← Daftar isi Roma (3) · bab 19/19

DAGING DAN ROH

Dalam berita sebelumnya kita telah melihat bahwa ki-ta perlu berkuasa dalam hayat atas dosa, maut, dan Iblis, tiga musuh utama kita. Sebagai Injil Allah, Kitab Roma membicarakan tiga hal negatif ini. Dalam Roma 5—8, dosa dan maut dibahas secara penuh. Di mana ada dosa, di situ ada maut, karena dosa mendatangkan maut. Dalam Roma 16:20, Paulus membicarakan tentang Iblis; ia mengatakan bahwa Allah damai sejahtera akan menghancurkan Iblis di bawah kaki kita. Mengapa Paulus tidak menyebut nama Iblis sebelum akhir dari kitab ini? Karena menanggulangi Iblis adalah perkara Tubuh, bukan perkara individu. Jika Anda bersandar diri Anda sendiri berusaha menundukkan Iblis, Anda akan gagal. Iblis, musuh Tubuh ini, hanya da-pat dikalahkan oleh Tubuh. Karena itu, melalui gereja-ge-reja lokal sebagai ekspresi Tubuh Kristus yang riillah Iblis dapat ditanggulangi. Setelah Paulus membicarakan tentang gereja secara riil dalam pasal 15 dan 16, barulah ia mem-bicarakan penghancuran terhadap Iblis; ia menunjukkan bahwa Iblis akan dihancurkan di bawah kaki gereja-gereja lokal.

IBLIS, DOSA, DAN MAUT BERKUMPUL DI DALAM DAGING MANUSIA

Beban saya dalam berita ini adalah menunjukkan bah-wa tiga musuh utama — dosa, maut, dan Iblis — berkum-pul di dalam daging manusia. Dosa, maut, dan Iblis berkum-pul bersama-sama di dalam “tempat perkumpulan” dari daging kita. Dosa, maut, dan Iblis selalu bersama. Ada satu tempat di dalam diri kita di mana ketiga musuh ini dapat berkumpul, dan tempat itu adalah daging. Sejak manusia jatuh, mereka melakukan satu perkumpulan yang terus-menerus di dalam daging manusia.

Sepanjang hidup kristiani saya, tidak ada sesuatu yang lebih mengganggu saya melebihi daging. Kita tidak boleh menghukum dosa, maut, dan Iblis tanpa menyadari bahwa pusat masalah kita adalah daging. Kita tidak dapat lari dari daging ini; kita tidak dapat berjalan meninggalkannya se-perti kita berjalan keluar meninggalkan sebuah bangunan. Kita tidak dapat lari dari daging ini karena daging telah men-jadi bagian dari diri kita. Saya sering berkata kepada Tuhan, “Tuhan Engkau itu ajaib, dan Engkau telah berbuat banyak hal bagiku. Tuhan mengapa Engkau tidak mengambil da-ging ini dariku?” Menurut pandangan saya, akan jauh lebih baik bila daging itu musnah.

Mungkin Anda terganggu oleh temperamen Anda. Te-tapi sumber temperamen ialah daging. Semua masalah kita berawal dari daging. Jika bukan karena daging, kita tidak akan memiliki masalah temperamen yang menyulitkan. Ka-rena itu, kita ingin Tuhan melepaskan kita dari daging kita. Kita mungkin mengira bahwa jika daging itu diambil, kita akan segera menjadi sangat rohani.

MASALAH KITA YANG MENDASAR

Tetapi cara Tuhan bukanlah cara kita. Pikirkanlah si-tuasi Adam di Taman Eden sebelum ia jatuh. Pada waktu itu, tidak ada daging, karena dosa belum masuk ke dalam tubuh Adam untuk merusaknya menjadi daging. Suatu ha-ri, Tuhan memperlihatkan kepada saya bahwa menjadi se-perti Adam di Taman Eden tanpa masalah daging tidaklah cukup. Saya melihat bahwa masalah utama saya bukan terletak pada daging, melainkan karena kekurangan Roh itu. Memang, di Taman Eden, Adam tidak memiliki daging, tetapi ia juga tidak memiliki Roh Allah di dalamnya. Ia tidak ada kesalahan, tetapi ia juga kosong. Kekosongan itu mem-beri kesempatan bagi musuh untuk masuk ke dalamnya. Jika Tuhan mengambil daging kita dan meninggalkan kita dalam keadaan kosong, kita tidak akan dapat menjaga diri kita murni lebih lama. Iblis, si licik itu, pada akhirnya akan menyusup masuk. Karena itu, kita perlu sadar bahwa ma-salah kita yang mendasar adalah kekurangan Roh itu di as-pek positif, dan bukan tidak ada daging di aspek negatif.

DAGING DALAM PASAL 7—8

Dalam Kitab Roma, daging ini disingkapkan sepenuh-nya. Pemakaian kata “daging” dengan arti yang berbeda de-ngan yang ditemukan dalam pasal 5 sampai 8, terdapat da-lam 3:20, “Sebab tidak ada daging (tidak seorang pun, LAI) yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat.” Di sini “daging” mengacu kepada persona, manusia. Di mata Allah, setiap orang yang telah jatuh ada-lah daging. Jadi, “daging” dalam 3:20 ini lebih ditekankan pada totalitas diri manusia yang telah jatuh. Sebaliknya, dalam Roma 7, “daging” hanya mengacu kepada bagian ma-nusia, bukan mengacu pada seluruh diri manusia. Dalam pasal 7, “daging” mengacu kepada dosa, bagian dari diri kita yang jahat, bagian yang dihuni oleh dosa. Perhatian kita da-lam berita ini bukanlah tertuju pada daging yang diwahyu-kan dalam 3:20, melainkan pada daging yang disinggung dalam pasal 7—8.

Roma 7:18 mengatakan, “Sebab aku tahu bahwa di da-lam aku, yaitu di dalam aku sebagai yang bersifat daging (di dalam dagingku), tidak ada sesuatu yang baik.” Daging kita adalah tempat hal-hal yang jahat tinggal. Tidak peduli beta-pa baiknya kelihatannya seseorang, sedikitnya ada satu bagi-an dari dirinya, yaitu daging, yang jahat. Jangan tertipu dengan orang yang kelihatannya lembut, ramah, jujur, ren-dah hati, dan simpatik. Dia, sebagaimana orang yang lain-nya, tidak memiliki sesuatu yang baik di dalam dagingnya.

Tahun demi tahun berselang, saya telah mempelajari bahwa setiap orang akan menganggap dirinya sendiri lebih baik daripada orang lain. Seorang suami mungkin meng-anggap dirinya lebih super daripada istrinya, dan seorang istri mungkin memandang dirinya lebih tinggi daripada su-aminya. Karena kerendahan hati yang palsu, kita mungkin tidak mengatakan bahwa kita lebih baik daripada orang la-in, tetapi secara batiniah justru inilah yang sering kita ra-sakan. Tidak peduli betapa baiknya kita, kita masih tetap memiliki daging. Melalui belas kasihan Tuhan, saya telah melihat pengajaran kudus-Nya bahwa di dalam daging saya tidak ada sesuatu yang baik.

SATU KOMPOSISI DOSA

Kita perlu menekankan bahwa tidak ada sesuatu yang baik di dalam daging, ini untuk membantu orang-orang Kristen yang menuntut yang sering putus asa dengan ke-majuan rohani mereka. Semakin mereka damba menjadi kudus, mereka malah semakin menjadi kurang kudus. Me-reka rindu menjadi satu dengan Tuhan, tetapi pada akhir-nya mereka melakukan banyak hal yang bukan berasal dari Tuhan. Mereka juga ingin mengalahkan dosa yang me-ngelilingi mereka, tetapi kelihatannya malah dosa itu yang mengalahkan mereka. Karena itu, mereka patah semangat dengan keadaan mereka dan merasa jengkel terhadap diri sendiri.

Orang-orang Kristen perlu mencari Tuhan, damba men-jadi rohani, dan mengatasi hal-hal negatif. Meskipun demi-kian, kita dihalangi dan dirintangi oleh satu komposisi do-sa: Daging kita bercampur dengan dosa, maut, dan Iblis. Sangat sulit menanggulangi komposisi yang jahat ini. Tat-kala dosa, maut, dan Iblis ditambahkan kepada tubuh ma-nusia, hasilnya adalah daging. Komposisi ini bukan hanya ada di dalam kita; tetapi juga adalah bagian dari diri kita.

MENDESAK BERPALING KE ROH

Mungkin Anda membayangkan seperti saya dulu, meng-apa Tuhan tidak mau mengambil komposisi dosa ini dari kita. Tuhan itu berhikmat dan tahu apa yang sedang dilaku-kan-Nya. Meskipun daging ini penuh dosa dan buruk, Tuhan sengaja tidak mau mengambilnya. Tuhan membiarkan daging bersama kita bukan untuk mengecewakan kita. Dia membiarkan daging itu tetap ada supaya kita mencari Dia untuk menolong kita. Jika bukan karena daging, kita tidak akan begitu mendesak menyeru nama Tuhan. Jika bukan karena masalah daging, saya ragu kita akan banyak berdoa.

Kita semua tahu bahwa marah terhadap suami atau istri atau anak-anak kita itu salah. Namun, jika kita me-ngasihi Tuhan dan mencari Dia, bahkan amarah kita pun akan bekerja sama untuk kita, karena hal itu akan mende-sak kita pergi kepada Tuhan. Setelah kita marah, kita mungkin merasa malu selama beberapa jam, tidak mau ber-doa karena kita malu untuk berdoa. Namun, akhirnya ke-dambaan kita bagi Tuhan itu akan mendesak kita berdoa, dan kita akan berdoa dengan sangat baik. Dalam hal inilah kita sebenarnya dibantu oleh daging.

Pada tahun-tahun awal ministri saya, saya sering ter-ganggu bila orang-orang beriman tidak baik secara rohani. Kemudian saya belajar untuk tidak terganggu oleh hal itu. Saya sadar bahwa jika kita selalu baik, kita tidak akan se-ring masuk ke dalam roh. Jika Anda tidak memiliki kega-galan, Anda mungkin menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan betapa baiknya Anda. Anda tidak akan sung-guh-sungguh berpaling ke roh. Inilah sebabnya Tuhan tidak segera memusnahkan semua musuh setelah bani Israel ma-suk ke dalam negeri yang baik itu (Hak. 2:21—3:4). Allah dengan khusus mengizinkan musuh-musuh tertentu untuk tetap ada dengan maksud menguatkan bani Israel dan me-latih mereka berperang. Sama prinsipnya, daging dibiarkan di sini untuk kebaikan kita. Ini bukan berarti kita harus berbuat jahat agar yang baik itu datang. Sebaliknya, dalam hikmat dan kedaulatan-Nya, Tuhan akan memakai daging untuk tujuan yang positif.

ALLAH MEMAKAI KEGAGALAN

DAGING KITA

Semua orang yang mencari Tuhan diganggu oleh da-ging. Ini membuat kita semua mengalami banyak kegagal-an. Tetapi melalui kegagalan-kegagalan kita ada sesuatu da-ri Tuhan yang digarapkan ke dalam diri kita. Saya dapat bersaksi bahwa tahun demi tahun Allah telah bertambah di dalam saya, terutama melalui kegagalan-kegagalan saya. Saya tidak berani mengatakan bahwa semakin kita gagal, kita akan semakin baik. Namun, saya dapat mengatakan bahwa Allah memakai kegagalan-kegagalan kita untuk membantu kita bertumbuh dalam Tuhan. Tetapi hal ini ha-nya berlaku bila kita mengasihi Tuhan dan mencari Dia. Jika kita mencari Tuhan, kita akan mengalami damai se-jahtera, entah kita mengalami keberhasilan atau kegagalan.

Kita semua harus sungguh-sungguh menuntut untuk berkuasa atas dosa, maut, dan Iblis. Namun, meskipun ki-ta mungkin berusaha dengan rajin untuk berkuasa dalam hayat atas ketiga musuh ini, kita bukannya berhasil malah semakin gagal. Jangan putus asa. Selama Anda mengasihi Tuhan dan mencari Dia, Dia bahkan akan memakai kega-galan-kegagalan Anda untuk menggarapkan diri-Nya sendiri lebih banyak ke dalam Anda. Banyak dari antara kita dapat bersaksi bahwa kita mendapatkan Tuhan lebih banyak me-lalui kegagalan-kegagalan kita daripada melalui keberhasil-an kita. Kegagalan-kegagalan kita menekan kita kepada Tuhan dan membuat kita mendesak masuk ke dalam roh. Akhirnya, dengan berpaling ke roh secara mendesak demi-kian, kita akan dijenuhi sepenuhnya dengan Tuhan. Tanpa “bantuan” yang diberikan oleh daging yang penuh dosa dan buruk ini, kita tidak akan begitu sungguh-sungguh untuk mendapatkan Tuhan atau membiarkan Dia tergarap ke dalam kita.

Saya telah membaca sejumlah buku tentang kekudus-an, kerohanian, dan kehidupan yang menang. Saya telah berusaha melakukan semua cara yang disarankan dalam buku-buku itu. Tidak ada satu pun dari cara-cara itu yang benar-benar berhasil. Meskipun kita tahu kita harus men-jadi kudus, rohani, dan menang, tetapi kita gagal dan ma-lah masuk ke dalam penderitaan. Sasaran kita adalah keku-dusan, kerohanian, dan kemenangan. Tetapi sasaran Allah adalah menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Sela-ma Allah memiliki kesempatan untuk menggarapkan diri-Nya ke dalam diri kita, Dia tidak akan banyak memperha-tikan apakah keadaan kita itu sempurna atau miskin. Se-ring kali Dia memiliki kesempatan yang lebih besar untuk melakukan apa yang Dia dambakan di dalam kita ketika ke-adaan kita sangat kasihan. Ketika situasi dan keadaan kita sempurna, kita mungkin tertutup bagi pekerjaan Tuhan yang batiniah. Saya tidak mendorong Anda agar berada da-lam situasi yang miskin atau berada dalam tingkat rohani yang rendah. Tetapi saya menjamin Anda bahwa ketika Anda berada dalam keadaan atau situasi yang demikian, Allah akan dapat menggarapkan diri-Nya lebih banyak ke dalam Anda daripada ketika keadaan Anda baik. Alasannya adalah karena ketika kita berada dalam situasi yang sulit, kita lebih terbuka kepada Tuhan, lebih rela berpaling kepa-da-Nya, dan lebih rela membiarkan Dia menggarapkan diri-Nya ke dalam kita.

Karena dosa, maut, dan Iblis terus-menerus berkumpul di dalam daging kita, maka kita semua akhirnya menjadi sangat terganggu dan bahkan merasa jengkel dengan da-ging ini. Tetapi Allah itu berdaulat. Jika kita mencari Dia, komposisi daging yang penuh dosa ini bahkan akan menjadi satu bantuan bagi kita dalam mendapatkan Tuhan. Karena kita sering gagal, kita didesak ke dalam roh, dan dengan cara ini, kita akan mendapatkan Roh itu lebih banyak. Ini bukanlah perkara kemenangan, melainkan perkara menda-patkan Roh itu.

BERPALING KE ROH

Secara doktrin, memang mudah untuk mengatakan bah-wa kita harus berpaling ke roh, tetapi mempraktekkan hal ini tidaklah mudah. Beberapa orang mengira bahwa ber-paling ke roh pada waktu situasi mereka itu miskin sangat sulit, tetapi saya tidak sependapat. Dalam hal demikian mungkin sulit untuk berpaling ke roh secara luaran atau di hadapan manusia, tetapi lebih mudah untuk memiliki suatu peralihan yang sejati, yang batiniah. Jika keadaan kita ti-dak pernah miskin, maka berpalingnya kita ke roh itu te-rasa agak dangkal. Tetapi ketika kita mengalami satu ke-gagalan yang besar, kita benar-benar berpaling ke roh kita.

Dalam pengalaman kristiani kita, kita perlu malam ju-ga perlu siang. Karena alasan ini, Allah membiarkan kita gagal. Kita selalu senang di siang hari, tetapi kecewa atau putus asa di malam hari. Tetapi kita perlu malam juga per-lu siang. Entah itu siang atau malam, Allah akan bekerja di dalam kita.

Roma 8:4 membicarakan tentang berjalan menurut roh, bukan menurut daging. Memang mudah sekali membicarakan hal ini, tetapi tidak begitu mudah untuk mempraktekkannya. Untuk masuk ke dalam realitas ayat ini, kita perlu diproses melalui banyak kegagalan. Kemudian kita akan menemukan diri kita sendiri lebih berada di dalam roh. Sa-tu-satunya jalan untuk menanggulangi daging dan diselamatkan dari pengaruhnya adalah masuk ke dalam roh.

Jika kita tidak menyalakan terang, tidak akan ada jalan untuk menanggulangi kegelapan. Tidak peduli berapa banyak kita menanggulangi kegelapan, kegelapan itu tetap akan ada sampai terang itu datang. Begitu pula, kita tidak dapat menanggulangi daging jika kita kekurangan Roh itu. Semakin kita menanggulangi daging kita di luar Roh itu, daging ini akan menjadi semakin kuat dan semakin aktif. Berdasarkan pergumulan kita sendiri kita tidak akan dapat mengalahkan daging. Satu-satunya jalan untuk diselamatkan dari daging adalah berpaling ke roh dan masuk ke dalam roh.

Masalahnya adalah kita jarang berpaling ke roh dengan rela. Jadi, kita memerlukan kegagalan-kegagalan untuk membuat kita rela berpaling. Begitu kita berpaling ke roh, dengan spontan kita akan berjalan menurut roh. Kita semua memerlukan sesuatu untuk mendesak kita, menekan kita, ke roh. Dalam perkara ini kerelaan kita sendiri tidaklah cukup.

Dalam kedaulatan-Nya, Allah memiliki satu cara untuk memakai daging dalam menggenapkan tujuan-Nya. Dia de-ngan berdaulat mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan kita bagi pelaksanaan ekonomi-Nya. Demi ekonomi-Nya ini, Allah memakai daging yang penuh dosa, yang bu-ruk ini untuk mendesak kita berpaling ke roh kita agar kita mendapatkan Roh itu lebih banyak. Betapa berhikmat dan betapa berdaulatnya Dia!

?