari. Ketika kita memberitakan, kita menyalurkan hayat ini kepada orang lain. Tuhan Yesus berkata, bahwa dagingNya adalah makanan dan darahNya adalah minuman (Yohanes 6:55). Bila kita mengambil bagian dalam salib Tuhan Yesus dengan iman, itu seperti makan dagingNya dan minum darahNya. Tetapi makan dan minum bukanlah kata-kata yang kosong. Setelah kita makan dan minum, kita mencernakan apa yang kita makan dan minum, sehingga makanan dan minuman itu dapat menjadi bagian kita -- menjadi hayat kita. Kegagalan kita dikarenakan kita sering mempelajari firman Allah dengan hikmat kita sendiri dan menyiapkan catatan kita dengan pikiran kita sendiri. Kita sering kali mengambil pengetahuan yang kita peroleh dari buku, menggunakan ajaran yang kita dengar dari guru-guru dan teman-teman kita, kemudian menjadikannya khotbah kita. Meskipun kita mempunyai banyak pemikiran dan gagasan yang baik, meskipun pendengar mendengarkan kita dengan penuh perhatian dan minat, semua pekerjaan berakhir di situ saja, kita tidak dapat menyalurkan hayat Allah kepada orang lain. Walaupun kita memberitakan firman salib, kita tidak dapat menyalurkan hayat salib kepada orang lain. Kita hanya dapat memberikan pemikiran dan gagasan kepada orang. Namun, yang tidak dimiliki orang bukan pemikiran melainkan hayat!
HAYAT
Kita tidak dapat memberikan kepada orang lain apa yang tidak kita miliki. Jika kita mempunyai hayat, kita dapat memberikan hayat kepada orang lain. Jika yang kita miliki hanya pemikiran, kita hanya dapat memberikan pemikiran kepada orang lain. Jika kita tidak memiliki pengalaman penyaliban dalam hidup kita, jika kita tidak memiliki pengalaman mati bersama Tuhan untuk mengalahkan dosa dan ego, jika kita tidak memiliki pengalaman memikul salib dan mengikuti Tuhan untuk menderita bagi Dia, dan jika kita hanya tahu firman salib dari pembicaraan dan tulisan orang lain tetapi tidak mempunyai pengalaman salib, kita pasti tidak dapat memberikan hayat kepada orang lain. Kita hanya dapat memberikan teori hayat salib kepada orang lain. Hanya bila kita diubah oleh salib serta menerima hayat dan roh salib, barulah kita dapat memberikan salib kepada orang lain. Salib itu harus setiap hari melakukan pekerjaan yang lebih dalam di dalam hidup kita, sehingga kita dapat memiliki pengalaman yang kokoh akan penderitaan dan kemenangan salib. Jika demikian, saat kita memberitakan, hayat kita secara spontan akan mengalir keluar melalui kata-kata kita, dan Roh Kudus akan mengalirkan hayatNya melalui hayat kita untuk menyegarkan orang-orang yang kekeringan -- para pendengar. Pemikiran hanya dapat mencapai otak manusia, yang hanya menghasilkan pemikiran lebih banyak bagi otak manusia. Hanya hayat yang dapat mencapai roh manusia, hasilnya ialah roh orang itu menerima hayat yang dilahirkan kembali atau hayat yang lebih limpah.
Pemikiran manusia, kata-kata, ucapan, dan teori, hanya dapat menggerakkan dan mencapai jiwa manusia, karena semua itu hanya dapat menggerakkan provokasi, emosi, pikiran, dan tekad manusia. Hanya hayat yang dapat mencapai roh manusia. Semua pekerjaan Roh Kudus ada dalam roh kita (Roma 8:16; Efesus 3:16). Begitu kita berada dalam pengalaman roh, mengalirkan hayat roh kita, Roh Kudus akan mengalirkan hayatNya ke dalam roh orang lain melalui kita. Karena itu, menyelamatkan orang dosa dan membina kaum saleh dengan pikiran, ucapan, dan teori kita sendiri, adalah hal yang paling sia-sia. Meskipun secara luaran apa yang dikatakan seseorang tampaknya sangat meyakinkan, kita harus tahu, bahwa Roh Kudus tidak bekerjasama dengannya, Roh Kudus tidak ada di balik kata-katanya, dan tidak bekerja dengannya melalui kuasa dan kekuatanNya. Para pendengar hanya mendengarkan kata-katanya, tidak ada perubahan apapun dalam hidup mereka. Meskipun kadang-kadang mereka bertekad dan membuat keputusan, hal itu hanyalah rangsangan dalam jiwa mereka. Tidak ada hayat di balik kata-kata mereka, karena itu, mereka tidak mempunyai kekuatan untuk mendapatkan yang belum mereka peroleh. Dalam perkara rohani, ada hayat, ada kekuatan; tidak ada hayat, tidak ada kekuatan. Karena itu, jika Anda tidak membiarkan Roh Kudus mengalirkan hayatNya melalui hayat Anda ke dalam roh orang lain, orang lain tidak akan memiliki hayat Roh Kudus dan tidak akan mempunyai kekuatan untuk melaksanakan apa yang Anda beritakan. Yang kita inginkan bukanlah kefasihan, namun kuasa Roh Kudus. Semoga Roh Allah membuat kita sadar, bahwa pemikiran hanya dapat mencapai jiwa manusia, dan hanya hayat yang dapat mengalir ke dalam roh manusia.
Arti hayat yang kita bicarakan di sini, ialah kita di dalam hayat telah mengalami firman Allah, telah mengalami berita yang kita sampaikan. Hayat salib ialah hayat Tuhan Yesus. Kita terlebih dahulu harus mengalami berita kita dalam pengalaman kita. Ajaran yang kita pahami hanyalah suatu ajaran; kita harus membiarkan ajaran itu bekerja dalam diri kita terlebih dahulu, sehingga ajaran yang kita pahami itu menjadi bagian dari hayat kita, menjadi bagian dari unsur-unsur penting hidup kita sehari-hari. Demikianlah ajaran itu bukan sekadar ajaran, tetapi menjadi hayat dari hayat kita. Ini seperti makanan yang kita makan menjadi daging dari daging kita dan tulang dari tulang kita. Demikian, kita menjadi ajaran yang hidup. Demikian, firman yang kita beritakan tidak lagi hanya sebuah teori yang kita ketahui, tetapi hayat kita yang sejati. Inilah yang dimaksudkan Alkitab dengan "pelaku firman" (Yakobus 1:22). Kita sering salah memahami kata "pelaku ". Kita mengira "pelaku" adalah mereka yang berusaha sedapat mungkin mengikuti firman yang mereka dengar dan pahami. Tetapi ini bukanlah "pelaku" yang dimaksud dalam Alkitab. Memang benar, kita harus bertekad untuk menjalankan apa yang kita dengar! Tetapi "pelaku" di dalam Alkitab bukanlah "melakukan" dengan kekuatan diri sendiri, melainkan membiarkan Roh Kudus melalui hayat kita memperhidupkan firman yang kita ketahui itu. Ini adalah suatu penghidupan, bukan suatu perbuatan. Jika ada penghidupan, dengan sendirinya ada perbuatan. Mempunyai satu, dua kali perbuatan, itu belum terhitung sebagai "melakukan" yang dimaksud dalam Alkitab. Kita harus bekerja sama dengan Roh Kudus dalam hayat kita melalui tekad kita, sehingga kita dapat memperhidupkan apa yang kita ketahui dalam pengalaman. Dengan begitu kita dapat memberikan hayat kepada orang lain.
Dengan memandang Tuhan Yesus Kristus, barulah kita akan tahu apa yang harus kita ikuti. Dia berkata, "Demikian pula Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:14-15) dan "Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu. Ini dikatakanNya untuk menyatakan bagaimana caranya la akan mati " (Yohanes 12:32-33). Tuhan Yesus harus terlebih dulu disalibkan, baru Dia dapat menarik semua orang kepadaNya dan memberikan hayat rohaniah kepada orang lain. Dia sendiri harus mati lebih dahulu, mengalami salib lebih dahulu, dan memiliki pekerjaan salib luar dalam, menjadikan Dia manusia yang disalibkan secara riil, barulah Dia dapat mempunyai kuasa untuk menarik semua orang kepadaNya. Murid tidak akan melebihi gurunya. Jika Tuhan kita harus ditinggikan sebelum Dia dapat menarik semua orang kepadaNya, tidakkah kita yang menjunjung tinggi Tuhan Yesus yang ditinggikan itu, juga harus ditinggikan dan disalibkan sebelum kita dapat menarik manusia kepada Tuhan? Agar Tuhan Yesus memberikan hayat rohaniah kepada orang lain, Dia harus ditinggikan pada kayu salib. Demikian pula, jika kita ingin memberikan hayat rohaniah kepada orang lain, kita juga harus ditinggikan pada kayu salib. Setelah itu, barulah Roh Kudus akan mengalirkan hayatNya melalui kita. Sumber hayat berasal dari memberikan hayat kepada orang lain melalui salib. Tidakkah saluran hayat juga berasal dari memberikan hayat kepada orang lain melalui salib?
SALURAN HAYAT
Kita telah mengatakan, bahwa pekerjaan kita ialah memberikan hayat kepada orang lain. Namun, kita sendiri tidak mempunyai hayat untuk diberikan kepada orang lain, untuk menghidupkan orang lain, dan merawat orang lain. Kita bukan sumber, melainkan saluran. Hayat Allah mengalir melalui kita, mengalir keluar dari dalam diri kita. Kita adalah saluran. Saluran tidak boleh disumbat. Kalau disumbat, air tidak dapat mengalir. Pekerjaan salib ialah melakukan pekerjaan pembongkaran, agar kita menyingkirkan segala yang milik Adam dan milik alamiah, dan kemudian menerima hayat Roh Kudus serta dipenuhi oleh Roh Kudus. Dengan demikian roh kita akan selalu memikul salib Tuhan sampai hayat kita menjadi hayat salib. (Hal ini akan kita bahas sebentar lagi). Karena kita telah dipenuhi oleh Roh Kudus dan telah memiliki hayat salib, maka Roh Kudus akan menggunakan kita untuk mengalirkan hayat salib dari dalam kita kepada mereka yang ada di sekitar kita. Jika kita benar-benar membiarkan salib bekerja secara mendalam atas diri kita, sampai kita menjadi penuh dengan Roh Kudus, dengan spontan kita akan mengalirkan hayat untuk merawat mereka yang kita jumpai, baik kita berbicara atau memberitakan di depan umum atau secara perorangan. Ini adalah suatu keadaan yang tidak memerlukan usaha atau tindakan yang disengaja, ini adalah satu keadaan yang sangat spontan; secara spontan kita akan menghasilkan buah. Inilah yang dimaksudkan Tuhan Yesus dalam Yohanes 7:38, "Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup." Ada beberapa arti terkandung di sini: Batin orang yang percaya harus dikosongkan lebih dulu, harus menerima pekerjaan salib yang sempurna lebih dulu. Batinnya harus sudah dipenuhi dengan air hidup Roh Kudus. Hayat dalam dirinya tidak hanya cukup untuk kebutuhannya sendiri, tetapi berlimpah ruah, meluap, sehingga dari dirinya mengalir sungai air hidup untuk memberi orang lain air hidup itu. Kita harus memperhatikan kata "mengalir" di sini. Mengalir itu bukan dengan daya upaya, suara, psikologi, kefasihan, ajaran atau pengetahuan. Meskipun semua cara itu adakalanya bisa membantu kita, namun cara-cara itu bukanlah air hidup. Penggunaan cara-cara itu juga bukan pengaliran air hidup. Mengalir adalah suatu hal yang sangat alami, tidak membutuhkan jerih payah manusia, keluar secara wajar dan kodrati; tidak memerlukan kefasihan atau teori, hanya memberitakan firman salib Tuhan dengan setia, dan orang lain segera menerima hayat yang tidak mereka miliki. Hayat dan kuasa Roh Kudus secara spontan mengalir melalui roh kita. Kalau tidak, meskipun kita mengajar dengan tekun, pendengar akan mendengar dengan acuh tak acuh! Kadang-kadang pendengar kita mungkin mendengarkan dengan penuh perhatian dan mungkin paham dan terjamah oleh apa yang mereka dengar, tetapi mereka hanya menanggapi dengan kata, "Hebat". Mereka masih tidak mempunyai kuasa dan hayat untuk melaksanakan apa yang mereka dengar. Oh, semoga hari ini kita menjadi saluran-saluran hayat Allah!
Untuk menjadi saluran, kita harus memiliki pengalaman. Kita telah membahas ini dalam pembicaraan di atas. Kalau kita tidak memilikinya, Roh Kudus tidak akan bekerja sama dengan kita. Setelah kita menerima kuasa Roh Kudus, semua pekerjaan kita akan merupakan pekerjaan seorang saksi (Lukas 24:48-49). Sebenarnya, semua pekerjaan kita adalah bersaksi bagi Tuhan. Seorang saksi tidak bisa memberi kesaksian tentang apa yang tidak dilihatnya. Bahkan seseorang tidak dapat memberi kesaksian tentang apa yang tidak didengarnya dari orang lain. Orang tidak dapat memberi kesaksian tentang apa yang tidak dialaminya. Dengan kata yang lebih tegas, orang yang tidak memiliki pengalaman terhadap apa yang diberitakannya, adalah orang yang memberikan kesaksian palsu! Itulah sebabnya Roh Kudus tidak bekerja sama dengan kita. Satu hal lagi yang harus kita ketahui, entah yang bekerja itu Roh Kudus atau roh jahat, harus ada manusia sebagai saluran kuasa. Jika kita tidak memiliki pengalaman akan apa yang kita beritakan, Roh Kudus pasti tidak dapat menggunakan kita sebagai saluranNya, untuk mengalirkan hayatNya ke dalam hati orang.
Karena itu, semoga salib yang kita beritakan menyalibkan kita padanya! Semoga kita memikul salib yang kita beritakan! Semoga kita lebih dahulu mendapatkan hayat yang ingin kita berikan kepada orang lain! Semoga salib yang kita beritakan menjadi salib yang kita alami sehari-hari dalam hidup kita! Agar berita yang kita sampaikan mempunyai khasiat yang kekal, berita itu lebih dahulu harus menjadi makanan roh kita, tertanam dalam-dalam di hati kita, terbakar, dan terukir ke dalam hayat kita melalui penderitaan dalam hidup kita sehari-hari. Dengan demikian, setiap langkah dan tindakan kita akan memiliki tanda salib. Hanya orang yang tubuhnya memiliki tanda-tanda Yesus (Galatia 6:17) yang dapat memberitakan Tuhan Yesus. Saudara-saudara, izinkan saya memberitahu Anda, meskipun pemikiran yang tiba-tiba melintas di benak Anda atau pengetahuan yang Anda peroleh dari buku-buku dapat membuat pendengar Anda tersenyum, semua itu tidak akan mempunyai dampak yang kekal. Jika pekerjaan kita hanya membuat orang tersenyum, hanya memberi pemikiran otak atau merangsang emosi, lalu kita mengira bahwa kita melakukan pekerjaan yang hebat dengan khotbah kita. Ketahuilah, itu bukan tujuan pekerjaan kita!
KEBERHASILAN RASUL
Berita salib menjamah Paulus secara mendalam. Hidupnya adalah perwujudan hayat salib. Dia bukan saja orang yang memberitakan salib, bahkan orang yang menampilkan salib. Salib yang diberitakannya adalah salib yang ditampilkannya. Karena itu, bila dia berbicara mengenai salib, dia dapat menambahkan pengalaman dan kesaksiannya sendiri. Dia tidak saja mengetahui kematian penggantian Tuhan Yesus, tetapi dia mengambil salib Tuhan Yesus sebagai salibnya sendiri dalam pengalamannya. Dia dapat mengatakan, "Aku telah disalibkan dengan Kristus" (Galatia 2:19b), dan "Dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia" (Galatia 6:14). Kelembutannya, ketabahannya, kelemahannya, air matanya, penderitaannya, belenggunya, semuanya adalah perwujudan dari hayat salib. Karena dia adalah orang yang memperhidupkan salib, maka dia dapat memberitakan salib. Sering ada orang mengkritik orang lain dengan mengatakan, bahwa orang itu hanya bisa berkhotbah, tapi tidak bisa melaksanakan. Namun, sebenarnya orang yang tidak bisa melaksanakan, bagaimana ia bisa memberitakannya! Karena Paulus dapat menampilkan Injilnya, maka dia mampu melahirkan anak-anak rohaniah melalui Injil. Dia sendiri memiliki hayat salib, maka dia mampu "mereproduksi" salib ini di dalam hati orang lain.
SALIB DAN PEMBERITANYA
Pengalaman Pribadi
Setelah kita membaca II Korintus 4 (harap membacanya), kita akan mengetahui pengalaman batiniah hamba Tuhan ini. Rahasia semua pekerjaannya ialah "maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu" (ayat 12). Setiap hari dia melewati maut, setiap hari, dia membiarkan salib melakukan pekerjaan yang lebih mendalam di dalam hatinya, sehingga orang lain dapat memperoleh hayat. Jika orang tidak memiliki kematian salib dalam dirinya, orang lain tidak dapat memperoleh hayat salib. Paulus rela mati supaya orang lain mendapatkan hayat. Hanya mereka yang telah mati baru dapat memberi brang lain hayat. Namun, alangkah sulitnya hal ini!
Apakah arti kematian di sini? Kematian di sini bukan hanya kematian terhadap dosa, diri, dan dunia. Kematian di sini mempunyai arti yang lebih dalam daripada itu. Kematian ini adalah roh yang diwujudkan oleh penyaliban Tuhan Yesus. Tuhan kita Yesus Kristus tidak mati untuk dosaNya sendiri; salibNya adalah perwujudan dari kesucianNya. PenyalibanNya sepenuhnya demi kepentingan orang lain, Dia mati karena taat kepada kehendak Allah. Inilah arti kematian di sini. Bukan demi diri kita sendiri kita disalibkan bagi dosa dan dunia, tetapi demi ketaatan kita kepada Tuhan Yesus maka kita sehari-hari ditentang dan diserahkan ke dalam maut oleh orang dosa. Kita harus membiarkan kematian Tuhan Yesus bekerja dalam diri kita sampai kita benar-benar memiliki pengalaman mati terhadap diri, dan mencapai tahap dikuduskan; kita harus membiarkan Roh Kudus, melalui salib, melakukan pekerjaan yang lebih mendalam di dalam diri kita sehingga kita dapat memperhidupkan salib. Kita seharusnya tidak hanya memiliki kematian salib, lebih-lebih kita harus memiliki kehidupan salib. Bila kita memiliki kematian salib, kita mati terhadap dosa dan hayat lama Adam; bila kita memiliki kehidupan salib, kita melangkah lebih jauh dan mengambil roh salib sebagai hayat dalam hidup kita sehari-hari. Ini berarti, di dalam hidup sehari-hari kita mewujudkan Roh Yesus Kristus sebagai Anak Domba, yang menderita dalam diam dan yang "ketika la dicaci maki, la tidak membalas dengan mencaci maki; ketika la menderita, la tidak mengancam, tetapi la menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil" (I Petrus 2:23). Ini adalah selangkah lebih dalam daripada disalibkan terhadap dosa, diri, dan dunia. Semoga salib menjadi hayat kita, sehingga kita dapat menjadi salib yang hidup dan dalam segala sesuatu menyatakan salib!
Paulus dapat memberi hayat kepada orang lain karena hidupnya adalah salib. Dia tidak hanya menerapkan kematian salib secara pasif untuk mengakhiri segala sesuatu dari Adam yang lama, tetapi secara aktif mengambil salib sebagai hayatnya dan sehari-hari memperhidupkan salib. Hari demi hari dia memahami makna salib Tuhan, hari demi hari dia menyatakan hayat Tuhan sebagai Anak Domba (salib). Dia senantiasa "membawa kematian Yesus di dalam tubuhnya, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuhnya" (II Korintus 4:10). Dia rela "terus-menerus . . . diserahkan kepada maut karena Yesus; supaya juga hidup Yesus (salib) menjadi nyata di dalam tubuh yang fana" (ayat 11). Karena itu, dia dapat menyatakan "dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian; kami dihempaskan, tetapi tidak binasa" (ayat 8-9). Dia membiarkan maut Tuhan Yesus "giat" di dalam dia (ayat 12). Maut yang dapat bekerja adalah "maut yang hidup". Itulah hayat maut, hayat salib. Dia rela selalu diserahkan kepada maut demi Yesus. Dia rela menanggung kata-kata yang memerahkan telinga, cara-cara yang sewenang-wenang, penganiayaan yang kejam, dan kesalahpahaman yang tidak masuk akal demi Tuhan. Dia rela diserahkan kepada maut tanpa mengatakan sepatah katapun. Dalam keadaan seperti itu, dia seperti Tuhan yang meskipun mempunyai kuasa untuk meminta kepada Bapa untuk mengirimkan dua belas legiun malaikat untuk membantuNya, bisa menghindari keadaan dengan cara manusia, tetapi ia memilih tidak melakukannya. Dia lebih suka membiarkan "maut yang hidup" dari Yesus -- hayat dan roh salib -- bekerja dalam dirinya sampai dia bergerak dan bekerja dalam roh salib. Dia sadar bahwa pada salib ada kuasa; kuasa yang memungkinkan dia untuk menyerah kepada maut demi Yesus dan menanggung penganiayaan dan kesengsaraan dari tangan manusia. Betapa dalamnya salib bekerja dalam diri Paulus! Betapa baiknya jika kita juga dapat menanggung "maut Yesus di dalam tubuh kita!" Siapa yang dapat mengatakan kepada Tuhan bahwa dia rela mati dan tidak melawan di tengah segala keadaan yang penuh tentangan dan penderitaan? Jika kita ingin orang lain memperoleh salib, salib harus terlebih dahulu mengendalikan kita dalam hidup kita. Setelah salib tergarap ke dalam hidup kita melalui penderitaan dan penentangan yang ganas, maka kita dapat mereproduksi salib ini ke dalam hidup orang lain. Dengan kata lain, hayat salib adalah hayat yang merealitaskan khotbah Tuhan di bukit (Matius 5-7, lihat 5:38,44).
Ayat-ayat di dalam II Korintus dengan jelas mengatakan kepada kita, bahwa kita tidak hanya untuk memberitakan, bahkan untuk mewujudkan hayat Tuhan Yesus (4:10-11), dan kita harus mengalirkan hayat Tuhan Yesus dari diri kita. Kita dapat mengalirkan hayatNya, hanya bila kita selalu membawa maut Yesus dalam tubuh kita, bila kita diserahkan kepada maut demi Tuhan Yesus, bila kita menderita kerugian dalam reputasi, pikiran, dan tubuh kita demi Dia, bila kita menyatakan jalan Anak Domba Golgota di tengah semua penderitaan (ayat 10-11). Sayangnya, kita sering kali mengambil jalan pintas! Kita tidak menyadari bahwa tidak ada jalan pintas dalam mengekpresikan hayat Tuhan Yesus!
"Maut giat dalam diri kami, tetapi hidup giat dalam kamu" (ayat 12). "Kamu" menunjuk pada orang-orang di Korintus dan semua orang saleh (1:2), yakni para pendengar Paulus. Karena kematian Tuhan Yesus dapat bekerja di dalam diri Paulus, maka dia mampu membuat hayat Tuhan Yesus bekerja dalam diri pendengarnya dan membuat mereka menerima hayat rohaniah. Kata "hayat" dalam ayat ini ialah "zoe", yang dalam bahasa aslinya berarti "hayat rohaniah ", hayat yang tertinggi. Yang ditinggikan Paulus dan yang diberikannya kepada orang lain bukan hanya pembicaraannya, pikirannya, dan salib kayu; Paulus bahkan menghendaki mereka memperoleh hayat rohaniah Tuhan. Hayat rohaniah ini bekerja di dalam hati mereka dan memungkinkan mereka mencapai tujuan pemberitaan Paulus. Ini bukan pemberitaan yang kosong, melainkan yang memasuki hati para pendengar yang gersang dengan hayat dan kuasa yang luar biasa, sehingga mereka sungguh-sungguh menerima hayat salib yang diberitakannya. Pemberitaan kita tentang salib harus menimbulkan hasil seperti itu. Kita tidak boleh puas jika berita kita tidak mempunyai hasil seperti berita Paulus. Ringkasnya, orang yang tidak menampilkan salib seperti Paulus, tidak dapat mengharapkan hasil seperti Paulus. Jika kita bukan orang-orang yang disalibkan, pasti sulit bagi kita untuk memberitakan salib dan memberi hayat kepada orang lain.
Cara Memberitakan
Kita tahu, Paulus tidak hanya sebagai orang tersalib, yang memberitakan salib, dia bahkan memberitakan salib dengan roh salib. Di dalam hidupnya sehari-hari dia adalah orang yang tersalib; di dalam pemberitaannya dia juga seorang yang tersalib. Dia memberitakan salib dengan roh salib. Paulus adalah orang yang tersalib bersama Kristus; ini adalah pengalamannya dalam hayat. Ketika dia memberitakan salib, dia tidak menggunakan "kata-kata yang indah atau dengan hikmat", atau "kata-kata hikmat yang meyakinkan" (I Korintus 2:1,4) yang dimilikinya. Dia tahu bahwa itu tidak akan menjadi saluran air hayat Allah. Yang dia andalkan ialah "keyakinan akan kekuatan Roh" (ayat 4). Pemberitaan seperti itu adalah pemberitaan yang di dalamnya firman salib diberitakan dengan sikap salib. Dengan bakat alamiah dan pengalamannya, Paulus sebenarnya dapat mengucapkan kebenaran salib dengan kata-kata yang mengharukan dan teori-teori yang hikmat, memikat perhatian pendengarnya, membuat mereka mengerti apa yang dikatakannya, sehingga kisah salib yang kejam itu terdengar sangat menarik.. Dia dapat menggunakan banyak contoh yang sesuai dan kata-kata mutiara sederhana untuk menjelaskan misteri salib. Dia dapat mengutip Kitab Suci dan menjelaskan falsafah salib, menjelaskan kepada orang lain kematian pengganti dan penyaliban bersama. Paulus mampu melakukan hal-hal itu, tetapi dia tidak mau melakukannya. Hatinya tidak mengandalkan hal-hal itu, karena dia tahu, bahwa hal-hal itu tidak dapat memberikan hayat kepada orang lain. Dia tahu, bila dia melakukan hal itu berarti memberitakan kebenaran salib yang agung dengan cara-cara yang bertentangan dengan salib. Dalam pandangan orang dunia, salib itu hina, rendah, bodoh, dan jelek; memang demikianlah salib itu. Memberitakannya dengan kepandaian berbicara dan hikmat duniawi akan bertentangan dengan roh salib dan tidak akan mendatangkan faedah. Paulus rela meninggalkan bakat alamiahnya, untuk memberitakan salib dengan sikap dan roh salib. Itulah sebabnya Allah sangat memakai Paulus.
Kita masing-masing mempunyai bakat alamiah kita sendiri. Mungkin ada yang mempunyai lebih banyak, sedang yang lain mungkin memiliki lebih sedikit. Setelah kita menempuh pengalaman salib, kita cenderung mengandalkan atau menggunakan bakat alamiah kita untuk memberitakan salib yang baru kita alami. Betapa hati kita menginginkan agar pendengar kita dapat melihat apa yang telah kita lihat, atau damba memperoleh pengalaman yang sama seperti yang kita miliki! Namun, ternyata mereka sangat dingin dan reaksi mereka tidak seperti apa yang kita harapkan! Kita tidak menyadari bahwa pengalaman salib kita masih hijau! Kita belum menyadari; bahwa bakat alamiah kita yang baik itu juga perlu disalibkan bersama Tuhan, dan bahwa salib harus bekerja dalam diri kita, tidak hanya dalam hidup kita, bahkan juga dalam pekerjaan kita. Sebelum kita mencapai posisi kematangan, kita cenderung menganggap bakat alamiah kita tidak berbahaya tetapi bermanfaat; kita heran, mengapa kita tidak boleh menggunakan bakat alamiah kita? Sampai kita nampak pekerjaan yang dilakukan dengan menggunakan bakat alamiah kita hanya menimbulkan reaksi sementara, dan hal itu tidak menghasilkan pekerjaan Roh Kudus yang riil dalam roh manusia, maka kita mulai mengerti bahwa bakat alamiah kita tidak cukup, dan kita masih harus menuntut kekuatan yang lebih besar. Betapa banyak orang yang memberitakan salib dengan kekuatan diri mereka sendiri!
Saya tidak mengatakan bahwa mereka sendiri tidak memiliki pengalaman salib. Mungkin mereka telah memiliki pengalaman salib. Ketika mereka sedang bekerja, mereka juga tidak menyatakan, bahwa mereka bersandar kepada karunia atau kuasa mereka sendiri. Sebaliknya, mereka berdoa dengan tekun, mencari berkat Allah, dan bantuan Roh Kudus. Dalam batasan tertentu, mereka tahu bahwa diri mereka sendiri tidak dapat dipercaya. Namun, semua itu tidak membantu mereka, karena di dalam lubuk hati mereka, mereka masih percaya akan diri mereka sendiri, mengira bahwa petah lidah mereka, logika mereka, pemikiran mereka atau perumpamaan mereka bisa menggerakkan orang lain! Arti penyaliban ialah tidak berdaya, dalam kelemahan, kegentaran, ketakutan, dan juga mati. Inilah yang terjadi bila seseorang disalibkan. Karena itu, jika kita hendak mewujudkan hayat salib dalam hidup kita sehari-hari, kita juga harus mewujudkan roh salib dalam pekerjaan Tuhan. Kita harus memandang diri kita tidak berdaya dan harus selalu menganggap diri kita tidak patut dipercaya, dalam ketakutan, dan gentar. Jika demikian, kita akan memperoleh hasil dengan bersandar Roh Kudus.
Hanya mereka yang disalibkan, yang mau dan dapat percaya kepada Roh Kudus serta kuasaNya. Bila kita mempunyai sedikit kepercayaan pada diri kita, kita tidak akan percaya kepada Roh Kudus. Paulus sendiri adalah orang yang tersalib bersama Tuhan. Ketika dia bekerja, dia mewujudkan roh salib. Dia sama sekali tidak yakin akan dirinya. Karen dia memberitakan Juruselamat salib dengan cara salib, maka dia memiliki bukti kekuatan Roh Kudus. Kita harus mampu berkata bersama Paulus, "Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh" (I Tesalonika 1:5). Jika Roh dan kuasaNya tidak bekerja di balik kata-kata kita, meskipun kata-kata kita menarik, itu tidak ada gunanya. Oh, semoga kita meremehkan kemampuan alamiah kita, dan semoga kita rela kehilangan segalanya untuk memperoleh kuasa Roh Kudus Allah!
Di sini terletak kunci antara keberhasilan dan kegagalan seorang penginjil. Kadang-kadang, kita melihat dua penginjil yang berita dan ungkapannya sama. Namun Allah mampu menggunakan yang satu untuk mendapatkan banyak buah. Yang lain mungkin pembicaraannya rohaniah dan Alkitabiah, dan pendengarnya mungkin juga menaruh perhatian besar kepadanya, tetapi tak ada hasil dari pembicaraannya, tidak ada buah. Tidaklah sulit menemukan alasan di balik perbedaan ini. Menurut pengamatan saya, saya dapat melihat bahwa yang satu adalah orang yang benar-benar disalibkan; dia memiliki pengalaman itu. Yang lain hanya dalam pemikirannya. Orang yang tidak memiliki apa-apa selain pemikiran otak, pasti tidak dapat memberitakan salib dengan cara salib. Jika mereka yang memiliki hayat salib menyatakan pengalaman mereka dari roh mereka, Roh Kudus pasti menyertai mereka. Ada orang, meskipun ia lebih fasih daripada yang lain, dapat menganalisis dan menguraikan dengan baik, namun jika salib belum pernah bekerja dengan riil di atas dirinya, Roh Kudus tetap tidak akan bekerja sama dengan dia. Kekurangan kita ialah pekerjaan salib yang mendalam di atas diri kita, yang membuat Roh Kudus bekerja sama dengan kita dalam pemberitaan Injil kita, sehingga hayatNya mengalir keluar melalui kita. Meskipun Tuhan kadang-kadang mungkin menggunakan bakat alamiah kita, namun ini bukanlah sumber keberhasilan. Pekerjaan yang dilakukan bersandarkan hayat alamiah, kebanyakan adalah pekerjaan yang sia-sia. Hanya pekerjaan yang dilakukan melalui hayat yang adikodrati dapat menghasilkan banyak buah.
Sekarang marilah kita membaca ayat-ayat Alkitab yang lain, agar kita dapat memahami; apakah yang disebut dengan bersandar kepada hayat alamiah dan bersandar kepada hayat adikodrati. Tuhan Yesus berkata, "Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal" (Yohanes 12:24-25).
Di sini Tuhan menjelaskan prinsip berbuah. Biji gandum harus mati lebih dahulu sebelum menghasilkan banyak buah. Kematian adalah jalan yang diperlukan untuk menghasilkan buah. Kematian adalah cara yang unik untuk menghasilkan buah. Biasanya kita berdoa agar Tuhan mengaruniai kita kuasa yang lebih besar supaya kita dapat menghasilkan buah lebih banyak. Namun Tuhan mengatakan kepada kita, bahwa kita harus mati terlebih dahulu dan harus mempunyai pengalaman salib dulu, baru dapat memiliki kuasa Roh Kudus. Sering kali kita mencoba melangkahi Golgota untuk mencapai Pentakosta. Kita tidak menyadari, bahwa tanpa salib yang menyalibkan kita dan melucuti kita dari segala yang alamiah, Roh Kudus tidak dapat bekerja sama dengan kita untuk mendapatkan orang lain. Hanya melalui kematian, buah dapat dihasilkan.
Hakikat buah di sini juga membuktikan apa yang telah kita katakan di depan, bahwa tujuan pekerjaan kita ialah memberi hayat kepada orang lain. Bila biji gandum mati, ia menghasilkan banyak biji. Bila biji itu mati, ia akan membagikan hayat kepada banyak biji lainnya. Semua biji yang lain ini mengandung hayat di dalamnya; hayat yang mereka miliki berasal dari satu biji yang mati itu. Jika kita benar-benar mati, kita dapat menjadi saluran hayat Allah dan dapat membagikan hayat kepada orang lain. Hayat ini bukanlah suatu istilah yang hampa, melainkan benar-benar ada kuasa Allah yang keluar dari dalam kita sehingga orang lain mendapatkan hayat.
Buah yang dihasilkan oleh biji gandum ini berlipat ganda: "banyak buah". Bila kita terkurung dalam hayat kita sendiri, yang dapat kita peroleh melalui pekerjaan kita paling banyak satu atau dua orang. (Ini tidak berarti bahwa kita tidak bisa menyelamatkan seorangpun). Namun, bila kita mati seperti biji gandum, kita akan mendapatkan "banyak buah". Apapun yang kita lakukan, bahkan jika kita lalai akan beberapa kata, kita masih bisa menyebabkan orang lain diselamatkan atau terbina. Semoga kita menghasilkan banyak buah.
Tetapi, sebenarnya apakah arti jatuh ke dalam tanah dan mati? Kita akan memahaminya bila kita membaca firman Allah berikut ini: "Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal." Kata "nyawa" yang disebutkan beberapa kali di sini, dalam teks aslinya memakai kata yang berbeda. Yang satu menunjukkan hayat nyawa (jiwa), hayat alamiah; yang lain menunjukkan hayat rohaniah, hayat adikodrati. Karena itu, maksud Tuhan Yesus di sini ialah, "Barangsiapa mencintai hayat jiwanya, ia akan kehilangan hayat rohaninya, dan barangsiapa tidak mencintai hayat jiwanya di dunia ini, ia akan memelihara hayat rohaniahnya untuk hidup yang kekal." Secara sederhana, ayat ini mengatakan kepada kita, bahwa kita harus mematikan hayat jiwa kita sama seperti biji gandum dimasukkan ke dalam tanah, Kemudian kita akan menghasilkan banyak buah dalam hayat rohani kita, yang akan bertahan hingga kekal. Kita ingin mempunyai banyak buah. Namun, kita tidak tahu bagaimana cara mematikan hayat jiwa dan bagaimana memperhidupkan hayat rohani.
Hayat jiwa hanyalah hayat alamiah kita. Daging kita mampu hidup karena hayat jiwa kita. Nyawa (jiwa) adalah organ yang membuat kita hidup. Segala yang dimiliki seseorang secara alamiah, seperti tekad, kekuatan, emosi, dan pikirannya, semua adalah bagian dari jiwa. Segala yang dimiliki hayat alamiah adalah hasil tambahan dari hayat jiwa kita. Kepandaian kita, pikiran kita, petah lidah kita, emosi kita, dan kemampuan kita, semua termasuk dalam hayat jiwa kita. Hayat rohani adalah hayat Allah. Hayat ini tidak timbul dari bagian hayat jiwa, tetapi secara khusus diberikan kepada kita oleh Allah ketika kita percaya kepada salib Tuhan dan dilahirkan kembali. Yang dilakukan Allah dalam diri kita sekarang ialah mengembangkan hayat rohani ini dan mempertumbuhkannya, agar semua kebajikan kita dan kekuatan untuk bekerja berasal dari hayat rohani. Dia ingin mematikan hayat jiwa kita. (Kematian di sini berbeda dengan kematian dalam II Korintus 4. Kematian di sana adalah segi yang lain).
Sering kali kekuatan pekerjaan kita berasal dari kemampuan alamiah kita, dari hayat jiwa kita; kita sering menggunakan kefasihan kita, hikmat kita, pengetahuan kita, kemampuan kita, dan sebagainya. Salah satu yang paling hebat ialah kekuatan yang kita gunakan dalam pemberitaan kita itu berasal dari hayat jiwa kita; kita menggunakan kekuatan alamiah kita. Ini sangat mengurangi buah kita. Di dalam pekerjaan kita, kita tidak tahu bagaimana memakai kekuatan hayat rohani; sering kali kita menganggap hayat jiwa sebagai hayat rohani. Akibatnya, kita akhirnya tetap menggunakan kekuatan alamiah kita. Sering kali kita harus menunggu sampai seluruh kekuatan alamiah tubuh kita habis, baru kita mulai mengandalkan kekuatan hayat rohani. Banyak orang malahan tidak mencapai standar ini. Bila mereka merasa lemah dalam kekuatan fisik mereka, mereka lalu mengira bahwa mereka tidak dapat bekerja lagi. Yang lain, yang lebih maju, akan meneruskan dalam kelemahan mereka dan akan terus bekerja dengan bersandar kepada kekuatan Tuhan. Namun, jika kita benar-benar tahu bagaimana mati terhadap kekuatan alamiah (jiwa) kita, dan bersandar kepada kekuatan hayat rohani yang Allah karuniakan di dalam diri kita, kita tidak akan bersandar kepada kekuatan alamiah untuk pekerjaan kita, baik pada saat kita tidak mempunyai kekuatan alamiah atau pada saat kita penuh kekuatan alamiah. Saya sungguh sedih, karena banyak pekerjaan orang imani masih di dalam jiwa, meskipun mereka itu sangat tekun dan tulus. Pekerjaan semacam itu tidak mungkin menjamah dunia rohani. Perbedaan antara penggunaan kekuatan rohani, atau kekuatan jiwa, tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Kita hanya dapat memahaminya di dalam roh kita dan hati kita. Namun bila Roh Kudus menerangi kita, kita akan memahaminya dengan jelas di dalam pengalaman kita.
Tetapi dikarenakan kelemahan di antara banyak anak Allah, kita akan membicarakan persoalan ini secara terinci. Namun, kita hanya dapat mengharapkan Roh Kudus Allah secara pribadi menunjukkan kepada kita makna sebenarnya dari kebenaran ini dan bagaimana pelaksanaannya yang riil di dalam pengalaman kita. Ciri khas dari pekerjaan jiwa boleh dibagi dalam tiga aspek. Pertama ialah bakat alamiah; kedua ialah emosi, dan ketiga ialah pikiran.
BAKAT ALAMIAH
Telah kita kemukakan perihal bakat alamiah kita. Ada orang lebih cerdas, secara alamiah lebih tajam pikirannya daripada orang lain. Ada orang sangat fasih; bila mereka berbicara, argumen mereka selalu sangat masuk akal. Ada orang sangat analitis; mereka sangat pandai menganalisis persoalan-persoalan dengan logis. Ada orang sangat kuat tubuh jasmaninya; mereka mampu bekerja siang malam tanpa istirahat. Ada orang sangat cekatan; sangat pandai menangani urusan-urusan. Kita tahu bahwa Allah memang menggunakan bakat alamiah manusia, tetapi manusia sering kali bersandar pada bakat-bakat alamiahnya pada saat Tuhan memakainya. Misalnya, di sini ada seorang yang tidak pandai berbicara, tetapi cekatan menangani urusan-urusan; ada orang lain yang sangat fasih, tetapi tidak mampu menangani urusan-urusan. Jika Tuhan meminta keduanya menyampaikan berita, yang pertama pasti merasa, karena dirinya tidak pandai berbicara, maka ia harus banyak berdoa, harus bersandar sepenuhnya kepada Tuhan. Yang kedua merasa dirinya sangat fasih; meskipun dia juga akan berdoa, namun dia tidak akan tekun berdoa seperti yang pertama. Sebaliknya, jika Tuhan meminta keduanya menangani suatu urusan, maka bobot bersandar kepada Tuhan dari orang yang pertama, tidak akan sebesar orang yang kedua! Bakat alamiah kita adalah kekuatan hayat jiwa kita. Kita tidak menyadari betapa kita telah percaya akan diri sendiri dan betapa banyak kita bersandar pada kekuatan jiwa kita, ketika kita bekerja! Dalam pandangan Allah, terlalu banyak pekerjaan kita yang dilakukan melalui kekuatan jiwa.
EMOSI
Ada emosi berasal dari diri kita sendiri, ada yang dikarenakan orang lain. Adakalanya, orang yang kita cintai belum beroleh selamat, atau mereka tidak memenuhi harapan kita; melihat fakta itu kita tergugah, kita berusaha sebisanya untuk membawa mereka beroleh selamat atau membina mereka. Pekerjaan macam ini biasanya tidak efektif, karena motivasi pekerjaan ini berasal dari emosi kita. Kadang-kadang kita menerima kasih karunia khusus dari Allah; hati kita dipenuhi dengan terang dan sukacita, seakan-akan api berkobar di dalam kita dan memberi sukacita yang tak terkatakan. Pada saat-saat seperti itu, kehadiran Allah menjadi sangat nyata; jiwa kita juga tergerak sehingga timbul perasaan yang meluap-luap. Pada saat itu, bekerja bagi Tuhan terasa sangat mudah. Isi hati kita terasa seakan meluap keluar dan kita hampir tidak dapat menahan diri untuk tidak berbicara kepada orang lain tentang Tuhan. Biasanya, kita mungkin sadar bahwa kita harus hati-hati dalam kata-kata kita. Namun, pada saat seperti itu, ketika hati penuh dengan terang yang istimewa, kita berbicara tidak henti-hentinya tentang hal-hal Allah. Pekerjaan yang demikian sepenuhnya berasal dari emosi. Ada yang mengira bahwa mereka hanya dapat bekerja bila mereka merasakan "api" seperti itu di dalam hati mereka dan mereka merasa seolah-olah berada di sorga tingkat ketiga. Ketika Tuhan tidak memberi "perasaan" sukacita ini, mereka lalu merasa berton-ton beban bertumpu pada bahu mereka, dan mereka tidak dapat maju satu langkahpun. Kadang-kadang hati mereka dingin seperti es, tidak ada perasaan emosional sama sekali; pada saat-saat demikian, mereka merasa tidak dapat lagi memberitakan. Mereka merasa kering dan dingin dalam dirinya. Akibatnya, mereka tidak dapat bekerja; kalaupun mereka memaksa diri untuk bekerja, mereka sama sekali tidak berselera. Jerih payah mereka dikendalikan sepenuhnya oleh perasaan mereka. Bila perasaan itu ada, mereka membubung seperti burung elang. Bila perasaan itu hilang, mereka terhuyung-huyung dan tidak mau maju. Perasaan, rangsangan, dan emosi adalah bagian dari hayat jiwa. Karena itu, kaum saleh yang dikendalikan oleh perasaan, rangsangan, dan emosi mereka, bekerja dengan kekuatan hayat jiwa mereka. Mereka belum mampu mematikan hal-hal ini dan masih tidak mampu bekerja dalam roh.
Pikiran
Pekerjaan kita sering kali terpengaruh atau dikendalikan oleh pikiran kita. Karena kita tidak tahu bagaimana mencari kehendak Allah, sering kali kita menganggap pemikiran kita sebagai kehendak Allah, akibatnya kita tersesat. Menuruti pemikiran dan mendasarkan tindakan atas pikiran adalah hal yang sangat berbahaya. Kadang-kadang ketika kita mempersiapkan khotbah, kita berusaha keras menggunakan pikiran kita untuk menghasilkan garis besar, bagian-bagian, uraian, makna-makna, dan contoh-contoh. Khotbah seperti itu sangat mati. Khotbah itu mungkin bisa membangkitkan perhatian orang lain dan mungkin menimbulkan minat pendengar, tetapi tidak dapat memberikan hayat kepada orang lain.
Masih ada satu lagi pekerjaan pikiran; saya percaya banyak pekerja Allah sering mendapati diri jatuh ke dalam pekerjaan yang tidak diinginkan ini, yaitu ingatan (hafalan). Kita sering memberitakan firman kepada orang lain melalui daya ingat kita! Kita mengingat berita-berita yang pernah kita dengar, dan kita berbicara kepada orang lain berdasarkan ingatan kita. Kadang-kadang kita berbicara kepada orang lain dengan ayat-ayat Kitab Suci yang telah kita hafalkan atau dari bahan khotbah kita yang usang, catatan-catatan yang usang. Itu semua adalah pekerjaan pikiran. Ini tidak berarti bahwa kita sama sekali tidak pernah mengalami apa yang kita beritakan. Mungkin yang kita ketahui dan kita ingat adalah hal-hal yang dulu pernah diajarkan oleh Allah. Mungkin kita pun telah mengalami hal-hal yang kita ingat dan ketahui. Tetapi itu tidak dapat menghindar dari kenyataan bahwa semua itu masih merupakan pekerjaan pikiran. Karena setelah kita mengalami suatu doktrin, yang pada waktu kita alami doktrin itu menjadi hayat bagi kita, namun setelah beberapa waktu, pengetahuan akan doktrin itu hanya tinggal di otak kita. Kita lalu memberitakan doktrin yang dahulu kita alami berdasarkan ingatan kita, tetapi ini telah menjadi pekerjaan pikiran semata. Pikiran dan ingatan kita adalah organ-organ jiwa. Bila kita bersandar akan pikiran dan ingatan kita, maka kita bersandar pada kekuatan hayat jiwa. Kita masih dikendalikan oleh hayat alamiah.
Ketiga hal di atas adalah hal-hal utama dalam pekerjaan jiwani. Pekerjaan jiwani seperti ini bukanlah dosa, juga bukan sama sekali tidak dapat menyelamatkan orang, namun buahnya tidak seberapa. Kita harus mengalahkan pekerjaan jiwani dengan bersandar kepada salib. Tuhan Yesus memberitahu kita, bahwa hayat alamiah milik jiwa harus jatuh ke dalam tanah dan mati seperti biji gandum. Menurut pengalaman kita, kita sangat mencintai kemampuan alamiah kita, sangat mencintai perasaan kita, dan sangat bersandar pada pikiran kita. Namun, Tuhan kita mengatakan kepada kita, bahwa kita harus membenci hayat jiwa kita. Jika kita tidak membencinya, sebaliknya malah mencintainya, kita akan kehilangan kekuatan hayat rohani yang adikodrati itu. Dalam hal ini, kematian salib harus melakukan pekerjaan yang mendalam. Kita harus menyerahkan hayat jiwa yang kita sayangi kepada salib, rela mati bersama Tuhan di sini, dan menyingkirkan ketergantungan kita pada bakat alamiah, perasaan, dan pikiran. Kita tidak menyingkirkan pekerjaan ini dengan terpaksa, melainkan kita membenci pekerjaan macam ini dari dalam hati kita. Dalam pekerjaan, kita tidak hanya memandang memiliki bakat alamiah sebagai tidak memiliki, memandang memiliki emosi dan pikiran sebagai tidak memiliki, melainkan kita harus secara langsung membenci kekuatan hayat alamiah seperti itu, dan rela menyerahkannya kepada penyaliban di kayu salib.
Jika kita selalu bersikap membenci hayat jiwa kita pada sisi negatifnya, dan jika kita tidak mau berkompromi sama sekali, kita akan belajar dalam pengalaman bagaimana bersandar kepada kekuatan hayat rohaniah, dan menghasilkan buah bagi Allah.
CARA SEORANG YANG TERSALIB
MEMBERITAKAN SALIB
Dalam pelaksanaan kita, setiap waktu dan di manapun Tuhan mengamanatkan kita untuk memberi kesaksian bagiNya, kita harus menyingkirkan lagi adanya hasrat dalam diri kita untuk mengandalkan kemampuan alamiah kita, kita harus mengesampingkan emosi kita dan tidak memperhatikan perasaan kita sendiri. Bahkan pada saat-saat kita tidak mempunyai perasaan sama sekali, atau ketika emosi kita sedingin es, kita perlu berlutut di hadapan Tuhan dan memohon Dia untuk memperdalam pekerjaan salib di dalam diri kita, .sehingga kita dapat mengendalikan emosi kita, tak peduli emosi kita dingin atau panas, dan kita dapat bertindak sesuai dengan perintah Tuhan. Kita dapat memohon Tuhan untuk menguatkan roh kita dan mohon Tuhan memberikan pukulan yang fatal pada jiwa kita di salib. Jika kita melakukan hal ini, Tuhan akan merahmati kita dan akan mengalahkan emosi kita yang dingin. Meskipun kita telah tahu berita yang akan kita beritakan, namun kita tidak mau memberikan ajaran itu dari otak atau benak kita. Sebaliknya, kita merendahkan diri di hadapan Allah dan memohon Dia untuk menerangi kita lagi dengan ajaran-ajaran yang telah kita ketahui sebelumnya, dan memeteraikan lagi ajaran itu pada roh kita, supaya apa yang kita beritakan tidak menjadi sekadar ingatan akan pengalaman lama kita, tetapi kembali menjadi suatu pengalaman baru dalam hidup kita. Dengan demikian, Roh Kudus akan meneguhkan apa yang kita beritakan dengan kuasa. Sebaiknya, kita meluangkan banyak waktu di hadapan Tuhan sebelum pemberitaan kita untuk membiarkan firmanNya (yang sebagian telah kita ketahui) kembali terukir di dalam roh kita. Tetapi, kadang-kadang itu tidak membutuhkan waktu lama; Tuhan dapat mengukirkan beritaNya pada roh kita dalam beberapa menit. Untuk ini, setiap saat roh kita harus sangat terbuka bagi Tuhan dan selalu berhubungan erat denganNya.
Kita harus memperhatikan hal ini, karena ini berkaitan erat dengan keberhasilan atau kegagalan kita. Mungkin kita dapat meminta satu orang imani yang sudah jatuh untuk menyampaikan berita mengenai pengalamannya dahulu dengan menggunakan ingatannya, dan dia dapat memberitakan dengan meyakinkan. Namun, kita tahu, bahwa Roh Kudus tidak mungkin bekerja sama dengannya. Ketahuilah, semua pekerjaan yang kita lakukan dengan menggunakan ingatan kita, kurang-lebih sama dengan pemberitaan orang imani yang sudah jatuh. Kita harus tahu, bahwa pekerjaan yang kita garap dengan pikiran kita, sering kali adalah membuang tenaga. Pikiran hanya dapat mencapai pikiran orang lain, tidak mungkin dapat menggerakkan roh orang atau memberi hayat kepada orang. Pengalaman usang tidak mungkin dapat memperlengkapi kita untuk pekerjaan baru. Kita harus membiarkan Allah memperbarui pengalaman usang dalam roh kita.
Lebih-lebih dalam hal memberitakan keselamatan salib kepada orang dosa. Kita mungkin telah diselamatkan berpuluh-puluh tahun yang lalu. Jika kita bekerja berdasarkan ingatan kita, tidakkah berita yang kita sampaikan itu terlalu usang dan hambar? Jika kita sekali lagi nampak kejahatan dosa dalam roh kita, merasakan lagi kasih salib, dan bersimpati terhadap besarnya hasrat Kristus yang mendambakan orang-orang dosa datang kepadaNya, kita akan mampu menggambarkan salib dengan hidup dan jelas di hadapan manusia (Galatia 3:1), sehingga orang percaya. Kalau tidak, jika kita mencoba membujuk orang lain dengan kasih dan kegairahan kita, akhirnya kita sendiri mungkin menjadi tegar dan dingin! Ketika kita memberitakan penderitaan salib, mungkin hati kita sama sekali tidak terjamah oleh penderitaan itu dan tidak diluluhkan olehnya!
Kita harus membuka roh kita di hadapan Tuhan, membiarkan Roh Kudus mengalirkan firmanNya dan beritaNya melalui roh kita, supaya kita lebih dahulu diresapi dalam roh kita oleh firman Tuhan dan oleh berita yang kita sampaikan. Kita tidak boleh bersandar pada perasaan kita, bakat alamiah, dan pikiran kita, tetapi harus bersandar pada kuasa Roh Kudus, membiarkan beritaNya terukir dalam roh kita dan juga terukir dalam roh para pendengar. Setiap kali kita memberitakan, kita harus seperti Yesaya, yang menerima lebih dahulu beban untuk bernubuat, kemudian baru mengucapkan nubuatnya. Dalam Yesaya pasal 13 sampai dengan pasal 23, frasa "Ucapan ilahi" mengenai ini atau itu, sangatlah berarti ("Ucapan ilahi" di sini dalam bahasa Inggrisnya adalah "burden", yang berarti "beban"). Setiap kali sebelum kita memberitakan firman Allah, kita terlebih dahulu harus menerima beban Allah dalam roh kita. Setiap kali kita memberitakan, kita harus memikul beban berita yang kita sampaikan di dalam roh kita dan tidak boleh menganggap beban ini terlepas sampai pekerjaan kita selesai. Kita harus berdoa agar Tuhan memberi kita beban ini supaya pekerjaan kita tidak berasal dari emosi, bakat alamiah, atau pikiran kita. Kita juga harus memiliki pengalaman Yeremia, yang berkata, "Tetapi apabila aku berpikir: 'Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi namaNya', maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup" (20:9). Kita tidak boleh memberitakan firmanNya dengan sembarangan atau secara sembrono. Kita terlebih dahulu harus membiarkan firmanNya berkobar di dalam roh kita, sampai kita tidak bisa tidak berbicara. Namun, jika kita tidak mau mematikan hayat jiwa kita beserta kekuatannya, kita tidak mungkin dapat kembali lagi menerima firman Tuhan yang segar dalam roh kita.
Karena itu, saudara-saudara, jika kita ingin dipakai oleh Tuhan untuk menyelamatkan orang-orang dosa, menyegarkan orang-orang saleh, dan untuk memberitakan firman salib, kita harus membiarkan salib bekerja di dalam diri kita. Melalui pekerjaan salib, di satu pihak, setiap hari kita rela dimatikan demi Tuhan; di pihak lain, kita rela mematikan kekuatan hayat jiwa kita. Kita tidak lagi mengandalkan diri sendiri atau apapun yang keluar dari kita; kita membenci semua kekuatan alamiah kita. Dengan demikian, kita akan melihat hayat Allah dan kuasaNya akan mengalir ke dalam roh orang lain melalui pemberitaan kita.
Namun, meskipun sebagai pemberita Injil kita siap, kita mungkin masih bisa gagal, (tentunya tidak gagal sama sekali). Mengapa bisa gagal? Karena ada tekanan dan serangan Iblis.
TEKANAN DAN SERANGAN IBLIS
Iblis sangat tidak senang kalau kita memberitakan salib. Bila kita setia berbicara tentang salib, dia pasti akan mengadakan banyak penentangan. Dia melakukan serangan-serangan berikut ini terhadap pemberita-pemberita salib.
Iblis menyerang para pemberita salib dengan menyebabkan mereka sakit, kehilangan suara ketika menyampaikan berita, menempatkan mereka dalam bahaya, menyebabkan mereka tertekan rohnya dan tidak bisa bebas, seperti orang yang susah bernafas karena kekurangan udara. Iblis juga bekerja dalam lingkungan untuk membangkitkan kesalahpahaman, penentangan, dan kadang-kadang bahkan penganiayaan. Ia mendatangkan cuaca buruk untuk menghalangi orang untuk menghadiri sidang. Ia menimbulkan gangguan yang datang di luar dugaan atau kekacauan dalam sidang. Ia membuat hewan gaduh atau bayi menangis. Kadang-kadang dia bekerja dalam suasana sidang, membuat udara terasa menyesakkan sehingga mendatangkan rasa kantuk dan kekelaman. Semua itu adalah pekerjaan musuh. Pemberita salib harus sadar benar akan hal-hal itu.
Karena kita mempunyai musuh dan mendapat penentangan seperti itu, kita tidak boleh tidak mengetahui kemenangan salib. Yang telah Tuhan genapkan pada salib tidak hanya membereskan persoalan orang dosa, tetapi juga menyatakan penghakiman atas Iblis; Tuhan telah mengalahkan Iblis di kayu salib. Ibrani 2:14-15 mengatakan, "Supaya oleh kematianNya la memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian la membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepadn maut." Kolose 2:15 mengatakan, "la telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenanganNya atas mereka." Salib adalah tempat Iblis dikalahkan. Iblis menerima luka kematiannya pada salib. Kita tahu bahwa "Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya la membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu" (I Yohanes 3:8), tetapi di manakah perbuatan Iblis dibinasakan? Jawaban yang jelas ialah, "Di kayu salib." Kita juga tahu, bahwa Tuhan Yesus datang untuk mengikat "orang yang kuat" (Matius 12:29), tetapi di mana Dia melakukan hal itu? Tentunya, juga pada kayu salib Golgota.
Kita harus tahu, bahwa Tuhan Yesus Kristus telah meraih kemenangan pada kayu salib. Kita harus tahu kemenangan salib.
KEMENANGAN SALIB
Kita harus tahu, bahwa Iblis adalah musuh yang telah dikalahkan. Karena itu, kita tidak boleh dikalahkan lagi, musuh tidak boleh menyatakan kemenangan atas kita lagi. Iblis tidak berhak menang lagi! Dia tidak berhak atas apapun kecuali kekalahan total. Karena itu, baik sebelum kita melihat pekerjaan Iblis maupun setelah kita melihat pekerjaannya, kita harus menjunjung kemenangan salib. Kita harus memuji kemenangan Kristus dengan suara lantang! Sebelum kita memulai pekerjaan kita, kita harus mengatakan di hadapan Tuhan, "Terpujilah Tuhan, karena Dia menang! Kristus adalah Pemenang! Iblis telah dikalahkan! Musuh telah dihancurkan! Golgota adalah kemenangan! Salib adalah kemenangan!" Kita dapat mengatakan ini terus-menerus sampai kita yakin dalam roh kita, bahwa Tuhan akan mendapatkan kemenangan kali ini. Kita harus berdiri pada kedudukan salib dan berdoa untuk kemenangan Allah dan memohon Allah mengalahkan semua pekerjaan Iblis. Baik untuk diri kita sendiri maupun untuk mereka yang menghadiri sidang, kita harus memohon Allah untuk menutupi kita dengan darah adi Tuhan Yesus, supaya kita tidak diserang Iblis, tetapi sebaliknya, mengalahkan dia. "Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba" (Wahyu 12:11). Kali ini ketika saya sedang bekerja di propinsi Fukien selatan, Iblis sering datang untuk menekan dan menyerang saya. Yang ditunjukkan Tuhan kepada saya ialah bahwa saya harus berdiri pada kedudukan salib dan harus memuji Dia. Kadang-kadang roh saya merasakan tekanan yang sangat berat; saya tidak dapat bebas. Seakan-akan ada beban seberat ribuan ton di hati saya. Beberapa kali ketika saya memasuki balai sidang, saya dapat merasakan suasana berpolusi; Iblis sangat sibuk bekerja. Dalam keadaan seperti itu, walaupun saya banyak berdoa, tetap tidak membawa hasil. Namun, begitu saya memuji kemenangan Kristus pada salib, bermegah bersandarkan salib, menertawai musuh, dan berkata kepadanya bahwa ia tidak dapat bekerja lagi, dan ia pasti gagal, saya segera merasa keleluasaan, dan suasana balai sidang berubah. Puji Tuhan! Salib pasti menang! Puji Tuhan! Iblis telah kalah! Kita harus belajar menerapkan kemenangan salib yang beraspek banyak itu melalui doa kita untuk melawan tipu muslihat, kekuatan, dan serangan musuh. Jika muncul penentangan dan kekacauan, kita dapat menyerukan kemenangan salib di Golgota. Meskipun kita mungkin tidak merasakan apa-apa, kita harus percaya bahwa begitu kita menyerukan kemenangan salib, musuh pun dikalahkan.
Jika kita benar-benar menyatukan diri dengan salib sedemikian ini: membiarkan salib bekerja lebih dalam di dalam hidup kita dan pekerjaan kita, dan kita bersandar sepenuhnya kepada kemenangan salib, Allah akan memberi kita kemenangan ke manapun kita pergi. Semoga Allah menjadikan kita, (hamba-hamba yang tak berguna,) pekerja-pekerjaNya yang tak bercela.
W.N.