← Daftar isi Bagian Kesatu Penyaluran Ilahi dari Trinitas Ilahi dan Hasilnya · bab 1/21

PERAMPUNGAN PENYALURAN ILAHI DARI TRINITAS ILAHI

Garis Besar dan Pembacaan Alkitab

I. Trinitas Ilahi — Bapa, Putra (Anak), dan Roh:

A. Bapa diekspresikan dalam Putra — Putra sebagai jelmaan Bapa — Yoh. 14:8-11.

B. Putra direalisasikan sebagai Roh — Roh itu sebagai realitas Putra — Yoh. 14:16-20.

II. Perampungan penyaluran ilahi dari Trinitas Ilahi:

A. Allah Tritunggal menjadi daging, menyalurkandiri-Nya sebagai anugerah dan realitas kepada manusia — Yoh. 1:1, 14, 16.

B. Allah Tritunggal menyalurkan Putra sebagai hayat yang kekal kepada kaum beriman-Nya — Yoh. 3:16.

C. Putra mati untuk membebaskan hayat ilahi dan untuk menyalurkannya kepada semua anggota Tubuh-Nya — Yoh. 12:24.

D. Putra bangkit, menjelma menjadi Roh, sebagai perampungan sempurna Allah Tritunggal, agar Allah Tritunggal dapat disalurkan ke dalam kaum beriman — Yoh. 20:8-9, 19, 22.

E. Putra di atas semua, mewarisi semua, dan diutus dari Allah untuk membicarakan firman Allah, dan menyalurkan Roh itu dengan tidak terbatas — Yoh. 3:31-36.

EKONOMI ILAHI

Syukur kepada Tuhan karena kita dapat mengadakan sidang istimewa ini. Dalam sidang istimewa ini Tuhan memberi saya suatu beban untuk bersama kalian membahas penyaluran ilahi dari Trinitas Ilahi dan hasil dari penyaluran ini. Pertama, kita akan membahas perampungan penyaluran ilahi dari Trinitas Ilahi.

Penyaluran ilahi dari Trinitas Ilahi adalah suatu perkara besar, perkara yang telah Allah rencanakan, perhitungkan, dan tetapkan menjadi tujuan-Nya. Dalam kekekalan lampau, Allah memiliki satu ekonomi ilahi. Berdasarkan ekonomi ini, Ia mengadakan satu gerakan untuk merampungkan penyaluran ilahi-Nya. Hal pertama yang Allah rampungkan adalah menciptakan segala sesuatu. Dalam penciptaan-Nya, ada langit, bumi, dan jutaan makhluk ciptaan lain. Tetapi dari semuanya itu, manusia adalah intinya. Dalam Kejadian 1, kita nampak bahwa Allah hanya memerlukan beberapa hari untuk menciptakan segala sesuatu. Setelah segala sesuatu sudah siap, pada hari terakhir Ia menciptakan manusia. Ketika manusia muncul dari tangan penciptaan Tuhan, manusia tidak berkekurangan. Ia memiliki segala sesuatu yang diperlukannya untuk makan, tempat tinggal, pakaian, dan hidup. Pada saat itu, Allah tidak atau belum mewahyukan kepada makhluk ciptaan-Nya yang mana pun, termasuk kepada malaikat, tujuan-Nya menciptakan segala sesuatu, langit, bumi, dan manusia. Rahasia penciptaan ini tersembunyi di dalam diri-Nya sendiri.

Setelah Allah menciptakan hal-hal lain, Ia menciptakan manusia. Ia menciptakan manusia dengan ciri yang berbeda: manusia diciptakan menurut gambar-Nya. Dengan kata lain, Ia menciptakan manusia menurut apa adanya diri-Nya. Gambar Allah, yaitu apa adanya diri-Nya, adalah apa yang ada di dalam Allah, yaitu kasih, terang, kudus, dan benar. Ia adalah kasih, Ia adalah terang, Ia adalah kudus, dan Ia adalah benar. Allah menciptakan manusia menurut kasih, terang, kudus, dan benar. Sebab itu, dalam diri manusia ada empat kebajikan ini. Meskipun kita jatuh karena nenek moyang kita, Adam, dan telah rusak dan bobrok, dalam diri kita masing-masing masih ada kasih dan terang. Kita masih lebih menyukai kekudusan daripada menjadi umum, dan kita semua ingin menjadi benar dan tidak ingin berbuat kesalahan atau menyalahi orang lain. Alasannya adalah karena kita semua diciptakan menurut gambar Allah. Manusia itu memiliki gambar Allah.

Selain itu, Allah menciptakan manusia menurut rupa-Nya yang di luar. Meskipun di satu pihak Alkitab mengatakan bahwa Allah tidak terlihat, namun di pihak lain, Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan rupa-Nya. Sebab itu, manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling indah. Saya yakin setiap orang di antara kita menghargai dirinya ketika ia melihat cermin. Semakin kita melihat diri sendiri, kita semakin menyukai diri kita, karena kita diciptakan menurut Allah. Kejadian 1 mengatakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu menurut jenisnya. Manusia diciptakan menurut Allah. Sebab itu, manusia diciptakan menurut jenis Allah. Kita adalah menurut jenis Allah karena kita diciptakan menurut Allah. Ini seperti foto Anda yang dibuat menurut diri Anda. Meskipun foto itu tidak memiliki hayat dan sifat Anda, itu benar-benar foto Anda. Tentu saja, benar pula jika dikatakan bahwa foto itu bukan diri Anda, karena Anda memiliki hayat, sifat, dan pemikiran; Anda dapat bernafas dan berbicara, sedangkan foto itu tidak dapat melakukan hal-hal itu. Dari hal ini kita dapat melihat hubungan Allah dengan kita. Allah adalah sumber manusia, dan manusia adalah ekspresi Allah.

Dalam kekekalan lampau, Allah memiliki rencana yang kekal, yaitu menggarapkan diri-Nya ke dalam sekelompok orang pilihan-Nya. Untuk itu, Ia menciptakan manusia, bukan hanya menurut gambar-Nya, tetapi juga memberinya roh, sehingga manusia dapat menerima Dia dan mengekspresikan Dia. Manusia yang Allah ciptakan memiliki roh, jiwa, dan tubuh. Jangan katakan menyelidiki roh dan jiwa, bahkan tubuh lahiriah kita saja tidak mampu diselidiki dengan tuntas oleh dokter yang terbaik, sungguh ajaib sekali! Lagi pula, di dalam jiwa manusia ada pikiran, kesenangan, konsepsi, dan sebagainya. Betapa ajaibnya hal ini! Setelah kita mengerti Alkitab sedikit, barulah kita mengerti tentang diri kita, karena Alkitablah yang mengungkapkan wahyu Allah kepada kita. Alkitab mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dengan tujuan agar Ia dapat masuk ke dalam manusia ciptaan-Nya itu. Karena kita diciptakan menurut Dia, Ia tentu akan senang dan nyaman masuk ke dalam kita. Jika kita tinggal di rumah sewaan, kita akan merasa tidak begitu nyaman tinggal di dalamnya, karena rumah itu tidak dibangun sesuai dengan maksud kita. Rumah saya di Anaheim dibangun oleh saudara-saudara untuk saya. Saya bukanlah insinyur sipil, juga tidak tahu apa-apa tentang arsitektur. Tetapi saya tahu bagaimana rumah itu harus dibangun. Saya menggambarkan suatu rancangan menurut rencana saya. Setelah saudara-saudara selesai membangun rumah itu, saya masuk dan benar-benar merasa nyaman di dalamnya. Alasannya, karena rumah itu dibangun menurut maksud saya dan rencana saya. Begitu pula dengan Allah. Ia memiliki suatu hasrat, yaitu pada suatu hari, Ia akan masuk dan tinggal di dalam manusia yang diciptakan-Nya.

Namun, manusia yang diciptakan Allah itu jatuh. Tetapi Allah tidak menyerah. Ia sendiri datang untuk merampungkan penebusan dan menggenapkan tujuan-Nya. Kita yang diciptakan Allah adalah bejana-bejana-Nya, dan kita dibuat untuk menampung Allah. Jika di sini masih ada teman yang belum percaya kepada Tuhan, dengan hormat saya mengatakan kepada Anda bahwa percaya kepada Allah adalah kebenaran yang paling besar. Karena kita adalah bejana-bejana yang diciptakan Allah, kita akan merasa kosong bila di dalam kita tidak ada Allah. Bila Allah masuk ke dalam kita, kita merasa mantap. Setiap orang di antara kita, entah itu tua atau muda, dapat bersaksi tentang hal ini. Sebelum kita percaya Tuhan, batin kita terasa hampa, tidak ada isinya, dan kaki kita tidak mantap. Suatu hari, kita mendengar Injil dan menyeru nama Tuhan Yesus. Ia masuk ke dalam kita menjadi hayat kita, dan Ia telah menjadi isi kita.

Sasaran Allah bukan hanya memiliki banyak orang beriman individu. Ia ingin memiliki satu manusia yang korporat, yaitu gereja, sebagai pasangan-Nya, Tubuh-Nya, untuk menjadi ekspresi korporat-Nya. Ini adalah ekonomi kekal Allah, rencana kekal-Nya, tujuan kekal-Nya, dan pengaturan kekal-Nya. Ini juga adalah hasrat hati-Nya. Hal ini dengan jelas diwahyukan dalam Alkitab.

Setelah saya beroleh selamat, saya mulai menyukai Alkitab. Kitab ini sudah saya pegang selama 65 tahun. Hampir setiap hari saya membacanya. Cara penulisannya sangat ajaib. Mengenai pokok bahasan apa saja, cara Alkitab mewahyukan pokok bahasan itu adalah sedikit di sini, sedikit di sana. Ketika saya membacanya, saya seperti seorang anak yang sedang menyusun gambar. Saya sudah bermain menyusun gambar ini selama bertahun-tahun dan masih melakukannya sampai sekarang. Kini Alkitab telah menjadi gambar yang jelas di dalam saya. Alkitab menunjukkan bahwa dalam kekekalan lampau Allah memiliki satu keinginan, yaitu mendapatkan sekelompok orang yang serupa dengan Dia, agar Ia dapat masuk ke dalam mereka sebagai hayat mereka, sifat mereka, dan segala sesuatu mereka. Akhirnya, Ia bukan hanya berkaitan dengan orang-orang itu, bahkan berbaur menjadi satu dengan mereka. Orang-orang itu menjadi kaum beriman-Nya, dan Ia mengumpulkan mereka dalam hayat-Nya dalam berbagai tempat untuk menjadi gereja-gereja di tempat-tempat itu. Gereja-gereja ini menyusun Tubuh Kristus, yaitu ekspresi-Nya yang korporat. Kini kita sedang berada dalam proses yang demikian.

PENYALURAN ILAHI

Beban saya dalam sidang ini adalah mempersekutukan tentang penyaluran ilahi dari Trinitas Ilahi. Allah itu esa, tetapi juga memiliki aspek tiga. Tujuan Trinitas Ilahi adalah menggarapkan diri-Nya ke dalam manusia ciptaan-Nya. Karena Ia ingin masuk ke dalam kita, Ia harus beraspek tritunggal. Ia haruslah berupa Bapa, Putra, dan Roh, pada saat yang sama sebagai satu kesatuan.

Dalam Alkitab, kitab yang membicarakan Allah sebagai tritunggal dengan sangat tuntas dan jelas adalah Injil Yohanes.

Lebih dari 40 tahun yang lalu, ketika kali pertama saya mengunjungi Taiwan, seorang teman saya mengirimi saya sebuah semangka yang besar. Ketika anak-anak saya melihatnya, mereka sangat senang. Mereka bertanya, semangka itu harus diapakan. Saya membawa semangka itu ke dapur, memotong-motongnya, dan membuatnya menjadi jus. Kemudian saya memberikan minuman itu kepada anakanak. Pada akhirnya, semangka itu menjadi unsur yang menyusun anak-anak. Karena itu, agar semangka itu dapat masuk ke dalam anak-anak melalui mulut mereka yang kecil, semangka itu harus melalui proses demikian.

Dengan cara yang sama, Allah kita beraspek tritunggal untuk menggarapkan diri-Nya ke dalam kita. Ia adalah Bapa, “semangka yang utuh”. Ia juga adalah Putra, yang sudah dipotong-potong. Ia juga adalah Roh, yang sudah diproses menjadi jus. Agar semangka yang besar itu dapat masuk ke dalam manusia, semangka itu harus melalui semua proses itu. Langkah-langkah itu adalah langkah-langkah penyaluran. Semangka itu bukan hanya perlu disalurkan, tetapi juga perlu dicerna dan diasimilasikan ke dalam susunan manusia. Demikian pula, Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh — telah melalui proses menjadi Roh pemberi-hayat sehingga kita dapat minum Dia dan Ia dapat menjadi unsur kita. Inilah penyaluran ilahi dari Trinitas Ilahi.

TRINITAS ILAHI — BAPA, PUTRA, DAN ROH

Bapa Diekspresikan dalam Putra — Putra sebagai Jelmaan Bapa

Injil Yohanes membicarakan kebenaran tentang Allah Tritunggal dengan cara yang paling dalam. Pertama, kitab ini menunjukkan bahwa Bapa terekspresi di dalam Putra. Dengan kata lain, Putra adalah jelmaan Bapa. Dalam Yohanes 14, salah seorang murid Tuhan, Filipus, berkata kepada Tuhan, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa . . . Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (ayat 8-11). Jadi, Putra adalah jelmaan Bapa, dan Ia mengekspresikan

Bapa di tengah murid-murid. Putra datang dalam nama Bapa dan bekerja dalam nama Bapa (Yoh. 5:43; 10:25). Ini berarti Ia dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30). Ia hidup karena Bapa (Yoh. 6:57); dan Bapa bekerja di dalam Dia.

Putra Direalisasikan sebagai Roh — Roh itu sebagai Realitas Putra

Selanjutnya, Tuhan berkata lagi dalam Yohanes 14:16-20, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran . . . Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu . . . sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Ini menunjukkan bahwa Putra adalah jelmaan dan ekspresi Bapa, dan Roh adalah realitas dan realisasi Putra. Bapa di dalam Putra terekspresi di antara kaum beriman, dan Putra menjadi Roh itu direalisasikan di dalam kaum beriman. Karena itu, Bapa ada di dalam Putra, dan Putra menjadi Roh itu. Allah Tritunggal telah menyalurkan diri-Nya ke dalam kita menjadi bagian kita, sehingga kita dapat menikmati Dia sebagai segala sesuatu kita di dalam Trinitas Ilahi.

PERAMPUNGAN PENYALURAN ILAHI DARI TRINITAS ILAHI

Allah Tritunggal Menjadi Daging, Menyalurkan Diri-Nya

sebagai Anugerah dan Realitas kepada Manusia

Sebelum Allah Tritunggal menjadi daging, penyaluran ilahi masih belum terlaksana. Empat ribu tahun setelah penciptaan, barulah Kristus dilahirkan sebagai seorang manusia. Ini adalah langkah pertama dari penyaluran Allah ke dalam manusia. Yohanes 1 memperlihatkan bahwa Firman yang adalah Allah dari semula menjadi daging dan datang ke tengah-tengah manusia, penuh dengan anugerah dan realitas (Yoh. 1:1, 14). Firman menjadi daging berarti Allah Tritunggal menjadi manusia daging. Dengan demikian, Allah masuk ke dalam manusia yang berdosa dan bersatu dengan manusia yang berdosa. Tetapi Ia hanya memiliki bentuk atau rupa manusia yang berdosa; Ia tidak memiliki dosa dari manusia yang berdosa. Ini dapat dilihat dari lambang ular tembaga yang ditinggikan oleh Musa di padang gurun (Yoh. 3:14). Dengan demikian, Ia menjadi manusia-Allah yang tidak berdosa. Manusia-Allah ini adalah Allah yang lengkap dan manusia yang sempurna, memiliki sifat ilahi dan sifat insani. Ia adalah Yang dinubuatkan dalam Yesaya 9:5, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita . . . dan namanya disebutkan orang . . . Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal.” Ia adalah anak, tetapi juga adalah Allah. Ia adalah Putra, tetapi juga adalah Bapa. Ia adalah manusia-Allah yang misterius.

Selain itu, semua orang yang percaya kepada-Nya juga telah menjadi manusia-Allah. Yohanes 1:12-13 mengatakan, “Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang dilahirkan . . . dari Allah.” Yang dilahirkan dari manusia adalah manusia. Jadi, yang dilahirkan dari Allah adalah allah. Tetapi ini tidak berarti kita yang dilahirkan dari Allah berbagian dalam ke-Allahan-Nya. Kita tidak memiliki persona (kepribadian) Allah, dan kita tidak bisa disembah sebagai Allah. Namun, sejauh pertumbuhan hayat kita, kita sama seperti Allah. Allah telah melahirkan kita kembali dan telah memberikan hayat-Nya kepada kita. Ini seperti dilahirkan dari bapa kita; kita berbagian dalam hayat yang sama seperti bapa kita. Ia adalah manusia; sebagai orang-orang yang dilahirkan dari dia, kita juga adalah manusia. Namun, kita tidak memiliki kedudukan sebagai bapa. Dari sudut pandang ini, kita sama dengan Allah yang telah melahirkan kita kembali, Ia dengan kita adalah manusia-Allah.

Ketika Allah Tritunggal menjadi daging, Ia menyalurkan diri-Nya kepada manusia sebagai anugerah dan realitas. Anugerah ini adalah Allah yang dinikmati oleh manusia, dan realitas ini adalah Allah yang didapat oleh manusia. Dalam Yohanes 4, Tuhan Yesus sengaja pergi ke Sikhar di Samaria, dan duduk di pinggir sumur Yakub, menunggu seorang perempuan Samaria datang untuk menimba air. Tuhan Yesus berkata kepadanya, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapa Dia yang berkata kepadamu, ‘Berilah Aku minum!’ niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”

Kemudian Ia berkata, “Siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya” (ayat 10, 14). Tuhan Yesus dengan cumacuma memberikan air hidup kepada manusia. Tidak perlu bayar apa-apa dan tidak perlu melakukan apa-apa. Ini adalah anugerah. Selain itu, air hidup ini dapat memberikan kepuasan hayat kepada manusia dan meleraikan haus manusia yang paling dalam. Ini adalah realitas. Air hidup ini adalah Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh, dengan Bapa terekspresi di dalam Putra, Putra direalisasikan sebagai Roh, tersalur ke dalam manusia. Dalam Yohanes 7 Tuhan Yesus juga berkata, “Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Siapa saja yang percaya kepada-Ku . . . Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Tuhan Yesus mengatakan hal ini berkaitan dengan Roh itu, yang akan diterima oleh orang-orang yang percaya kepada-Nya (Yoh. 7:37-39). Roh itu adalah perampungan Allah Tritunggal. Ia adalah air hidup yang diberikan kepada kita dengan cuma-cuma. Inilah anugerah. Ketika kita menerima Dia, haus kita dipuaskan, dan kita tidak lagi hampa. Ini adalah realitas.

Dalam Yohanes 9 kita nampak orang yang buta sejak lahir. Tuhan Yesus sebagai terang dunia datang kepadanya, meludah ke tanah, mencampurkan ludah-Nya dengan tanah, mengoleskan tanah itu ke matanya, dan menyuruhnya membasuh wajahnya di Kolam Siloam. Ketika ia membasuh wajahnya, ia dapat melihat kembali (Yoh. 9:1-7). Ia tidak membayar apa-apa, tetapi ia disembuhkan dengan cuma-cuma. Ini adalah anugerah Allah. Tuhan Yesus sebagai terang dunia telah membuat dia melihat dan tidak buta lagi. Inilah realitas.

Allah Tritunggal Menyalurkan Putra

sebagai Hayat yang Kekal kepada Kaum Beriman-Nya

Putra sebagai anugerah dan realitas Allah disalurkan ke dalam semua orang yang percaya kepada-Nya. Dengan kata lain, sebagai hidup kekal, Putra tunggal Allah disalurkan kepada kita (Yoh. 3:16).

Putra Mati untuk Membebaskan Hayat Ilahi

dan untuk Menyalurkannya kepada Semua Anggota Tubuh-Nya

Yohanes 12:24 menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sebagai biji gandum ilahi — yang mengandung hayat dan kemuliaan ilahi — membebaskan hayat ilahi melalui pecahnya kelopak (kulit pembungkus) tubuh-Nya dalam kematian untuk menghasilkan banyak biji gandum yang dibentuk menjadi satu roti, yaitu gereja, Tubuh Kristus, sebagai pertambahan-Nya, untuk mengekspresikan kemuliaan-Nya. Inilah penyaluran ilahi.

Putra Bangkit, Menjelma Menjadi Roh,

sebagai Perampungan Sempurna Allah Tritunggal,

agar Allah Tritunggal dapat Disalurkan ke Dalam Kaum Beriman

Ketika Tuhan masuk ke dalam kebangkitan, Ia menjadi Roh pemberi-hayat. Firman yang ada sejak semula adalah Allah Tritunggal itu sendiri. Ia menjadi daging, menempuh hidup manusia, penyaliban, kebangkitan, dan akhirnya, dalam kebangkitan Ia menjadi Roh, yang adalah perampungan sempurna Allah Tritunggal.

Pada malam kebangkitan-Nya, Tuhan datang ke tengahtengah murid-murid dan menghembusi mereka, dan berkata, “Terimalah Roh Kudus” (Yoh. 20:22). Roh Kudus di sini sebenarnya adalah Kristus yang bangkit itu sendiri, karena Roh itu adalah nafas-Nya. Firman yang ada sejak semula akhirnya menjadi nafas, yang adalah Allah Tritunggal itu sendiri. Bapa adalah sumber, Putra adalah aliran, dan Roh adalah realisasi. Allah Tritunggal direalisasikan sebagai Roh pemberi-hayat. Ini seperti sebuah semangka besar menjadi jus semangka yang mudah untuk diterima manusia. Karena itu, 1 Korintus 12:13 mengatakan, “Kita semua diberi minum dari satu Roh.” Dari hal ini, Allah Tritunggal disalurkan ke dalam kita menjadi hayat dan segala sesuatu kita. Inilah perampungan penyaluran ilahi dari Trinitas Ilahi.

Putra di Atas Semua, Mewarisi Semua,

dan Diutus dari Allah untuk Membicarakan Firman Allah,

dan Menyalurkan Roh itu dengan Tidak Terbatas

Yohanes 3 mewahyukan bahwa Putra yang menjadi daging ini mati, dan bangkit menjadi Roh, dan Ia ada di atas semua, mewarisi semua, dan diutus dari Allah untuk membicarakan firman Allah. Dalam zaman Perjanjian Lama, Allah berbicara melalui para nabi. Tetapi dalam Perjanjian Baru, Ia berbicara kepada kita di dalam Putra (Ibr. 1:1-2a). Putra adalah Allah itu sendiri. Ia adalah Allah yang terekspresi. Ketika Ia berada di bumi, apa saja yang dibicarakan-Nya, entah itu pengajaran, pemberitaan Injil, khotbah, dan baik itu dibicarakan di gunung, di pantai, maupun di rumah, semuanya adalah firman atau perkataan Bapa.

Menurut prinsip Alkitab, firman Allah tidak lain adalah diri Allah. Mendengarkan firman Allah adalah mendengarkan Allah. Menerima firman Allah adalah menerima Allah. Selain itu, firman tidak dapat dipisahkan dari Roh, dan demikian pula sebaliknya. Firman itu adalah Roh (Yoh. 6:63). Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Ia bukan hanya berbicara bagi Allah, tetapi Ia juga datang untuk menyalurkan Roh itu (Yoh. 3:34). Roh itu adalah perampungan sempurna dari Allah Tritunggal. Melalui penyaluran yang tidak terbatas ini, Allah Tritunggal yang telah melalui proses dimasukkan ke dalam kita, menjadi segala sesuatu kita.

Roh itu bukan hanya Roh Allah sebelum inkarnasi Tuhan. Roh itu adalah Roh Allah setelah kebangkitan Tuhan. Sebagai Roh yang demikian, Ia adalah perbauran Roh Kudus yang memiliki sifat ilahi, dengan inkarnasi Tuhan (keinsanian-Nya), kehidupan insani-Nya, penyaliban-Nya, dan kebangkitan-Nya. Ini dilambangkan dengan minyak urapan kudus yang diramu dari minyak zaitun yang dicampurkan dengan empat macam rempah-rempah, seperti yang diuraikan dalam Keluaran 30:23-25. Dalam Roh yang majemuk ini, ada keilahian, keinsanian, khasiat kematian Kristus, dan keharuman kebangkitan-Nya. Roh ini adalah Allah, Ia adalah Bapa dan Putra, dan Yesus Kristus. Ketika kita menyeru nama Tuhan, Ia masuk ke dalam kita, dan Ia bersatu dengan kita, berbaur dengan kita, menyalurkan diriNya ke dalam kita bersama seluruh kekayaan-Nya, untuk menjadi hayat dan suplai hayat kita.

Hari ini, untuk menjadi orang Kristen sejati yang mengasihi Tuhan, kita tidak perlu mengejar hal-hal lain. Kita hanya perlu bertumbuh dan maju hari demi hari dalam perbauran Allah dengan manusia. Dengan ini, kita akan bertumbuh dengan pertumbuhan Allah (Kol. 2:19).