← Daftar isi Imamat (2) · bab 7/23

HUKUM TENTANG KURBAN PENDAMAIAN

Pembacaan Alkitab: Im. 7:11-38

Hukum tentang kurban pendamaian adalah hukum yang panjang mengenai kenikmatan atas Kristus. Tidak ada orang Kristen yang dapat membayangkan bahwa kenikmatan atas Kristus memiliki begitu banyak aturan. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mencantumkan peringatan mengenai kenikmatan atas Kristus yang tidak tepat atau tidak sesuai aturan. Satu Korintus 11:17 mengatakan bahwa kita berkumpul bersama bukan menjadi lebih baik tetapi menjadi lebih buruk. Ayat 27 mengatakan, “Jadi, siapa saja dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.” Ayat 29 mengatakan karena siapa yang “makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.” Di sini kita melihat bahwa perkataan dalam Perjanjian Baru lebih serius dibandingkan dalam Perjanjian Lama. Sekarang mari kita perhatikan sejumlah butir yang berhubungan dengan hukum tentang kurban pendamaian.

I. KURBAN PENDAMAIAN UNTUK KURBAN SYUKUR DIPERSEMBAHKAN

BERUPA ROTI BUNDAR YANG TIDAK BERAGI

YANG DIOLAH DENGAN MINYAK,

DAN ROTI TIPIS YANG TIDAK BERAGI

YANG DIOLESI DENGAN MINYAK,

SERTA ROTI BUNDAR DARI TEPUNG YANG TERBAIK YANG TERADUK,

YANG DIOLAH DENGAN MINYAK

Macam pertama kurban pendamaian adalah kurban pendamaian untuk kurban syukur. Dari semua kurban persembahan, yang satu ini paling lemah. Mengenai macam kurban pendamaian ini, Imamat 7:12 mengatakan, “Jikalau ia mempersembahkannya untuk memberi syukur, haruslah beserta kurban syukur itu dipersembahkannya roti bundar yang tidak beragi yang diolah dengan minyak, dan roti tipis yang tidak beragi yang diolesi dengan minyak, serta roti bundar dari tepung yang terbaik yang teraduk, yang diolah dengan minyak.” Ini menandakan bahwa Kristus, (entah dibaurkan dengan Roh yang tanpa dosa, atau diurapi dengan Roh itu tanpa dosa, atau sebagai Dia yang dijenuhi dengan Roh itu), adalah kurban sajian dalam kenikmatan kita atas Dia dalam perilaku-Nya, adalah kurban pendamaian kita, disalib dengan mencucurkan darah-Nya di atas salib (Kol. 1:20), dalam ucapan syukur kita kepada Allah.

II. DENGAN KURBAN PENDAMAIAN UNTUK UCAPAN SYUKUR,

ROTI BUNDAR YANG BERAGI DIPERSEMBAHKAN

“Ia harus mempersembahkan persembahannya itu beserta dengan roti bundar yang beragi, di samping kurban syukur yang menjadi kurban pendamaiannya” (ayat 13 Tl.). Ini melambangkan bahwa orang yang mempersembahkan, meskipun menikmati Kristus sebagai Dia yang tanpa dosa, masih memiliki dosa. Alasan kurban pendamaian untuk ucapan syukur adalah kurban pendamaian yang paling lemah, karena ia mengandung ragi. Ini menunjukkan bahwa orang yang mempersembahkan masih memiliki dosa dan karena itu ada dalam keadaan yang lemah.

III. DARI KURBAN SAJIAN, DARI SETIAP BAGIAN PERSEMBAHAN

HARUS DIPERSEMBAHKAN SATU ROTI SEBAGAI UNJUKAN BAGI TUHAN,

PERSEMBAHAN ITU ADALAH BAGIAN IMAM

YANG MEMPERSEMBAHKAN KURBAN PENDAMAIAN

“Dan dari padanya, yakni dari setiap bagian persembahan itu haruslah dipersembahkannya satu roti sebagai persembahan unjukan bagi TUHAN. Persembahan itu adalah bagian imam yang menyiramkan darah kurban pendamaian” (ayat 14). Ini memiliki dua makna. Pertama, karena persembahan unjukan adalah lambang Kristus dalam kenaikan-Nya, maka ini melambangkan bahwa Kristus sebagai kurban sajian dalam segala aspek-Nya dipersembahkan kepada Allah sebagai Dia yang naik ke surga. Kedua, kurban ini melambangkan bahwa Kristus yang demikian dibagikan dan dinikmati sebagai makanan oleh orang yang menyuplaikan Kristus sebagai kurban pendamaian. Ketika kita menyuplaikan Kristus yang naik ke surga kepada orang lain, kita berbagian dengan Kristus yang kita suplaikan.

IV. DAGING KURBAN SYUKUR DARI KURBAN PENDAMAIAN DIMAKAN

PADA HARI DIPERSEMBAHKAN,

SEDIKIT PUN DARINYA TIDAK BOLEH DITINGGALKAN SAMPAI PAGI

“Dan daging kurban syukur yang menjadi kurban pendamaiannya itu haruslah dimakan pada hari dipersembahkannya itu. Sedikit pun dari padanya janganlah ditinggalkan sampai pagi” (ayat 15 Tl.). Ini melambangkan bahwa kekuatan pemeliharaan dari kurban persembahan macam ini agak kecil, yaitu kurban ini sepenuhnya dinikmati pada hari dipersembahkan, dan pengalaman serta kenikmatan kita atas Kristus dalam aspek ini harus segar setiap hari.

Kita mungkin bersyukur kepada Allah dan mempersembahkan kepada Dia satu kurban pendamaian. Ini adalah kurban persembahan yang dalamnya kita menikmati Kristus di hadirat Allah. Namun, kurban pendamaian untuk ucapan syukur adalah kurban persembahan yang lebih lemah, dan kenikmatannya tidak dapat dibawa dari satu hari ke hari berikutnya. Daya tahan kurban persembahan ini tidak besar.

V. KURBAN SEMBELIHAN YANG DIPERSEMBAHKAN

SEBAGAI KURBAN NAZAR ATAU SUKARELA,

DIMAKAN PADA HARI MEMPERSEMBAHKANNYA,

SELEBIHNYA BOLEH DIMAKAN PADA KEESOKAN HARINYA

“Jikalau kurban sembelihan yang dipersembahkan itu merupakan kurban nazar atau kurban sukarela, haruslah itu dimakan pada hari mempersembahkannya dan yang selebihnya boleh juga dimakan pada keesokan harinya” (ayat 16). Ini melambangkan bahwa daya tahan kurban pendamaian untuk kurban nazar atau sukarela lebih kuat dibandingkan untuk ucapan syukur, yang harus dimakan pada hari mempersembahkannya, dan bahwa kekuatan kenikmatan kita atas Kristus dapat bertahan lama. Jika kurban persembahan kita kuat, kenikmatan kita atas kurban persembahan ini akan tahan lama.

VI. JIKA DAGING KURBAN PERSEMBAHAN

INI DIMAKAN PADA HARI YANG KETIGA,

ITU TIDAK DIPERKENAN, SESUATU YANG JIJIK,

DAN ORANG YANG MEMAKANNYA DIHUKUM

“Karena jikalau pada hari yang ketiga masih dimakan dari daging kurban keselamatan (pendamaian) itu, maka TUHAN tidak berkenan akan orang yang mempersembahkannya dan kurban itu dianggap batal baginya, bahkan menjadi sesuatu yang jijik, dan orang yang memakannya harus menanggung kesalahannya sendiri” (ayat 18). Ini melambangkan jika pengalaman kenikmatan kita atas Kristus itu usang, maka Allah tidak akan senang dan ini tidak benar terhadap Dia. Kenikmatan atas Kristus yang tidak menurut aturan adalah kejijikan bagi Allah. Karena itu, dalam 1Korintus 11 Paulus memperingatkan kita yang datang ke meja Tuhan, kita harus berhati-hati.

VII. DAGING KURBAN PERSEMBAHAN

YANG KENA KEPADA SESUATU YANG NAJIS JANGAN DIMAKAN,

HARUSLAH DIBAKAR DENGAN API

“Bila daging itu kena kepada sesuatu yang najis, janganlah dimakan, tetapi haruslah dibakar habis dengan api” (ayat 19a). Ini melambangkan bahwa kenikmatan atas Kristus sebagai kurban pendamaian kita harus dijaga dari semua yang najis.

VIII. DAGING KURBAN PENDAMAIAN

YANG TIDAK KENA KEPADA SESUATU

YANG NAJIS DIMAKAN OLEH ORANG YANG TAHIR

“Tiap-tiap orang yang tahir boleh memakan dari daging kurban itu” (ayat 19b). Ini melambangkan bahwa kenikmatan atas Kristus sebagai kurban pendamaian kita bukan saja harus dijaga dari kenajisan, orang yang memakannya juga haruslah orang yang tahir.

IX. ORANG YANG NAJIS YANG MAKAN

DAGING KURBAN PENDAMAIAN YANG UNTUK TUHAN HARUS

DILENYAPKAN DARI BANGSANYA

“Tetapi seseorang yang memakan daging dari kurban pendamaian yang untuk TUHAN, sedang ia dalam keadaan najis, haruslah nyawa orang itu dilenyapkan dari antara bangsanya. Dan apabila seseorang kena kepada sesuatu yang najis, yakni kepada kenajisan berasal dari manusia, atau kepada hewan yang najis atau kepada setiap binatang yang merayap yang najis, lalu memakan dari pada daging kurban pendamaian yang untuk TUHAN, maka haruslah nyawa orang itu dilenyapkan dari antara bangsanya” (ayat 20-21 Tl.). Ini melambangkan bahwa orang najis yang berbagian akan Kristus sebagai pendamaiannya, seperti pada meja Tuhan (1Kor. 10:16-17), harus disingkirkan dari persekutuan kenikmatan atas Kristus (lihat 1Kor. 5:13b). Orang yang najis adalah orang dosa. Orang demikian harus disingkirkan dari persekutuan meja Tuhan.

X. ANAK-ANAK ISRAEL DILARANG MAKAN

LEMAK DARI LEMBU, DOMBA, ATAU KAMBING

“Segala lemak dari lembu, domba ataupun kambing janganlah kamu makan” (Im. 7:23). Ini menandakan bahwa dalam kehidupan mereka setiap hari, anak-anak Israel harus menghormati makanan Allah, seperti ditunjukkan oleh lemak lembu, domba, dan kambing, yang lemaknya melambangkan bagian persona Kristus yang halus, lembut, dan terunggul.

Perkara ini penting. Sebagai imam-imam, ketika kita makan, kita perlu memperhatikan makanan Allah dan tidak boleh makan lemak, yang adalah bagian Allah. Ketika kita melaksanakan pelayanan imamat kita, kita melayani Allah, dan kita seharusnya tidak memperhatikan hal-hal kita sendiri, tetapi hal-hal Allah. Lemak, bagian terbaik kurban-kurban persembahan, tidak boleh dimakan oleh imam-imam, tetapi harus dipersembahkan kepada Allah untuk kepuasan-Nya.

XI. LEMAK BANGKAI ATAU LEMAK BINATANG YANG MATI

DITERKAM BINATANG BUAS,

JANGAN DIMAKAN OLEH ANAK-ANAK ISRAEL,

TETAPI BOLEH UNTUK KEPERLUAN LAIN

“Lemak bangkai atau lemak binatang yang mati diterkam boleh dipergunakan untuk segala keperluan, tetapi jangan sekali-kali kamu memakannya” (ayat 24). Ini melambangkan bahwa pencemaran kematian merusak makna kenikmatan Allah atas Kristus. Allah membenci kematian dan tidak ingin melihat segala sesuatu yang berhubungan dengan kematian.

XII. SETIAP ORANG YANG MEMAKAN LEMAK KURBAN PERSEMBAHAN

UNTUK TUHAN HARUSLAH DILENYAPKAN DARI BANGSANYA

“Karena setiap orang yang memakan lemak dari hewan yang dipergunakan untuk mempersembahkan kurban api-apian bagi TUHAN, nyawa orang yang memakan itu, haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya” (ayat 25). Ini melambangkan bahwa kita yang menikmati Kristus sebagai kurban persembahan untuk Allah, harus menyisihkan bagian terunggul dari persona Kristus bagi Allah, supaya kita tidak disingkirkan dari persekutuan kenikmatan atas Kristus. Persekutuan kenikmatan atas Kristus ini mengacu kepada meja Tuhan (Sidang Pemecahan Roti). Pada meja Tuhan, kita memiliki persekutuan dari kenikmatan atas Kristus.

XIII. DARAH, ENTAH DARI BURUNG ATAU BINATANG LIAR,

JANGAN DIMAKAN OLEH ANAK-ANAK ISRAEL

“Demikian juga janganlah kamu memakan darah apa pun di segala tempat kediamanmu, baik darah burung-burung ataupun darah hewan” (ayat 26). Ini melambangkan bahwa hanya darah Yesus yang harus diambil untuk penebusan kita (Yoh. 6:53-56; Ibr. 9:12).

XIV. SETIAP ORANG YANG MAKAN DARAH

APA PUN HARUSLAH DILENYAPKAN DARI BANGSANYA

“Setiap orang yang memakan darah apa pun, nyawa orang itu haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya” (ayat 27). Ini melambangkan bahwa setiap orang yang menganggap darah Kristus sebagai hal yang umum, harus disingkirkan dari persekutuan kenikmatan atas Kristus. Kita harus menghormati darah Kristus sebagai hal yang spesial, khusus, dan mustika. Jika kita makan darah apa pun, kita menjadikan darah Kristus umum. Ini adalah dosa.

XV. ORANG YANG MEMPERSEMBAHKAN KURBAN PENDAMAIAN MEMBAWA

SEBAGIAN DARI KURBAN PERSEMBAHAN KEPADA TUHAN SEBAGAI KURBAN API-APIAN,

LEMAK DIBAKAR UNTUK ALLAH DI ATAS MEZBAH,

DADANYA SEBAGAI PERSEMBAHAN

TIMANGAN DI HADAPAN TUHAN UNTUK HARUN DAN ANAK-ANAKNYA

“Katakanlah kepada orang Israel: Orang yang mempersembahkan kurban pendamaiannya kepada TUHAN, haruslah membawa kepada TUHAN sebagian dari kurban pendamaiannya itu sebagai persembahannya. Dengan tangannya sendirilah harus ia membawa segala kurban api-apian TUHAN; adapun lemaknya, haruslah dibawanya beserta dadanya, supaya dadanya itu ditimang sebagai persembahan timangan di hadapan TUHAN. Lalu haruslah imam membakar lemaknya di atas mezbah, tetapi dadanya itu adalah bagian Harun dan anak-anaknya” (ayat 29-31 Tl.). Ini melambangkan bahwa kita yang mengambil Kristus sebagai kurban pendamaian harus mempersembahkan bagian Kristus yang terbaik (lemak) kepada Allah untuk kepuasan-Nya, dengan bagian kasih Kristus (dada) dalam kebangkitan untuk kenikmatan orang yang melayani.

Persembahan timangan mengacu kepada Kristus dalam kebangkitan-Nya. Bagian terbaik dari kurban pendamaian adalah untuk Allah; bagian ini dibakar dengan api dan membubung kepada Allah. Bagian kasih, dada, diberikan untuk kita, orang yang melayani, untuk kenikmatan kita.

XVI. PAHA KANAN KURBAN PENDAMAIAN

DIBERIKAN UNTUK IMAM SEBAGAI PERSEMBAHAN UNJUKAN

“Paha kanannya harus kamu serahkan kepada imam sebagai kurban unjukan dari segala kurban pendamaianmu. Siapa dari antara anak-anak Harun yang mempersembahkan darah dan lemak kurban pendamaian, maka dialah yang harus mendapat paha kanan itu sebagai bagiannya” (ayat 32-33 Tl.). Ini melambangkan bahwa bagian terkuat Kristus (paha kanan) dalam kenaikan-Nya diberikan kepada orang yang melayani sebagai bagian untuk kenikmatannya.

Ayat 29-33 mewahyukan bahwa bagian terbaik, yaitu lemak, adalah untuk Allah; bagian kasih, yaitu dada, beserta juga bagian terkuat, paha kanan, untuk orang-orang yang melayani. Semakin kita melayankan Kristus sebagai kurban pendamaian, semakin kita mempersembahkan Kristus sebagai kurban pendamaian kepada Allah, kita akan semakin memiliki kapasitas mengasihi dan tenaga penguatan Kristus. Dengan demikian, kita menjadi kuat dan semakin mengasihi.

XVII. TUHAN MENGAMBIL DADA PERSEMBAHAN TIMANGAN

DAN PAHA PERSEMBAHAN UNJUKAN DARI KURBAN PENDAMAIAN

DAN DIBERIKAN KEPADA IMAM-IMAM

SEBAGAI BAGIAN MEREKA SELAMA-LAMANYA

“Karena dada persembahan timangan dan paha persembahan unjukan telah Kuambil dari orang Israel dari segala kurban pendamaian mereka dan telah Kuberikan kepada imam Harun, dan kepada anak-anaknya; itulah suatu ketetapan yang berlaku bagi orang Israel untuk selamanya” (ayat 34 Tl.). Ini melambangkan bahwa Allah telah memberikan, dalam kenikmatan kita atas Kristus sebagai kurban pendamaian, kapasitas mengasihi dan kuasa penguatan Kristus, untuk kita, imam-imam Perjanjian Baru, sebagai bagian kekal kita untuk kenikmatan kita dalam melayani Allah.

XVIII. ITULAH BAGIAN HARUN DAN ANAK-ANAKNYA YANG DIURAPI

DARI SEGALA KURBAN API-APIAN TUHAN PADA HARI MEREKA DISURUH DATANG

UNTUK MELAYANI TUHAN SEBAGAI IMAM-IMAM

“Itulah bagian Harun dan bagian anak-anaknya dari segala kurban api-apian TUHAN pada hari mereka itu disuruh datang untuk memegang jabatan imam bagi TUHAN; itulah yang harus diserahkan menurut perintah TUHAN dari pihak Israel kepada mereka pada hari mereka itu diurapi-Nya; itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi mereka turun-temurun” (ayat 35-36). Ini melambangkan bahwa kenikmatan atas kapasitas mengasihi dan kuasa penguatan Kristus berhubungan dengan pengurapan Allah atas kita untuk jabatan imam kita.

Kita telah diurapi oleh Allah menjadi imam-imam, dan Allah telah memberikan kepada kita kapasitas kasih dan kuasa penguatan Kristus. Jadi, kita dapat mengasihi dan berdiri untuk melayani Allah sebagai imam-imam.

XIX. ITULAH HUKUM TENTANG KURBAN BAKARAN, KURBAN SAJIAN,

KURBAN PENGHAPUS DOSA, KURBAN PENEBUS SALAH,

PERSEMBAHAN PENTAHBISAN DAN KURBAN PENDAMAIAN

“Itulah hukum tentang kurban bakaran, kurban sajian, kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, persembahan pentahbisan dan kurban pendamaian (Tl.), yang diperintahkan TUHAN kepada Musa di atas Gunung Sinai pada hari TUHAN memerintahkan kepada orang Israel mempersembahkan persembahan mereka kepada TUHAN di padang gurun Sinai” (ayat 37-38). Ini melambangkan bahwa persembahan diri kita untuk jabatan imam harus dengan Kristus yang almuhit sebagai lima kurban persembahan dan menurut pengaturannya.

Ayat 37 membentangkan lima macam kurban bersama dengan persembahan pentahbisan. Istilah persembahan pentahbisan lebih tepat diterjemahkan “persembahan diri”. Di sini tidak ada kurban keenam yang disebut persembahan pentahbisan. Sebaliknya, kelima kurban itu adalah untuk persembahan diri. Pada saat persembahan diri, Allah memberikan kurban-kurban persembahan ini, dalam berbagai aspek, untuk kenikmatan imam-imam.

Kita telah melihat bahwa dalam Imamat 1—5, kurbankurban persembahan ada dalam urutan yang khusus: kurban bakaran, kurban sajian, kurban pendamaian, kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah. Catatan ini tidak menurut doktrin, melainkan menurut pengalaman sesungguhnya. Namun, dalam memberikan hukum tentang lima kurban, urutan ini mengalami perubahan besar. Di sini hukum tentang kurban bakaran adalah yang pertama, diikuti oleh hukum tentang kurban sajian, kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, dan kurban pendamaian. Urutan yang belakangan ini menurut gambaran total ekonomi Allah. Dalam hati Allah dan dalam kedambaan-Nya, Allah mau memiliki Kristus menjadi empat jenis kurban persembahan untuk kita, kurban bakaran, kurban sajian, kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah. Kurban bakaran adalah persyaratan untuk kurban penghapus dosa, dan kurban sajian adalah persyaratan untuk kurban penebus salah. Dari empat kurban ini, dua adalah untuk persyaratan, dan dua adalah untuk hasilnya. Kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah adalah untuk hasil khusus. Ketika keempat kurban persembahan ini dilaksanakan, hasilnya adalah damai sejahtera. Damai sejahtera ini adalah yang didambakan Allah. Maksud hati Allah ialah supaya kita mau menikmati ekonomi-Nya di sekitar Anak-Nya, Kristus. Kristus adalah kurban bakaran, kurban sajian, kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah kita supaya kita dapat menikmati Dia sebagai damai sejahtera. Dalam ucapan syukur kita, dalam nazar kita, dan dalam persembahan sukarela kita, kita menikmati Kristus sebagai damai sejahtera kita dengan Allah. Ini adalah catatan totalitas ekonomi Allah.

Dalam Imamat 1—7 kita memiliki dua catatan: catatan menurut pengalaman dan catatan menurut ekonomi Allah dalam totalitasnya. Empat kurban persembahan, kurban bakaran, kurban sajian, kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah, semuanya untuk kenikmatan kita akan Kristus sebagai damai sejahtera kita dengan Allah di dalam segala hal.