← Daftar isi Latar Belakang dan Posisi Kitab ini · bab 16/23

MEMPERSEMBAHKAN TIAP-TIAP ORANG DEWASA PENUH DALAM KRISTUS

Pembacaan Alkitab:

Kol. 1:25-28; 2:2, 9; 3:4a; Ef. 3:8-11, 4; 1:23;

Yoh. 6:57b; 14:19b; Gal. 2:20a; Ef. 4:15, 13b

Berbicara mengenai Kristus yang tinggal di dalam kita sebagai pengharapan akan kemuliaan, Paulus mengatakan dalam Kolose 1:28: “Dialah yang kami beritakan bilamana tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin (mempersem-bahkan) tiap-tiap orang kepada kesempurnaan (dewasa pe-nuh) dalam Kristus.” Istilah “kepada kesempurnaan” dalam bahasa aslinya juga berarti kedewasaan, penuh lengkap, matang. Ministri Paulus adalah menyalurkan Kristus ke-pada orang lain agar mereka dapat menjadi sempurna dan lengkap dengan menjadi dewasa penuh dalam Kristus. Akan tetapi, banyak pekerja Kristen hari ini yang sama sekali tidak mempunyai konsepsi untuk mempersembahkan tiap-tiap orang dewasa penuh dalam Kristus. Sasaran usaha mereka adalah sesuatu yang lain dengan ini. Namun, kita harus mempunyai sasaran yang sama dengan yang dimiliki Paulus.

Dalam pemberitaan Injil sekalipun, sasaran kita harus-lah menyalurkan hayat untuk mempersembahkan tiap-tiap orang dewasa penuh dalam Kristus. Ketika kita memberita-kan Injil kepada orang-orang yang tidak percaya, menyup-laikan Kristus kepada mereka, dan membantu mereka me-nerima Tuhan, sasaran kita bukan hanya agar mereka diselamatkan dari telaga api dan dari hukuman Allah. Sa-saran kita bukan hanya menghendaki mereka mengalami pengampunan Allah, melainkan menyuplaikan Kristus ke dalam mereka agar pada akhirnya mereka dapat dipersem-bahkan dewasa penuh dalam Kristus. Jika kita tidak bisa menyalurkan Kristus kepada orang ketika kita memberita-kan Injil, maka penginjilan kita tidak memenuhi standar Allah. Kristus harus diinfuskan ke dalam orang-orang yang kita ajak bicara. Menyalurkan Kristus harus menjadi sa-saran penginjilan kita.

Kita pun harus mempunyai sasaran yang sama dalam persekutuan kita dengan kaum saleh. Ketika kita berkon-tak dengan kaum saleh, sasaran kita haruslah menyuplai-kan Kristus ke dalam mereka agar mereka dapat dewasa di dalam Dia.

Baiklah sekarang kita meninjau beberapa hal yang berkaitan dengan masalah mempersembahkan tiap-tiap orang dewasa penuh dalam Kristus.

I. MELALUI MENYUPLAIKAN KRISTUS SEBAGAI BAGIAN ORANG-ORANG KUDUS

Jika kita ingin mempersembahkan tiap-tiap orang de-wasa penuh dalam Kristus, kita harus menyuplaikan Kristus sebagai bagian orang-orang kudus kepada mereka (1:12). Kristus yang kita suplaikan haruslah Dia yang almuhit, sentralitas dan universalitas ekonomi Allah (1:15, 18-19, 27; 2:2, 9, 16-17; 3:4, 11). Jika kita tidak mengalami Kristus dengan sepenuhnya, kita akan sukar menyuplaikan Kristus kepada orang lain. Sebagai contoh, jika kita tidak meng-alami hidup oleh Kristus, kita tidak dapat membantu siapa pun untuk hidup oleh Kristus. Tetapi jika dalam kehidupan sehari-hari kita memperhidupkan Kristus, mempertumbuh-kan Kristus, dan menghasilkan Kristus, dengan spontan kita akan menginfuskan Kristus ke dalam orang-orang ke-tika kita berkontak dengan mereka. Semakin kita meneri-ma Kristus sebagai hayat dan persona kita, kita akan sema-kin dapat menyuplaikan Kristus kepada orang lain. Sebagai orang-orang yang telah mengalami Kristus dan hidup oleh-Nya, kita akan mempengaruhi orang lain untuk melaku-kan hal yang sama. Kita perlu menikmati Kristus sebagai tanah permai kita, berjerih lelah atas Dia, hidup di dalam Dia, berjalan di dalam Dia, dan membawa diri kita di da-lam Dia. Jika kita adalah orang yang demikian, niscayalah kita akan mentransfusikan Kristus yang kita alami dan yang oleh-Nya kita hidup itu kepada orang lain. Apa yang kita butuhkan dalam pemulihan Tuhan tidak saja lebih ba-nyak berusaha untuk membawa orang ke dalam hidup ge-reja, tetapi juga menyuplaikan kekayaan Kristus ke dalam orang lain agar mereka dapat bertumbuh dan matang. Untuk ini kita sendiri perlu lebih banyak mengalami Kristus sebagai bagian orang-orang kudus.

II. MELALUI MENYUPLAIKAN KEKAYAAN

KRISTUS YANG TIDAK TERDUGA

BAGI PEMBANGUNAN GEREJA

Kedua, untuk mempersembahkan tiap-tiap orang dewa-sa penuh dalam Kristus, kita perlu menyuplaikan kekayaan Kristus yang tidak terduga bagi pembangunan gereja untuk memenuhi kehendak Allah yang kekal (Ef. 3:8-11). Mungkin saja kita diakui secara umum sebagai seorang saudara atau saudari yang baik, tetapi kita tetap kekurangan kekayaan Kristus. Dalam kontak saya dengan kaum saleh ketika saya bepergian, saya menjumpai banyak saudara saudari yang kekurangan kekayaan Kristus dalam kehidupan sehari-hari mereka, walaupun setiap orang menganggap mereka sau-dara atau saudari yang sangat baik. Semoga Tuhan mem-bangkitkan cita-cita dalam batin kita untuk menjadi kaya di dalam Kristus. Kita perlu berdoa, “Tuhan, aku tidak mau menjadi orang yang kelihatannya baik, tetapi miskin dalam hal kekayaan Kristus. Tuhan, bagi pembangunan gereja, penuhilah aku dengan kekayaan-Mu.”

Saya bersyukur kepada Tuhan bagi kaum saleh yang kehidupannya memiliki kekayaan Kristus. Saudara dan saudari yang demikian adalah bening, tembus pandang. Se-baliknya, mereka yang kekurangan kekayaan Kristus ada-lah buram, sama sekali kekurangan kebeningan. Orang-orang yang memiliki kekayaan Kristus adalah sebening kristal. Kapan saja Anda mempersekutukan sesuatu dengan mereka, masalahnya akan menjadi jelas bagi Anda, sebab mereka sendiri demikian beningnya. Orang-orang yang menikmati kekayaan Kristus akan menjadi sebening kristal. Semakin kita mengalami kekayaan Kristus, kita akan semakin men-jadi bening. Semoga kita semua damba menjadi orang-orang yang kaya di dalam Kristus dan menjadi bening sepenuh-nya. Semoga kita berdoa, “Tuhan, jadikan aku satu anggota Tubuh yang kaya di dalam hayat-Mu dan yang bening. Se-lamatkan aku dari menjadi satu anggota yang baik, tetapi kekurangan Kristus.”

Hanya orang-orang yang kaya di dalam Kristus yang dapat membangun Tubuh bagi penggenapan kehendak Allah yang kekal. Kita harus akui bahwa kita belum memiliki banyak pembangunan di antara kita. Kita mungkin lebih banyak memperhatikan kerohanian dan pertumbuhan pri-badi kita daripada memperhatikan pembangunan gereja. Jika kita kekurangan Kristus dan kebeningan, kita akan kurang memperhatikan pembangunan gereja. Tetapi jika kita dipe-nuhi kekayaan Kristus dan karenanya kita menjadi bening, kita pasti akan benar-benar memperhatikan pembangunan gereja sehingga kehendak Allah dapat terampungkan.

III. MELALUI MELENGKAPKAN FIRMAN ALLAH

Kita mempersembahkan tiap-tiap orang dewasa penuh dalam Kristus melalui melengkapkan firman Allah dengan wahyu penuh Kristus dan gereja (1:25-27). Untuk memper-sembahkan tiap-tiap orang dewasa penuh dalam Kristus, kita harus membantu mereka memperoleh firman Allah yang lengkap, yaitu mengenai Kristus sebagai rahasia Allah dan gereja sebagai rahasia Kristus. Namun, jika kita meli-hat situasi kita sendiri, kita akan menyadari bahwa tidak banyak di antara kita yang dapat melengkapkan firman Allah secara demikian. Karena alasan ini, maka saya berbeban agar kita tergerak untuk menuntut Tuhan. Kita perlu me-rasa haus dan lapar akan Dia, menuntut Dia hingga kita dipenuhi dengan kekayaan-Nya. Kita perlu berdoa, “Tuhan Yesus, kami tidak mau menjadi orang yang acuh tak acuh atau yang suam-suam kuku. Kami ingin mutlak terhadap-Mu dan menuntut-Mu sampai sepenuhnya.” Jika kita me-nuntut Tuhan dengan cara demikian, kita akan nampak lebih banyak tentang Kristus dan gereja. Tetapi jika kita terus kekurangan kekayaan Kristus, kita tidak akan memi-liki kelengkapan firman Allah dalam pengalaman kita sen-diri. Karena itu, di sini ada kebutuhan yang mendesak bagi kita untuk berdoa dan berjerih lelah atas Kristus demi ke-lengkapan firman Allah mengenai Kristus dan gereja.

IV. MELALUI MENYUPLAIKAN KRISTUS

SEBAGAI RAHASIA ALLAH

Keempat, kita perlu menyuplaikan Kristus sebagai ra-hasia Allah, yakni sebagai perwujudan Allah (2:2, 9). Kita perlu membagi nikmat dengan orang lain dari pengalaman kita bagaimana Kristus sebagai perwujudan Allah Tritung-gal. Kita perlu bersaksi bagaimana kita dari hari ke hari mengalami Kristus sebagai Bapa, Putra, dan Roh. Karena kita memiliki Kristus, kita pun berada dalam Roh. Roh yang beroperasi di dalam kita itu sebenarnya adalah Kristus itu sendiri. Hari demi hari kita harus menjadi satu roh dengan Tuhan dan mengalami kesatuan-Nya dengan kita (1 Kor. 6:17). Dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari kita, tidak peduli di mana kita berada, kita perlu semakin mengalami bahwa kita adalah satu roh dengan Tuhan. Ini tidak seha-rusnya menjadi satu doktrin atau teori, melainkan harus menjadi kehidupan kristiani kita yang riil.

Mengenai ministri saya, saya sering berdoa demikian, “Tuhan, berilah aku anugerah untuk menjadi satu roh de-ngan-Mu ketika aku berbicara. Tuhan, aku mohon agar Eng-kau berbicara dalam pembicaraanku. Aku percaya, Tuhan, Engkau adalah satu Roh denganku. Aku juga minta kepa-da-Mu, ketika aku melayankan firman, buatlah aku menja-di satu roh dengan-Mu.” Segala daya dobrak dalam ministri ini dihasilkan dari kesatuan yang demikian dengan Tuhan.

Tuhan adalah perwujudan Allah Tritunggal. Ini berarti segala kekayaan Bapa terwujud di dalam Putra. Tidak hanya demikian, Putra telah direalisasikan sepenuhnya sebagai Roh itu, yang sekarang adalah satu roh dengan kita. Seba-gaimana Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 6:17, “Teta-pi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Masalah menjadi satu roh dengan Tuhan ini janganlah menjadi satu doktrin belaka bagi kita. Sebaliknya, hal ini harus menjadi pengalaman sehari-hari kita yang riil. Dalam pengalaman kita, kita harus menge-tahui apa yang dimaksud dengan menjadi satu roh dengan Tuhan, yang adalah perwujudan Allah Tritunggal. Jika kita mengalami Kristus sebagai perwujudan Allah, kita akan dapat menyuplaikan Kristus kepada orang lain untuk me-melihara mereka dan memperkaya mereka. Ketika kita me-nyuplaikan Kristus kepada orang lain sedemikian, mereka akan bertumbuh di dalam Dia. Pertumbuhan berasal dari makan. Jika orang lain makan Kristus yang kita suplaikan kepada mereka sebagai rahasia Allah, mereka akan digenapkan dan matang di dalam Kristus.

V. MELALUI MENYUPLAIKAN GEREJA

SEBAGAI RAHASIA KRISTUS

Jika kita ingin memimpin setiap orang mencapai kematangan di dalam Kristus, kita harus melayankan gereja sebagai rahasia Kristus, sebagai ekspresi Kristus (Ef. 3:4; 1:23). Iblis dengan licik membuat banyak orang Kristen yang menuntut menghindari masalah gereja.

Pengalaman saya dengan Saudara T. Austin Sparks mengilustrasikan betapa keras hatinya orang-orang yang menghindari masalah gereja. Atas undangan kami, dia da-tang ke Taiwan pada tahun 1955. Kami menikmati waktu bersama yang indah ketika dia membahas tentang Kristus. Dia dapat menggemakan dengan jelas apa yang telah kami nampak tentang Kristus. Pada tahun 1957 dia datang ke Taiwan untuk kali kedua. Dalam kunjungannya kali ini ia menyinggung masalah tumpuan gereja, kedudukan gereja, secara negatif. Pada tahun 1958 saya menerima undangan-nya untuk mengunjunginya di Inggris. Selama hari-hari kami bersama, kami melakukan pembicaraan yang panjang tentang gereja. Namun, dia tidak dapat mengubah pikiran saya, dan saya juga tidak dapat mengubah konsepsinya. Dia berusaha sedapatnya untuk menghindari masalah gereja, tetapi saya berpendapat bahwa kita harus berjerih lelah untuk pembangunan gereja-gereja. Dia bertujuan untuk meyakinkan kita bahwa kita harus meninggalkan tumpuan gereja. Tetapi saya menunjukkan kepadanya bahwa tidak-lah mungkin kita memiliki gereja secara riil tanpa tumpuan gereja. Saudara Sparks mencoba meyakinkan saya bahwa dia tidak menentang gereja. Dia selanjutnya berkata kepada saya bahwa selama tahun-tahun pertama dalam ministri-nya, dia diundang untuk berkhotbah di Edinburgh. Ketika dia membicarakan masalah Kristus, balai sidang itu penuh sesak, dan para hadirin sangat responsif. Tetapi ketika dia membicarakan masalah gereja, jumlah hadirin berkurang. Itulah yang menyebabkan dia merasa bahwa tidaklah meng-untungkan jika membicarakan masalah gereja.

Saya lalu bertanya kepada Saudara Sparks, bagaimana cara kita mempraktekkan prinsip-prinsip yang telah sama-sama kita lihat tentang Tubuh Kristus. Dia mengakui bahwa prinsip-prinsip itu tidak dapat dipraktekkan di da-lam denominasi. Tetapi dia juga tidak mau mengakui bah-wa prinsip-prinsip itu hanya dapat dipraktekkan di atas tumpuan gereja yang tepat. Sebaliknya, dia menekankan fakta bahwa gereja hanya dapat dihasilkan berdasarkan banyak doa dan melalui Roh. Lalu saya berkata kepadanya, “Menurut Anda, apakah gereja-gereja di Taiwan yang seba-nyak itu tidak dihasilkan berdasarkan doa dan melalui Roh?” Saya juga bertanya kepadanya tentang apa yang harus di-lakukan sekelompok orang kudus setelah mereka berdoa bagi gereja. Dia masih tetap tidak mengakui bahwa me-reka seharusnya berdiri di atas tumpuan kesatuan gereja. Dia hanya mengatakan bahwa mereka perlu yakin bahwa pergerakan apa saja yang mereka lakukan berasal dari Roh itu. Itulah kesimpulan percakapan kami tentang gereja.

Saya berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkannya mengenai gereja, dan dia pun berusaha sekuat tenaga un-tuk menghindari masalah gereja. Akhirnya, kami berdua tidak ada yang mau mengubah posisi masing-masing.

Hari ini peperangan sedang berkecamuk atas masalah gereja sebagai ekspresi Kristus. Karena tipu muslihat mu-suh, kebanyakan toko buku Kristen hanya mau menjual buku-buku Saudara Watchman Nee yang membahas masa-lah kerohanian, tetapi tidak mau menjual buku-buku yang membahas masalah gereja. Akan tetapi, orang-orang Kris-ten tidak dapat mencapai kedewasaan tanpa hidup gereja. Buku-buku Saudara Watchman Nee yang berkaitan dengan masalah kerohanian telah terkenal di kalangan orang-orang Kristen di seluruh dunia selama bertahun-tahun. Tetapi po-pularitas buku-buku ini tidak menyebabkan kondisi kekris-tenan mengalami banyak perbaikan. Tanpa hidup gereja, bantuan yang diterima orang dari buku-buku Saudara Watchman Nee akhirnya akan bocor, karena hidup gereja merupakan satu-satunya wadah yang tepat untuk meme-lihara bantuan tersebut. Bagi sejumlah orang, buku-buku rohani tulisan Saudara Watchman Nee sebagian besar telah memberikan konsepsi baru secara doktrinal, tidak banyak yang diperoleh bagi penggenapan kehendak Allah. Apakah Tuhan hanya menghendaki orang mencari kerohanian, te-tapi tidak mengambil bagian dalam hidup gereja yang nor-mal? Pasti tidak! Di luar gereja, kehendak Allah tidak mungkin digenapkan. Karena kita menyadari hal ini, maka beban Tuhan mengenai gereja menekan dengan beratnya di atas diri kita. Kita perlu mempraktekkan kehidupan gereja bagi penggenapan kehendak kekal Allah. Kita juga perlu setia menyuplaikan gereja sebagai rahasia Kristus, sebagai ekspresi Kristus.

Kehendak hati Tuhan ialah memiliki Tubuh, yaitu ge-reja. Dia tidak ingin gereja dalam istilah saja, melainkan Dia ingin gereja dalam pelaksanaan. Jika hidup gereja ingin menjadi riil, haruslah ada gereja-gereja lokal. Ini telah jelas dibahas dalam buku “The Practical Expression of the Church” (Ekspresi yang Riil dari Gereja). Hari ini ekspresi yang riil dari gereja hanya dapat ditemukan dalam gereja-gereja lo-kal. Oh, semoga kita semua belajar menyuplaikan gereja sebagai rahasia Kristus, sebagai ekspresi-Nya, agar orang-orang dapat dipersembahkan dewasa penuh dalam Kristus!

Ada orang menyatakan bahwa ministri tentang gereja tidak ada masa depannya, sebab kekuatan yang menentang-nya begitu menyebar luas dan hebat. Tentu, jika ministri ini hanyalah pekerjaan manusia, pasti tidak akan ada ma-sa depan. Tetapi jika ministri ini adalah ministri dalam pe-mulihan Tuhan, tentu masa depannya akan sangat gemi-lang. Semakin orang-orang itu menasihati kita untuk tidak membicarakan gereja, kita harus semakin setia menyuplai-kannya. Kita harus dengan berani dan setia tidak saja memberitakan Kristus, Sang Kepala, tetapi juga memberita-kan gereja, Tubuh-Nya. Kita tidak seharusnya mengikuti kekristenan hari ini. Sebaliknya, kita harus mengikuti fir-man yang murni untuk menyuplaikan gereja sebagai raha-sia Kristus.

VI. MELALUI MENYUPLAIKAN KRISTUS SEBAGAI HAYAT KEPADA ANGGOTA-ANGGOTA TUBUH-NYA

Terakhir, kita harus menyuplaikan Kristus sebagai ha-yat kepada anggota-anggota Tubuh-Nya, agar mereka dapat hidup oleh Dia dan bertumbuh karena Dia, hingga matang. Kolose 3:4 mengatakan bahwa Kristus adalah hayat kita, dan dalam Yohanes 6:57; 14:19; dan Galatia 2:20 kita nam-pak bahwa kita perlu hidup oleh-Nya. Kemudian, kita akan bertumbuh karena Dia, hingga matang (Ef. 4:15, 13).

Jika kita ingin mempersembahkan tiap-tiap orang dewasa penuh dalam Kristus, kita harus menyuplai mereka dengan hal-hal yang telah kita bahas dalam berita ini. Kaum beriman sangat perlu diinfus dengan segala hal yang berkaitan dengan ekonomi Allah ini. Jika kita setia menyuplaikan hal-hal yang penting ini, kita akan dapat mempersembahkan tiap-tiap orang dewasa penuh dalam Kristus.