← Daftar isi Latar Belakang dan Posisi Kitab ini · bab 12/23

MENGGENAPKAN APA YANG KURANG PADA PENDERITAAN KRISTUS

Pembacaan Alkitab:

Kol. 1:24; 1 Ptr. 3:18; Ibr. 9:26; Yes. 53:3-5, 7-8;

Yoh. 12:24; Luk. 12:50; Flp. 3:10; Why. 1:9; 2 Tim. 2:10; 2 Kor. 1:5-6

Dalam Kolose 1:24 Paulus berkata, “Sekarang aku ber-sukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam tubuhku apa yang kurang pada pen-deritaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Kali per-tama saya membaca ayat ini, saya merasa heran dan sulit. Saya heran bagaimana bisa ada kekurangan dalam penderi-taan Kristus. Pada waktu itu, saya sepenuhnya berada di bawah konsepsi agama yang mengira mustahil Kristus ke-kurangan sesuatu. Namun, dalam ayat ini Paulus mengata-kan dengan jelas bahwa dia akan “menggenapkan apa yang kurang pada penderitaan Kristus”.

DUA MACAM PENDERITAAN

Bukankah penderitaan Kristus telah genap? Bagaimana penderitaan Kristus untuk Tubuh itu perlu digenapkan? Tuhan Yesus mengalami dua macam penderitaan: penderita-an bagi penebusan dan penderitaan untuk menghasilkan dan membangun Tubuh, yaitu gereja. Tidak seorang pun di antara kita dapat mengambil bagian dalam penderitaan-Nya bagi penebusan. Mengatakan bahwa kita dapat berbagian dalam penderitaan ini berarti menghujat Tuhan. Dia adalah Sang Penebus, dan penderitaan untuk penebusan sepenuh-nya digenapkan oleh-Nya. Kita tidak layak dan tidak me-miliki kedudukan mengambil bagian dalam penderitaan Tuhan untuk penebusan. Dalam perlambangan, pada hari penebusan hanya imam besar yang melakukan penebusan dosa untuk umat yang diizinkan memasuki tempat maha kudus. Imam besar merupakan gambar Kristus sebagai satu-satunya persona yang dapat menggenapkan penebusan dan layak melakukannya.

Beberapa ayat mengatakan tentang penderitaan Kristus untuk menggenapkan penebusan. Sebagai contoh, 1 Petrus 3:18 mengatakan, “Sebab juga Kristus telah mati sekali un-tuk dosa-dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah.” Kristus, Ia yang benar, telah mati bagi orang-orang yang tidak be-nar. Dialah satu-satunya yang layak menanggung penderi-taan semacam ini. Ibrani 9:26 dan Yesaya 53:3-5, 7-8 juga menunjukkan bahwa Kristus menderita demi merampung-kan penebusan bagi kita. Dalam penderitaan ini kita tidak ada bagian. Kristus sendirilah yang menanggungnya.

Walaupun kita tidak dapat berbagian dalam penderitaan Kristus untuk penebusan, jika kita setia kepada-Nya, seharusnyalah kita mengambil bagian dalam penderitaan-Nya untuk menghasilkan dan membangun Tubuh-Nya. Paulus adalah teladan bagi kita dalam hal ini. Segera setelah dia bertobat, dia mulai mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, mengambil bagian dalam penderitaan Kristus untuk Tubuh-Nya.

Hal ini bertentangan dengan konsepsi yang mengira semua hal yang berkaitan dengan Kristus tidak mungkin kurang. Menurut konsepsi itu apa adanya Kristus dan apa yang Kristus lakukan sudah lengkap. Tetapi di sini ada sa-tu perkataan yang mengatakan bahwa setidak-tidaknya ada satu hal yang kurang pada Kristus — penderitaan-Nya un-tuk menghasilkan dan membangun Tubuh-Nya. Untuk meng-hasilkan Tubuh-Nya, Kristus sangat banyak menderita. Te-tapi karena penderitaan ini belum dilengkapi oleh Kristus sendiri, orang-orang yang setia kepada-Nya perlu meleng-kapi kekurangan ini. Paulus tidak menderita untuk pene-busan, tetapi dia benar-benar telah menderita untuk meng-hasilkan dan membangun Tubuh Kristus.

Rasul Paulus adalah satu contoh untuk diteladani kaum beriman (1 Tim. 1:16). Kita harus menganggap Paulus se-bagai teladan, bukan sebagai seorang yang sangat tinggi se-hingga tidak ada seorang pun yang dapat seperti dia. Oleh rahmat Tuhan, Paulus telah dijadikan satu contoh bagi kita; bagaimana dia, kita juga dapat seperti dia. Kita harus per-caya akan rahmat Tuhan. Jika rahmat Tuhan telah mem-buat Paulus menjadi satu contoh, maka rahmat-Nya juga dapat merampungkan hal yang sama atas diri kita seperti yang telah dirampungkan atas diri Paulus. Ini berarti sama seperti Paulus telah menderita untuk menghasilkan dan membangun Tubuh Kristus, demikian pula kita harus menderita bagi gereja.

Sudah tentu Kristus memelopori menderita untuk meng-hasilkan dan membangun Tubuh-Nya. Tetapi para rasul dan kaum beriman harus mengikuti jejak Kristus dalam penderi-taan ini. Dalam Yohanes 12:24 Tuhan Yesus berkata, “Se-sungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Ayat ini tidak membicarakan kematian Kristus untuk penebusan, teta-pi membicarakan kematian-Nya yang menghasilkan buah dan melahirkan. Kristus telah jatuh ke dalam tanah dan mati sebagai satu butir biji gandum untuk menghasilkan ba-nyak butir gandum bagi gereja. Menurut Yohanes 12:26, orang-orang yang ingin melayani Dia harus mengikuti Dia dalam hal ini.

Dalam Lukas 12:50 Tuhan Yesus berkata, “Aku harus dibaptis dengan suatu baptisan, dan betapa susah hati-Ku, sebelum hal itu terlaksana!” Kata baptisan dalam ayat ini mengacu kepada kematian Kristus yang almuhit di atas salib, kematian yang tidak saja untuk penebusan, tetapi juga untuk menghasilkan Tubuh melalui melepaskan ha-yat ilahi. Seperti penjelasan Tuhan kepada murid-murid-Nya dalam Markus 10:38 dan 39, mereka juga harus meng-ambil bagian dalam baptisan yang diterima oleh Dia sendiri.

Dalam Filipi 3:10 Paulus mengatakan tentang mengenal persekutuan dalam penderitaan-Nya. Penderitaan-penderitaan ini bukan untuk penebusan, melainkan untuk pembangunan Tubuh. Kita tidak dapat memiliki persekutuan dalam pende-ritaan Kristus untuk penebusan, tetapi kita perlu memiliki banyak persekutuan dalam penderitaan Kristus untuk gereja.

IKUT SERTA DALAM

KESUSAHAN DALAM YESUS

Dalam Wahyu 1:9 Yohanes mengatakan bahwa dia ada-lah “ikut serta dalam kesusahan, dalam kerajaan dan da-lam ketekunan dalam Yesus” (Tl.). Mengatakan bahwa kita ikut serta dalam kesusahan, dalam kerajaan, dan dalam ketekunan dalam Yesus menunjukkan bahwa kita mende-rita. Ketika Yesus hidup di bumi sebagai seorang manusia, Dia menderita terus-menerus. Menurut riwayat hidup-Nya, nama-Nya Yesus menunjukkan seorang yang menderita su-sah, seorang manusia yang penuh kesengsaraan (Yes. 53:3). Sebab itu, ikut serta dalam kesusahan dalam Yesus berarti menderita dan teraniaya ketika kita mengikuti Yesus orang Nazaret ini. Kitab Wahyu adalah untuk mereka yang men-derita susah dalam Yesus. Selagi kita menantikan keda-tangan Tuhan, kita harus mau menderita. Penderitaan ini adalah untuk Tubuh, gereja. Kita harus ikut serta dalam penderitaan Yesus untuk gereja.

Ketika Yesus berada di bumi, Dia dianiaya oleh agama Yahudi, agama yang dibentuk menurut firman Allah. Yohanes 5:16 mengatakan bahwa orang-orang Yahudi menganiaya Yesus sebab Dia telah melanggar Sabat mereka. Orang yang agamis tidak dapat membiarkan pelanggaran atas peratur-an-peraturan mereka. Setiap pelanggaran atas peraturan-peraturan agama mereka akan membangkitkan penganiaya-an. Ketika Yesus melanggar Sabat, maka para agamawan Yahudi menganiaya-Nya bahkan berusaha membunuh-Nya. Akhirnya, agama berhasil menjatuhkan hukuman mati ke-pada Yesus.

Sama seperti agama telah menganiaya Yesus, agama juga menganiaya para pengikut Yesus. Dari Kitab Kisah Para Rasul kita mengetahui bahwa orang-orang Yahudi bangkit melawan para rasul di dalam sinagoga-sinagoga mereka. Paulus sangat banyak menderita penganiayaan se-macam ini. Yohanes, penulis Kitab Wahyu, juga mengalami-nya. Yohanes dibuang ke Pulau Patmos “oleh karena firman Allah dan kesaksian Yesus”. Dia menjadi seorang sekutu dalam penderitaan kesengsaraan di dalam Yesus.

Penganiayaan terhadap Tuhan Yesus tidak saja berasal dari dunia sekuler, tetapi juga dari dunia agama. Dalam Kitab Kisah Para Rasul kita nampak situasi penganiayaan terhadap para rasul adalah sama. Tentangan datang teruta-ma bukan dari orang-orang bukan Yahudi, tetapi dari agama Yahudi. Demikian pula, banyak sekali martir yang menderita aniaya dalam tangan agama. Agama selalu menganiaya para pengikut Yesus yang sejati. Sekarang adalah giliran kita mengalami aniaya, penderitaan ini untuk pembangun-an Tubuh Kristus. Selama tahun-tahun saya di China ber-sama Saudara Watchman Nee, saya melihat betapa berat-nya dia dianiaya oleh agama. Desas-desus, tentangan, dan kecaman berasal dari kaum agamawan. Dalam kelicikan-nya, Iblis, si Jahat, menggunakan agama untuk melawan dan menganiaya orang-orang yang mengikut Tuhan Yesus. Sebab itu, seperti Yohanes di Pulau Patmos, kita pun harus ikut serta dalam kesusahan dalam Yesus. Dengan demikian kita menggenapkan apa yang kurang pada penderitaan Kristus untuk gereja.

MENDERITA BAGI KAUM SALEH

Dalam 2 Timotius 2:10 Paulus berkata, “Karena itu, aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pi-lihan Allah.” Ayat ini merupakan petunjuk lebih lanjut bah-wa Paulus menderita bagi orang-orang pilihan Allah.

Lagi pula, 2 Korintus 1:5-6 mengatakan, “Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam ke-sengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami mene-rima penghiburan berlimpah-limpah. Jika kami menderita, hal itu adalah untuk penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk menderita dengan sabar kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga.” Ini adalah petunjuk lainnya betapa banyaknya Paulus menderita bagi kaum saleh.

SASARAN PEKERJAAN KITA

Kita perlu mengikuti para rasul yang semula dalam menggenapkan kekurangan pada penderitaan Kristus untuk gereja. Kita pun perlu mengambil bagian dalam persekutu-an penderitaan Kristus untuk pembangunan gereja. Sasar-an pekerjaan kristiani kita haruslah pembangunan gereja. Namun, jika kita hanya memperhatikan aktivitas-aktivitas seperti memberitakan Injil atau mengajarkan Alkitab, kita mungkin disambut baik dan diapresiasi, tetapi jika sasaran pengkhotbahan dan pengajaran kita adalah pembangunan gereja, kita akan ditentang oleh orang-orang yang agamis.

Apakah sasaran penginjilan kita? Bukan hanya menyela-matkan orang-orang dosa dari neraka, melainkan memperoleh bahan-bahan bagi pembangunan Tubuh Kristus. Sewaktu saya berada dalam agama, saya pernah mendengar banyak khotbah yang mendorong kita untuk memberitakan Injil. Kita selalu diminta untuk memikirkan kasih dan simpati Allah kepada orang-orang dosa yang kasihan, dan kita di-anjurkan untuk memiliki perasaan yang sama terhadap mereka. Kadang-kadang para pengkhotbah berkata, “Ribu-an orang sedang menuju ke neraka setiap hari. Apakah hati Anda tidak tergugah olehnya?” Beberapa orang akan terge-rak oleh khotbah tersebut dan menjawab panggilan itu un-tuk menjadi penginjil. Istilah “memenangkan jiwa” sangat umum di kalangan kekristenan hari ini. Tetapi apakah tu-juan memenangkan (mendapatkan) jiwa? Pernahkah Anda mendengar bahwa memenangkan jiwa adalah untuk pem-bangunan Tubuh? Namun, sasaran penginjilan Paulus ada-lah untuk pembangunan Tubuh. Itulah sebabnya dia di-aniaya dan menderita.

Memang, selama Tuhan Yesus berada di bumi, orang-orang Yahudi adalah umat Allah. Bukankah mereka setiap hari mempersembahkan kurban kepada Allah? Bukankah mereka memiliki bait yang dibangun menurut wahyu dan petunjuk Allah? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini ialah, “ya”. Tetapi pada suatu hari, Yesus datang. Dia tidak memperhatikan bait seperti cara agamawan Yahudi. Ketika murid-murid-Nya mengagumi bangunan bait itu, Dia ber-kata, “Kamu melihat semuanya itu? Sesungguhnya Aku ber-kata kepadamu, tidak satu batu pun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuh-kan” (Mat. 24:2). Siapakah yang berani berkata demikian? Jika Anda berada di situ dan mengucapkan perkataan ini, orang-orang Yahudi akan membunuh Anda. Itulah sebabnya mereka menganiaya Tuhan Yesus.

Dalam Kitab Kisah Para Rasul kita nampak mereka yang berada di dalam sinagoga Yahudi mendakwa Rasul Paulus sebagai “penyakit sampar” (Kis. 24:5). Ke mana saja Paulus pergi, ia menyebabkan “masalah”. Sebab itu, dia ditentang oleh kaum agamawan, kaum yang disebut umat Allah.

Hari ini juga demikian. Jika kita menginjil hanya un-tuk mendapatkan jiwa dan menyelamatkan orang dari ne-raka, kita mungkin tidak akan banyak menderita. Faktanya, kita mungkin akan disambut baik di mana-mana. Tetapi, jika kita menginjil dengan sasaran untuk membangun Tubuh, kita harus siap menderita, bahkan ditentang dan dianiaya. Agama tidak menyetujui pembangunan Tubuh. Beberapa orang Kristen bahkan berdusta tentang kita, meng-golongkan kita dengan orang-orang bidah dan jahat, perge-rakan penghujat Tuhan. Dalam 2 Korintus 6:8 Paulus menga-takan bahwa dia telah mengalami “diumpat atau dipuji”. Jika ketika Anda melayani Tuhan, Anda hanya menerima pujian dari orang lain, saya akan meragukan kesetiaan An-da kepada Tuhan. Jika Anda setia kepada Tuhan, agama hari ini akan mengkritik Anda dan menyebarkan berita ja-hat tentang Anda.

Agama kelihatannya untuk Allah; padahal agama melawan ekonomi Allah. Tidak ada yang lebih licik dan merusak ekonomi Allah dibandingkan agama. Mendapatkan jiwa tidak mempengaruhi agama; sebaliknya, mendapatkan jiwa sangat membantu agama. Tetapi bila Anda membicarakan masalah pembangunan Tubuh, agama akan terancam.

Renungkan apa yang dilakukan Paulus sewaktu ia ma-sih disebut Saulus dari Tarsus. Dia adalah seorang tokoh dalam agamanya, dan ia melakukan setiap perkara yang mungkin dilakukan untuk mengambil keuntungan dari agama itu. Tetapi, dalam perjalanannya ke Damsyik ia te-lah ditangkap oleh Tuhan. Setelah bertobat, apa saja yang ia lakukan adalah meruntuhkan agama. Paulus adalah orang yang berani. Tuhan Yesus membatalkan hari Sabat, tetapi Paulus membatalkan sesuatu yang lebih penting pada agama Yahudi, yaitu sunat. Orang-orang Yahudi memper-masalahkan Paulus karena ia mengajar orang-orang untuk menghentikan praktek sunat. Jika Paulus hanya memper-hatikan masalah mendapatkan jiwa, ia tidak akan menya-lahi orang. Paulus tidak berkata, “Aku harus membuka se-mua pintu. Sebab itu, aku tidak akan mengatakan apa-apa tentang sunat. Aku tidak akan mengatakan apa-apa yang bertentangan dengan agama Yahudi. Demi mendapatkan ji-wa, aku harus memelihara hubungan yang baik dengan umat beragama itu.” Jika Paulus hanya memperhatikan pe-nyelamatan jiwa, dia akan mempraktekkan hal itu. Tetapi karena dia adalah untuk pembangunan Tubuh, maka dia tidak bisa melakukan hal itu. Demi menghasilkan dan mem-bangun Tubuh Kristus, Paulus telah mengambil bagian da-lam penderitaan Kristus.

Sering orang mengatakan kepada saya bahwa mereka mengapresiasi pelayanan saya, kecuali pelayanan saya ten-tang gereja. Beberapa orang bahkan memohon saya untuk tidak berbicara tentang gereja. Salah satu contoh terjadi di Texas pada tahun 1964. Ketika itu saya diundang ke Dallas untuk berbicara kepada kelompok Kristen tertentu. Pada suatu malam setelah sidang, tuan rumah berkata kepada saya, “Saudara Lee, kami mengapresiasi ministri Anda. Na-mun, kami ingin menjelaskan bahwa para pendengar ini tidak dapat menerima perkataan apa pun tentang gereja. Dalam berita Anda, janganlah menyinggung apa-apa ten-tang gereja.” Saya menjawab, “Anda perlu memahami bah-wa semakin saya melayankan Kristus sebagai hayat, maka kaum saleh akan semakin merasa lapar akan gereja.” Pada sidang terakhir, saya dipimpin Tuhan untuk membicarakan Tubuh berdasarkan Roma 12. Saya tahu jika saya tidak berbicara tentang gereja, berarti saya tidak setia kepada Tuhan, atau tidak jujur terhadap para pendengar itu. Mes-kipun saya tahu tuan rumah dan orang-orang lainnya akan tersinggung, saya tetap berbicara dengan kuat tentang ke-hidupan gereja. Karena sangat tidak senang akan pembe-ritaan saya, maka tuan rumah tidak mau bangun untuk mengantar kepergian kami ketika kami berangkat pagi-pagi pada keesokan harinya. Tetapi satu saudara mendapat ban-tuan besar melalui berita tentang gereja itu, dan hasilnya, ia terdorong untuk berpaling ke jalan pemulihan Tuhan.

Kita perlu menggenapkan apa yang kurang pada pen-deritaan Kristus untuk Tubuh Kristus, gereja. Saya dapat bersaksi, saya telah diserang dan ditentang justru karena saya mempertahankan pemulihan hidup gereja. Jika Anda memilih untuk berdiri bagi gereja, bersedialah menghadapi serangan, kesalahpahaman, dan desas-desus. Banyak hal jahat akan dikatakan orang tentang Anda. Alasan hal ini ialah masalah gereja mengguncangkan kuasa kegelapan. Se-bab itu, orang-orang yang berdiri bagi gereja harus siap menerima serangan musuh. Tuhan Yesus berkata, “Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gereja-Ku dan pintu alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18 Tl.). Perkataan ini menunjukkan bahwa pintu alam maut, kua-sa kegelapan, akan melakukan segala hal untuk mengga-galkan pembangunan gereja. Puji Tuhan, Dia telah berjanji bahwa pintu alam maut tidak akan menang!

Jika kita setia dan jujur terhadap ministri dan kepeng-urusan Allah bagi pembangunan gereja, kita akan mende-rita serangan, tentangan, dan cemoohan. Melihat ini, kita perlu menengadah kepada Tuhan agar kita dapat dinaungi oleh darah-Nya yang berkhasiat. Kita juga perlu berdoa agar Tuhan menyembunyikan kita di dalam diri-Nya sendiri se-bagai menara kita yang tinggi. Ketika kita bersembunyi di dalam Tuhan selama waktu penderitaan, kita akan meng-ambil bagian dalam persekutuan penderitaan-Nya. Dengan cara inilah kita akan menggenapkan apa yang kurang pada penderitaan Kristus untuk gereja.